Category Archives: kelirulogi

[Kelirulogi] Benarkah Membaca Surat al-Jin Dapat Memanggil Makhluk Astral (Jin)?

Ada pendapat yang mengatakan, jika kita membaca salah satu surah dalam Al Qur’an, yakni Surah al-Jinn, maka kita bakal didatangi oleh makhluk astral (jin), benarkah demikian?

Seperti diketahui, Surah al-Jinn (Arab: الجنّ ,”Jin”) sendiri merupakan surah ke-72 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong dalam surah Makkiyah dan terdiri atas 28 ayat (sumber: wikipedia.org).

Ilustrasi, sumber: republika.co.id

Komunitas Jin Mendengar Bacaan Al Qur’an

Dalam pembahasan di situs konsultasisyariah.com, surah ini dinamakan surah al-Jinn karena di dalamnya bercerita tentang sekelompok jin yang mendengarkan bacaan al-Quran, hingga mereka masuk Islam.

Kemudian mereka kembali ke komunitas para jin dan mendakwahkan islam kepada kaumnya tersebut. Allah berfirman,

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا . يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا . وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya.

Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (QS. al-Jin: 1-3)

Di dalam ayat tersebut diceritakan, sekelompok Jin yang beriman kepada Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mendengarkan ayat al-Quran. Selain itu, peristiwa tersebut juga ditemukan dalam surat al-Ahqaf:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ . قَالُوا يَاقَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”.

Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (QS. al-Ahqaf: 29-30)

Terkait momen di atas, para ulama ada perbedaan pendapat yakni, apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah secara sengaja membacakan ayat al-Quran khusus untuk jin ataukah beliau membaca biasa, kemudian ada jin yang ikut mendengarkan?

Bukan Ayat Memanggil Jin 

Dengan memperhatikan isi dari surat al-Jin yakni bercerita tentang keberadaan jin yang mendengarkan ayat al-Qur’an yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sementara kita sendiri tidak tahu, surat apa yang kala itu sedang dibaca oleh Nabi Muhammad hingga didengar para jin (sumber: membaca surat Al-Jin).

Hal ini memberi gambaran kepada kita, membaca surat al-Jin atau membaca surat al-Ahqaf tidak ada kaitannya dengan menghadirkan makhluk astral (jin). Karena ayat ini membahas tentang keberadaan jin yang beriman, dan bukan bacaan untuk mengundang makhluk gaib, jelas ini keliru.

Makhluk astral (jin) memang pernah hadir, mendengarkan serta turut memperhatikan bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan setelah itu, mereka menjadi mualaf dan menjadi da’i, kemudian mengajak bangsa jin untuk masuk islam.

Berdasarkan riwayat Ibnu Mas’ud menyebutkan, bahwa ada da’i dari kalangan jin yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau membacakan ayat al-Quran kepadanya.

أَتَانِي دَاعِي الْجِنِّ فَذَهَبْتُ مَعَهُ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ

Ada seorang dai dari kalangan jin yang mendatangiku, lalu aku pergi bersamanya dan aku bacakan al-Quran kepadanya. (HR. Muslim 450)

WaLlahu a’lamu bishshawab

[Kelirulogi] Benarkah Gaji Guru di Masa Khalifah Umar Senilai 3 Ekor Sapi?

Imam Ad Damsyiqi menceritakan sebuah riwayat dari Al-Wadhi bin Atha yang menyatakan bahwa, di Kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khatthab memberikan gaji sebesar 15 kepada masing-masing mereka.

Beberapa pemerhati sejarah beranggapan bahwa yang dimaksud Al-Wadhi bin Atha adalah 15 dinar, dimana pada masa tersebut nilai 1 dinar sama dengan 12 dirham, atau dengan kata lain gaji guru ketika itu sebesar 180 dirham.

Nilai 180 dirham terbilang cukup fantastis, dimana pada masa tersebut harga seekor sapi 60 dirham, artinya pendapatan seorang guru nilainya sebanding dengan 3 ekor sapi pada setiap bulannya.

ilustrasi, sumber: apkbox.net

Gaji Guru 15 Dirham bukan 15 Dinar

Sepertinya sumber terkait gaji guru 15 dinar ini perlu dikritisi, mengingat di masa yang sama Khalifah Umar mengangkat Syuraih menjadi hakim (qadhi) dengan gaji 100 dirham (sumber: iainlangsa.ac.id).

Apa mungkin gaji hakim ketika itu kalah jauh dari seorang pengajar anak-anak?

Sebagaimana dilansir kiblat.net, ternyata ada kekeliruan dalam menafsirkan riwayat yang berasal dari Al-Wadhi bin Atha, karena yang dimaksud bukan sebesar 15 dinar melainkan 15 dirham.

Al-Wadhi bin Atha berkata, “Ada tiga orang guru yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak Madinah. Umar pun memberikan gaji kepada mereka sebesar 15 (dirham) setiap bulan.”

Sebagai perbandingan, pada masa Khalifah Umar harga 1 ekor kambing sebesar 6 dirham (sumber: kabar dunia Islam). Pada masa sekarang 1 ekor kambing seharga Rp 1,5 juta dengan demikian 1 dirham nilainya sekitar Rp. 250.000,-

Dengan demikian, pendapatan seorang pengajar anak-anak di masa Khalifah Umar adalah sebesar Rp 3.750.000 dan nilai tersebut sudah cukup wajar serta lebih masuk akal.

Catatan Penambahan:

1. Di masa Rasulullah nilai 2 kambing seharga 20 dirham, artinya harga 1 ekor kambing senilai 10 dirham, sebagaimana hadits:

عَنْ ثُمَامَة أَنَّهُ قَالَ أَنَّ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَتَبَ لَهُ فَرِيضَةَ الصَّدَقَةِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَلَغَتْ عِنْدَهُ مِنْ الْإِبِلِ صَدَقَةُ الْجَذَعَةِ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ جَذَعَةٌ وَعِنْدَهُ حِقَّةٌ فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ الْحِقَّةُ وَيَجْعَلُ مَعَهَا شَاتَيْنِ إِنْ اسْتَيْسَرَتَا لَهُ أَوْ عِشْرِينَ دِرْهَمًا  الخ

Artinya: Dari Tsumamah, bahwasanya dia berkata, sesungguhnya Anas ra. merbicara dengannya, bahwasanya Abu Bakr ra. berkirim surat kepada Anas ra. mengenai kewajiban zakat yang diperintahkan oleh Allah SWT. kepada Rasul-Nya; siapa pun berkewajiban untuk zakat unta jatza’ah (umur 4 th.), tetapi ia tidak memilikinya dan hanya memiliki unta hiqqah (umur 3 th.), maka unta hiqqah itu boleh diterima dengan menambah dua kambing atau 20 dirham. Dst. (HR.Bukhari, No.1385, Juz II, h.527, sumber: nu.or.id).

Dengan berdasarkan dalil di atas, apabila harga 1 kambing saat ini sebesar Rp.1,5 juta maka nilai 1 dirham adalah Rp 150 ribu.