Category Archives: genealogy

[Misteri] Manusia Bumi dan Nabi Idris, selepas Letusan Gunung Toba 74.000 tahun yang lalu ?

Ketika terjadi Letusan Gunung Toba sekitar 74.000 tahun yang lalu, manusia hampir diambang kepunahan. Bencana vulkanik ini diperkirakan hanya menyisakan sekitar 30.000 orang yang selamat.

Dengan demikian, manusia yang hidup sekarang, merupakan keturunan dari segelintir manusia yang dahulu selamat dari bencana Letusan Gunung Toba (sumber : Menyelusuri masa kehidupan NABI ADAM, berdasarkan Genetika, Arkeologi, Astronomi dan GeologiMigration after Toba dan Gunung Toba).

supervolcano1
Manusia Bumi adalah Keturunan Nabi Idris (Oziris)

Syaikh Thanthawi Jauhari di dalam Tafsir Jawahir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan Nabi Idris tidak lain adalah Oziris, leluhur Bangsa Mesir Purba.

Kalimat Idris adalah ucapan nama dalam bahasa Arab. Serupa juga dengan Yesoa diucapkan dalam bahasa Arab adalah Isa, dan Yohannes diucapkan dalam bahasa Arab adalah Yahya (Sumber : Misteri HURUF HIEROGLYPH, mengungkap Kisah NABI IDRIS, dalam Peradaban MESIR PURBA?).

Sejalan dengan perjalanan waktu, dikarenakan jasa yang besar pada Peradaban Mesir Purba, Oziris kemudian dianggap sebagai Dewa Yang Agung. Pendirian Piramid Besar Khufu (Cheops) di Giza, erat hubungannya dengan pemujaan bangsa Mesir purba terhadap Oziris (Osiris), yang mereka anggap sebagai jelmaan Orion (Dewa Kematian) (sumber : Nabi Idris (Oziris), Ilmuwan NUSANTARA dan Tokoh Pembaharu MESIR PURBA ?).

Berdasarkan kepada penemuan naskah kuno di dalam Piramid Giza, yang mengatakan bahwa piramid dibangun ‘pada waktu gugusan bintang Lyra berada di rasi Cancer’, menurut perhitungan sejarawan, Abu Said El Balchi, peristiwa tersebut terjadi pada sekitar 72.000 tahun sebelum Hijrah Nabi (622 Masehi) atau sekitar 73.378 yang lalu (sumber : Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia ). Dengan demikian keberadaan Nabi Idris (Oziris) di Peradaban Mesir Purba, diperkirakan sekitar 600-700 tahun selepas Letusam Gunung Toba.

Setelah melewati jarak ribuan tahun, kelak dari keturunan Nabi Idris inilah akan lahir Keluarga Nabi Nuh, yang merupakan nenek moyang umat manusia yang ada pada saat ini.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Berdasarkan situs International Starch Institute, jumlah penduduk bumi yangtersisa setelah Letusan Gunung Toba, berkisar antara 10.000 – 40.000 jiwa.

2. Pendapat Sejarawan Abu Said El Balchi (Abou Zeid el Balkhy, source : The Literary Gazette, Volume 24) :

“The Pyramid had been constructed when the Lyra was in the sign of Cancer, this event was twice 36,000 years before this day”.

“Piramida telah dibangun ketika Lyra berada di tanda Cancer, peristiwa ini adalah dua kali 36.000 tahun sebelum hari ini”.

pyramid1
Artikel Sejarah Nusantara :
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?
3. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?
4. [Misteri] Keberadaan Leluhur Nusantara di Gua Shandingdong (China), sekitar 10.000 tahun yang silam?

[Misteri] Harimau Tengkes, Penjaga Ghaib dari Negeri Siak ?

Dalam Legenda Masyarakat Riau, Harimau Tengkes merupakan Harimau Siluman peliharaan Sultan Mahmud dari Kerajaan Gasib (Siak). Sang Raja dipercaya memiliki kesaktian kebal terhadap senjata tajam, apabila kakinya menginjak tanah.

Harimau Tengkes memiliki arti harimau yang pincang kaki kiri bagian belakangnya. Konon harimau ini pernah berbuat salah pada Sultan, sehingga Sultan menghukumnya dengan memukul kaki kirinya.

Harimau Tengkes dipercaya selalu terlihat secara supranatural, pada saat hari ulang tahun penobatan Sultan-Sultan yang meneruskan tampuk kerajaan (sumber : Kisah dari Pekan Baru Riau).

harimau1
Sultan Mahmud dalam Sejarah

Pemilik Harimau Tengkes, yaitu Sultan Mahmud berupakan putra Sultan Asif (Raja Ali al-Ajali, sumber : Kesultanan Perak), sementara ibunya adalah Putri Putih anak dari Penguasa Negeri Pahang, Sultan Mansur Shah II. Sultan Mahmud diperkirakan memerintah Kerajaan Gasib (Siak) pada sekitar awal tahun 1600an.

Sultan Mahmud, tercatat sebagai suami dari Tun Dharmapala Johara Tun Isap, dan memiliki 3 orang putera yang bernama : Sultan Muzaffar Shah II, Raja Sulong Raja Muhammad dan Raja Mansur.

Melalui penyelusuran di beberapa situs genealogy seperti : royalark.net dan geni.com, diperoleh diagram silsilah Sultan Mahmud sebagai berikut :

mahmudsiak
Sultan Mahmud adalah Raja Siak dari keturunan Megat Kudu (Sultan Ibrahim). Megat Kudu merupakan suami Raja Maha Dewi putri Sultan Mansyursyah dari Negeri Melaka (memerintah 1458-1477 M, sumber : Kerajaan Siak).

Keberadaan Harimau Tengkes, ternyata juga diyakini oleh masyarakat Johor Malaysia. Bahkan di negeri tersebut Sang Harimau menjadi simbol Kerajaan, dan dikenal dengan nama “Harimau Dengkes”.

Kisah Harimau Tengkes (Dengkes) bisa sampai ke tanah Semenanjung, kemungkinan berasal dari keturunan anak Sultan Mahmud, yang menjadi Sultan Kerajaan Perak ke-10, yakni Sultan Muzaffar Shah II (memerintah 1636-1654,sumber : geni.com, alamendah.org dan Kisah Negeri Johor).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. [Misteri] Ketika Syaikh Siti Jenar menjadi 2 (dua) ?
3. [Misteri] Silat Nusantara, dari abad ke-9 Masehi ?
4. Legenda Segentar Alam, Raja Muslim Sriwijaya dari Bukit Siguntang Palembang ?

Tuan Faqih Jalaluddin, dan Misteri Silsilah Wali Songo ?

Pada periode pemerintahan Sultan Abdurrahman (1659-1706), di Kesultanan Palembang Darussalam dikenal seorang ulama yang bernama Kiai Haji Agus Khotib Komad, sementara di era Sultan Muhammad Mansur (1706-1718), tokoh ulama terkemuka pada masa itu adalah Tuan Faqih Jalaluddin yang mengajarkan ilmu Al-Qur’an dan Ilmu Ushuluddin.

Tuan Faqih Jalaluddin, dikenal juga sebagai penyebar Islam di daerah Komering Ilir dan Komering Ulu, beliau masih menjalankan dakwahnya hingga masa pemerintahan Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno (1718-1724) dan juga pada masa Sultan Mahmud Badaruddin Joyo Wikromo (1724-1757) sampai akhir hayatnya pada tahun 1748 (sumber : Peran Ulama di Kesultanan Palembang, Penyebar Islam di Nusantara, Kesultanan Palembang, dan tulisan Djohan Hanafiah, “Perang Palembang Melawan VOC”, link).

Pada abad ke-18 Masehi, para santri yang dibesarkan di Kesultanan Palembang, banyak yang berguru kepada Tuan Faqih Jalaluddin, salah satunya adalah Syekh Abdussomad al Palembani (kelahiran Palembang, tahun 1736, sumber : syekh abdussomad al palembani).

Kelak Syekh Abdussomad al Palembani dikenal sebagai ulama terkemuka di tingkat Internasional, sebagaimana penyelusuran Azyumardi Azra, dalam bukunya “ Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVII Melacak Akar-Akar Pembaruan Islam di Indonesia”.

ziarahpalembang
Misteri Silsilah Walisongo

Selain ulama dan penyebar Islam, Tuan Guru Faqih Jalaluddin dipercaya sebagai orang yang ahli dibidang genealogy. Melalui tulisan peninggalannya, ahli nasab Habib Ali bin Ja’far Assegaf (1889-1982), menemukan nama Sayyid Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath, yang merupakan leluhur walisongo (sumber : Madawis, Habib Ali Assegaf).

Keberadaan silsilah wali songo tersebut, menarik minat sejarawan Dr. Gobbe dari Voor Inlandsche Zaken, ia berniat untuk mengambilnya, akan tetapi Habib Ali bin Ja’far Assegaf mengelak dan mengatakan bahwa silsilah tersebut tidak ada.

Sebelum wafat, Habib Ali Assegaf berpesan agar apapun yang berkenaan dengan silsilah dan hasil sensus Alawiyin yang telah dilaksanakannya agar dijaga dengan baik (sumber : benmashoor).

Dokumen asli catatan silsilah peninggalan Tuan Faqih Jalaluddin ini, masih tersimpan di perpustakaan milik almarhum Syed Alwi bin Thahir al Haddad, beliau semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Mufti Kesultanan Johor (sumber : zuriat kesultanan palembang dalam catatan tarsilah brunei). 

Catatan Penambahan :

1. Berdasarkan tulisan di harian Sripo “3 Juli 2013” halaman 14, Tuan Guru Faqih Jalaluddin diinformasikan berasal dari Surabaya, beliau hijrah ke Palembang bersama ayahnya Raden Kamaluddin.

2.  Di masa Kesultanan Palembang Darussalam, disekitar Masjid Agung terdapat pemukiman bagi keluarga alim ulama yang dikenal sebagai “Guguk Pengulon”. Salah satu keluarga besar yang tinggal di wilayah itu adalah keluarga Tuan Faqih Jalaluddin, melalui keturunan anak beliau : Kiagus Haji Imron dan Kiagus Syamsuddin (Sumber : Guguk Pengulon, tulisan Kms. Andi Syarifuddin, Harian Sriwijaya Pos, 3 April 1999).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Hikayat Perang Palembang – Banten, di tahun 1596 M ?
2. Armada Laksamana Cheng Ho dan Sejarah Pempek Palembang ?
3. Rivalitas, VOC – Mataram, dalam kemelut Negeri Palembang tahun 1636 M?
4. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Kesultanan Palembang Darussalam ?

[Misteri] Silsilah Habib Rizieq Shihab, dari jalur keluarga Raden Fattah (Demak) dan Trah Prabu Siliwangi (Pajajaran) ?

Dalam salah satu ceramahnya, ketua umum FPI, Habib Rizieq Shihab bercerita bahwa neneknya bernama Zawiyah merupakan kerabat (keponakan) Pitung.

Berdasarkan penyelusuran genealogy, sosok Pitung yang dimaksud bernama asli Raden Muhammad Ali Nitikusuma atau Salihun, kepala Pendekar kelompok Pituan Pitulung (Pitung).

habibrizieq1
Raden Muhammad Ali Nitikusuma merupakan putera dari Raden Nurul Syamsirin Nitikusuma, yang merupakan keturunan Raden Nitikusuma I bin Pangeran Kawisa Adimerta bin Pangeran Aria Jipang bin Pangeran Bagus Surowiyoto bin Raden Hasan (Raden Fattah, Pendiri Kesultanan Demak).

silsilah-betawi
Raden Muhammad Ali Nitikusuma, juga memiliki kekerabatan dengan Prabu Siliwangi Pajajaran, yaitu melalui ibunda dari Pangeran Kawisa Adimerta yang bernama Ratu Ayu Jati Balabar binti Adipati Singa Menggala bin Prabu Surawisesa bin Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja) (sumber : Surawisesa, Berdirinya Jayakarta).

Catatan Penambahan :

1. Nasab Habib Rizieq Shihab sampai kepada Syeikh Ahmad Syihabuddin Al-Akbar, adalah :

Habib Muhammad Rizieq Shihab bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Husein bin Muhammad bin Syeikh bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Syihabuddin Al-Asghar bin Abdurrahman Al-Qadhi bin Syeikh Ahmad Syihabuddin Al-Akbar

Ibunda Habib Muhammad Rizieq Shihab bernama : Syarifah Sidah (Saidah) binti Alwi bin Zein Alattas.

2. Pendiri kelompok Pituan Pilutung (Pitung), terdiri dari 7 Pendekar, yaitu :

1. Ratu Bagus Muhammad Ali Nitikusuma alias Salihun (Pitung ke 1), kelahiran kemanggisan.
2. Ratu Bagus Muhammad Roji’h Nitikusuma (Pitung ke 2) asal Cengkareng
3. Ratu Bagus Abdul Qodir Nitikusuma (Pitung ke 3) yang berasal dari Rawa Belong Jakarta Barat
4. Ki Rais / Ratu Bagus Rais Shonhaji Nitikusuma (Pitung ke 4), asli anak Tenabang Jakarta Pusat.
5. Ki Saman (Pitung ke 5), asal Cileduk Jakarta Barat
6. Ki Somad/Abdul Shomad (Pitung ke 6)
7. Ki Dulo/Abdulloh alias Jebul (Pitung ke 7), asal Kramat Togo Rawa Belong Jakarta Barat

3. Nasab Pitung ke-1 :
Raden Muhammad Ali bin Raden Samirin (Raden Nurul Syamsirin) bin Raden Abdul Khadir bin Pangeran Jidar (Nitikusuma ke-5) (sumber : Si Pitung)

4. Berdasarkan buku “Suluk Abdul Jalil”, tulisan Agus Sunyoto, Pangeran Arya Jipang bukan anak dari Pangeran Bagus Surowiyoto (Raden Kikin), melainkan putera dari Raden Tranggana bin Raden Fattah (Demak).

Menurut sejarawan Agus Sunyoto, Raden Tranggana tercatat memiliki 3 orang putera, yaitu :
1. Pangeran Sabakingking, merupakan Adipati Japara menggantikan Adipati Hunus
2. Pangeran Ratu (Pangeran Prawata)
3. Pangeran Arya Jipang

Sumber :
1. Fakta Cerita Pitung
2. Kisah Guru Mansur Sawah Lio
3. Biografi Habib Muhammad Rizieq
4. Kisah Syahidnya Radin Muhammad Ali, Penghulu Pituan Pitulung (Pitung)
5. Makam Pendekar Jayakarta, Raden Muhammad Ali, Pituan Pituling (Pitung)
6. Kisah Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma (Pejuang Sejati Jayakarta)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Mengapa NEDERLAND disebut BELANDA?
2. Alhamdulillah… Makam Tokoh Betawi, PITUNG ditemukan di Palembang !!!
3. [Misteri] Bacaan Kyai Subkhi “Bambu Runcing”, di masa Revolusi Kemerdekaan?
4. Aksi Bela Islam 1918, H.O.S Tjokroaminoto dan Tentara Kandjeng Nabi Moehammad

Mengapa Wali Songo memiliki nama Tionghoa (China) ?

Melalui bukunya “Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara”, sejarawan Slamet Muljana mengundang kontroversi. Ia berpendapat bahwa Wali Songo beretnis Tionghoa, serta memiliki nama china berikut fam (marga)-nya.

Pendapat Slamet Muljana ini tentu mendapat sanggahan dari berbagai pihak, namun tidak bisa dipungkiri, perkembangan Islam di Nusantara tidak lepas dari peran Komunitas Muslim Tionghoa (Cina).

Berikut beberapa peristiwa yang menunjukkan, pengaruh dari Dakwah Masyarakat Muslim Tionghoa di Nusantara pada era Wali Songo (sekitar abad ke 15 Masehi).

muslimcina
Komunitas Muslim Tionghoa di Palembang

Ketika daratan Tiongkok dikuasai Dinasti Ming, seorang perwira angkatan laut Dinasti Yuan, bernama Chen Tsu Ji, bersama ribuan pengikutnya, melarikan diri ke po-lin-fong (Palembang).

Di Palembang, Chen Tsu Ji membangun basis kekuatan disekitar sungai musi. Kapal-kapal yang melewati wilayah tersebut, harus membayar upeti kepada mereka (sumber : Armada Laksamana Cheng Ho dan Sejarah Pempek Palembang ?).

Pada tahun 1407, seorang Laksamana Muslim Dinasti Ming “Cheng Ho (Zheng He)”, berlabuh di Palembang bersama sekitar 27.800 bala tentara. Melalui pertempuran yang sengit, Chen Tsu Ji berhasil ditawan dan dibawa ke Peking.

Sejarah mencatat, setelah Laksamana Cheng Ho menumpas kelompok Chen Tsu Ji, diangkatlah seorang Duta Xuan Wei oleh Kaisar Ming di Palembang bernama Shi Jinqing. Kelak salah seorang putri Shi Jinqing yang bernama Nyai Gedhe Pinatih (Pi Na Ti), dikenal sebagai penyebar Islam di Jawa dan menjadi ibu asuh dari Raden Paku (Sunan Giri) (sumber : Kisah Nyai Gedhe Pinatih, Cheng Ho Muslim Tionghoa, Muslim China).

Peran dakwah “Bong” bersaudara di Surabaya

Di wilayah Ampel Denta (Surabaya), pada sekitar abad ke-15 M dikenal tiga bersaudara Bong (Sam Bong), yaitu Haji Bong Swi Hoo, Haji Bong An Sui, dan Haji Bong Sam Hong.

Mereka merupakan cucu Bong Tak Keng, yang berasal Sin Fun An (Pnom-penh) yang berdagang ke Majapahit sejak Prabu Rajasanegara memerintah. Ketika mendengar penguasa Surabaya yang baru dilantik adalah seorang muslim, Bong bersaudara pindah ke Surabaya.

Tiga bersaudara Bong ini dikenal sebagai penyumbang dana terbesar bagi pembangunan Masjid Ampel Denta, mereka tidak hanya dikenal sebagai saudagar yang dermawan, tetapi juga diketahui sebagai kerabat raja Surabaya, Pangeran Arya Lembu Sura (sumber : Suluk Abdul Jalil).

Sosok Haji Bong Swi Hoo, seringkali dianggap indentik dengan Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel). Namun keduanya berbeda masa kehidupannya, sebagaimana tergambar dalam skema silsilah berikut :

bong-ampel1
Tan Kim Han (Penasehat Maritim Demak)

Tan Kim Han, merupakan salah seorang pengikut perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Lambri (Aceh), mungkin tertarik terhadap komunitas Muslim yang hidup di Lambri, pada sekitar tahun 1413, ia memutuskan tinggal di sana, dan menikah dengan wanita setempat (sumber : merdeka.com, kompasiana.com).

Pengalamannya bersama armada Laksamana Cheng Ho, sepertinya sangat bermanfaat bagi Kesultanan Demak dalam membangun pertahanan lautnya. Selain itu, Tan Kim Han, juga dikenal sebagai penyebar Islam di wilayah Jawa Timur dan dikenal bernama Syekh Abdul Qodir al-Shini.

Salah seorang putera Tan Kim Han, bernama Abdul Halim Tan Eng Hoat dikenal sebagai Panglima Angkatan Laut yang terkemuka. Tan Eng Hoat berperan sangat besar ketika memimpin Kesatuan Naga Laut dari Negeri Caruban, saat berhadapan dengan Rajagaluh.

Muslim Tionghoa di Caruban (Cirebon)

Dalam tradisi masyarakat Cirebon pada masa abad ke-15, selain tokoh Tan Eng Hoat (bergelar Maulana Ifdhil Hanafi), dikenal juga Tan Sam Cai (ahli keuangan di masa awal Kesultanan Cirebon).

Tan Sam Cai alias Muhammad Syafi’i alias Tumeng­gung Arya Dipa Wiracula, merupakan tokoh yang membangun sebuah masjid yang saat ini difungsikan sebagai Kelenteng Talang.

Indikasi bahwa kelenteng tersebut merupakan masjid, antara lain arah kelenteng yang menghadap kiblat, adanya sumur dan padasan (tempat berwudlu), tulisan kaligrafi bergaya China, dan mimbar khotbah serta tempat peng­imaman yang menjorok ke dalam (sumber : China Muslim di Jawa).

Selain itu, salah seorang istri  Sunan Gunung Jati, bernama Tan Hong Tien Nio (populer dengan sebutan Putri Ong Tien), merupakan pelopor gerakan dakwah Is­lam di Cirebon dan wilayah Jawa Barat.

Mengapa Wali Songo memiliki nama China ?

Salah satu rujukan “Teori Wali Songo berasal dari Cina” berasal dari sejarawan Belanda bernama Resident Poortman. Namun nampaknya, Poortman kurang jeli, yang berakibat tercampur-aduknya profil tokoh dari masa yang berbeda-beda.

Sosok Haji Bong Swi Hoo ternyata tokoh yang berbeda dari Sunan Ampel, dengan demikian pendapat bahwa Sunan Ampel beserta kedua anaknya Sunan Bonang dan Sunan Drajat, bermarga “Bong” adalah keliru.

Demikian juga tokoh yang bernama Adipati Hariyo Tejo (Tuban), yang dikatakan indentik dengan Kapten Gan Eng Cu, ternyata juga keliru. Hal ini dikarenakan jabatan Adipati Tuban, jelas berbeda dengan jabatan Kapiten China. Dengan demikian, identitas keturunan Gan Eng Cu yang bernama Gan Si Cang sebagai Sunan Kalijaga, otomatis juga keliru.

Kesalahan juga terjadi ketika meng-identifikasikan Panglima Demak bernama Tok A Bo sebagai Sunan Gunung Jati (sumber : tionghoa muslim). Sunan Gunung Jati jelas adalah penguasa Cirebon dan bukan Panglima Demak yang diutus ke Cirebon.

Selain akibat tertukarnya profil tokoh, gelar (nama) china yang dimiliki Wali Songo mungkin dikarenakan Sang Wali memiliki hubungan emosional atau kekerabatan dengan komunitas China Muslim.

Hal ini bisa terlihat pada Sunan Giri yang memiliki ibu asuh, Nyai Gedhe Pinatih yang ber-etnis Tionghoa, atau Sunan Bonang yang neneknya (dari pihak ibu) adalah cucu Haji Bong An Sui.

Kemungkinan lain, gelar (nama) tionghoa tersebut merupakan bentuk penghormatan warga keturunan Muslim Tionghoa kepada ulama yang membimbing mereka. Dikarenakan Wali Songo selain mengajarkan ilmu agama, juga mengayomi masyarakat muslim tionghoa dalam kehidupan kesehariannya.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Palembang Darussalam ?
3. [Misteri] Keberadaan Leluhur Nusantara di Gua Shandingdong (China), sekitar 10.000 tahun yang silam?
4. Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?

Rivalitas, VOC – Mataram, dalam kemelut Negeri Palembang tahun 1636 M?

keratonpalembang
Sejarah mencatat, pada tahun 1636 M, Kerajaan Palembang mengalami kegoncangan politik. Kemelut ini terjadi, bermula saat Penguasa Palembang, Pangeran Made Sokan (Raden Aria) wafat tanpa meninggalkan ahli waris (sumber : sistem penggantian sultan palembang, Politik Kekuasaan Palembang, The Royal Line of the Palembang Sultanate).

Keponakan Raden Aria, yakni anak dari saudara perempuannya “Pangeran Depati Anom Jambi” merasa berhak atas tahta negeri Palembang. Keinginan Pangeran Jambi mendapat penolakan dari keluarga keraton Palembang (sumber : Dari Zaman Kesultana Palembang. P. De Roo De Faille, hal. 21 ; Silsilah Kesultanan Palembang, Atlas Pelabuhan Bersejarah Indonesia).

Dalam situasi yang belum stabil  ini, VOC mencoba untuk menanamkan pengaruhnya dalam Kerajaan Palembang. Gelagat ini, sepertinya mengkhawatirkan Kerajaan Mataram, rival VOC pada masa itu. Sultan Agung kemudian mengirimkan armadanya ke Palembang, di bawah pimpinan Ki Ageng Gribig (sumber : Misteri Ki Ageng Gribig, Leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), Sultan Agung Mataram).

Hadirnya armada Mataram, nampaknya telah membuat surut niat Pangeran Jambi untuk berkuasa. Pemerintahan Negeri Palembang, kemudian dipegang oleh keponakan Pangeran Made Sokan, yang bernama Pangeran Seda ing Kenayan bin Kimas Adipati  (sumber : Di balik Kejayaan Palembang, Sejarah Palembang).

Catatan :
1. Pangeran Depati Anom (Jambi), merupakan suami dari Ratu Mas Dipati Anom, puteri dari Pangeran Made Sokan. Pangeran Depati Anom adalah putera Ratu Mas Adipati (Palembang) yang menikah dengan Penguasa Jambi, Sultan Abdul Kahar.

Ratu Mas Adipati, adalah puteri dari Ki Gede ing Suro Mudo. Berdasarkan catatan silsilah Palembang, anak-anak dari Ki Gede ing Suro Mudo adalah :

1. NYAI GEDING PEMBAYUN bersuami TUMENGGUNG MONCONEGORO
2. RATU MAS ADIPATI bersuami di SULTAN ABDUL KAHAR JAMBI
3. KIMAS ADIPATI
4. PENGERAN MADE ANG SOKO
5. PENGERAN MADE ALIT (KETIB ABANG)
6. PENGERAN MADE SOKAN (SIDING PURO)
7. KIYAI MAS KEMBAR
8. NYIMAS KEMBAR

siljambipalembang2
Setelah Sultan Abdul Kahar wafat, saudara Pangeran Depati Anom Jambi, diangkat menjadi penguasa, dengan gelar Sultan Agung Abdul Jalil.

Di masa Sultan Abdul Jalil, VOC mendapatkan monopoli perdagangan lada, dan menjadi awal mula penetrasi politik VOC Belanda, ke dalam pemerintahan Kesultanan Jambi.

siljambipalembang2. Pada abad ke-17, terjadi rivalitas yang cukup tajam antara VOC Belanda dengan Kesultanan Mataram Islam. Puncak revalitas terjadi pada tahun 1628 dan 1629, yang ditandai penyerbuan Mataram ke pusat VOC di Batavia (sumber : wikipedia.org).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah
2. Bukti 21,5% Penduduk Dunia, adalah keturunan Sundaland (Nusantara) ?
3. Fenomena Dimas Kanjeng, dan Penelitian Mutahir Teleportasi Materi ?
4. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?

Silsilah Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dengan Keluarga Pesantren Gontor Ponorogo

Cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18, saat Kyai Ageng Muhammad Besari mendirikan Pondok Tegalsari di Desa Jetis Ponorogo Jawa Timur

Pondok Tegalsari sangat termasyhur pada masanya, sehingga didatangi ribuan santri dari berbagai daerah di nusantara.

Melalui penyelusuran genealogy, Keluarga Pondok Pesantren berasal dari keturunan Raden Fattah, Pendiri Kesultanan Demak Bintoro.

Berikut diagram silsilah, hubungan kekerabatan Keluarga Pondok Modern Gontor dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dan Dinasti Giri Kedaton.

silsilahulama
WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan :

1. Ki Ageng Gribig III, bertempat tingal di Jatinom (Klaten). Ia merupakan Guru Sultan Agung Mataram, serta menjadi pelopor acara “Yaqowiyu”, yang dimulai pada sekitar tahun 1589 Masehi.

Ki Ageng Gribig III merupakan putera dari Ki Ageng Gribig II yang tinggal di Gribig (sekitar wilayah Sengguruh – Malang).

Bersesuaian dengan catatan keluarga salah seorang saudara Ki Ageng Gribig III, yakni Ki Ageng Mirah I (Kyai Muslim). Di dalam catatan tersebut disebutkan, ayahanda dari Ki Ageng Mirah I, adalah Ki Ageng Gribig (II) yang bertempat tinggal di wilayah Malang.

2. Ki Ageng Gribig IV, adalah tokoh yang membantu Sultan Agung dalam mengatasi gejolak politik di Palembang (tahun 1636M), yamg kemudian menjadi adik ipar Sultan Agung Mataram.

3. Ayahanda Ki Ageng Gribig II, adalah Ki Ageng Gribig I atau dalam Tedhak Dermayudan bernama Pangeran Kedhanyang.

Ki Ageng Gribig I adalah putera Sunan Giri II (Sunan Dalem), ia dikisahkan tinggal di daerah Gribig, setelah berhasil menghalau penyerangan Adipati Sengguruh di tahun 1535M.

Sumber :
1. Pondok Modern Darussalam Gontor.
2. Kisah dan Silsilah Kyai Imam Musahaf
3. Panembahan Hanyakrawati (wikipedia)
4. Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?
5. Misteri Ki Ageng Gribig, Leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) ?
6. Hubungan Kekerabatan : Agus Harimurti Yudhoyono dengan Fatahillah, Pendiri Kota Jakarta ?