Tag Archives: agama

Matematika Sedekah, menurut Ustadz Yusuf Mansur

Di dalam tulisannya berjudul Mempebanyak Sedekah, pada tanggal 20 July 2014 di situs republika.co.id, Ustadz Yusuf Mansur memaparkan tentang proses hitung-hitungan sedekah, yang ternyata sedikit berbeda dengan perhitungan matematika yang biasa kita temui…

sedekah6

Republika, 20 Juli 2014

Jika seseorang menggunakan matematika biasa (berhitung ala manusia) untuk menghitung, maka hal itu tidak bisa diterapkan dalam sedekah. Sebab, matematika sedekah berbeda dengan matematika biasa.

Dan kalau menggunakan matematika biasa, sepertinya banyak orang yang tak akan mau bersedekah. Kenapa, karena setiap kita member kepada orang lain, dipandangnya, dilihatnya, diketahuinya, pasti akan berbeda. Bahkan, mungkin dianggapnya akan berkurang.

Misalnya, 10 dikurang satu, maka hasilnya pasti sembilan (10-1=9). Dan kalau 10 dikurang dua, maka hasilnya akan delapan (10-2=8). Kalau 10 dikurang tujuh, maka hasilnya tersisa tiga (10-7=3). Demikian seterusnya. Itu hitungan matematika yang biasa atau umum.

Karena itu, ia harus punya matematika ilahiyah. Matematika sedekah yang berbeda dengan matematika biasa. Matematika ilahiyah, atau matematika sedekah, ketika seseorang bersedekah maka nilainya akan bertambah.

sedekah5
Misalnya, 10 dikurang satu, hasilnya bukan sembilan, melainkan 19. Kemudian 10 dikurang dua, maka hasilnya bukan delapan, melainkan 28. Dan 10 dikurang tiga, hasilnya bukan tujuh, melainkan 37.

Begitu seterusnya. Semakin banyak disedekahkan, maka hasilnya pun akan terus bertambah. Misalnya, 10 dikurangi 10, hasilnya adalah 100 bukan nol.

Jadi, semakin dia tahu, semakin dia merasakan, semakin dia melihat, dan jika dia bersedekah, maka hasilnya akan semakin banyak. Dan jika dia mengetahui hal ini, semestinya dia akan semakin rajin bersedekah, dengan nilai yang akan lebih banyak lagi.

Nilai ini, jika kelipatannya hanya 10. Bagaimana jika hasilnya dikalikan dengan kelipatan 700 kali lipat? Tentu akan lebih besar lagi. Jika 10 dikurangi (disedekahkan) 10, maka hasilnya adalah 7.000, bukan nol.

Seorang karyawan dengan gaji sebesar Rp 2 juta, tetapi pengeluarannya Rp 3 juta, tidak mungkin dia akan bersedekah. Sebab, untuk kebutuhan sehari-harinya saja sudah nombok. Begitu pula pandangan masyarakat umum akan hal ini. Akibatnya, jangankan untuk bersedekah, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya saja dia tak bisa. Hal ini juga yang membuat mereka dan kebanyakan umat Islam, enggan bersedekah.

Andai dia tahu matematika sedekah, niscaya mereka akan banyak bersedekah. Jika dia mengetahui gajinya Rp 2 juta sedangkan kebutuhannya Rp 3 juta per bulan, maka dia akan bersedekah untuk mencukupi kebutuhannya.

Bismillah. Misalnya, dia mengeluarkan 10 persen dari kebutuhannya (Rp 3 juta) atau sebesar Rp 300 ribu. Insya Allah, dia akan mendapatkan hasil sebesar Rp 4,7 juta. Bahkan bisa mencapai lebih besar lagi bila dikalikan dengan 700 kali lipat.

Seorang pengusaha punya giro sebesar Rp 100 juta, tapi dia punya kebutuhan yang harus ditunaikan sebesar Rp 700 juta. Kemana mencari kekurangan Rp 600 jutanya? Setelah pengusaha ini meyakini dan memahami tentang ilmu sedekah, maka Bismillahirrahmanirrahim, dia sedekahkan seluruh uang yang ada di gironya itu. Subhanallah, dia akan mendapatkan Rp 1 miliar.

sedekah3

Khusus di bulan suci Ramadhan ini, Allah akan makin melipatkan gandanya melebihi yang biasa. Jika pada bulan-bulan lainnya dilipatgandakan 10 kali lipat atau 700 kali lipat, tapi pada bulan puasa ini, Allah akan melipatgandakannya hingga ribuan bahkan puluhan ribu kali lipat.

Karena itu, bila sudah memahami matematika sedekah ini, saya berharap seluruh pembaca Republika Online, dikaruniakan Allah kelebihan rezeki yang berlipat-lipat. Sehingga bisa bersedekah semakin banyak, semakin besar. Dan tentu saja, tetap dengan niat yang tulus ikhlas karena mengharapkan ridha Allah Taala.

Keluarga Jusuf Kalla, Silsilah Sultan Hasanuddin Makassar dan Ratu Siti Malangkai ?

Seorang pujangga besar Melayu keturunan Bugis, yang bernama Raja Ali Haji, di dalam kitabnya “Tuhfat an Nafis“, menyatakan Leluhur Suku Bugis bermula dari seorang Ratu di daerah Luwuk yang bernama Ratu Siti Malangkai.

Melalui bukunya itu, Raja Ali Haji berpendapat Ratu Siti Malangkai, merupakan keturunan dari Nabi Sulaiman, melalui isterinya yang bernama Ratu Balqis (Sumber : Dari Ratu Balqis, sampai kepada Fatin Shidqia Lubis).

Makam Sayyid Jalaluddin, wafat tahun 1453M

Makam Syekh Jamaluddin, wafat tahun 1453M

Masuknya Islam di Sulawesi Selatan

Beberapa abad kemudian, anak keturunan Ratu Siti Malangkai, berkembang menjadi beberapa kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan. Salah satu negeri yang cukup terkenal adalah Kerajaan Gowa Tallo.

Pada sekitar abad ke-15, Kerajaan Gowa Tallo, kedatangan seorang mubaligh bernama Syekh Jamaluddin Husain Akbar. Beliau datang untuk menyampaikan risalah Islam di kerajaan ini.

Dakwah yang dilakukan Syekh Jamaluddin, mendapat simpati dari penguasa Gowa ketika itu, bahkan salah seorang putri kerajaan Gowa Tallo menjadi istri Sang Mubaligh.

Kelak dari zuriat Syekh Jamaluddin ini, lahir seorang ulama terkemuka yang bernama Syekh Yusuf al-Makassari dan seorang pemimpin yang terkenal, bernama Sultan Hasanuddin (Sumber : Majelis Dakwah Walisongo dan Syekh Yusuf al-Makassari).

kalla1

Keluarga Yusuf Kalla

Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK), lahir di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan), pada tanggal 15 Mei 1942. Ia adalah Wakil Presiden Indonesia yang menjabat pada periode 2004 – 2009 dan Ketua Umum Partai Golongan Karya pada periode yang sama (Sumber : wikipedia).

Ayah JK, bernama Haji Kalla, beliau adalah Pendiri Kelompok Usaha Kalla Group, sementara ibunya bernama Athirah, yang berasal dari Keluarga Bangsawan Bugis Kerajaan Bone (Sumber : Mengenal Hadji Kalla).

Berdasarkan penyelusuran genealogy, Keluarga Bangsawan Bone berasal dari anak keturunan I Panusurang Daeng Manassa Tumenanga RI Campagana, yang berupakan saudara ipar dari Raja Gowa Tallo, Sultan Alauddin (Sumber : SANROBONE).

Berikut hubungan kekerabatan, Jusuf Kalla dengan Sultan Hasanuddin Makassar…

azmatbugis1
WaLlahu a’lamu bishshawab

Misteri Alam Kematian, menurut Science ?

Kematian adalah sesuatu yang pasti, sebagaimana firman ALLAH…

maut

Kemanakah kita, setelah kematian ?

Sebagian Bani Adam beranggapan, bahwa jika mereka wafat, dan telah dikuburkan, maka seluruh perkara telah selesai, mereka telah beristirahat dari segala urusan dunia dan tiada perkara lagi setelahnya.

Pendapat ini merupakan pemahaman yang keliru, karena sesungguhnya setelah kematian mereka akan memasuki kehidupan baru. Di dalam Islam, kehidupan yang baru ini disebut kehidupan barzakh, dan akan terus berlanjut hingga kepada kehidupan akhirat.

Imam Al Ghazali berkata : “Sesungguhnya kematian hanyalah perubahan keadaan saja. Dan sesungguhnya ruh tetap ada setelah ia berpisah dari jasad. Ada kalanya ia mendapatkan kenikmatan atau mendapatkan siksa (Ihya’ Ulumuddin juz 4 halaman 525).

maut2

Kehidupan, setelah Kematian menurut Science

Robert Lanza, professor dari US North Carolina Wake Forest University menyatakan, dari sudut pandang fisika kuantum, ada bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa manusia itu tidak lenyap setelah meninggal dunia, kematian hanyalah ilusi yang disebabkan oleh kesadaran manusia.

Lanza mengklaim, ia menemukan bukti dalam mekanika kuantum yang membenarkan bahwa “manusia meninggal tapi tidak lenyap sepenuhnya”.

Studi Lanza menemukan bahwa ketika denyut jantung manusia berhenti berdetak, darah berhenti mengalir, unsur materi berada dalam kondisi terhenti, namun, pesan kesadaran manusia tetap masih bisa bergerak, artinya selain aktivitas fisik, masih ada “informasi kuantum” lainnya yang melampaui fisik, atau yang disebut dengan “Roh”.

Dengan demikian, ketika hidup menuju detik-detik terakhir, yaitu saat kehilangan fungsi tubuh, masih kehidupan akan bisa dimulai kembali pada dunia yang lain.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :
1. Kehidupan Setelah Mati
2. Mengintip Fenomena Alam Barzakh
3. Mengejutkan Ilmuwan! : Manusia Tidak Akan Benar-benar Meninggal

Siti Hajar (Hagar), Ibunda Nabi Ismail, bukanlah seorang Budak

Di kalangan Bani Israil, dikenal istilah Targum. Targum merupakan Tafsir dari Kitab Perjanjian Lama. Tercatat salah seorang ahli tafsir yang terkenal bernama Salomon bin Ishak (1040-1105) dari Troye.

mesir2

Salomon bin Ishak dalam Targum-nya menulis :

Hagar had been given as a slave to Abraham by her father the Pharaoh of Egypt who said: “My daughter had better be a slave in the house of Abraham, than mistress in any other (Translation of the Targums by J.W.Etheridge).

“Hagar adalah puteri dari Firaun yang ketika melihat aneka mu’jizat dari pihak Sarah, berkata: lebih baik untuk anak perempuan saya ini menjadi pembantu dalam rumah (Ibrahim),” sehingga diangkatnya Ibrahim menjadi menantunya.

Dalam tafsirnya itu, Salomon bin Ishak berpendapat bahwa Hagar (Siti Hajar), adalah puteri dari seorang Penguasa Mesir.

Berdasarkan analisa Ustadz H. M. Nur Abdurrahman, Penguasa Mesir yang menjadi mertua dari Nabi Ibrahim, adalah Raja Salitis yang berasal dari Dinasti Hyksos.

Dalam sejarah, Dinasti Hyksos memiliki keyakinan Tauhid, yang berasal dari Kaum ‘Ad yang bernabikan Nabi Hud.

Mereka beremigrasi dan mendirikan kerajaan-kerajan di Babilonia, kemudian juga di Kan’an, sebagian lagi ke Mesir mendirikan Dinasti Hyksos setelah berhasil menundukkan penguasa setempat.

mesir3

Anggapan Hagar, seorang Budak

Diperkirakan sepeninggal Nabi Sulaiman, Bani Israil terperangkap dalam sifat kebanggan yang berlebih-lebihan (chauvinism) yang berwujud rasialisme.

Hal ini berakibat Ismail (saudara Ishaq), tidak dipandang sebelah mata. Dari sinilah kemudian muncul anggapan, Hagar, ibunda Ismail hanya seorang budak dari Mesir.

Dari tafsiran yang keliru ini, muncul salah kaprah di kalangan Bani Israil. Mereka beranggapan, Nabi Ismail tidak berhak menyandang putera Nabi Ibrahim, lantaran ibunya seorang budak.

Kekeliruan yang ber-bau rasialis ini, tentu perlu diluruskan. Karena di dalam Bible sendiri, baik Ismail maupun Ishaq, adalalh dua orang yang disebut “putera Ibrahim”, sebagaimana tertulis :

“Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu ia meninggal….. Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela…..” (Kejadian 25 : 7-9).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Sumber :
1. Hagar, Ibu Ismail, Bukan Budak Menurut Targum
2. Putera Satu-satunya yang Ditukar Dengan Hewan Sembelihan yang Diabadikan

Sosok Malaikat, dalam Teori Ilmu Fisika ?

Di dalam Catatan Facebook-nya berjudul : Malaikat, Makhluk Dunia Quantum, Agus Mustofa mencoba menerangkan sosok dari Malaikat, dipandang dari sudut ilmu fisika. Berikut tulisan lengkap dari artikel tersebut…

cahaya1

Demi partikel-partikel yang berukuran sangat kecil. Yang membawa beban sangat berat. Lalu berdinamika dengan begitu mudah. Kemudian membagi-bagi urusan. Sungguh yang dijanjikan kepadamu pasti benar.

[QS. Adz Dzaariyaat (51): 1-5]

BAHAN dasar tubuh malaikat masih menjadi misteri yang belum terungkap sepenuhnya. Meskipun, clue-nya mengarah kepada cahaya. Akan tetapi, secara sains, bisa mengarah kepada sesuatu yang lebih generik ketimbang cahaya, yakni dzarrah alias partikel-partikel quantum yang lebih mendasar.

Sebagaimana kita ketahui, partikel-partikel quantum itu menjadi media menjalarnya empat gaya dasar alam semesta. Yaitu, partikel Foton atau cahaya sebagai pembentuk gaya elektromagnetik, partikel Boson Madya membentuk gaya nuklir lemah, partikel Gluon pembentuk gaya nuklir kuat, dan partikel Graviton terkait dengan gaya gravitasi alam semesta.

Terkait dengan bahan dasar malaikat itu, sejumlah ilmuwan muslim menengarai, ada keterkaitan sangat erat antara malaikat dengan partikel-partikel quantum tersebut. Ada beberapa hal yang menyebabkan kita layak ‘mencurigai’ adanya keterkaitan itu.

1. Malaikat digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kecepatan sangat tinggi, yang ketika mereka bergerak dengan kecepatannya, dimensi ruang dan waktu mengalami dilatasi relatif ter hadap waktu manusia. Sehingga, sangat dimungkinkan bahan dasar tubuh malaikat adalah cahaya. Atau, yang setara dengannya.

2. Dalam ilmu Fisika Modern, cahaya berasal dari partikel quantum bernama foton yang tidak memiliki massa dan muatan listrik sehingga menjadi sedemikian ringan dan netral tak terpengaruh muatan listrik. Maka, bicara tentang cahaya sama dengan berbicara tentang foton.

3. Partikel-partikel quantum itu ternyata bukan hanya foton, melainkan ada yang disebut gluon, boson madya, dan graviton. Masing-masing bertanggung jawab atas gaya-gaya dasar yang menyebabkan alam semesta bisa eksis.

Kehilangan salah satu gaya, akan menyebabkan runtuhnya alam semesta. Tanpa ada boson madya, tak akan ada partikel-partikel sub atomik. Tanpa ada gluon, tak mungkin ada inti atom. Tak ada foton, tak mungkin ada interaksi antar atom. Dan tak ada graviton, tak mungkin ada benda-benda langit, seperti bintang, galaksi dan planet.

4. Partikel-partikel quantum yang sangat kecil itu di dalam Al Qur’an diistilahkan sebagaidzarrah. Dan kemudian menjadi nama salah satu surat Adz Dzaariyaat yang bermakna ‘partikel-partikel sangat kecil atau sangat halus’.

5. Maka, tidak menutup kemungkinan bahan dasar penciptaan tubuh malaikat itu adalah dari partikel-partikel quantum itu. Jadi, bukan hanya foton, melainkan juga gluon, boson madya, dan graviton. Atau, ‘sesuatu’ yang menjadi kesatuan partikel-partikel quantum tersebut.

6. Jika dirunut sejarahnya, maka kemunculan partikel foton adalah yang paling akhir dibandingkan dengan partikel-partikel quantum lainnya. Sebelum kemunculan foton, dikenal sebagai era gaya-gaya electroweak yang menjadi representasi penyatuan antara gaya nuklir lemah yang diwakili boson madya dengan elektromagnetik yang diwakili foton.

Dan sebelum electroweak itu, dikenal sebagai era bersatunya antara foton, boson madya, dan gluon yang mewakili gaya nuklir kuat. Dan paling ujung dari semua penyAtuan itu adalah sesaat setelah terjadinya big bang dimana semua gaya-gaya dasar alam semesta itu masih berupa gaya gravitasi yang diwakili oleh graviton, yang kemudian dikenal sebagai higgs boson ataupun partikel Tuhan.

7. Yang menarik, partikel-partikel quantum itu di dalam Fisika dikenal sebagai partikelmessenger alias partikel utusan. Fungsinya adalah menyampaikan pesan berupa medan gaya, yang menghasilkan gaya-gaya dasar alam semesta.

Dimana dengan bertumpu pada keempat gaya dasar alam semesta itulah segala peristiwa ini terjadi. Mulai dari sesaat setelah big bang dimana segala eksistensi alam semesta ini diadakan bersamaan dengan partikel-partikel messenger tersebut. Kemudian, semuanya berfluktuasi membentuk ruang dan waktu, materi dan energi, berdasarkan informasi atau perintah yang dibawa oleh para partikel utusan itu.

Partikel Graviton membawa pesan untuk menyampaikan gaya gravitasi yang menyebabkan terbentuknya ruang dan waktu. Sedangkan, partikel Boson Madya, Gluon dan Foton, membawa pesan bagi terbentuknya materi dan energi secara bertahap pada skala sub atomik, molekuler, sampai pada benda-benda dan peristiwa sehari-hari yang berskala sedang.

Sampai sekarang semua gaya itu masih terus bekerja untuk menjaga eksistensi alam semesta dengan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya. Semuanya bertumpu pada peran messenger particles alias partikel-partikel utusan yang membawa pesan penciptaan dan pemeliharaan, bahkan penghancuran atas segala benda dan peristiwa yang terjadi di dalam alam semesta.

Berdasar pada runtut berpikir di atas, maka tak bisa dimungkiri ada kemiripan yang luar biasa antara partikel-partikel quantum sebagai messenger antar benda dan peristiwa, dengan para malaikat yang juga bertugas sebagai utusan - messenger - bagi terselenggaranya drama kolosal alam semesta sebagai makhluk Allah, Sang Maha Raja, Penguasa jagat semesta.

Rentetan ayat di atas memberikan gambaran tentang adanya partikel-partikel sangat halus yang memiliki karakter seperti messenger particles. Ukurannya sangat halus, sehingga diungkapkan dengan kalimat sumpah yang menegaskan: wadz dzaariyaati dzarwan - demi partikel yang halus, sehalus-halusnya.

Bagaimanakah karakter partikel yang halus itu? Adalah partikel-partikel yang mampu membawa ‘beban berat’, sebagaimana yang dibawa oleh partikel-partikel quantum, yakni membawa medan gaya yang sangat besar berupa gaya gravitasi, gaya nuklir dan gaya elektromagnetik..!

Wallahu a’lam bissawab.

Catatan Penambahan :

1. Malaikat dalam Hadits

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا و قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُلِقَتْ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ dan Abdu bin Humaid, berkata Abdu: Telah mengkhabarkan kepada kami, sedangkan Ibnu Rafi’ berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Urwah dari Aisyah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian.” (Hadits Riwayat Muslim, Hadits Online No. 5314)

Misteri Pasukan Burung Nabi Sulaiman ?

Di dalam Grub Facebook, “Muhammadiyah: Gerakan Islam Berkemadjoean“, “Mencari Penghuni Langit” dan “The Origin Of Meaning“. dibahas tentang makna dari Pasukan Burung Nabi Sulaiman.

Ini pembahasannya :

Dalam salah satu ayat Al Qur’an, dikisahkan tentang Bala Tentara Nabi Sulaiman :

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) (Qs. An-Naml (27) ayat 17).

Menurut Ustadz H. M. Nur Abdurrahman (HMNA), Pasukan burung yang dimaksud ayat di atas adalah pasukan gerak cepat, yaitu pasukan kavaleri dan regu-regu pengintai yang membawa burung-burung untuk komunikasi.

Dimana Perintah dari induk pasukan ataupun laporan ke induk pasukan, dilakukan dengan saling berkirim informasi, melalui surat yang diikatkan pada kaki (tubuh) burung.

burung21
Siapa sesungguhnya “Hud-Hud” itu ?

Ada yang berkeyakinan, Nabi Sulaiman bisa bercakap-cakap dengan burung. Mereka percaya Hud-hud sebagaimana dikisahkan di dalam Al Qur’an, adalah se-ekor burung yang istimewa.

Benarkah demikian ?

Mari kita perhatikan, ayat-ayat berikut :

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. “Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. (QS. An-Naml (27) ayat 20-21).

Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. (QS. An-Naml (27) ayat 22).

Dari ayat di atas, Hud hud, adalah seorang pejabat militer yang penting, dan bukanlah seekor burung, sebagaimana tafsiran sebagian orang. Ketidak-hadirannya tentu membuat marah Nabi Sulaiman.

surya2

Beberapa alasan, Hud Hud bukan seekor burung…

(a) Sangat aneh jika seorang raja besar, seperti Nabi Sulaiman, sangat gusar atas ketidak-hadiran se-ekor burung kecil, sehingga berkenan akan menjatuhkan hukuman berat kepada burung tersebut.

Akan lebih logis, jika yang dimaksud Hud Hud itu, adalah seorang pejabat tinggi militer. Hal ini bisa dilihat dari beratnya hukuman, karena kesalahan seorang berpangkat tinggi, bisa berpengaruh kepada disiplin tentara secara keseluruhan.

(b) Nabi Sulaiman adalah seorang yang sangat cerdas, tentu bisa memilah-milah kesalahan pihak lain.

Kalau yang salah itu hanya se-ekor burung, tentu ia memaklumi, karena akal pikiran hewan, tidaklah sebaik manusia.

(c) Hud-hud, ternyata sangat paham akan undang-undang dan keperluan-keperluan negara, dan juga paham sekali mengenai tauhid (lihat QS. An-Naml (27) ayat 23- 26), padahal burung-burung tidak demikian.

Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar” (QS. An-Naml (27) ayat 23-26).

(d) Ada yang mempercayai Hud hud yang diceritakan di dalam Al Qur’an, adalah sejenis burung yang memiliki nama Noble Hoopoe atau Eurasian Hoopoe [Upupa epops].

hudhud1
Namun anggapan itu, masih sangat diragukan. Hal ini dikarenakan, burung yang di maksud bukanlah burung penjelajah. Padahal diperkirakan jarak antara Palestina ke Negeri Saba, mencapai sekitar 2.000 km.

Catatan Penambahan :

1. Hudhud dimaknai sebagai seorang petinggi militer, juga merupakan pendapat dari Dr. Ir. Soekmana Soma MSP, M. Eng, di dalam bukunya yang berjudul “Ada apa dengan ulama?: pergulatan antara dogma, akal, kalbu & sains“.

Di dalam bukunya tersebut, Soekmana Soma berpendapat :

Kata thair dalam QS. An-Naml (27) ayat 17, berasal dari kata thara, yang berarti terbang dan dapat juga berarti kuda (Shaik Nasr Abu’l Wafa’, The Qamus).

Oleh karenanya, terjemahan QS. An-Naml (27) ayat 17 adalah ::

“Dan dihimpun kehadapan Sulaiman balatentaranya, (yang terdiri) dari kabilah pegunungan yang telah ditaklukkan (jin), pasukan darat (manusia), dan pasukan berkuda (thair), dan mereka dibentuk menjadi beberapa golongan”.

Sementara terjemahan QS. An-Nam (27) ayat 20 :

“Dan ia (Sulaiman) memeriksa barisan thair, lalu berkata : Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah ia tidak hadir?”

Dengan demikian kata “tafaqqadatthaira” mestinya di-interpretasikan memeriksa barisan berkuda. Sementara Hudhud adalah nama seorang Petinggi Militer, yang kebetulan tidak hadir, dalam momen yang sangat penting, sehingga membuat Nabi Sulaiman marah.

Selanjutnya Nabi Sulaiman berkata :

“Aku pasti akan menghukum dia (Hudhud) dengan hukuman yang pedih, atau kubunuh dia, kecuali ia memberikan alasan yang jelas” (QS. An-Naml (27) ayat 21).

Dari ayat ini jelas Hudhud adalah manusia biasa, bukan seekor burung. Sebab logikanya : apakah pantas seorang Nabi, memarahi seekor burung ?

2. Dengan memperhatikan ayat Al Qur’an :

“Dan ia (Sulaiman) memeriksa barisan thair, lalu berkata : Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah ia tidak hadir?”

“Aku pasti akan menghukum dia (Hudhud) dengan hukuman yang pedih, atau kubunuh dia, kecuali ia memberikan alasan yang jelas” (QS. An-Naml (27) ayat 20-21).

Hudhud adalah bagian dari barisan thair. Dan jika kita mengartikan barisan thair itu sebagai Pasukan Burung, apakah Hudhud harus seekor burung ?

burung3
Sama halnya, dengan Pasukan Kuda, apakah pemimpinnya harus seekor Kuda ?

kuda1

Dengan demikian, Hudhud tidak harus seekor burung, Hudhud juga bisa manusia biasa, yang merupakan bagian dari Pasukan Burung.

3. Berdasarkan kajian dari Ustadz H.M. Nur Abdurahman, Nabi Sulaiman adalah seorang yang mengerti mantiq burung, yakni memahami makna kicau, gerak-gerik dan perangai serta kebiasaan burung.

Sebagaimana bunyi dari QS. Al Naml (27) ayat 16 :

Wa Qa-la Ya-ayyuha- nNa-su ‘Ullimna- Manthiqa thThayri.

Berkata (Sulaiman): hai manusia, telah diajarkan kepada kami logika burung.

Pada masa sekarang ini ada sebuah disiplin ilmu yang disebut ethology (jangan dikacaukan dengan ecology), yaitu ilmu yang berhubungan dengan perangai binatang (animal behavior), terutama yang berhubungan dengan habitatnya.

Dalam Abad yang lalu ada Sulaiman modern yang bergelar “The Bird Man of Al Catraz”, yaitu seorang penghuni/narapidana di penjara Al Catraz yang faham dan ahli betul dalam hal ethology khusus untuk burung.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Sumber :
1. Apakah dalam Kejadian Sesungguhnya Nabi Sulaiman AS Dapat Bercakap-cakap dengan Burung dan Semut?
2. Misi Intelijen Nabi Sulaiman a.s. Pimpinan Jenderal Hud-hud ke Kerajaan Ratu Saba

AL ‘AUL Dalam HUKUM Waris Islam

Menurut istilah fuqaha, Al-‘Aul bermakna bertambahnya jumlah ashlul masalah dan berakibat berkurangnya nashib (bagian) dari para ahli waris.

Hal ini terjadi dikarenakan semakin banyaknya ashhabul furudh, sehingga harta waris habis dibagi, sementara ada ahli waris yang belum menerima bagian.

Dalam keadaan seperti ini, perhitungan waris dilakukan dengan menaikkan atau menambah pokok masalahnya (ashlul masalah), sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul furudh yang ada, meskipun di sisi lain, ada bagian dari ahli waris yang berkurang.

waris1
Menurut sejarahnya, di masa Rasulullah sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a, belum muncul kasus ‘aul (penambahan) dalam persoalan pembagian waris. Permasalahan ‘aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r.a.

Ibnu Abbas berkata: “Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni ‘aul) adalah Umar bin Khathab. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak.” (Sumber : MASALAH AL ‘AUL DANAR-RADD)

Contoh Kasus :

Seorang pria wafat, meninggalkan istri, lima anak perempuan, ayah dan ibu. Berdasarkan QS. An Nisa’ (4) ayat 11-12, didapat pembagian sebagai berikut :

Istri mendapat 1/8 bagian, lima anak perempuan mendapat 2/3 bagian, ayah mendapat 1/6 bagian dan ibu mendapat 1/6 bagian.

Dalam kakus ini ashlul masalahnya adalah 24, yang di-‘Aul-kan menjadi 27.

Diperoleh hasil :

Istri (1/8 x 24) = 3 bagian
5 anak perempuan (2/3 x 24) = 16 bagian
Ayah (1/6 x 24) = 4 bagian
Ibu (1/6 x 24) = 4 bagian

Total keseluruhan : 27 bagian

Karena ada 5 anak perempuan, maka agar mudah dibagi, total bagian (27), kita kalikan dengan jumlah per kepala anak atau 27 x 5 = 135 bagian…

Maka perhitungan warisnya, terbagi atas 135 bagian, dengan pembagian…

Istri = (3 bagian x 5) = 15 bagian

5 anak perempuan = (16 bagian x 5) = 80 bagian
( dimana masing-masing anak mendapatkan 16 bagian)

Ayah = (4 bagian x 5) = 20 bagian
Ibu = (4 bagian x 5) = 20 bagian

WaLlahu a’lamu bishshawab