Tag Archives: politik

Keluarga Jusuf Kalla, Silsilah Sultan Hasanuddin Makassar dan Ratu Siti Malangkai ?

Seorang pujangga besar Melayu keturunan Bugis, yang bernama Raja Ali Haji, di dalam kitabnya “Tuhfat an Nafis“, menyatakan Leluhur Suku Bugis bermula dari seorang Ratu di daerah Luwuk yang bernama Ratu Siti Malangkai.

Melalui bukunya itu, Raja Ali Haji berpendapat Ratu Siti Malangkai, merupakan keturunan dari Nabi Sulaiman, melalui isterinya yang bernama Ratu Balqis (Sumber : Dari Ratu Balqis, sampai kepada Fatin Shidqia Lubis).

Makam Sayyid Jalaluddin, wafat tahun 1453M

Makam Syekh Jamaluddin, wafat tahun 1453M

Masuknya Islam di Sulawesi Selatan

Beberapa abad kemudian, anak keturunan Ratu Siti Malangkai, berkembang menjadi beberapa kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan. Salah satu negeri yang cukup terkenal adalah Kerajaan Gowa Tallo.

Pada sekitar abad ke-15, Kerajaan Gowa Tallo, kedatangan seorang mubaligh bernama Syekh Jamaluddin Husain Akbar. Beliau datang untuk menyampaikan risalah Islam di kerajaan ini.

Dakwah yang dilakukan Syekh Jamaluddin, mendapat simpati dari penguasa Gowa ketika itu, bahkan salah seorang putri kerajaan Gowa Tallo menjadi istri Sang Mubaligh.

Kelak dari zuriat Syekh Jamaluddin ini, lahir seorang ulama terkemuka yang bernama Syekh Yusuf al-Makassari dan seorang pemimpin yang terkenal, bernama Sultan Hasanuddin (Sumber : Majelis Dakwah Walisongo dan Syekh Yusuf al-Makassari).

kalla1

Keluarga Yusuf Kalla

Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK), lahir di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan), pada tanggal 15 Mei 1942. Ia adalah Wakil Presiden Indonesia yang menjabat pada periode 2004 – 2009 dan Ketua Umum Partai Golongan Karya pada periode yang sama (Sumber : wikipedia).

Ayah JK, bernama Haji Kalla, beliau adalah Pendiri Kelompok Usaha Kalla Group, sementara ibunya bernama Athirah, yang berasal dari Keluarga Bangsawan Bugis Kerajaan Bone (Sumber : Mengenal Hadji Kalla).

Berdasarkan penyelusuran genealogy, Keluarga Bangsawan Bone berasal dari anak keturunan I Panusurang Daeng Manassa Tumenanga RI Campagana, yang berupakan saudara ipar dari Raja Gowa Tallo, Sultan Alauddin (Sumber : SANROBONE).

Berikut hubungan kekerabatan, Jusuf Kalla dengan Sultan Hasanuddin Makassar…

azmatbugis1
WaLlahu a’lamu bishshawab

Kisah Rambut Putih Hatta Rajasa, Silsilah Keluarga Basyaiban dan Trah Kerajaan Majapahit ?

Hatta Rajasa, yang saat ini merupakan Ketua Umum PAN (Partai Amanat Nasional), memiliki ciri khusus pada rambut yang memutih di kepalanya.

Ketika ditanya tentang rambut putihnya itu, Hatta menceritakan bahwa rambutnya mulai memutih sejak masa kuliah.  Dan menurutnya rambut putihnya tersebut, sudah turunan kakeknya (sumber : Rambut Putih Hatta).

hatta4Saat Kuliah di ITB

hatta1Hatta Rajasa Sekarang

Kisah Rambut Putih, dari negeri Yaman

Sekitar 600 tahun yang lalu, peristiwa memutihnya rambut seseorang terjadi di Hadramaut Yaman. Peristiwa ini bermula dari menghilangnya seorang pemuda bernama  Sayyid Abubakar bin Muhammad Asadillah.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, sang pemuda muncul kembali dengan perawakan wajah yang masih terlihat muda, hanya rambut dikepalanya saja yang memutih. Peristiwa karamah ini membuatnya mendapat sebutan BaSyeiban/BaSyaiban/Basy-Syaiban/BaSyayban (باشيبان) dari rambutnya yang putih (syaiban/شيبان) (sumber : Keluarga Basyaiban).

Dan bermula dari Asy-Syaikh Al-Imam Abubakar BaSyeiban, marga “Basyaiban” menyebar ke seluruh penjuru dunia.

hatta2

Hatta Rajasa dan Kelurga Basyaiban

Apabila kita membaca biografi Hatta Rajasa, didapat informasi bahwa ia lahir pada 18 Desember 1953, ayahnya bernama H. Muhammad Tohir, berasal dari Desa Jejawi Ogan Ilir Sumsel dan ibunya bernama Hj. Aisyah dari Desa Adumais OKU Timur Sumsel.

Dari pihak ibunya Hatta Rajasa memiliki leluhur, penyebar Islam di daerah Komering yang bernama Tuan Idrus Tanjung Salam.

Melalui Tuan Idrus Tanjung Salam inilah, diperkirakan adanya hubungan Genealogy, antara Hatta Rajasa dan Imam Abubakar Basyeiban.

Untuk lebih jelasnya sebagai berikut :

Abubakar Basyaiban, yang wafat tahun 807 H, memiliki putera Muhammad dan Ahmad. Dimana Ahmad bin Abubakar Basyaiban mempunyai 3 putra:’Ali, ‘Abdullah dan Muhammad asy Syaibah

Muhammad asy Syaibah bin Ahmad Basyaiban berputra : Umar lahir 881 H dan wafat 944 (945 H) di Qosam. Kemudian Umar bin Muhammad Basyaiban berputra 2 orang: ‘Abdullah lahir dan wafat 914 H di Qosam dan ‘Abdurrahman lahir dan wafat 973H /993 H di Qosam

‘Abdurrahman bin ‘Umar Basyaiban wafat 973 H/ 993 H di Tarim, melalui isterinya Ratu Winaon (lahir 1477) binti Sunan Gunung Jati, memiliki beberapa putra, antara lain :

1.Muhammad @ Tandipulau hijrah ke Aceh Darussalam dan wafat di Komering Palembang
2.Ahmad @ Tuan Idrus Tanjung Salam hijrah ke Aceh Darussalam dan wafat di Komering Palembang. Sayyid Ahmad merupakan leluhur masyarakat Desa Adumanis, OKU Timur Sumatera Selatan.

hatta3
Hatta Rajasa dan Trah Majapahit

Leluhur Hatta Rajasa, dari pihak ayahnya ada keterkaitan dengan seorang Mangkubumi dari Kerajaan Mataram Islam, bernama Raden Mas Bayangan (Buyut Panjang).

Raden Mas Bayangan ini, mendapat tugas untuk menjaga wilayah pertahanan di sekitar Desa Jejawi dari Kesultanan Palembang Darussalam.

Keberadaan keluarga kerajaan Mataram Islam ini, nampaknya menghubungkan Hatta Rajasa, dengan Pendiri Kerajaan Mataram Islam, Panembahan Senapati.

Melalui Panembahan Senapati, Hatta Rajasa akan terhubung dengan Dinasti Kerajaan Majapahit, sebagaimana kita tahu Silsilah dari Pendiri Mataram Islam adalah :

Panembahan Senapati bin Nyai Sabinah binti Ki Ageng Saba bin Nyai Made Pandan binti Sunan Dalem Kidul bin Sunan Giri bin Dewi Sekardadu binti Prabu Menak Sembayu bin Bhre Wirabhumi bin Prabu Hayam Wuruk (Trah Majapahit)

WaLlahu a’lamu bishshawab

PRABOWO SUBIANTO, dari Trah GIRI KEDATON dan Silsilah SUNAN TEMBAYAT

Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo, lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951. Beliau dikenal sebagai seorang mantan Danjen Kopassus, yang menjadi pendiri Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA).

Jiwa keprajuritannya, sepertinya di-ilhami oleh salah seorang leluhurnya Raden Tumenggung Kertanegara IV (Raden Panji Indrajit/Tumenggung Banyakwide), yang merupakan Panglima Laskar Pangeran Diponegoro di wilayah Gowong (Kedu).

Trah Adipati Mrapat Banyumas

Jika diselusuri lebih mendalam, Silsilah Prabowo Subianto akan menuju kepada Raden Joko Kahiman, atau yang lebih dikenal sebagai Adipati Mrapat (Bupati Banyumas Pertama).

Raden Joko Kaiman adalah menantu Bupati Wirasaba, yang bernama Adipati Warga Hutomo. Beliau digelari “Mrapat”, disebabkan keberhasilannya untuk mendamaikan Sultan Hadiwijaya (Pajang) dengan ahli waris Adipati Warga Hutomo, dan ia juga dinilai berhasil mencegah perpecahan di wilayah Kabupaten Wirasaba (silahkan baca : Prabowo Subianto, Adipati Mrapat dan Gegeran Kadipaten Wirasaba) .

Hubungan antara Prabowo Subianto, dengan Adipati Mrapat, bisa dilihat pada Jalur Silsilah berikut :

01. Letjen TNI Prabowo Subianto
02. Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo
03. Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo

04. Raden Tumenggung Mangkuprodjo
05. Raden Kartoatmodjo menikah dengan R.A Djojoatmojo (Cicit dari Sultan Hamengkubuwono II).
06. Raden Muhammad

07. Raden Tumenggung Kertanegara IV (Panglima Laskar Diponegoro wilayah Gowong (Kedu))

08. Raden Tumenggung Kertanegara III
09. Raden Tumenggung Kertanegara II

10. Raden Tumenggung Mangkupradja/Raden Tumenggung Kertanegara I (Patih Ndalem Kartasura, beliau yang membangun Masjid Saka Tunggal Kebumen tahun 1722 ).

11. Ngabei Kertoyudo
12. Ngabei Banyakwide

13. Raden Tumenggung Mertayuda (Adipati Banyumas ke-empat (1620-1650))
14. Ngabei Kalidethuk/Mertasura II (Adipati Banyumas Ke-tiga (1601-1620))
15. Ngabei Djanah/Mertasura I (Adipati Banyumas Ke-dua (1583-1600))

16. Adipati Mrapat (Adipati Banyumas Pertama (1582-1583))

{Berdasarkan catatan ahli Nasab Raden Fatah, KH.Abdullah Faqih Cemoro, Adipati Mrapat terhitung sebagai salah seorang cicit Raden Fatah.

Adipati Mrapat (Raden Joko Kaiman) bin Pangeran Haryo Joyohadikusumo bin Pangeran Sekar Seda Lepen (Raden Kikin) bin Raden Fattah (Pendiri Kerajaan Demak Bintoro)}

Dari data Silsilah di atas, salah seorang leluhur Prabowo bernama Raden Kartoatmodjo menikah dengan R.A Djojoatmojo (Cicit dari Sultan Hamengkubuwono II).

Melalui Sultan Hamengkubuwono II, jalur genealogy Prabowo Subianto menyambung kepada Sunan Giri (Pendiri Khilafah Giri Kedaton) dan Sunan Tembayat.

I. Jalur Kepada Sunan Giri 

01. Letjen TNI Prabowo Subianto
02. Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo
03. Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo

04. Raden Tumenggung Mangkuprodjo
05. Raden Ayu Djojoatmojo

06. Raden Tumenggung Djojodiningrat

07. KGPA Moerdoningrat

08. Sri Sultan Hamengkubuwono II

09. Sri Sultan Hamengkubuwono I

10. Sri Susuhunan Amangkurat Mas II (Sunan Amangkurat IV)
11. Sri Susuhunan Pakubuwana I (Pangeran Puger)

12. Sunan Amangkurat I
13. Sultan Agung Hanyokrokusumo
14. Prabu Hanyakrawati
15. Panembahan Senapati (Pendiri Kraton Mataram Islam)

16. Nyai Sabinah (isteri Ki Ageng Pemanahan)
17. Ki Ageng Saba
18. Nyai Made Pandan
19. Sunan Dalem (Sunan Giri II)
20. Sunan Giri (Pendiri Khilafah Giri Kedaton)

II. Jalur Kepada Sunan Tembayat

01. Letjen TNI Prabowo Subianto
02. Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo
03. Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo

04. Raden Tumenggung Mangkuprodjo

05. Raden Ayu Djojoatmojo

06. Raden Tumenggung Djojodiningrat

07. KGPA Moerdoningrat

08. Sri Sultan Hamengkubuwono II

09. Sri Sultan Hamengkubuwono I

10. Sri Susuhunan Amangkurat Mas II (Sunan Amangkurat IV)
11. Sri Susuhunan Pakubuwana I (Pangeran Puger)

12. Kanjeng Ratu Pelabuhan (istri Sunan Amangkurat I)
13. Pangeran Kajoran (Panembahan Rama)
14. Ki Ageng Wanakusuma II
15. Ki Ageng Wanakusuma
16. Ki Ageng Giring IV
17. Ki Ageng Giring III (semasa dengan Ki Ageng Pemanahan)
18. Nyai Ageng Giring II (istri Ki Ageng Giring II)
19. Sunan Tembayat

Sunan Tembayat atau Pangeran Mangkubumi merupakan penyiar Islam di tanah Jawa. Dia adalah anak dari Ki Ageng Pandan Arang yang lebih dikenal sebagai bupati pertama Semarang dan Pendiri Masjid Agung Semarang pada tahun 1575 M. (sumber: republika.co.id).

Catatan Penambahan

1. Hubungan Kekerabatan antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi)

trahjokoprabowo2
2. Prabu Hayam Wuruk sampai ke Prabowo Subianto

silsilahprabowo1

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Pendapat yang menyatakan ayahanda R. Djoko Kaiman (Adipati Mrapat), bernama Raden Banyak Sostro, sangat LEMAH, disebabkan :

a. Hanya berdasarkan kisah Mitos (Legenda)
b. Keduanya berbeda masa kehidupannya, jika Raden Banyak Sastro, adalah generasi ke-2 dari Prabu Niskala Wastu Kencana, sementara Raden Djoko Kaiman, satu generasi dengan Maulana Muhammad (Sultan Banten, 1585-1596), yang merupakan generasi ke-7 dari Prabu Niskala Wastu Kencana.
c. Istri Raden Djoko Kaiman adalah generasi ke-7 dari Prabu Niskala Wastu Kencana (dalam Kisah Rakyat Banyumas), sementara kalau kita berpendapat R. Djoko Kaiman adalah anak dari Raden Banyak Sostro, berarti yang bersangkutan adalah generasi ke-3 dari Prabu Niskala Wastu Kencana.
d. Jika Raden Djoko Kaiman adalah keturunan Prabu Niskala Wastu Kencana, maka ada sekitar 4 generasi yang hilang.

Referensi :

1. Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara
2. Silsilah Keluarga “Sang Patriot, Prabowo Subianto”
3. Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?
4. Silsilah Rhoma Irama dan Trah Bangsawan Sukapura
5. Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Silsilah Rhoma Irama dan Trah Bangsawan Sukapura

Jika kita membaca biografi Sang Raja Dangdut, Oma Irama (Rhoma Irama), akan kita dapati informasi, bahwa beliau adalah putra dari Raden Burdah Anggawirya.

Raden Burdah Anggawirya, adalah mantan komandan gerilyawan Garuda Putih Tasikmalaya, pada masa perang kemerdekaan. Dan beliau berasal dari keluaga bangsawan Tasikmalaya, yang di masa lalu lebih dikenal sebagai Sukapura.


Bangsawan Sukapura (Tasikmalaya)

Jika kita menyelusuri Genealogy Kaum Bangsawan Sukapura, mereka ada yang berasal dari keturunan Tumenggung Wiradadaha (Wirawangsa), sebagian lagi adalah keturunan dari Raden Suryadiwangsa (Suryadiningrat I).

Kedua leluhur kaum bangsawan Sukapura ini, memiliki garis silsilah sebagai berikut :

Tumenggung Wiradadaha (Wirawangsa)
Tumenggung Wiradadaha (Wirawangsa) bin Raden Entol Wiraha bin Pangeran Kusumah Diningrat bin Sayyid Abdul Halim (Pangeran Benawa) bin Sayyid Abdurrahman (Jaka Tingkir) bin Sayyid Shihabudin (Ki Ageng Pengging) bin Sayyid Muhammad Kebungsuan (Handayaningrat)  bin Maulana Husain Jumadil Kubro bin Syeikh Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Azmatkhan bin Sayyid Abdul Malik Al-Muhajir bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

Raden Suryadiwangsa (Suryadiningrat I)
Raden Suryadiwangsa (Suryadiningrat I) bin Raden Abdullah Malaka bin Maulana Abdul Qadir (Pati Unus) bin Raden Muhammad Yunus bin Syekh Abdul Khaliq al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi bin Imam Muhammad Al Faqih Al Muqaddam bin Sayyid Ali Ba Alawi bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

Dalam versi yang lain disebutkan bahwa Tumenggung Wiradadaha (Wirawangsa) adalah keturunan dari Raden Suryadiwangsa (Suryadiningrat I), dan ada juga yang menyebutkan sebagai keturunan dari Panembahan Senapati Mataram (melalui jalur ibunya Nyai Sabinah, Panembahan Senapati adalah salah seorang zuriat dari Syeikh Muhammad Shohib Mirbath).

Dengan demikian, bisa dikatakan Para Bangsawan Sukapura (Tasikmalaya), adalah keturunan dari Syeikh Muhammad Shohib Mirbath, yang merupakan seorang ulama dari Hadramaut (Yaman).

Sementara Silsilah Syeikh Muhammad Shohib Mirbath, sampai kepada Rasulullah adalah :

Syeikh Muhammad Shohib Mirbath bin ‘Ali Khali Qasam bin ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah bin ‘Alwi al-Mubtakir bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa An-Naqib bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husain Asy-Syahid bin Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :

1. Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara
2. Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?
3. Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Catatan :

1. Dari penyelusuran genealogy, kami memperoleh data, bahwa ibu dari Oma Irama, yang bernama Tuti Juariah adalah keturunan dari Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa Banten.

2. Silsilah Pangeran Sogiri – Sunan Gunung Jati – Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa bin Sultan Abulmu’ali Ahmad bin Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir bin Maulana Muhammad bin Maulana Yusuf bin Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati bin Sayyid Abdullah Umdatuddin bin Sayyid Ali Nurul Alam bin Maulana Husain Jumadil Kubro bin Syeikh Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Azmatkhan bin Sayyid Abdul Malik Al-Muhajir bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

3. Silsilah Pangeran Sogiri – Pangeran Ahmad Jakerta  – Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

Berdasarkan catatan Nurfadhil Al-Alawi Al-Husaini, pemerhati silsilah Kesultanan Banten, jalur Pangeran Sogiri sebagai berikut :

Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa bin Ratu Marta Kusuma binti Pangeran Ahmad Jakerta bin Pangeran Sungerasa Jayawikarta bin Ratu Ayu Pembayun (istri dari Pangeran Jayakarta II/Tubagus Angke) binti Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati bin Sayyid Abdullah Umdatuddin bin Sayyid Ali Nurul Alam bin Maulana Husain Jumadil Kubro bin Syeikh Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Azmatkhan bin Sayyid Abdul Malik Al-Muhajir bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath (sumber)

4. Silsilah Pangeran Sogiri – Sunan Ampel

Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa bin Sultan Abulmu’ali Ahmad bin Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir bin Maulana Muhammad bin Maulana Yusuf bin Ratu Ayu Kirana Purnamasidhi binti Dewi Murtasimah binti Sunan Ampel

Rasulullah, tidak Berpolitik

Ada yang berpendapat, Nabi Muhammad adalah seorang ahli politik.
Dan dengan ilmu politik yang dimilikinya, beliau bisa menjadi seorang penguasa, yang menjadikan jalan baginya, dalam menyiarkan Islam.

Akan tetapi, setelah dikaji lebih mendalam, pendapat itu sangat keliru,
bahkan, di dalam sejarah hidupnya, beliau pernah menolak untuk berpolitik.
.
.
Sejarah Politik

Politik adalah berasal dari bahasa Yunani Kuno, pada sekitar tahun 400 SM. Politik berasal dari kata Polis, yang berarti negara. Akan tetapi yang dimaksud negara pada saat itu, masih berupa kota, dengan demikian yang dimaksud negara pada karya-karya pemikir Yunani saat itu, masih dalam ruang lingkup terbatas, yakni sebuah kota.

Di masa itu, pemikir-pemikir Yunani Kuno memunculkan karya-karya yang monumental diantaranya Socrates, Plato dan Aristoteles. Plato sebagai salah seorang murid utama Socrates, memunculkan karya politik yang berjudul Republik, yang merupakan pengungkapan gambaran suatu negara yang ideal.

Pemikiran-pemikiran kenegaraan dari Socrates, Plato dan Aristoteles pada kala itu, dimotivasi atas munculnya pemikiran kaum Sofist di masyarakat Yunani Kuno ketika itu. Kaum Sofist adalah suatu kaum yang lebih mementingkan diri sendiri daripada masyarakat banyak. Menurut mereka hukum itu adalah hak dari yang terkuat, yang dapat dipaksakan kepada orang lain demi kepentingan pribadi belaka. Dari hasil tukar pikiran dengan kaum Sofist, bermunculan karya-karya Plato, seperti Republik (Politea/Negara), Politikos (Negarawan) dan Nomoi (Undang-undang).

Pemikiran seorang Plato, yang didasarkan kepada ra’yu (logika) ternyata sudah lepas landas dari bimbingan Taurat. Membangun negara yang ideal menurut logika seorang Plato, tidak didasarkan kepada Petunjuk Ilahi, sehingga memiliki berbagai kelemahan dalam menata masyarakat manusia. Dan saat ini, ilmu Politik yang disumbangkan Plato, telah berkembang menjadi ilmu yang mempelajari kekuasaan dalam masyarakat.


Teladan Rasulullah

Ketika para pembesar Quraisy menawarkan kekuasaan pada Muhammad SAW, dengan syarat beliau mau menghentikan dakwahnya. Demi tugas menyebarkan risalah yang diembannya, Rasulullah SAW menolak tawaran itu.

Kalau saja, pada saat itu Rasulullah SAW mau sedikit ‘berpolitik’ dan memanfaatkan kekuasaan yang diperolehnya untuk menyiarkan dakwah Islam, bisa jadi perjuangannya tidak akan seperti yang sudah terukir dalam sejarah. Bisa jadi perjuangannya lebih mudah dan ringan.

Namun, Rasulullah SAW tidak mau ambil tindakan yang instant, lewat jalur politik atau kekuasaan. Beliau lebih mengutamakan jalur Siyasah, dengan memunculkan karya unggulan, yang kemudian jadi suri teladan bagi pengikutnya.

Kisah keteladanan Rasulullah SAW ini dapat dibaca dalam QS. Al Ahzab ayat 21,
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Rasulullah SAW lebih memilih jalan yang berliku dan terjal, jalan yang penuh tetesan darah dan air mata. Jalan yang diridai Allah SWT, bukan jalan yang semata bertujuan membangun kekuasaan, yang bersifat sesaat dan fana.

Terbukti langkah yang diambil Rasullah SAW ini berhasil. Kepeloporan Rasulullah SAW, yang kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, melahirkan masa kejayaan umat Islam selama 7 abad. Satu masa kejayaan yang tidak singkat dan itu hanya dapat terjadi karena langkah benar yang diambil oleh Rasulullah SAW.
.

Bagaimana dengan diri kita?

Apakah kita sudah memilih jalur yang lebih sulit tetapi benar dan lurus untuk mencapai tujuan kita?

Mungkin ada banyak jawaban dan pemikiran. Namun satu hal yang mesti kita ingat dan rasanya siapapun juga tahu pepatah ini. Segala sesuatu yang didapatkan dengan mudah, biasanya mudah pula hilangnya. Sebaliknya segala sesuatu yang diperoleh dengan susah payah, penuh perjuangan, biasanya akan bertahan lama, kokoh mengakar karena kuatnya perjuangan untuk mendapatkannya.

Rasanya tidak berlebihan kalau kita mengikuti pepatah tersebut, untuk apa saja yang kita lakukan dan kita inginkan. Mendapatkan sesuatu dengan cepat dan instanst boleh-boleh saja, tapi pastikan kita memperolehnya melalui jalan yang benar. Karena kalau tidak, biasanya akan menimbulkan penyesalan yang berkepanjangan.