Tag Archives: manusia

[Misteri] Manusia Bumi dan Nabi Idris, selepas Letusan Gunung Toba 74.000 tahun yang lalu ?

Ketika terjadi Letusan Gunung Toba sekitar 74.000 tahun yang lalu, manusia hampir diambang kepunahan. Bencana vulkanik ini diperkirakan hanya menyisakan sekitar 30.000 orang yang selamat.

Dengan demikian, manusia yang hidup sekarang, merupakan keturunan dari segelintir manusia yang dahulu selamat dari bencana Letusan Gunung Toba (sumber : Menyelusuri masa kehidupan NABI ADAM, berdasarkan Genetika, Arkeologi, Astronomi dan GeologiMigration after Toba dan Gunung Toba).

supervolcano1
Manusia Bumi adalah Keturunan Nabi Idris (Oziris)

Syaikh Thanthawi Jauhari di dalam Tafsir Jawahir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan Nabi Idris tidak lain adalah Oziris, leluhur Bangsa Mesir Purba.

Kalimat Idris adalah ucapan nama dalam bahasa Arab. Serupa juga dengan Yesoa diucapkan dalam bahasa Arab adalah Isa, dan Yohannes diucapkan dalam bahasa Arab adalah Yahya (Sumber : Misteri HURUF HIEROGLYPH, mengungkap Kisah NABI IDRIS, dalam Peradaban MESIR PURBA?).

Sejalan dengan perjalanan waktu, dikarenakan jasa yang besar pada Peradaban Mesir Purba, Oziris kemudian dianggap sebagai Dewa Yang Agung. Pendirian Piramid Besar Khufu (Cheops) di Giza, erat hubungannya dengan pemujaan bangsa Mesir purba terhadap Oziris (Osiris), yang mereka anggap sebagai jelmaan Orion (Dewa Kematian) (sumber : Nabi Idris (Oziris), Ilmuwan NUSANTARA dan Tokoh Pembaharu MESIR PURBA ?).

Berdasarkan kepada penemuan naskah kuno di dalam Piramid Giza, yang mengatakan bahwa piramid dibangun ‘pada waktu gugusan bintang Lyra berada di rasi Cancer’, menurut perhitungan sejarawan, Abu Said El Balchi, peristiwa tersebut terjadi pada sekitar 72.000 tahun sebelum Hijrah Nabi (622 Masehi) atau sekitar 73.378 yang lalu (sumber : Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia ). Dengan demikian keberadaan Nabi Idris (Oziris) di Peradaban Mesir Purba, diperkirakan sekitar 600-700 tahun selepas Letusam Gunung Toba.

Setelah melewati jarak ribuan tahun, kelak dari keturunan Nabi Idris inilah akan lahir Keluarga Nabi Nuh, yang merupakan nenek moyang umat manusia yang ada pada saat ini.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Berdasarkan situs International Starch Institute, jumlah penduduk bumi yangtersisa setelah Letusan Gunung Toba, berkisar antara 10.000 – 40.000 jiwa.

2. Pendapat Sejarawan Abu Said El Balchi (Abou Zeid el Balkhy, source : The Literary Gazette, Volume 24) :

“The Pyramid had been constructed when the Lyra was in the sign of Cancer, this event was twice 36,000 years before this day”.

“Piramida telah dibangun ketika Lyra berada di tanda Cancer, peristiwa ini adalah dua kali 36.000 tahun sebelum hari ini”.

pyramid1
Artikel Sejarah Nusantara :
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?
3. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?
4. [Misteri] Keberadaan Leluhur Nusantara di Gua Shandingdong (China), sekitar 10.000 tahun yang silam?

Eksistensi Manusia sebelum Adam, dalam bahasan Genealogy Ilmuan Muslim ?

Upaya menulusuri genealogi umat manusia telah dilakukan oleh umat Islam, jauh sebelum munculnya beragam teori tentang manusia dalam paleontropologi atau ilmu tentang manusia purbakala (Teori Darwinisme).

Para cendekiawan di masa salaf, banyak mengupas persoalan ini. Lebih dari 400 buah kitab telah berhasil dikarang, beberapa di antaranya ada yang fokus pada nasab orang-orang Arab, dan tak sedikit pula yang panjang lebar mengulas genealogi secara umum.

jejakkaki
Perdebatan Manusia Pertama

Kitab-kitab yang cukup dikenal membahas tentang asal usul manusia, misalnya Bahr an-Nishab, karangan Abu Makhnaf Luth bin Yahya (157 H), an-Nasab al-Kabir karya Amir bin Hafsh (170 H), al-Kamil fi an-Nasab besutan Ibnu Thabathaba (449 H), dan masih banyak lagi.

Dan faktanya belum pernah muncul kesepakatan dari mereka akan siapakah manusia pertama kali yang layak dijadikan sebagai muara keturunan umat manusia saat ini.

Bahkan sebagian sejarawan menegaskan bahwa Adam bukanlah muara dari keturunan segenap manusia (abu al-basyariyah), mereka menganggap Adam sebagai bapak manusia (abu al-Insan). Dua istilah yang berbeda makna tentunya.

Al-Qalaqasyandi di dalam Nihayat al-Irib fi Ma’rifat Ansab al-Arab menambahkan, para ahli genealogi dan sejarawan sepakat bangsa-bangsa yang eksis dan berkembang saat ini, merupakan keturunan dari Nuh yang selamat dari peristiwa banjir bandang.

Di kalangan sejarawan terkemuka seperti Ibn al-Atsir, at-Thabari, al-Muqrizi, berpendapat bahwa jutaan tahun sebelum Adam, telah ada eksistensi manusia di muka bumi. Mereka berjibaku dengan golongan jin, untuk saling berebut hegemoni dan kekuasaan sebagai penguasa tunggal di bumi.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Sumber : republika.co.id

Artikel tentang Genealogi Manusia :
1. [Misteri] 100.000 Adam, menurut Ibnu Arabi ?
2. Nabi Adam, dan misteri telapak kaki 200 juta tahun yang lalu ?
3. Proses Penciptaan Nabi Adam, Persenyawaan Atom dan Sinar Kosmik ?
4. Menyelusuri masa kehidupan NABI ADAM, berdasarkan Genetika, Arkeologi, Astronomi dan Geologi

[Misteri] 100.000 Adam, menurut Ibnu Arabi, dan dalil keberadaan Alien?

Di dalam tulisan, yang berjudul “Mungkinkah berguru dengan penghuni alam lain?”, Dr. Nasaruddin Umar mengangkat cerita tentang Ibnu Arabi.

Ibnu Arabi pernah mengalami pengalaman spiritual, beliau berjumpa seseorang yang memperkenalkan diri telah hidup 400.000 tahun. Ibnu Arabi mengatakan, bagaimana mungkin, sedangkan Nabi Adam saja belum hidup ketika itu.

Lalu orang itu mengatakan, Adam yang mana, sambil mengingatkannya kepada hadis Nabi Muhammad, “Innallaha khalaqa miata alaf Adam” (Sesungguhnya Allah telah menciptakan 100.000 Adam). (Lihat Futuhat, jilid III, h. 459). (sumber : republika.co.id).

alien3
Adam di Bumi yang lain

Keberadaan Adam yang lebih dari satu orang, juga merupakan pendapat sahabat Rasulullah, Ibnu Abbas ra. (Sumber : Nabi Adam, dan misteri telapak kaki 200 juta tahun yang lalu ?).

adam1Al-Allamah Al-Alusi rahimahullahu dalam Kitabnya Ma Dalla Alaihi Al-Qur an Min Ma Yadhadhu Al-Haiah Al-Jadidah Al-Qawimah Al-Burhan, halaman 132 menjelaskan hadis diatas,

“Maksud khabar ini adalah bahwasannya setiap bumi dihuni oleh mahluk yang berasal dari satu keturunan, seperti misalkan dibumi kita ini yang bersumber dari Adam. Lalu disana ada pula pribadi-pribadi yang memiliki keistimewaan dibanding dengan lainnya.

Sebagaimana kedudukan Nuh, Ibrahim, dan Nabi-Nabi lain ditengah-tengah kita”. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 3822 – Dar Kutub Ilmiyah), ia berkata, “Hadits ini shahih isnad”, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Al-Ajluni dalam Kasyful Khafa (1/113) no. 316, berkata, “Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Asma wa Shifat dengan sanad yang shahih”.

Sebagian ahli hadis mengatakan hadis ini lemah, sebab diriwayatkan oleh Syarik yang buruk hapalannya dari Atho yang juga lemah.

Tetapi hadis ini terdapat jalan lain yang lebih ringkas : “Di tiap-tiap bumi ada semisal Ibrohim, dan yang semisal apa-apa yang diciptakan di bumi kita ini”.

Diriwayatkan oleh Ibn Jarir dalam Tafsir (23/469) dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 3823–Dar Kutub Ilmiyah), keduanya dari jalan Syu bah dari Amru ibn Muroh dari Abi Dhahi dari Ibn Abbas. Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih dengan syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim)”, dan disetujui Adz-Dzahabi. Berkata Ibn Hajar dalam Fathul Baari (9/476), “Isnadnya shahih” (sumber : Review Misteri Besar Alien Planet Inhabit)

Dalil dari Ibnu Abbas ra ini, sering dijadikan sandaran bagi mereka yang meyakini, adanya makhluk cerdas (Alien) di luar planet bumi yang kita tinggali ini.

solarsystem1
Misteri 100.000 Adam

Tentang eksistensi 100.000 Adam, dimanakah mereka bermukim ?
Apakah semua berada di planet Bumi ? ataukah sebagian bertempat tinggal di luar angkasa, yang sangat luas ini ?

Berkenaan tentang keberadaan makhluk cerdas (Alien) di planet lain, Ustadz Yudi N. Ihsan, mengupasnya berdasarkan kepada ayat al qur’an, sebagaimana kajiannya pada tulisan Petunjuk Al-Qur’an Tentang Makhluk Berakal di Luar Planet Bumi.

adam2
WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Allah has created one hundred thousand Adams before the Adam, known to us (source : Farid Wajid, Da’irah Ma’arif, 1:124).

The same is referred to Ja’far al-Sadiq. Muhammad ‘Ali al-Baqir goes further and is quoted to has said: Indeed, before Adam, our father, one million or more Adams have passed…

source : Farid Wajid, Da’irah Ma’arif, 1:126 ; Al-Razi, Tafsir-e-Kabir, 19:179. Imam Razi has recorded the following words: “Indeed, before our father Adam, one million or more Adams have passed.”

Link : ummah.com

2. Dari kalangan Tabi’in, terkait dengan makhluk cerdas di luar planet Bumi, terdapat riwayat yang bersumber dari Aun bin Abi Syadad, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Ahmad bin Hambal dalam kitab Al-Zuhud (No. 1589), dan Abu Syaikh dalam Al-Adzamah (no. 921).

Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata:

حدثني نَصْرَ بْنَ عَلِيٍّ، حدثنا نُوحُ بْنُ قَيْسٍ، حدثني عَوْنُ بْنُ أَبِي شَدَّادٍ، قَالَ إِنَّ للَّهِ تبارك وتعالى خلق بمسقط الشَّمْسِ أَرْضًا بَيْضَاءَ نُورُهَا بَيَاضُهَا فِيهَا قَوْمٌ لَمْ يَدْرُوا أَنَّ اللَّهَ تبارك وتعالى عُصِيَ قَطُّ »

Menceritakan kepada saya Nashr bin Ali, men-ceritakan kepada kami Nuh bin Qais. Menceritakan kepada saya ‘Aun bin Abi Syadad yang berkata: “Sesungguhnya Allah Tabaroka wa Ta’ala mencipta-kan diarah terbenamnya matahari, bumi yang putih, cahayanya itulah yang (menyebabkan) putih, didalam-nya ada kaum yang tidak melakukan kemaksiatan kepada Alloh Tabaroka wa Ta’ala sedikitpun”.

Abu Syaikh berkata:

حَدَّثَنَا الْهَرَوِيُّ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا نُوحُ بْنُ قَيْسٍ الْحُدَّانِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ عَوْنَ بْنَ أَبِي شَدَّادٍ يَقُولُ: «إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى أَرْضًا بَيْضَاءَ نُورُهَا بَيَاضُهَا خَلْفَ مَسْقَطِ الشَّمْسِ، فِيهَا قَوْمٌ مَا يَشْعُرُونَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عُصِيَ فِي أَرْضٍ»

Menceritakan kepada kami Al-Harawi, menceritakan kepada kami Ubaidullah, menceritakan kepada kami Nuh bin Qais al-Hudani yang berkata: aku mendengar Aun bin Syadad berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan bumi yang putih, cahayanya itulah yang (menyebabkan) putih, diarah terbenamnya matahari, didalamnya ada kaum yang tidak mengetahui sesung-guhnya Alloh Azza wa Jalla dimaksiati dibumi” (Sumber : Misteri Planet Inhabit).

3. Dalil keberadaan makhluk di luar bumi, terdapat pada tafsir Sayyid Abul Ala Maududi, untuk Surah Ash Shura (The Consultation), ayat 29

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ

Among His Signs is the creation of the heavens and the earth and the living things, which He has scattered in both. He can gather them all together whenever He wills

Beliau menulis :

In both”: In both the earth and the heavens. This is a clear pointer to the fact that life does not only exist on the earth but on other planets as well
(Sumber : tafsir Sayyid Abul Ala Maududi)

4. Secara matematis, keberadaan 100.000 Adam dapat dijelaskan sebagai berikut :

Ilmuan memperkirakan ada sekitar 30 milyar trilliun (3×10²²) Bintang (serupa matahari, yang memiliki sumber cahaya sendiri, dengan ukuran yang lebih besar atau lebih kecil dari matahari ), yang ada di alam semesta.

Jika di setiap bintang memiliki tata surya sendiri, anggaplah hanya 0,000.000.001% (sepermilyar persen), yang memiliki persyaratan adanya kehidupan, berarti ada sekitar 300 milyar tata surya yang ada kehidupan.

Kalau kemudian ada 100.000 Adam, yang terbagi merata, artinya masing-masing Adam akan ter-integrasi dengan komunitas kehidupan di 3.000.000 tata surya.

Artikel Menarik :
1. Misteri di Langit Makkah, 1437 tahun yang lalu ?
2. Bukti Arkeologis, Keberadaan Penghuni Langit di Bumi ?
3. Time Traveller (Perjalanan Lintas Waktu), dalam Kisah Qibas Nabi Ibrahim ?
4. Menyelusuri masa kehidupan NABI ADAM, berdasarkan Genetika, Arkeologi, Astronomi dan Geologi?

Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?

Adalah satu kekeliruan, jika kita beranggapan Leluhur masyarakat Nusantara, adalah penganut animisme, penyembah benda-benda alam.

Leluhur Nusantara di masa purba, telah memiliki keyakinan monotheisme, yang disebut “Ajaran Kapitayan”.

purba1a

Ajaran Tauhid dalam Keyakinan Kapitayan

Ajaran Kapitayan menyakini bahwa segala sesuatu di alam semesta ini, diciptakan oleh Sang Maha Kuasa, yang di-istilahkan sebagai Sang Hyang Taya. Sosok Sang Hyang Taya, memiliki makna Dzat yang tidak bisa didefinisikan, yang tidak bapat didekati dengan Panca Indra.

Kepercayaan Ajaran Kapitayan kepada Sang Maha Pencipta, tentu tidak lepas dari ajaran tauhid yang dibawa oleh leluhur umat manusia Nabi Adam.

Setelah peristiwa bencana di masa Nabi Nuh, ajaran monotheisme ini kemudian disebarluaskan oleh pengikut serta keluarga Nabi Nuh, ke seluruh penjuru dunia. Jejak ajaran Tauhid Nabi Nuh, nampaknya memberkas kepada ajaran Kapitayan yang dianut oleh leluhur masyarakat Nusantara di masa Pra Sejarah.

purba1

Ajaran Kapitayan, bukan Animisme

Dalam perkembangan selanjutnya, ajaran kapitayan yang awalnya merupakan kepercayaan monotheisme, mengalami pergeseran.

Sang Hyang Taya yang Maha Ghaib, kemudian muncul dalam pribadi “TU”, “TU” lazim disebut Sanghyang Tu-nggal, yang memiliki 2 sifat, yaitu sifat yang baik disebut Tu-Han dan sifat yang tidak baik disebut Han-Tu.

Sosok Kekuatan Sang “TU” dalam ajaran ini, diyakini berada (mempribadi) kepada benda-benda yang memiliki kosa kata Tu atau To, seperti : wa-Tu (Batu), Tu-rumbuk (pohon beringin), Tu-gu, Tu-lang, Tu-ndak (bangunan berundak), Tu-tud (hati,limpa), To-san (pusaka), To-peng, To-ya (air). Dan melalui sarana benda-benda ini, masyarakat Pra Sejarah melakukan persembahan dalam bentuk sesaji.

Sesaji yang diletakkan di benda-benda alam ini, kemudian disalah artikan sebagai bentuk penyembahan kepada benda-benda alam (animisme). Padahal sejatinya merupakan sarana peribadatan kepada “Sang Pencipta”, dalam bentuk sajian yang disebut Tumpeng.

Referensi :
1. Sejarah Nasi Ambeng, oleh Dr. Agus Sunyoto (Youtube)
2. Kapitayan : Agama Bangsa Nusantara
3. Agama kapitayan dan Sejarah Nasi Ambeng

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. Tanah Punt, Sundaland dalam Legenda Leluhur Bangsa Nusantara?
3. [Misteri] Kuil Hatshesut (dari masa 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?).
4. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?

Misteri Malaikat Jibril, Jurus Naruto dan Penelitian Sains tentang “Ghost illusion” ?

Bagi penggemar serial kartun Naruto, tentu tidak asing dengan istilah “Kage Bunshin no Jutsu”, yakni salah satu jurus yang bisa memperbanyak diri.

Dengan menggunakan jurus ini, “Naruto” bisa menyembunyikan sosok aslinya, ketika sedang bertempur. Musuh akan dibuat kebingungan, dengan munculnya ratusan bayangan yang mirip dengan sang tokoh.

naruto1a
Kage Bunshin no Jutsu dalam tinjauan Sains

Sekelompok peneliti dari National University of Singapore, belum lama ini berhasil mengembangkan prototipe alat yang memiliki kemampuan mirip jurus “Kage Bunshin no Jutsu”.

Setelah melakukan berbagai riset, tim ini berhasil membuat sebuah benda menjadi tidak terlihat, dan pada saat bersamaan muncul ilusi bayangan lain (ghost illusion) dari benda tersebut di tempat yang lain.

Menurut Cheng-Wei Qiu, fisikawan dari National University of Singapore, dengan menggunakan alat ini, kita mampu mengontrol bagaimana bayangan yang muncul akan terlihat (Sumber : kompas.com).

Sejauh ini, prototipe alat ini baru mampu menciptakan satu bayangan tipuan, yang bekerja pada pemindai dua dimensi seperti radar. Pengembangan ke depan, ditargetkan mampu untuk merubah bentuk dari bayangan yang tercipta.

ilusi1
Misteri Tugas Malaikat Jibril

Imam al-Shuyuti dalam al-Hawi li al-Fatawa menjelaskan bahwa malaikat Jibril masih tetap bertugas turun ke Bumi.

Dalam kitab itu, beliau mencantumkan sebuah hadits yang di-riwayatkan oleh al-Thabrani.

“Dari Maimunah binti sa’ad, dia berkata: “Wahai Rasulullah, bolehkah seseorang tidur dalam keadaan junub?

Kemudian Nabi menjawab “Aku tidak suka jika ia (orang yang junub) tidur sebelum mengambil wudlu’, aku khawatir ia lantas mati (dalam keadaan berhadats), sehingga tidak dihadiri oleh Malaikat Jibril.”

Hadits ini, menurut al-Suyuthi, secara tersurat menjelaskan bahwa Malaikat jibril selalu turun ke bumi untuk menghadiri setiap orang mukmin yang wafat dalam keadaan suci dari hadats (Sumber : inspirationyourlife.blogspot.co.id).

Logika-nya, ketika ada dua orang mukmin yang wafat secara bersamaan, di tempat yang berbeda. Atas karunia ALLAH, Malaikat Jibril bisa menggandakan dirinya.

Meskipun ada kemiripan dengan jurus “Kage Bunshin no Jutsu” milik Naruto, kemampuan Malaikat Jibril dalam memperbanyak diri, bukanlah bersifat ilusi bayangan, namun sejatinya merupakan sosok yang sama, dan bisa berada dalam berbagai tempat yang berbeda.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Mukjizat Jasad Para Syuhada Perang Uhud ?
2. [Analisa Video] Misteri Penampakan Jin Naik Haji ?
3. [Misteri] 8.000 anggota Pasukan Mujahidin, yang bisa berjalan di atas air?
4. [Misteri] H.O.S. Tjokroaminoto (Guru Presiden Soekarno), yang pernah dikunjungi Rasulullah?

[Makna Logis] Nabi Adam diciptakan ALLAH, seperti bentuk-nya?

Banyak yang keliru, dalam menafsirkan hadis berkenaan dengan penciptaan Adam. Hadits tersebut berbunyi :

“Sesungguhnya ALLAH menciptakan Adam seperti bentuk-nya”

Mereka beranggapan bahwa maksud dari hadits ini, bentuk dari Adam (manusia) merupakan replika dari bentuk yang menciptakannya.

Tentu pemikiran ini sangat ganjil, karena makhluk tidak mungkin serupa dengan Pencipta-nya, sebagaimana firman ALLAH : “…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat” (Qs. asy-Syura (42) ayat 11).

sci4
Makna Logis dari Hadits

Di kalangan ahli kalam berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kata ganti (nya), dalam hadits diatas, tidak ditujukan kepada ALLAH, melainkan kepada Adam itu sendiri (Sumber : Rasionalitas Nabi, karangan Ibnu Qutaibah).

Setiap makhluk memiliki ketetapannya masing-masing. Seorang manusia pada umumnya memiliki dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga, serta tubuh yang berdiri tegak, sementara makhluk lainnya juga memiliki ketetapan dalam bentuk yang berbeda.
manusia1bTafsiran lain dari hadis tersebut adalah makna bentuk disini dalam artian sifat. Manusia bisa mendengar, melihat dan berpengetahuan sebagaimana Sang Pencipta.

Akan tetapi, sifat mendengar, melihat dan berpengetahuan yang dimiliki ALLAH, tentu tidak sama dengan sifat yang ada pada semua makhlukNya.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Islam bukan hanya mengakui Patrilineal (alur keturunan laki-laki) ?

Di masa Khalifah Harun al-Rasyid, hidup tokoh ulama dari kalangan ahlul bayt, yang bernama Sayyidina Musa al Kazhim bin Ja’far al Sadiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin al Sajjad bin Hussein radiAllahu anhu bin Ali karramallahu wajhah.

Sang Khalifah sedikit terganggu, dengan kebiasaan umat muslim pada saat itu, yang memanggil Sayyidina Musa dengan panggilan “ibnu Rasul” (putera Rasulullah).

Padahal berdasarkan ilmu nasab, Musa al Kazhim lebih tepat dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib (suami dari Sayyidatuna Fatimah az-Zahra’ binti Muhammad Rasulullah).

keluarga

Khalifah Harun-pun memanggil Sayyid Musa untuk menghadap, dan ketika hal tersebut ditanyakannya, Sayyid Musa menjawab :

“Aku berlindung kepada Allah dari (godaan) setan yang terkutuk. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “… dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih.” (QS al-An’am [6]: 84-85).

Lalu, siapa ayah Nabi Isa?

Ditanya balik seperti itu, segera Khalifah Harun menjawab “Nabi Isa tidak memiliki ayah”

Kemudian Musa al Kazhim berkata :

“Tetapi, mengapa Allah Azza wa Jalla menisbatkannya kepada keturunan para nabi melalui ibunya, Maryam ? Maka demikian pula kami (Ahlul-Bayt) dinisbatkan kepada keturunan Nabi melalui ibu kami, Fathimah binti Muhammad Rasulullah”

(sumber : ahlulbaitrasulullah.blogspot.com)

Dari keterangan Sayyid Musa al Kazhim jelaslah bahwa berdasarkan dalil Kitabullah Al Qur’an, Islam tidak hanya mengenal alur keturunan dari pihak ayah (pria), melainkan juga mengakui alur keturunan dari pihak ibu (wanita).

WaLlahu a’lamu bishshawab