Tag Archives: halal

Istilah Produk dari BABI : PORK, Cu Nyuk, BACON dan Khinzir ?

babi3
Berikut istilah yang digunakan dalam produk yang mengandung/menggunakan unsur babi, sebagaimana dirilis Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

PIG: Istilah umum untuk seekor babi atau sebenarnya babi muda, berat kurang dari 50 kg.
PORK: Istilah yang digunakan untuk daging babi di dalam masakan.
SWINE: Istilah yang digunakan untuk keseluruhan kumpulan spesies babi.
HOG: Istilah untuk babi dewasa, berat melebihi 50 kg.
BOAR: Babi liar / celeng / babi hutan.
LARD: Lemak babi yang digunakan untuk membuat minyak masak dan sabun.
BACON: Daging hewan yang disalai, termasuk / terutama babi.
HAM: Daging pada bagian paha babi.
SOW: Istilah untuk babi betina dewasa (jarang digunakan)
SOW MILK: susu babi.
PORCINE: Istilah yang digunakan untuk sesuatu yang berkaitan atau berasal dari babi. Porcine sering digunakan di dalam bidang pengobatan/ medis untuk menyatakan sumber yang berasal dari babi.

Di tengah-tengah masyarakat juga dikenal istilah-istilah lain yang merujuk pada babi, misalnya charsiu, cu nyuk, mu, chasu, yakibuta, nibuta, B2, khinzir dan lain-lain.

“Jika menemukan istilah-istilah tersebut di atas, konsumen tak perlu ragu untuk meninggalkan produk tersebut dan menggantinya dengan produk sejenis yang telah bersertifikat halal,” jelas Farid MS juru bicara LPPOM MUI.

Sumber :
islampos.com

Catatan :

1. Cu Nyuk dalam bahasa Khek/Hakka, cu = babi, nyuk = daging,  cu nyuk = daging babi, sedangkan dalam bahasa Mandarin disebut cu rou (mirajnews.com).

2. Khinzir (خنزير khinzīr), berasal dari bahasa Arab yang berarti Babi (wikipedia).

3. Bacon merupakan istilah dalam bahasa Inggris untuk daging yang diambil dari bagian punggung, samping, atau perut babi atau dari sapi yang kemudian diasinkan (curing) atau diasapi (smoking).

Bacon yang berasal dari sapi biasa disebut beef bacon. Komisi Fatwa MUI telah memutuskan untuk tidak memberi sertifikat pada produk bacon meski berasal dari sapi untuk menghindari kerancuan istilah yang dapat membingungkan konsumen (dunia.pelajar-islam.or.id).

4. Pork merupakan istilah dalam bahasa Inggris untuk daging babi. Daging babi merupakan jenis daging yang paling luas dikonsumsi di dunia. Menurut data FAO tahun 2002, lima negara terbesar pengkonsumsi daging babi (dalam satuan kalori per kapita per hari) adalah Austria (352,8), Swiss (349,6), Finlandia (343,2), Cina (331,8), dan Perancis (301,6) (dunia.pelajar-islam.or.id).

ciri makanan MENGANDUNG BABI dalam BAHASA JEPANG

Sebelum membeli makanan kemasan, produk negeri Jepang, jika terdapat tulisan ini 豚肉を含む berarti mengandung babi.

Google Translate…


google1

Contoh produk makanan yang dijual di pasaran…
Lihat tulisan yang dilingkari spidol merah

makanan1Sumber Picture

WaLlahu a’lamu bishshawab

Penemuan Teknologi, Alat Pendeteksi Kandungan Babi Dalam Makanan

Muslim Prancis masih sangat sulit mengidentifikasi daging halal, Hal ini dikarenakan belum masifnya sertifikasi halal di Prancis.

Beruntung, dua pengusaha Prancis telah menemukan alat yang mampu mengidentifikasi daging babi atau kandungannya dalam makanan. Bentuknya seperti tes kehamilan sehingga mudah digunakan. Selain mengidentifikasi kandungan di makanan, alat ini juga mampu mengindentifikasi kandungan babi di kosmetik atau obat-obatan.

diteksi11

Cara mengoperasikannya cukup mudah, alat itu dilengkapi tabung kecil dimana sampel dari makanan ini dicampur dengan air. Lalu muncul hasilnya. Mirip seperti alat tes kehamilan. Garis pertama, menandakan tidak ada jejak kandungan babi. Garis kedua, ada jejak kandungan babi.

Adalah Jean-Francois Julien dan Abderrahme Chaoui yang menemukan alat tersebut. Ide keduanya terinspirasi munculnya skandal daging kuda yang menghebohkan.”Abderrahme memberitahu saya, identifikasi makanan sangat menarik untuk dikembangkan. Saat itulah, kami mendapatkan alat ini,” kata dia seperti dilansir alarabiya.net, Kamis (23/10).

Saat ini, Capital Biotech, telah memproduksi alat tersebut dengan banderol 6 euro. Halaltest demikian nama alat itu akan tersedia secara online terlebih dahulu sebelum dijual secara umum. Capital Biotech mengklaim sudah ada 10.000 pemesanan ketika Halaltest diumumkan penjualannya.

“Sekarang kami lebih mudah untuk mengetahui apakah ada atau tidak kandungan babi di dalam makanan,” kata Mohammed Hatmi, pekerja pasar swalayan.

Ke depan, Julien dan Abderrahme tengah mengembangkan alat pengetes alkohol dan kadar gluten dalam makanan.

Sumber :
sangpencerah.com

Warisan Kuliner Islam

Siapa yang tidak kenal dengan es krim?

Sepertinya semua golongan semua usia pasti kenal dengan jenis minuman yang enak dan lezat ini. Apalagi sekarang ini, sudah banyak sekali modifikasi es krim dengan berbagai rasa dan bentuk yang cantik memikat hati.

Es krim ini salah satu dari sekian banyak makanan warisan kuliner Islam. Jenis minuman yang di Italia disebut cassata dan di Arab disebut qashada ini, dianjurkan untuk tidak dikonsumsi secara berlebihan oleh dokter muslim, seperti Ibnu Sina dan Al Razi.

Minuman kopi, awalnya ditemukan masyarakat muslim di Yaman pada abad 10 M. Di masa itu, kopi dikenal dengan nama al qahwa. Ada lagi minuman mirip sirup, yang telah jadi minuman komunitas Islam di Turki dan Mesir. Awalnya minuman itu dikenal dengan nama sherbet.

Seorang penjelajah abad 11 M, Al Bakri, dalam catatan perjalanannya menceritakan kalau wanita-wanita muslim, sudah bisa membuat pasta untuk jamuan makan. Pasta itu dibuat dari tepung terigu.

Selain mewarisi beragam makanan, kaum muslimin juga mewarisi berbagai pengetahuan tentang makanan. Pengetahuan itu dikembangkan dalam upaya mematuhi perintah Allah SWT.

Perintah itu ada di dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 88, “Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

Kesadaran itu memunculkan adanya ahli-ahli tentang makanan yang dituliskan di dalam buku-buku. Mereka itu di antaranya, Mohammed al Baghdadi. Pada sekitar abad 13 M di Irak, ia menulis buku At Tabikh. Ada pula Dawad al Antaki di Suriah dengan kitabnya Tadhkira. Tokoh lainnya adalah Abu Marwan ibnu Zuhr (1092—1161 M) dengan bukunya yang membahas masalah nutrisi.

Kalau mau meneliti lebih jauh tentang warisan kuliner dan yang berkaitan dengan segala jenis makanan, sejak zaman Rasulullah SAW apa yang menjadi kesenangan Rasulullah SAW itu semuanya sesuai dengan anjuran kesehatan. Meskipun di masa itu belum ada penelitian dan ilmu kesehatan secanggih sekarang.

Misalnya saja, Rasulullah SAW sangat menyukai madu dan kurma. Ternyata di dalam dua jenis makanan itu terdapat kandungan gizi yang luar biasa. Tata cara makan dan minum Rasulullah SAW pun ternyata sangat baik bagi kesehatan; misalnya kenapa kalau minum harus pelan-pelan, kenapa kalau makan harus berhenti sebelum terlalu kenyang, dll.

Di masa Rasulullah SAW juga dikenal adanya pengobatan dan menikmati kuliner dengan buah zaitun. Tidak hanya buahnya yang bermanfaat, tapi zaitun punya banyak khasiat, dan itu baru diketahui setelah dilakukan penelitian yang modern.

Masih banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan kuliner di dalam dunia Islam. Semua itu kalau dikaji secara metodis dan ilmiah akan menghasilkan review yang luar biasa.

Sekarang tinggal kita, maukah menggali kekayaan dan warisan kuliner Islam itu untuk kemajuan? Atau hanya berpangku tangan dan membiarkan pihak lain menggali dan mengembangkannya, sementara kita tinggal menjadi konsumen yang harus membayar mahal untuk itu?!