Category Archives: genealogy

Silsilah Kekerabatan Keluarga Majapahit, Champa dan Sunan Ampel

Salah satu penyebab cepatnya penyebaran Islam di masa walisongo adalah dikarenakan para wali masih memiliki kekerabatan dengan pihak penguasa kerajaan Majapahit.

Pelopor kekerabatan keluarga Majapahit dengan tokoh penyebar Islam di tanah Jawa adalah Pangeran Arya Lembu Sura saudara dari Prabu Wikramawardhdhana.


Pangeran Arya Lembu Sura menikah dengan putri tokoh muslim tionghoa Haji Bong Swi Hoo dan memiliki putra bernama Pangeran Arya Sena. Selain itu Pangeran Arya Lembu Sura juga menikah dengan putri Haji Bong An Sui dan memiliki putri bernama Ratna Wulan.

Putri Ratna Wulan binti Pangeran Arya Lembu Sura kemudian menikah dengan Adipati Tuban Haryo Tejo dan memiliki putri bernama Dewi Condrowati. Di kemudian hari Dewi Condrowati menikah dengan penyebar Islam Sunan Ampel.

Referensi:
1.  Silsilah majapahit
2. Naskah Mertasinga
3. Kisah Sunan Ampel
4. Nyai Ageng Maloko
5. Sri Wikramawardhana (Siwi Sang)
6. Manaqib Raden Fattah (malaya.or.id)
7. 
8. Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar, tulisan Agus Sunyoto

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan: 

1. Ada dua versi tentang keberadaan Negeri Champa yang merupakan asal  daerah keluarga Sunan Ampel yakni berlokasi di Aceh (Sumatera) dan Vietnam (Indo China).

2. Arya Dillah Adipati Palembang ada yang berpendapat merupakan putra bungsu Wikramawarddhana namun versi lain mengatakan ia adalah anak dari Prabu Kertawijaya.

3. Maulana Abdullah Champa yang merupakan ayahanda Raden Hasan diperkirakan pernah menjabat sebagai Bhre Kertabhumi yang merupakan wilayah Majapahit di sebelah utara Wengker (sumber : wilayah majapahit).

Diperkirakan kedua orang tua Raden Hasan wafat ketika Raden Hasan masih kecil, oleh karenanya ia diungsikan oleh kakeknya Prabu Kertawijaya ke Palembang dibawa oleh ibu pengasuh bernama Nyai Ratna Subanci (sumber : Beberapa versi kisah Raden Fattah).

Di Palembang Raden Hasan diasuh oleh saudara muda kakeknya Raden Arya Dillah yang menjabat Adipati Palembang. sementara Nyai Ratna Subanci kemudian menikah dengan salah seorang kepercayaan Arya Dillah yakni Arya Palembang.

Arya Palembang (Arya Dillah II) dikemudian hari menggantikan posisi Arya Dillah sebagai Adipati Palembang dimana sebelumnya ia menikah dengan salah seorang putri dari Sang Adipati.

Iklan

[Misteri] Maulana Abdullah Pangeran Manchu Tando Adipati Sumedang Negara dalam Silsilah Palembang dan Tarsilah Brunei Darussalam?

Di dalam Catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih (yang hidup dimasa Sultan Muhammad Mansur, 1706 – 1714 ), nama Maulana Abdullah tercantum sebagai ayahanda dari Pangeran Manconegara, dengan rincian Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara bin Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara bin Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo bin Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri.

Pangeran Manconegara sendiri merupakan kakek dari pendiri Kesultanan Palembang Darussalam yang bernama Sultan Abdul Rahman Kyai Mas Hindi Sayidul Iman Sunan Cinde Welang bin Jamaluddin Mangkurat Kyai Gede ing Pasarean bin Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara.

Nama Pangeran Manconegara ternyata juga tercatat di dalam Tarsilah Brunei Darussalam sebagai ayahanda dari Raden Mas Ayu Siti Aisyah permaisuri dari Sultan Brunei Darussalam yang bernama Sultan Abdul Jalilul Akbar (memerintah Kesultanan Brunei, 1598 – 1659).

Pada Tarsilah Brunei tertulis Pengiran (Kiai) Temenggong Manchu Negoro bin Pengiran Manchu Tando bin Sunan Dalam Ali Zainal Abidin Wirakusuma bin Sunan Giri, Maulana Muhammad Ainul Yaqin.

Berdasarkan kesamaan waktu dan nama, kemungkinan besar yang dimaksud  Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara (Silsilah Palembang) adalah indentik dengan Pengiran Manchu Tando (Tarsilah Brunei).

Dari kedua sumber tersebut dapat kita ambil beberapa kesimpulan:

1. Ayahanda Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara (Pengiran Kiai Temenggong Manchu Negoro) bernama Maulana Abdullah.

2. Maulana Abdullah merupakan seorang Pangeran Adipati atau Manchu Tando yang merupakan jabatan setingkat wakil Adipati di wilayah Sumedang Negara.

3. Berdasarkan timeline peristiwa di masa itu yang menjabat Adipati Sumedang adalah Pangeran Santri putra dari Maulana Muhammad Pangeran Arya Cirebon.

Hal inilah yang membuat dalam beberapa silsilah menulis Pangeran Adipati Sumedang adalah putra dari Pangeran Arya Cirebon, padahal sosok Pangeran Adipati dan Adipati di Sumedang merupakan dua orang yang berbeda.

4. Tokoh Maulana Abdullah Pangeran Manchu Tando Adipati Sumedang Negara seringkali juga tertukar dengan sosok Pangeran Panca Tanda yang merupakan paman dari Pangeran Manconegara.

Pangeran Panca Tanda merupakan anak dari Tumenggung Mantik (Ki Geding Karang Panjang/Ki Geding Karang Tengah) sekaligus juga ipar dari  Maulana Abdullah Pangeran Manchu Tando Adipati Sumedang Negara.

Pangeran Panca Tanda inilah yang kemudian hijrah bersama Pangeran Manconegara ke Palembang.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Tokoh lain yang juga sering dianggap sebagai ayahanda dari Pangeran Manconegara adalah Raden Kiai Nurdin.

Raden Kiai Nurdin diperkirakan merupakan salah seorang putra dari Pangeran Arya Cirebon yang juga paman sekaligus ayah angkat dari Pangeran Manconegara.

 

Silsilah Kekerabatan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, Giri Kedaton dan Kesultanan Mataram

Berdasarkan Babad Pamijahan diterjemahkan dari Perimbon Kuno oleh Zainal Mustafa bin Muhammad pada tahun 1977, diketahui bahwa Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan merupakan keturunan Susunan Giri Kadaton.

Berdasarkan catatan tersebut diceritakan Susunan Giri Kadaton memiliki seorang putra bernama Pangeran Giri Laya yang dikemudian hari bergelar Pangeran Seda Lautan.

Nama Pangeran Seda Lautan di dalam Serat Centini, merupakan putra dari Susunan Giri Kedaton kedua atau lebih dikenal sebagai Sunan Dalem (Maulana Zainal Abidin).

Dalam Serat Centini, Pangeran Seda Lautan merupakan adik bungsu dari Susunan Giri Ket-4 (Sunan Prapen Adi), dan diperkirakan jarak usia keduanya cukup jauh.

Pada Babad Pamijahan juga diceritakan tentang leluhur Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan yang bernama Raden Wiracandra yang merupakan putra dari Pangeran Giri Laya.

Raden Wiracandra dikisahkan memiliki seorang saudari bernama Nyai Raden Malaya yang merupakan istri dari Kiai Gedeng Mataram. Dari perkawinan tersebut lahirlah putra Kiai Gedeng Mataram yang bernama  Kiai Tumenggung Singaranu.


Diperkirakan nama Kiai Gedeng Mataram adalah Panembahan ing Krapyak yang merupakan Sultan Mataram ke-2, periode 1601-1613. Perkiraan ini selain berdasarkan kronologis masa kehidupan beberapa tokoh, juga didukung kisah penyerangannya terhadap Madura yang tertulis di dalam Babad Pamijahan.

Penyerangan terhadap Madura yang dimaksud besar kemungkinan merupakan peristiwa serangan Mataram terhadap wilayah di sekitar Surabaya pada tahun 1608-1613 (sumber : Panembahan Agung Mataram).

Kiai Gedeng Mataram (Panembahan ing Krapyak atau Panembahan Hanyakrawati), merupakan ayahanda dari Sultan Agung Mataram yang merupakan leluhur Kerabat Kraton Yogyakarta, Surakarta dan Mangkunegara.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan: 

1. Tokoh Kiai Tumenggung Singaranu kemungkinan indentik dengan Patih Tumenggung Singaranu yang menjabat Patih Kesultanan Mataram pada periode 1623-1645 di masa pemerintahan Sultan Agung (sumber : Babad Nitik).

2. Di dalam Babad Pamijahan diceritakan Raden Wiracandra dalam waktu yang cukup lama pernah tinggal di Palembang. Diperkirakan pada saat itu Kerajaan Palembang diperintah oleh Pangeran Made Angsoko (1588-1623), dan di masa inilah negeri Palembang mendapat serangan dari Kesultanan Banten pada sekitar tahun 1596 (sumber : Hikayat Perang Palembang Banten).

3. Berdasarkan catatan silsilah Palembang salah seorang saudari dari Pangeran Made Angsoko bernama Nyai Gede Pembayun menikah dengan kerabat Giri Kedaton yang bernama Pangeran Monco Negoro (sumber : Kekerabatan Kesultanan Palembang).

Berdasarkan penyelusuran Genealogy Pangeran Manco Negoro adalah cucu dari Susunan Giri Kedaton kedua (Sunan Dalem Maulana Zainal Abidin), atau dengan kata lain Pangeran Manco Negoro adalah saudara sepupu Raden Wiracandra.

Dimana Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara bin Adipati Panca Tanda bin Sunan Dalam Ali Zainal Abidin Wirakusuma bin Maulana Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri (sumber :  Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, dalam catatan “Tarsilah Brunei).

Atau jika mengacu kepada catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih (ulama yang hidup dimasa Sultan Muhammad Mansur, 1706 – 1714 ), genealogy-nya adalah: Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara bin Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara bin Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo bin Maulana Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri.

Benarkah Sultan Agung Mataram Beristrikan Kakak Kandung Panembahan Ratu Cirebon?

Mempelajari genealogy tidak terbatas hanya memahami catatan naskah silsilah, melainkan juga harus memperhatikan kronologis peristiwa berdasarkan data sejarah.

Dengan memperhatikan kronologis peristiwa, maka kita akan memperoleh gambaran apakah satu catatan silsilah tersebut logis atau mengandung kejanggalan.

Sebagai contoh, banyak beredar catatan silsilah yang mengatakan Sultan Agung Mataram menikah dengan kakak perempuan Panembahan Ratu Cirebon yang bernama Ratu Ayu Sakluh, benarkah demikian?

Sebelum mempermasalahkan sumber riwayat, mari kita perhatikan kronologis peristiwanya terlebih dahulu.

1. Sultan Agung Mataram atau Raden Mas Rangsang lahir pada tahun 1593
2. Panembahan Ratu Cirebon diangkat menjadi penguasa pada tahun 1565

Dari dua data sejarah ini, bisa kita simpulkan Panembahan Ratu Cirebon yang dikatakan sebagai adik ipar Sultan Agung Mataram, menjadi penguasa Cirebon 28 tahun sebelum kakak iparnya lahir.

Berdasarkan informasi Panembahan Ratu lahir tahun 1547 sedangkan kakaknya Ratu Ayu Sakluh lahir tahun 1545. Dari data ini dapat diperoleh jarak usia antara Sultan Agung Mataram dengan Ratu Ayu Sakluh adalah 48 tahun.

Hal ini bermakna, jika Sultan Agung Mataram menikah di usia 20 tahun maka sang istri telah berusia 68 tahun. Kejanggalan inilah yang seharusnya ditinjau kembali oleh para pemerhati genealogy sebelum memperdebatkan kevalidan sumber data.

Untuk meluruskan persoalan ini, mungkin kita bisa mengambil pendapat salah satu versi yang mengatakan bahwa Ratu Ayu Sakluh adalah mertua perempuan dari Sultan Agung Mataram.

Referensi:
1. Keluarga Kesultanan Cirebon
2. Kitab Pangeran Wangsakerta
3. Kisah Putri Harisbaya
4. Sultan Agung Mataram

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan:

1. Ada versi yang menuliskan bahwa istri Sultan Agung Mataram yang berasal dari Cirebon adalah putri dari Panembahan Ratu Cirebon. Namun catatan ini juga perlu dikritisi, karena putri Panembahan Ratu Cirebon diperkirakan usianya jauh diatas Sultan Agung Mataram.

Dari perkawinan Panembahan Ratu Cirebon dengan Ratu Lampok Angroros (Nyi Ratu Pajang), anak Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir), memiliki seorang putri bernama Ratu Emas yang lahir tahun 1575 atau usianya lebih tua 18 tahun dari Sultan Agung Mataram.

2. Sultan Agung Mataram menjadi penguasa pada sekitar tahun 1535 – 1567 Shaka (1613 – 1645 masehi). Sultan Agung memiliki istri yang merupakan anak kakak perempuan Panembahan Ratu Carbon (sumber: Panembahan Ratu).

Meluruskan Silsilah Puyang Awak (Syech Nurqodim al-Baharudin) Trah Sunan Gunung Jati dan Pendiri Adat Semende Sumatera Selatan

Berdasarkan buku ”Jagad Basemah Libagh Semende Panjang”, Karya TG.KH. Drs. Thoulun Abdurrauf, pada sekitar tahun 1650 M (1072 H) para waliullah Nusantara dipelopori oleh Syech Nurqodim al-Baharudin menggelar musyawarah berpusat di Perdipe Sumatera Selatan.

Catatan sejarah ini diperkuat dengan adanya arsip kuno berupa kaghas (tulisan dengan huruf ulu diatas kulit kayu) yang ditemukan di Dusun Penghapau, Semende Darat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan yang diterjemahkan pada tahun 1974 oleh Drs. Muhammad Nur (ahli purbakala Pusat Jakarta).


Syech Nurqodim al-Baharudin atau dalam masyarakat Sumatera Selatan lebih dikenal sebagai Puyang Awak juga merupakan pendiri adat Semende bersama ayahandanya Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang.

Dalam beberapa riwayat disebutkan Puyang Awak merupakan cucu dari Sunan Gunung Jati (1448-1568). Mengingat jarak yang cukup jauh dari keduanya makna “cucu” disini berarti dzuriat atau keturunan.

Beberapa catatan:

1. Puyang Awak adalah putra dari Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang dengan salah seorang putri Panembahan Ratu yang tercatat memerintah Kesultanan Cirebon pada periode 1565-1649.

2. Panembahan Ratu dalam Silsilah Cirebon memiliki dua istri, yakni Ratu Harisbaya tidak memiliki anak dan Ratu Lampok Angroros (Nyi Ratu Pajang), putri Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir), memiliki 6 anak yakni:

1. Pangeran Seda Blimbing yang lahir tahun 1571.
2. Pangeran Arya Kidul yang lahir tahun 1572.
3. Pangeran Wiranagara yang lahir tahun 1573.
4. Ratu Emas yang lahir tahun 1575.
5. Pangeran Sedang Gayam yang lahir tahun 1578.
6. Pangeran Singawani yang lahir tahun 1581.

Dalam versi yang lain, anak ke-6 Panembahan Ratu adalah wanita bernama Nyi Mas Ratu Singawani.

3. Ibunda dari Syech Nurqodim al-Baharudin berdasarkan catatan masyarakat Sumatera Selatan adalah putri sulung Panembahan Ratu. Pada data diatas bernama Ratu Emas, yang dikisahkan menikah dengan Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang.

4. Dalam musyawarah ulama tahun 1650, mereka yang datang berasal dari wilayah Rumpun Melayu yang meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Fak-Fak- Papua, Ternate, dan Kepulauan Mindanau.

Tercatat hadir antara lain 40 ulama Malaka yang berangkat dari Johor, utusan Mataram Raden Seto dan Raden Khatib dan beberapa utusan lain dari Pagaruyung dan beberapa dari wilayah Rumpun Melayu lainnya.

5. Berdasarkan catatan KH. Abd Jabbar Ulama Semende

a. Puyang Awak (Nurgadin) adalah anak angkat Puyang Baharuddin di Muara Danau.
b. Isteri Puyang Awak adalah adik perempuan (kelawai) Puyang Leby (Abdul Qohar) tidak ada keturunan.
c. Suami adik perempuan (kelawai) Puyang Awak adalah Puyang Tuan Raje Ulie di Prapau Semende. 

Referensi: 
1. Mudzakarah Ulama abad ke-17
2. Keluarga Kesultanan Cirebon
3. Kitab Pangeran Wangsakerta
4. Kisah Puyang Awak Semende
5. Hukum Kewarisan Islam dan Adat Semende

WaLlahu a’lamu bishshawab

Meluruskan Silsilah KH. Said Aqil Siradj dan Sesepuh Pesantren Buntet Cirebon?

Ketua Pengurus Besar NU, KH Said Aqil Siradj tercatat merupakan cicit dari tokoh ulama pada abad ke-19 yakni KH. Muhammad Said Pendiri Pondok Pesantren Gedongan Cirebon.

Dalam beberapa litelatur KH. Muhammad Said diriwayatkan merupakan keturunan salah seorang wali songo Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Setidaknya ada 3 versi silsilah KH. Muhammad Said sampai kepada Sunan Gunung Jati, yakni:

1. Berdasarkan data lesbumi.com:

KH Muhammad Said (Gedongan) bin
KH Murtasim bin
KH Nuruddin bin
KH Ali bin
Tubagus Ibrahim bin
Abul Mufakhir ( Majalengka) bin
Sultan Maulana Mansur (Cikaduen) bin
Sultan Maulana Yusuf (Banten) bin
Sultan Maulana Hasanuddin bin
Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

2. Berdasarkan data ranji.sarkub.com:

KH Said ( Pendiri Gedongan ) bin
KH Murtasim (Kakak dari KH Muta’ad Benda Kerep ) bin
KH Raden Nuruddin bin
Raden Muriddin bin
Raden Ali bin
Pangeran Punjul @ Raden Bagus @ Pangeran Penghulu Kasepuhan bin
Pangeran Senopati @ Pangeran Bagus bin
Pangeran Kebon Agung @ Pangeran Sutajaya V bin
Pangeran Dalem Anom @ Pangeran Sutajaya ingkang Sedo ing Tambak) bin
Pangeran Nata Manggala bin
Pangeran Sutajaya Sedo Ing Demung bin
Pangeran Wirasutajaya ( Adik Kadung Panembahan Ratu ) bin
Pangeran Dipati Anom @ Pangeran Suwarga bin
Pangeran Pasarean @ Pangeran Muhammad Tajul Arifin bin
Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah Al-Khan

3. Sementara berdasarkan data pwansorjabar.org terdapat perbedaan pada genealogy Raden Muriddin ke atas:

Raden Muriddin bin
Raden Muhammad Nuruddin bin
Raden Ali bin
Raden Punjul bin
Raden Bagus bin
Raden Pangeran Sutajaya Ing Gebang (Sultan Matangaji)
bin Dalem Anom (Sultan Senapati) bin
Dalem Kebon Ing Gebang bin
Pangeran Sutajaya Kang Seda Ing Grogol bin
Pangeran Sutajaya Kang Seda Ing Tambak bin
Panembahan Ratu (P. Girilaya) bin
Pangeran Dipati bin
Pangeran Pasarean bin
Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

Analisa:

1. Penulis lebih meyakini silsilah yang berasal dari lesbumi.com, selain dikarenakan merupakan situs resmi dari PB NU juga data silsilah tersebut tercatat dalam buku tulisan Ahmad Mustofa Haroen, Meneguhkan Islam Nusantara (Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan Prof. Dr. KH. Sa’id Aqil Siroj, MA) Jakarta: KHALISTA, 2015. Hal: 37.

Dalam buku tersebut tertulis data silsilah sebagai berikut : KH. M. Said bin KH. Murtasim bin KH. Nuruddin bin KH. Ali bin Tubagus Ibrohim bin Abdul Mafakhir (Majalengka) bin Maulana Muhammad (Banten) bin Maulana Mansyur bin Maulana Yusuf (Banten) bin Maulana Hasanuddin bin Syaikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), sumber

2. Pada data lesbumi.com dan buku karya Ahmad Mustofa Haroen, sepertinya ada beberapa nama yang tidak dicantumkan yakni dari Maulana Mansur (Cikaduen) sampai ke Sultan Maulana Yusuf (Banten).

Berdasarkan bantencom.com, Maulana Mansur (Cikaduen) adalah putera dari Sultan Ageng Tirtayasa bin Syeikh Abul Mahali Ahmad Kenari bin Syeikh Abdul Mafakhir bin Syeikh Maulana Muhammad Nasruddin bin Syeikh Maulana Yusuf.

3. Berdasarkan data-data diatas, maka Genealogy dari KH. Said Aqil Siradj sampai kepada Sunan Gunung Jati adalah:

01. KH. Said Aqil Siradj bin
02. KH. Aqil bin
03. KH. Siradj bin
04. KH Muhammad Said (Gedongan) bin
05. KH Murtasim bin
06. KH Nuruddin bin
07. KH Ali bin
08. Tubagus Ibrahim bin
09. Abul Mufakhir ( Majalengka) bin
10. Maulana Mansur (Cikaduen) bin
11. Sultan Ageng Tirtayasa bin
12. Sultan Abul Mahali Ahmad bin
13. Sultan Abdul Mafakhir bin
14. Sultan Maulana Muhammad bin
15. Sultan Maulana Yusuf bin
16. Sultan Maulana Hasanuddin bin
17. Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

4. Menurut catatan situs pwansorjabar.org hubungan antara KH Murtasim dengan KH Muta’ad adalah sepupu (misan), berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa data silsilah yang terdapat pada situs ranji.sarkub.com dan pwansorjabar.org , merupakan silsilah dari sebelah ibunda KH. Murtasim, diperoleh galur sebagai berikut:

01. KH. Said Aqil Siradj bin
02. KH. Aqil bin
03. KH. Siradj bin
04. KH Muhammad Said (Gedongan) bin
05. KH. Murtasim (sepupu sebelah ibu KH. Muta’ad) bin
06. Nyai Nuruddin (isteri Kyai Nuruddin dan saudari Raden Muriddin) binti
07. Raden Muhammad Nuruddin bin
08. Raden Ali bin
09. Raden Punjul bin
10. Raden Bagus bin
11. Raden Pangeran Sutajaya Ing Gebang bin

12. Panembahan Girilaya (versi lain Pangeran Wirasutajaya, saudara dari Panembahan Girilaya/Panembahan Ratu) bin

13. Pangeran Dipati Anom bin
14. Pangeran Pasarean bin
15. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

Sedangkan galur silsilah sesepuh Pesantren Buntet KH. Muta’ad (lahir tahun 1785) adalah sebagai berikut:

01. KH. Muta’ad (sepupu sebelah ibu KH. Murtasim) bin
02. KH. Raden Muriddin (saudara Nyai Nuruddin) bin
03. Raden Muhammad Nuruddin bin
04. Raden Ali bin
05. Raden Punjul bin
06. Raden Bagus bin
07. Raden Pangeran Sutajaya Ing Gebang bin

08. Panembahan Girilaya (versi lain Pangeran Wirasutajaya, saudara dari Panembahan Girilaya/Panembahan Ratu) bin

09. Pangeran Dipati Anom bin
10. Pangeran Pasarean bin
11. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

5. Yang dimaksud Pangeran Sutajaya Ing Gebang bukanlah Pangeran Sutajaya Ing Gebang Sultan Matangaji ataupun Pangeran Kebon Agung @ Pangeran Sutajaya V, yang diperkirakan hidup setelah tahun 1700.

Melainkan Pangeran Sutajaya Ing Gebang I yang merupakan anak atau dalam versi lain keponakan dari Panembahan Girilaya (Panembahan Ratu).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Asal Orang Jawa menurut Kyai Maimoen Zubair, dan Penelitian Genetika Masyarakat Nusantara

Salah seorang cucu KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) yang mendampingi beliau menjalankan ibadah Haji, berkisah tentang keterangan kakeknya mengenai nenek moyang masyarakat Jawa.

Gus Lutvillah Aufal Marom, demikian nama sang cucu menceritakannya (sumber : muslimoderat.net), sebagai berikut  :

“Kemarin sebelum ke Masjidil Haram, kakek bercerita tentang tanah Jawa dan keturunan Nabi Nuh ‘alaihis salaam”.

Kemudian Gus Lutvillah mengutip kisah kakeknya.
“Aku menduga bahwa Sayyid Yafits itu orang Jawa. Karena orang Jawa itu sangat tawadluk, Sayyid Yafits juga seorang yang tawadluk”.

Berdasarkan pendapat Mbah Moen, Bangsa Jawa berasal dari Yafits salah seorang putra Nabi Nuh.


Genetika Masyarakat Nusantara 

Apabila kita mencermati Evolutionary tree of Human Y-chromosome DNA (Y-DNA) haplogroups, diperkirakan Keluarga Nabi Nuh memiliki Haplogroup IJK, yang merupakan pangkal percabangan keturunan Sam bin Nuh (Haplogroup IJ) dan Yafits bin Nuh (Haplogroup K) (sumber : Jejak Nabi Nuh, dalam Gen Leluhur Nusantara).

Haplo (Haplogroup) K atau K-M9, kemudian membentuk genetik marker baru yaitu Haplo K2 (K-M526). Dari Haplo K2 (K-M526) inilah yang kemudian menurunkan Haplo NO yang terpecah kemudian menjadi 2 Haplo utama N-M231 dan O-M175.

Keturunan Haplo O-M175 membentuk Haplo O1a-M119, yang dikenal sebagai genetik marker dari Austronesian dan Tai-Kadai speakers. Haplo O1a-M119 inilah yang pada saat ini mendiami wilayah asia tenggara dan pasifik seperti Masyarakat Jawa, Sumatera, Formosan, Polynesian, Thai dan lainnya.

Dengan membandingkan antara keterangan Mbah Moen tentang Masyarakat Jawa, ternyata ada kesesuaian dengan hasil penelitan ilmiah dalam ilmu genetika.

Kedua informasi diatas menerangkan bahwa asal mula masyarakat Jawa adalah Yafits bin Nuh, yang di dalam bahasa genetikanya dikenal dengan Haplogroup K-M9.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara :
1. 
2. 
3. Teori Migrasi Manusia, menjawab asal usul Bangsa Melayu?
4. [Misteri] asal muasal Bangsa Jawa, menurut Legenda dan Catatan Sejarah ?