Tag Archives: silsilah

Silsilah Keluarga dan Profil : Anies Rasyid Baswedan, Ph. D.

Anies Rasyid Baswedan, Ph. D, lahir di Kuningan (Jawa Barat), 7 Mei 1969. Ia pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia ke-26 dalam Kabinet Kerja (masa menjabat sejak 26 Oktober 2014 sampai 27 Juli 2016).

Anies Baswedan dikenal sebagai seorang intelektual dan akademisi asal Indonesia. Ia merupakan cucu dari pejuang kemerdekaan Abdurrahman Baswedan.

Salah satu aktivitasnya adalah menginisiasi gerakan Indonesia Mengajar. Ia juga tercatat menjadi rektor termuda di Indonesia pada tahun 2007, saat diangkat sebagai Rektor Universitas Paramadina usianya 38 tahun.

anies11
Silsilah Keluarga Anies Baswedan 

Berikut adalah diagram Silsilah Keluarga Anies Baswedan

aniessilsilah1Keterangan :

1. Kedua orang tua Anies Baswedan, adalah tenaga pengajar (dosen). Ayahandanya Drs. Rasyid Baswedan, S.U. berkerja sebagai Dosen Fakultas Ekonomi di Universitas Islam Indonesia, sedangkan ibunya Prof. Dr. Aliyah Rasyid, M.Pd, merupakan Guru besar dan Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Negeri Yogyakarta).

2. Kakek dari Anies, Abdurrahman (AR) Baswedan adalah seorang jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat dan juga sastrawan Indonesia. AR Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir.

AR Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia, yang berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia dari Mesir.

3. Abdurrahman (AR) Baswedan, adalah cucu dari Umar Baswedan, yang dikenal sebagai seorang pedagang yang sukses sekaligus juga ulama yang memiliki hubungan luas.

Umar Baswedan bersama saudaranya Ali Baswedan datang dari Hadramaut Yaman sekitar pertengahan abad ke-19 Masehi. Umar Baswedan kemudian menikah dengan wanita kelahiran Surabaya bernama Noor binti Salim.

4. Dari sebelah ibundanya, Abdurrahman  (AR) Baswedan adalah cucu dari Abdullah Djarhum dari Bangil. Abdullah Djarhum dikenal sebagai pendekar silat, dengan julukan “Macan Bangil”.

Abdullah Djarhum seorang yang ahli memainkan senjata seperti pedang dan tombak, kepiawaiannya dalam ilmu beladiri, tidak hanya dalam aliran silat di tanah Jawa, namun juga berasal dari daerah lain, seperti Makasar, Muntok dan lain-lain.

Sumber :
1. Keluarga Baswedan Indonesia
2. Baswedan Family (facebook.com)
3. Anies Rasyid Baswedan (wikipedia.org)
4. Abdurrahman Baswedan (wikipedia.org)
5. Biografi Anies Baswedan, Intelektual Indonesia Muda
6. Abdul Rahman Baswedan : Karya dan Pengabdiannya

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1.
2. 3.
4. [Misteri] Silsilah Habib Rizieq Shihab, dari jalur keluarga Raden Fattah (Demak) dan Trah Prabu Siliwangi (Pajajaran) ?

Iklan

Silsilah KHR As’ad Syamsul Arifin (Pahlawan Nasional), Keturunan Sunan Kudus, Sunan Ampel dan Sunan Giri ?

Pada 3 November 2016, berdasarkan Kepres Nomor 90, Bangsa Indonesia memiliki seorang Pahlawan Nasional yakni : KHR As’ad Syamsul Arifin.

Sosok Kyai As’ad dikenal dengan perjuangannya dalam melawan penjajah. Tidak segan, Kiai As’ad mengeluarkan biaya besar dalam mengkonsolidasi pasukan Hizbullah-Sabilillah disaat menumpas penjajah (sumber : nu.or.id).

silsilah-situbondo2
Silsilah KHR As’ad Syamsul Arifin

Kyai As’ad adalah putra pertama dari KH Syamsul Arifin (Raden Ibrahim) yang menikah dengan Siti Maimunah. Kiai As’ad lahir pada tahun 1897 di perkampungan Syi’ib Ali Makkah dekat dengan Masjidil Haram.

Garis kerurunannya berasal dari Sunan Kudus, Sunan Ampel dan Sunan Giri. Berikut jalur silsilah beliau (sumber : Bani Abdullah Zakaria) :

silsilah-situbondo
Sejak tahun 1938, Kyai  As’ad mulai fokus di dunia pendidikan. Lembaga pendidikan itupun dikembangkan dengan SD, SMP, SMA, Madrasah Qur’an dan Ma’had Aly dengan nama Al-Ibrahimy.

Peran Kiai As’ad dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sangat nampak sekali. Ia merupakan santri kesayangan KH Kholil Bangkalan, yang diutus untuk menemui KH Hasyim Asy’ari memberi “tanda restu” pendirian NU.

Di usianya ke 93, Kiai As’ad. KH As’ad Syamsul Arifin wafat pada 4 Agustus 1990 dan dimakamkan di komplek Ponpes Salafiyyah Syafi’iyyah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. Misteri 9 Sahabat Rasulullah, yang berdakwah di NUSANTARA?
3. Silsilah Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dengan Keluarga Pesantren Gontor Ponorogo
4. [Misteri] H.O.S. Tjokroaminoto (Guru Presiden Soekarno), yang pernah dikunjungi Rasulullah?

Silsilah Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dengan Keluarga Pesantren Gontor Ponorogo

Cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18, saat Kyai Ageng Muhammad Besari mendirikan Pondok Tegalsari di Desa Jetis Ponorogo Jawa Timur

Pondok Tegalsari sangat termasyhur pada masanya, sehingga didatangi ribuan santri dari berbagai daerah di nusantara.

Melalui penyelusuran genealogy, Keluarga Pondok Pesantren berasal dari keturunan Raden Fattah, Pendiri Kesultanan Demak Bintoro.

Berikut diagram silsilah, hubungan kekerabatan Keluarga Pondok Modern Gontor dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dan Dinasti Giri Kedaton.

silsilahulama
WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan :

1. Ki Ageng Gribig III, bertempat tingal di Jatinom (Klaten). Ia merupakan Guru Sultan Agung Mataram, serta menjadi pelopor acara “Yaqowiyu”, yang dimulai pada sekitar tahun 1589 Masehi.

Ki Ageng Gribig III merupakan putera dari Ki Ageng Gribig II yang tinggal di Gribig (sekitar wilayah Sengguruh – Malang).

Bersesuaian dengan catatan keluarga salah seorang saudara Ki Ageng Gribig III, yakni Ki Ageng Mirah I (Kyai Muslim). Di dalam catatan tersebut disebutkan, ayahanda dari Ki Ageng Mirah I, adalah Ki Ageng Gribig (II) yang bertempat tinggal di wilayah Malang.

2. Ki Ageng Gribig IV, adalah tokoh yang membantu Sultan Agung dalam mengatasi gejolak politik di Palembang (tahun 1636M), yamg kemudian menjadi adik ipar Sultan Agung Mataram.

3. Ayahanda Ki Ageng Gribig II, adalah Ki Ageng Gribig I atau dalam Tedhak Dermayudan bernama Pangeran Kedhanyang.

Ki Ageng Gribig I adalah putera Sunan Giri II (Sunan Dalem), ia dikisahkan tinggal di daerah Gribig, setelah berhasil menghalau penyerangan Adipati Sengguruh di tahun 1535M.

Sumber :
1. Pondok Modern Darussalam Gontor.
2. Kisah dan Silsilah Kyai Imam Musahaf
3. Panembahan Hanyakrawati (wikipedia)
4. Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?
5. Misteri Ki Ageng Gribig, Leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) ?
6. Hubungan Kekerabatan : Agus Harimurti Yudhoyono dengan Fatahillah, Pendiri Kota Jakarta ?

Tan Kim Han (Syekh Abdul Qodir Al-Shini), Leluhur Presiden Indonesia GUS DUR ?

Pada tahun 2003, Mantan Presiden Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), diundang untuk meresmikan monumen Tan Kim Han di China.

Di tahun yang sama, muncul silsilah singkat tentang sosok Tan Kim Han, berdasar kepada dua catatan silsilah dari marga Tan cabang Meixi dan cabang Chizai yang dikompilasi pada 1576 dan 1907 (sumber : merdeka.com).

silsilah tan

Kisah Tan Kim Han

Tan Kiem Han (陈金汉) nama kecilnya Tan Lan Cai (陈兰斋) adalah sibungsu dari 2 anak Tan Tek (陈德) cabang Chi-zai, ia lahir pada tahun 1383 di Kampung Chi-zai (池仔), dusun Shi-chun (仕春), kecamatan Chi-dian (池店), kabupaten Jinjiang (晋江), kota Quanzhou (泉州), Propensi Fujian / Hokkian, pada masa pemerintahan Hongwu.

Tan Kim Han adalah seorang Muslim, yang menjadi guru di Leizhou Guangdong setelah ia lulus dalam ujian pada tahun 1405, kemudian menikah dengan marga Kam (甘) tetapi tidak dikaruniai keturunan anak.

Ia tercatat  ikut bersama Laksamana Cheng Ho berlayar ke Samudra Barat untuk meninjau Lambri-Aceh (南勃里), setelahnya tidak ada kabar lagi, dalam catatan silsilah-silsilah tersebut (sumber : kompasiana.com).

Belakangan, seorang Peneliti Prancis Louis-Charles Damais, ikut menelusuri jejak Tan Kim Han.  Dalam penelitiannya pada situs-situs makam di Troloyo/Trowulan (bekas ibu kota Majapahit). Ia menyebutkan bahwa di sana terdapat beberapa makam Muslim, yang salah satunya bernama Syekh Abdul Qodir “Al-Shini”.

Syekh Abdul Qodir “Al-Shini” inilah yang diidentifikasi oleh Gus Dur sebagai Tan Kim Han, yang merupakan salah seorang dari leluhurnya (sumber : suaramerdeka.com).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dus), menjabat Presiden Indonesia tidak lama, yakni sekitar 1 tahun 9 bulan, 20 Oktober 1999- 23 Juli 2001 (sumber : wikipedia.org).

Artikel Menarik :
1. [Analisa Video] Misteri Penampakan Jin Naik Haji ?
2. Misteri Astronomi di Langit Makkah, 1436 tahun yang lalu ?
3. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?
4. Silsilah Genetika Y-DNA : Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Idris dan Nabi Adam ?

Kekerabatan Kiai Pedatuan (Kemas Palembang), dengan Kesultanan Mataram dan Kesultanan Palembang Darussalam

Kemas Haji Abdullah bin Muhammad Azhari, adalah seorang ulama yang sangat disegani oleh masyarakat Palembang. Beliau senantiasa memberikan bimbingan serta pelayanan kepada masyarakat hingga akhir hidupnya.

Kemas Haji Abdullah Azhari (Kiai Pedatuan) lahir di Kampung 12 Ulu pada hari Senin tanggal 27 Syakban 1279 H /1862 M. Beliau merupakan anak dari Kemas Haji Muhammad Azhari bin Kemas Haji Abdullah bin Kemas Haji Ahmad.

zuriatkudus3
Ayahanda Kiai Pedatuan, yakni Kemas Haji Muhammad Azhari, dikenal sebagai ulama yang melahirkan beberapa karya tulis diantaranya Atiyah ar-Rahman yang selesai ditulis pada tahun 1259 H / 1843 M, diterbitkan pertama kali di Mekkah pada tahun 1887 M.

Selain itu, Kemas Haji Muhammad Azhari juga menulis Tuhfah al-Muridin, kitab berbahasa Arab ini membicarakan ilmu falaq dan selesai ditulis pada tahun 1276 H / 1859 M (sumber : Tarekat Sammaniyah di Palembang).

Keterangan :

1. Nasab ayahanda Kiai Pedatukan (Kemas Haji Abdullah bin Kemas haji Muhammad Azhari), ditemukan pada mushaf Al Qur’an cetakan Palembang tahun 1854, yakni : Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Ahmad ibn Kemas Haji Abdullah ibn Mas Nuruddin ibn Mas Syahid (sumber : mushaf cetakan 1854).

2. Nasab Ki Mas Haji Muhammad Al Alim, tertulis di dalam silsilah Palembang, yakni : maulana syekh Kemas Haji Muhammad bin Kemas Haji Ahmad bin Kemas Abdullah bin Kemas Nurrudin bin Kemas Sahid bin Suhunan Kudus bin Suhunan windun Aljawi (sumber : silsilah palembang).

3. Nama Suhunan Kudus bin Suhunan windun Aljawi, bukanlah indentik dengan Sunan Kudus bin Sunan Ngudung seperti pendapat beberapa pemerhati sejarah.

Hal ini dikarenakan, jika berpedoman kepada timeline kehidupan tokoh, Suhunan Kudus yang dimaksud diperkirakan hidup pada masa abad ke-17, sementara Sunan Kudus hidup di era abad ke-16.

Suhunan Kudus yang dimaksud adalah Pangeran Kudus bin Pangeran Rajungan bin Pangeran Demang bin Panembahan Kudus bin Syeikh Maulana Ja’far Siddiq (Sunan Kudus), yang merupakan ayahanda Adipati Sumodipuro (Pati), sebagaimana terdapat pada silsilah keluarga mataram (sumber : rodovid.org, pakoeboewono2enfamilie).

4. Adipati Sumodipuro (Pati) putera Pangeran Kudus, merupakan mbah buyut dari Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II, dengan jalur : Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II bin Kanjeng Ratu Kencana (isteri Kanjeng Susuhunan AMangkurat IV) binti Adipati Tirtokusumo (Kudus) bin Adipati Sumodipuro (Pati) bin Pangeran Kudus.

5. Kemas Haji Muhammad Azhari di Palembang ada 2 orang :

a. Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Ahmad (Azhari Tuo, 1811-1874)

Beliau adalah ayahanda dari Kiai Pedatuan (Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Muhammad Azhari).

b. Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Asyiquddin (Azhari Mudo, 1856-1932)

Nasab selengkapnya : Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Asyiquddin bin Kemas Haji Syaffiuddin bin Kemas Muhammad Hayahuddin bin Kemas Abdullah Jalalludin bin Kemas Fatih Jalaludin bin Kemas Sholehuddin bin Kemas Abdullah Alauddin bin Kemas Wandung Mahmud Jalaluddin (Suhunan Windun Aljawi) (sumber : Kemas Haji Muhammad Azhari)

Azhari Mudo dikenal sebagai ulama, dan diantara karya tulisnya adalah : [1] ‘Aqa`id al-Iman, [2] Badi’ az-Zaman, [3] Taqwim al-Qiyam, [4] Bidayah ar-Rahman, [5] Bidayah al-‘Ilmiyyah, [6] Risalah fi ‘Aqidah at-Tawhid li Ma’rifah, dan [7] Manaqib Shaykh Muhammad Samman.

6. Pada karya tulisan Muhamad Rosidi yang berjudul “Shaikh Kemas Muḥammad Azhari (1856-1932): Karya-Karya dan Pemikiran Ulama Palembang”, nama Kemas Wandung Mahmud Jalaluddin (Suhunan Windun Aljawi) adalah Kemas Wandung Mahmud bin Kemas Abdurrahman bin Sunan Kudus.

Diperoleh skema silsilah kekerabatan dengan Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai berikut :

zuriatkudus

Silsilah Kekerabatan : Nabi Muhammad, Zubair ibn Awwam, Sa’ad ibn Abu Waqqas dan Abdurrahman ibn ‘Auf [Bani Zuhrah]

Bani Zuhrah merupakan salah satu klan dari suku Quraish, yang diturunkan dari Zuhrah ibn Kilab.

Ibunda Rasulullah, Aminah bint Wahb berasal dari klan ini, demikian juga sahabat beliau seperti Sa’ad ibn Abu Waqqas dan Abdurrahman ibn ‘Auf.

Entah sengaja atau tidak, di beberapa sumber ada kekeliruan berkenaan dengan keluarga Aminah bint Wahb (ibunda Nabi Muhammad).

Mereka menulis, kakek Rasulullah (Abdul Muttahib) menikah dengan saudara perempuan ibunda Rasulullah (Aminah bint Wahb), yang bernama Halah (lihat di : en.wikipedia.org), padahal tidak demikian…

Untuk lebih jelasnya, berikut silsilah kekerabatnya :

zuhrahCatatan Penambahan :
1. Tentang 2 sosok putera, ‘Abdul Manaf ibn Zuhrah yaitu : Wahb dan Wahib (Wuhayb), juga ditemukan di dalam Kitab Al-Tabaqat Al-Kabir (volume 1, parts 1.18.5 : link).

Referensi :
1. bani zuhrah
2. islamepedia.in
3. islamway.net
4. Abdullah ibn Abdul-Muttalib

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah
2. Misteri Imam Mahdi, dalam Silsilah Genetika Y-DNA FGC10500+ ?
3. Silsilah Genetika Y-DNA : Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Idris dan Nabi Adam ?
4. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?

Kisah Raden Ajeng Kartini, keturunan ke-12 dari Sunan Giri ?

Raden Adjeng Kartini, lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879, dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 di usia 25 tahun.

R.A. Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi (sumber : wikipedia.org).

kartini1  Ilustrasi Foto Kartini, mustanir.com

Silsilah Raden Ajeng Kartini

Berdasarkan penyelusuran genealogy R.A.A Kartini Djojohadiningrat, terhitung sebagai keturunan ke-12 Sunan giri, salah satu anggota walisongo, berikut genealogy-nya :

01. R.A.A Kartini Djojohadiningrat binti

02. R.M.A.A Sosroningrat (Bupati Jepara) bin

03. Pangeran Ario Tjondronegoro IV (Bupati Demak) bin

04. Adipati Tjondronegoro III (Bupati Kudus) bin

05. Adipati Tjondronegoro II (Bupati Pati) bin

06. Adipati Tjondronegoro I (Bupati Surabaya) bin

07. Pangeran Onggojoyo bin

08. Lanang Dangiran @ Kyai Ageng Brondong Botoputih bin

09. Kendal Wesi @ Kyai Sholeh bin

10. Pangeran Ujung Pangkah II @ Abdul Haqq bin

11. Pangeran Ujung Pangkah I @ Muhammad Sirrullah bin

12. Sunan Kulon @ Ali Khoirol Fathihin bin

Sunan Giri @ Maulana Muhammad Ainul Yaqin

(sumber : catatan Nur Al-Fadhil Ba’alawy Al-Husaini).

quran11
Kisah Kartini dan Al Qur’an terjemahan bahasa Jawa

Dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang merupakn paman kartini. Ulama terkemuka di masa itu, Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah.

Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini dengan tekun menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah. Hal ini bisa dipahami, karena saat itu Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini ditemani pamannya menemui Kyai Sholeh Darat. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang ber-ilmu tetapi menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, Kyai Sholeh balik bertanya, “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”

“Kyai, selama hidupku baru kali ini berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kartini melanjutkan; “Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog ini telah menggugah Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; yaitu menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan kemudian diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebut hadiah ini sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia (sumber : republika.co.id).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Seiring waktu, juga berdasar saran Kartini, Kiyai Sholeh melanjutkan tafsir al-Fatihah menjadi kitab tafsir dan terjemahan al-Quran yang berjudul, Faid ar-Rahman. Inilah kitab tafsir perdana di Nusantara, yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.

Kalimat “Habis Gelap Terbitlah Cahaya (Door Duisternis tot Licht”, diduga diperoleh Kartini setelah melalui kajian dalam Pengajian Faid ar-Rahman bimbingan Kiyai Sholeh Darat. Sebab kata-kata itu jelas diambil dari al-Quran, minazzulumati ila n-Nur (QS. Ibrahim [14] ayat 1)(sumber : Kisah Kiyai Sholeh Darat).

2. Dalam versi yang lain, leluhur R.A. Kartini, yang bernama Lanang Dangiran (Kyai Ageng Brondong Botoputih) bukan berasal dari Sunan Giri, melainkan dari keturunan Menak Soemandi.

Menak Soemandi mempunyai putra bernama Menak Gandru, Menak Gandru mempunyai putra bernama Menak Werdati, Menak Werdati mempunyai putra bernama Menak Lumpat (Sunan Rebut Payung), Menak Lumpat (Sunan Rebut Payung) mempunyai putra bernama Pangeran Kedawung (Sunan Tawang Alun), Pangeran Kedawung (Sunan Tawang Alun) mempunyai putra bernama Pangeran Lanang Dangiran (sumber : Pangeran Lanang Dangiran).

3. Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, sumber : erwinisasi blog

habisgelab
Artikel Menarik :
1. Mengapa NEDERLAND disebut BELANDA?
2. Alhamdulillah… Makam Tokoh Betawi, PITUNG ditemukan di Kota Palembang !!!
3. [Misteri] H.O.S. Tjokroaminoto (Guru Presiden Soekarno), yang pernah dikunjungi Rasulullah?
4. Silsilah Sunan Kalijaga, dari berbagai jalur Leluhur Dinasti Tuban, Abbasiyah dan Azmatkhan