Tag Archives: matematika

Misteri Bentuk Angka, Penemuan Ilmuan Muslim Awal Abad ke-9 M ?

Tahukah anda, angka-angka yang selama ini kita kenal diciptakan seorang Ilmuan Muslim pada sekitar awal abad ke-9 Masehi.

Cendikiawan itu bernama Al Khawarizmi, yang membentuk dan menyusun urutan angka berdasarkan banyaknya sudut.

angka1Nama Asli dari Al-Khawarizmi adalah Muhammad Ibn Musa al-khawarizmi. Beliau juga dikenali sebagai al-Cowarizmi, al-Ahawizmi, al-Karismi, al-Goritmi dan al-Gorismi.

Al-Khawarizmi dilahirkan di Bukhara, pada tahun 194H/780M dan wafat di Baghdad pada tahun 266H/850M.

angka2
Adapun bentuk angka-angka yang digunakan oleh orang arab saat ini, dan juga digunakan pada penomoran ayat-ayat Al-Qur’an, ternyata berasal dari angka bangsa India (Hindy Number).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Bentuk angka masyarakat modern saat ini berasal dari penemuan ilmuan muslim Al Khawarizmi pada abad ke-9 Masehi, sehingga disebut angka arab (sistem Al Khawarizmi)…

Namun angka arab (sistem Al Khawarizmi), tidak digunakan oleh bangsa arab saat ini, karena mereka memakai penulisan angka sistem hindi-india, yang telah ada sebelumnya…

referensi :
1. islampos.com
2. biografiku.com
3. pinterest.com

Artikel Menarik :
1. Sejarah “Mesin Terbang”, bermula dari menara Masjid Cordoba ?
2. [Misteri] 9 Keajaiban “Struktur Bangunan” dari Peradaban Kuno ?
3. Manfaat Sujud, menurut Pakar Kesehatan Prof. Hembing dan Dr. Fidelma O’ Leary
4. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?

Iklan

Rumus Mencari Istri, dengan Sistem Bilangan Biner ?

Sistem bilangan biner adalah sebuah sistem penulisan angka dengan menggunakan dua simbol yaitu 0 dan 1.

Sistem bilangan ini merupakan dasar dari semua sistem bilangan berbasis digital. Dari sistem biner, kita dapat mengkonversinya ke sistem bilangan Oktal atau Hexadesimal (Sumber : wikipedia.org).

biner1

Rumus Mencari Istri

Salah seorang cendikiawan yang ikut mempopulerkannya “bilangan 0” adalah Al Khawarizmi. Beliau seorang ilmuan Muslim, yang dilahirkan di Uzbekistan, pada 194 H/780 M (Sumber : republika.co.id).

Pada suatu hari, Al Khawarizmi ditanya tentang cara mencari calon istri. Dengan penuh keyakinan, ia kemudian menjawab dengan menggunakan rumusnya (Sumber : chirpstory.com).

Agama itu nilainya 1, sedangkan yang hal lainnya bernilai 0. Jika wanita itu shalihah dan baik agamanya, maka nilainya 1.

.Jika dia cantik, tambahkan 0 di belakangnya, didapat nilai 10. Jika dia kaya, tambahkan 0 lagi dibelakangnya. Jadi nilainya 100. Jika dia keturunan orang baik-baik dan terhormat, tambahkan 0 lagi. Sehingga nilainya 1000.

Namun sebaliknya jika dia cantik, kaya dan nasabnya baik, tetapi tidak punya agama, nilainya hanya 0. Berarapun 0 yang dihimpun, ia akan tetap bernilai 0.

muslimah1
Rumus yang dipaparkan Al Khawarizmi, sangat bersesuaian dengan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Sumber : rumaysho.com), beliau bersabda :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”.

(HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1446, dari Abu Hurairah)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Polemik Perbedaan 4×6 dengan 6×4, menurut Profesor Thomas Djamaluddin dan Profesor Iwan Pranoto ?

Berawal dari Pekerjaan Rumah seorang siswa SD, kemudian menjadi perdebatan menarik di media sosial.

Yang dipersoalkan
4+4+4+4+4+4, bila dinyatakan dalam perkalian, 6 x 4 atau 4 x 6?

4x61
Dalam menanggapi ini, salah seorang Profesor astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Prof. Thomas Djamaluddin, mengatakan, antara 4 x 6 dan 6 x 4 memang berbeda.

“Samakah 4 x 6 dan 6 x 4? Hasilnya sama, 24, tetapi logikanya berbeda. Itu adalah model matematis yang kasusnya berbeda. Konsekuensinya bisa berbeda juga,” urai Thomas dalam akun Facebook-nya, Senin (22/9/2014).

Prof. Thomas menerangkan perbedaan 6 x 4 dengan 4 x 6 lewat sebuah soal cerita.

“Ahmad dan Ali harus memindahkan bata yang jumlahnya sama, 24. Karena Ahmad lebih kuat, ia membawa 6 bata sebanyak 4 kali, secara matematis ditulis 4 x 6. Tetapi, Ali yang badannya lebih kecil, hanya mampu membawa 4 bata sebanyak 6 kali, model matematisnya 6 x 4. Jadi, 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 6 x 4, berbeda konsepnya dengan 6 + 6 + 6 + 6 = 4 x 6, walau hasilnya sama 24,” terang Prof. Thomas.

Lewat kasus ini, Prof. Thomas mengajak semua kalangan untuk memahami Matematika dengan logika, bukan menjadi generasi “kalkulator” yang sekadar tahu hasil (Sumber : ruangpojok.com).

“Dengan kemampuan berlogika, suatu kasus bisa dimodelkan dengan rumusan matematis sehingga mudah dipecahkan,” ungkap Prof. Thomas.

math1
Lain lagi pendapat Profesor Matematika dari Institut Teknologi Bandung, Prof. Iwan Pranoto. Ia memberi sedikit kultwit untuk menjelaskan permasalahan itu.

Menurutnya, 4×6 ataupun 6×4 sebenarnya sama. Namun, bisa saja salah bila dilihat dalam konteks tertentu.

Prof Iwan mencontohkan, bila pertanyaan guru adalah “Jika 2×3 = 3+3, tentukan 3×4”, maka jawaban yang seharusnya adalah 4+4+4. “Jika dengan pertanyaan ini anak jawabnya 3+3+3+3, barulah salahkan,” katanya lewat akun Twitter-nya.

Namun, Prof. Iwan mengungkapkan, bila pertanyaannya hanya 3×4, maka anak bisa menjawab 3+3+3+3 atau 4+4+4. Semuanya benar.

Dengan demikian, didasarkan pada pendapat Prof. Iwan, 4+4+4+4+4+4 bisa saja dinyatakan 4×6 atau 6×4 dalam operasi perkalian (Sumber : kompas.com).

Prof. Iwan mengatakan, saat ini dibutuhkan pembenahan sikap, budaya, dan cara berpikir guru Matematika. “Mengubah sikap guru Matematika yang luwes bernalar merupakan tantangan bagi institusi penyiapan guru kita, LPTK,” ungkapnya.

Dalam Matematika, kata Prof. Iwan, tidak ada kebenaran, yang ada kesahihan. Jika penalaran sahih, maka bisa diterima walaupun kesimpulannya aneh.

Akar perdebatan Matematika ini bisa jadi adalah kebiasaan untuk hanya menerima pengertian tunggal, ditetapkan oleh penguasa. “Kita tak berdaya menentukan sendiri,” kata Prof. Iwan.

Matematika Sedekah, menurut Ustadz Yusuf Mansur

Di dalam tulisannya berjudul Mempebanyak Sedekah, pada tanggal 20 July 2014 di situs republika.co.id, Ustadz Yusuf Mansur memaparkan tentang proses hitung-hitungan sedekah, yang ternyata sedikit berbeda dengan perhitungan matematika yang biasa kita temui…

sedekah6

Republika, 20 Juli 2014

Jika seseorang menggunakan matematika biasa (berhitung ala manusia) untuk menghitung, maka hal itu tidak bisa diterapkan dalam sedekah. Sebab, matematika sedekah berbeda dengan matematika biasa.

Dan kalau menggunakan matematika biasa, sepertinya banyak orang yang tak akan mau bersedekah. Kenapa, karena setiap kita member kepada orang lain, dipandangnya, dilihatnya, diketahuinya, pasti akan berbeda. Bahkan, mungkin dianggapnya akan berkurang.

Misalnya, 10 dikurang satu, maka hasilnya pasti sembilan (10-1=9). Dan kalau 10 dikurang dua, maka hasilnya akan delapan (10-2=8). Kalau 10 dikurang tujuh, maka hasilnya tersisa tiga (10-7=3). Demikian seterusnya. Itu hitungan matematika yang biasa atau umum.

Karena itu, ia harus punya matematika ilahiyah. Matematika sedekah yang berbeda dengan matematika biasa. Matematika ilahiyah, atau matematika sedekah, ketika seseorang bersedekah maka nilainya akan bertambah.

sedekah5
Misalnya, 10 dikurang satu, hasilnya bukan sembilan, melainkan 19. Kemudian 10 dikurang dua, maka hasilnya bukan delapan, melainkan 28. Dan 10 dikurang tiga, hasilnya bukan tujuh, melainkan 37.

Begitu seterusnya. Semakin banyak disedekahkan, maka hasilnya pun akan terus bertambah. Misalnya, 10 dikurangi 10, hasilnya adalah 100 bukan nol.

Jadi, semakin dia tahu, semakin dia merasakan, semakin dia melihat, dan jika dia bersedekah, maka hasilnya akan semakin banyak. Dan jika dia mengetahui hal ini, semestinya dia akan semakin rajin bersedekah, dengan nilai yang akan lebih banyak lagi.

Nilai ini, jika kelipatannya hanya 10. Bagaimana jika hasilnya dikalikan dengan kelipatan 700 kali lipat? Tentu akan lebih besar lagi. Jika 10 dikurangi (disedekahkan) 10, maka hasilnya adalah 7.000, bukan nol.

Seorang karyawan dengan gaji sebesar Rp 2 juta, tetapi pengeluarannya Rp 3 juta, tidak mungkin dia akan bersedekah. Sebab, untuk kebutuhan sehari-harinya saja sudah nombok. Begitu pula pandangan masyarakat umum akan hal ini. Akibatnya, jangankan untuk bersedekah, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya saja dia tak bisa. Hal ini juga yang membuat mereka dan kebanyakan umat Islam, enggan bersedekah.

Andai dia tahu matematika sedekah, niscaya mereka akan banyak bersedekah. Jika dia mengetahui gajinya Rp 2 juta sedangkan kebutuhannya Rp 3 juta per bulan, maka dia akan bersedekah untuk mencukupi kebutuhannya.

Bismillah. Misalnya, dia mengeluarkan 10 persen dari kebutuhannya (Rp 3 juta) atau sebesar Rp 300 ribu. Insya Allah, dia akan mendapatkan hasil sebesar Rp 4,7 juta. Bahkan bisa mencapai lebih besar lagi bila dikalikan dengan 700 kali lipat.

Seorang pengusaha punya giro sebesar Rp 100 juta, tapi dia punya kebutuhan yang harus ditunaikan sebesar Rp 700 juta. Kemana mencari kekurangan Rp 600 jutanya? Setelah pengusaha ini meyakini dan memahami tentang ilmu sedekah, maka Bismillahirrahmanirrahim, dia sedekahkan seluruh uang yang ada di gironya itu. Subhanallah, dia akan mendapatkan Rp 1 miliar.

sedekah3

Khusus di bulan suci Ramadhan ini, Allah akan makin melipatkan gandanya melebihi yang biasa. Jika pada bulan-bulan lainnya dilipatgandakan 10 kali lipat atau 700 kali lipat, tapi pada bulan puasa ini, Allah akan melipatgandakannya hingga ribuan bahkan puluhan ribu kali lipat.

Karena itu, bila sudah memahami matematika sedekah ini, saya berharap seluruh pembaca Republika Online, dikaruniakan Allah kelebihan rezeki yang berlipat-lipat. Sehingga bisa bersedekah semakin banyak, semakin besar. Dan tentu saja, tetap dengan niat yang tulus ikhlas karena mengharapkan ridha Allah Taala.

(MUKJIZAT) BILANGAN NUMERIK AL QUR’AN

Hampir setiap muslim telah hafal huruf-huruf Arab (huruf hijaiyah), tetapi mungkin hanya sedikit orang yang mengetahui urutan abjad yang benar. Kalau selama ini kita mengenal abjad Arab dari alif sampai ya’. Urutan huruf tersebut adalah abjad Arab yang disusun dan dikelompokkan menurut kemiripan bentuknya. Sedangkan urutan abjad Arab yang sebenarnya adalah dari alif sampai ghain.

Adapun urutan huruf Arab sekaligus nilai numeriknya (sumber : miraclesofthequran.com), adalah sebagai berikut:

1. ALIF = 1
2. BA = 2
3. JIM = 3
4. DAL = 4
5. HA = 5 (untuk kata Arab Huwa)
6. WAU = 6
7. ZA = 7
8. HA = 8 (untuk kata Arab Hayyun)
9. THA = 9
10. YA’ = 10
11. KAF = 20
12. LAM = 30
13. MIM = 40

numerik11
14. NUN = 50
15. SIN = 60
16. ‘AIN = 70
17. FA’ = 80
18. SHAD = 90
19. QAF = 100
20. RA’ = 200
21. SYIN = 300
22. TA’ = 400
23. TSA’ = 500 (untuk kata Arab Tsa-laa-stah)
24. KHA’ = 600
25. DZAL = 700
26. DHAD = 800
27. DHLA = 900 (untuk kata Arab Dhluhur)
28. GHAIN = 1.000

Nilai Numerik merupakan simbol atau karakter yang digunakan untuk mewakili sebuah bilangan. Dalam sistem Romawi kita telah mengenal angka 1 yang disimbolkan dengan huruf I. Dan juga simbol-simbol Romawi untuk angka-angka lainnya, seperti huruf V = 5, X = 10, L = 50, C = 100, D = 500, dan M = 1.000.

Melalui perhitungan dengan nilai numerik, dapat menjadi alat bagi kita untuk menemukan kemukzijatan di dalam ayat-ayat Al Qur’an.

numerik1
Nilai Derajat

Salah satu ayat dalam Al Qur’an, yaitu QS Al Mu’miin (40) ayat 15 yang menyatakan bahwa Allah SWT adalah pemilik derajat tertinggi. “(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang memiliki ‘Arasy, yang menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, agar memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari Kiamat).

Pemilik derajat tertinggi dalam ayat tersebut merupakan terjemahan dari kata Rafii-u al-darajaat. Kata Rafii-u menyatakan ketinggian.

Apabila kita hitung total nilai numerik dari kata Rafii-u (yang terdiri dari huruf-huruf Ra, Fa’, Ya, dan ‘Ain) akan kita dapatkan total nilai numerik sebesar 360. Dalam matematika 360 merupakan derajat yang tertinggi. Nilai numerik dari masing-masing huruf dalam kata Rafii-u.

Ra (Ra’) = 200, Fa’ = 80, Ya = 10, ‘Ain = 70. Total = 200 + 80 + 10 + 70 = 360.

Nomor Atom Fe

Jika kita buka buku-buku kimia, maka kita akan menemukan nomor atom unsur Fe (besi) adalah 26. Di dalam Al Qur’an kata besi menggunakan istilah HADIID, perhatikan QS. Al Hadiid ayat 25,

Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.

Sekarang marilah kita hitung nilai numerik dari kata HADIID (besi)!

Ha = 8, Dal = 4, Ya = 10, Dal = 4, Total = 8 + 4 + 10 + 4 = 26.

Jelaslah bahwa Al Qur’an sumber ilmu pengetahuan yang tidak terbatas. Sungguh merugilah kita sebagai umat Islam yang memiliki Al Qur’an kalau tidak mau mempelajari Al Qur’an dan menyingkap informasi penting di dalamnya.