Category Archives: genealogy

[Misteri] Legenda Sriwijaya Pasemah, berdasarkan manuskrip Ahmad Ghozali ?

Ahmad Ghozali Mengkerin, merupakan penulis angkatan Balai Pustaka, salah satu karya tulisnya yang terkenal adalah Syair Si Pahit Lidah.

Berkenaan sejarah Sriwijaya, Ahmad Ghozali memiliki pendapat tersendiri, yang bersumber dari satu manuskrip yang disimpan oleh keluarganya. Dokumentasi pribadi ini, diberinya judul “Ringkasan Sedjarah Seriwidjaja Pasemah”.

Ringkasan Sedjarah Seriwidjaja Pasemah

Pada tahun 101 Saka (bertepatan tahun 179 Masehi), berlabuhlah 7 (tujuh) bahtera (jung) di Pulau Seguntang. Pulau Seguntang adalah Bukit Siguntang yang sekarang, dengan ketinggian 27 meter di atas permukaan laut, di dalam Kota Palembang.

Adapun Angkatan Bahtera tersebut dipimpin oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, putra mahkota Kerajaan Rau (Rao) di India. Tujuan perjalanan adalah menyelidiki pulau-pulau di Nusantara, sekaligus mencari Panglima Angkatan Laut Kerajaan Rau bernama Seri Nuruddin, yang menghilang ketika melakukan perjalanan ke Nusantara, pada 70 tahun yang lalu.

Di Bukit Siguntang, Atung Bungsu menemukan satu bumbung berisi lempengan emas bersurat. Isi Lempengan emas bersurat ini, menceritakan keadaan Seri Nuruddin yang mengalami kerusakan pada segala perlengkapannya, yang berakibat dirinya tidak bisa pulang.

Setelah penemuan surat pertama, Atung Bungsu menemukan surat yang kedua, yang ditulis oleh Anak Buah Kapal Seri Nuruddin, yang menceritakan telah wafatnya  Yang Mulia Seri Nuruddin di Muara Lematang.

Singkat cerita,  Atung Bungsu memutuskan untuk menetap sementara di Bukit Seguntang, sambil mencari wilayah mana yang paling tepat untuk mendirikan pemukiman.

Setelah lama mencari, rombongan Atung Bungsu akhirnya memilih daerah disekitar Sungai Besemah. Di daerah ini, Atung Bungsu kemudian membuat dusun-dusun, dan memberi sebutan bagi wilayahnya sebagai “Sumbay Paku Jagat Seriwijaya” (sumber : Manuskrip Ahmad Ghozali, Bukit Selero Lahat).

kushan1
Rau adalah Kushans

Bila kita membuka lembaran sejarah, sekitar tahun 80M-200M, di India terdapat Kerajaan yang terkemuka yang bernama Kushans. Kuat dugaan Kerajaan Kushans indentik dengan Kerajaan Rau, yang menjadi tempat asal dari Atung Bungsu.

Pendapat ini setidaknya didukung 3 (tiga) alasan, yaitu :

– Penguasa Kushans memiliki kepercayaan yang sama dengan Penguasa Sriwijaya Awal, yaitu penganut agama Buddha Mahayana.

– Penguasa Kushans, pada masa 80M-200M merupakan keturunan Kaisar Liu Pang (Dinasti Han). Dan apabila kita perhatikan anak cucu Atung Bungsu, di daerah tanah Basemah (Pasemah), seperti di Pagar Alam, Empat Lawang dan Lahat, memiliki perawakan mirip Bangsa Tionghoa (China).

– Penguasa Kushans memiliki kekerabatan dengan anak keturunan dari Wema Kadphises, yang silsilahnya menyambung kepada Cyrus II ‘The Great’ of Persia atau Zulqarnain. Dan sudah sama dipahami, nama “Zulqarnain” sering kali disebut-sebut sebagai salah seorang leluhur Masyarakat Melayu (sumber : Leluhur Penguasa Sriwijaya, ).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Pemukiman di wilayah Besemah yang didirikan Atung Bungsu, diperkirakan menjadi cikal bakal Kerajaan Swarnabhumi, sebagaimana dikisahkan dalam naskah Sunda Kuno, “Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa” (sumber : ).

Artikel Menarik :
1. Silsilah Dinasti Majapahit, menurut Sejarah Melayu ?
2. Bukti Kerajaan Sriwijaya wilayahnya mencapai Benua Afrika?
3. [Google Maps] Rute Balatentara Sriwijaya, tahun 604 Saka (682 M) ?
4. Berdirinya Kedatuan Sriwijaya, dampak Letusan Krakatau tahun 535M ?

Iklan

Benang Merah Kekerabatan 600 tahun, dari Sriwijaya ke Majapahit sampai Palembang Darussalam ?

Dalam catatan sejarah, kejayaan Nusantara dimulai ketika berdirinya Kedatuan Sriwijaya pada sekitar tahun 683 M. Setelah mengalami masa keemasan, pada sekitar tahun 1017 M dan 1025 M, Sriwijaya mendapat serangan dari Kerajaan Chola India.

nasabpalembang
Setelah menghadapi serangan besar-besaran itu. Sriwijaya mengalami kemunduran dan perpecahan. Bukit Siguntang yang merupakan simbol persatuan Sriwijaya, pada akhirnya harus berdiri sendiri dalam satu lingkup kerajaan yang lebih kecil.

Berikut Benang Merah Kekerabatan, dari masa Sriwijaya Bukit Siguntang sekitar tahun 1059 M, sampai kepada era Kesultanan Palembang Darussalam sekitar tahun 1659 M…

palembang19b
Referensi :
1. Silsilah Majapahit
2. Tambo Alam Minangkabau
3. 5 versi Tambo Alam Minangkabau
4. Legenda Bukit Siguntang Palembang
5. Polemik Dyah Lembu Tal Dinasti Majapahit
6. Silsilah Leluhur Jalur Sunda Prabu Siliwangi
7. Silsilah Dinasti Majapahit, menurut Sejarah Melayu ?
8. 
9. 
10. [Misteri] Sri Maharaja Diraja, Raja Muslim Leluhur Masyarakat Minangkabau ?
11. Legenda Segentar Alam, Raja Muslim Sriwijaya dari Bukit Siguntang Palembang ?
12. [Misteri] Naskah Matari Singa Jaya Himat, dan Penguasa Kuno Bukit Siguntang pasca runtuhnya Kedatuan Sriwijaya ?

Catatan Penambahan :

1. Diagram Time Line, dengan pedoman susunan silsilah Drs Mid Jamal (Link) :

timelinedata1

Silsilah Keluarga dan Profil : Anies Rasyid Baswedan, Ph. D.

Anies Rasyid Baswedan, Ph. D, lahir di Kuningan (Jawa Barat), 7 Mei 1969. Ia pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia ke-26 dalam Kabinet Kerja (masa menjabat sejak 26 Oktober 2014 sampai 27 Juli 2016).

Anies Baswedan dikenal sebagai seorang intelektual dan akademisi asal Indonesia. Ia merupakan cucu dari pejuang kemerdekaan Abdurrahman Baswedan.

Salah satu aktivitasnya adalah menginisiasi gerakan Indonesia Mengajar. Ia juga tercatat menjadi rektor termuda di Indonesia pada tahun 2007, saat diangkat sebagai Rektor Universitas Paramadina usianya 38 tahun.

anies11
Silsilah Keluarga Anies Baswedan 

Berikut adalah diagram Silsilah Keluarga Anies Baswedan

aniessilsilah1Keterangan :

1. Kedua orang tua Anies Baswedan, adalah tenaga pengajar (dosen). Ayahandanya Drs. Rasyid Baswedan, S.U. berkerja sebagai Dosen Fakultas Ekonomi di Universitas Islam Indonesia, sedangkan ibunya Prof. Dr. Aliyah Rasyid, M.Pd, merupakan Guru besar dan Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Negeri Yogyakarta).

2. Kakek dari Anies, Abdurrahman (AR) Baswedan adalah seorang jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat dan juga sastrawan Indonesia. AR Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir.

AR Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia, yang berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia dari Mesir.

3. Abdurrahman (AR) Baswedan, adalah cucu dari Umar Baswedan, yang dikenal sebagai seorang pedagang yang sukses sekaligus juga ulama yang memiliki hubungan luas.

Umar Baswedan bersama saudaranya Ali Baswedan datang dari Hadramaut Yaman sekitar pertengahan abad ke-19 Masehi. Umar Baswedan kemudian menikah dengan wanita kelahiran Surabaya bernama Noor binti Salim.

4. Dari sebelah ibundanya, Abdurrahman  (AR) Baswedan adalah cucu dari Abdullah Djarhum dari Bangil. Abdullah Djarhum dikenal sebagai pendekar silat, dengan julukan “Macan Bangil”.

Abdullah Djarhum seorang yang ahli memainkan senjata seperti pedang dan tombak, kepiawaiannya dalam ilmu beladiri, tidak hanya dalam aliran silat di tanah Jawa, namun juga berasal dari daerah lain, seperti Makasar, Muntok dan lain-lain.

Sumber :
1. Keluarga Baswedan Indonesia
2. Baswedan Family (facebook.com)
3. Anies Rasyid Baswedan (wikipedia.org)
4. Abdurrahman Baswedan (wikipedia.org)
5. Biografi Anies Baswedan, Intelektual Indonesia Muda
6. Abdul Rahman Baswedan : Karya dan Pengabdiannya

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1.
2. 3.
4. [Misteri] Silsilah Habib Rizieq Shihab, dari jalur keluarga Raden Fattah (Demak) dan Trah Prabu Siliwangi (Pajajaran) ?

[Misteri] Sri Maharaja Diraja, Raja Muslim Leluhur Masyarakat Minangkabau ?

Berdasarkan Tambo Alam Minangkabau, semasa pemerintahan Datuk Suri Diraja di Nagari Pariangan, datanglah Rusa Emas dari Lautan, rusa itu kemudian dapat dijerat oleh datuk.

Cerita ini sejatinya adalah kiasan dari datangnya seorang raja bermahkota dari Wangsa Syailendra, yang menyingkir ke Gunung Marapi.  Di Pariangan sang bangsawan ini dikawinkan dengan adik Datuk Suri Diraja dan kemudian dirajakan dengan gelar Sri Maharaja Diraja (sumber : Asal Muasal Pagaruyung).

minang1
Sri Maharaja Diraja, cucu Maharaja Sulan Bukit Siguntang Palembang

Dalam Hikayat Palembang, selepas Kedatuan Sriwijaya tepecah akibat serangan Kerajaan Chola tahun 1025 M, muncul Kerajaan Bukit Siguntang di wilayah Palimbang. Penguasa Bukit Siguntang dikenal dengan nama Maharaja Sulan (Raja Segentar Alam).

Maharaja Sulan diperkirakan memerintah pada sekitar tahun 1070an Masehi, dikemudian hari memeluk Islam atas upaya dakwah Puyang Sungai Ogan “Wali Putih”, sang Raja kemudian juga dikenali dengan nama Iskandar Zulqarnain Syah Alam (sumber : Legenda Segentar Alam, Raja Muslim Sriwijaya dari Bukit Siguntang Palembang ? dan [Misteri] Naskah Matari Singa Jaya Himat, dan Penguasa Kuno Bukit Siguntang pasca runtuhnya Kedatuan Sriwijaya ?).

Maharaja Sulan memiliki 2 orang anak, bernama Raja Alim dan Raja Mufti. Sepeninggal Maharaja Sulan, putera beliau Raja Alim menggantikannya. Setelah beberapa lama memerintah, Raja Alim wafat, kerabat Istana kemudian mengangkat puteranya Raja Alim II sebagai penguasa.

Pengangkatan Raja Alim II ini mendapat protes dari pamannya Raja Mufti, karena dianggap tanpa melalui kesepakatan dalam musyawarah. Dalam upaya menghindari perang saudara Raja Alim II, bersama para pendukungnya hijrah ke pedalaman.

Keberadaan Raja Alim II inilah kemudian dicatat dalam Tambo Alam Minangkabau, sebagai Bangsawan dari Wangsa Syailendra, yang kemudian menurunkan para penguasa di negeri Minang.

Sri Maharaja Diraja, Leluhur Lareh Suku Piliang

Berdasarkan Ranji Tambo Alam Minangkabau, yang dibuat oleh Drs. Mid Jamal, Sri Maharaja Diraja memerintah Kerajaan Pariangan pada masa 1119-1149. Ia tercatat memiliki 3 orang istri, yaitu : Puti Indo Jelita, Puti Cinto Dunie dan Puti Sidayu.

Dari istrinya Puti Indo Jelito, Sri Maharaja Diraja memiliki putera Sutan Paduko (Datuk Ketumanggungan), yang kelak menurunkan 8 Suku dalam Lareh Suku Piliang (sumber : Tambo Alam Minangkabau).

stempelBerdasarkan Leiden University Library Cod.Or. 1745, hal. ii & iii, ditemukan stempel Datuk Ketumanggungan, yang menggunakan aksara arab-melayu (sumber : stempel minang). Disinyalir Datuk Ketumanggungan dan ayahnya Sri Maharaja Diraja telah beragama Islam, dan hal ini sangat wajar, mengingat kakek mereka Raja Sulan adalah seorang muslim dengan gelar “Iskandar Zulqarnain Syah Alam”.

palembang19b
WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Diagram Time Line, dengan pedoman kepada susunan silsilah, yang dibuat oleh Drs Mid Jamal (Link) :

timelinedata1
Artikel Menarik :
1. [Polemik] Asal Usul Nama Palembang ?
2. [Misteri] Harimau Tengkes, Penjaga Ghaib dari Negeri Siak ?
3. Hikayat Perang Candu di Tanah Minang pada abad ke-19 Masehi ?
4. [Misteri] Bajak Laut, Penguasa Perairan Sungai Musi Palembang di abad 14-15 Masehi ?

[Misteri] Manusia Bumi dan Nabi Idris, selepas Letusan Gunung Toba 74.000 tahun yang lalu ?

Ketika terjadi Letusan Gunung Toba sekitar 74.000 tahun yang lalu, manusia hampir diambang kepunahan. Bencana vulkanik ini diperkirakan hanya menyisakan sekitar 30.000 orang yang selamat.

Dengan demikian, manusia yang hidup sekarang, merupakan keturunan dari segelintir manusia yang dahulu selamat dari bencana Letusan Gunung Toba (sumber : Menyelusuri masa kehidupan NABI ADAM, berdasarkan Genetika, Arkeologi, Astronomi dan GeologiMigration after Toba dan Gunung Toba).

supervolcano1
Manusia Bumi adalah Keturunan Nabi Idris (Oziris)

Syaikh Thanthawi Jauhari di dalam Tafsir Jawahir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan Nabi Idris tidak lain adalah Oziris, leluhur Bangsa Mesir Purba.

Kalimat Idris adalah ucapan nama dalam bahasa Arab. Serupa juga dengan Yesoa diucapkan dalam bahasa Arab adalah Isa, dan Yohannes diucapkan dalam bahasa Arab adalah Yahya (Sumber : Misteri HURUF HIEROGLYPH, mengungkap Kisah NABI IDRIS, dalam Peradaban MESIR PURBA?).

Sejalan dengan perjalanan waktu, dikarenakan jasa yang besar pada Peradaban Mesir Purba, Oziris kemudian dianggap sebagai Dewa Yang Agung. Pendirian Piramid Besar Khufu (Cheops) di Giza, erat hubungannya dengan pemujaan bangsa Mesir purba terhadap Oziris (Osiris), yang mereka anggap sebagai jelmaan Orion (Dewa Kematian) (sumber : Nabi Idris (Oziris), Ilmuwan NUSANTARA dan Tokoh Pembaharu MESIR PURBA ?).

Berdasarkan kepada penemuan naskah kuno di dalam Piramid Giza, yang mengatakan bahwa piramid dibangun ‘pada waktu gugusan bintang Lyra berada di rasi Cancer’, menurut perhitungan sejarawan, Abu Said El Balchi, peristiwa tersebut terjadi pada sekitar 72.000 tahun sebelum Hijrah Nabi (622 Masehi) atau sekitar 73.378 yang lalu (sumber : Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia ). Dengan demikian keberadaan Nabi Idris (Oziris) di Peradaban Mesir Purba, diperkirakan sekitar 600-700 tahun selepas Letusam Gunung Toba.

Setelah melewati jarak ribuan tahun, kelak dari keturunan Nabi Idris inilah akan lahir Keluarga Nabi Nuh, yang merupakan nenek moyang umat manusia yang ada pada saat ini.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Berdasarkan situs International Starch Institute, jumlah penduduk bumi yangtersisa setelah Letusan Gunung Toba, berkisar antara 10.000 – 40.000 jiwa.

2. Pendapat Sejarawan Abu Said El Balchi (Abou Zeid el Balkhy, source : The Literary Gazette, Volume 24) :

“The Pyramid had been constructed when the Lyra was in the sign of Cancer, this event was twice 36,000 years before this day”.

“Piramida telah dibangun ketika Lyra berada di tanda Cancer, peristiwa ini adalah dua kali 36.000 tahun sebelum hari ini”.

pyramid1
Artikel Sejarah Nusantara :
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?
3. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?
4. [Misteri] Keberadaan Leluhur Nusantara di Gua Shandingdong (China), sekitar 10.000 tahun yang silam?

[Misteri] Harimau Tengkes, Penjaga Ghaib dari Negeri Siak ?

Dalam Legenda Masyarakat Riau, Harimau Tengkes merupakan Harimau Siluman peliharaan Sultan Mahmud dari Kerajaan Gasib (Siak). Sang Raja dipercaya memiliki kesaktian kebal terhadap senjata tajam, apabila kakinya menginjak tanah.

Harimau Tengkes memiliki arti harimau yang pincang kaki kiri bagian belakangnya. Konon harimau ini pernah berbuat salah pada Sultan, sehingga Sultan menghukumnya dengan memukul kaki kirinya.

Harimau Tengkes dipercaya selalu terlihat secara supranatural, pada saat hari ulang tahun penobatan Sultan-Sultan yang meneruskan tampuk kerajaan (sumber : Kisah dari Pekan Baru Riau).

harimau1
Sultan Mahmud dalam Sejarah

Pemilik Harimau Tengkes, yaitu Sultan Mahmud berupakan putra Sultan Asif (Raja Ali al-Ajali, sumber : Kesultanan Perak), sementara ibunya adalah Putri Putih anak dari Penguasa Negeri Pahang, Sultan Mansur Shah II. Sultan Mahmud diperkirakan memerintah Kerajaan Gasib (Siak) pada sekitar awal tahun 1600an.

Sultan Mahmud, tercatat sebagai suami dari Tun Dharmapala Johara Tun Isap, dan memiliki 3 orang putera yang bernama : Sultan Muzaffar Shah II, Raja Sulong Raja Muhammad dan Raja Mansur.

Melalui penyelusuran di beberapa situs genealogy seperti : royalark.net dan geni.com, diperoleh diagram silsilah Sultan Mahmud sebagai berikut :

mahmudsiak
Sultan Mahmud adalah Raja Siak dari keturunan Megat Kudu (Sultan Ibrahim). Megat Kudu merupakan suami Raja Maha Dewi putri Sultan Mansyursyah dari Negeri Melaka (memerintah 1458-1477 M, sumber : Kerajaan Siak).

Keberadaan Harimau Tengkes, ternyata juga diyakini oleh masyarakat Johor Malaysia. Bahkan di negeri tersebut Sang Harimau menjadi simbol Kerajaan, dan dikenal dengan nama “Harimau Dengkes”.

Kisah Harimau Tengkes (Dengkes) bisa sampai ke tanah Semenanjung, kemungkinan berasal dari keturunan anak Sultan Mahmud, yang menjadi Sultan Kerajaan Perak ke-10, yakni Sultan Muzaffar Shah II (memerintah 1636-1654,sumber : geni.com, alamendah.org dan Kisah Negeri Johor).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. [Misteri] Ketika Syaikh Siti Jenar menjadi 2 (dua) ?
3. [Misteri] Silat Nusantara, dari abad ke-9 Masehi ?
4. Legenda Segentar Alam, Raja Muslim Sriwijaya dari Bukit Siguntang Palembang ?

Tuan Faqih Jalaluddin, dan Misteri Silsilah Wali Songo ?

Pada periode pemerintahan Sultan Abdurrahman (1659-1706), di Kesultanan Palembang Darussalam dikenal seorang ulama yang bernama Kiai Haji Agus Khotib Komad, sementara di era Sultan Muhammad Mansur (1706-1718), tokoh ulama terkemuka pada masa itu adalah Tuan Faqih Jalaluddin yang mengajarkan ilmu Al-Qur’an dan Ilmu Ushuluddin.

Tuan Faqih Jalaluddin, dikenal juga sebagai penyebar Islam di daerah Komering Ilir dan Komering Ulu, beliau masih menjalankan dakwahnya hingga masa pemerintahan Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno (1718-1724) dan juga pada masa Sultan Mahmud Badaruddin Joyo Wikromo (1724-1757) sampai akhir hayatnya pada tahun 1748 (sumber : Peran Ulama di Kesultanan Palembang, Penyebar Islam di Nusantara, Kesultanan Palembang, dan tulisan Djohan Hanafiah, “Perang Palembang Melawan VOC”, link).

Pada abad ke-18 Masehi, para santri yang dibesarkan di Kesultanan Palembang, banyak yang berguru kepada Tuan Faqih Jalaluddin, salah satunya adalah Syekh Abdussomad al Palembani (kelahiran Palembang, tahun 1736, sumber : syekh abdussomad al palembani).

Kelak Syekh Abdussomad al Palembani dikenal sebagai ulama terkemuka di tingkat Internasional, sebagaimana penyelusuran Azyumardi Azra, dalam bukunya “ Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVII Melacak Akar-Akar Pembaruan Islam di Indonesia”.

ziarahpalembang
Misteri Silsilah Walisongo

Selain ulama dan penyebar Islam, Tuan Guru Faqih Jalaluddin dipercaya sebagai orang yang ahli dibidang genealogy. Melalui tulisan peninggalannya, ahli nasab Habib Ali bin Ja’far Assegaf (1889-1982), menemukan nama Sayyid Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath, yang merupakan leluhur walisongo (sumber : Madawis, Habib Ali Assegaf).

Keberadaan silsilah wali songo tersebut, menarik minat sejarawan Dr. Gobbe dari Voor Inlandsche Zaken, ia berniat untuk mengambilnya, akan tetapi Habib Ali bin Ja’far Assegaf mengelak dan mengatakan bahwa silsilah tersebut tidak ada.

Sebelum wafat, Habib Ali Assegaf berpesan agar apapun yang berkenaan dengan silsilah dan hasil sensus Alawiyin yang telah dilaksanakannya agar dijaga dengan baik (sumber : benmashoor).

Dokumen asli catatan silsilah peninggalan Tuan Faqih Jalaluddin ini, masih tersimpan di perpustakaan milik almarhum Syed Alwi bin Thahir al Haddad, beliau semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Mufti Kesultanan Johor (sumber : zuriat kesultanan palembang dalam catatan tarsilah brunei). 

Catatan Penambahan :

1. Berdasarkan tulisan di harian Sripo “3 Juli 2013” halaman 14, Tuan Guru Faqih Jalaluddin diinformasikan berasal dari Surabaya, beliau hijrah ke Palembang bersama ayahnya Raden Kamaluddin.

2.  Di masa Kesultanan Palembang Darussalam, disekitar Masjid Agung terdapat pemukiman bagi keluarga alim ulama yang dikenal sebagai “Guguk Pengulon”. Salah satu keluarga besar yang tinggal di wilayah itu adalah keluarga Tuan Faqih Jalaluddin, melalui keturunan anak beliau : Kiagus Haji Imron dan Kiagus Syamsuddin (Sumber : Guguk Pengulon, tulisan Kms. Andi Syarifuddin, Harian Sriwijaya Pos, 3 April 1999).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Hikayat Perang Palembang – Banten, di tahun 1596 M ?
2. Armada Laksamana Cheng Ho dan Sejarah Pempek Palembang ?
3. Rivalitas, VOC – Mataram, dalam kemelut Negeri Palembang tahun 1636 M?
4. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Kesultanan Palembang Darussalam ?