Tag Archives: biografi

Catatan Silsilah Al-Imam Ali Zainal Abidin (dari Zuriat Rasulullah, Kaisar Gao-Zu, Cyrus II of Persia, sampai keturunan Bani Israil)

Kita mengenal gelar-gelar seperti Habib, Sayyid, Syarif atau Maulana Sayyid… Gelar-gelar tersebut merupakan salah satu ciri Kaum Alawiyyin, keturunan Ali Zainal Abidin bin Hussain bin Fatimah binti Muhammad Rasulullah

Riwayat Ali Zainal Abidin

Ketika Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah binti Muhammad Rasulullah), memegang amanah ke-khalifahan, beliau menikahkan al-Husein puteranya, dengan seorang puteri Yazdigird, Kisra terakhir kekaisaran Persia yang bernama Shahrbānū. Dari perkawinan inilah Ali Zainal Abidin dilahirkan.

Ali Zainal Abidin, setelah dewasa dijuluki as-sajjad, karena banyaknya bersujud. Sedang gelar Zainal Abidin (hiasannya orang-orang ibadah) karena beliau selalu beribadah kepada Allah SWT. Bila akan shalat wajahnya pucat, badannya gemetar. Ketika ditanya: Mengapa demikian? Jawabannya: “Kamu tidak mengetahui di hadapan siapa aku berdiri shalat dan kepada siapa aku bermunajat”.

alizainal

Ali Zainal Abidin dilahirkan di kota Madinah pada tahun 33 H, atau dalam riwayat lain ada yang mengatakan 38 H. Beliau adalah termasuk generasi tabi’in.

Beliau banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya (Al-Imam Husain), pamannya Al-Imam Hasan, Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhromah, Abu Hurairah, Shofiyyah, Aisyah, Ummu Kultsum, serta para ummahatul mukminin/isteri-isteri Nabi SAW.

Mengenai beliau, beberapa Ulama berpendapat :
Yahya Al-Anshari berkata, “Dia (Al-Imam Ali Zainal Abidin) adalah paling mulianya Bani Hasyim yang pernah saya lihat.” Zuhri berkata, “Saya tidak pernah menjumpai di kota Madinah orang yang lebih mulia dari beliau.” Hammad berkata, “Beliau adalah paling mulianya Bani Hasyim yang saya jumpai terakhir di kota Madinah.” Abubakar bin Abi Syaibah berkata, “Sanad yang paling dapat dipercaya adalah yang berasal dari Az-Zuhri dari Ali dari Al-Husain dari ayahnya dari Ali bin Abi Thalib.”

Amalan terkadang dilakukan secara tersembunyi. Setelah wafat, barulah orang-orang mengetahui ternyata beliau, memikul tepung dan roti dipunggungnya guna dibagi-bagikan kepada keluarga-keluarga fakir miskin di Madinah.

Beliau meninggal di kota Madinah pada tanggal 18 Muharrom 94 H, dan disemayamkan di pekuburan Baqi’, dekat makam dari pamannya, Al-Imam Hasan. Beliau wafat dengan meninggalkan 11 orang putra dan 4 orang putri. Adapun warisan yang ditinggalkannya kepada mereka adalah ilmu, kezuhudan dan ibadah.

Sumber : Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Hussein bin Ali bin Abi Thalib dan IMAM ALI ZAINAL ABIDIN

Catatan Silsilah Ali Zainal Abidin

Selain terhitung sebagai cicit Rasulullah, Ali Zainal Abidin melalui jalur ibunya, terhitung keturunan Kaisar Gao-Zu, Pendiri Dinasti Tang

Ali Zainal Abidin bin Shahrbānū (Shahr Banu, شهربانو, menikah dengan Imam Husein) binti Yazdigird III Sásání, King of Persia (16 June 632-651) bin Princess dau. Gao-Zu (menikah dengan Sharíyár Sháh of Persia) binti Emperor Gāozǔ of Táng (566 – June 25, 635) atau Lǐ Yuān (李淵), Pendiri Dinasti Tang

Sumber : Silsilah garis perempuan para Alawiyyin Al-Husaini ke para tokoh sejarah China Kuno

Ali Zainal Abidin, juga terhitung sebagai keturunan Cyrus II “The Great”, yang oleh sebagian kalangan, dianggap sebagai Zulqarnain (QS. Al Kahfi (18) ayat 83-98, kunjungi : Menemukan Zul-Qarnain, dalam Sejarah), bahkan menyambung juga kepada Nabi Daud (David [1st King] of Judah and Israel)…

Ali Zainal Abidin bin Shahrbānū (Shahr Banu, شهربانو, menikah dengan Imam Husein) binti Yazdigird III Sásání, King of Persia (16 June 632-651) bin Sharíyár Sásání, Sháh of Persia bin Khusraw II (Parvez) 22nd Sásání king of Persia bin Hormizd IV 21st Sásání king of Persia bin Khusraw I of Persia bin Kavadh I of Persia bin Firuz II of Persia bin Yazdagird II of Persia bin Bahram V of Persia bin Yazdagird I of Persia bin Shapur III of Persia bin Shapur II “The Great” of Persia bin Ifra Hormuz binti Vasudeva of Kabul bin Vasudeva IV of Kandahar bin Vasudeva III of Kushans bin Vasudeva II of Kushans bin Kaniska III of Kushans bin Vasudeva I of Kushans bin Huvishka I of Kushans bin Kaniska of Kushanastan bin Wema Kadphises II of Kunhanas bin Princess of Bactria binti Calliope of Bactria binti Hippostratus of Bactria bin Strato I of Bactria bin Agathokleia of Bactriai binti Agathokles I of Bactriai bin Pantaleon of Bactria bin Sundari Maurya of Magadha (menikah dengan Demetrios I of Bactriai*), keturunan Raja Iskandar (Alexander III “The Great” of Macedonia)) binti Princess of Avanti (menikah dengan Brihadratna Maurya of Magadha**), keturunan King Ashoka) binti Abhisara IV of Avanti bin Abhisara III of Pancanada bin Abhisara II of Taxila bin Abhisara I of Taxila bin Rodogune Achaemenid of Persia binti Artaxerxes II of Persia bin Darius II of Persia bin Artaxerxes I of Persia bin Xerxes I “The Great” of Persia bin Atossa of Persia (menikah dengan Darius I of Pesia***), keturunan Bani Israil) binti Cyrus II “The Great” of Persia

Sumber : The PEDIGREE of, Cyrus II `the Great’ (1st Shah) of PERSIA

Susur Galur dari Raja Iskandar (Alexander III of Macedonia)
*) Demetrios I of Bactriai bin Berenike of Bactria binti Princess of Syria binti Laodice I of Syria bin Aesopia the Perdiccid of Macedonia binti Alexander III ”The Great” of Macedonia

Susur Galur dari King Ashoka
**) Brihadratna Maurya of Magadha bin Dasaratha of Magadha bin Kunala of Taxila bin King Ashoka (Asoka) Vardhana

Susur Galur dari Nabi Daud (Bani Israil)
***) Darius I of Persia bin Meshar binti Salathial bin Tamar binti Johanan bin Josias bin Amon bin Manasses bin Ezechias bin Achaz bin Joatham bin Uzziah bin Amaziah bin Joash bin Ozias bin Jehoram bin Jehoshapat bin Asa bin Abia bin Roboam bin Nabi Sulaiman bin Nabi Daud (David [1st King] of Judah and Israel)

Apa yang dilakukan oleh Imam Ali ra., dengan menikahkan puteranya Al Hussain, dengan Shahrbānū, memberi teladan kepada kita, bahwa permasalahan kebangsaan, bukan suatu halangan, dalam membangun mahligai rumah tangga.

Sungguh sangat menyedihkan, apabila ada sekelompok masyarakat yang memandang “Keutamaan Nasab Keturunan”, sebagai syarat sebuah pernikahan. Dan yang lebih membingungkan, hal tersebut juga terjadi pada sebagian keturunan Al-Imam Ali Zainal Abidin. Padahal satu-satunya barometer, bagi umat muslim dalam memilih pasangan hidup adalah taqwa.

Sebagaimana ketika, Imam Ali bin Abi Thalib ditanya tentang pernikahan se-kufu’, beliau menjawab:
“Semua manusia kufu’ satu dengan yang lainnya, baik Arab dengan Ajam, Quraisy dengan Hasyim, dengan syarat mereka sama-sama Islam dan beriman.”

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Lainnya…
01. Kufu’ dalam Nikah, adalah Perkara dien
02. Rasulullah, keturunan ke-61 dari Nabi Ismail
03. Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara

Prince William of England, Ahlul Bayt dari Trah Eropa?

Para ahli Genealogy Barat, setidaknya mencatat ada 6 Jalur Silsilah yang menghubungkan Pangeran William dengan Muhammad Rasulullah. Adapun Ke-6 Jalur tersebut, adalah sebagai berikut :

[Jalur 01] Nabi Muhammad => Fatimah (01) => Ishar (10) => Mawiyah of Cordoba (15, menikah dengan Gonsalo de Lara) => Jimena Munoz de Bierzo (19, menikah dengan King Alfonso VI of Leon) => Eleanor of Castile (25, menikah dengan King Edward I of England) => King Edward IV of England (33) => King George I of England (41) => Queen Elizabeth II of England (50) => Prince Charles (51) => Prince William (52)

[Jalur 02] Nabi Muhammad => Fatimah (01) => Qasim (07) => Abu Nazar Lovesendes (13) => Aldonza Martinez de Silva (20) => Leonora de Aragon (27) => King George I of England (36) => Queen Elizabeth II of England (45) => Prince Charles (46) => Prince William (47)

[Jalur 03] Nabi Muhammad => Fatimah (01) => Aslan (08) => Qarais (11) => King Muhammad I of Seville (13) => Zaida of Seville (16, menikah dgn King Alfonso VI of Leon) => Maria Gonsalez (20) => King Alfonso IV of Portugal (24) => Richard of York (29) => King George I of England (38) => Queen Elizabeth II of England (47) => Prince Charles (48) => Prince William (49)

[Jalur 04] Nabi Muhammad => Fatimah (01) => Abu Hasan Ali (09) => Emir Hisham III of Cordoba (17) =>Juan Velez (22) => Maria de Padilla (29) => Joan Beaufort (32) => King James I of England (37) => King George I of England (40) => Queen Elizabeth II of England (49) => Prince Charles (50) => Prince William (51)

[Jalur 05] Nabi Muhammad => Fatimah (01) => Abu Djaffer Muhammad (08) => Zayd (12) => Adosinda (17) => Martim Vasques (21) => Sancha de Ayala (26) => Mary Dudley (32) => Dorothy Spencer (36) => William Charles Augustus (41) => Queen Elizabeth II of England (45) => Prince Charles (46) => Prince William (47)

[Jalur 06] Nabi Muhammad => Fatimah (01) => Obeidallah (10) => Khalifah Ismail al Mansur of Egypt (12) => Elvira Alfonsez (19) => Margarethe (22) => Elisabeth of Ziegenhain (27) => Duke Urich I of Whurttemberg (32) => Duke Johann Georg I of Saxe-Marksuhl (37) => King George III of England (41) => Queen Elizabeth II of England (47) => Prince Charles (48) => Prince William (49)

sumber silsilah, bisa diselusuri pada situs :
fabpedigree.com, archiver.rootsweb.ancestry.com, worldconnect.rootsweb.ancestry.com dan wc.rootsweb.ancestry.com (Sumber : [tanya] apakah benar, Elizabeth II adalah keturunan nabi Muhammad? [no sara])


Alawiyyin menurut Syar’i

Harus diakui, ke-6 jalur silsilah diatas, kebenarannya masih harus diteliti lagi. Dan seandainya, data silsilah tersebut ternyata valid, apakah secara otomatis, keluarga Kerajaan Inggris, bisa disebut sebagai Ahlul Bayt (Keturunan Rasulullah)?

Padahal, sepanjang yang kita pahami, seorang Ahlul Bayt, memiliki kewajiban untuk mengikuti risalah Rasulullah? (Kunjungi : Kufu’ dalam Nikah, adalah Perkara dien).

Pangeran William, secara biologis mungkin seorang Ahlul Bayt, namun secara Syar’i masih sulit untuk diterima. Bukankah menurut hukum syariat, anak dari seorang muslim, yang kemudian berpindah keyakinan, akan digugurkan hak warisnya?

Menarik apa yang terjadi pada, Sir Abdullah Charles Edward Archibald Watkin Hamilton, seorang Bangsawan Inggris, yang memeluk ad Dinul Islam (Sumber : en.wikipedia.org).

Sir Abdullah, mungkin merupakan salah satu contoh seorang Ahlul Bayt dari trah Eropa, yang bisa diterima secara Syar’i. Hal ini dikarenakan, secara Genealogy beliau adalah keturunan ke-45 dari Rasulullah, sebagaimana terlihat pada susur galur berikut :

Sir Abdullah Charles Edward Archibald Watkin Hamilton 45, Sir Edward Achibald Hamilton 44, (son of Edward Joseph) 43, Sir Edward Joseph Hamilton 42, Sir John Hamilton 41, John Hamilton 40, William Hamilton 39, James (Colonel) Hamilton 38, Mary Butler 37, Elizabeth Poyntz 36, Anne Sydenham 35, Mary Poyntz 34, Nicholas Poyntz 33, Jane Berkeley 32, Thomas Berkeley 31, Maurice de Berkeley 30, Isabel de Mowbray 29, Elizabeth de Bohun 28, William de Bohun 27, Elizabeth Plantagenet 26, Eleanor de Castile (m. King Edward I of England) 25, Ferdinand III of Castile 24, Alfonso IX of Leon 23, Urraca of Portugal 22, Alfonso I of Portugal 21, Teresa of Castile 20, Jimena Munez 19, Nuno Gonsalez de Lara 18, Gonsalo Nunez de Lara 17, Nuno Gonsalez de Lara 16, Mawiyah of Cordoba 15, al Hakam II 14, Abd. Rahman III 13, Muhammad II 12, Abdullah I 11, Ishar 10, Abu Hassan Ali 09, Abu Djaffer Muhammad 08, Ali ar Ridha 07, Musa al Kadzim 06, Ja’far ash Shadiq 05, Muhammad al Baqir 04, Ali Zainal Abidin 03, Husain 02, Fatimah 01, Muhammad ‘The Prophet’

Catatan :
James (Colonel) Hamilton (generasi ke-38, dari Muhammad ‘The Prophet’), merupakan salah satu leluhur Prince William melalui jalur ibunya, Diana Frances (Lady) Spencer, Salasilah selengkapnya sebagai berikut :

Prince William of England 50, Diana Frances (Lady) Spencer 49, Edward John (8th Earl) Spencer 48, Cynthia Elinor Beatrix (Lady) Hamilton 47, James Albert Edward Hamilton 46, James Hamilton (2nd Duke) of Abercorn 45, James Hamilton (1st Duke) of Abercorn 44, James (Sir; `Viscount’) Hamilton 43, John James (K.G.) Hamilton 42, John (Hon.) Hamilton 41, James (Sir) Hamilton 40, James (Sir) Hamilton 39, James (Colonel) Hamilton 38…

WaLlahu a’lamu bishshawab

Lintas Berita…
01. Misteri Bangsa Melayu dan Teori Atlantis
02. Jejak Nabi Nuh, dalam Gen Leluhur Nusantara (Haplogroup O1aM119)
03. Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Belajar dari “El Loco” Gonzales

Nama lengkapnya Christian Gerard Alfaro Gonzales dilahirkan di Monteveido, Uruguay pada tanggal 30 Agustus 1976, dari seorang ayah angkatan militer bernama Eduardo Alfaro dan ibu seorang suster di rumah sakit Montevideo bernama Meriam Gonzales.

Perkenalannya dengan dunia sepak bola, dimulai ketika Gonzales berusia 6 tahun. Karir pria yang memiliki tinggi badan 177 Cm ini di dalam persepak bolaan terus berkembang, mulai dari Klub Penarol Uruguay (1988-1991), South Amerika (1994-1995), Huracan de Carientes Argentina (1997) dan Deportivo Maldonado (2000-2002) sampai akhirnya, mulai tahun 2003, bermain di Liga Nasional Indonesia.

Bermain bola di Indonesia, yang mayoritas muslim, telah membuat Gonzales lebih mengenal ajaran Islam. Dengan pertimbangan yang masak, maka tepat pada tanggal 9 Oktober 2003 Christian Gonzales memutuskan untuk masuk Islam atas dasar kemauan sendiri dengan disaksikan oleh ustadz Mustafa di Mesjid Agung al Akbar Surabaya (Sumber : http://noenkcahyana.blogspot.com/2010/12/el-loco-sang-muallaf-yang-menjadi.html)

1299383207774738987

Menjadi seorang Muallaf

Mengikuti langkah Gonzales, menjadi seorang pemain sepakbola yang handal, tentu memakan waktu bertahun-tahun, dan juga harus disertai dengan latihan yang penuh disiplin. Akan tetapi, untuk menjadi seorang muallaf bukanlah hal yang sulit. Sesungguhnya metode Rasulullah dalam mengajak orang-orang ke dalam Islam adalah sebagai berikut :

1. Mengajak mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan/Rasul Allah.

Diantara hadits yang menyebutkan hal itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika mengutus Mu’az ke Yaman, beliau bersabda kepadanya :

“Sesungguhnya engkau mendatangi suatu kaum Ahlul Kitab, maka hendaklah yang pertama engkau lakukan adalah mengajak mereka kepada bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq melainkan Allah”.

2. Jika mereka meresponsnya dengan baik, beliau ajak mereka kepada syari’at Islam lainnya berdasarkan urgensinya dan pertimbangan situasi dan kondisinya.

Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Sahl bin Sa’d as-Sâidi, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda kepada ‘Ali radhiallahu ‘anhu ketika beliau akan memberinya panji pada hari perang Khaibar :

” lakukanlah dengan perlahan hingga engkau turun ke lapangan menghadapi mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan beritahukanlah kepada mereka hak Allah yang wajib atas mereka. Demi Allah! sungguh, Allah beri hidayah di tanganmu seorang saja adalah lebih baik bagimu daripada onta merah (barang yang paling berharga dan bernilai paling tinggi bagi orang Arab saat itu).”

(Sumber : Tata Cara Orang Yang Masuk Islam (Muallaf), www.alsofwah.or.id)

12993829451348378650
Kalimah Syahadat :
asyhadu al laa illaha illallah, wa asyhadu anna muhammar rasulullah
(aku bersaksi tiada Tuhan selain ALLAH, dan aku bersaksi Muhammad utusan ALLAH)

Proses Praktis 10 Menit

Dengan demikian yang paling utama untuk dilakukan adalah mengucapkan dua kalimah syahadat. Memahami kandungannya dan meyakini dengan keyakinan yang pasti, bersih dari keragu-raguan.

Sementara mandi dan shalat dua rakaat setelah itu bukan termasuk syarat syahnya keIslaman seseorang. Para ulama berbeda pendapat, apakah hal itu wajib atau sunnah, namun yang rajih adalah sunnah. Meninggalkannya tidak berpengaruh terhadap keislaman, tidak juga terhadap diterimanya amal perbuatan.

Untuk bisa menjadi seorang muslim tidak disyaratkan mengumumkannya di hadapan salah seorang manusia. Islam adalah sebuah perkara antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Jika dia menyaksikan keislamannya untuk meyakinkan lingkungan demi terlaksananya hak-hak ukhuwah, maka yang demikian tidak jadi masalah. Akan tetapi tanpa menjadikannya sebagai syarat syahnya keIslaman seseorang. (Sumber : http://qiblati.com/cara-masuk-islam.html)

Begitu mudahnya menjadi seorang Muallaf, tidaklah berlebihan apabila dikatakan proses pelaksanaannya memakan waktu tidak sampai 10 menit…

Lintas Berita :
Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Artikel Terkait
01. Bekerja itu Mulia
02. Mukjizat HIJRAH, dari 1,500 menuju 1,57 Milyar
03. Monotheisme, warisan Syariat Nuh

 

Sunan Giri, Pendidik yang Ahli Fiqih

Ketika Masjid Demak akan diresmikan, Sunan Kalijaga mengusulkan agar dibuka dengan pertunjukan Wayang Beber, yaitu gambar manusia yang dibeber pada sebuah kulit binatang. Namun usulan itu, tidak disetujui Sunan Giri, beliau mengusulkan agar Masjid Demak diresmikan pada saat hari jum’at sembari melaksanakan Shalat Jum’at berjamaah.

Setelah diadakan kompromi, peresmian akhirnya diawali dengan Shalat Jum’at, kemudian diteruskan dengan pertunjukan Wayang. Dimana Wayang yang ditampilkan, sudah terlebih dahulu dirubah bentuknya, sehingga lebih mirip karikatur daripada berbentuk manusia.

Sunan Kalijaga memberi tanda khusus pada momentum penting itu. Sunan Kalijaga, memberi nama pemimpin para dewa pewayangan sebagai Sang Hyang Girinata, yang sebenarnya bermakna “Sunan Giri yang menata”.

Riwayat dan Keturunan Sunan Giri

Sunan Giri merupakan nama salah seorang Wali Songo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Beliau dilahirkan di Blambangan (Sekarang Banyuwangi) pada tahun 1442 Masehi, yang bertepatan dengan tahun 1365 Saka.

Beliau adalah anak dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu, yaitu putri dari Raja Menak Sembuyu (Penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit).

Adapun Nasab Sunan Giri, sebagai berikut :

Sunan Giri bin Maulana Ishaq bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Maulana Husin Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin bin ’Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik Azmat Khan bin ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin ‘Ali Khali Qasam bin ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah bin ‘Alwi al-Mubtakir bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa An-Naqib bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al-’Uraidhi bin Imam Ja’far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Sunan Giri disebutkan memiliki dua orang istri, yaitu Dewi Murtasiah binti Sunan Ampel dan Dewi Wardah binti Ki Ageng Bungkul.

Melalui istrinya Dewi Murtasiyah, Sunan Giri memiliki delapan anak, yaitu :

1. Ratu Gede Kukusan

2. Sunan Dalem.

3. Sunan Tegalwangi.

4. Nyai Ageng Seluluhur

5. Sunan Kidul

6. Ratu Gede Saworasa

7. Sunan Kulon (Panembahan Kulon)

8. Sunan Waruju

Sementara dari Dewi Wardah, beliau memiliki dua anak bernama : Pangeran Pasirbata dan Siti Rohbayat.

Menurut Serat Centini, Sunan Giri digantikan oleh putranya yang bernama Sunan Dalem (Maulana Zainal Abidin), yang memiliki 10 orang anak, yaitu :

01. Sunan Sedamargi

02. Sunan Prapen Adi

03. Nyai Ageng Kurugangurun

04. Nyai Ageng Kulakan

05. Pangeran Lor

06. Pangeran Dheket

07. Pangeran Bongkok

08. Nyai Ageng Waru

09. Pangeran Bulu

10. Pangeran Sedalaut.

Berdasarkan beberapa sumber catatan Genealogy, Sunan Giri merupakan salah satu Leluhur Pendiri Kerajaan di Kesultanan Palembang, Kesepuhan Cirebon, Kanoman Cirebon, Keraton Jogja, Keraton Surakarta, Mangkunegara dan Paku Alaman, sebagaimana bisa terlihat pada Silsilah berikut :

1. Sunan Giri
1.1. Sunan Dalem Wetan / Zainal Abidin
1.1.1. Sunan Sedo Ing Margi / Pangeran Wiro Kesumo Cirebon

1.1.1.1. Pangeran Adipati Sumedang
1.1.1.1.1. Tumenggung Manco Negoro # Nyai Gede Pembayun
1.1.1.1.1.1. Pangeran Sedo Ing Pasarean
1.1.1.1.1.1.1. Pangeran Mangkurat Sedo Ing Rejek
1.1.1.1.1.1.2. Sultan Abdurrahman (Kesultanan Palembang)
1.1.1.1.1.1.3. Kyai Mas Tumenggung Yudapati

1.1.2. Sunan Prapen (Maulana Muhammad)
1.1.2.1. Raden Ayu Ledah # Ki Ageng Gribig II
1.1.2.1.1. Ki Ageng Gribig III (Maulana Sulaiman)
1.1.2.1.1.1. Demang Jurang Juru Sapisan
1.1.2.1.1.1.1. Demang Jurang Juru Kapindo
1.1.2.1.1.1.1.1. Kyai Ilyas
1.1.2.1.1.1.1.1.1. Kyai Murtadha
1.1.2.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Muhammad Sulaiman
1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abu Bakar
1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah)

1.1.2.2. Sunan Kawis Guwo
1.1.2.2.1. Panembahan Giri
1.1.2.2.1.1. Nyai Anom Besari # Kyai Anom Besari
1.1.2.2.1.1.1. Ki Ageng Muhammad Besari

1.1.2.2.1.1.1.1. Nyai Ageng Basyariyah # Ki Ageng Basyariah / Raden Mas Bagus Harun
1.1.2.2.1.1.1.1.1. Nyai Muhammad Santri # Kyai Muhammad Santri
1.1.2.2.1.1.1.1.1.1. Kyai Ma’lum Buntoro
1.1.2.2.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Mustaram
1.1.2.2.1.1.1.1.1.1.1.1. Nyai Ilyas
1.1.2.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Nyai Nafiqah # KH. Hasyim Asy’ari
1.1.2.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. KH. Wahid Hasyim
1.1.2.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur)

1.1.2.2.1.1.1.2. Kyai Muhammad Ilyas
1.1.2.2.1.1.1.2.1. Kanjeng Kyai Kasan Besori (Raden Hasan Bashori)
1.1.2.2.1.1.1.2.1.1. RMA. Tjokronegoro
1.1.2.2.1.1.1.2.1.1.1. RM. Tjokroaminoto (Cokroaminoto)
1.1.2.2.1.1.1.2.1.1.1.1. Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto

1.1.2.2.1.1.1.2.1.2. Kyai Hasan Anom
1.1.2.2.1.1.1.2.1.2.1. Kyai Khalifah
1.1.2.2.1.1.1.2.1.2.1.1. Nyai Sulaiman # R.M. Sulaiman Djamaluddin (Cirebon)
1.1.2.2.1.1.1.2.1.2.1.1.1. Kyai Archam Anom Besari
1.1.2.2.1.1.1.2.1.2.1.1.1.1. Kyai R. Santosa Anom Besari
1.1.2.2.1.1.1.2.1.2.1.1.1.1.1. KH. Zainuddin Fananie (Pendiri Gontor)
1.1.2.2.1.1.1.2.1.2.1.1.1.1.2. KH. Ahmad Sahal (Pendiri Gontor)
1.1.2.2.1.1.1.2.1.2.1.1.1.1.3. KH. Imam Zarkasyi (Pendiri Gontor)

1.1.3. Ki Ageng Saba
1.1.3.1. Nyai Sabinah # Ki Ageng Pemanahan
1.1.3.1.1. Panembahan Senapati
1.1.3.1.1.1. Panembahan Hanyakrawati
1.1.3.1.1.1.1. Sultan Agung
1.1.3.1.1.1.1.1. Sultan Amangkurat I
1.1.3.1.1.1.1.1.1. Sunan Pakubuwono I
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Amangkurat IV
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono I (Kraton Jogja)

1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono II
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono III
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Pangeran Diponegoro

1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2. Sultan Hamengkubuwono IV
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1. Sultan Hamengkubuwono VI
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1. Sultan Hamengkubuwono VII
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono VIII
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono IX
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono X

1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.2. KGPAA Paku Alam I (Kraton Paku Alaman)
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1. KGPAA Paku Alam II
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1. KGPAA Paku Alam III
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1.1. Pangeran Soerjaningrat
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1.1.1. Ki Hadjar Dewantoro (Pendiri Taman Siswa)

1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.2. Pangeran Hario Mangkunegoro
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.2.1. KGPAA Mangkunegara I (Keraton Mangkunegara)

1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.3. Sunan Pakubuwono II (Keraton Surakarta)
1.1.3.1.1.1.1.1.1.1.3.1. Sunan Pakubuwono III

1.1.3.1.1.1.1.1.2. Nyai Panembahan Girilaya # Panembahan Girilaya Cirebon
1.1.3.1.1.1.1.1.2.1. Sultan Sepuh I (Kraton Kasepuhan Cirebon)
1.1.3.1.1.1.1.1.2.2. Sultan Anom I (Kraton Kanoman Cirebon)
1.1.3.1.1.1.1.1.2.3. Panembahan Tohpati

1.2. Panembahan Kulon (Sunan Kulon)
1.2.1. Nyai Gede Kedaton
1.2.1.1. Sunan Cendana
1.2.1.1.1. Nyai Komala
1.2.1.1.1.1. Nyai Tepi Sulasi
1.2.1.1.1.1.1. Kyai Abdul Azhim
1.2.1.1.1.1.1.1. Kyai Muharram
1.2.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abdul Karim
1.2.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Hamim
1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abdul Lathif
1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Kholil Bangkalan

(Sumber :djogdjaku, bataviase.co.id dan Maulana Husain, Pelopor Dakwah Nusantara).

silsilah dinasti sriwijaya giri

*) versi lain menyebutkan ibu dari Sayyid Ibrahim Asmoro, bernama Amira Fathimah binti Amir Husain bin Muhammad, berasal dari asia tengah (Samarkand)…

Dakwah Sunan Giri

Pada sekitar tahun 1487 Masehi, Sunan Giri mendirikan sebuah pesantren di perbukitan desa Sidomukti, Kebomas.

Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Konon Raja Majapahit dikarenakan khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan, memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan.

Pesantren Sunan Giri, kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, beliau juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.

Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau di Nusantara.

Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau. Beliau juga mengirimkan beberapa utusan dakwah, yang terdiri dari Pelajar, Saudagar, Nelayan, menuju pulau Madura, Bawean dan Kangean, bahkan sampai ke Ternate dan Haruku di kepulauan Maluku (Sumber : noenk CAHAYA).

Dalam keagamaan, Sunan Giri dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fiqih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pencipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung, yang bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

Artikel Terkait
01. Sunan Kalijaga, Ulama Seniman
02. Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara
03. Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?
04. Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

ISA lebih historis, daripada YESUS

Nama Putera Tunggal dari Bunda Maria (Maryam binti Imran), dikalangan umat Muslim dikenal sebagai Isa, sementara di kalangan umat Kristen mengenalnya dengan nama Yesus.


Dari sisi Makna

Munculnya Yesus (Nabi Isa), tidak lepas dari nubuat di dalam Bilangan 24:17, yaitu :

אֶרְאֶנּוּ וְלֹא עַתָּה אֲשׁוּרֶנּוּ וְלֹא קָרוֺב דָּרַךְ כּוֺכָב מִיַּעֲקֹב וְקָם שֵׁבֶט מִיִּשְׂרָאֵל וּמָחַץ פַּאֲתֵי מוֺאָב וְקַרְקַר כָּל-בְּנֵי-שֵׁת:

Translit Interlinear, ERWNU {aku melihat}VELO{tetapi bukan } ATA{sekarang} ASHURANU{aku memandang dia} VELO KAROV{tetapi bukan dari dekat} DARAKHH KOKHAV{bintang terbit}MIYAAKOV {dari yakub}VEKAM SHEVET{tongkat kerajaan} MIYISRAEL{dari israel}…

I shall see him, but not now: I shall behold him, but not nigh: there shall come a Star out of Jacob, and a Sceptre shall rise out of Israel…”
Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel

Dan ayat ini, berhubungan dengan, ayat di dalam Matius 2:2 :

“Saying, Where is he that is born King of the Jews? for we have seen his star in the east, and are come to worship him.”
dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.

Pasal 2 Matthew merinci tentang tiga orang Majus yang mengikuti Bintang Utara dalam pencarian Mesias Yahudi. Dan ini adalah tanda Mesias yang paling terkenal (Sumber : Star of Messiah).

Akar kata Ibrani, yang bermakna “Bintang Utara” adalah ‘Ish, yang sepadan dengan akar kata Arab, yakni ‘Assa, yang merupakan asal dari kata ‘Isa.

Dengan demikian, dari sudut makna, kata ‘Isa jauh lebih sesuai daripada kata Yesus, yang tidak memiliki makna nubuat sama sekali.

Dari sudut pelafalan

Yesus (Nabi Isa) dibesarkan pada sebuah bangsa, yang menggunakan bahasa Aram. Bahasa Aram berkembang menjadi satu varian yang disebut bahasa Syriac, yang kemuadian tersebar luas di kalangan umat kristen, yang selanjutnya disebut “Christian Aramaic“.

Di dalam bahasa Syriac, nama Yesus (Nabi Isa) disebut sebagai “Eesho M’sheekha”, bermakna ‘Isa sang Mesias. Istilah “Essho M’sheekha” adalah yang paling mendekati bahasa seharian Yesus (Nabi Isa).

Eesho” (dibaca : ‘Isyo), oleh penduduk Yahudi Palestina Utara mengucapkannya dengan “Essaa” (dibaca : iisa), hal ini dikarenakan huruf “Shin” mereka lafalkan dengan “Sin”.

Hal ini bermakna, kata ‘Isa berasal dari kata Essho (dibaca : ‘Isyo), dalam bahasa Aram (yang merupakan bahasa keseharian Yesus / Nabi Isa), dan oleh penduduk Yahudi Palestina Utara, dilafalkan menjadi Essaa (dibaca : iisa).

Dengan demikian, nama ‘Isa (nama dalam Al Qur’an), jika didasarkan kepada faktor historis, jauh lebih tepat dipergunakan, daripada nama Yesus, yang berasal dari bahasa Ibrani “Yeshua”, yang kemudian dalam Arabic Bible menjadi “Yasua” (Sumber : Keakuratan Nama Isa dalam Qur’an).

Kata ‘Isa baik dipandang dari sudut makna (berarti bintang utara = ‘Assa (Arab) = Ish (Ibrani)), maupun dari sudut pelafalan (berasal dari lafal Essaa atau iisa), terbukti sangat akurat bagi nama, Sang Mesias, ‘Isa ibnu Maryam binti Imran (Kunjungi : Misteri Silsilah Yesus).

Artikel Terkait
01. Komunitas Muslim, dari Bani Israil
02. Pengembaraan Yesus (Nabi Isa), dalam berbagai Versi
03. Wafatnya Nabi Isa, menurut Buya HAMKA

Sunan Kalijaga, Ulama Seniman

Ketika wilayah (perwalian) Demak didirikan pada tahun 1478M, seorang ulama yang bernama ‘Joko Said‘, diserahi tugas sebagai Qadli (Hakim). Qadli Joko, dikemudian hari, lebih dikenal dengan panggilan Kalijogo (Sunan Kalijaga).

Perubahan pelafalan nama dari Qadli Joko menjadi Kalijogo, bukan hal yang aneh dalam budaya masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa memiliki riwayat kuat dalam hal ‘penyimpangan’ pelafalan kata-kata Arab, misalnya istilah Sekaten (dari ‘Syahadatain’), Kalimosodo (dari ‘Kalimah Syahadah’), Mulud (dari Maulid), Suro (dari Syura’), Dulkangidah (dari Dzulqaidah), dan masih banyak istilah lainnya.

Posisi Qadli yang dijabat oleh Kalijaga alias Joko Said ialah bukti bahwa Demak merupakan sebuah kawasan pemerintahan yang menjalankan Syariah Islam. Istilah ‘Qadli’ merupakan nama jabatan di dalam Negara Islam. Dari sini sudah jelas, bahwa Sunan Kalijaga adalah seorang Qadli, dan bukan praktisi Kejawenisme.

Riwayat dan Keturunan Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur. Mengenai asal usul beliau, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa beliau juga masih keturunan Arab. Tapi, banyak pula yang menyatakan ia orang Jawa asli.

Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Siti Sarah binti Maulana Ishaq, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah (Sumber : wikipedia.org dan Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara).

Sunan Kalijaga juga dikisahkan memiliki istri bernama Dewi Sarokah, yang merupakan puteri Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), dan memperoleh 5 orang anak, yaitu :

1. Kanjeng Ratu Pembayun yang menjadi isteri Raden Trenggono (Demak)
2. Nyai Ageng Panenggak yang kemudian kawin dengan Kyai Ageng Pakar.
3. Sunan Hadi, kelak menggantikan Sunan Kalijaga sebagai Kepala Perdikan Kadilangu.
4. Raden Abdurrahman.
5. Nyai Ageng Ngerang III (Raden Ayu Penengah).
(Sumber : CERITA SUNAN KALIJAGA).

Berdasarkan beberapa sumber catatan Genealogy, Sunan Kali Jaga merupakan salah satu leluhur Kraton Jogja, sebagaimana bisa terlihat pada Silsilah berikut :

1. Sunan Kalijaga # Dewi Sarokah
1.1. Raden Ayu Penengah # Ki Ageng Ngerang III
1.1.1. Ki Ageng Penjawi
1.1.1.1. Ratu Mas Waskita Jawi # Panembahan Senapati
1.1.1.1.1. Panembahan Hanyakrawati # Ratu Mas Hadi
1.1.1.1.1.1. Sultan Agung
1.1.1..1.1.1.1. Sultan Amangkurat I
1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Pakubuwono I
1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Amangkurat IV
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono I
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono II
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono III
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Pangeran Diponegoro

1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2. Sultan Hamengkubuwono IV
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1. Sultan Hamengkubuwono VI
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1. Sultan Hamengkubuwono VII
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono VIII
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono IX
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono X

Jalur Silsilah Kraton Yogyakarta lainnya, berasal dari puteri Sunan Kalijaga, melalui istrinya Nyai Zainab binti Syekh Siti Jenar

1. Sunan Kalijaga # Nyai Zainab
1.1. Nyai Ratu Mandoko # Ki Ageng Pengging
1.1.1. Sultan Hadiwijaya # Ratu Mas Cempaka binti Raden Trenggono
1.1.1.1. Pangeran Benowo
1.1.1.1.1. Ratu Mashadi # Panembahan Seda Ing Krapyak
1.1.1.1.1.1. Sultan Agung
1.1.1..1.1.1.1. Sultan Amangkurat I
1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Pakubuwono I
1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Amangkurat IV
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono I
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono II
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono III
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Pangeran Diponegoro

1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2. Sultan Hamengkubuwono IV
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1. Sultan Hamengkubuwono VI
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1. Sultan Hamengkubuwono VII
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono VIII
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono IX
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono X


Dakwah Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga, memilih sarana Kesenian dan Kebudayaan, dalam berdakwah. Beliau memang sangat toleran pada budaya lokal. Namun beliau pun punya sikap tegas dalam masalah akidah. Selama budaya masih bersifat transitif dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, beliau menerimanya. Wayang beber kuno ala Jawa yang mencitrakan gambar manusia secara detail dirubahnya menjadi wayang kulit yang samar dan tidak terlalu mirip dengan citra manusia.

Cerita yang berkembang mengisahkan bahwa beliau sering bepergian keluar-masuk kampung hanya untuk menggelar pertunjukan wayang kulit dengan beliau sendiri sebagai dalangnya. Semua yang menyaksikan pertunjukan wayangnya tidak dimintai bayaran, hanya diminta mengucap dua kalimah syahadat.

Beliau berpendapat bahwa masyarakat harus didekati secara bertahap. Pertama berislam dulu dengan syahadat selanjutnya berkembang dalam segi-segi ibadah dan pengetahuan Islamnya. Sunan Kalijaga berkeyakinan bahwa apabila Islam sudah dipahami, maka kebiasaan-kebiasaan lama, akan hilang dengan sendirinya (Sumber : forum.upi.edu).

Lakon-lakon yang dibawakan Sunan Kalijaga dalam pagelaran-pagelarannya bukan lakon-lakon Hindu macam Mahabharata, Ramayana, dan lainnya. Walau tokoh-tokoh yang digunakannya sama (Pandawa, Kurawa, dll.) beliau menggubah sendiri lakon-lakonnya, misalnya Layang Kalimasada, Lakon Petruk Jadi Raja yang semuanya memiliki ruh Islam yang kuat.

Seni ukir, wayang, gamelan, baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, serta seni suara suluk yang diciptakannya merupakan sarana dakwah semata, bukan budaya yang perlu ditradisikan hingga berkarat dalam kalbu dan dinilai sebagai ibadah mahdhah.

Beliau memandang semua itu sebagai metode semata, metode dakwah yang sangat efektif pada zamannya. Secara filosofis, ini sama dengan da’wah Rasulullah Saw yang mengandalkan keindahan syair Al Qur’an sebagai metode da’wah yang efektif dalam menaklukkan hati suku-suku Arab yang gemar berdeklamasi.

Tak dapat disangkal bahwa kebiasaan keluar-masuk kampung dan memberikan hiburan gratis pada rakyat, melalui berbagai pertunjukan seni, pun memiliki nilai filosofi yang sama dengan kegiatan yang biasa dilakukan Khalifah Umar ibn Khattab ra. yang suka keluar-masuk perkampungan untuk memantau umat dan memberikan hiburan langsung kepada rakyat yang membutuhkannya (Kunjungi : Sunan Kudus, dakwah damai Para Wali dan Rasionalisasi, Kisah Syaikh Siti Jenar).

Persamaan ini memperkuat bukti bahwa Sunan Kalijaga adalah pemimpin umat yang memiliki karakter, ciri, dan sifat kepemimpinan yang biasa dimiliki para pemimpin Islam sejati, bukan ahli Kejawen.

 

Lintas Berita :
Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Artikel Terkait
01. Sunan Giri, Pendidik yang Ahli Fiqih
02. Rasionalisasi, Kisah Syaikh Siti Jenar
03. Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara

REVISI Periode KENABIAN?

Di kalangan Rohaniawan saat ini, masih banyak yang percaya bahwa awal dari kenabian, paling lama sekitar 6.000 SM, atau 8.000 tahun yang lalu. Sebagaimana pendapat, seorang agamawan dari Irlandia, yang bernama James Ussher, yang berpendapat kemunculan Nabi Adam terjadi pada sekitar tahun 4.004 SM.

Selain itu seorang Sejarawan, yang bernama Josephus, menyatakan bahwa manusia pertama itu muncul pada sekitar tahun 5.411 SM, sementara seorang ilmuan, bernama ‘Adil Thaha Yunus, memperkirakan Nabi Adam muncul pada sekitar 5.872 SM.

Pendapat ketiga orang ini, jelas sangat bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah. Jika kita, membuka lembaran sejarah, di India pada 6.000 SM – 7.000 SM, sudah ada Peradaban Lembah Sungai Indus. Di Iran pada 7.000 SM, manusia telah mengenal almunium. Di Cina pada 7.000 SM, manusia sudah mengenal bercocok tanam. Dan di Indonesia, tahun 6.000 SM, Barus telah didiami manusia.

Nampaknya, sudah saatnya bagi kita, untuk meninjau kembali masa kehidupan Para Nabi. Hal ini dikarenakan berdasarkan fakta-fakta ilmiah yang ada, awal kenabian ternyata sudah berlangsung sangat lama, yakni masa Pra Sejarah, puluhan ribu tahun yang silam.

Masa Hidup Nabi Adam

Berdasarkan fakta ilmiah, keberadaan manusia diperkirakan telah ada sebelum 200.000 tahun yang lalu, bahkan ada pendapat yang mengatakan, umat manusia telah ada sejak jutaan tahun yang lalu. Hal ini didukung beberapa penemuan arkeologis, sebagai berikut :

1. Didekat sungai Omo, Ethiopia (Afrika Timur), ditemukan kerangka Homo Sapiens (manusia modern) tertua, yang berusia 195.000 tahun.

2. Pada tahun1865 di pertambangan Abbey Nevada USA, ditemukan dalam satu gumpalan bijih logam berbentuk skrup besi sepanjang 2 inci (= 5 cm). Benda hasil karya manusia ini, telah ber-oksidasi dan meninggalkan bentuk fosil, yang diperkirakan berusia jutaan tahun.

3. Di Desa Schondorf Austria di-temukan besi bentuk kubus (panjang dan lebar kurang dari 1 cm)di dalam gumpalan batu-bara yang pecah. Kubus ini beralur disekelilingnya dan tepi alurnya rata. Benda ini seolah – olah merupakan bagian dari peralatan mesin, dan diperkirakan ber-umur jutaan tahun (silahkan baca : Teori Darwin, Nabi Adam dan Piramid Giza dan MISTERI ARKEOLOGIS, di tengah PUING reruntuhan TEORI EVOLUSI ).

Dari fakta-fakta ilmiah di atas, pendapat yang menyatakan keberadaan Nabi Adam adalah pada sekitar 8.000 tahun yang lalu, nampaknya sudah tidak relevan lagi. Nabi Adam sebagai leluhur semua umat manusia di bumi, setidaknya telah ada di bumi, sejak sebelum 200.000 tahun yang lalu.

Masa Hidup Nabi Idris

Beberapa sejarawan ada yang mengidentifikasikan Nabi Idris, sebagai Akhnukh (Enoch), yang menurut mereka diperkirakan masa kehidupannya, pada sekitar tahun 4.500 SM. Selain itu ada juga yang memperkirakan masa hidup beliau, pada sekitar tahun 4.350 SM – 4.250 SM.

Namun, sepertinya kita harus meninjau kembali masa kehidupan beliau. Berdasarkan temuan arkeologis berupa Huruf Hieroglyph, diketahui bahwa pada masa Mesir Purba ada seseorang yang membawa ajaran Tauhid, yang dikenal dengan nama Oziris. Menurut Syaikh Thanthawi Jauhari, Oziris tidak lain adalah Nabi Idris.

Berdasarkan masa Peradaban Mesir Purba, yang dihitung dari saat berdirinya Piramid Cheops, diperkirakan masa kehidupan Nabi Idris, adalah sebelum 70.000 tahun yang lalu, yang oleh para sejarawan di anggap sebagai periode zaman Pra Sejarah (silahkan baca : Misteri HURUF HIEROGLYPH, mengungkap Kisah NABI IDRIS, dalam Peradaban MESIR PURBA?).

Masa Hidup Nabi Nuh

Nabi Nuh, menurut sebagian Rohaniawan, memiliki nama lengkap Nabi Nuh bin Lamak (Lamech) bin Matusyalah (Mathuselah) bin Akhnukh (Enoch atau Nabi Idris) bin Yarid (Jared) bin Mahla’il (Mahalaleel) bin Qinan (Cainan) bin Anusy (Enos) bin Nabi Syits (Seth) bin Nabi Adam, hal ini bermakna jarak antara Nabi Nuh dengan leluhur umat manusia (Nabi Adam), tidaklah begitu jauh hanya berjarak sekitar 9 generasi, benarkah demikian ?

Keberadaan Nabi Nuh tidak lepas dengan peristiwa global, banjir Nuh, yang melanda seluruh dunia. Para sejarawan klasik memperkirakan, peristiwa bencana itu terjadi pada sekitar tahun 3.000 SM. Akan tetapi, sepertinya kita harus me-revisi tahun kejadian bencana Nuh tersebut. Hal ini dikarenakan, pada sekitar masa 3.000 SM, tidak ditemukan fakta-fakta ilmiah, yang memberi petunjuk pernah terjadi Banjir Besar di permukaan bumi.

Berdasarkan temuan Geologi, ternyata peristiwa tersebut terjadi pada sekitar 13.000 tahun yang lalu, dan ini semakin diperkuat dengan temuan arkeologis, berupa Patung Sphinx di Mesir (silahkan baca : Patung Spinx, bukti arkeologis bencana Nuh 13.000 tahun yang silam dan Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia). Dengan demikian, masa kehidupan Nabi Nuh, ribuan tahun lebih tua dari yang kita pahami selama ini.

Ditemukannya temuan-temuan ilmiah, yang memberi petunjuk keberadaan Para Nabi, semakin memberi keyakinan kepada kita, bahwa ajaran Tauhid (Monotheisme) adalah sumber dari semua keyakinan di dunia, sehingga tidaklah mengherankan jika ajaran Tauhid, ternyata terdapat di seluruh keyakinan besar dunia (silahkan baca : Monotheisme, warisan Syariat Nuh).

Dan sesungguhnya Kisah Para Nabi yang ada di dalam Al Qur’an, bukanlah sekedar cerita mitos atau legenda, melainkan suatu kisah nyata, yang bisa kita ambil suri teladannya, serta dapat dibuktikan secara ilmiah.

Artikel Terkait
01. Siti Aisyah RA, menikah di usia 19 tahun
02. Rasionalisasi, Kisah Syaikh Siti Jenar
03. Meninjau Kembali Masa Hidup Rasulullah