Tag Archives: biografi

Silsilah dan Kekerabatan 5 Tokoh : Jokowi, Rhoma, Yusril, Prabowo dan Sultan HB X

Berdasarkan penyelusuran genealogy, terungkap fakta bahwa tokoh-tokoh yang berseberangan dalam politik, ternyata masih memiliki kekerabatan satu dengan lainnya.

jokowirhoma

Hal ini bisa terlihat pada ke-5 tokoh nasional, yaitu : Joko widodo (Jokowi), Rhoma Irama, Yusril Ihza Mahendra, Prabowo Subianto dan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Sebagaimana terlihat pada skema berikut :

silsilah5tokoh2
Keterangan :

1. Silsilah Rhoma Irama sampai kepada Sunan Ampel

Melalui ibunya, Rhoma Irama adalah keturunan Pangeran Sogiri, adapun silsilah Pangeran Sogiri sampai kepada Sunan Ampel adalah sebagai berikut :

1. Sunan Ampel
1.1. Dewi Mutasimah
1.1.1. Ratu Ayu Kirana Purnamasidhi
1.1.1.1. Maulana Yusuf
1.1.1.1.1. Maulana Muhammad
1.1.1.1.1.1. Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir
1.1.1.1.1.1.1. Sultan Abulmu’ali Ahmad
1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Ageng Tirtayasa
1.1.1.1.1.1.1.1.1. Pangeran Sogiri

(Sumber : Silsilah Rhoma Irama dan Trah Bangsawan Sukapura dan Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara)

2. Silsilah Yusril Ihza Mahendra sampai kepada Maulana Ishaq

Keluarga besar Yusril Ihza Mahendra, berasal dari kesultanan Johor, yang bermula kepada Tun Habib Abdul Majid. Tun Habib Abdul Majid sendiri silsilahnya akan sampai kepada Maulana Ishaq.

1. Maulana Ishaq
1.1. Syarifah Siti Musalmah
1.1.1. Maulana Fadillah Khan Al Pasi
1.1.1.1. Sayyid Abdullah
1.1.1.1.1. Sayyid Berakat Zainal Abidin
1.1.1.1.1.1. Sayyid Ali (Temenggung Seri Maharaja Johor)
1.1.1.1.1.1.1. Tun Habib Abdul Majid (Bendahara Seri Maharaja)

(Sumber : Yusril Ihza Mahendra, Kesultanan Johor dan Dinasti Makhdum Perlak)

3. Silsilah Joko Widodo (Jokowi) sampai kepada Ki Juru Mertani

Joko Widodo (Jokowi) adalah keturunan dari Kyai Abdul Jalal I
(Pendiri Perdikan Kalioso), yang silsilahnya akan sampai kepada Ki Ageng Djuru Martani.

1. Ki Ageng Djuru Martani (Maha Patih Mataram Kotagedhe)
1.1. Pangeran Adipati Manduraredjo (Ki Djuru Wiroprobo I)
1.1.1. RM Tmg Karto Nagoro
1.1.1.1. Kyai Gulu
1.1.1.1.1. Kyai Honggowongso
1.1.1.1.1.1. Kyai Niti Manggolo (Kyai Kerti Manggolo I)
1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abdul Jalal I (Pendiri Perdikan Kalioso)

(Sumber : Gubernur JOKOWI dan Misteri Leluhur MATARAM ISLAM)

4. Silsilah Sultan Hamengkubuwono X sampai kepada Sultan Agung

1. Sultan Agung
1.1. Sultan Amangkurat I
1.1.1. Sunan Pakubuwono I
1.1.1.1. Sultan Amangkurat IV
1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono I (Kraton Jogja)
1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono II
1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono III
1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono IV
1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono VI
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono VII
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono VIII
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono IX
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono X

(Sumber : Sunan Giri, Pendidik yang Ahli Fiqih)

5. Silsilah Prabowo Subianto sampai kepada Sultan Agung

Prabowo Subianto adalah keturunan dari Raden Tumenggung Mangkupradja, yang silsilahnya sampai kepada Sultan Agung

1. Sultan Agung
1.1. Sultan Amangkurat I
1.1.1. Sunan Pakubuwono I
1.1.1.1. Sultan Amangkurat IV
1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono I (Kraton Jogja)
1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono II
1.1.1.1.1.1.1. KGPA Moerdoningrat
1.1.1.1.1.1.1.1. Raden Tumenggung Djojodiningrat
1.1.1.1.1.1.1.1.1. Raden Ayu Djojoatmojo
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Raden Tumenggung Mangkupradja

(Sumber : PRABOWO SUBIANTO, dari Trah GIRI KEDATON dan Silsilah SUNAN TEMBAYAT)

Bahan Bacaan :

Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Menyelusuri masa kehidupan NABI ADAM, berdasarkan Genetika, Arkeologi, Astronomi dan Geologi

Berdasar penyelusuran Genetika, diketahui Y-chromosomal Adam (Y-MRCA), diperkirakan Adam “Manusia Modern”, hidup di bumi pada sekitar 237,000 sampai 581,000 tahun yang lalu.

Fakta ilmiah ini didukung, atas penemuan fosil manusia modern, di Sungai Omo Ethiopia yang berusia sekitar 195.000 tahun. Serta hasil penyelusuran Mitochondrial Eve, yang diperoleh hasil telah ada di bumi pada sekitar 200.000 tahun yang lalu.

Dalam ilmu geologi, masa 237,000 sampai 581,000 tahun yang lalu, di sebut sebagai Era Middle Pleistocene (126.000 sampai dengan 781.000 tahun yang lalu).

middle

Beberapa Bantahan

1. Penyelusuran Genetika, baik Y-chromosomal Adam (Y-MRCA), maupun Mitochondrial Eve, berdasarkan sampel manusia modern, yang hidup saat ini.

Sementara berdasarkan catatan sejarah, sangat banyak bangsa-bangsa yang pernah hidup di bumi, mengalami kepunahan.

Untuk salah satu contoh, saat terjadi Letusan Gunung Toba, manusia hampir diambang kepunahan.Dengan demikian, manusia yang ada sekarang, adalah keturunan dari segelintir manusia yang dahulu selamat dari bencana Letusan Gunung Toba.

Gunung Toba meletus diperkirakan terjadi pada 74.000 tahun yang lalu. Ada yang menduga letusan ini 20.000 kali lebih dahsyat dari Bom Atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki. Letusan Gunung Toba ini, menjadi letusan yang paling membunuh sepanjang masa, sehingga hanya menyisakan sekitar 30.000 orang yang selamat.

Hal ini memberi kita alasan, masa peradaban manusia, tentu akan jauh lebih lama, seandainya penyelusuran Genetika, juga memperhitungkan bangsa-bangsa yang telah punah.

2. Ditemukan benda-benda arkeologi, peninggalan umat manusia yang telah berumur jutaan tahun.

Peninggalan Arkeologi itu, antara lain :

Jembatan Penyebrangan (Rama Bridge), berdasarkan mitos dibuat oleh pasukan kera, ketika Sri Rama akan menyeberang ke Alengka. Jembatan ini setelah di tes dengan kadar isotop ternyata sudah berumur 1.700.000 tahun.

– Penelitian oleh Richard Leicky, di tahun 1972, terhadap sedimen Pleistocene di daerah Old Govie Jourg (Kenya), yang memperoleh kesimpulan telah ada peradaban umat manusia pada sekitar 1,7 juta tahun yang lalu (Sumber : Para Penghuni Bumi, sebelum Kita, hal.17-18, tulisan Muhammad Isa Dawud).

sedimen

Perkiraan masa hidup Nabi Adam

Ada yang memperkirakan, masa kehidupan Nabi Adam telah berumur milyaran tahun. Namun pendapat ini, tentu harus diselaraskan dengan keadaan bumi, berdasarkan penelitian para ilmuwan.

1. Menurut Ilmu Astronomi, Bumi mulai terbentuk sekitar 4,5 milyar tahun yang lalu. Dan Bumi berdasarkan pendapat para ilmuan, baru layak ditinggali makhluk hidup “mamalia” pada sekitar 70 juta tahun yang lalu. Dimana pada masa itu, oksigen yang sangat dibutuhkan makhluk hidup, sudah sangat bersahabat.

2. Berdasarkan informasi dari Al Qur’an (Qs. al-Maidah (5) ayat 27-31), diperkuat Hadits yang berasal dari ‘Abdullah ibnu ‘Abbas : Dimasa Nabi Adam telah ada teknologi pertanian dan peternakan. Hal tersebut tergambar melalui Qurban, dari anak-anak Nabi Adam yang bersengketa, yaitu berupa hasil-hasil pertanian dan peternakan.

Dan salah satu bentuk korban yang dipersembahkan adalah hewan mamalia jenis Qibas (Kambing), jadi bukan binatang purba seperti “dinosaurus” atau lainnya.

Berdasarkan temuan Fosil di wilayah Nevshir, hewan Kambing telah ada di bumi pada sekitar 8 juta-10 juta tahun yang lalu (Sumber : Harun Yahya)

3. Adanya pertanian dan peternakan di masa Nabi Adam, menunjukkan pada masa itu, disekitar padang arafah, yang merupakan tempat tinggal pertama umat manusia, merupakan wilayah yang subur.

Berdasarkan pendapat Profesor Alfred Kroner (seorang ahli ilmu bumi (geologi) terkemuka dunia, dari Department Ilmu Bumi Institut Geosciences, Johannes Gutenburg University, Mainz, Germany), ia menyatakan dataran Arab pernah menjadi daerah yang subur, di masa belahan bumi lain, mengalami Era Salju (Snow Age).

qibas11

Dengan mengacu kepada dalil-dalil diatas, diperkirakan Nabi Adam hidup di bumi dengan rentang waktu antara 1,7 juta sampai 10 juta tahun yang lalu.

Nabi Adam hidup di sekitar Padang Arafah, yakni di masa Era Salju (Snow Age), yang berdasarkan Penelitian Geologi, terjadi pada sekitar 2,6 juta tahun yang lalu.

Apakah di masa 2,6 juta tahun yang lalu, adalah masa kehidupan Nabi Adam dan keluarganya ?

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan :

1. Masa kehidupan Nabi Adam mungkin bisa lebih lampau lagi. Hal ini terkait dengan ditemukannya “kawasan Al Gharbia” yang berada di Uni Emirat Arab, yang dipekirakan pada masa 8 juta tahun yang lalu, merupakan daerah yang subur.

2. Di temukannya jejak kaki, yang diduga jejak kaki manusia, yang telah berumur sekitar 3,6 juta tahun, di Laetoli, Tanzania.

Sumber :
1. Ice Age
2. Gunung Toba
3. thenational.ae
4. Middle Pleistocene
5. nationalgeographic
6. Mitochondrial Eve
7. Y Chromosomal Adam
8. Kisah Habil dan Qabil

Yusril Ihza Mahendra, Kesultanan Johor dan Dinasti Makhdum Perlak

Di dalam Blog Pribadinya, mantan menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Yusril Ihza Mahendra, bercerita tentang salah seorang leluhurnya Haji Taib, beliau menulis :

“Haji Taib bukan orang asli Pulau Belitung. Ayah dan paman-paman saya mengatakan Haji Taib sebenarnya adalah seorang bangsawan bergelar tengku yang berasal dari Negeri Johor.”
Sumber : Kenang-Kenangan di masa kecil II

Para ahli genealogy mencatat, bahwa Kesultanan Negeri Johor, yang merupakan asal leluhur dari Keluarga Yusril, berasal dari zuriat Tun Habib Abdul Majid (Bendahara Seri Maharaja). Dan apabila terus diselusuri lebih mendalam akan sampai kepada Keluarga Azmatkhan dan Dinasti Makhdum di Kerajaaan Perlak.

aceh11
DINASTI AZIZAH dan DINASTI MAKHDUM

Sekitar tahun 777 M, tanah Aceh kedatangan seorang bangsawan Persia yang dikenali sebagai Syahrial Salman. Dari nama gelar yang ia sandang, menurut penelitian pakar sejarah Aceh, Sayed Dahlan al-Habsyi, gelar Syahri adalah gelar pertama yang digunakan keturunan Nabi Muhammad di Nusantara.

Kata Syahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali, yaitu Puteri Syahri Banun, anak Maha Raja Parsia terakhir.

Di duga Syahrial Salman adalah putera dari Abdullah al-Bahir al-Farisi bin Ali Zainal Abidin bin Imam Husain, yang merupakan memimpin cabang keluarga besar al-Husseini, kedatangan Pangeran Salman, sepertinya erat kaitannya dengan upaya untuk melepaskan diri daripada keKhalifahan Dinasti Abbasiyah, yang berpusat di Kota Baghdad Iraq.

Dalam Hikayat Raja-raja Jeumpa diceritakan Pangeran Salman kemudian menikahi Dewi Ratna Keumala atau Puteri Mayang Selundang, yang merupakan anak dari seorang Penguasa di daerah Jeumpa.

Dari pernikahan mereka berdua, melahirkan empat orang putera : Syahri Nuwi, Syahri Tanwi, Syahri Pauli, Syahri Dauli, dan seorang puteri, bernama Tansyir Dewi juga dikenali sebagai Makhdum Tansyuri.

Pada sekitar tahun 804 M, Kerajaan Jeumpa kedatangan para mubaligh sejumlah 100 anggota, yang dipimpin oleh Nakhoda Khalifah (Muhammad Nafs Zakiyah bin Abdullah Al-Kamil bin Hasan al-Muthana bin Imam Hasan).

Di dalam rombongan ini ikut serta juga Muhammad ad-Dhibaja bin  Ja’far as Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam Husain.

Syahri Nuwi yang saat itu menjadi penguasa di sebuah Kota baru yang bernama Perlak, menikahkan salah seorang anggota rombongan mubaligh, yang bernama Ali al-Muktabar, dengan adiknya yang bernama Makhdum Tansyuri.

Dari pernikahan Ali al-Muktabar dengan Makhdum Tansuri, lahirlah Maulana Abdul Azis Syah, yang menjadi cikal bakal Dinasti Azizah di Aceh. Sementara dari anak keturunan Syahri Nuwi, juga saling membangun jaringan kekuasaan, yang dikenal sebagai Dinasti Makhdum Johan Berdaulat.

Silsilah Aceh
Silsilah Aceh Persia

Versi Lainnya…

al-kamil
Keterangan :

Diskusi tentang skema silsilah di atas, bisa kunjungi laman berikut

Silsilah Yusril Ihza Mahendra

A. Silsilah Yusril sampai kepada Keluarga Azmatkhan

# Yusril Ihza Mahendra keturunan Haji Taib keturunan Tun Habib Abdul Majid

Tun Habib Abdul Majid (Bendahara Seri Maharaja) bin Sayyid Ali (Temenggung Seri Maharaja Johor) bin Sayyid Berakat Zainal Abidin bin Sayyid Abdullah bin Maulana Fadillah Khan Al Pasi bin Maulana Ibrahim Patakan Ismail bin Sayyid Abdul Ghaffar bin Maulana Barakat Nurul Alam bin Maulana Husain Jumadil Kubro bin Syeikh Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Azmatkhan bin Sayyid Abdul Malik Al-Muhajir bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath 

B. Silsilah Yusril sampai kepada Dinasti Makhdum Johan Berdaulat

# Yusril Ihza Mahendra keturunan Haji Taib keturunan Tun Habib Abdul Majid

Tun Habib Abdul Majid (Bendahara Seri Maharaja) bin Sayyid Ali (Temenggung Seri Maharaja Johor) bin Sayyid Berakat Zainal Abidin bin Sayyid Abdullah bin Maulana Fadillah Khan Al Pasi bin Syarifah Siti Musalmah (isteri Maulana Ibrahim Patakan Ismail) binti Maulana Ishaq bin Makhdum Ibrahim as-Samarqandy / Maulana Ibrahim zain Akbar bin Putri Jeumpa-Pasai (Ramawati, istri dari Syaikh Husain Jamaluddin Kubro), yang merupakan keturunan Meurah Makhdum Malik Ahmad (Raja Jeumpa).

Di mana Silsilah Meurah Makhdum Malik Ahmad (Raja Jeumpa) adalah Meurah Makhdum Malik Ahmad (Raja Jeumpa) bin Meurah Makhdum Ahmad (Raja Samalanga) bin Meurah Makhdum Malik Ibrahim (Raja Jeumpa) bin Meurah Makhdum Malik Masir (Raja Isak-Gayo II) bin Meurah Makhdum Malik Isak (Raja pertama Isak-Gayo) bin Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah (Sultan Perlak VII) bin Sultan Makhdum Alaiddin Muhammad Amin Syah (Sultan Perlak VI) bin Sultan Makhdum Alaiddin Abdulkadir Syah(Sultan Perlak V) bin Meurah Makhdum Ahmad (Perdana Menteri Perlak pada masa Sultan Perlak II, Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdurrahman Syah) bin Meurah Makhdum Bahrum (Perdana Menteri Perlak pada masa Sultan Perlak I, Sultan Alaiddin Maulana Sayyid Abdul Aziz Syah) bin Meurah Shahri Nuwi (pendiri Kerajaan Perlak/cikal bakal Dinasti Makhdum Johan Berdaulat).

Sumber Referensi :

1. Asyraaf.Org
2. Mencari Jejak Dinasti al Kamil
3. Dinasti Al Kamil
4. Sejarah Agung Perjuangan Ummah Aceh
5. Ketika Pasai Menaklukkan Majapahit
6. Kerajaan Jeumpa Aceh
7. Kerajaan Pertama Islam di Asia Tenggara
8. Salman al Farisi
9. Nabi Sulaiman Leluhur Bangsa Melayu, dalam Genealogy, King Khosrow I of Persia (531-578)

Catatan Penambahan :

1. Versi lain mengatakan Tun Habib Abdul Majid, berasal dari Keluarga Al-‘Aidarūs…

Tun Habib Abdul Majid (Bendahara Seri Maharaja) bin Sayyid Ali (Temenggung Seri Maharaja Johor) bin Sayyid Ali Zainal Abidin bin Sayyid Abdullah bin Sayyid Syekh bin Sayyid Abdullah bin Sayyid Abu Bakr Al-‘Aidarūs (sumber : wikipedia).

2. Silsilah Sayyid Husain Jamaluddin Akbar (versi Keturunan Sultan Pasai)…

Sayyid Husain Jamaluddin Akbar bin Sultan Zainal Abidin Pasai bin Sultan Ahmad Malikuzzahir bin Sultan Muhammad Malikuzzahir bin Sultan Malikus Saleh (Meurah Silu) bin Meurah Makhdum Malik Ahmad (Raja Jeumpa) bin Meurah Makhdum Ahmad (Raja Samalanga) bin Meurah Makhdum Malik Ibrahim (Raja Jeumpa) bin Meurah Makhdum Malik Masir (Raja Isak-Gayo II) bin Muerah Makhdum Malik Isak (Raja pertama Isak-Gayo) bin Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah (Sultan Perlak VII) bin Sultan Makhdum Alaiddin Muhammad Amin Syah (Sultan Perlak VI) bin Sultan Makhdum Alaiddin Abdulkadir Syah(Sultan Perlak V) bin Meurah Makhdum Ahmad (Perdana Menteri Perlak pada masa Sultan Perlak II, Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdurrahman Syah) bin Meurah Makhdum Bahrum (Perdana Menteri Perlak pada masa Sultan Perlak I, Sultan Alaiddin Maulana Sayyid Abdul Aziz Syah) bin Meurah Shahri Nuwi (pendiri Kerajaan Perlak) bin Sahriansyah Salman al-Parisi (Raja Islam pertama Jeumpa) bin Abdullah al Bahir al Farisi bin Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain bin Sayyidatuna Fatimah az-Zahrah binti Muhammad Rasulullah…

 

PRABOWO SUBIANTO, dari Trah GIRI KEDATON dan Silsilah SUNAN TEMBAYAT

Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo, lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951. Beliau dikenal sebagai seorang mantan Danjen Kopassus, yang menjadi pendiri Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA).

Jiwa keprajuritannya, sepertinya di-ilhami oleh salah seorang leluhurnya Raden Tumenggung Kertanegara IV (Raden Panji Indrajit/Tumenggung Banyakwide), yang merupakan Panglima Laskar Pangeran Diponegoro di wilayah Gowong (Kedu).

Trah Adipati Mrapat Banyumas

Jika diselusuri lebih mendalam, Silsilah Prabowo Subianto akan menuju kepada Raden Joko Kahiman, atau yang lebih dikenal sebagai Adipati Mrapat (Bupati Banyumas Pertama).

Raden Joko Kaiman adalah menantu Bupati Wirasaba, yang bernama Adipati Warga Hutomo. Beliau digelari “Mrapat”, disebabkan keberhasilannya untuk mendamaikan Sultan Hadiwijaya (Pajang) dengan ahli waris Adipati Warga Hutomo, dan ia juga dinilai berhasil mencegah perpecahan di wilayah Kabupaten Wirasaba (silahkan baca : Prabowo Subianto, Adipati Mrapat dan Gegeran Kadipaten Wirasaba) .

Hubungan antara Prabowo Subianto, dengan Adipati Mrapat, bisa dilihat pada Jalur Silsilah berikut :

01. Letjen TNI Prabowo Subianto
02. Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo
03. Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo

04. Raden Tumenggung Mangkuprodjo
05. Raden Kartoatmodjo menikah dengan R.A Djojoatmojo (Cicit dari Sultan Hamengkubuwono II).
06. Raden Muhammad

07. Raden Tumenggung Kertanegara IV (Panglima Laskar Diponegoro wilayah Gowong (Kedu))

08. Raden Tumenggung Kertanegara III
09. Raden Tumenggung Kertanegara II

10. Raden Tumenggung Mangkupradja/Raden Tumenggung Kertanegara I (Patih Ndalem Kartasura, beliau yang membangun Masjid Saka Tunggal Kebumen tahun 1722 ).

11. Ngabei Kertoyudo
12. Ngabei Banyakwide

13. Raden Tumenggung Mertayuda (Adipati Banyumas ke-empat (1620-1650))
14. Ngabei Kalidethuk/Mertasura II (Adipati Banyumas Ke-tiga (1601-1620))
15. Ngabei Djanah/Mertasura I (Adipati Banyumas Ke-dua (1583-1600))

16. Adipati Mrapat (Adipati Banyumas Pertama (1582-1583))

{Berdasarkan catatan ahli Nasab Raden Fatah, KH.Abdullah Faqih Cemoro, Adipati Mrapat terhitung sebagai salah seorang cicit Raden Fatah.

Adipati Mrapat (Raden Joko Kaiman) bin Pangeran Haryo Joyohadikusumo bin Pangeran Sekar Seda Lepen (Raden Kikin) bin Raden Fattah (Pendiri Kerajaan Demak Bintoro)}

Dari data Silsilah di atas, salah seorang leluhur Prabowo bernama Raden Kartoatmodjo menikah dengan R.A Djojoatmojo (Cicit dari Sultan Hamengkubuwono II).

Melalui Sultan Hamengkubuwono II, jalur genealogy Prabowo Subianto menyambung kepada Sunan Giri (Pendiri Khilafah Giri Kedaton) dan Sunan Tembayat.

I. Jalur Kepada Sunan Giri 

01. Letjen TNI Prabowo Subianto
02. Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo
03. Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo

04. Raden Tumenggung Mangkuprodjo
05. Raden Ayu Djojoatmojo

06. Raden Tumenggung Djojodiningrat

07. KGPA Moerdoningrat

08. Sri Sultan Hamengkubuwono II

09. Sri Sultan Hamengkubuwono I

10. Sri Susuhunan Amangkurat Mas II (Sunan Amangkurat IV)
11. Sri Susuhunan Pakubuwana I (Pangeran Puger)

12. Sunan Amangkurat I
13. Sultan Agung Hanyokrokusumo
14. Prabu Hanyakrawati
15. Panembahan Senapati (Pendiri Kraton Mataram Islam)

16. Nyai Sabinah (isteri Ki Ageng Pemanahan)
17. Ki Ageng Saba
18. Nyai Made Pandan
19. Sunan Dalem (Sunan Giri II)
20. Sunan Giri (Pendiri Khilafah Giri Kedaton)

II. Jalur Kepada Sunan Tembayat

01. Letjen TNI Prabowo Subianto
02. Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo
03. Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo

04. Raden Tumenggung Mangkuprodjo

05. Raden Ayu Djojoatmojo

06. Raden Tumenggung Djojodiningrat

07. KGPA Moerdoningrat

08. Sri Sultan Hamengkubuwono II

09. Sri Sultan Hamengkubuwono I

10. Sri Susuhunan Amangkurat Mas II (Sunan Amangkurat IV)
11. Sri Susuhunan Pakubuwana I (Pangeran Puger)

12. Kanjeng Ratu Pelabuhan (istri Sunan Amangkurat I)
13. Pangeran Kajoran (Panembahan Rama)
14. Ki Ageng Wanakusuma II
15. Ki Ageng Wanakusuma
16. Ki Ageng Giring IV
17. Ki Ageng Giring III (semasa dengan Ki Ageng Pemanahan)
18. Nyai Ageng Giring II (istri Ki Ageng Giring II)
19. Sunan Tembayat

Sunan Tembayat atau Pangeran Mangkubumi merupakan penyiar Islam di tanah Jawa. Dia adalah anak dari Ki Ageng Pandan Arang yang lebih dikenal sebagai bupati pertama Semarang dan Pendiri Masjid Agung Semarang pada tahun 1575 M. (sumber: republika.co.id).

Catatan Penambahan

1. Hubungan Kekerabatan antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi)

trahjokoprabowo2
2. Prabu Hayam Wuruk sampai ke Prabowo Subianto

silsilahprabowo1

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Pendapat yang menyatakan ayahanda R. Djoko Kaiman (Adipati Mrapat), bernama Raden Banyak Sostro, sangat LEMAH, disebabkan :

a. Hanya berdasarkan kisah Mitos (Legenda)
b. Keduanya berbeda masa kehidupannya, jika Raden Banyak Sastro, adalah generasi ke-2 dari Prabu Niskala Wastu Kencana, sementara Raden Djoko Kaiman, satu generasi dengan Maulana Muhammad (Sultan Banten, 1585-1596), yang merupakan generasi ke-7 dari Prabu Niskala Wastu Kencana.
c. Istri Raden Djoko Kaiman adalah generasi ke-7 dari Prabu Niskala Wastu Kencana (dalam Kisah Rakyat Banyumas), sementara kalau kita berpendapat R. Djoko Kaiman adalah anak dari Raden Banyak Sostro, berarti yang bersangkutan adalah generasi ke-3 dari Prabu Niskala Wastu Kencana.
d. Jika Raden Djoko Kaiman adalah keturunan Prabu Niskala Wastu Kencana, maka ada sekitar 4 generasi yang hilang.

Referensi :

1. Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara
2. Silsilah Keluarga “Sang Patriot, Prabowo Subianto”
3. Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?
4. Silsilah Rhoma Irama dan Trah Bangsawan Sukapura
5. Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Silsilah Rhoma Irama dan Trah Bangsawan Sukapura

Jika kita membaca biografi Sang Raja Dangdut, Oma Irama (Rhoma Irama), akan kita dapati informasi, bahwa beliau adalah putra dari Raden Burdah Anggawirya.

Raden Burdah Anggawirya, adalah mantan komandan gerilyawan Garuda Putih Tasikmalaya, pada masa perang kemerdekaan. Dan beliau berasal dari keluaga bangsawan Tasikmalaya, yang di masa lalu lebih dikenal sebagai Sukapura.


Bangsawan Sukapura (Tasikmalaya)

Jika kita menyelusuri Genealogy Kaum Bangsawan Sukapura, mereka ada yang berasal dari keturunan Tumenggung Wiradadaha (Wirawangsa), sebagian lagi adalah keturunan dari Raden Suryadiwangsa (Suryadiningrat I).

Kedua leluhur kaum bangsawan Sukapura ini, memiliki garis silsilah sebagai berikut :

Tumenggung Wiradadaha (Wirawangsa)
Tumenggung Wiradadaha (Wirawangsa) bin Raden Entol Wiraha bin Pangeran Kusumah Diningrat bin Sayyid Abdul Halim (Pangeran Benawa) bin Sayyid Abdurrahman (Jaka Tingkir) bin Sayyid Shihabudin (Ki Ageng Pengging) bin Sayyid Muhammad Kebungsuan (Handayaningrat)  bin Maulana Husain Jumadil Kubro bin Syeikh Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Azmatkhan bin Sayyid Abdul Malik Al-Muhajir bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

Raden Suryadiwangsa (Suryadiningrat I)
Raden Suryadiwangsa (Suryadiningrat I) bin Raden Abdullah Malaka bin Maulana Abdul Qadir (Pati Unus) bin Raden Muhammad Yunus bin Syekh Abdul Khaliq al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi bin Imam Muhammad Al Faqih Al Muqaddam bin Sayyid Ali Ba Alawi bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

Dalam versi yang lain disebutkan bahwa Tumenggung Wiradadaha (Wirawangsa) adalah keturunan dari Raden Suryadiwangsa (Suryadiningrat I), dan ada juga yang menyebutkan sebagai keturunan dari Panembahan Senapati Mataram (melalui jalur ibunya Nyai Sabinah, Panembahan Senapati adalah salah seorang zuriat dari Syeikh Muhammad Shohib Mirbath).

Dengan demikian, bisa dikatakan Para Bangsawan Sukapura (Tasikmalaya), adalah keturunan dari Syeikh Muhammad Shohib Mirbath, yang merupakan seorang ulama dari Hadramaut (Yaman).

Sementara Silsilah Syeikh Muhammad Shohib Mirbath, sampai kepada Rasulullah adalah :

Syeikh Muhammad Shohib Mirbath bin ‘Ali Khali Qasam bin ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah bin ‘Alwi al-Mubtakir bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa An-Naqib bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husain Asy-Syahid bin Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :

1. Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara
2. Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?
3. Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Catatan :

1. Dari penyelusuran genealogy, kami memperoleh data, bahwa ibu dari Oma Irama, yang bernama Tuti Juariah adalah keturunan dari Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa Banten.

2. Silsilah Pangeran Sogiri – Sunan Gunung Jati – Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa bin Sultan Abulmu’ali Ahmad bin Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir bin Maulana Muhammad bin Maulana Yusuf bin Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati bin Sayyid Abdullah Umdatuddin bin Sayyid Ali Nurul Alam bin Maulana Husain Jumadil Kubro bin Syeikh Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Azmatkhan bin Sayyid Abdul Malik Al-Muhajir bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

3. Silsilah Pangeran Sogiri – Pangeran Ahmad Jakerta  – Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

Berdasarkan catatan Nurfadhil Al-Alawi Al-Husaini, pemerhati silsilah Kesultanan Banten, jalur Pangeran Sogiri sebagai berikut :

Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa bin Ratu Marta Kusuma binti Pangeran Ahmad Jakerta bin Pangeran Sungerasa Jayawikarta bin Ratu Ayu Pembayun (istri dari Pangeran Jayakarta II/Tubagus Angke) binti Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati bin Sayyid Abdullah Umdatuddin bin Sayyid Ali Nurul Alam bin Maulana Husain Jumadil Kubro bin Syeikh Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Azmatkhan bin Sayyid Abdul Malik Al-Muhajir bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath (sumber)

4. Silsilah Pangeran Sogiri – Sunan Ampel

Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa bin Sultan Abulmu’ali Ahmad bin Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir bin Maulana Muhammad bin Maulana Yusuf bin Ratu Ayu Kirana Purnamasidhi binti Dewi Murtasimah binti Sunan Ampel

Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?

Bermula dari Silsilah yang disusun oleh Kyai Sudja’, murid KHA Dahlan, yang bersumber dari dokumen Kitab Ahlul Bait. Diperoleh informasi Pendiri Muhammadiyah, Ki Haji Ahmad Dahlan merupakan keturunan Sunan Prapen (Sunan Giri ke-4), dengan rincian sebagai berikut :
Kyai Ahmad Dahlan bin Kyai Abu Bakar bin Kyai Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadha bin Kyai Ilyas bin Demang Jurang Juru Kapindo bin Demang Jurang Juru Sapisan bin Ki Ageng Gribig Jatinom (Maulana Sulaiman) bin Sunan Prapen (Sunan Giri IV).

Dengan semakin berkembangnya ilmu nasab, beberapa pihak mencoba meneliti kembali Nasab tersebut, dan hasilnya terdapat kejanggalan yakni jarak antara Sunan Prapen (semasa dengan kehidupan Sultan Hadiwijaya Pajang), dengan Ki Ageng Gribig (semasa dengan kehidupan Sultan Agung Mataram), terdapat jarak sekitar 2 generasi. Untuk mencari 2 generasi yang hilang itu, penyelusurannya dicoba dicari dengan meneliti beberapa silsilah yang beredar di masyarakat.

Kyai Dahlan, keturunan Sunan Giri dan Sunan Tembayat

Dari beberapa informasi yang di dapat, diketahui bahwa Ki Ageng Gribig terhitung sebagai keturunan Sunan Giri, melalui jalur ibunya yang bernama Raden Ayu Ledah atau RA. Seledah. Dan diduga ibu beliau ini, merupakan salah seorang anak dari Sunan Prapen. (Sumber : Makam Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten,  Simbah Kyahi Ageng Gribig Jatinom, Wisata Ziarah di Klaten (2)).

Setelah menemukan hubungan genealogy, antara KH. Ahmad Dahlan dengan Trah Sunan Giri (melalui jalur ibu), muncul pertanyaan bagaimana Silsilah KH. Ahmad Dahlan, melalui jalur ayah ?

Dari beberapa silsilah yang kami peroleh, Kyai Gribig memiliki nama Syekh Wasibagno Timur, merupakan putra dari Syekh Wasibagno III atau Raden Mas Guntur atau Bandara Putih atau Prabu Wasi Jaladara (Sumber : Kabupaten Klaten, Tradhisi Ya Qawiyyu, Simbah Kyahi Ageng Gribig Jatinom).

Dari sang ayahanda Ki Wasibagno III, hampir semua silsilah menyatakan sampai kepada Brawijaya. Banyak orang menduga Brawijaya yang dimaksud adalah Prabu Brawijaya V, yang merupakan Raja terakhir Majapahit.

Akan tetapi yang membingungkan dari semua Silsilah itu menulis Ki Ageng Gribig adalah keturunan ke-3 dari Brawijaya. Padahal jika kita menggunakan timeline, setidaknya beliau adalah keturunan ke-5 dari Prabu Brawijaya V.

Berdasarkan buku berjudul Benturan budaya Islam: puritan & sinkretis, Oleh Sutiyono, Ahmad Dzulfikar, Sutiyono. Di dalamnya diceritakan Ki Ageng Gribig, adalah keturunan ke-5 Brawijaya, dengan puteri Sunan Giri. Jika yang dimaksud Brawijaya disini adalah Raja terakhir Majapahit, jelas sangat keliru. Karena masanya cukup jauh diatas masa Sunan Giri, apalagi generasi anaknya.

Di dalam buku itu juga ditulis tentang Brawijaya yang masuk Islam dan meyebar Islam di daerah Bayat. Jadi jelas yang dimaksud Brawijaya disini adalah Sunan Bayat atau Sunan Tembayat, yang hidup sekitar 2 generasi setelah Prabu Brawijaya V, dan terhitung sebagai cucu menantunya (salah seorang istri Sunan Tembayat adalah Nyi Ageng Kaliwungu binti Sunan Katong bin Prabu Brawijaya V)

Bisa dibaca disini : budaya Islam: puritan & sinkretisKORELASI TATA RUANG RUMAH KUNO DI KRAJAN KULON TERHADAP TATA RUANG KOTA KALIWUNGU

Dengan berpedoman kepada catatan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi, pada tahun 1979. Sunan Tembayat adalah putera Sayyid Abdul Qadir bin Maulana Ishaq. Ayahnya diangkat menjadi Bupati Semarang Pertama, atas arahan Sunan Giri, dan bergelar Sunan Pandan Arang.

Sementara ibu Sunan Tembayat adalah Syarifah Pasai, yang merupakan adik Pati Unus (Sultan Demak yang ke-2) (Sumber : SEJARAH & NASAB SUNAN BAYAT & SUNAN PANDANARAN).

Dengan berdasarkan kepada sumber-sumber silsilah yang ada, diperoleh Silsilah KH. Ahmad Dahlan (melalui jalur Sunan Tembayat), sebagai berikut :

Keterangan :

1. Silsilah Sunan Tembayat sampai kepada Rasulullah

01. Sunan Tembayat @ Sunan Bayat @ Sunan Pandanaran II, menikah dengan Nyi Ageng Kaliwungu binti Sunan Katong bin Prabu Brawijaya V

02. Maulana Islam @Ki Ageng Pandanaran @Sunan Pandanaran I @Sayyid Abdul Qadir @Sunan Semarang, menikah dengan adik Pati Unus (Maulana Abdul Qadir) yang bernama Syarifah Pasai bin Raden Muhammad Yunus bin Syekh Abdul Khaliq al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi bin Imam Muhammad Al Faqih Al Muqaddam bin Ali Ba Alawi bin Muhammad Shohib Mirbath

03. Maulana Ishaq
04. Syeikh Ibrahim Asmoro
05. Jamaluddin Akbar
06. Ahmad Syah Jalal
07. Abdullah
08. Abdul Malik
09. Alwi Ammi Al-Faqih
10. Muhammad Shohib Mirbath
11. ‘Ali Khali Qasam
12. ‘Alwi Shohib Baiti Jubair
13. Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah
14. ‘Alwi al-Mubtakir
15. ‘Ubaidillah
16. Ahmad Al-Muhajir
17. ‘Isa An-Naqib
18. Muhammad An-Naqib
19. ‘Ali Al-’Uraidhi
20. Ja’far Ash-Shadiq
21. Muhammad al-Baqir
22. ‘Ali Zainal ‘Abidin
23. Imam Husain Asy-Syahid
24. Fathimah Az-Zahra
25. Nabi Muhammad Rasulullah

2. Berdasarkan Silsilah yang dibuat Kyai Sudja’, Ki Ageng Gribig adalah keturunan Sunan Giri, melalui jalur laki-laki.

Hal tersebut masih sangat mungkin terjadi, apabila Ki Ageng Gribig (II) yang dalam cerita di masyarakat, disebut manantu Sunan Giri IV/Sunan Prapen, sejatinya adalah anak dari Sunan Giri  IV/Sunan Prapen.

3. Kisah seputar Ki Ageng Gribig yang beredar di masyarakat

01. Tentang Ki Ageng Gribig  sebagai putra Brawijaya. Berdasarkan buku Benturan budaya Islam: Puritan & Sinkretis, yang dimaksud Brawijaya adalah Sunan Tembayat.

Sunan Tembayat memiliki putra bernama Wasibagno yang bergelar Ki Ageng Gribig I.

02. Tentang ibu Ki Ageng Gribig yang berasal dari trah Sunan Giri. Berdasarkan timeline, orang yang dimaksud adalah Raden Ayu Ledah binti Sunan Giri IV (Sunan Prapen) bin Sunan Giri II (Sunan Dalem Wetan) bin Sunan Giri (Maulana Ainul Yaqin), yang merupakan istri dari Ki Ageng Gribig II.

03. Tentang Ki Ageng Gribig, yang menjadi pelopor acara “Yaqowiyu”,  yang dimulai pada sekitar tahun 1589 Masehi atau 1511 Saka. Orang yang dimaksud adalah Ki Ageng Gribig III, yang sekaligus juga guru Sultan Agung Mataram.

04. Tentang Ki Ageng Gribig, yang menikah dengan Raden Ayu Emas Winongan (adik Sultan Agung Mataram). Orang yang dimaksud adalah Ki Ageng Gribig IV, sekaligus juga orang yang berjasa dalam memadamkan gejolak politik di Palembang (tahun 1636 Masehi).

05. Tentang Ki Ageng Gribig, yang menjadi ayah dari Demang Juru Sapisan (terdapat di dalam silsilah yang dibuat Kyai Sudja’). Orang yang dimaksud adalah Ki Ageng Gribig IV.

4. Kisah dan Fakta, tentang Ki Ageng Gribig (III) pelopor acara “Yaqowiyu” di Jatinom Klaten :

1. Ki Ageng Gribig (III) pertama kali melaksanakan acara “Yaqowiyu”, sepulang dari ibadah haji, tepatnya tanggal 15 Sapar 1511 H (tahun 1589M).

2. Ki Ageng Gribig (III) diceritakan sebagai keturunan ke-5 dari Prabu Brawijaya V (raja terakhir Majapahit)

Urutan Silsilah….

= 00. Prabu Brawijaya V

= 01. Sunan Katong/Raden Jaka Pitutur/Raden Arakkali (adipati Ponorogo)

= 02. Nyi Ageng Kaliwungu (istri Sunan Tembayat/Brawijaya Wekasa)

= 03. Raden Jaka Dholog/Ki Ageng Jatinom/Resi Bagna/Wasibagno/Ki Ageng Gribig (I)

= 04. Pangeran Rangkaknyawa/Pangeran Watijiwa/Ki Ageng Pangkaknyana/Wasijiwa/Ki Ageng Gribig (II)
(Di dalam silsilah yang lain disebut Syekh Wasibagno III/Raden Mas Guntur/Bandara Putih/Prabu Wasi Jaladara, dan diceritakan memiliki istri bernama Raden Ayu Ledah/Raden Ayu Seledah keturunan Sunan Giri)

= 05. Kyai Getayu/Ki Ageng Gribig (III)
(Di dalam silsilah yang lain disebut Syekh Wasibagno Timur/Syekh Wasihatno)

3. Ki Ageng Gribig (III) adalah Guru Sultan Agung Mataram. Dan anaknya Ki Ageng Gribig (IV), membantu Sultan Agung dalam mengatasi gejolak politik di Palembang (tahun 1636M), serta menjadi adik ipar Sultan Agung Mataram.

Catatan Tambahan

(*) Berdasarkan kitab Al-Mausuu’ah Li Ansaab Itrati Al-Imam Al-Husaini, Jakarta: Penerbit Madawis, Cetakan 1, 2011…

Al-Imam Maulana Husain Jamaluddin Jumadil Kubro, dilahirkan pada tahun 1270 M di negeri Nasarabad, dan wafat di Wajo tahun 1453 M. Jadi usianya 183 tahun.

Melalui istrinya yang bernama Puteri Syahirah atau Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) binti Sultan Baki Shah ibni al-Marhum Sultan Mahmud, Raja of Chermin dari Kelantan Malaysia (menikah tahun 1390M), beliau dikarunia-i 2 anak, yaitu :
– Sayyid ‘Ali Nurul Alam (lahir tahun 1402M)
– Sayyid Muhammad Kebungsuan (lahir tahun 1410M)
(Sumber : Al-Imam Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan)

(*) Melalui penyelusuran yang dilakukan salah seorang keluarga KH. Ahmad Dahlan (sdr. Diah Purnamasari Zuhair), berkesimpulan bahwa Batara Katong, Sunan Geseng, dan Ki Ageng Gribig I, memiliki hubungan kekerabatan, namun mereka adalah orang yang BERBEDA.

Dengan alasan sebagai berikut :

1. Makam Batara Katong terletak di Jenangan-Ponorogo-Jawa Timur. Beliau memang tinggal di Jenangan. Makam tersebut terletak tidak jauh dari rumah adik ipar saya.

2. Sunan Geseng berasal dari Bagelen-Purworejo-Jawa Tengah. Makam Sunan Geseng terletak di daerah Gunung Kidul, yang biasa disebut Makam Jolosutro. Kalau membaca sejarah Sunan Geseng (Cokrojoyo I), maka beliau dikenal sebagai Ki Ageng Gribig III karena tinggal di Jatinom (dalam sejarah ditulis bahwa Ki Ageng Gribig III tinggal di Jatinom-Klaten-Jawa Tengah). Beliau juga yang menurunkan bupati-bupati Bagelen, dari putranya yang bernama Raden Joko Bumi, juga menurunkan Patih Cokrojoyo III (Adipati Danureja).

3. Makam Ki Ageng Gribig I terletak di Malang-Jawa Timur, yang jarak tempuhnya sekitar 2-3 jam dari Ponorogo.

Dari letak makam yang berbeda saja sudah bisa dipastikan bahwa Batara Katong bukan Ki Ageng Gribig I juga bukan Sunan Geseng. (Sumber : Diskusi Facebook).

Silsilah KH. Ahmad Dahlan (Berdasarkan revisi sdr. Diah Purnamasari Zuhair)…
silsilahdahlan21a
(*) Pendapat jalur nasab KH. Ahmad Dahlan, melalui Sayyid Muhammad Kebungsuan, juga memiliki beberapa kelemahan.

Mengidentifikasi Sayyid Muhammad Kebungsuan, adalah sosok yang sama dengan Adipati Andayaningrat (ayah Kebo Kanigoro/Batara Katong), sepertinya masih perlu diteliti lagi, dengan alasan…

(1). Kedua tokoh memiliki riwayat kehidupan dan masa periode kehidupan yang berbeda.

(2). Adipati Andayaningrat adalah putera dari Pangeran Bajul Segara, sejak kecil tidak bertemu dengan ayahnya. Sementara Sayyid Muhammad Kebungsuan, ketika kecil telah dibimbing ilmu keislaman langsung dari ayahnya Sayyid Husein Jamaluddin Akbar.

(3). Sayyid Muhammad Kebungsuan berdakwah ke berbagai tempat menyebarkan Islam, sementara Adipati Andayaningrat adalah seorang birokrat Kerajaan Majapahit

4). Berdasarkan Serat Kanda, Adipati Andayaningrat membela Majapahit saat berperang melawan Demak. Sementara Sayyid Muhammad Kebungsuan, tentu akan lebih berpihak kepada Demak, yang didukung oleh keluarganya (Sunan Ampel).

(*) Ada versi yang mengatakan Sayyid Muhammad Kebungsuan, ada 3 orang, yakni :

(1). Sayyid Muhammad Kebungsuan Malaka
(2). Sayyid Muhammad Kebungsuan Mindanau
(3) Sayyid Muhammad Kebungsuan Jawa

Adapun Silsilah Sayyid Muhammad Kebungsuan Jawa, adalah sebagai berikut :

1. Syekh Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra, menikah dengan Puteri Nizamul Muluk (Delhi India, menikah tahun 1309 M), memiliki putera bernama Maulana Muhammad Jumadil Kubra (lahir di Nasarabad India, tahun 1311 M).

Syekh Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubro, wafat tahun 1453, di usia 183 tahun dan dimakamkan di Wajo Sulawesi.

2. Maulana Muhammad Jumadil Kubro, berdasarkan catatan KRT.Hamaminatadipura, adalah orang yang membuka Hutan Mentaok, menjadi sebuah pemukiman, yang dikemudian hari dikenal sebagai Mataram.

Maulana Muhammad Jumadil Kubra, sendiri kemudian dikenal dengan gelar Ki Ageng Mataram I. Makam beliau berada di Gunung Plawangan Turga Kaliurang Yogyakarta.

Salah seorang putera Maulana Muhammad Jumadil Kubro, bernama Maulana Ahmad Jumadil Kubro, yang dikenal sebagai Wali Songo Generasi I.

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, berdasarkan catatan Ki Ageng Walisuci, dalam Babad Mataram Islam, beliau adalah ayah biologis dari Abdurrahman Jumadil Kubra, dan setelah dewasa lebih dikenal sebagai Raden Lembu Peteng atau Ki Bondan Kejawan.

Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubro, lokasi makamnya berada di Troloyo Mojokerto. Berdasarkan catatan silsilah Roro Tenggok (Roro Sekar Rinonce) binti Ki Kebo Kanigoro, Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubro merupakan ayah dari Pangeran Handayaningrat (Jaka Sengara) atau dikenal juga sebagai Sayyid Muhammad Kebungsuan (Jawa).

4. Pangeran Handayaningrat (Jaka Senggara/Sayyid Muhammad Kebungsuan (Jawa)), merupakan suami dari Raden Ayu Retno Pambayun

Dari pernikahan ini, beliau memiliki putera bernama Ki Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging, ayahanda Jaka Tingkir) dan Ki Kebo Kanigoro (Kyai Ageng Purwoto Sidik Banyubiru).

5. Ki Kebo Kanigoro (Kyai Ageng Purwoto Sidik Banyubiru, Sukoharjo Jawa Tengah), dalam salah satu versi merupakan Leluhur dari KH. Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah.

(*) Berdasarkan Tedhak Dermayudan, di daerah Gribik (Sengguruh Jawa Timur) bermukim seorang putra Sunan Giri bernama Pangeran Kedhanyang. Dikisahkan Pangeran Kedhanyang berhasil menahan serangan Adipati Sengguruh (Malang) di tahun 1535, sehingga daerah Jaha, Wendit, Kipanjen, Dinaya dan Palawijen masuk Islam.

Peristiwa peperangan antara Giri Kedaton dan Sengguruh (Malang) terjadi pada masa Sunan Giri II (Sunan Dalem), jadi kemungkinan  Pangeran Kedhanyang adalah putera dari Sunan Giri II (Sunan Dalem) bin Sunan Giri I.

Apakah Pangeran Kedhanyang, kelak akan bergelar Ki Ageng Gribig I, yang kemudian menjadi leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan ? (sumber : ngalam.id). Selengkapnya pembahasan versi ini, bisa kunjungi : Misteri Ki Ageng Gribig, Leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) ?

sililahad1

(*) Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan, dengan Keluarga Pondok Pesantren Gontor Ponorogo (Sumber : Silsilah Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dengan Keluarga Pesantren Gontor Ponorogo).

silsilahulama

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi Tambahan :

Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Sunan Giri, Pendidik yang Ahli Fiqih

MUHAMMADIYAH, terancam GAGAL?

Catatan Silsilah Al-Imam Ali Zainal Abidin (dari Zuriat Rasulullah, Kaisar Gao-Zu, Cyrus II of Persia, sampai keturunan Bani Israil)

Kita mengenal gelar-gelar seperti Habib, Sayyid, Syarif atau Maulana Sayyid… Gelar-gelar tersebut merupakan salah satu ciri Kaum Alawiyyin, keturunan Ali Zainal Abidin bin Hussain bin Fatimah binti Muhammad Rasulullah

Riwayat Ali Zainal Abidin

Ketika Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah binti Muhammad Rasulullah), memegang amanah ke-khalifahan, beliau menikahkan al-Husein puteranya, dengan seorang puteri Yazdigird, Kisra terakhir kekaisaran Persia yang bernama Shahrbānū. Dari perkawinan inilah Ali Zainal Abidin dilahirkan.

Ali Zainal Abidin, setelah dewasa dijuluki as-sajjad, karena banyaknya bersujud. Sedang gelar Zainal Abidin (hiasannya orang-orang ibadah) karena beliau selalu beribadah kepada Allah SWT. Bila akan shalat wajahnya pucat, badannya gemetar. Ketika ditanya: Mengapa demikian? Jawabannya: “Kamu tidak mengetahui di hadapan siapa aku berdiri shalat dan kepada siapa aku bermunajat”.

alizainal

Ali Zainal Abidin dilahirkan di kota Madinah pada tahun 33 H, atau dalam riwayat lain ada yang mengatakan 38 H. Beliau adalah termasuk generasi tabi’in.

Beliau banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya (Al-Imam Husain), pamannya Al-Imam Hasan, Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhromah, Abu Hurairah, Shofiyyah, Aisyah, Ummu Kultsum, serta para ummahatul mukminin/isteri-isteri Nabi SAW.

Mengenai beliau, beberapa Ulama berpendapat :
Yahya Al-Anshari berkata, “Dia (Al-Imam Ali Zainal Abidin) adalah paling mulianya Bani Hasyim yang pernah saya lihat.” Zuhri berkata, “Saya tidak pernah menjumpai di kota Madinah orang yang lebih mulia dari beliau.” Hammad berkata, “Beliau adalah paling mulianya Bani Hasyim yang saya jumpai terakhir di kota Madinah.” Abubakar bin Abi Syaibah berkata, “Sanad yang paling dapat dipercaya adalah yang berasal dari Az-Zuhri dari Ali dari Al-Husain dari ayahnya dari Ali bin Abi Thalib.”

Amalan terkadang dilakukan secara tersembunyi. Setelah wafat, barulah orang-orang mengetahui ternyata beliau, memikul tepung dan roti dipunggungnya guna dibagi-bagikan kepada keluarga-keluarga fakir miskin di Madinah.

Beliau meninggal di kota Madinah pada tanggal 18 Muharrom 94 H, dan disemayamkan di pekuburan Baqi’, dekat makam dari pamannya, Al-Imam Hasan. Beliau wafat dengan meninggalkan 11 orang putra dan 4 orang putri. Adapun warisan yang ditinggalkannya kepada mereka adalah ilmu, kezuhudan dan ibadah.

Sumber :  Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Hussein bin Ali bin Abi Thalib dan IMAM ALI ZAINAL ABIDIN

Catatan Silsilah Ali Zainal Abidin

Selain terhitung sebagai cicit Rasulullah, Ali Zainal Abidin melalui jalur ibunya, terhitung keturunan Kaisar Gao-Zu, Pendiri Dinasti Tang

Ali Zainal Abidin bin Shahrbānū (Shahr Banu, شهربانو, menikah dengan Imam Husein) binti Yazdigird III Sásání, King of Persia (16 June 632-651) bin Princess dau. Gao-Zu (menikah dengan Sharíyár Sháh of Persia) binti Emperor Gāozǔ of Táng (566 – June 25, 635) atau Lǐ Yuān (李淵), Pendiri Dinasti Tang

Sumber : Silsilah garis perempuan para Alawiyyin Al-Husaini ke para tokoh sejarah China Kuno

Ali Zainal Abidin, juga terhitung sebagai keturunan Cyrus II “The Great”, yang oleh sebagian kalangan, dianggap sebagai Zulqarnain (QS. Al Kahfi (18) ayat 83-98, kunjungi : Menemukan Zul-Qarnain, dalam Sejarah), bahkan menyambung juga kepada Nabi Daud (David [1st King] of Judah and Israel)…

Ali Zainal Abidin bin Shahrbānū (Shahr Banu, شهربانو, menikah dengan Imam Husein) binti Yazdigird III Sásání, King of Persia (16 June 632-651) bin Sharíyár Sásání, Sháh of Persia bin Khusraw II (Parvez) 22nd Sásání king of Persia bin Hormizd IV 21st Sásání king of Persia bin Khusraw I of Persia bin Kavadh I of Persia bin Firuz II of Persia bin Yazdagird II of Persia bin Bahram V of Persia bin Yazdagird I of Persia bin Shapur III of Persia bin Shapur II “The Great” of Persia bin Ifra Hormuz binti Vasudeva of Kabul bin Vasudeva IV of Kandahar bin Vasudeva III of Kushans bin Vasudeva II of Kushans bin Kaniska III of Kushans bin Vasudeva I of Kushans bin Huvishka I of Kushans bin Kaniska of Kushanastan bin Wema Kadphises II of Kunhanas bin Princess of Bactria binti Calliope of Bactria binti Hippostratus of Bactria bin Strato I of Bactria bin Agathokleia of Bactriai binti Agathokles I of Bactriai bin Pantaleon of Bactria bin Sundari Maurya of Magadha (menikah dengan Demetrios I of Bactriai*), keturunan Raja Iskandar (Alexander III “The Great” of Macedonia)) binti Princess of Avanti (menikah dengan Brihadratna Maurya of Magadha**), keturunan King Ashoka) binti Abhisara IV of Avanti bin Abhisara III of Pancanada bin Abhisara II of Taxila bin Abhisara I of Taxila bin Rodogune Achaemenid of Persia binti Artaxerxes II of Persia bin Darius II of Persia bin Artaxerxes I of Persia bin Xerxes I “The Great” of Persia bin Atossa of Persia (menikah dengan Darius I of Pesia***), keturunan Bani Israil) binti Cyrus II “The Great” of Persia

Sumber :  The PEDIGREE of, Cyrus II `the Great’ (1st Shah) of PERSIA

Susur Galur dari Raja Iskandar (Alexander III of Macedonia)
*) Demetrios I of Bactriai bin Berenike of Bactria binti Princess of Syria binti Laodice I of Syria bin Aesopia the Perdiccid of Macedonia binti Alexander III ”The Great” of Macedonia

Susur Galur dari King Ashoka
**) Brihadratna Maurya of Magadha bin Dasaratha of Magadha bin Kunala of Taxila bin King Ashoka (Asoka) Vardhana

Susur Galur dari Nabi Daud (Bani Israil)
***) Darius I of Persia bin Meshar binti Salathial bin Tamar binti Johanan bin Josias bin Amon bin Manasses bin Ezechias bin Achaz bin Joatham bin Uzziah bin Amaziah bin Joash bin Ozias bin Jehoram bin Jehoshapat bin Asa bin Abia bin Roboam bin Nabi Sulaiman bin Nabi Daud (David [1st King] of Judah and Israel)

Apa yang dilakukan oleh Imam Ali ra., dengan menikahkan puteranya Al Hussain, dengan Shahrbānū, memberi teladan kepada kita, bahwa permasalahan kebangsaan, bukan suatu halangan, dalam membangun mahligai rumah tangga.

Sungguh sangat menyedihkan, apabila ada sekelompok masyarakat yang memandang “Keutamaan Nasab Keturunan”, sebagai syarat sebuah pernikahan. Dan yang lebih membingungkan, hal tersebut juga terjadi pada sebagian keturunan Al-Imam Ali Zainal Abidin. Padahal satu-satunya barometer, bagi umat muslim dalam memilih pasangan hidup adalah taqwa.

Sebagaimana ketika, Imam Ali bin Abi Thalib ditanya tentang pernikahan se-kufu’, beliau menjawab:
“Semua manusia kufu’ satu dengan yang lainnya, baik Arab dengan Ajam, Quraisy dengan Hasyim, dengan syarat mereka sama-sama Islam dan beriman.”

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Lainnya…
01. Kufu’ dalam Nikah, adalah Perkara dien
02. Rasulullah, keturunan ke-61 dari Nabi Ismail
03. Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara