Tag Archives: silsilah

Tan Kim Han (Syekh Abdul Qodir Al-Shini), Leluhur Presiden Indonesia GUS DUR ?

Pada tahun 2003, Mantan Presiden Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), diundang untuk meresmikan monumen Tan Kim Han di China.

Di tahun yang sama, muncul silsilah singkat tentang sosok Tan Kim Han, berdasar kepada dua catatan silsilah dari marga Tan cabang Meixi dan cabang Chizai yang dikompilasi pada 1576 dan 1907 (sumber : merdeka.com).

silsilah tan

Kisah Tan Kim Han

Tan Kiem Han (陈金汉) nama kecilnya Tan Lan Cai (陈兰斋) adalah sibungsu dari 2 anak Tan Tek (陈德) cabang Chi-zai, ia lahir pada tahun 1383 di Kampung Chi-zai (池仔), dusun Shi-chun (仕春), kecamatan Chi-dian (池店), kabupaten Jinjiang (晋江), kota Quanzhou (泉州), Propensi Fujian / Hokkian, pada masa pemerintahan Hongwu.

Tan Kim Han adalah seorang Muslim, yang menjadi guru di Leizhou Guangdong setelah ia lulus dalam ujian pada tahun 1405, kemudian menikah dengan marga Kam (甘) tetapi tidak dikaruniai keturunan anak.

Ia tercatat  ikut bersama Laksamana Cheng Ho berlayar ke Samudra Barat untuk meninjau Lambri-Aceh (南勃里), setelahnya tidak ada kabar lagi, dalam catatan silsilah-silsilah tersebut (sumber : kompasiana.com).

Belakangan, seorang Peneliti Prancis Louis-Charles Damais, ikut menelusuri jejak Tan Kim Han.  Dalam penelitiannya pada situs-situs makam di Troloyo/Trowulan (bekas ibu kota Majapahit). Ia menyebutkan bahwa di sana terdapat beberapa makam Muslim, yang salah satunya bernama Syekh Abdul Qodir “Al-Shini”.

Syekh Abdul Qodir “Al-Shini” inilah yang diidentifikasi oleh Gus Dur sebagai Tan Kim Han, yang merupakan salah seorang dari leluhurnya (sumber : suaramerdeka.com).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dus), menjabat Presiden Indonesia tidak lama, yakni sekitar 1 tahun 9 bulan, 20 Oktober 1999- 23 Juli 2001 (sumber : wikipedia.org).

Artikel Menarik :
1. [Analisa Video] Misteri Penampakan Jin Naik Haji ?
2. Misteri Astronomi di Langit Makkah, 1436 tahun yang lalu ?
3. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?
4. Silsilah Genetika Y-DNA : Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Idris dan Nabi Adam ?

Kekerabatan Kiai Pedatuan (Kemas Palembang), dengan Kesultanan Mataram dan Kesultanan Palembang Darussalam

Kemas Haji Abdullah bin Muhammad Azhari, adalah seorang ulama yang sangat disegani oleh masyarakat Palembang. Beliau senantiasa memberikan bimbingan serta pelayanan kepada masyarakat hingga akhir hidupnya.

Kemas Haji Abdullah Azhari (Kiai Pedatuan) lahir di Kampung 12 Ulu pada hari Senin tanggal 27 Syakban 1279 H /1862 M. Beliau merupakan anak dari Kemas Haji Muhammad Azhari bin Kemas Haji Abdullah bin Kemas Haji Ahmad.

zuriatkudus3
Ayahanda Kiai Pedatuan, yakni Kemas Haji Muhammad Azhari, dikenal sebagai ulama yang melahirkan beberapa karya tulis diantaranya Atiyah ar-Rahman yang selesai ditulis pada tahun 1259 H / 1843 M, diterbitkan pertama kali di Mekkah pada tahun 1887 M.

Selain itu, Kemas Haji Muhammad Azhari juga menulis Tuhfah al-Muridin, kitab berbahasa Arab ini membicarakan ilmu falaq dan selesai ditulis pada tahun 1276 H / 1859 M (sumber : Tarekat Sammaniyah di Palembang).

Keterangan :

1. Nasab ayahanda Kiai Pedatukan (Kemas Haji Abdullah bin Kemas haji Muhammad Azhari), ditemukan pada mushaf Al Qur’an cetakan Palembang tahun 1854, yakni : Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Ahmad ibn Kemas Haji Abdullah ibn Mas Nuruddin ibn Mas Syahid (sumber : mushaf cetakan 1854).

2. Nasab Ki Mas Haji Muhammad Al Alim, tertulis di dalam silsilah Palembang, yakni : maulana syekh Kemas Haji Muhammad bin Kemas Haji Ahmad bin Kemas Abdullah bin Kemas Nurrudin bin Kemas Sahid bin Suhunan Kudus bin Suhunan windun Aljawi (sumber : silsilah palembang).

3. Nama Suhunan Kudus bin Suhunan windun Aljawi, bukanlah indentik dengan Sunan Kudus bin Sunan Ngudung seperti pendapat beberapa pemerhati sejarah.

Hal ini dikarenakan, jika berpedoman kepada timeline kehidupan tokoh, Suhunan Kudus yang dimaksud diperkirakan hidup pada masa abad ke-17, sementara Sunan Kudus hidup di era abad ke-16.

Suhunan Kudus yang dimaksud adalah Pangeran Kudus bin Pangeran Rajungan bin Pangeran Demang bin Panembahan Kudus bin Syeikh Maulana Ja’far Siddiq (Sunan Kudus), yang merupakan ayahanda Adipati Sumodipuro (Pati), sebagaimana terdapat pada silsilah keluarga mataram (sumber : rodovid.org, pakoeboewono2enfamilie).

4. Adipati Sumodipuro (Pati) putera Pangeran Kudus, merupakan mbah buyut dari Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II, dengan jalur : Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II bin Kanjeng Ratu Kencana (isteri Kanjeng Susuhunan AMangkurat IV) binti Adipati Tirtokusumo (Kudus) bin Adipati Sumodipuro (Pati) bin Pangeran Kudus.

5. Kemas Haji Muhammad Azhari di Palembang ada 2 orang :

a. Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Ahmad (Azhari Tuo, 1811-1874)

Beliau adalah ayahanda dari Kiai Pedatuan (Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Muhammad Azhari).

b. Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Asyiquddin (Azhari Mudo, 1856-1932)

Nasab selengkapnya : Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Asyiquddin bin Kemas Haji Syaffiuddin bin Kemas Muhammad Hayahuddin bin Kemas Abdullah Jalalludin bin Kemas Fatih Jalaludin bin Kemas Sholehuddin bin Kemas Abdullah Alauddin bin Kemas Wandung Mahmud Jalaluddin (Suhunan Windun Aljawi) (sumber : Kemas Haji Muhammad Azhari)

Azhari Mudo dikenal sebagai ulama, dan diantara karya tulisnya adalah : [1] ‘Aqa`id al-Iman, [2] Badi’ az-Zaman, [3] Taqwim al-Qiyam, [4] Bidayah ar-Rahman, [5] Bidayah al-‘Ilmiyyah, [6] Risalah fi ‘Aqidah at-Tawhid li Ma’rifah, dan [7] Manaqib Shaykh Muhammad Samman.

6. Pada karya tulisan Muhamad Rosidi yang berjudul “Shaikh Kemas Muḥammad Azhari (1856-1932): Karya-Karya dan Pemikiran Ulama Palembang”, nama Kemas Wandung Mahmud Jalaluddin (Suhunan Windun Aljawi) adalah Kemas Wandung Mahmud bin Kemas Abdurrahman bin Sunan Kudus.

Diperoleh skema silsilah kekerabatan dengan Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai berikut :

zuriatkudus

Silsilah Kekerabatan : Nabi Muhammad, Zubair ibn Awwam, Sa’ad ibn Abu Waqqas dan Abdurrahman ibn ‘Auf [Bani Zuhrah]

Bani Zuhrah merupakan salah satu klan dari suku Quraish, yang diturunkan dari Zuhrah ibn Kilab.

Ibunda Rasulullah, Aminah bint Wahb berasal dari klan ini, demikian juga sahabat beliau seperti Sa’ad ibn Abu Waqqas dan Abdurrahman ibn ‘Auf.

Entah sengaja atau tidak, di beberapa sumber ada kekeliruan berkenaan dengan keluarga Aminah bint Wahb (ibunda Nabi Muhammad).

Mereka menulis, kakek Rasulullah (Abdul Muttahib) menikah dengan saudara perempuan ibunda Rasulullah (Aminah bint Wahb), yang bernama Halah (lihat di : en.wikipedia.org), padahal tidak demikian…

Untuk lebih jelasnya, berikut silsilah kekerabatnya :

zuhrahCatatan Penambahan :
1. Tentang 2 sosok putera, ‘Abdul Manaf ibn Zuhrah yaitu : Wahb dan Wahib (Wuhayb), juga ditemukan di dalam Kitab Al-Tabaqat Al-Kabir (volume 1, parts 1.18.5 : link).

Referensi :
1. bani zuhrah
2. islamepedia.in
3. islamway.net
4. Abdullah ibn Abdul-Muttalib

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah
2. Misteri Imam Mahdi, dalam Silsilah Genetika Y-DNA FGC10500+ ?
3. Silsilah Genetika Y-DNA : Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Idris dan Nabi Adam ?
4. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?

Raden Ajeng Kartini, keturunan ke-12 dari Sunan Giri ?

Raden Adjeng Kartini, lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879, dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 di usia 25 tahun.

R.A. Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi (sumber : wikipedia.org).

kartini1  Ilustrasi Foto Kartini, mustanir.com

Silsilah Raden Ajeng Kartini

Berdasarkan penyelusuran genealogy R.A.A Kartini Djojohadiningrat, terhitung sebagai keturunan ke-12 Sunan giri, salah satu anggota walisongo, berikut genealogy-nya :

01. R.A.A Kartini Djojohadiningrat binti

02. R.M.A.A Sosroningrat (Bupati Jepara) bin

03. Pangeran Ario Tjondronegoro IV (Bupati Demak) bin

04. Adipati Tjondronegoro III (Bupati Kudus) bin

05. Adipati Tjondronegoro II (Bupati Pati) bin

06. Adipati Tjondronegoro I (Bupati Surabaya) bin

07. Pangeran Onggojoyo bin

08. Lanang Dangiran @ Kyai Ageng Brondong Botoputih bin

09. Kendal Wesi @ Kyai Sholeh bin

10. Pangeran Ujung Pangkah II @ Abdul Haqq bin

11. Pangeran Ujung Pangkah I @ Muhammad Sirrullah bin

12. Sunan Kulon @ Ali Khoirol Fathihin bin

Sunan Giri @ Maulana Muhammad Ainul Yaqin

(sumber : catatan Nur Al-Fadhil Ba’alawy Al-Husaini).

quran11
Kisah Kartini dan Al Qur’an terjemahan bahasa Jawa

Dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang merupakn paman kartini. Ulama terkemuka di masa itu, Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah.

Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini dengan tekun menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah. Hal ini bisa dipahami, karena saat itu Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini ditemani pamannya menemui Kyai Sholeh Darat. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang ber-ilmu tetapi menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, Kyai Sholeh balik bertanya, “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”

“Kyai, selama hidupku baru kali ini berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kartini melanjutkan; “Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog ini telah menggugah Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; yaitu menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan kemudian diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebut hadiah ini sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia (sumber : republika.co.id).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Seiring waktu, juga berdasar saran Kartini, Kiyai Sholeh melanjutkan tafsir al-Fatihah menjadi kitab tafsir dan terjemahan al-Quran yang berjudul, Faid ar-Rahman. Inilah kitab tafsir perdana di Nusantara, yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.

Kalimat “Habis Gelap Terbitlah Cahaya (Door Duisternis tot Licht”, diduga diperoleh Kartini setelah melalui kajian dalam Pengajian Faid ar-Rahman bimbingan Kiyai Sholeh Darat. Sebab kata-kata itu jelas diambil dari al-Quran, minazzulumati ila n-Nur (QS. Ibrahim [14] ayat 1)(sumber : Kisah Kiyai Sholeh Darat).

2. Dalam versi yang lain, leluhur R.A. Kartini, yang bernama Lanang Dangiran (Kyai Ageng Brondong Botoputih) bukan berasal dari Sunan Giri, melainkan dari keturunan Menak Soemandi.

Menak Soemandi mempunyai putra bernama Menak Gandru, Menak Gandru mempunyai putra bernama Menak Werdati, Menak Werdati mempunyai putra bernama Menak Lumpat (Sunan Rebut Payung), Menak Lumpat (Sunan Rebut Payung) mempunyai putra bernama Pangeran Kedawung (Sunan Tawang Alun), Pangeran Kedawung (Sunan Tawang Alun) mempunyai putra bernama Pangeran Lanang Dangiran (sumber : Pangeran Lanang Dangiran).

Artikel Menarik :
1. Mengapa NEDERLAND disebut BELANDA?
2. Alhamdulillah… Makam Tokoh Betawi, PITUNG ditemukan di Kota Palembang !!!
3. [Misteri] H.O.S. Tjokroaminoto (Guru Presiden Soekarno), yang pernah dikunjungi Rasulullah?
4. Silsilah Sunan Kalijaga, dari berbagai jalur Leluhur Dinasti Tuban, Abbasiyah dan Azmatkhan

 

Misteri Ki Ageng Gribig, Leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) ?

Di dalam silsilah yang disusun oleh Kyai Sudja’, salah seorang murid KHA Dahlan, yang bersumber dari dokumen Kitab Ahlul Bait. Diperoleh informasi Pendiri Muhammadiyah, Ki Haji Ahmad Dahlan merupakan keturunan Sunan Giri melalui jalur Ki Ageng Gribig.

Berbagai macam versi muncul dari sosok Ki Ageng Gribig, beliau dikatakan sebagai keturunan Prabu Brawijaya, ada lagi termasuk trah Sunan Tembayat atau tergolong zuriatnya Sayyid Muhammad Kebungsuan (sumber : Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?).

Tulisan ini tidak akan membahas berbagai versi yang ada, melainkan mencoba untuk memfokuskan sosok Ki Ageng Gribig sebagai keluarga Giri Kedhaton, sebagaimana hasil penelitian Kyai Sudja’.

sultan2
Kisah Peperangan Giri dan Sengguruh (Malang)

Pada masa Sunan Giri II (Sunan Dalem), sekitar tahun 1535, Giri Kedhaton mendapat serangan dari Adipati Sengguruh.

Berdasarkan Tedhak Dermayudan, serangan ini berhasil ditahan oleh putra Sunan Giri, yang bernama Pangeran Kedhanyang. Bukan itu saja, kemenangan ini memberi peluang Islam menyebar di daerah Jaha, Wendit, Kipanjen, Dinaya dan Palawijen (sumber : ngalam.id).

Pangeran Kedhanyang di-informasikan bermukim daerah Gribig Jawa Timur. Dan kehadiran Sang Pangeran di daerah ini, bukan tidak mungkin menjadi cikal bakal penguasa Gribig, yang dikenal sebagai  Ki Ageng Gribig.

Makamkiagenggribig1
Sosok Ki Ageng Gribig yang kemudian dianggap sebagai leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan, bisa terlihat pada salah satu versi silsilah berikut :

01. Sunan Giri I (Prabu Satmata), salah seorang anggota wali songo, berputera

02. Sunan Giri II (Sunan Dalem), penguasa Giri Kedaton 1506-1546, berputera

03. Pangeran Kedhanyang (Ki Ageng Gribig I), makamnya berada di kota Malang. Penduduk setempat mengenalinya sebagai adik Sunan Giri (lebih tepatnya adik Sunan Giri IV/Sunan Prapen, link sumber), berputera

04. Ki Ageng Gribig  II, sosok inilah yang kemudian menjadi suami Raden Ayu Seledah, puteri Sunan Prapen (Sunan Giri IV), berputera

05. Ki Ageng Gribig III, yang merupakan Guru Sultan Agung Mataram, serta menjadi pelopor acara “Yaqowiyu”,  yang dimulai pada sekitar tahun 1589 Masehi.

Ki Ageng Gribig III dalam salah satu versi yang beredar, merupakan putera dari Ki Ageng Gribig yang tinggal di Gribig (link sumber). Makam Ki Ageng Gribig III, berada di Jatinom Klaten,  berputera

06. Ki Ageng Gribig IV, sosok yang membantu Sultan Agung dalam mengatasi gejolak politik di Palembang (tahun 1636M), serta menjadi adik ipar Sultan Agung Mataram, berputera

07. Demang Jurang Juru Sapisan, berputera

08. Demang Jurang Juru Kapindo, berputera

09. Kyai Ilyas, berputera

10. Kyai Murtadha, berputera

11. Kyai Muhammad Sulaiman, berputera

12. Kyai Abu Bakar, berputera

13. Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah

Catatan Penambahan :

1. Berdasarkan Buku : Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar, Volume 6, karangan Agus Sunyoto, Peng-Islaman daerah Gribig (Jawa Timur), dipelopori oleh Pangeran Arya Penatih (adik ibu angkat Sunan Giri, yang bernama Nyai Ageng Penatih).

Selain daerah Gribig, dakwah Pangeran Arya Penatih (Syaikh Manganti) juga mencakup daerah Sengguruh dan Lumajang. Dan nama “Kedhanyang”, menurut buku tersebut berada di selatan Puri Giri Kedhaton.

Gelar Pangeran Kedhanyang, sepertinya juga tidak satu, karena gelar ini juga disandang oleh putera Pangeran Arya Penatih.

2. Ada pendapat yang mengatakan Ki Ageng Gribig I (Malang Jawa Timur), menjadi seorang ulama tersohor pada tahun 1650, namun anehnya ia juga di-identifikasikan sebagai cicit Prabu Brawijaya, yang memerintah Majapahit 1466-1478.

Secara timeline, jarak kehidupan seseorang dengan cicitnya sekitar 100 tahun, jadi seharusnya Ki Ageng Gribig I (Malang Jawa Timur), telah menjadi ulama tersohor pada tahun 1550 bukan tahun 1650.

Ditambah lagi informasi yang mengatakan Ki Ageng Gribig I (Malang Jawa Timur) adalah murid Sunan Kalijaga, yang wafat pada usia 131 tahun,  di tahun 1586 M (sumber : suaramerdeka.com).

3. Kisah Ki Ageng Gribig I (Malang Jawa Timur), sebagai keturunan Panembahan Bromo, berasal dari ibu Sunan Giri, yang bernama Dewi Sekardadu binti Menak Sembuyu (Menak Werdati) bin  Panembahan Bromo (Lembu Niroto/Lembu Nisroyo/Lembu Mirudha) bin Singhawardhana.

Panembahan Bromo, merupakan Penguasa Pasaruan dan memiliki saudara diantaranya Wikrama Wardana (Raja Majapahit) dan Arya Lembu Sura (Penguasa Surabaya).

Salah seorang keponakan Panembahan Bromo, yakni putera Wikrama Wardhana yang bernama Kertawijaya, kelak akan menjadi Raja Majapahit dan dikenal sebagai Prabu Brawijaya I, kemudian Prabu Brawijaya I memiliki putera Prabu Brawijaya II (Raden Rajasawardhana), kemudian Prabu Brawijaya II memiliki putera Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabhumi), yang memerintah Majapahit sekitar tahun 1466-1478.

Dengan demikian hubungan Ki Ageng Gribig I (Malang Jawa Timur) dengan Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabhumi), bukan cicit langsung melainkan cucu saudara mindo dari Sunan Giri.

4. Pada salah satu situs web ranji sarkub, dikatakan Ki Ageng Gribig (Jatinom Klaten) adalah nama lain dari Ki Ageng Kanigoro putera Adipati Andayaningrat.

Dalam riwayat Ki Ageng Gribig (Jatinom Klaten), dikisahkan beliau hidup di masa Sultan Agung Mataram. Sementara Ki Ageng Kanigoro hidup di masa Ki Ageng Pengging, ayah Sultan Hadiwijaya Pajang, artinya jarak kehidupan kedua tokoh ini sangat jauh.

Selain itu Ki Ageng Kanioro, dimakamkan di Banyu Biru Sukoharjo (link sumber), sebagaimana gelarnya Ki Ageng Banyu Biru, sementara Ki Ageng Gribig Jatinom makamnya berada di Klaten.

Dengan demikian Ki Ageng Gribig (Jatinom Klaten) dan Ki Ageng Kanigoro adalah dua sosok yang berbeda.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah
2. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?
3. Mengapa Rasulullah memerintahkan Bilal, untuk mengumandangkan Adzan di atap Ka’bah?
4. Silsilah Sunan Kalijaga, dari berbagai jalur Leluhur Dinasti Tuban, Abbasiyah dan Azmatkhan

[Misteri Genealogy] Silsilah Maulana Jalaluddin Rumi, sampai kepada Sayyidina Abu Bakar?

Maulana Jalaluddin Rumi merupakan seorang penyair sufi ternama, beliau  dilahirkan di Balkh (sekarang Afganistan), pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah (sumber : wikipedia.org)

Rumi adalah putera seorang cendikiawan terkemuka, bernama Bahauddin Walad, ia masih terhitung sebagai keturunan Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu anhu. Namun sayangnya, nasab genealogy Rumi masih menyimpan misteri, karena data yang masih sangat minim.

Di dalam buku Fundamentals of Rumi’s Thought, karangan Şefik Can, nasab Rumi sebagai berikut :

Rumi – Baha al din Valad – Huseyin Khatibi – Ahmed Khatibi – Mahmud – Mavdud – Husayyib – Mutahhar – Hammad – Abdurrahman – Abu Bakr.

Sementara berdasarkan situs mevlanavakfi.com, nasabnya adalah :

Rumi ibn-i Sultanu’l-Ulema Bahauddin Veled Muhammed ibn-i Hüseyn el-Hatıbî ibn-i Ahmed el-Hatıbî ibn-i Mahmud ibn-i Mevdud ibn-i Sabit ibn-i Müseyyeb ibn-i Mazhar ibn-i Hammad ibn-i Abdurrahman ibn-i Hazret-i Ebi Bekr-i Sıddik.

Jika kita cermati, jarak antara Rumi dengan Khalifah Abu Bakr sekitar 630 tahun, sementara data nasab beliau, hanya ada jarak 10-11 generasi. Hal inilah yang membuat pemerhati sejarah menjadi ragu, dan berkemungkinan ada banyak nama yang “hilang” dalam nasab ini.

rumi1
Nasab Hammad bin Abdurrahman ?

Di dalam silsilah Rumi, ada yang aneh yaitu terdapat nama Hammad bin Abdurrahman. Hal tersebut disebabkan di dalam catatan ahli nasab, tidak ditemukan nama Hammad sebagai putera dari Abdurrahman bin Abu Bakar ra.

Kuat dugaan Hammad merupakan keturunan Abdurrahman bin Abu Bakar ra, namun sudah berjarak beberapa generasi dari beliau.

Jika kita coba cross check ke dalam silsilah keluarga al- bakri (keturunan sayyidina Abu Bakar), nama Hammad ini terdapat di dalam genealogy keluarga Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf al-Jauzi, pendiri madrasah al-Jauziyah Damaskus (sumber : kompasiana.com).

Data nasabnya adalah sebagai berikut :

Hammadiy Al-Bakri bin Ahmad bin Muhammad bin Ja’far bin Abdullah bin al Qasim bin an Nadhr bin al Qasim bin Muhammad bin Abdullah bin Abduurrahman bin Sayyidina Abu Bakr (sumber : Geni.com).

rumi2

Jika Hammadiy al-bakri ini, adalah leluhur dari Jalaluddin Rumi, maka data silsilah lengkap beliau adalah :

01. Maulana Jalaluddin Rumi bin
02. Baha al din Valad (Muhammad Bahauddin Walad) bin
03. Huseyin Khatibi (Jalaluddin Huseyn Khatibi) bin
04. Ahmed Khatibi bin
05. Mahmud bin
06. Mavdud (Mevdud) bin
07. Sabit bin
08. Husayyib (Müseyyeb) bin
09. Mutahhar (Mazhar) bin
10. Hammad (Hammadiy al-Bakri) bin
11. Ahmad bin
12. Muhammad bin
13. Ja’far bin
14. Abdullah bin
15. al Qasim bin
16. an Nadhr bin
17. al Qasim bin
18. Muhammad bin
19. Abdullah bin
20. Abdurrahman bin
21. Sayyidina Abu Bakr

Data diatas jauh lebih rasional, dimana pada jarak waktu 630 tahun terdapat 20 generasi, artinya jarak rata-rata antar generasi adalah 31,5 tahun.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Salah satu keturunan Maulana Jalaluddin Rumi yang terkenal, adalah Sultan Muhammad al-Fatih (Sultan Mehmed II), yaitu melalui jalur cucu perempuannya yang bernama Mutahhare Abide Hatun binti Sultan Walad bin Syaikh Maulana Jalaluddin Rumi.

Muhtahhare Abide Hatun, memiliki seorang puteri bernama Devlet Khatun, yang merupakan ibunda dari Sultan Mehmed II.

2. Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf al-Jauzi, merupakan keturunan ke-18 dari Sayyidina Abu Bakar. Ia wafat pada tahun 656 H.

Sementara berdasarkan data silsilah di atas, ayahanda Rumi yakni Bahauddin Walad (wafat 631 H), merupakan keturunan ke-19, dari Khalifah Abu Bakar radhiyallahu anhu.

Diperkirakan kedua tokoh ini, berada pada masa kehidupan yang sama (satu generasi), dan data ini memperkuat dugaan, Hammad yang ada di dalam Silsilah Rumi, adalah sosok yang sama dengan Hammadiy al-Bakri, yang terdapat di dalam Nasab Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf al-Jauzi.

3. Ibunda Maulana Rumi, bernama Mu’mine Khatun, beliau adalah puteri dari Emir Rukhneddin, Gubernur Balkh. Melalui ibundanya, silsilah Maulana Rumi akan sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Sementara nenek Maulana Rumi (Istri dari Huseyn Khatibi), bernama Malika-i Jihan, merupakan puteri dari Sultan Alauddin Muhammad, dari Dinasti Khurasan (Khawarizm).

Silsilah Sandiaga Uno, Keturunan Raja Amai Pendiri Masjid Hunto Gorontalo?

Pada tahun 1495, Kerajaan Palasa (Sulawesi Tengah), kedatangan rombongan yang dipimpin Raja Amai dari Kerajaan Hulonthalangi. Tamu dari kerajaan tetangga ini, bertujuan untuk melamar Puteri Raja Palasa, yang bernama Owutango.

Puteri Owutango ternyata menerima lamaran ini, dengan persyaratan mempelai pria yaitu Raja Amai, beserta seluruh keluarganya harus menganut agama Islam.

sandi
Selain itu, ia juga meminta kepada Raja Amai menjadikan penduduk Kerajaan Hulonthalangi menjadi penganut agama Islam sepenuhnya, dimana semua semua adat bersumber pada Al-Qur’an (sumber : kekunaan.blogspot.com).

Raja Amai menyetujui persyaratan tersebut, bahkan sebuah masjid didirikan oleh Sang Raja, sebagai hadiah pernikahan. Masjid tersebut sampai sekarang masih berdiri, dikenal dengan nama Masjid Hunto Gorontalo.

sandi1
Silsilah Keluarga Sandiaga Uno

Raja Amai dikalangan pemerhati sejarah, dikenal sebagai Penguasa Muslim pertama di daerah Gorontalo. Jejak Raja Amai mendirikan tempat ibadah, ternyata diikuti juga oleh anak keturunannya, yaitu Raja Botutihe.

Raja Batutihe yang merupakan Raja ke-10 Kerajaan Gorontalo, mendirikan Masjid Agung Baiturrahim, pada tahun 1728 M (sumber : wikipedia.org dan  budisusilo85.blogspot.com).

sandi2
Berdasarkan silsilah keluarga Uno, Raja Batutihe (Sultan Batutihe), memiliki putera bernama Imam Podeita. Imam Podeita memiliki putera bernama Bila. Bila memiliki putera bernama Unonongo (sumber :  erjeuno.blogspot.com).

Unonongo memiliki putera bernama Uno atau yang dikenal sebagai Mufti Guru Uno. Melalui Multi Guru Uno inilah, asal dari marga Uno di Gorontalo, dimana salah seorang keluarga dari marga ini adalah Razif Halik Uno (Henk Uno), yang merupakan ayah dari pengusaha muda nasional Sandiaga Uno (sumber : gorontalofamily.org).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan

1. Sandiaga Salahudin Uno, lahir di Rumbai (Pekanbaru) 28 Juni 1969. Ia adalah pengusaha asal Indonesia, mantan ketua umum Himpunan pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), periode 2005-2008.

Menikah dengan Noor Asiah, wanita asli betawi di karuniai dua orang anak, yakni : Anneesha Atheera Uno dan Amyra Atheefa Uno.

Sandi Uno memulai usahanya setelah sempat menjadi seorang pengangguran, ketika perusahaan yang mempekerjakannya bangkrut. Ia bersama rekannya, mendirikan perusahaan di bidang keuangan, PT Saratoga Advisor. Perusahaan tersebut terbukti sukses dan telah mengambil alih beberapa perusahaan lain.

Pada tahun 2009, Sandi Uno tercatat sebagai orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia menurut majalah Forbes. Di tahun 2011, Sandiaga Uno menduduki peringkat ke-37 dengan total kekayaan US$ 660 juta (sumber ; wikipedia.org).

2. Bersumber dari buku berjudul “30 Kesaksian Pengamal Dhuha” yang ditulis oleh Mamby Alice Syahputra (wartawan Majalah Islam Furqan). Sandiaga Uno diceritakan memiliki kebiasaan menjalani puasa senin kamis. Ia juga secara rutin melaksanakan shalat Dhuha pada setiap harinya (sumber : motivasiana.com).

3. Ibu dari Sandiaga Uno bernama Rachmini Rachman, atau lebih dikenal dengan nama Mien Uno. Mien Uno, adalah puteri dari pasangan R. Abdullah Rachman dan Siti Koersilah.

Mien Uno dikenal sebagai seorang pakar etiket dan pengembangan diri, sekaligus Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Duta Bangsa. Adiknya bernama Prof Dr. Arief Rachman, merupakan Pakar Pendidikan di Indonesia, dan Guru Besar di Universitas Negeri Jakarta.

4. Di Gorontalo dikenal seorang Aulia yang bernama Raja Kilat (Ju Panggola). Menurut legenda, ia merupakan salah seorang penyebar Islam di daerah Gorontalo, dan memiliki kemampuan menghilang serta bisa muncul seketika, jika Gorontalo dalam keadaan gawat.

Ju Panggola masih terhitung keturunan Raja Amai, salah seorang anaknya yang bernama Puteri Otu menikah dengan Raja Walangadi (sumber : beautyhulondhalo.blogspot.co.id) , pada pernikahan ini menghasilkan 9 orang anak, yang salah satunya adalah Raja Batutihe, leluhur Sandiaga Uno.