Tag Archives: sundaland

Bukti 21,5% Penduduk Dunia, adalah keturunan Sundaland (Nusantara) ?

Berdasarkan penyelusuran Y-DNA, sekitar masa 47,000-55,000 tahun yang lalu, Haplogroup K-M9 membentuk genetik marker baru, yang dikenal Haplogroup K2 (K-M526).

Haplo K2 (K-M526) bermigrasi menuju Sundaland (Nusantara). Di wilayah ini, Haplo K2 menurunkan Haplo NO yang kemudian menjadi 2 Haplo utama, yaitu N-M231 dan O-M175.

dnasundaland2
Penyebaran Haplogroup O

Pada sekitar 10.000-12.000 tahun lalu, ketika Sundaland tenggelam, keturunan Haplo O-M175 bermigrasi ke arah utara :

1.  Haplogroup O1-M119
Menyelusuri South China (Yangtze River), mencapai Kepulauan Formosa dan kembali ke Nusantara.

Haplogroup O1a-M119, dikenal sebagai genetik marker dari Austronesian dan Tai-Kadai speakers (Formosan, Melayu, Jawa, Polynesian, Thai dan lainnya).

2.  Haplogroup O2a-M95
Dikenal sebagai genetik marker dari rumpun Austro-asiatic speakers (Munda di India dan Mon-Khmer).

3.  Haplogroup O3-M122
Menyusuri Sungai Mekong, sampai Yellow River Basin, kemudian sebagian ke Timur (North China – Yellow River) dan sebagian ke Barat (Tibet Highland)

Haplogroup O3-M122 dikenal sebagai genetik marker Sino-Tibetan speakers (Tibet, Chinese, Japanese, Korean, Burma dan lainnya).

(sumber : Menemukan Leluhur berdasarkan Y-DNA haplogroups, di Jawa, Sumatera dan Indonesia Timur ?).

dnasundaland1
Perhitungan Population Haplogroup O

Berdasarkan perkiraan penduduk 2016 (link), serta jumlah persentase Haplogroup O di dunia (sumber : Ancestral Lineages of the Malays dan populations Y-DNA), diperoleh data sebagai berikut :

China, population 1,382,323,332, Haplo O = 83%
Indonesia (Jawa 56,7%), population 147,000,000, Haplo O = 86,7%
Indonesia (Sumatera 21%), population 54,000,000, Haplo O = 61,3%
Japan, population 126,323,715, Haplo O = 55%
Philippines, population 102,250,133, Haplo O = 82,1%
Vietnam, population 94,444,200, Haplo O = 91%
Thailand, population 68,146,609, Haplo O = 44,1%
South Korea, population 50,503,933, Haplo O = 64%
Malaysia, population 30,751,602, Haplo O = 66,7%

Dari data di atas, diperoleh kesimpulan setidaknya lebih dari 1,6 milyar atau sekitar 21,5% penduduk dunia pada saat ini , adalah Haplogroup O dan merupakan keturunan dari Sundaland (Nusantara).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Selain Haplogroup O-M175, juga ter-indikasi Haplogroup C1b2 – M38, yang diduga berasal dari sebaran penduduk Sundaland, pada sekitar 11.600 tahun yang lalu.

Haplogroup C1b2 – M38 ini kemudian menyebar ke seluruh Nusantara, terutama daerah Indonesia Timur (Wallacea, Papua) dan wilayah Melanesia, Polinesia sampai Selandia Baru (referensi : Y-DNA Haplogroup C).

Artikel Sejarah Nusantara
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. Misteri Imam Mahdi, dalam Silsilah Genetika Y-DNA FGC10500+ ?
3. Gua Hunian Leluhur Nusantara, dari era Zaman Es, sekitar 14.825 tahun yang lalu?
4. [Misteri] Kuil Hatshesut (dari masa 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?).

Iklan

Pro dan Kontra, Sundaland (Nusantara) sebagai awal mula Pusat Peradaban Manusia ?

Oleh: Awang Harun Satyana

Rekan-rekan yang suka membaca atau mempelajari buku-buku tentang migrasi manusia modern berdasarkan analisis genetika molekuler (DNA), pasti pernah membaca nama Stephen Oppenheimer. Oppenheimer adalah salah satu tokoh utama bidang ini, yang produktif menuliskan hasil-hasil risetnya. Saat ini, Oppenheimer yang semula seorang dokter anak dan pernah bertugas di Afrika, Malaysia, dan Papua New Guinea; adalah research associate di Institute of Human Sciences, Oxford University.

Salah satu bukunya yang terkenal “Out of Eden : the Peopling of the World” (2004), cetakan terbarunya baru saya beli dua minggu lalu. Ini adalah sebuah buku yang komprehensif tentang sejarah penghunian semua daratan di Bumi oleh manusia modern berdasarkan analisis DNA pada semua bangsa. Oppenheimer memang pernah terlibat dalam suatu proyek raksasa untuk pemetaan genome manusia seluruh dunia. Dari situ ia mendapatkan data untuk menyusun bukunya. Melalui buku ini, kita bisa menebak dengan mudah bahwa Oppenheimer adalah seorang pembela pemikiran migrasi manusia : Out of Africa, dan menyerang Multiregional. Saya tak akan menceritakan buku tersebut, saya akan bercerita tentang bukunya yang lain, yang menyulut perdebatan.

book1
Tahun 1998, Oppenheimer menerbitkan buku yang menggoncang kalangan ilmuwan arkeologi dan paleoantropologi,”Eden in the East : The Drowned Continent of Southeast Asia”. Buku ini penting bagi kita sebab Oppenheimer mendasarkan tesisnya yang kontroversial itu atas geologi Sundaland. Secara singkat, buku ini mengajukan tesis bahwa Sundaland adalah Taman Firdaus (Taman Eden), suatu kawasan berbudaya tinggi, tetapi kemudian tenggelam, lalu para penghuninya mengungsi ke mana-mana : Eurasia, Madagaskar, dan Oseania dan menurunkan ras-ras yang baru. Dari buku Oppenheimer inilah pernah muncul sinyalemen bahwa Sundaland adalah the Lost Atlantis – benua berkebudayaan maju yang tenggelam.

Tesis Oppenheimer (1998) jelas menjungkirbalikkan konsep selama ini bahwa orang-orang Indonesia penghuni Sundaland berasal dari daratan utama Asia, bukan sebaliknya. Apakah Oppenheimer benar ? Penelitian dan perdebatan atas tesis Oppenheimer telah berjalan 10 tahun. Saya ingin menceritakan beberapa perdebatan terbaru. Sebelumnya, saya ingin sedikit meringkas tesis Oppenheimer (1998) itu.

Dalam “Eden in the East: the Drowned Continent of Southeast Asia”, Oppenheimer berhipotesis bahwa bangsa-bangsa Eurasia punya nenek moyang dari Sundaland. Hipotesis ini ia bangun berdasarkan penelitian atas geologi, arkeologi, genetika, linguistk, dan folklore atau mitologi. Berdasarkan geologi, Oppenheimer mencatat bahwa telah terjadi kenaikan muka laut dengan menyurutnya Zaman Es terakhir. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode 14.000-7.000 tahun yang lalu dan telah menenggelamkan Sundaland. Arkeologi membuktikan bahwa Sundaland mempunyai kebudayaan yang tinggi sebelum banjir terjadi. Kenaikan muka laut ini telah menyebabkan manusia penghuni Sundaland menyebar ke mana-mana mencari daerah yang tinggi. Terjadilah gelombang besar migrasi ke arah Eurasia.

Oppenheimer melacak jalur migrasi ini berdasarkan genetika, linguistik, dan folklore. Sampai sekarang orang-orang Eurasia punya mitos tentang Banjir Besar itu, menurut Oppenheimer itu diturunkan dari nenek moyangnya. Hipotesis Oppenheimer (1998) yang saya sebut “Out of Sundaland” punya implikasi yang luas. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa Taman Firdaus (Eden) itu bukan di Timur Tengah, tetapi justru di Sundaland. Adam dan Hawa bukanlah ras Mesopotamia, tetapi ras Sunda (!). Nah…implikasinya luas bukan ? Hipotesis Oppenheimer (1998) segera menyulut perdebatan baik di kalangan ahli genetika, linguistik, maupun mitologi. Saya akan meringkas beberapa perdebatan pro dan kontra yang terbaru (2007-2008). Di buku-bukunyanya yang terbaru (Out of Eden, 2004; dan Origins of the British, 2007), Oppenheimer tak menyebut sekali pun tesis Sundaland-nya itu.

sundaland1
Sanggahan atas tesis Oppenheimer (1998)

Sanggahan terbaru datang dari bidang mitologi dalam sebuah Konferensi Internasional Association for Comparative Mythology yang berlangsung di Edinburgh 28-30 Agustus 2007. Dalam pertemuan itu, Wim van Binsbergen, seorang ahli mitologi dari Belanda, mengajukan sebuah makalah berjudul “A new Paradise myth? An Assessment of Stephen Oppenheimer’s Thesis of the South East Asian Origin of West Asian Core Myths, Including Most of the Mythological Contents of Genesis 1-11″. Makalah ini mengajukan keberatan-keberatan atas tesis Oppenheimer bahwa orang-orang Sundaland sebagai nenek moyang orang-orang Asia Barat. Binsbergen (2007) menganalisis argumennya berdasarkan complementary archaeological, linguistic, genetic, ethnographic, dan comparative mythological perspectives.

Menurut Binsbergen (2007), Oppenheimer terutama mendasarkan skenario Sundaland-nya berdasarkan mitologi. Pusat mitologi Asia Barat (Taman Firdaus, Adam dan Hawa, kejatuhan manusia dalam dosa, Kain dan Habil, Banjir Besar, Menara Babel) dihipotesiskan Oppenheimer sebagai prototip mitologi Asia Tenggara/Oseania, khususnya Sundaland. Meskipun Oppenheimer telah menerima tanggapan positif dari para ahli arkeologi yang punya spesialisasi Asia Tenggara, Oppenheimer tak punya bukti kuat atau penelitian detail untuk arkeologi trans-kontinental dari Sundaland ke Eurasia.

Binsbergen (2007) menantang hipotesis Oppenheimer atas argumen detailnya menggunakan comparative mythology. Beberapa keberatan atas hipotesis tersebut : (1) keberatan metodologi (bagaimana mitos di Sundaland/Oseania yang umurnya hanya abad ke-19 AD dapat menjadi nenek moyang mitos di Asia Barat yang umurnya 3000 tahun BC ?), (2) kesulitan teoretis akan terjadi membandingkan dengan yakin mitos yang umurnya terpisah ribuan tahun dan jaraknya lintas-benua, juga yang sebenarnya isi detailnya berbeda; (3) pandangan monosentrik (misal dari Sundaland) saja sudah tak sesuai dengan sejarah kebudayaan manusia yang secara anatomi modern (lebih muda daripada Paleolitikum bagian atas); (4) Oppenheimer tak memasukkan unsur katastrofi alam yang bisa mengubah jalur migrasi manusia.; (5) mitos bahwa Banjir Besar menutupi seluruh dunia harus ditafsirkan atas pandangan dunia saat itu, bukan pandangan dunia seperti sekarang.

Dalam pertemuan comparative mythology sebelumnya (Kyoto, 2005, Beijing 2006), Binsbergen mengajukan pandangan yang lebih luas dan koheren tentang sejarah panjang Old World mythology yang mengalami transmisi yang komplek dan multisentrik, tak rigid monosentrik seperti hipotesis Oppenheimer (1998). Winsbergen juga mendukung tesisnya itu berdasarkan genetika molekuler menggunakan mitochondrial DNA type B.

iceage1
Dukungan terbaru untuk hipotesis Oppenheimer (1998), baru-baru ini datang dari sekelompok peneliti arkeogenetika yang sebagian merupakan rekan sejawat Oppenheimer. Kelompok peneliti dari University of Oxford dan University of Leeds ini mengumumkan hasil peneltiannya dalam jurnal “Molecular Biology and Evolution” edisi Maret dan Mei 2008 dalam makalah berjudul “Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia” (Soares et al., 2008) dan “New DNA Evidence Overturns Population Migration Theory in Island Southeast Asia” (Richards et al., 2008).

Richards et al. (2008) berdasarkan penelitian DNA menantang teori konvensional saat ini bahwa penduduk Asia Tenggara saat ini (Filipina, Indonesia, dan Malaysia) datang dari Taiwan 4000 (Neolithikum) tahun yang lalu. Tim peneliti menunjukkan justru yang terjadi adalah sebaliknya dan lebih awal, bahwa penduduk Taiwan berasal dari penduduk Sundaland yang bermigrasi akibat Banjir Besar di Sundaland.

dna1

Pemecahan garis-garis mitochondrial DNA (yang diwarisi para perempuan) telah berevolusi cukup lama di Asia Tenggara sejak manusia modern pertama kali datang ke wilayah ini sekitar 50.000 tahun yang lalu. Ciri garis-garis DNA menunjukkan penyebaran populasi pada saat yang bersamaan dengan naiknya mukalaut di wilayah ini dan juga menunjukkan migrasi ke Taiwan, ke timur ke New Guinea dan Pasifik, dan ke barat ke daratan utama Asia Tenggara – dalam 10.000 tahun.

Sementara itu Soares et al. (2008) menunjukkan bahwa haplogroup E, suatu komponen penting dalam keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria), berevolusi in situ selama 35.000 tahun terakhir, dan secara dramatik tiba-tiba menyebar ke seluruh pulau-pulau Asia Tenggara pada periode sekitar awal Holosen, pada saat yang bersamaan dengan tenggelamnya Sundaland menjadi laut-laut Jawa, Malaka, dan sekitarnya. Lalu komponen ini mencapai Taiwan dan Oseania lebih baru, sekitar 8000 tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa global warming dan sea-level rises pada ujung Zaman Es 15.000-7.000 tahun yang lalu, sebagai penggerak utama human diversity di wilayah ini.

Oppenheimer dalam bukunya “Eden in the East” (1998) itu berhipotesis bahwa ada tiga periode banjir besar setelah Zaman Es yang memaksa para penghuni Sundaland mengungsi menggunakan kapal atau berjalan ke wilayah-wilayah yang tidak banjir. Dengan menguji mitochondrial DNA dari orang-orang Asia Tenggara dan Pasifik, kita sekarang punya bukti kuat yang mendukung Teori Banjir. Itu juga mungkin sebabnya mengapa Asia Tenggara punya mitos yang paling kaya tentang Banjir Besar dibandingkan bangsa-bangsa lain.

Nah, begitulah, cukup seru mengikuti perdebatan yang meramu geologi, genetika, biologi molekuler, linguistik, dan mitologi ini. Pihak mana yang mau didukung atau disanggah ? Sebaiknya, masuklah lebih detail ke masalahnya agar argumen kita kuat, begitulah menilai perdebatan.

Sumber :
1. “Out of Sundaland” (Oppenheimer, 1998), dalam Perdebatan Ilmiah
2. New DNA evidence overturns population migration theory in Island Southeast Asia

Peradaban Sundaland dan Misteri Leluhur Nusantara ?

Berdasarkan penelitian Oppenheimer, pada periode 14.000 – 7.000 tahun yang lalu, terjadi kenaikan permukaan laut setinggi 500 meter. Hal inilah yang menjadi sebab, tenggelamnya daratan Sundaland, yang merupakan penghubung Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Semenanjung.

sundaland4

Diperkirakan pada masa itu, Sundaland telah berdiam komunitas umat manusia, yang telah memiliki peradaban yang cukup tinggi.

Sebagian masyarakat Sundaland, ada yang mengungsi ke utara, Mereka kemudian menjadi leluhur bangsa-bangsa di Asia Timur, seperti ras Mongoloid dan Altai.

Berdasarkan penyelusuran DNA yang dilakukan Richards et al. (2008), penduduk Taiwan berasal dari masyarakat Sundaland, yang bermigrasi akibat Banjir Besar, diperkirakan komponen ini mencapai daratan Taiwan, pada sekitar 8.000 tahun yang lalu.

sundaland2

Sementara sebagian Masyarakat Sundaland lainnya, masih tetap bertahan di Nusantara, mereka tinggal di daerah dataran tinggi. Mereka ini kemudian dikenali sebagai Bangsa Gunung atau Bangsa Mala.

Bangsa Mala inilah yang menguasai Gunung Ophir (Gunung Talamau) di Sumatera Barat. Negeri Ophir tercatat dalam Kitab Perjanjian Lama, sebagai pusat penghasil emas di masa Nabi Sulaiman.

Pada sekitar 4.500 tahun yang lalu, disekitar Gunung Dempo Sumatera Selatan, telah ada komunitas Bangsa Mala yang telah memiliki kebudayaan yang tinggi. Hal ini terlihat dari peninggalan arkeologis, yang berhasil ditemukan.

sundaland3

Pada sekitar 3.500 tahun yang lalu, sebagian keturunan masyarakat Sundaland yang tinggal di daratan Taiwan, pulang kampung ke Nusantara. Mereka kemudian bergabung dengan Bangsa Mala, di kalangan ilmuwan, penggabungan kedua kelompok bangsa ini, dikenal sebagai masyarakat Proto Melayu.

Masyarakat Proto Melayu inilah, yang kemudian menjadi cikal bakal leluhur berbagai suku bangsa di Asia Tenggara.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Sumber :
Misteri Leluhur Masyarakat Nusantara, menurut Teori Out of Sundaland ? (Mencari Penghuni Langit – Group Facebook)

Catatan Penambahan :

1. Peradaban Sundaland, diperkirakan bermula dari komunitas Bani Adam yang selamat dari Bencana Nuh (pada sekitar 13.000 tahun yang lalu). komunitas ini dipimpin oleh keluarga Yafet bin Nuh.

2. Menurut Profesor Aryso Santos, melalui bukunya “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization (2005)”, Sundaland adalah benua Atlantis, yang disebut-sebut Plato di dalam tulisannya Timeus dan Critias.

Misteri UFO menurut Albert Einstein dan Legenda (Alien) Ras Lyran?

Dalam sebuah wawancara, Albert Einstein, menyatakan keyakinannya akan keberadaan “piring-piring terbang” atau UFO. Dan ia memperkirakan pesawat-pesawat itu, diawaki oleh manusia, yang berasal dari Planet lain (Alien).

Menurut Albert Einstein, mereka adalah keturunan dari manusia-manusia, yang dahulu pernah tinggal di bumi, 20.000 tahun yang lalu (sumber : “Makhluk-Makhluk yang turun dari Langit”, karangan Anis Mansour dan “Timeless Earth”, karangan Peter Kolosimo).


Pendapat Albert Einstein, ini nampaknya sejalan dengan pendapat Nazwar Syamsu, seperti tertulis di dalam Buku Serialnya “Tauhid dan Logika”, beliau meyakini dimasa sebelum Bencana Nuh (diperkirakan pada masa 13.000 tahun yang lalu, penjelasannya baca, Patung Sphinx, Bukti Arkeologis Bencana Nuh 13.000 tahun yang silam), Bani Adam telah mencapai kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi, dan telah mengenal teknologi penerbangan antar planet.

Berdasarkan pendapat Albert Einstein dan Nazwar Syamsu di atas, sangat mungkin pada sekitar 20.000 tahun yang lalu, Umat Manusia telah mencoba menjajaki kehidupan di Planet-Planet di luar Bumi, dan telah melakukan migrasi besar-besaran (Migrasi Akbar), serta telah membentuk komunitas yang dikenali oleh Ahli Ufologi, sebagai Ras Lyran.


Legenda Alien Ras Lyran

Di masa 20.000 tahun yang silam, menurut Legenda terdapat 2 (dua) Peradaban Besar, yaitu Dinasti Rama (Berada Tanah India) dan Bangsa Lemuria (Diperkirakan berada di sebelah timur Nusantara). Dari ke-2 Peradaban ini, Bangsa Lemuria dikisahkan bermigrasi di luar bumi, untuk menghindari peperangan.

Hijrahnya Bangsa Lemurian ke Luar Bumi, diduga pemerhati Ufologi sebagai cikal bakal Ras Lyran. Komunitas Alien (Ras Lyran) ini, diperkirakan berada sekitar 2.300 tahun cahaya dari Bumi pada Constellation of Lyra.

Keberadaan manusia yang berada di luar Bumi (Alien), sampai sekarang masih diliputi kabut misteri. Pendapat Albert Einstein tentang UFO dan kisah  Teknologi  Penerbangan Antar  Planet yang pernah dikuasai manusia pada masa lalu, ditambah Legenda Alien (Ras Lyran), masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam.

Penampakan UFO yang semakin sering bermunculan, seakan memberi tambahan bukti tentang keberadaan makhluk cerdas selain manusia bumi. Meskipun oleh sebagian kalangan meyakini Fenomena UFO dan Alien, tidak labih dari rekayasa pihak-pihak tertentu, dengan tujuan untuk menyesatkan umat manusia.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Misteri UFOLOGI
1. Misteri Piramid Giza, Teori Alien dan Banjir Nabi Nuh
2. 
3. 
4. Menyelusuri masa kehidupan NABI ADAM, berdasarkan Genetika, Arkeologi, Astronomi dan Geologi

Sejarah Melayu, Teori Sundaland dan Naskah Wangsakerta

Menurut Teori Antropologi, Bangsa Melayu berasal dari percampuran dua bangsa, yaitu Proto Melayu dan Deutero Melayu. Proto Melayu adalah ras Mongoloid, diperkirakan bermigrasi ke Nusantara sekitar tahun 2500-1500 SM, kemungkinan mereka berasal dari daerah : Provinsi Yunnan di selatan Cina, New Guinea atau Kepulauan Taiwan.

Sementara Bangsa Deutero Melayu berasal dari dataran Asia Tengah dan Selatan, yang datang ke Nusantara pada sekitar tahun 300 SM. Diperkirakan kedatangan Deutero Melayu membawa pengaruh budaya India yang kuat dalam sejarah Nusantara dan Asia Tenggara.

Proto Melayu dan Sundaland

Sebagaimana kita pahami bersama, setelah terjadi Peristiwa Bencana Nabi Nuh pada sekitar tahun 11.000 SM (13.000 tahun yang lalu), semua peradaban di bumi hancur dan yang tinggal hanya Keluarga Nabi Nuh beserta pengikutnya.

Sekelompok pengikut Nabi Nuh yang selamat, kemudian membangun peradaban di kawasan Sundaland. Di kemudian hari, di sekitar Sundaland menjadi sebuah Pusat Peradaban, yang dikenal sebagai Peradaban Atlantis.

Pada sekitar tahun 9.600 SM, menurut catatan Plato, Peradaban Atlantis ini hancur dilanda banjir. Penduduk Atlantis berpencar ke seluruh penjuru bumi. Mereka kemudian menjadi leluhur bangsa-bangsa di Asia Timur, seperti ras Mongoloid dan Altai (Sumber : Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab Asal Usul Bangsa Melayu ? dan Patung Sphinx, Bukti Arkeologis Bencana Nuh 13.000 tahun yang silam).

Setelah situasi di Nusantara dirasakan cukup tenang, ada sekelompok kecil dari bangsa Atlantis yang mulai “pulang kampung”. Dan pada puncaknya, mereka datang dalam jumlah besar, pada sekitar tahun 2.500 SM – 1.500 SM. Mereka ini kemudian dikenal sebagai bangsa Proto Melayu.

Teori Out of Sundaland

Keberadaan Peradaban di Sundaland, dikemukakan Profesor Aryso Santos dari Brasil, melalui bukunya Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Di dalam bukunya itu, Profesor Santos menyatakan, Sundaland adalah benua Atlantis, yang disebut-sebut Plato di dalam tulisannya Timeus dan Critias.

Sebelumnya pada tahun 1998, Oppenheimer menerbitkan buku berjudul,”Eden in the East : The Drowned Continent of Southeast Asia”. Secara singkat, buku ini mengajukan tesis bahwa Sundaland pernah menjadi suatu kawasan berbudaya tinggi, tetapi kemudian tenggelam, dan para penghuninya mengungsi ke mana-mana (out of Sundaland), yang pada akhirnya menurunkan ras-ras baru di bumi.

Hipotesis ini ia bangun berdasarkan penelitian atas geologi, arkeologi, genetika, linguistk, dan folklore atau mitologi. Berdasarkan geologi, Oppenheimer mencatat bahwa telah terjadi kenaikan permukaan laut dengan menyurutnya Zaman Es terakhir. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode 14.000-7.000 tahun yang lalu dan telah menenggelamkan Sundaland. Arkeologi membuktikan bahwa Sundaland mempunyai kebudayaan yang tinggi sebelum banjir terjadi. Kenaikan permukaan laut ini telah menyebabkan manusia penghuni Sundaland menyebar ke mana-mana mencari daerah yang tinggi.

Dukungan bagi hipotesis Oppenheimer (1998), datang dari sekelompok peneliti arkeogenetika yang sebagian merupakan rekan sejawat Oppenheimer. Kelompok peneliti dari University of Oxford dan University of Leeds ini mengumumkan hasil peneltiannya, melalui jurnal berjudul “Molecular Biology and Evolution” edisi Maret dan Mei 2008, yakni pada makalah berjudul “Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia” (Soares et al., 2008) dan “New DNA Evidence Overturns Population Migration Theory in Island Southeast Asia” (Richards et al., 2008).

Richards et al. (2008) berdasarkan penelitian DNA menantang teori konvensional saat ini bahwa penduduk Asia Tenggara (Filipina, Indonesia, dan Malaysia) datang dari Taiwan 4000 (Neolithikum) tahun yang lalu. Tim peneliti menunjukkan justru yang terjadi adalah sebaliknya, bahwa penduduk Taiwan berasal dari penduduk Sundaland, yang bermigrasi akibat Banjir Besar di Sundaland.

Ciri garis-garis DNA menunjukkan penyebaran populasi pada saat yang bersamaan dengan naiknya permukaan laut di wilayah ini, dan juga menunjukkan migrasi ke Taiwan, ke timur (New Guinea dan Pasifik), dan ke barat (daratan utama Asia Tenggara), terjadi dalam masa sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Sementara itu Soares et al. (2008) menunjukkan bahwa haplogroup E (Note : mungkin yang dimaksud haplogroup O), yang merupakan komponen penting dalam keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria), secara dramatik tiba-tiba menyebar ke seluruh pulau-pulau Asia Tenggara pada periode sekitar awal Holosen, pada saat yang bersamaan dengan tenggelamnya Sundaland menjadi laut-laut Jawa, Malaka, dan sekitarnya.

Lalu komponen ini mencapai Taiwan dan Oseania, pada sekitar 8.000 tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa global warming dan sea-level rises pada ujung Zaman Es 14.000–7.000 tahun yang lalu, sebagai penggerak utama human diversity di wilayah ini (Sumber : mail-archive).

Peta Sebaran Gen di Asia Tenggara, diambil dari L. Jin et. al


Migrasi Deutero Melayu menurut Naskah Wangsakerta

Setelah selama ribuan tahun Bangsa Proto Melayu mendiami Nusantara. Pada sekitar tahun 300 SM, datang bangsa pendatang, yang dikemudian hari dikenal dengan nama Deutero Melayu.

Teori Migrasi Deutero Melayu, ternyata bukan berasal dari Sejarawan Barat (Belanda), seperti NJ. Krom, Eugene Dubois, JG. de Casparis dan sebagainya, melainkan berasal dari seorang sejarawan Nusantara, yang bernama Pangeran Wangsakerta, beliau diperkirakan hidup pada pertengahan abad ke-17M.

Melalui Naskah Wangsakerta, beliau menuturkan Silsilah Aki Tirem (Sesepuh masyarakat Salakanagara, pada abad 1 Masehi), sebagai berikut :

Aki Tirem putera Ki Srengga putera Nyai Sariti Warawiri puteri Sang Aki Bajulpakel putera Aki Dungkul putera Ki Pawang Sawer putera Datuk Pawang Marga putera Ki Bagang putera Datuk Waling putera Datuk Banda putera Nesan

Selanjutnya ia menulis, leluhur Aki Tirem bernama Aki Bajulpakel berdiam di Swarnabumi (Sumatera) bagian Selatan, kemudian Datuk Pawang Marga berdiam di Swarnabumi bagian Utara dan Datuk Banda berdiam di Langkasungka India.

Dari penyelusuran Genealogy di atas, nampak jelas bahwa jalur migrasi bangsa Deutero Melayu, adalah bermula dari tanah India, lalu memasuki Nusantara melalui Swarnabumi (Sumatera) dan kemudian menuju ke pulau Jawa (Sumber : Teori Antropologi “Migrasi Deutero Melayu”, ditemukan Panembahan Tohpati, Sejarawan Nusantara abad ke-17M).

Keragaman leluhur penduduk Nusantara, semakin diperkaya dengan kehadiran keturunan Nabi Ibrahim, dari Dinasti Pallawa yang dikenal sebagai Dewawarman I (Sumber : (Connection) Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim ?). Di kemudian hari Dewawarman I menjadi penguasa di Salakanagara, dan menikah dengan anak Aki Tirem, yang bernama Pohaci Larasati.

Artikel Lainnya…
01. Hadits Nabi, Negeri Samudra dan Palembang Darussalam
02. (HOT NEWS) Inilah 6 Bukti Genealogy, PRINCE WILLIAM of ENGLAND keturunan NABI MUHAMMAD?
03. Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Teori Iwak Belido dan Sejarah tenggelam-nya Sundaland…

Sekitar 1,8 juta tahun yang lalu, bumi memasuki zaman Pleistocene. Pleistocene adalah zaman es dengan permukaan air laut di bawah 100m sampai 150m, jika dibandingkan keadaan saat ini.

Ketika itu… Selat Malaka, Selat Karimata, Selat Sunda dan Laut Jawa, masih berupa daratan, yang menyatukan Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan dan Semenanjung Malaya. Daratan yang luas ini, sebagian ahli geologi menyebutnya sebagai Sundaland.
…..

Teori Iwak Belido

Keberadaan Sundaland ini, bisa dibuktikan dengan ditemukannya, ikan spesifik yang bernama Ikan Belido, pada dua pulau yang berbeda, yakni Sumatera (Sungai Musi) dan Kalimantan (Sungai Kapuas)

Di Palembang, yang berada dipinggiran Sungai Musi, Ikan Belido (Ikan Belida) lebih dikenal dengan nama Iwak Belido, yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan mpek-mpek.

Yang menjadi pertanyaan…

Bagaimana mungkin, ada satu jenis ikan sungai… bisa berada di dua sungai, yang dipisahkan oleh samudra lautan yang sangat luas… ?

Para ahli memperkirakan, dahulu di zaman Pleistocene, kedua sungai tersebut, merupakan anak-anak sungai, dari sebuah aliran sungai yang sangat besar, yang saat ini berada di dasar laut Selat Malaka dan Selat Karimata.

Peristiwa terpisahnya Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera, diperkirakan disebabkan oleh mencairnya lapisan es, dan semakin dipercepat dengan meletusnya gunung Krakatau Purba.

Terjadinya letusan gunung ini, tercatat di dalam teks Jawa kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa :

Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula….

Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera…


Sundaland menurut catatan Plato

Beberapa ilmuwan, diantaranya Profesor Aryso Santos dari Brasil, menduga Sundaland merupakan benua Atlantis, seperti disebut-sebut Plato di dalam bukunya Timeus dan Critias

Sumber catatan Plato adalah berasal dari percakapan antara Socrates (guru Plato), Hermocrates, Timeaus dan Critias. Socrates menjelaskan tentang masyarakat ideal versinya, sementara Timeaus dan Critias bercerita tentang kisah yang bukan fiksi. Kisah ini merupakan kisah konflik antara bangsa Athena dan bangsa Atlantis

Di dalam catatan Critias, peristiwa tenggelamnya Sundaland (Atlantis), digambarkan sebagai berikut :

Karena hanya dalam semalam, hujan yang luar biasa lebat menyapu bumi dan pada saat yang bersamaan terjadi gempa bumi. Lalu muncul air bah yang menggenang seluruh wilayah…

sementara di dalam Timaeus :

Namun sesudah itu, muncul gempa bumi dan banjir yang dashyat. Dan dalam satu hari satu malam, semua penduduknya tenggelam ke dalam perut bumi dan pulau Atlantis lenyap ke dalam samudera luas. Dan karena alasan inilah, bagian samudera disana menjadi tidak dapat dilewati dan dijelajahi karena ada tumpukan lumpur yang diakibatkan oleh kehancuran pulau tesebut

Critias dan Timeus mencatat peristiwa tengelamnya Sundaland (Atlantis) terjadi pada sekitar tahun 9.600SM atau 11.600 tahun yang lalu.

Bencana Nuh

Pada sekitar 13.000 tahun yang lalu, berdasarkan temuan geologi, pernah terjadi banjir besar di seluruh permukaan bumi.

Hal ini dikarenakan terjadinya kenaikan permukaan laut, yang menandai berakhirnya zaman es. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode 14.000-7.000 tahun yang lalu.

Berdasarkan temuan geologi inilah, Ustadz H.M. Nur Abdurrahman berpendapat bahwa bencana Nuh, terjadi pada sekitar tahun 11.000 SM (sumber : Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia), dan menjadi sebab tenggelamnya Keping Sunda (Sundaland).

Peristiwa Bencana Nuh, juga meninggalkan Jejak Arkeologis, yaitu berupa Patung Sphinx di Mesir (sumber : Patung Sphinx, Bukti Arkeologis Bencana Nuh 13.000 tahun yang silam).

Di dalam Al Qur’an, ada disebut-sebut peristiwa banjir besar yang melanda dunia. Kisah tersebut, erat kaitannya dengan keberadaan Nabi Nuh bersama umatnya.

Kehebatan banjir besar di masa Nabi Nuh, tergambar dengan tingginya permukaan air, hingga mencapai puncak-puncak gunung…

Sebagaimana dikisahkan di dalam QS. Hud (11) ayat 43...

Dia (anaknya) menjawab : ”Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, ”Tidak ada yang melindungi dari siksaaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan.

Keberadaan Sundaland, yang keberadaannya dibuktikan melalui teori Iwak Belido, masih meninggalkan pertanyaan pada kita, yakni apa penyebab tenggelamnya Keping Sunda itu…

Apakah dikarenakan banjir menurut catatan Plato (9.600SM)?
Ataukah oleh peristiwa bencana Nuh (11.000SM)?

Melalui penelitian ilmiah, semua misteri ini akan segera terungkap… tinggal menunggu waktu…

Artikel Terkait
01. Komunitas Muslim, dari Bani Israil
02. Misteri Leluhur Bangsa Jawa
03. Sejarah Melayu, Teori Sundaland dan Naskah Wangsakerta