Tag Archives: rasional

[Makna Logis] Nabi Adam diciptakan ALLAH, seperti bentuk-nya?

Banyak yang keliru, dalam menafsirkan hadis berkenaan dengan penciptaan Adam. Hadits tersebut berbunyi :

“Sesungguhnya ALLAH menciptakan Adam seperti bentuk-nya”

Mereka beranggapan bahwa maksud dari hadits ini, bentuk dari Adam (manusia) merupakan replika dari bentuk yang menciptakannya.

Tentu pemikiran ini sangat ganjil, karena makhluk tidak mungkin serupa dengan Pencipta-nya, sebagaimana firman ALLAH : “…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat” (Qs. asy-Syura (42) ayat 11).

sci4
Makna Logis dari Hadits

Di kalangan ahli kalam berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kata ganti (nya), dalam hadits diatas, tidak ditujukan kepada ALLAH, melainkan kepada Adam itu sendiri (Sumber : Rasionalitas Nabi, karangan Ibnu Qutaibah).

Setiap makhluk memiliki ketetapannya masing-masing. Seorang manusia pada umumnya memiliki dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga, serta tubuh yang berdiri tegak, sementara makhluk lainnya juga memiliki ketetapan dalam bentuk yang berbeda.
manusia1bTafsiran lain dari hadis tersebut adalah makna bentuk disini dalam artian sifat. Manusia bisa mendengar, melihat dan berpengetahuan sebagaimana Sang Pencipta.

Akan tetapi, sifat mendengar, melihat dan berpengetahuan yang dimiliki ALLAH, tentu tidak sama dengan sifat yang ada pada semua makhlukNya.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Iklan

[Rasionalisasi Hadits] tentang Al-Quran yang kebal terhadap nyala api?

Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah pernah bersabda :

Seandainya al-Quran ditulis di kulit yang belum disamak, lalu dilemparkan ke dalam api, ia tidak akan pernah terbakar

Banyak pendapat yang mengatakan hadits ini tertolak, karena bertentangan dengan akal dan kenyataan. Menurut mereka, pada kenyataannya apabila satu mushaf dibakar, maka ia akan terbakar seperti kitab-kitab lainnya (Sumber : Ta’wil Mukhtalaf al-Khadits, tulisan Ibnu Qutaibah).

quran11Rasionalisasi Hadits

Dalam pandangan Ibnu Qutaibah, kita tidak bisa serta merta menolak hadits, hanya berdasarkan penafsiran secara instan, tanpa menelitinya secara lebih mendalam.

Menurutnya makna “kulit yang belum disamak” adalah ibarat tubuh manusia. Seseorang yang telah hafal ayat al-Qur’an di-ibaratkan sebagai al-Quran yang tertulis di dalam tubuh manusia.

Berdasarkan pendapat Al-Ashma’i hadits tersebut bisa dimaknai, seorang muslim yang telah mempelajari al-Quran, kemudian ia menghafalnya (menjaganya), ia tidak akan terbakar oleh api neraka di hari akhirat kelak.

Sebagaimana perkataan Abu Umamah :

“Hafallah al-Quran (bacalah al-Quran). Janganlah kalian mengingkarinya. Sesungguhnya ALLAH, tidak akan menyiksa dengan api neraka bagi hari yang membaca al-Quran.”

WaLlahu a’lamu bishshawab

Tulisan Terkait :
1. Rasionalisasi, Kisah Syaikh Siti Jenar
2. Kisah Sunan Giri, dalam versi yang Rasional?
3. [Penjelasan Ilmiah] Batu Akik Bergambar Ka’bah dari Sulawesi Tengah?
4. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?

Kisah Sunan Giri, dalam versi yang Rasional?

Sekitar tahun 1450, terjadi wabah penyakit di Kadipaten Blambangan (Banyuwangi). Bahkan wabah tersebut telah menjangkiti keluarga istana, termasuk puteri Adipati yang bernama Dewi Sekardhadhu.

Untuk mengatasi hal tersebut, penguasa Blambangan pada saat itu, Adipati Menak Sembuyu mendatangkan seorang Tabib yang bernama Maulana Ishaq.

Dengan keahliannya dalam bidang ilmu pengobatan, Maulana Ishaq berhasil mengatasi wabah tersebut, bahkan puteri Sang Adipati berhasil ia sembuhkan.

Sebagai tanda terima kasih kepada Sang Tabib, Adipati Blambangan menikahkan putrinya dengan Maulana Ishaq.

giri1Keberhasilan Maulana Ishaq mengatasi wabah penyakit, membuat sebagian rakyat Blambangan berhutang budi, dan berharap agar kelak Maulana Ishaq menjadi Adipati berikutnya.

Keinginan rakyat Blambangan tersebut, dari hari ke hari semakin menggelora, namun di sisi lain muncul penolakan dari sebagian  keluarga istana.

Pihak yang menolak, berkeinginan agar yang kelak menggantikan Sang Adipati adalah putera daerah, dan bukan orang luar (pendatang).

Perpecahan semakin meruncing, untuk mengatasi keadaan Maulana Ishaq mengalah. Untuk sementara ia pergi meninggalkan Blambangan, sekaligus berdakwah di daerah lain. Sementara istrinya Dewi Sekardhadhu yang sedang mengandung, untuk menghindari hal-hal yang tidak di-inginkan tetap tinggal di istana.

giri2Tidak lama sepeninggal Maulana Ishaq, istrinya Dewi Sekardhadhu melahirkan seorang putera. Kelahiran cucu Sang Adipati mendapat sambutan yang meriah, Sang Bayi diberi nama “Muhammad Ainul Yaqin”, sebagaimana pesan dari ayahnya.

Dikalangan masyarakat timbul pemikiran agar “Muhammad Ainul Yaqin”, bisa diangkat menjadi Putera Mahkota. Namun Pihak yang tidak setuju, semakin kuat menolaknya. Alhasil situasi makin panas, sehingga Kadipaten Blambangan terancam terjadi perang saudara.

Melihat situasi yang semakin gawat, Sang Adipati atas kerelaan putrinya Dewi Sekardhadhu, menitipkan Sang Bayi, kepada kenalan keluarga mereka, yaitu seorang saudagar wanita yang bernama Nyai Ageng Pinatih.

Muhammad Ainul Yaqin, kemudian diangkat anak oleh Nyai Ageng Pinatih, dan diberi nama panggilan Joko Samudro. Ketika berusia sekitar 7 tahun, Joko Samudro dititipkn kepada seorang ulama, yang masih kerabat ayahnya yang bernama Sunan Ampel.

Di Padepokan Sunan Ampel inilah, Muhammad Ainul Yaqin, menimba berbagai ilmu pengetahuan, dan kelak ketika telah dewasa, ia dkenal sebagai Sunan Giri.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :
1. Sunan Giri (wikipedia)
2. Berdirinya Giri Kedathon

Catatan Penambahan :

1. Munculnya cerita yang menyatakan kelahiran Sunan Giri telah  membawa kutukan bagi rakyat Blambangan tentu sangat aneh dan mengada-ada. Bagaimana mungkin seorang bayi, anak dari Penyebar Islam bisa mendatangkan bencana bagi penduduk disekitarnya?

2. Kisah yang mengatakan bayi dari Dewi Sekardhadhu dilarung ke lautan oleh kakeknya, jelas tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang kakek begitu kejam, ingin membunuh cucunya sendiri, hanya karena ingin mempertahankan kekuasaannya?

3. Berdasarkan Kitab Kanzul Ulum karya IBNU BATHUTHAH, pembentukan “Walisongo” pertama kali dilakukan oleh Sultan Turki, MUHAMMAD I. Salah satu anggotanya MAULANA ISHAQ, yang merupakan seorang ahli pengobatan (sumber : muslimdaily.net)