Tag Archives: dakwah

Kisah Dakwah Nabi Muhammad Kepada Bangsa Jin ?

Di dalam riwayat Shahih Muslim, diceritakan tentang dakwah Nabi kepada Bangsa Jin.

Keterangan :

Bahwa Alqamah bertanya kepada sahabat Ibnu Mas’ud,

”Apakah ada diantara kalian yang ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam beliau bertemu jin?”

Kemudian Ibnu Mas’ud menjawab :

”Tidak, hanya saja, pada suatu malam, sebelumnya kami bersama Rasulullah. Tiba-tiba kami kehilangan beliau, dan kamipun mencari beliau di lembah dan semak-semak (setapak jalan ke gunung).

Hingga kami mengatakan, ’Beliau dibawa pergi oleh jin.’ Malam itu, kami menjalani malam paling buruk.

Dan di pagi harinya, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira. Kamipun segera menyambut beliau,

’Ya Rasulullah, kami kehilangan anda dan kami berusaha mencari anda, namun kami tidak berhasil menemukan anda. Sehingga kami merasa sangat sedih di malam itu.”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَتَانِي دَاعِي الْجِنِّ فَذَهَبْتُ مَعَهُ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ

”Ada seorang dari kalangan jin yang mendatangiku, akupun pergi bersamanya dan aku bacakan ayat al-Quran kepada mereka.”

Ibnu Mas’ud melanjutkan ceritanya, Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi bersama kami. Kamipun melihat bekas mereka dan bekas api mereka. Dan mereka meminta bekal hidup. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَكُمْ كُلُّ عَظْمٍ ذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ يَقَعُ فِي أَيْدِيكُمْ أَوْفَرَ مَا يَكُونُ لَحْمًا وَكُلُّ بَعْرَةٍ عَلَفٌ لِدَوَابِّكُمْ

Pada setiap tulang hewan yang disembelih secara syar’i, akan berisi penuh daging di tangan kalian. Dan setiap kotoran hewan ternak, menjadi makanan binatang kalian (jin).

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

فَلَا تَسْتَنْجُوا بِهِمَا فَإِنَّهُمَا طَعَامُ إِخْوَانِكُمْ

”Janganlah kalian melakukan istinjak dengan tulang dan kotoran, karena itu makanan saudara kalian (dari bangsa jin).”

Referensi :
1. konsultasisyariah.com
2. shirathal-mustaqim.org
3. mutiarahadits.com

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik
1.
2. 
3. Masya ALLAH, inilah “batu memancarkan air”, yang diceritakan dalam Al Qur’an ?
4. Masya Allah… inilah 12 Pendapat Tokoh Non Muslim, tentang “Nabi Muhammad” !!

Catatan Penambahan :

1. Di dalam Al Qur’an, terdapat beberapa dalil berkenaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah kepada bangsa para jin.

Di dalam QS. Al-Ahqaf: 29, diterangkan sebagai berikut :

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِين

Ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al- Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan al-Quran, lalu mereka berkata:

“Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (bangsa jin) untuk memberi peringatan.

Ibnu Katsir menukil keterangan dari Ibnu Abbas, menyatakan bahwa bahwa jumlah mereka ada 7 jin yang semuanya rajin ibadah. (Tafsir Ibn Katsir, 7/289).

2. Setelah Para Jin beriman, mereka kemudian mendakwahi kaumnya di kalangan jin. Sebagaimana firmanNya :

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ ( ) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ( ) وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Mereka berkata: “Hai kaum kami, Sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

Hai kaum Kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih

dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah Maka Dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Al-Ahqaf: 30-32).

Iklan

Mengapa Wali Songo memiliki nama Tionghoa (China) ?

Melalui bukunya “Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara”, sejarawan Slamet Muljana mengundang kontroversi. Ia berpendapat bahwa Wali Songo beretnis Tionghoa, serta memiliki nama china berikut fam (marga)-nya.

Pendapat Slamet Muljana ini tentu mendapat sanggahan dari berbagai pihak, namun tidak bisa dipungkiri, perkembangan Islam di Nusantara tidak lepas dari peran Komunitas Muslim Tionghoa (Cina).

Berikut beberapa peristiwa yang menunjukkan, pengaruh dari Dakwah Masyarakat Muslim Tionghoa di Nusantara pada era Wali Songo (sekitar abad ke 15 Masehi).

muslimcina
Komunitas Muslim Tionghoa di Palembang

Ketika daratan Tiongkok dikuasai Dinasti Ming, seorang perwira angkatan laut Dinasti Yuan, bernama Chen Tsu Ji, bersama ribuan pengikutnya, melarikan diri ke po-lin-fong (Palembang).

Di Palembang, Chen Tsu Ji membangun basis kekuatan disekitar sungai musi. Kapal-kapal yang melewati wilayah tersebut, harus membayar upeti kepada mereka (sumber : Armada Laksamana Cheng Ho dan Sejarah Pempek Palembang ?).

Pada tahun 1407, seorang Laksamana Muslim Dinasti Ming “Cheng Ho (Zheng He)”, berlabuh di Palembang bersama sekitar 27.800 bala tentara. Melalui pertempuran yang sengit, Chen Tsu Ji berhasil ditawan dan dibawa ke Peking.

Sejarah mencatat, setelah Laksamana Cheng Ho menumpas kelompok Chen Tsu Ji, diangkatlah seorang Duta Xuan Wei oleh Kaisar Ming di Palembang bernama Shi Jinqing. Kelak salah seorang putri Shi Jinqing yang bernama Nyai Gedhe Pinatih (Pi Na Ti), dikenal sebagai penyebar Islam di Jawa dan menjadi ibu asuh dari Raden Paku (Sunan Giri) (sumber : Kisah Nyai Gedhe Pinatih, Cheng Ho Muslim Tionghoa, Muslim China).

Peran dakwah “Bong” bersaudara di Surabaya

Di wilayah Ampel Denta (Surabaya), pada sekitar abad ke-15 M dikenal tiga bersaudara Bong (Sam Bong), yaitu Haji Bong Swi Hoo, Haji Bong An Sui, dan Haji Bong Sam Hong.

Mereka merupakan cucu Bong Tak Keng, yang berasal Sin Fun An (Pnom-penh) yang berdagang ke Majapahit sejak Prabu Rajasanegara memerintah. Ketika mendengar penguasa Surabaya yang baru dilantik adalah seorang muslim, Bong bersaudara pindah ke Surabaya.

Tiga bersaudara Bong ini dikenal sebagai penyumbang dana terbesar bagi pembangunan Masjid Ampel Denta, mereka tidak hanya dikenal sebagai saudagar yang dermawan, tetapi juga diketahui sebagai kerabat raja Surabaya, Pangeran Arya Lembu Sura (sumber : Suluk Abdul Jalil).

Sosok Haji Bong Swi Hoo, seringkali dianggap indentik dengan Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel). Namun keduanya berbeda masa kehidupannya, sebagaimana tergambar dalam skema silsilah berikut :

bong-ampel1
Tan Kim Han (Penasehat Maritim Demak)

Tan Kim Han, merupakan salah seorang pengikut perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Lambri (Aceh), mungkin tertarik terhadap komunitas Muslim yang hidup di Lambri, pada sekitar tahun 1413, ia memutuskan tinggal di sana, dan menikah dengan wanita setempat (sumber : merdeka.com, kompasiana.com).

Pengalamannya bersama armada Laksamana Cheng Ho, sepertinya sangat bermanfaat bagi Kesultanan Demak dalam membangun pertahanan lautnya. Selain itu, Tan Kim Han, juga dikenal sebagai penyebar Islam di wilayah Jawa Timur dan dikenal bernama Syekh Abdul Qodir al-Shini.

Salah seorang putera Tan Kim Han, bernama Abdul Halim Tan Eng Hoat dikenal sebagai Panglima Angkatan Laut yang terkemuka. Tan Eng Hoat berperan sangat besar ketika memimpin Kesatuan Naga Laut dari Negeri Caruban, saat berhadapan dengan Rajagaluh.

Muslim Tionghoa di Caruban (Cirebon)

Dalam tradisi masyarakat Cirebon pada masa abad ke-15, selain tokoh Tan Eng Hoat (bergelar Maulana Ifdhil Hanafi), dikenal juga Tan Sam Cai (ahli keuangan di masa awal Kesultanan Cirebon).

Tan Sam Cai alias Muhammad Syafi’i alias Tumeng­gung Arya Dipa Wiracula, merupakan tokoh yang membangun sebuah masjid yang saat ini difungsikan sebagai Kelenteng Talang.

Indikasi bahwa kelenteng tersebut merupakan masjid, antara lain arah kelenteng yang menghadap kiblat, adanya sumur dan padasan (tempat berwudlu), tulisan kaligrafi bergaya China, dan mimbar khotbah serta tempat peng­imaman yang menjorok ke dalam (sumber : China Muslim di Jawa).

Selain itu, salah seorang istri  Sunan Gunung Jati, bernama Tan Hong Tien Nio (populer dengan sebutan Putri Ong Tien), merupakan pelopor gerakan dakwah Is­lam di Cirebon dan wilayah Jawa Barat.

Mengapa Wali Songo memiliki nama China ?

Salah satu rujukan “Teori Wali Songo berasal dari Cina” berasal dari sejarawan Belanda bernama Resident Poortman. Namun nampaknya, Poortman kurang jeli, yang berakibat tercampur-aduknya profil tokoh dari masa yang berbeda-beda.

Sosok Haji Bong Swi Hoo ternyata tokoh yang berbeda dari Sunan Ampel, dengan demikian pendapat bahwa Sunan Ampel beserta kedua anaknya Sunan Bonang dan Sunan Drajat, bermarga “Bong” adalah keliru.

Demikian juga tokoh yang bernama Adipati Hariyo Tejo (Tuban), yang dikatakan indentik dengan Kapten Gan Eng Cu, ternyata juga keliru. Hal ini dikarenakan jabatan Adipati Tuban, jelas berbeda dengan jabatan Kapiten China. Dengan demikian, identitas keturunan Gan Eng Cu yang bernama Gan Si Cang sebagai Sunan Kalijaga, otomatis juga keliru.

Kesalahan juga terjadi ketika meng-identifikasikan Panglima Demak bernama Tok A Bo sebagai Sunan Gunung Jati (sumber : tionghoa muslim). Sunan Gunung Jati jelas adalah penguasa Cirebon dan bukan Panglima Demak yang diutus ke Cirebon.

Selain akibat tertukarnya profil tokoh, gelar (nama) china yang dimiliki Wali Songo mungkin dikarenakan Sang Wali memiliki hubungan emosional atau kekerabatan dengan komunitas China Muslim.

Hal ini bisa terlihat pada Sunan Giri yang memiliki ibu asuh, Nyai Gedhe Pinatih yang ber-etnis Tionghoa, atau Sunan Bonang yang neneknya (dari pihak ibu) adalah cucu Haji Bong An Sui.

Kemungkinan lain, gelar (nama) tionghoa tersebut merupakan bentuk penghormatan warga keturunan Muslim Tionghoa kepada ulama yang membimbing mereka. Dikarenakan Wali Songo selain mengajarkan ilmu agama, juga mengayomi masyarakat muslim tionghoa dalam kehidupan kesehariannya.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Palembang Darussalam ?
3. [Misteri] Keberadaan Leluhur Nusantara di Gua Shandingdong (China), sekitar 10.000 tahun yang silam?
4. Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?

Misteri Susuhunan Tembayat, dan Dakwah Islam di Semarang, pada abad ke-15/16 Masehi ?

Di dalam buku “Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara”, tulisan Slamet Muljana, diceritakan pada tahun 1413 armada Laksamana Sam Po Bo singgah di Semarang selama satu bulan.

Sebagai muslim yang taat, Laksamana Sam Po Bo (Cheng Ho), beserta pembantunya Ma Huan dan Fe Tsin, sering kali terlihat beribadah di Masjid setempat.

sunantembayat
Dakwah Islam di Semarang (Bergota/Pragota)

Pada tahun 1392 Saka (1470 Masehi), Semarang mendapat serangan dari daerah Matahun yang didukung Mataram (Pengging, dalam versi lain) dan Demak. Akibat serangan ini, Bhatara Katwang Yang Dipertuan Samarang, gugur dan digulingkan dari kekuasaannya (sumber : radarkediri.net, Misteri Pasukan “Lebah Emas”, dalam kemelut kekuasaan Kerajaan Majapahit ?).

Peristiwa penyerangan ini, kemudian dibalas oleh Adipati Palembang Ario Dillah, dengan mengirimkan sekitar 10.000 balatentara. Dalam waktu singkat, Semarang berhasil dikuasai oleh tentara Palembang yang dibantu pasukan dari Bintara, Terung, Surabaya dan Pengging.

Selanjutnya Adipati Ario Dillah, menikahkan puteranya Raden Sahun dengan puteri Bhatara Katwang, yang bernama Nyai Sekar Kedaton. Sekaligus mengangkat putera sulungnya itu, menjadi Adipati Semarang.

Peran Raden Sahun dalam perkembangan dakwah Islam di Semarang cukup besar. Pada sekitar tahun 1418 Saka (1496 Masehi), ia meresmikan Tirang Amper sebagai pusat kegiatan penyiaran Islam.

Ditunjuk sebagai pimpinan padepokan adalah Maulana Islam (Sunan Semarang) bin Maulana Ishaq (sumber : Sejarah berdirinya Semarang, Sejarah Sunan PandanaranSunan Katong Kaliwungu).

Kedekatan Raden Sahun dengan dakwah Islam bisa dipahami, karena ibunda Raden Sahun, yang bernama Nyimas Sahilan binti Syarif Husein Hidayatullah (Menak Usang Sekampung), berasal dari keluarga ulama Penyebar Islam di Sumatera Selatan.

Serat Kandaning Ringgit Purwa mencatat, bersamaan tahun peresmian Padepokan Tiran Amper (1496 M), Adipati Semarang wafat dan digantikan oleh Raden Kaji (Sumber : Islamisasi Jawa Bagian Selatan: Studi Masjid Gala Sunan Bayat Klaten, tulisan Retno Kartini Savitaningrum Imansyah [Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Jakarta]).

Kehadiran Padepokan Islam di Tiran Amper, telah berhasil menarik minat penduduk setempat untuk memeluk Islam. Setelah wilayah Tiran Amper, kemudian dibangun juga Pesantren di daerah Pengisikan yang sekarang disebut Bubakan.

Pada abad ke-16, Semarang kedatangan beberapa tokoh penyebar Islam, diantaranya Pangeran Mande Pandan bin Pangeran Madiyo Pandan bin Pangeran Sabrang Lor bin Raden Patah (sumber : Pangeran Mande Pandan, Situs Makam Mugas Semarang), kemudian ada lagi Pangeran Mangkubumi bin Sayyid Hamzah (Pangeran Tumapel) bin Sunan Ampel.

Misteri Susuhunan Tembayat

Sejarah mencatat pada tanggal 2 Mei 1547, di Kota Semarang  mengukuhkan seorang Adipati yang baru. Peristiwa ini kemudian menjadi tanggal hari jadi Kota Semarang. Sang Adipati menurut kepercayaan rakyat Semarang kelak dikenal sebagai Sunan Bayat (Susuhunan Tembayat).

Susuhunan Tembayat merupakan ulama terkemuka, di masa menjelang berdirinya Kerajaan Pajang (1568 M), beliau seangkatan dengan Sunan Giri Parapen, Sunan Padusan dan Sunan Geseng (sumber : wirid hidayat jati).

Berbeda dengan Serat Kandaning Ringgit Purwa, sosok yang dianggap sebagai Sunan Bayat adalah Raden Kaji, yang menjabat Adipati Semarang pada periode 1496-1512.

Pendapat ini didukung temuan arkeologis pada Gapura Segara Muncar, yang terdapat di lokasi makam Susuhunan Tembayat, disana tertera candra sengkala dengan tulisan jawa yang berbunyi “Murti Sarira Jleking Ratu” atau tahun 1448 Saka (1526 M) (sumber : makam Sunan Pandanaran).

Tokoh Sunan Bayat (Susuhunan Tembayat atau Sunan Pandanaran), sering kali menjadi polemik di tengah masyarakat, ada yang menyatakan ia adalah putera Maulana Islam (Sunan Semarang), versi lain mengatakan ia keturunan Raden Sahun, ada juga argumen beliau nama lain dari Pangeran Mande Pandan dan pendapat bahwa yang bersangkutan adalah gelar dari Pangeran Mangkubumi bin Sayyid Hamzah.

Setelah mengkaji beberapa sumber, serta juga memperhatikan timeline tokoh-tokoh yang bersangkutan, diperoleh Silsilah Kekerabatan sebagai berikut:

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara :

1. [Misteri] Panglima Arya Damar bukanlah Adipati Arya Dillah ?
2. Arya Wiraraja, Pendiri Kerajaan Islam Tertua di Tanah Jawa ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?

[Mukjizat Dakwah] 3.712 Penduduk Papua Masuk Islam, karena Sabun Mandi?

Dibawah pimpinan Ustadz Fadlan Garamatan, sekitar 20 orang da’i pergi berdakwah ke wilayah Wamena Papua. Bermodalkan sabun sebanyak 7 karton, sampo 7 karton, odol, sikat gigi dan pakaian layak pakai sebanyak 7 karung, mereka berangkat dengan mengharap keridhaan ALLAH.

Ketika sampai di lokasi, tim da’i menemukan keadaaan masyarakat yang memprihatinkan. Penduduk di daerah pedalaman ini, jarang mandi, dengan bau badan sangat tidak enak.

dakwahpapua1

Strategi Dakwah Dengan Sabun Mandi

Dengan kondisi masyarakat yang demikian, tim da’i merasa sangat optimis bisa merubah masyarakat melalui jalan dakwah. Namun Para da’i tidak buru-buru dalam bertindak. Mereka memutuskan selama 1 (satu) pekan tidak usah berdakwah dulu, mereka memilih melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan warga.

Setelah bisa lebih dekat, dakwah dimulai dengan menggunakan sabun mandi. Para da’i mengajak  kepala sukunya ke sungai. Bersama Sang kepala suku, semua anggota tim da’i menceburkan diri ke sungai.

Selesai mencebur kedalam sungai, Ustadz Fadlan sebagai pemimpin da’i meminta kepala suku mengikuti gerakannya.

Sang Ustadz mengambil sabun, dan menggosokan sabun ketubuhnya, kepala suku mengikutinya  hingga badannya penuh dengan busa.

Namun saat itu, kepala suku menolak membilas dengan air, ia pergi meninggalkan para da’i untuk pergi ke ladang. Sejak saat itu, selama 6 hari berturut-turut kepala suku ini mandi tanpa membilas dengan air.

dakwahpapua2
Pada hari ke 6, setelah pulang dari ladang, Allah turunkan hujan sehingga tubuh kepala suku terkena air hujan, tubuhnya penuh dengan busa, kemudian kepala suku menggosok-gosok tubuhnya sehingga tubuhnya bersih dari busa.

Setelah sampai dirumah, kepala suku tertidur dari jam 3 sore hingga jam 9 kesokan harinya.

Ketika para da’i bertemu kepala suku, ia langsung berkata bahwa pelajaran mandi yang ia terima telah membuatnya tidur dengan nyaman.

Dan pada keesokan harinya, kepala suku menginstruksikan kepada seluruh warga yang berjumlah 3.712 orang untuk bersama-sama belajar mandi menggunakan sabun mandi.

Pelajaran mandi inilah, yang menjadi awal bagi Kepala Suku bersama 3.712 pengikutnya untuk mengenal Islam. Mereka mengucapkan 2 kalimat syahadat tanpa beban sedikitpun, karena hadirnya hidayah dan petunjuk Allah kepada mereka (Sumber : Caramah Ustadz Fadlan Garamatan , Google+ dan Youtube) .

WaLlahu a’lamu bishshawab

Akhlak Mulia, Kunci Keberhasilan Dakwah di Tanah Papua

Jejak Sejarah Islam di tanah Papua (Irian), sudah berumur ratusan tahun. Pada sekitar tahun 1224 M, seorang ulama dari Samudra Pasai yang bernama Tuan Syekh Iskandar Syah melakukan dakwah ke Nuu War (Papua).

Menurut sejarah lisan dari daerah Kokas (Fakfak), orang pertama yang diajarkan Syekh Iskandar Syah bernama Kriskris (Sumber : Sejarah Islam di Papua). Setelah masuk Islam, Kriskris diangkat menjadi Imam pertama dan beliau sudah menjadi Raja pertama di Patipi, Fakfak.

kapal1
Ustadz Fadlan dan Dakwah Islam di Papua

Islam di Papua sudah ada selama berabad-abad, namun perkembangannya belum optimal. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan, putera asli negeri Papua, Fadlan Garamatan, untuk lebih memperkenalkan Islam kepada suku-suku yang ada di daerah itu.

Ustadz Fadlan sendiri berasal dari keluarga Muslim, leluhunya adalah para penguasa Kerajaan Palipi (Fakfak), ia lahir tanggal 17 Mei 1969, dengan nama  lengkap Muhammad Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan (Sumber : Semarak Dakwah di Papua).

Ayahnya bernama Machmud Ibnu Abu Bakar Ibnu Husein Ibnu Suar Al-Garamatan, profesinya adalah seorang Pengajar SD sekaligus Guru Mengaji di kampungnya.

fadlan1a
Selepas kuliah di Universitas Hasanuddin Makassar, Ustadz Fadlan mulai giat berdakwah di Pedalaman Tanah Papua. Suka duka dalam menyeru Islam, ia lalui dengan penuh kesabaran.

Pernah sekali waktu beliau di tombak, akibatnya harus dirawat di rumah sakit selama berminggu-minggu. Setelah sembuh bukannya kapok, ia malah mendatangi lagi kampung tempat ia ditombak.

Di kampung itu, si penombak ternyata sedang sakit, tanpa memikirkan kejadian di masa lalu, oleh Ustadz Fadlan dibawanya ke rumah sakit untuk diobati. Akhlak mulia dari Ustadz Fadlan inilah yang kemudian menjadi jalan hidayah bagi si penombak untuk memeluk agama Islam (sumber : kisah ustadz fadlan)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan

1. Upaya dakwah yang dilakukan Ustads Fadlan bersama teman-temannya, telah menampakkan hasil. Setidaknya telah berdiri sekitar 900 masjid di tanah Papua, serta ribuan orang di pedalaman Papua, telah diajari cara berpakaian, dikhitan, kemudian dituntun mengucapkan kalimah syahadat (Sumber : berkhasiat.web.id).

2. Bersama timnya, Ustadz Fadlan telah mengislamkan setidaknya 220 suku yang ada di Tanah Papua.

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah
2. [Analisa] 10 BERITA ANEH, yang pernah menghebohkan DUNIA MAYA?
3. Buya HAMKA : Khidhir adalah manusia bijak, yang berganti-ganti sepanjang masa ?
4. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?

Gema Syiar Jilbab, sebelum masa Kemerdekaan?

Baru-baru ini Kepolisian Republik Indonesia, telah secara resmi mengeluarkan izin penggunaan jilbab bagi Polisi Wanita (Polwan).

Berita yang menggembirakan ini, tentu patut kita syukuri dan dampaknya akan lebih menyemangati para penggiat pejuang penggunaan jilbab di seluruh Indonesia (sumber : sangpencerah.com).

Jika kita membuka kembali lembaran sejarah, ternyata perjuangan penggunaan jilbab di masyarakat Nusantara, telah ada sejak masa sebelum kemerdekaan.

jilbab1

Sejarah Jilbab Nusantara

Hilbab (pakaian perempuan yang tertutup), sudah sangat dikenal dalam budaya masyarakat melayu. Dahulu masyarakat Nusantara, mengenalnya dalam bentuk baju kurung, dengan menggunakan selendang di kepala.

Dalam masyarakat Nusantara, terutama etnis Melayu, menggunakan kerudung saat keluar rumah, sudah menjadi budaya berabad-abad yang silam.

Hal ini terlihat pada, pakaian muslimah di tanah aceh, sebagaimana ilustrasi dari Sultana Seri Ratu Nihrasyiah Rawangsa Khadiyu, yang memerintah Kerajaan Samudra Pasai (1400-1427) (sumber : kanzunqalam.com).

sultana1Sultana Seri Ratu Nihrasyiah
Rawangsa Khadiyu

Namun penggunaan Jilbab, belum sampai mengakar kepada masyarakat muslim secara luas. Di pulau Jawa, banyaknya wanita muslim yang tidak menutupi kepala, hal inilah yang mendorong gerakan reformis muslim menyiarkan kewajiban jilbab.

Gerakan Dakwah Jilbab

Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan aktif menyiarkan dan menyatakan bahwa jilbab adalah kewajiban bagi wanita Muslim sejak 1910-an. Ia melakukan dakwah jilbab ini secara bertahap (Sumber : Muda-Mudi Muhammadiyah)

Awalnya ia meminta untuk memakai kerudung meskipun rambut terlihat sebagian. Kemudian ia menyarankan mereka untuk memakai Kudung Sarung dari Bombay.

Pemakaian kudung ini dicemooh oleh sebagian orang. Mereka mencemoohnya dengan mengatakan,“Lunga nang lor plengkung, bisa jadi kaji” (pergi ke utara plengkung, kamu akan jadi haji).

Namun KH. Ahmad Dahlan tak bergeming. Ia berpesan kepada murid-muridnya, “Demit ora dulit, setan ora Doyan, sing ora betah bosok ilate,” (Hantu tidak menjilat, setan tidak suka yang tidak tahan busuk lidahnya).

Upaya menggemakan kewajiban jilbab ini terus berjalan. Tak hanya itu, Kyai Dahlan mendorong wanita untuk belajar dan bekerja, semisal menjadi dokter, ia tetap menekankan wanita untuk menutup aurat dan melakukan pemisahan antara laki-laki dan perempuan.

Salah satu tokoh perempuan yang cukup lantang di masa itu, adalah Siti Zoebaidah. Melalui majalah Al Fatch (majalah milik Aisyiyah “organisasi perempuan yang menginduk pada Muhammadiyah”), Siti Zoebaidah menegaskan bahwa wajib bagi kaum muslimat memakai jilbab.

Kalangan Aisyiyah memang dikenal selalu memakai jilbab. Hal ini diungkap dalam Majalah Berita Tahunan Muhammadiyah Hindia Timur 1927 bahwa, “Rambut kaum Aisyiyah selalu ditutup dan tidak akan ditunjukkan, sebab termasuk aurat.”

WaLlahu a’lamu bishshawab

Jalan Dakwah Habib Ahmad Masyhur, yang berhasil mengislamkan ratusan ribu penduduk Afrika

habib1
Al-Habib Ahmad Masyhur al-Haddad dilahirkan di kota Qaidun yang terletak di Wadi Dau’an, Hadhramaut Yaman sekitar tahun 1325 H (1907 M), oleh ibunya, Hababah Shofiyyah binti Thohir al-Haddad. Ayahanda beliau, Habib Thoha bin ‘Ali al-Haddad adalah seorang ulama, yang menghabiskan sebahagian besar usianya di Indonesia.

Pendidikan

Al-Habib Ahmad Masyhur mendapat pendidikan di Ribath Qaidun dari dua ulama besar dari keluarga al-Haddad yang merupakan pendiri rubath tersebut yaitu Habib ‘Abdullah bin Thohir al-Haddad (wafat 1367 H) dan saudaranya Habib ‘Alwi bin Thohir al-Haddad (wafat 1382 H).

Di bawah dua ulama ini, Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad mendalami lagi pengetahuan agamanya dalam bidang fiqh, tauhid, tasawwuf, tafsir dan hadits. Dalam usia muda, beliau telah hafal al-Quran dan menguasai berbagai disiplin ilmu agama sehingga diberi kepercayaan untuk mengajar pula di rubath tersebut.

Habib Ahmad yang tidak pernah jemu menuntut ilmu turut menangguk ilmu di Rubath Tarim dengan para ulama yang mengajar di sana, diantaranya al-‘Allamah al-Habib ‘Abdullah bin Umar asy-Syathiri (wafat 1361 H), al-‘Allamah al-Habib ‘Abd al-Baari bin Syeikh al-Aidarus dan lainnya.

Tatkala usia Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad menginjak 20, beliau telah dibawa oleh gurunya Habib ‘Alwi bin Thohir al-Haddad ke Indonesia. Di Indonesia selain berdakwah, beliau bertemu dan meneruskan pengajian dari kalangan Saadah ‘Alawiyyin di sana.

Kemudian beliau pergi ke Mukalla (Ibu kota Provinsi Hadhramaut sekarang) untuk belajar kepada al-‘Arifbillah al-Habib Ahmad bin Muhsin al-Haddar. Beliau adalah salah satu guru yang banyak memberi kesan dari sudut rohani kepada al-Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad.

kenya1

Berdakwah ke Afrika

Pertama kali al-Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad mengembara ke Afrika Timur untuk berdakwah ialah pada tahun 1347H. Beliau memasuki walayah Zanzibar dan disambut dengan penuh penghormatan. Ketika itu di Zanzibar terdapat seorang ulama bernama al-Habib ‘Umar bin Ahmad bin Sumaith. Pada bulan Ramadhan, al-Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad tinggal di Masjid Jami’ dan mengajar tafsir al-Quran.

Pada tahun 1375H (1955), beliau berhijrah ke Kampala, Uganda dan menetap di situ sekitar 13 tahun. Selama berdakwah Habib Ahmad dengan sungguh-sungguh dan gigih memanfaatkan waktu dan tenaga beliau, untuk menyeru umat kepada agama yang diridhai Allah.

Beliau menembus hutan dan melintasi gurun untuk sampai ke perkampungan-perkampungan di Afrika seperti kawasan daerah Aqzam, sebuah kawasan pedalaman yang terpencil di Conggo. Dan hasil dari kegigihan dan kesungguhan beliau berdakwah, sepanjang berada di bumi Afrika, ratusan ribu yang memeluk Islam ditangan beliau.

Di samping itu beliau turut mengorbankan harta bendanya untuk agama dengan membangun sejumlah masjid dan madrasah dalam rangka dakwahnya di sana. Untuk memudahkan usaha dakwahnya, beliau mempelajari bahasa Swahili yaitu bahasa yang digunakan oleh penduduk Timur Afrika. Dalam pergaulan sehari-hari, beliau mengunakan bahasa Swahili untuk berkomunikasi.

Wafat

Pada penghujung hayatnya, beliau sering bolak balik dari Afrika ke Makkah dan Madinah. Tatkala usia beliau semakin lanjut, beliau memilih untuk menetap di Jeddah bersama ahli keluarga beliau. Pada hari Rabu, 14 Rajab 1416 H / 6 Disember 1995 M, di Jeddah dalam usia hampir 90 tahun, beliau kembali kerahmatullah. Jenazah beliau disholatkan di Jeddad, kemudian dibawa ke Makkah dan disholati lagi di hadapan Ka’bah al-Musyarrafah sebelum dimakamkan di Hauthah Saadah al-‘Alawiyyin di Jannatul Ma’la.

Sumber :
indo.hadhramaut.info