Tag Archives: ibrahim

Silsilah Kekerabatan : Nabi Muhammad, Nabi Isa (Jesus), Siddhartha Gautama, Zoroaster, Krishna dan Nabi Musa (Moses) ?

Filsuf Reb Yakov Leib HaKohain dalam pengajaran Donmeh West dari Neo-Sabbatean menyebutkan bahwa keturunan Nabi Ibrahim (Abraham) ada yang berpindah ke timur dan menjadi tokoh agama Hindu, Buddha dan Shinto (Sumber : wikipedia.org).

Dari kalangan penelitian genealogy, mencoba untuk mengungkap kekerabatan Nabi Muhammad, Nabi Isa (Jesus), Siddhartha Gautama, Zoroaster, Krishna dan Nabi Musa (Moses), yang ternyata memiliki leluhur yang sama, yaitu Nabi Ibrahim (Abraham), sebagaimana terlihat pada bagan silsilah berikut :

genealogy1a

Sumber : bupc.org

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Menyelusuri masa kehidupan NABI ADAM, berdasarkan Genetika, Arkeologi, Astronomi dan Geologi
2. Mengapa Rasulullah memerintahkan Bilal, untuk mengumandangkan Adzan di atap Ka’bah?
3. Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?
4. Monotheisme, warisan Syariat Nuh, dalam Ajaran Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, Konghucu, Sikhism dan Zoroaster ?

Iklan

Siti Hajar (Hagar), Ibunda Nabi Ismail, bukanlah seorang Budak

Di kalangan Bani Israil, dikenal istilah  Targum. Targum merupakan Tafsir dari Kitab Perjanjian Lama. Tercatat salah seorang ahli tafsir yang terkenal bernama Salomon bin Ishak (1040-1105) dari Troye.

mesir2

Salomon bin Ishak dalam Targum-nya menulis :

Hagar had been given as a slave to Abraham by her father the Pharaoh of Egypt who said: “My daughter had better be a slave in the house of Abraham, than mistress in any other (Translation of the Targums by J.W.Etheridge).

“Hagar adalah puteri dari Firaun yang ketika melihat aneka mu’jizat dari pihak Sarah, berkata: lebih baik untuk anak perempuan saya ini menjadi pembantu dalam rumah (Ibrahim),” sehingga diangkatnya Ibrahim menjadi menantunya.

Dalam tafsirnya itu, Salomon bin Ishak berpendapat bahwa Hagar (Siti Hajar), adalah puteri dari seorang Penguasa Mesir.

Berdasarkan analisa Ustadz H. M. Nur Abdurrahman, Penguasa Mesir yang menjadi mertua dari Nabi Ibrahim, adalah Raja Salitis yang berasal dari Dinasti Hyksos.

Dalam sejarah, Dinasti Hyksos memiliki keyakinan Tauhid, yang berasal dari Kaum ‘Ad yang bernabikan Nabi Hud.

Mereka beremigrasi dan mendirikan kerajaan-kerajan di Babilonia, kemudian juga di Kan’an, sebagian lagi ke Mesir mendirikan Dinasti Hyksos setelah berhasil menundukkan penguasa setempat.

mesir3

Anggapan Hagar, seorang Budak

Diperkirakan sepeninggal Nabi Sulaiman, Bani Israil terperangkap dalam sifat kebanggaan yang berlebih-lebihan (chauvinism) yang berwujud rasialisme.

Hal ini berakibat Ismail (saudara Ishaq), tidak dipandang sebelah mata. Dari sinilah kemudian muncul anggapan, Hagar, ibunda Ismail hanya seorang budak dari Mesir.

Dari tafsiran yang keliru ini, muncul salah kaprah di kalangan Bani Israil. Mereka beranggapan, Nabi Ismail tidak berhak menyandang putera Nabi Ibrahim, lantaran ibunya seorang budak.

Kekeliruan yang ber-bau rasialis ini, tentu perlu diluruskan. Karena di dalam Bible sendiri, baik Ismail maupun Ishaq, adalah dua orang yang disebut “putera Ibrahim”, sebagaimana tertulis :

“Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu ia meninggal….. Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela…..” (Kejadian 25 : 7-9).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Sumber :
1. Hagar, Ibu Ismail, Bukan Budak Menurut Targum
2. Putera Satu-satunya yang Ditukar Dengan Hewan Sembelihan yang Diabadikan

Hajar Aswad, Petunjuk Astronomi Keberadaan Makkah ?

Ada satu pertanyaan yang mengelitik…

Mengapa Nabi Ibrahim, memilih Makkah sebagai tempat berdirinya Ka’bah ?

Akan ada banyak jawaban…

Namun jawaban yang paling umum adalah, Kota Makkah adalah tempat awal peradaban manusia, sehingga disebut juga  Ummul Qura atau Ibu Negeri (QS.42:7). Dan disanalah mula-mula tempat peribadatan didirikan (QS.3:96).

Makkah—juga disebut Bakkah—tempat di mana umat Islam melaksanakan haji itu, terbukti sebagai tempat yang pertama diciptakan.

Telah menjadi kenyataan ilmiah bahwa bola bumi ini pada mulanya tenggelam di dalam air (samudera yang sangat luas). Kemudian gunung api di dasar samudera ini meletus dengan keras dan mengirimkan lava dan magma dalam jumlah besar yang membentuk ‘bukit’.

Dan bukit ini adalah tempat Allah memerintahkan untuk menjadikannya lantai dari Ka’bah (kiblat). Batu basal Makkah dibuktikan oleh suatu studi ilmiah sebagai batu paling purba di bumi. (Sumber : Kota Makkah, dan Penemuan Geologi).

Jawaban atas alasan dipilihnya kota Makkah, sebagaimana tersebut di atas, bagi seorang Pencari Ilmu belumlah cukup. Dan muncul pertanyaan baru…

Darimana Nabi Ibrahim tahu, kalau tempat ia membangun Ka’bah dulunya adalah tempat awal peradaban manusia ? Bukankah ketika beliau mendirikan Ka’bah, tempat itu merupakan tempat tak bertuan dan gersang ?

Bahkan selepas Bencana Nabi Nuh, Kota Makkah (Bakkah) sempat menghilang keberadaannya. Tempat yang dipercaya sebagai lokasi paling tepat bagi waktu dunia, bahkan berdasarkan penelitian Geologi merupakan Pusat Hemisphere Pangea, selama ribuan tahun tidak diketahui rimbanya.

Sekitar 30 tahun yang lalu, seorang Cendikiawan Muslim, Ustadz Nazwar Syamsu mencoba menjawab pertayaan itu.

Melalui serial bukunya “Tauhid dan Logika“, beliau menyatakan penemuan kembali Kota Makkah, tidaklah bisa dilepaskan dengan keberadaan Batu Astronomi (Meteor) “Hajar Aswad”.

Beliau menulis…

“Kepada Ibrahim dikirim ALLAH sebuah meteor yang jatuh tepat di titik putaran utara Bumi dulu. Meteor itu kini tampak jelas di Ka’bah dan dinamakan orang dengan Hajar Aswad atau Batu Hitam, karena memang warnanya hitam, sengaja ditempatkan Nabi Ibrahim demikian, agar pada waktu kemudiannya tidak timbul syak wasangka, bahwa penempatan Ka’bah demikian hanya menurut kemauan Ibrahim sendiri.” (Sumber : Al Qur’an tentang Shalat Puasa dan Waktu, Serial Tauhid dan Logika, Tulisan Nazwar Syamsu)

Untuk dipahami, mencium Batu Hajar Aswad, bukan saja mengikuti Sunnah Rasulullah, akan tetapi bisa juga kita maknai, sebagai bentuk rasa syukur kita, atas ditemukan kembali keberadaan Kota Makkah, oleh Nabi Ibrahim ‘Alahi Salam.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Asal Muasal Shalat disebut Sembahyang ?

Ketika Maharaja Purnawarman (raja Tarumanagara yang ketiga (395-434 M)), berhasil dalam upaya penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km), ia mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana (sumber :  Sunda : Arti dan Pandangan Hidup).

Apa yang dilakukan Maharaja Purnawarman, sangat mirip dengan Ritual Qurban yang dilakukan Penganut Millah Ibrahim. Peristiwa ini memunculkan pendapat, kerajaan Tarumanegara sejatinya adalah penganut Braham (ajaran monotheime peninggalan Nabi Ibrahim), dan bukan penganut agama Hindu, yang jelas-jelas sangat menentang pengorbanan dengan hewan sapi (Sumber : Forum Republika).

Hal ini sebagaimana tertulis pada buku Fa Xian, Catatan Mengenai Negeri-negeri Budha (PT Ilmu Buana Populer, Jakarta 2005), di halaman 15 :

Didalamnya berisikan catatan Fa Xian/Fa Shien sepulang dari India di era tahun ke-7 Kaisar Xiyi (411M). Pada persinggahannya selama 5 bulan itu ia menulis…

Kami tiba di sebuah negeri bernama Yapoti (Jawa dan atau Sumatera) di negeri itu Agama Braham sangat berkembang, sedangkan Buddha tidak seberapa pengaruhnya.

Monotheime Masyarakat Sunda

Dalam konsepsi teologis orang Sunda pra Hindu, hyang (sanghyang, sangiang) adalah Sang Pencipta (Sanghyang Keresa) dan Yang Esa (Batara Tunggal) yang menguasai segala macam kekuatan, kekuatan baik ataupun kekuatan jahat yang dapat mempengaruhi roh-roh halus yang sering menetap di hutan, di sungai, di pohon, di batu atau di tempat-tempat lainnya.

Hyang mengusai seluruh roh-roh tersebut dan mengendalikan seluruh kekuatan alam. Pada masa masuknya pengaruh Hindu, konsep ke-esa-an hyang terpelihara karena semua dewa tunduk dan takluk pada hyang ini, kekuatannya dianggap melebihi dewa-dewa yang datang kemudian. Dengan kata lain, orang-orang Sunda pra Hindu-Budha sudah menganut faham monoteistis dimana hyang dihayati sebagai maha pencipta dan penguasa tunggal di alam.

Konsep Monotheisme, juga tergambar di dalam hirarki kepatuhan pada Naskah Siksakandang Karesian, yang berisi Pasaprebakti (Sepuluh Tingkat Kesetiaan), yang isinya sebagai berikut : “Anak satia babakti ka bapa; pamajikan satia babakti ka salaki; kawala satia babakti ka dunungan; somah satia babakti ka wado; wado satia babakti ka mantri; mantri satia babakti kanu manganan (komandan); nu nanganan satia babakti ka mangkubumi; mangkubumi satia babakti ka raja; raja satia babakti ka dewata; dewata satia babakti ka hyang.

Konsepsi ini sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Islam, yaitu Allah, sebagai Dzat Maha Pencipta. Dan ketika muncul proses Islamisasi di Nusantara. Istilah sembahyang pun lahir dari tradisi ritus menyembahHyang (Yang Tunggal), sama dengan shalat menyembah Allah Yang Maha Esa di dalam Islam (Sumber : Menjawab Misteri Kelangkaan Candi di Tatar Sunda).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan :

Keberadaan ajaran Monotheisme dalam masyarakat Sunda, kuat dugaan tidak lepas dari keterkaitan historisnya, dengan salah seorang Pelopor Monotheisme, Nabi Ibrahim.

Hubungan historis tersebut, bisa terlihat dari salah seorang Leluhur masyarakat Sunda, yang bernama Dewawarman I (Pendiri Kerajaan Salakanagara), yang tidak lain seorang perantau dari Pallawa, Bharata (India).

Untuk sama dipahami, awal mula Bangsa Pallawa berasal dari Tanah Persia, dan susur galurnya akan sampai kepada zuriat Nabi Ibrahim as. (Sumber : (connection) Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim ? ).

Demikian juga, Leluhur masyarakat Sunda bernama Ajisaka, yang diperkirakan berasal dari Negeri Saka (Sakas), dimana silsilah Bangsa Sakas juga akan bertemu kepada Keluarga Nabi Ibrahim as. (Sumber : Legenda Ajisaka, mengungkap zuriat Nabi Ishaq di Nusantara).

Legenda AJISAKA, mengungkap zuriat NABI ISHAQ di NUSANTARA

Dalam prasasti Kui (840M) disebutkan bahwa di Jawa terdapat banyak pedagang asing dari mancanagara untuk berdagang misal Cempa (Champa), Kmir (Khmer-Kamboja), Reman (Mon), Gola (Bengali), Haryya (Arya) dan Keling.

Untuk kebutuhan administrasi, terdapat para pejabat lokal yang mengurusi para pedagang asing tersebut, misal Juru China yang mengurusi para pedagang dari China dan Juru Barata yang mengurusi para pedagang dari India. Mereka seperti Konsul yang bertanggung jawab atas kaum pedagang asing.

Di dalam catatan sejarah, kita mengenal gelar “Sang Haji (Sangaji)” merupakan gelar dibawah “Sang Ratu”, seperti contoh Haji Sunda pada Suryawarman (536M) dari Taruma, Haji Dharmasetu pada Maharaja Dharanindra (782M) dari Medang. Haji Patapan pada Maharaja Samaratunggadewa (824M) dari Medang. Sumber : History of Java Nusantara

Legenda Ajisaka

Dalam legenda tanah Jawa, kita mengenal nama tokoh Ajisaka. Ajisaka sangat mungkin, berasal dari kata Haji Saka, bermakna Perwakilan Negara (Duta) atau Konsul yang bertanggung jawab atas para pedagang asing, yang berasal dari negeri Saka (Sakas).

Lalu dimanakah Negeri Sakas itu?

Di dalam sejarah India, dikenal negara Sakas atau Western Satrap (Sumber : Western Satrap, Wikipedia). Pada tahun 78M Western Satrap (Sakas) mengalahkan Wikramaditya dari Dinasti Wikrama India. Kemenangan pada tahun 78M dijadikan sebagai tahun dasar dari penanggalan (kalender) Saka. Wilayah Western Satrap mencakup Rajastan, Madya Pradesh, Gujarat, dan Maharashtra.

Para raja dari Western Satrap biasanya memakai dua bahasa yaitu Sankrit (Sansekerta) dan Prakit serta dua aksara yaitu Brahmi dan Yunani dalam proses pembuatan prasasti dan mata uang logam kerajaan. Sejak pemerintahan Rudrasimha (160M-197M), pembuatan mata uang logam kerajaan selalu mencantumkan tahun pembuatannya berdasarkan pada Kalender Saka.

Keberadaan Sakas dengan Kalender Saka-nya, nampaknya bersesuaian dengan Legenda Jawa, yang menceritakan Ajisaka (Haji Saka), sebagai pelopor Penanggalan Saka di pulau Jawa.


Dewawarman I, bukan Ajisaka

Di dalam Naskah Wangsakerta, kita mengenal seorang pedagang dari tanah India, yang bernama Dewawarman I. Beliau dikenal sebagai pendiri Kerajaan Salakanagara. Ada sejarawan berpendapat, bahwa Dewawarman I adalah indentik dengan Haji Saka (Ajisaka). Akan tetapi apabila kita selusuri lebih mendalam, sepertinya keduanya adalah dua orang yang berbeda.

Ajisaka (Haji Saka), tidak dikenal sebagai pendiri sebuah Kerajaan, melainkan dikenal membawa pengetahuan penanggalan, bagi penduduk Jawa. Sebaliknya Dewawarman I adalah pendiri Kerajaan Salakanagara, dan tidak ada riwayat yang menceritakan, bahwa beliau pelopor Kalender Saka.

Dewawarman I di-indentifikasikan berasal dari Dinasti Pallawa (Pahlavas), beliau berkebangsaan Indo-Parthian, yang berkemungkinan salah satu leluhurnya adalah Arsaces I (King) of PARTHIA. Dan jika diselusuri silsilahnya akan terus menyambung kepada Artaxerxes II of Persia bin Darius II of Persia bin Artaxerxes I of Persia bin Xerxes I “The Great” of Persia bin Atossa of Persia binti Cyrus II “The Great” of Persia (Zulqarnain). Sumber : The PEDIGREE of Arsaces I (King) of PARTHIA dan Menemukan Zul-Qarnain, dalam Sejarah

Sementara Ajisaka (Haji Saka), di-identifikasikan berasal dari Sakas (Western Satrap), beliau berkebangsaan Indo-Scythian, dimana susur galurnya besar kemungkinan, menyambung kepada keluarga kerajaan di India Utara (King Moga/Maues). Sumber : Indo-Scythians  dan Maues, Wikipedia

Namun ternyata, kedua Leluhur masyarakat Sunda dan Jawa ini, memiliki satu persamaan, yakni : Dewawarman I (Indo-Parthian) dan Ajisaka (Indo-Scythian), sesungguhnya merupakan Zuriat (Keturunan) dari Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim (Bani Ishaq), yaitu melalui dua anaknya Nabi Yakub (Jacob) dan Al Aish (Esau). Sumber : THE TWO HOUSES OF ISRAEL, Who were the Saxons/Saka/Sacae/Scythians? Sons of IsaacKomunitas Muslim, dari Bani Israil dan (Connection) Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim ?

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Lainnya…
01. Misteri Leluhur Bangsa Jawa
02. Sejarah Melayu, Teori Sundaland dan Naskah Wangsakerta
03. Jejak Nabi Nuh, dalam Gen Leluhur Nusantara (Haplogroup O1aM119)

Perjalanan Nabi Ibrahim, menuju Arabia menurut Bible

Sebuah fakta di dalam kitab Kejadian pasal 13 adalah keberangkatan Nabi Ibrahim (Abraham) dari Mesir ke Selatan (Semenanjung Arabia).

Setting peristiwa dalam Kejadian pasal 13, adalah :
-Nabi Abrahim (Ibrahim) masih beristri Sarah.
-Belum menikahi Hagar dan belum mempunyai anak satu pun.

Memang benar berdasarkan informasi, yang terdapat di dalam al-Qur’an dan Hadits, kepergian nabi Ibrahim ke Arabia terjadi ketika beliau mengantar Hajar dan Ismail dan seterusnya. Jadi Hadits tidak menceritakan bahwa sang nabi pernah ke Arabia sebelum memperistri Hajar. Namun bukan berarti kita tidak boleh meneliti riwayat beliau (jauh sebelum menikahi Hajar) bukan? Sebagaimana peneliti Muslim berusaha mengungkap tempat kelahiran Nabi Ibrahim.

Pergi ke Selatan Mesir

Menurut Bible, kronologi kehidupan Abraham, adalah seperti dibawah ini :
1. Berangkat dari Ur-Kasdim (Kej 11:31)
2. Sampai di Haran (Kej 11:31).
3. Sampai di Sikhem (Kej 12:6)
4. Sampai pegunungan sebelah Timur Betel. (Kej 12:8)
5. Sampai ke tanah Negeb (Kej 12:9) Ketika ada kelaparan, Abraham pergi ke Mesir.
6. Sampai di Mesir (Kej 12:10)
7. ke tanah Negeb (Kej 13:1)
8. Menuju ke Betel (Kej 13:3)
9. Pindah ke Mamre, dekat Hebron (Kej 13:1)
10. Abraham punya anak Ismael ketika di Kanaan (Kej 16:3)
11. Abraham ke tanah Negeb (Kej 20:1)
12. Abraham punya anak Ishak sewaktu berada di tanah Negeb (Kej 21:2)
13. Hagar dan Ismael mengembara di gurun Bersyeba (Kej 21:14)
14. Hagar dan Ismael akhirnya tinggal di gurun Paran (Kej 21:21)
15. Abraham menanam pohon di Bersyeba (Kej 21:33)
16. Abraham ke tanah Moria (Kej 22:2)
17. Abraham pergi dan tinggal di Bersyeba (Kej 22:19) Sara nampaknya tetap tinggal di Hebron.
18. Sara wafat di Hebron (Kej 23:2)
19. Abraham dimakamkan di gua Makhpela (Hebron) (Kej 25:9)

Dari penuturan diatas, nabi Ibrahim (Abraham) tidak pernah ke Semenanjung Arabia (tempat kota Mekkah berada). Yang menjadi pertanyaan : Apa benar seperti itu?

Sekarang pembaca lihat dibawah ini.
Kejadian 13:1 KJV

And Abram went up out of Egypt, he, and his wife, and all that he had, and Lot with him, into the south.
(Dan Abram pergi keluar dari Mesir, ia, dan istrinya, dan semua kepunyaannya, dan Lot dengannya, menuju selatan)

Note :
Negeb (bahasa Ibrani) artinya adalah “SELATAN” yaitu arah geografi selatan.

Berbeda dengan LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) yang menerjemahkan Negeb menjadi Tanah Negeb (Kanaan Selatan-wilayah Palestina Selatan); 3 Bible kuno yaitu King James Version (KJV) 1611; Bible Bishops tahun (Bishops) 1568; dan Douay-Rheims Bible (DRB) 1899 justru menerjemahkan Negeb dengan baik dan benar yaitu SELATAN.

#Kejadian 13:1

(Bishops) “And so Abram gat hym vp out of Egypt, he and his wife, and al that he had, and Lot with hym, toward the South”.
(DRB) “And Abram went up out of Egypt, he and his wife, and all that he had, and Lot with him into the south”.
(KJV) “And Abram went up out of Egypt, he, and his wife, and all that he had, and Lot with him, into the south”.

Ketika Taurat (Kejadian 13:1) menceritakan bahwa Abraham keluar dari Mesir menuju ke Selatan, maka dengan secepat kilat (hanya dengan pemisah satu ayat saja) Taurat terus melanjutkan ceritanya:

“Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Selatan sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai.” (Kejadian 13:3)

Disini (Kejadian 13:1-3) tampak jurang yang sangat besar ditengah-tengah narasi riwayat! Taurat secepat kilat menyatakan nabi Ibrahim(Abraham) telah kembali dari Selatan tanpa memberikan informasi kepada kita: mengapa ia keluar dari Mesir dan langsung menuju Selatan, untuk tujuan apa ia pergi ke Selatan, apa saja peristiwa yang dialaminya selama berada di Selatan, bahkan sekedar menyebutkan berapa lama masa yang dijalaninya di Selatan pun tidak disebutkan, sebagaimana kebiasaan Taurat yang suka memaparkan secara detail kronologis secara berulang-ulang.

Sehingga yang tampak adalah seolah-olah riwayat perjalanan nabi Ibrahim ke Selatan terputus, lalu sang nabi tiba-tiba diceritakan telah kembali dari Selatan menuju ke utara, tepatnya di Bethel-Ai, dimana mula-mula kemahnya berdiri.

Bahwa yang dimaksud “Selatan” adalah Semenanjung Arabia adalah karena beberapa faktor berikut ini :

– Palestina Selatan (Gurun Negeb) terletak di Timur Mesir (Timur Sinai), sedangkan Semenanjung Arabia terletak di selatan Mesir (Timur Sinai).

– Selatan Mesir dalam Kejadian 13 bukanlah Sudan, karena jika Sudan, maka Nabi Abraham lagi-lagi harus melewati Mesir. Dan kitab Kejadian pasal 13 tidak mencatat bahwa ia bolak-balik Mesir, tidak mencatat bolak-balik disambut Firaun, dan tidak pula mencatat NabiAbraham bolak-balik diantar untuk kedua kalinya oleh para punggawa Firaun.

Setelah jelas bahwa nabi Ibrahim memang pernah berkunjung keSemenanjung Arabia, mereka yang menolak akan mengemukakan argumentasi bahwa Negeb = Tanah Selatan/Tanah Negeb (yaitu Palestina Selatan).

Dengan demikian, konsekuensinya adalah jika Taurat menyebut “Tanah Negeb” (Palestina Selatan) maka Taurat berbahasa Ibrani harus mencatat “Erets Negeb“, karena jika hanya menulis “Negeb” (tanpa embel-embel “erets”), maka artinya menjadi “selatan” (arah geografi selatan).

Note :
‘Erets (ארצ): tanah, negeri.
Negeb (נגב) : selatan. Negeb (selatan) adalah lawan kata dari tsāpōn(utara).

Sekarang mari kita lihat Kejadian 13:1 dibawah ini.


וַיַּעַל אַבְרָם מִמִּצְרַיִם הוּא וְאִשְׁתֹּו וְכָל־אֲשֶׁר־לֹו וְלֹוט עִמֹּו הַנֶּֽגְבָּה׃
wayya‘al ’abərām mimmisərayim hû’ wə’išətwō wəkāl-’ăšer-lwō wəlwōt ‘immwō hannegəbâ. (Ibrani)

And Abram went up out of Egypt, he, and his wife, and all that he had, and Lot with him, into the south. (KJV Bible)
Dan Abram pergi keluar dari Mesir, ia, dan istrinya, dan semua kepunyaannya, dan Lot dengannya,menuju selatan.

Berdasarkan ayat di atas, diperoleh informasi bahwa Kejadian 13:1 sama sekali tidak mencatat “Erets Negeb”, melainkan hanya “Negeb”.

Maka Jelaslah bahwa perjalanan nabi Ibrahim keluar dari Mesir adalah menuju Selatan, tidak lain adalah menuju ke daerah Semenanjung Arabia.

Sumber :
Perjalanan Nabi Ibrahim ke Arabia

Artikel Terkait…
01. Kisah Mazmur, Raja Daud dan Makkah
02. Pengembaraan Yesus (Nabi Isa), dalam berbagai Versi
03. Misteri Silsilah Yesus (Nabi Isa)

Misteri Leluhur Bangsa Jawa


Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera.

Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.

Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.

wayang1

Bani Jawi Keturunan Nabi Ibrahim

Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis… dsb), adalah keturunan Nabi Ibrahim.

Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).

Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.

Sekilas dari beberapa pernyataan di atas, sepertinya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Akan tetapi, setelah melalui penyelusuran yang lebih mendalam, diperoleh fakta, bahwa Brahma yang terdapat di dalam Metologi Jawa indentik dengan Nabi Ibrahim.

Brahma adalah Nabi Ibrahim

Mitos atau Legenda, terkadang merupakan peristiwa sejarah. Akan tetapi, peristiwa tersebut menjadi kabur, ketika kejadiannya di lebih-lebihkan dari kenyataan yang ada.

Mitos Brahma sebagai leluhur bangsa-bangsa di Nusantara, boleh jadi merupakan peristiwa sejarah, yakni mengenai kedatangan Nabi Ibrahim untuk berdakwah, dimana kemudian beliau beristeri Siti Qanturah (Qatura/Keturah), yang kelak akan menjadi leluhur Bani Jawi (Melayu Deutro).

Dan kita telah sama pahami bahwa, Nabi Ibrahim berasal dari bangsa ‘Ibriyah, kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra atau ‘abara yang berarti menyeberang. Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha mim).

Beberapa fakta yang menunjukkan bahwa Brahma yang terdapat di dalam Mitologi Jawa adalah Nabi Ibrahim, di antaranya :

1. Nabi Ibrahim memiliki isteri bernama Sara, sementara Brahma pasangannya bernama Saraswati.

2. Nabi Ibrahim hampir mengorbankan anak sulungnya yang bernama Ismail, sementara Brahma terhadap anak sulungnya yang bernama Atharva (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali)…

3. Brahma adalah perlambang Monotheisme, yaitu keyakinan kepada Tuhan Yang Esa (Brahman), sementara Nabi Ibrahim adalah Rasul yang mengajarkan ke-ESA-an ALLAH.

Ajaran Monotheisme di dalam Kitab Veda, antara lain :

Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan, Dia yg berhak disembah

Yajurveda Ch. 40 V. 8 menyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan dia suci

Atharvaveda Bk. 20 Hymn 58 V. 3 menyatakan bahwa sungguh Tuhan itu Maha Besar

Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan

Rigveda Bk. 1 Hymn 1 V. 1 menyebutkan : kami tidak menyembah kecuali Tuhan yg satu

Rigveda Bk. 6 Hymn 45 V. 6 menyebutkan “sembahlah Dia saja, Tuhan yang sesungguhnya”

Dalam Brahama Sutra disebutkan : “Hanya ada satu Tuhan, tidak ada yg kedua. Tuhan tidak berbilang sama sekali”.

Sumber :
http://rkhblog.wordpress.com/2007/09/10/hindu-dan-islam-ternyata-sama/

Ajaran Monotheisme di dalam Veda, pada mulanya berasal dari Brahma (Nabi Ibrahim). Jadi makna awal dari Brahma bukanlah Pencipta, melainkan pembawa ajaran dari yang Maha Pencipta.

4. Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah (Ka’bah) di Bakkah (Makkah), sementara Brahma membangun rumah Tuhan, agar Tuhan di ingat di sana (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali).

Bahkan secara rinci, kitab Veda menceritakan tentang bangunan tersebut :

Tempat kediaman malaikat ini, mempunyai delapan putaran dan sembilan pintu… (Atharva Veda 10:2:31)

Kitab Veda memberi gambaran sebenarnya tentang Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim.

Makna delapan putaran adalah delapan garis alami yang mengitari wilayah Bakkah, diantara perbukitan, yaitu Jabl Khalij, Jabl Kaikan, Jabl Hindi, Jabl Lala, Jabl Kada, Jabl Hadida, Jabl Abi Qabes dan Jabl Umar.

Sementara sembilan pintu terdiri dari : Bab Ibrahim, Bab al Vida, Bab al Safa, Bab Ali, Bab Abbas, Bab al Nabi, Bab al Salam, Bab al Ziarat dan Bab al Haram.

Monotheisme Ibrahim

Peninggalan Nabi Ibrahim, sebagai Rasul pembawa ajaran Monotheisme, jejaknya masih dapat terlihat pada keyakinan suku Jawa, yang merupakan suku terbesar dari Bani Jawi.

Suku Jawa sudah sejak dahulu, mereka menganut monotheisme, seperti keyakinan adanya Sang Hyang Widhi atau Sangkan Paraning Dumadi.

Selain suku Jawa, pemahaman monotheisme juga terdapat di dalam masyarakat Sunda Kuno. Hal ini bisa kita jumpai pada Keyakinan Sunda Wiwitan. Mereka meyakini adanya ‘Allah Yang Maha Kuasa‘, yang dilambangkan dengan ucapan bahasa ‘Nu Ngersakeun‘ atau disebut juga ‘Sang Hyang Keresa‘.

Dengan demikian, adalah sangat wajar jika kemudian mayoritas Bani Jawi (khususnya masyarakat Jawa) menerima Islam sebagai keyakinannya. Karena pada hakekatnya, Islam adalah penyempurna dari ajaran Monotheisme (Tauhid) yang di bawa oleh leluhurnya Nabi Ibrahim.

Sumber :
Forum Kaskus

Artikel Terkait
01. Sejarah Melayu, Teori Sundaland dan Naskah Wangsakerta
02. (Connection) Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim ?
03. Teori Iwak Belido dan Sejarah tenggelam-nya Sundaland