Tag Archives: adat

Desa “Sepakbola” Tulehu, Kampung-nya Abduh Lestaluhu

Dalam ajang laga final Piala AFF 2016, bek tim nasional Indonesia, Abduh Lestaluhu, menerima kartu merah, setelah menendang bola ke arah bangku cadangan Timnas Thailand. Abduh mengaku emosi melihat pemain timnas lawan mengulur-ulur waktu (sumber : cnnindonesia.com).

lestaluhu

Berbagai macam respons dari netizen bermunculan di dunia maya, terhadap aksi tersebut, mulai dari dukungan hingga kecaman. Mereka yang mendukung, diantaranya (sumber : pikiran-rakyat.com)…

tweet1tweet2tweet3

Abduh Lestaluhu dari Desa Tulehu

Abduh dilahirkan di Tulehu, sebuah desa di Maluku yang dikenal sebagai Brasil-nya Indonesia. Abduh meupakan salah satu bakat besar sepakbola nasional yang lahir di wilayah tersebut.

Desa Tulehu sebelumnya juga sudah memunculkan nama-nama besar seperti Ramdani Lestaluhu, Ambrizal Umanailo, Alfin Tuassalamony, Manahati Lestusen, dan Hasyim Kipuw (sumber : sport.detik.com).

desasepakbola
Di desa yang berjarak sekitar 24 kilometer dari kota Ambon tersebut, sepakbola memang sudah mendarah daging, dan pada tanggal 18 Februari 2015, Desa Tulehu dinobatkan sebagai Kampung Sepakbola.
bayisepakbolaKonon, ada sebuah adat di Tulehu di mana saat bayi laki-laki dalam upacara aqiqahan, warga harus melengkapinya dengan rumput dari lapangan Matawaru. Tidak mengherankan bila perlengkapan bermain bola seperti sepatu bola dan bola itu sendiri menjadi benda wajib yang harus ada di tiap rumah.

Tidak sedikit bayi laki-laki di Tulehu yang tidur ditemani oleh bola. Warga Tulehu memang melakukan apa saja agar lapangan Matawaru tak sepi bakat-bakat hebat, yang kemudian mampu menjadi langganan timnas Indonesia (sumber : fourfourtwo.com dan potret tulehu).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik
1. tweet simpati @iwanfals terhadap aksi damai 212
2. Misteri Berlian 222 gram, milik kakek Qarsing dari Sidrap ?
3. [Analisa Foto] Serangga Kanibal, Pemakan kulit dan daging manusia ?
4. (Analisa Foto) Sepasang ULAR NAGA dari Ponorogo, terbukti HOAX ?

Ratu Sinuhun, Feminis Nusantara dari abad ke-17M

Palembang merupakan daerah yang untuk pertama kalinya diterapkan undang-undang tertulis yang berlandaskan syariat Islam di Nusantara. Hal tersebut sebagaimana tercantum di dalam kitab Simbur Cahaya, yang disusun oleh Ratu Sinuhun, cendikiawan wanita asal Palembang

Ratu Sinuhun, sumber: tribunnews.com

Ratu Sinuhun, Sang Cendikia

Tidak banyak tulisan yang membahas riwayat hidup Ratu Sinuhun, orang mengenalnya sebagai  isteri Penguasa PalembangPangeran Sido Ing Kenayan (1636—1642 M), dan salah seorang saudara dari Pangeran Muhammad Ali Seda ing Pasarean, Penguasa Palembang (1642-1643M) (sumber : Palembang dari nama Cina, menjadi negeri Darussalam).

Ratu Sinuhun diperkirakan lahir di Palembang pada sekitar akhir abad ke-16, dan wafat pada tahun 1642M. Ayahnya bernama Maulana Fadlallah, yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Manconegara Caribon.

Di dalam catatan sejarah, Pangeran Manconegara merupakan cikal bakal lahirnya Dinasti Cirebon di Kesultanan Palembang. Sebagaimana diketahui Kesultanan Palembang Darussalam di dirikan oleh Sultan Abdurrahman (Ki Mas Hindi) bin Pangeran Muhammad Ali Seda ing Pasarean bin Pangeran Manconegara Caribon (sumber : Ratu Sinuhun (wikipedia)).

Berdasarkan penyelusuran genealogy, Silsilah Ratu Sinuhun adalah sebagai berikut :

[Ratu Sinuhun] binti [Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara Caribon] bin [Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara] bin [Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo] bin [Sunan Giri atau Maulana Muhammad Ainul Yaqin] bin [Maulana Ishaq] bin [Syaikh Ibrahim Zain al Akbar] bin  [Syaikh Jamaluddin Husain Akbar] bin [Syaikh Ahmadsyah Jalal] bin [Syaikh Abdullah Azmatkhan] bin [Syaikh Abdul Malik al Muhajir] bin [Syaikh Alawi Ammil Faqih] bin [Syaikh Muhammad Shohib Mirbath] bin [Syaikh Ali Khali’ Qasam] bin [Syaikh ‘Alwi Shohib Baiti Jubair] bin [Syaikh Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah] bin [Syaikh ‘Alwi al-Mubtakir] bin [Syaikh ‘Ubaidillah] bin [Imam Ahmad Al-Muhajir] bin [Syaikh ‘Isa An-Naqib] bin [Syaikh Muhammad An-Naqib] bin [Imam ‘Ali Al-’Uraidhi] bin [Imam Ja’far Ash-Shadiq] bin [Imam Muhammad al-Baqir] bin [Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin] bin [Imam Husain Asy-Syahid] bin [Fathimah Az-Zahra] binti [Muhammad Rasulullah]

Sementara dari pihak Ibu, Ratu Sinuhun adalah putri dari Nyai Gede Pembayun binti Ki Gede ing Suro Mudo. Beliau terhitung masih sepupu suaminya (Pangeran Sido ing Kenayan), yang merupakan putra dari Ki Mas Adipati Angsoko bin Ki Gede ing Suro Mudo/Ki Mas Anom Adipati Jamaluddin (sumber : Sejarah Kesultanan Palembang)

Pelopor Feminisme

Kitab Simbur Cahaya, yang disusun Ratu Sinuhun, adalah kitab undang-undang hukum adat, yang merupakan perpaduan antara hukum adat yang berkembang secara lisan di pedalaman Sumatera Selatan, dengan ajaran Islam.

Kitab Simbur Cahaya, terdiri atas 5 bab, yang membentuk pranata hukum dan kelembagaan adat di  Sumatera Selatan, khususnya terkait persamaan gender perempuan dan laki-laki. Dan adalah wajar jika dikatakan, Kitab Simbur Cahaya, adalah tonggak awal Gerakan Feminisme di Nusantara, yang sejalan dengan pemahaman ad-dinul Islam.

Pada perkembangan selanjutnya, ketika Palembang berhasil dikuasai Kolonial Belanda. Sistem kelembagaan adat masih dilaksanakan seperti sediakala, yaitu dengan mengacu kepada Undang UndangSimbur Cahaya, dengan beberapa penghapusan dan penambahan aturan yang dibuat resident.

Berdasarkan informasi dari penerbit “Typ. Industreele Mlj. Palembang, 1922”, Undang Undang Simbur Cahaya terdiri dari 5 bagian, yaitu :

1. Adat Bujang Gadis dan Kawin (Verloving, Huwelijh, Echtscheiding)
2. Adat Perhukuman (Strafwetten)
3. Adat Marga (Marga Verordeningen)
4. Aturan Kaum (Gaestelijke Verordeningen)
5. Aturan Dusun dan Berladang (Doesoen en Landbow Verordeningen)

Salah satu contoh Undang-Undang Simbur Cahaya :
Bab I (Adat Bujang Gadis dan Kawin), Pasal 32 berbunyi…

“Jika bujang gadis berjalan, maka bujang rebut kembang dari kepala gadis lang menarap buih namanya, bujang itu kena denda 2 ringgit” (selengkapnya : Simbur Cahaya (wikipedia))

Kepeloporan Ratu Sinuhun dalam membela hak-hak perempuan, telah mendorong beberapa aktivis untuk mengusulkannya sebagai salah seorang Pahlawan Nasional.

Bahkan pemikiran Ratu Sinuhun masih banyak diyakini masyarakat melayu, seperti adanya denda atau hukuman yang berat, bagi lelaki yang menggangu perempuan (sumber : Ratu Sinuhun, diminta jadi Pahlawan Nasional).