Category Archives: genealogy

[Misteri] Ahmad Syah Jalaluddin, antara Gubernur Kesultanan Delhi atau Sultan Nasarabad India ?

Sosok As-Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan sudah sangat dikenal di kalangan pemerhati genealogy Nusantara. Beliau merupakan leluhur walisongo, ayahanda dari Maulana  Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra.

Tokoh Ahmad Syah Jalaluddin masih menimbulkan perdebatan, apakah beliau Raja di Kerajaan Nasarabad India atau Gubernur di Kesultanan Delhi. Munculnya dua versi riwayat ini, melahirkan dua kronologis sejarah yang berbeda ketika berbicara tentang kerabat dan keturunannya.

Misteri Ahmad Syah Jalaluddin

Secara garis besar, terdapat dua versi tentang riwayat kehidupan Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan, yaitu :

1. Ahmad Syah Jalaluddin, Raja di Kerajaan Nasarabad India

Dalam versi ini berpedoman kepada kronologis masa kehidupan dari leluhur Ahmad Syah Jalaluddin. Sebagaimana diketahui kakek Ahmad Syah Jalaluddin bernama As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan yang lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah (1179 Masehi).

Sementara ayahanda Ahmad Syah Jalaluddin bernama Amir Abdullah Azmatkhan, yang naik tahta menjadi Raja di Kerajaan Nasarabad India Lama, pada tahun 653 Hijriah (1255 Masehi).

Dari kronologis ayahanda dan kakeknya ini, Ahmad Syah Jalaluddin tercatat naik tahta pada tahun 696 Hijriyah (1297 Masehi) dan wafat pada 711 Hijriyah (1312 Masehi).

Mengikuti kronologis ini, putera Ahmad Syah Jalaluddin bernama Maulana  Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra, lahir tahun 1270 Masehi dan cucunya bernama Maulana Ibrahim Zainuddin Asmaraqandi lahir di tahun 1297 Masehi (sumber : madawis blog dan asal azmatkhan).

2. Ahmad Syah Jalaluddin, Gubernur Kesultanan Delhi

Dalam versi ini berpedoman kepada kronologis masa kehidupan dari keturunan Ahmad Syah Jalaluddin. Sebagaimana diketahui cicit Ahmad Syah Jalaluddin bernama Maulana Ishaq lahir sekitar tahun 1393 Masehi.

Mengikuti kronologis ini, cucu Ahmad Syah Jalaluddin, yang bernama Maulana Ibrahim Zainuddin Asmaraqandi dilahirkan pada tahun 1373 Masehi, sedangkan anak Ahmad Syah Jalaluddin bernama Maulana  Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra, lahir tahun 1333 Masehi.

Pada kronologis ini Ahmad Syah Jalaluddin merupakan Gubernur di Kesultanan Delhi, di masa pemerintahan Sultan Muhammad Taghlug (1325-1351) (sumber : kisah nusantara).

Perbandingan :

Dari kedua kronologis ini, terjadi perbedaan data yang sangat mencolok, sebagai terlihat dalam daftar kejadian berikut ini :

Dari data di atas diperoleh beberapa kesimpulan :

1. Terdapat perbedaan mencolok diantara kedua versi, sebagaiman terlihat dari tahun kelahiran Husain Jumadil Kubro dan Ibrahim Asmoro.

2. Dengan menggunakan patokan versi Raja Nasarabad, penyusunan kronologis akan kesulitan dalam menyesuaikan kejadian-kejadian di era Maulana Ishaq atau setelahnya. Sementara dengan patokan versi Gubernur Delhi, akan kesulitan mencari titik temu dengan era Abdullah Azmatkhan atau sebelumnya.

3. Pada data di atas, kemungkinan besar adanya beberapa generasi yang belum tercatat dalam Silsilah Kekerabatan Marga Azmatkhan. Diperkirakan kedua versi ini terdapat masa selisih sekitar 60-70 tahun atau ada 2-3 generasi yang misterius.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Versi Gubernur Delhi, secara time line bersesuaian dengan versi walisongo berasal dari samudra pasai. Dimana dalam versi Pasai, Syekh Husain Jumadil Kubro adalah anak dari Sultan Zainal Abidin (Sultan Pasai, 1349-1406) (sumber : [Misteri] Versi Walisongo dari Pasai, dan Silsilah Makhdum Perlak ?).

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Satrio Piningit, Simbolisasi Bukit Siguntang dan Zuriat Sunan Giri ?

Iklan

[Misteri] Versi Walisongo berasal dari Pasai Aceh, dalam Silsilah Ahlul Bayt Makhdum Perlak ?

Dalam versi Pasai Aceh, Syekh Husein Jumadil Kubro adalah putera dari Sultan Zainal Abdidin (memerintah Kerajaan Samudra Pasai, 1349-1406). Leluhur Syekh Husein berasal dari Dinasti Makhdum, yang mendirikan Kerajaan Perlak pada sekitar abad ke-9 Masehi.

Dari Perlak, Zuriat Dinasti Makhdum kemudian menyebar menjadi kerabat Kerajaan Sriwijaya, Pariangan (Minangkabau), Dharmasraya, Majapahit, Tumasik dan Malaka. Fenomena tersebarnya Zuriat Dinasti Makhdum ini, membuktikan Pengaruh Islam telah ada jauh sebelum era walisongo.

Berikut diagram silsilah kekerabatan Dinasti Makhdum Perlak dan Walisongo versi Samudra Pasai…

>> untuk pembesaran gambar bisa klik picture-nya atau klik disini

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Di kalangan pemerhati sejarah Aceh, tokoh Leluhur Dinasti Makhdum Perlak, yakni Syahriansyah Salman al-Farisi sebagian besar dianggap berasal dari keluarga Bangsawan Persia (Dinasti Sassanid), namun ada juga yang beranggapan Syariansyah Salman merupakan zuriat dari Ahlul Bayt Rasulullah.

2. Salah satu bukti yang menguatkan, bahwa keluarga Syekh Ibrahim Asmoro berasal dari keluarga Makhdum, bisa terlihat dari gelar yang disandang Sunan Bonang, yakni Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Dimana Sunan Bonang adalah anak dari Sunan Ampel bin Syekh Ibrahim Asmara.

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Kolerasi Peristiwa Karbala dengan munculnya Kedatuan Sriwijaya di Palembang ?

[Misteri] Sang Suparba, Kerabat Dinasti Yuan Cina, Zuriat Sasan Persia dan Keturunan Maharaja Sriwijaya ?

Berdasarkan penyelusuran tokoh-tokoh yang terdapat di dalam Sejarah Melayu, diperoleh beberapa informasi.

(1). Sang Suparba, memiliki Paman bernama Raja Pandin, Penguasa Turkistan yang ternyata indentik dengan Abaqa Khan ( Pemimpin Ilkhanate, 1265-1282).

(2). Sang Suparba, memiliki ibu berasal dari Gangga Nagara, yang indentik dengan Gangaikonda Cholapuram atau lebih dikenal dengan nama Kerajaan Chola. Dimana Raja Syah Johan yang tertulis dalam Sejarah Melayu, indentik dengan Rajendra Chola III (Raja Chola, 1256-1279).

(3). Sang Sapurba memiliki nasab kepada Raja Nusirwan Adil, yang ternyata indentik dengan King Anushirvan “The Just” of Persia (memerintah Kerajaan Persia Dinasti Sassanid, 531-578).

Dari data-data tersebut, maka disusunlah silsilah kekerabatan Sang Sapurba yang menghubungkan keluarga Sriwijaya, Dinasti Yuan Cina, Chola India, Dinasti Sasan Persia, Kediri, Singhasari dan Majapahit.

Keterangan :

1. Pendiri Dinasti Chola II, yaitu Kulothunga Chola I, sebelum menjadi Penguasa Chola merupakan Raja Sriwijaya, yang bergelar Raja Diwakara. Nama ayahanda Kulothunga Chola I adalah Sembiyan yang indentik dengan Sambugita, Maharaja Sriwijaya yang berpusat di Palembang (sumber : Kulottunga I dan Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola ?).

2. Berdasarkan kepada masa pemerintahan putera Sang Suparba, yakni Sang Nila Utama di Tumasik (Singapura) pada periode tahun 1320-1347, diperkirakan kedatangan Sang Sapurba di Bukit Siguntang pada sekitar tahun 1285 (sumber :  [Misteri] Puteri Melayu, ibunda Kusala Khan (Kaisar Dinasti Yuan, memerintah tahun 1329) ? dan [Teori] “Genghis Khan’s Genetic” di Alam Melayu ?).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

 

Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola ?

Berdasarkan inskripsi dari sebuah kuil di Guangzhou Cina, diceritakan sejak tahun 1064 M, seorang Raja Sriwijaya bernama Diwakara, membantu perbaikan sebuah kuil yang mengalami keruntuhan. Dana yang disumbangkan Raja Diwakara, mencapai 500.000 keping emas (sumber : Penakluk Chola dan Ancient Southeast Asia).

Sebelum perbaikan Kuil selesai di tahun 1079 M, dalam satu catatan resmi Dinasti Sung tahun 1077 M, menginformasikan Diwakara telah menjadi raja asing di Kerajaan Chola India Selatan.

Misteri Raja Diwakara (Divakara)

Pada awal abad ke-11 Masehi, Kedatuan Sriwijaya terpecah menjadi dua, yaitu Sriwijaya Pesisir yang berpusat di Kedah dan Sriwijaya Pedalaman yang berpusat di Palembang.

Ketika Pusat Kerajaan Sriwijaya Pesisir diserang Kerajaan Chola tahun 1025 M, dan berhasil menawan  Sangrama Vijayottunggavarman (sumber : wikipedia.org), sebagian kerabat Sriwijaya Pesisir dibawa ke Palembang. Pilihan hijrah ke Sriwijaya Palembang, kemungkinan antara kedua Kerajaan telah menjalin ikatan keluarga satu dengan lainnya.

Kelak dikemudian hari, salah seorang putri  Sangrama Vijayottunggavarman yang berada di Palembang dinikahi oleh Maharaja Erlangga dari Kerajaan Kahuripan.

Dalam situasi demikian, praktis Kedatuan Sriwijaya yang terpecah kembali menyatu dan berpusat di Palembang.

Berdasarkan sumber-sumber catatan dari Kerajaan Chola, dikatakan bahwa Raja Diwakara merupakan seorang Gubernur (Perwakilan Kerajaan Chola) di Sriwijaya. Namun hal ini tentu sangat mengherankan, ada seorang Gubernur yang bisa langsung menyumbang pembangunan kuil di negeri asing, sampai 500.000 keping emas.

Kemungkinan lain yang lebih logis, Raja Diwakara adalah Penguasa Sriwijaya yang berhasil menaklukkan Kerajaan Chola, dimana yang bersangkutan masih terhitung anggota keluarga kerabat Kerajaan Chola.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Raja Diwakara (Divakara) dalam sejarah Kerajaan Chola lebih dikenal dengan nama Prince Rajendra Chalukya (Kulothunga Chola I), yang memerintah Chola pada periode 1070–1118 (sumber : Athirajendra Chola).

Raja Diwakara juga diceritakan memiliki nama Prince Thivakaala Rajendra, yang dipercaya menjadi Gubernur Sriwijaya di Palembang tahun 1067, pada masa Virarajendra Chola Keertivartana (sumber : Tamil History).

2.  Kulothunga Chola I, dalam salah satu versi nama ayahandanya Sembiyan yang indentik dengan Sambugita, Maharaja Sriwijaya yang berpusat di Palembang (sumber : Kulottunga I ).

3. Dalam catatan Kerajaan Chola, Raja Diwakara (Kulothunga Chola I), anak dari Rajaraja Narendran I (ayah) dan Ammanga Devi (ibu) (sumber : Kulotunga I)

4. Berdasarkan pendapat Anthonyswan.Pi.Art (gelar Datok Paduka Rangkayo Besar Bertuah) dalam tulisannya berjudul “Balai Adat Yang Pertama”, yang menyatakan Sang Sapurba berasal dari Kerajaaan Chola. Ia berpendapat Sang Sapurba adalah anak keturunan dari Rajendra Chola I (Raja Chola, 1012-1044) (sumber : MALPU 187).

Apabila kita mengacu kepada timeline kehidupan anak dari Sang Sapurba bernama Sang Nila Utama (Raja Tumasik, 1320-1347), kemungkinan Sang Sapurba adalah anak keponakan dari Raja Hiran atau Rajendra Chola III (Raja Chola, 1246–1279). Rajendra Chola III, merupakan Raja Chola terakhir dari Dinasti yang didirikan oleh  Raja Diwakara (Kulothunga Chola I) (sumber : wikipedia.org).

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar; dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

[Misteri Segitiga Matematis] Masjid Muara Ogan – Bukit Siguntang – Masjid Agung Palembang ?

Dengan menggunakan Google Maps, akan ditemukan jarak antara Masjid Muara Ogan (1 Ulu Palembang) ke Masjid Agung Palembang, akan sama dengan jarak antara Masjid Muara Ogan ke Bukit Siguntang.

Dan apabila diambil titik tengah antara Masjid Agung dengan Bukit Siguntang, berdasarkan kepada segitiga sama kaki yang terbentuk, akan ditemukan lokasi Masjid Al-Maghfiroh 30 ilir Palembang.


Kiai Marogan ahli dalam perhitungan rumit

Pendiri Masjid Muara Ogan adalah salah seorang ulama terkemukan Kota Palembang, yakni Kiai Marogan (Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud). Di namai Muara Ogan dikarenakan posisi masjid ini berada di muara sungai ogan, salah satu percabangan Sungai Musi.

Masjid Muara Ogan yang posisinya memiliki jarak yang sama, saat diukur dari Masjid Agung dan Bukit Siguntang, disinyalir bukan satu kebetulan. Kiai Marogan selain dikenal ahli di bidang ilmu Fiqih, ia juga sangat mengerti perhitungan-perhitungan rumit matematis dalam ilmu Falaq (ilmu peredaran benda alam). Dan dimasa hidupnya, beliau sempat membuat jadwal waktu shalat berdasarkan ilmu falaq yang dikuasainya (sumber : kyaimarogan).

Dalam buku karya Martin van Bruinessen, yang berjudul “Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat”, Kiai Marogan dikategorikan sebagai salah seorang guru tarekat Sammaniyah. Ajaran tarekat ini dibawa Syekh Abdul ash-Shomad al-Palimbani murid pendiri tarekat Sammaniyah, yaitu Syekh Muhammad Abdul Karim Samman (sumber : sumeks.co.id).

Kiai Muara Ogan dilahirkan pada tahun 1811 M, ia mempelajari tarekat Sammaniyah dari Syekh Kiagus Muhammad Zain, yang merupakan murid dari Syekh Abdul ash-Shomad Palimbani (sumber : ).

Di kota Palembang Kiai Marogan meninggalkan wakaf 2 bangunan masjid yakni Masjid jami’ Muara Ogan dan Masjid Lawang Kidul, untuk sarana ibadah bagi kaum muslimin (sumber : palembang-tourism.com).

Selain itu, Kiai Marogan juga tercatat meninggalkan wakaf produktif, berupa 3 buah bangunan untuk pemondokan jamaah haji di kota suci Mekkah (Saudi Arabia). Pada setiap tahunnya, hasil sewa pemondokan tersebut oleh nadzir (pengelola) dibagikan kepada mauquf ‘alaih (penerima wakaf) yang telah ditetapkan oleh Kiai Marogan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Kiai Marogan, terhitung sebagai zuriat Sunan Giri, salah seorang walisongo di Indonesia, berikut silsilahnya :

Masagus Haji Abdul Hamid (Kiyai Marogan) bin
Mgs. Haji Mahmud Kanang bin
Masagus Taruddin bin
Masagus Komaruddin bin
Pangeran Wiro Kesumo Sukarjo bin
Pangeran Suryo Wikramo Kerik bin
Pangeran Suryo Wikramo Subakti bin
Sultan Abdurrahman bin
Pangeran Sedo Ing Pasarean bin
Tumenggung Manco Negaro bin
Pangeran Adipati Sumedang bin
Pangeran Wiro Kesumo bin
Sayyid Muhammad ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)

Sumber : tauhidsamaniah

Artikel Menarik :
1. Dr. Osama Al-Bar, walikota Makkah keturunan Sunan Giri ?
2. [Misteri] Simbolisasi Ma-liki, Ma-luku dan Ma-laka menuju Kejayaan Nusantara ?
3. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi warna Kemerahan?
4. [Misteri] Rekening Bank milik Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu, dengan Potensi Income Tahunan mencapai 50 juta Riyal ?

Dr. Osama Al-Bar, walikota Makkah keturunan Sunan Giri ?

Dalam status di Facebook, Gubernur DKI Jakarta Terpilih Anies Baswedan, bercerita tentang pengalamanannya saat menjalankan ibadah umroh.

Di tanah suci Makkah, Anies bertemu dengan walikota Makkah Dr. Osama Al Bar, yang ternyata masih keturunan Palembang (Sumber : Anies Baswedan, thebusinessyear.com).


Guguk 2 Ulu Perigi Besak

Dari penyelusuran diperoleh informasi ibunda dari Dr. Osama Al Bar adalah seorang Raden Ayu dari Guguk 2 Ulu (Perigi Besak) Palembang.

Keluarga Kesultanan yang tinggal di Guguk 2 Ulu, sebagian besar merupakan keturunan dari Pangeran Citromenggalo yaitu anak Pangeran Arya Kesumo Cengek bin Pangeran Purbayo bin Sultan Muhammad Mansyur (Pangeran Jayo Dilago) (sumber : catatan al falimbani, diskusi grup palembang).

Berdasarkan kepada catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih (ulama yang hidup dimasa Sultan Muhammad Mansur, 1706 – 1714 ), terdapat Nasab sebagai berikut :

Raden Ario (Sultan Muhammad Mansur Jayo ing lago) bin Sultan Abdul Rakhman Kyai Mas Hindi Sayidul iman Sunan Cinde Welang bin Jamaluddin Mangkurat Kyai Gede ing Pasarean bin Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara bin Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara bin Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo bin Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri (sumber : Silsilah Palembang, dalam Tarsilah Brunei).

Dari catatan Nasab tersebut, Sultan Muhammad Mansyur yang merupakan leluhur Dr. Osama Al Bar, terhitung masih keturunan Maulana Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri), salah seorang wali songo di Nusantara.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1.  Keberadaan zuriat Sunan Giri di Palembang, ditandai dengan hijrahnya salah seorang keturunan Sunan Giri bernama Pangeran Manco Negoro, yang kemudian menikah dengan Nyai Gede Pembayun binti Ki Gede ing Suro Mudo (memerintah Palembang, 1580-1581).

Anak dari Nyai Gede Pembayun bernama Pangeran Seda ing Pasarean, kemudian memerintah Palembang 1642-1643. Selanjutnya anak dari Pangeran Seda ing Pasarean, yang bernama Ki Mas Hindi dikenal sebagai pendiri Kesultanan Palembang Darussalam di tahun 1659, dengan gelar Sultan Abdurrahman.

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah
2. [Misteri] Simbolisasi Ma-liki, Ma-luku dan Ma-laka menuju Kejayaan Nusantara ?
3. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?
4. [Misteri] Rekening Bank milik Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu, dengan Potensi Income Tahunan mencapai 50 juta Riyal ?

[Misteri] Silsilah Sisingamangaraja XII dan Nilai Numerik (Gematria) Si Raja Batak ?

Berdasarkan buku Toba Na Sae karya Sitor Situmorang, diperoleh informasi Silsilah Sisingamangaraja XII, yang dimulai dari Si Raja Batak (Battak), adalah sebagai berikut :


Sisingamangaraja XII yang merupakan generasi ke-19 dari Si Raja Batak, dilahirkan di Bakkara (Tapanuli), pada 18 Februari 1848 (sumber : wikipedia.org, Lahirnya Sisingamangaraja I).

Dengan mengasumsikan jarak antara generasi 25 tahun, diperkirakan Si Raja Batak, lahir sekitar tahun 1395 Masehi.

Nilai Numerik (Gematria) Si Raja Batak

Berdasarkan Ensiklopedia Britannica makna “Batak” sebagai berikut:

Batak, also spelled Battak or Batta, several closely related ethnic groups of north-central Sumatra, Indonesia.

The term Batak is one of convenience, likely coined during precolonial times by indigenous outsiders (e.g., the Malay) and later adopted by Europeans.” (sumber : kompasiana.com)

Dari keterangan diatas, kata “Batak” ternyata juga diucapkan dengan kata “Battak”, yang apabila kita uraikan, akan memperoleh nilai numerik, sebagai berikut :


battak = ba (beta) ; ta (tau) ; ta (tau) ; kaf (kappa), yang berdasarkan perhitungan nilai numerik arab, hebrew dan yunani, akan menghasilkan :

ba = 2, ta = 400, ta = 400, kaf = 20, diperoleh 2 + 400 + 400 + 20 = 822

Nilai  Numerik dalam Masyarakat Timur Tengah, terkadang digunakan untuk menunjukkan tahun kejadian, oleh karenanya makna “Battak” bisa berarti tahun 822 Hijriyah atau 1419 Masehi (Sumber : miraclesofthequran.com, keseimbangan matematika, al-habib.info).

Dengan demikian ada kemungkinan peristiwa pengangkatan Si Raja Battak (Batak), menjadi penguasa di wilayah Sumatera Utara, terjadi pada tahun 822 Hijriyah (1419 Masehi), atau saat yang bersangkutan berusia sekitar 24 tahun.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. [Misteri] Keajaiban dari Nilai Numerik 9 dalam Sejarah Nusantara ?
3. 
4. 

Catatan Penambahan :

1. Pada makam Tuan Syekh Rukunuddin, yang terdapat di pemakaman Mahligai, Kabupaten Tapanuli Tengah (Sumatera Utara), tertulis tahun ha-mim, yang bermakna ha = 8 dan mim = 40, sehingga makna ha-mim adalah 8 + 40 = 48 Hijriyah (Sumber : [Misteri] Bukit Ka’ba, Pusat Dakwah Islam di masa Kedatuan SRIWIJAYA ?).

2. Penggunaan tahun hijriyah di tanah Batak, juga bisa terlihat pada peninggalan Stempel Sisingamangaraja XII, yang menggunakan huruf Arab, bertulis Hijrah Nabi 1304 (Sumber : Misteri Stempel Sisingamangaraja XII).