Tag Archives: majapahit

Silsilah Kekerabatan Keluarga Majapahit, Champa dan Sunan Ampel

Salah satu penyebab cepatnya penyebaran Islam di masa walisongo adalah dikarenakan para wali masih memiliki kekerabatan dengan pihak penguasa kerajaan Majapahit.

Pelopor kekerabatan keluarga Majapahit dengan tokoh penyebar Islam di tanah Jawa adalah Pangeran Arya Lembu Sura saudara dari Prabu Wikramawardhdhana.


Pangeran Arya Lembu Sura menikah dengan putri tokoh muslim tionghoa Haji Bong Swi Hoo dan memiliki putra bernama Pangeran Arya Sena. Selain itu Pangeran Arya Lembu Sura juga menikah dengan putri Haji Bong An Sui dan memiliki putri bernama Ratna Wulan.

Putri Ratna Wulan binti Pangeran Arya Lembu Sura kemudian menikah dengan Adipati Tuban Haryo Tejo dan memiliki putri bernama Dewi Condrowati. Di kemudian hari Dewi Condrowati menikah dengan penyebar Islam Sunan Ampel.

Referensi:
1.  Silsilah majapahit
2. Naskah Mertasinga
3. Kisah Sunan Ampel
4. Nyai Ageng Maloko
5. Sri Wikramawardhana (Siwi Sang)
6. Manaqib Raden Fattah (malaya.or.id)
7. 
8. Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar, tulisan Agus Sunyoto

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan: 

1. Ada dua versi tentang keberadaan Negeri Champa yang merupakan asal  daerah keluarga Sunan Ampel yakni berlokasi di Aceh (Sumatera) dan Vietnam (Indo China).

2. Arya Dillah Adipati Palembang ada yang berpendapat merupakan putra bungsu Wikramawarddhana namun versi lain mengatakan ia adalah anak dari Prabu Kertawijaya.

3. Maulana Abdullah Champa yang merupakan ayahanda Raden Hasan diperkirakan pernah menjabat sebagai Bhre Kertabhumi yang merupakan wilayah Majapahit di sebelah utara Wengker (sumber : wilayah majapahit).

Diperkirakan kedua orang tua Raden Hasan wafat ketika Raden Hasan masih kecil, oleh karenanya ia diungsikan oleh kakeknya Prabu Kertawijaya ke Palembang dibawa oleh ibu pengasuh bernama Nyai Ratna Subanci (sumber : Beberapa versi kisah Raden Fattah).

Di Palembang Raden Hasan diasuh oleh saudara muda kakeknya Raden Arya Dillah yang menjabat Adipati Palembang. sementara Nyai Ratna Subanci kemudian menikah dengan salah seorang kepercayaan Arya Dillah yakni Arya Palembang.

Arya Palembang (Arya Dillah II) dikemudian hari menggantikan posisi Arya Dillah sebagai Adipati Palembang dimana sebelumnya ia menikah dengan salah seorang putri dari Sang Adipati.

Iklan

[Teori] asal muasal nama “Gajah Mada”, antara Gajah Mabuk atau Gajah Mahamada ?

Kontroversi tentang sosok Mahapatih Majapahit Gajah Mada seolah tidak pernah mereda. Baru-baru ini sebagian pihak memperdebatkan identitas Gajah Mada, apakah Gajah Mada itu Muslim atau bukan.

Pendekatan dalam meng-identifikasi seseorang sangat banyak caranya, salah satunya adalah melalui penafsiran makna dari nama sang tokoh. Seorang bernama Sunarto sangat mungkin berasal dari etnis jawa, dan yang bernama Umar, besar kemungkinan beragama Islam.

Makam Patih Gajah Mada di Prabumulih Sumatera Selatan

Pendekatan nama “Gajah Mada”

Apabila kita artikan, makna kata “Mada” dalam bahasa jawa berarti mabuk. Jadi secara literal, arti dari Gajah Mada adalah Gajah Mabuk. Penamaan seseorang sebagai Gajah Mabuk tentu sangat janggal dan aneh (sumber : phdi.or.id dan
liputan6.com).

Oleh karenanya sebagian pihak beranggapan nama “Gajah Mada” adalah kiasan, yang berarti seseorang yang pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah dan menerabas segala rintangan.

Namun pemaknaan “Gajah Mada” tidak hanya satu. Dalam versi yang lain, istilah Mada kemungkinan berasal dari kata “Mahamada atau Ahmada” , kata “Mahamada atau Ahmada”, merujuk kepada nama Nabi Muhammad, yaitu Ahmad dan Muhammad (sumber : Prophet Mohammed: Is He Really Predicted in the Bhavishya Purana?, hendrajailani blog dan hangno blog).

Sementara istilah “Gajah” merupakan penggambaran dari tahun kelahiran Nabi Muhammad, yaitu tahun Gajah. Dengan demikian arti dari nama “Gajah Mada” atau “Gajah Mahamada”, adalah personifikasi dari sosok Nabi Muhammad yang dilahirkan pada tahun Gajah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara :
1.  
2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Kolerasi Peristiwa Karbala dengan munculnya Kedatuan Sriwijaya di Palembang ?

[Misteri] Sabdo Palon, Tokoh Mistis Rekayasa Belanda ?

Berdasarkan penelitian Sejarawan Prof Agus Sunyoto, selepas penangkapan Pangeran Diponegoro, kolonial Belanda membuat strategi baru yaitu melalui perang ideologi dengan cara memanipulasi sejarah.

Salah seorang jaksa bernama Mas Ngabehi Purwowijoyo, diberi tugas membikin Babad Kediri, yang di dalamnya Sunan Bonang, Sunan Giri dijelek-jelekkan, dan dikatakan bahwa Dakwah Islam dianggap telah merusak tatanan masyarakat.

Dari Babad Kediri ini, lahirlah naskah-naskah baru buatan Belanda yang cenderung mendiskreditkan Wali Songo dan Dakwah Islam, diantaranya adalah Serat Darmogandul, Serat Syekh Siti Jenar dan Kronik Klenteng Sam Po Kong (sumber : nu.or.id, republika.co.id).


Sabdo Palon Tokoh Fiktif

Dalam Naskah Serat Darmogandul, diceritakan setelah konflik Majapahit dengan Demak, atas saran Sunan Kalijaga meminta Prabu Brawijaya untuk masuk Islam. Pengislaman Prabu Brawijaya, mendapat penolakan dari abdi Sang Raja, yang bernama Sabda Palon dan Noyo Genggong.

Sebelum pergi Sabdo Palon bersumpah, setelah 500 tahun tanah Jawa akan memunculkan kembali seorang Satria yang menjadi momongannya. Sang Satria ini akan membawa kembali kemakmuran dan kejayaan bangsa Jawa Nusantara dan akan mengusung kembali ajaran Budi.

Perginya Sabdo Palon ditandai suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi” atau tahun 1400 saka (1478 Masehi) (sumber : kompasiana.com, kisah majapahit dan royaap.blog.ugm.ac.id).

Melalui penyelusuran naskah-naskah kuno, Sejarawan Agus Sunyoto berpendapat  Serat Darmogandul dengan tokohnya Sabda Palon dan Noyo Genggong, merupakan cerita fiktif belaka.

Nama Sabda Palon dan Noyo Genggong, sama sekali tidak ditemukan dalam naskah-naskah kuno di era Majapahit, bahkan peristiwa tahun 1478 Masehi, bukanlah pertempuran antara Demak dengan Majapahit, melainkan peperangan sesama kerabat Majapahit, yakni antara Kertabhumi dengan Girindrawardhana (Sumber : Perang Majaphit).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Naskah Serat Darmogandul banyak ditemukan cerita-cerita ganjil (aneh). Serat ini menceritakan konflik Majapahit dengan Demak di tahun 1478 M, yang berdasarkan penelitian sejarah tidak pernah terjadi.

Selain itu, pada salah satu dialog di dalam buku tersebut, tertulis…

Sunan Giri ditanya, “Bagaimana prabu Brawijaya, apa bisa ditangkap?” Sunan Giri menjawab, “Brawijaya sebaiknya disantet saja!”.

Sosok Sunan Giri yang merupakan seorang wali sekaligus alim ulama, digambarkan seperti dukun santet.

Artikel Sejarah Majapahit :

1.
2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3.
4. Misteri Raden Fattah, dalam pusaran konflik menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit ?

[Fakta Sejarah] Tanjung Pura (Majapahit), bukan Kerajaan Tanjung Pura (Kalimantan) ?

Sebagai bukti Kebesaran Majapahit, Pemerhati Sejarah sering kali mencontohkan, pengaruh kekuasaan Majapahit atas wilayah Tanjung Pura di Kalimantan.

Namun anehnya, bersumber kepada sejarah lokal Tanjung Pura (Kalimantan), Majapahit baru mampu menguasai wilayah tersebut sekitar tahun 1385 M, dan berlangsung tidak lama seiring semakin bersinarnya Kerajaan Demak.


Tanjung Pura dalam Sejarah Melayu

Dalam Sejarah Melayu dikisahkan, ketika rombongan Sang Suparba mau menuju Tanjung Pura, selepas kuala Palembang mereka berbelok ke arah Selatan. Seandainya Tanjung Pura [asal daerah Cakradhara, suami Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi (memerintah Majapahit, 1328-1351)] berada di Kalimantan, tentu Sang Sapurba akan terus ke timur, bukan malah belok ke arah Selatan.

Dengan demikian, Tanjung Pura (Kalimantan) yang tertera dalam Sumpah Palapa Patih Gajah Mada, pada era Hayam Wuruk (memerintah Majapahit, 1350-1389), bukanlah Tanjung Pura, tempat Cakradhara dilahirkan. Dikarenakan sampai tahun 1350, wilayah Tanjung Pura (Kalimantan) masih merupakan kerajaan yang merdeka.

Apabila kita selusuri Sejarah Majaphit, selepas pemerintahan Raden Wijaya dan Prabu Jayanagara, kendali kekuasaan pemerintahan Majapahit dipegang oleh anak keturunan Cakradhara (Kertawardhana) yang berasal dari Tanjung Pura. Namun yang mengherankan sosok Cakradhara tidak ditemukan dalam hikayat lokal Tanjung Pura (Kalimantan).

Selain Cakradhara, sosok penting lainnya isteri Rajasawardhana yakni Bhre Tanjung Pura Manggalawardhani dyah Suragharini, tidak juga ada dalam cerita tutur masyarakat Tanjung Pura (Kalimantan).

Dari fakta sejarah di atas, bisa disimpulkan Tanjung Pura yang merupakan “kampung” Cakradhara, ayahanda Prabu Hayam Wuruk tidak berada di Kalimantan. Dengan berpedoman kepada rute perjalanan Sang Suparba di dalam Sejarah Melayu, lokasi Tanjung Pura kemungkinan berada di sekitar Selat Sunda

(Sambungan… [Teori] Asal Melayu Betawi dari Bukit Siguntang Palembang ?).

Referensi :
1. Pasak Negeri Kapuas
2. Sulalatus Salatin (wikipedia.org)
3. Sejarah Melayu, terbitan dari Abdullah bin Abdulkadir Munsyi

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan penambahan :

1. Di dalam Sejarah Melayu, perjalanan Sang Suparba ke Tanjung Pura dikisahkan sebagai berikut  :

“Setelah keluar dari kuala Palembang, lalu berlayar menuju Selatan enam hari enam malam, jatuh ke Tanjung Pura. Maka raja Tanjung Purapun keluar me-ngalu-alukan baginda dengan serba kebesaran dan kemuliaan.. ” (bait 2.18)

2. Berdasarkan silsilah Tabanan, Cakradhara adalah anak dari Adwaya Brahman Shri Tinuheng Pura, sedangkan ibunya bernama Dara Jingga putri Kerajaan Dharmasraya, yang juga kakak kandung Dara Petak istri Raden Wijaya.

Jalinan kekerabatan antara Adwaya Brahman, dengan Sang Suparba, bisa dilihat pada perkawinan dari anak-anak mereka :

a.  Raden Cakradhara (putra Adwaya Brahman), menikah dengan putri Cendera Dewi anak Sang Suparba. Raden Cakradhara kelak akan diangkat menjadi Batara Majapahit, memerintah bersama istrinya yang lain, bernama Ratu Tribhuwana Tunggadewi, puteri Raden Wijaya.

b. Raden Adityawarman atau Pangeran Arya Damar (putra Adwaya Brahman), menikah dengan anak angkat Sang Suparba, yang bernama Putri Junjung Buih (Ciu Chen), dan menjadi Penguasa di Keratuan Bukit Siguntang Palembang.

c. Putri Tanjung Pura (putri Adwaya Brahman), menjadi istri Sang Maniaka (Sang Mutiara) anak Sang Suparba. Di kemudian hari, Sang Maniaka akan menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Raja Tanjung Pura.

Anak Adwaya Brahman yang lainnya adalah : Arya Kenceng, Arya Kuta Wandira, Arya Sentong dan Arya Belog (Arya Tan Wikan)

(sumber : Silsilah Tabanan,  [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?, Dara Jingga (wikipedia.org), Babad Arya Kenceng).

3. Dalam Sejarah Melayu, Cakradhara diceritakan bukan kerabat Kerajaan Tanjung Pura. Kehadiran Cakradhara di Tanjung Pura adalah sebagai tamu negara, untuk bertemu dengan raja dari Bukit Siguntang.

Adapun Ratu Majapahit yang menikah dengan anak raja Tanjung Pura adalah Ratu Suhita (Tuan Putri Wi Kusuma), dan kelak dari perkawinan tersebut melahirkan Radin Galuh Chandra Kirana, yang dikemudian hari menjadi permaisuri Sultan Mansyur Syah (Malaka).

(Lihat… [Misteri] Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?)

Artikel Sejarah Nusantara :
1.
2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Puteri Melayu, ibunda Kusala Khan (Kaisar Dinasti Yuan, memerintah tahun 1329) ?

Misteri Raden Fattah, dalam pusaran konflik menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit ?

Dalam upaya meningkatkan hubungan baik dengan kelompok Islam, Maharaja Majapahit Sri Adi-Suraprabhawa (1466-1468), mengangkat Raden Fattah sebagai Pecat Tandha di Bintara, yakni pejabat bawahan adipati Demak.

Tidak lama diangkat sebagai Pejabat Kerajaan Majapahit, Raden Fattah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung di Bintara Demak. Pendirian Masjid ini, ditandai candra sengkala, “Naga Mulat Salira Wani”, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 Masehi.


Konflik Keluarga Majapahit 

Pada tahun 1468 M, terjadi huru hara di Ibu Kota Majapahit. Sri Adi Suraprabhawa tidak kuasa melakukan perlawanan. Dengan tubuh penuh luka, ia mengungsi menuju Daha, namun ia mangkat di perjalanan.

Pengganti Sri Adi Suraprabhawa adalah keponakannya bernama Bhre Kretabhumi. Pengangkatan Bhre Kretabhumi, ternyata mendapat banyak penolakan. Mereka yang menolak diantaranya Ario Damar (Ario Dillah), Adipati Palembang dan Dyah Ranawijaya, putera Sri Adi-Suraprabhawa.

Konflik semakin meruncing, ketika tahun 1470 M, Bergota (Semarang) yang merupakan sekutu Palembang, mendapat serangan dari Matahun yang didukung Mataram dan Demak. Akibat serangan ini, Bhatara Katwang Yang Dipertuan Samarang, gugur dan digulingkan dari kekuasaannya.

Penyerangan ini, kemudian dibalas oleh Adipati Palembang Ario Dillah, dengan mengirimkan sekitar 10.000 balatentara, dibantu Raden Patah yang membawa pasukan dari Bintara (Glagah Arum), serta Raden Kusen bersama prajurit dari Terung dan Surabaya, dalam waktu singkat, Bergota (Semarang) berhasil dikuasai.

Kemenangan gemilang ini, menjadi alasan bagi Ario Dillah, untuk mengangkat Raden Fattah sebagai Adipati Demak, untuk menggantikan pejabat lama yang gugur dalam peperangan.

Perebutan Takhta Majapahit 

Kekalahan sekutu Bhre Kretabhumi di Semarang, membuat wibawa Maharaja Majapahit semakin merosot. Bhre Kretabhumi kemudian melakukan siasat merangkul lawan dengan mengakui Raden Fattah sebagai adipati Demak, selain itu Raden Fattah dinyatakan sebagai putera angkatnya dan dianugerahi gelar Arya Sumangsang.

Di daerah pedalaman diam-diam sedang terjadi penyusunan kekuatan besar-besaran yang dilakukan oleh Dyah Ranawijaya. Dyah Ranawijaya tidak sekadar berambisi menuntut hak sebagai pewaris takhta Majapahit, tetapi ia juga menganggap Bhre Kretabhumi bertanggung jawab atas kematian ayahandanya, Sri Adi Suraprabhawa.

Pada tahun 1478 M, yang dikenal sebagai “Sirna Hilang Kertaning Bhumi”, Dyah Ranawijaya membawa ratusan ribu tentara dari Daha, melakukan serangan besar-besaran terhadap ibukota Majapahit.

Selama tiga hari tiga malam ibu kota Majapahit dimangsa keganasan perang. Menjelang hari keempat, sejauh mata memandang hanya ada tumpukan abu hitam dan asap tipis yang mengepul di antara mayat manusia.

Dengan binasanya Bhre Kretabhumi serta luluh lantaknya ibu kota Majapahit, Dyah Ranawijaya mengangkat diri menjadi maharaja Majapahit, dan menggunakan gelar kebesaran Sri Prabu Natha Girindrawarddhana.

Peristiwa serangan Dyah Ranawijaya ke ibukota Majapahit ini, sering kali di salah artikan sebagai serangan yang dilakukan Demak dibawah pimpinan Raden Fattah.  Padahal putra angkat Bhre Kretabhumi ini sama sekali tidak terlibat dalam peperangan.

Referensi :
1. Majapahit
2. Masjid Agung Demak
3. Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar, tulisan Agus Sunyoto
4. Misteri Pasukan “Lebah Emas”, dalam kemelut kekuasaan Kerajaan Majapahit ?
5. 

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Berdasarkan manaqib (sejarah), Raden Fattah lahir pada tahun 1448 M bertepatan dengan 1570 Saka. Ibunya dikenal sebagai Dwarawati Putri Campa. Sementara itu, di dalam buku Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara tulisan Slamet Muljana, diperkirakan Putri Champa wafat pada 1448 M. Hal ini bermakna, tidak lama Raden Fattah dilahirkan, ibundanya wafat (sumber : Manaqib Sultan Fatah, Runtuhnya kerajaan Hindu Jawa).

2. Berdasarkan tahun kelahiran Raden Fattah, diperkirakan ayahanda Raden Fattah adalah Prabu Kertawijaya. Prabu Kertajaya lahir sekitar tahun 1390 dan memerintah Majapahit dalam periode 1447-1451.

Raden Fattah diungsikan ke Palembang, kemungkinan dikarenakan faktor keamanan dan pengasuhan, dimana Raden Fattah sejak bayi sudah ditinggal oleh ibu kandungnya. Ketika hijrah ke Palembang, Raden Fattah dibawa oleh Ratna Subanci (yang sering disalah pahami oleh sebagian orang sebagai ibu kandungnya).

Ratna Subanci adalah salah seorang selir Kertawijaya, yang setelah diceraikan Kertawijaya kemudian diperistri oleh Adipati Ario Dillah (memerintah Palembang, 1445-1486). Kelak dari perkawinan ini melahirkan Raden Kusen Adipati Terung.

3. Dalam versi yang lain, ayahanda Raden Fattah adalah Penguasa Negeri Champa, dimana akibat kemelut yang terjadi di negeri Champa, istrinya bernama diungsikan ke Majapahit dalam keadaan mengandung.

Berdasarkan catatan Al-Habib Hadi bin Abdullah Al-Haddar dan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi, ibunda Raden Fattah bernama Nyai Condrowati binti Raja Brawijaya. Kemungkinan Raja Brawijaya yang dimaksud adalah Kertawijaya, atau dapat juga dikatakan Raden Fattah adalah cucu dari Kertawijaya (sumber : majeliswalisongo).

Kemungkinan lainnya adalah ayahanda Raden Fattah adalah pejabat tinggi Majapahit yang berasal dari Champa dan diangkat menantu oleh Prabu Kertawijaya (sumber : Kekerabatan Majapahit, Champa dan Sunan Ampel).

Dalam naskah Mertasinga, Ratna Subanci (Banyowi) menikah dengan tokoh kepercayaan Ario Dillah bernama San Po Talang (Arya Palembang). Di kemudian hari, San Po Talang juga menikah dengan putri Raden Ario Dillah (sumber : diskusi facebook).

Kisah San Po Talang, yang datang ke Nusantara mencari Sunan Gunung Jati kemungkinan terjadi kekeliruan dan terkontaminasi dengan cerita Pai Lian Bang, yang baru datang ke Palembang, sekitar 30 tahun kemudian.

4. Nama kecil Raden Fatah adalah Raden Hasan, sejak kecil telah mendapat bimbingan dari ayah angkatnya Ario Dillah. Pada saat usia 14 tahun (tahun 1462), Raden Fattah berkelana merantau ke Pulau Jawa dan berguru kepada Kanjeng Sunan Ampel di Surabaya.

Artikel Sejarah Nusantara :
1. [Misteri] Panglima Arya Damar bukanlah Adipati Arya Dillah ?
2.
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

[Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

Di dalam sejarah melayu, terbitan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, dikisahkan tentang pernikahan agung antara Sultan Mansyur Syah (Malaka), dengan Putri Majapahit Radin Galuh Chandra Kirana.

Pernikahan yang juga dihadiri oleh Maharaja Merlang (Indragiri), Raja Palembang, Raja Jambi, Raja Lingga serta Raja Tungkal ini, sayangnya tidak banyak diceritakan dalam naskah-naskah kuno di tanah Jawa.

Siapakah sesungguhnya Radin Galuh Chandra Kirana ? Benarkah ia adalah Pewaris Majapahit yang tersingkirkan ?


Misteri Radin Galuh Chandra Kirana 

Pada catatan silsilah Kesultanan Malaka, Radin Galuh Chandra (Cendera) Kirana tertulis sebagai anak dari Sang Aji Jaya ning-Rat, dengan isterinya Radin Galoh Devi Kesuma [Tuan Putri Wi Kusuma] (sumber : silsilah malaka)

Radin Galoh Devi Kesuma [Tuan Putri Wi Kusuma] sendiri dalam Sejarah Melayu di-informasikan sebagai Ratu Majapahit dan puteri dari penguasa Majapahit sebelumnya.

Apabila kita selaraskan dengan Sejarah Majapahit, sosok Radin Galoh Devi Kesuma (Ibunda dari Radin Galuh Chandra Kirana), sepertinya indentik dengan Prabu Stri Suhita (memerintah Majapahit, 1427-1447), sementara nama Sang Aji Jaya ning-Rat, indentik dengan Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja (sumber : Putri Suhita).


Dalam sejarah pemerintahan Majapahit, selepas masa Ratu Suhita yang menjadi pengganti bukan anaknya, melainkan saudaranya yang bernama Dyah Kertawijaya (memerintah Majapahit, 1447-1451). Pemerintahan Majapahit seterusnya, dipegang oleh anak-anak Dyah Kertawijaya, yaitu Rajasawardhana (1451-1453), Girisawardhana (1456-1466) dan  Dyah Suraprabhawa (1466—1478) (sumber : silsilah majapahit).

Dan apabila kita perhatikan, di dalam silsilah keluarga Majapahit, tidak ditemukan nama anak dari Ratu Suhita. Namun meskipun demikian, naskah-naskah masyarakat melayu masih mencatat nama puteri dari Sang Ratu, yang seharusnya mewarisi tahta Majapahit.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Sejarah Melayu mencatat, sebelum peristiwa pernikahan Sultan Malaka dengan Putri Majapahit, Para Raja Swarnabhumi pergi menuju negeri Majapahit…

2. Di dalam Sejarah Melayu, akan ditemui istilah Patih Aria Gajah Mada, yang sejatinya adalah nama jabatan dalam struktur keprajuritan Majapahit. Dengan demikian tokoh Patih Aria Gajah Mada dimasa Prabu Hayam Wuruk, tentu akan berbeda dengan Patih Aria Gajah Mada di era Ratu Suhita.

3. Radin Galuh Chandra Kirana, dalam Sejarah Melayu diceritakan putri dari seorang Batari Majapahit, yang bernama Radin Galoh Devi Kesuma [Tuan Putri Wi Kusuma].

Dalam Sejarah Majapahit, ditemukan setidaknya ada 3 Batari Majapahit, yaitu Sri Gitarja (Tribhuwana Wijayatunggadewi, 1328–1350), Kusumawardhani yang memerintah bersama suaminya Wikramawardhana (1389–1429), dan Ratu Suhita (1429–1447).

Berdasarkan timelina, dari ketiga Batari Majapahit ini, Ratu Suhita yang paling sesuai dengan masa kehidupan Radin Galoh Devi Kesuma [Tuan Putri Wi Kusuma], yang memiliki menantu Sultan Mansyur Syah (memerintah Kesultanan Malaka, 1458-1477).

Demikian juga dengan ayahanda dari Radin Galuh Chandra Kirana, yang bernama Sang Aji Jaya ning-Rat, yang dikisahkan dalam Sejarah Melayu bukan berasal dari lingkungan Kraton Majapahit. Sosok tokoh ini sesuai dengan sosok suami Ratu Suhita, yang bernama Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja.

Berbeda halnya dengan sosok suami dari Kusumawardhani, bernama Wikramawardhana, yang merupakan anak dari kerabat dekat Kraton Majapahit, yaitu Putri Iswari yang menjabat sebagai Bhre Pajang.

Artikel Sejarah Nusantara :
1. [Misteri] Panglima Arya Damar bukanlah Adipati Arya Dillah ?
2.
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. Misteri Pasukan “Lebah Emas”, dalam kemelut kekuasaan Kerajaan Majapahit ?

[Misteri] Prabu Hayam Wuruk, menurut Sejarah Melayu ?

Dalam kitab Sejarah Melayu, berdasarkan tulisan Abdullah bin Abdulkadir al-Munsyi, terungkap Keluarga Kerajaan Majapahit, berasal dari anak keturunan Sang Suparba (Bitjitram Syah).

Sang Suparba (Sang Sapurba) diriwayatkan merupakan anak cucu Raja Iskandar Zulkarnain, nasabnya melalui Raja Nusirwan, yang juga ada kekerabatan dengan Raja Sulaiman ‘alaihi’s-salam.

Sebagaimana tertulis dalam bait 2.2 :

“… asal kami daripada anak cucu Raja Iskandar Zulqarnain, nisab kami daripada Raja Nusirwan raja masyrik dan maghrib, dan pancar kami daripada Raja Sulaiman ‘alaihi’s-salam… “

majapahit11
Dinasti Majapahit Keturunan Sang Suparba

Diceritakan, Sang Sapurba menikah dengan puteri Demang Lebar Daun, Bukit Siguntang Mahameru Palembang, yang bernama Wan Sendari,sebagaimana tertulis dalam bait 2.6 dan bait 2.11 :

“… dan akan raja Palembang yang bernama Demang Lebar Daun itu, ada beranak seorang perempuan terlalu baik parasnya, tiada berbanding parasnya pada zaman itu, Wan Sendari namanya (bait 2.6)”.

“… Telah berapa lamanya Sang Suparba duduk dengan Wan Sendari itu, maka bagindapun beranak empat orang, dua perempuan baik-baik parasnya, puteri Seri Dewi seorang namanya, seorang lagi puteri Cendera Dewi namanya; dua orang laki-laki, Sang Maniaka seorang namanya, seorang lagi Sang Nila Utama namanya (bait 2.11)”.

Pada kisah selanjutnya, diceritakan puteri Sang Suparba bernama Cendera Dewi menikah dengan Betara Majapahit, sebagaimana tertulis pada bait 2.18.

“… Adapun pada zaman itu ratu Majapahit itu raja besar, lagi amat bangsawan. Pada suatu cerita baginda itu daripada anak cucu Smara Ningrat. Setelah datang ke Tanjung Pura, maka sangat dipermulia oleh Sang Suparba, maka diambil baginda akan menantu, dikawinkan dengan tuan puteri Cendera Dewi…”.

Dari pernikahan antara Betara Majapahit dengan puteri Cendera Dewi, memiliki dua putera bernama Radin Inu Merta Wangsa dan Radin Mas Pamari.

“… Maka baginda beranak dengan anak raja Bukit Siguntang itu dua orang laki-laki, dan yang tua Radin Inu Merta Wangsa namanya, maka dirajakan baginda di Majapahit; dan yang muda Radin Mas Pamari namanya… (bait 5.1)”.

Sejarah Melayu mengisahkan Radin Inu Merta Wangsa (Radin Inu Kerta Wangsa), pernah menyerang Singapura pada masa negeri itu dipimpin oleh Paduka Seri Pikrama Wira (Raja Kecil Besar), putera dari Sang Nila Utama anak dari Sang Suparba.

“… Maka betara Majapahitpun menitahkan hulubalangnya berlengkap perahu akan menyerang Singapura itu, seratus buah Jung; lain dari itu beberapa melangbing dan kelulus, jongkong, cerucuh, tongkang , tiada terhisabkan lagi banyaknya. Maka ditintahkan Betara Majapahit seorang hulubalang yang besar akan panglimanya, Demang Wiraja namanya (bait 5.4)”.

Siapakah Radin Inu Merta Wangsa, yang disebut-sebut dalam Sejarah Melayu ?

Sejarah mencatat Kerajaan Singapura dibawah pemerintahan Paduka Seri Pikrama Wira (Wikrama Wira), pada periode 1347-1362. Pada masa pemerintahannya, terjadi penyerangan dari Kerajaan Majapahit tahun 1350, dimasa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) (sumber : Paduka Seri Wikrama Wira dan Prabu Hayam Wuruk).

Dengan demikian yang dimaksud Radin Inu Merta Wangsa dalam Sejarah Melayu, tidak lain adalah Prabu Hayam Wuruk.

Kisah Sejarah Melayu ini berbeda dengan catatan Sejarawan yang mengatakan ibunda dari Prabu Hayam Wuruk adalah Tribhuwana Tunggadewi, puteri Raden Wijaya. Sementara berdasarkan Sejarah Melayu, ibunda dari Prabu Hayam Wuruk adalah Cendera Dewi (Chandra Dewi), puteri Sang Suparba.

majapahit1a

Referensi : 
1. Sri Wikramawardhana (Siwi Sang)
2. Silsilah Kesultanan Malaka (royalark.net)
3. Buku Sejarah Melayu, Edisi Abdullah bin Abdulkadir al-Munsyi tahun cetak 1952, Penerbit Jambatan

Catatan Penambahan : 

1. Berdasarkan Negarakretagama (ditulis tahun 1365 M), puteri Hayam Wuruk yang bernama Kusumawardhani sudah menikah dengan Bhre Mataram, Wikramawardhana (sumber : wikramawardhana). Hal ini berarti setidaknya Kusumawardani telah berumur 25 tahun, atau kelahiran sekitar tahun 1340 M.

Sementara dalam catatan kehidupan Hayam Wuruk ditulis, Prabu Hayam Wuruk lahir tahun 1334 M (sumber : Hayam Wuruk), secara normal bagaimana mungkin seseorang yang baru berusia 6 tahun, sudah menjadi seorang ayah.

Dengan demikian masa kelahiran Hayam Wuruk perlu diteliti kembali, sebab setidak beliau lahir sebelum tahun 1320 M. Dan data ini sekaligus memperkuat dugaan Hayam Wuruk bukan putera dari Tribhuwana Wijayatunggadewi, yang baru menikah dengan Kertawardhana, setelah Prabu Jayanegara wafat di tahun 1328 M.

2. Ada pendapat pernikahan Kusumawardhani adalah dijodohkan sejak kecil. Dengan demikian jika Prabu Hayam Wuruk lahir tahun 1334 M, maka Kusumawardhani diperkirakan lahir tahun 1354 M, atau saat menikah di tahun 1365 M Kusumawardhani berusia sekitar 11 tahun.

Namun pendapat ini perlu dikritisi, karena di tahun 1365 M, Kusumawardhani telah menjadi Bhre Kabalan (sumber : wikramawardhana), yang tentunya bukan jabatan untuk seorang anak yang berusia dibawah 15 tahun.