Tag Archives: muhammadiyah

Lahan 10 hektar disiapkan Muhammadiyah untuk Sekolah Islam Internasional di Melbourne Australia

Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Australia, telah membeli lahan dengan luas 10 hektar di Narre Warren East di Melbourne.

Di lokasi ini rencananya akan dibangun sekolah bernama Muhammadiyah Australia Islamic School (MAIS) yang akan dibuka pada tahun 2019.

Laboratory School Muhammadiyah

Pembelian lahan tersebut secara resmi dilakukan pada 25 Mei 2017, namun proses pencarian tanahnya memakan waktu lebih dari 2 tahun, dikarenakan ketatnya peraturan di Australia untuk tanah yang bisa dijadikan sekolah.

Desain sekolah akan melibatkan arsitek profesional dan juga ahli tata kota, dengan memperhatikan kebutuhan siswa-siswi untuk taman kanak-kanak (preparation) sampai dengan Kelas 12. Sekolah ini akan menjadi sekolah Muhammadiyah pertama di luar negeri untuk pendidikan formal dasar dan menengah.

Mengenai sasaran murid yang akan bersekolah di sana, akan merangkul seluruh umat Islam Melbourne terutama yang tinggal di bagian selatan Melbourne. Jadi bukan hanya murid-murid asal Indonesia, tetapi juga dari negara lain.

Salah satu ide dalam pendirian sekolah Muhamadiyah di Melbourne ini adalah sekolah tersebut akan dijadikan “laboratory school”. Dimana sekolah ini akan menjadi pilot project untuk memadukan keunggulan sistem pendidikan Islam yang sudah diterapkan Muhammadiyah di Indonesia dengan keunggulan sistem pendidikan Australia.

Sebagai catatan, pada saat ini jumlah institusi pendidikan yang dikelola Muhammadiyah di Indonesia telah berjumlah 10.381. Institusi ini meliputi TK, SD, SMP, SMA, pondok pesantren dan perguruan tinggi (Sumber : sangpencerah.id).

Iklan

Menghitung Aset Muhammadiyah ?

Pada tahun 2013 diberitakan dana yang disimpan milik Muhammadiyah di tujuh Lembaga Perbankan Syariah mencapai Rp. 15 triliun atau setara dengan US$ 1,15 miliar (sumber : kompas.com).

Dengan dana sebesar itu, seharusnya Muhammadiyah dapat membangun ribuan pabrik dengan jumlah karyawan mencapai ratusan ribu pekerja.

muhammadiyah
Amal Usaha Muhammadiyah

Diluar dana yang tersimpan di Lembaga Perbankan, berdasarkan data Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PP Muhammadiyah, pada tahun 2014, dari segi pendidikan amal usaha Muhammadiyah (AUM) memiliki 3.370 TK, 2.901 SD/MI, 1.761 SMP/MTs, 941 SMA/MA/SMK, 67 Pondok Pesantren, dan 167 perguruan tinggi. Pada sektor kesehatan tercatat sebanyak 47 Rumah Sakit (PKU), 217 Poliklinik, 82 klinis bersalin.

Sementara di sektor ekonomi memiliki 1 bank syariah (saham Muhammadiyah 2,5 %), 26 BPR/BPRS dan 275 BMT/BTM, 1 Induk Koperasi BTM, 81 Koperasi Syariah, 22 Minimart dan 5 kedai pesisir. Menurut catatan tahun 2002, Muhammadiyah mempunyai 8.881 unit kantor persyarikatan serta di tahun 2010, mengelola sekitar 6.270 masjid dan 5.689 mushola (sumber : pppa.or.id dan Sang Pencerah).

Selain itu, Muhammadiyah pada tahun 2008 diperkirakan memiliki sekitar 29.808.164,60 ha tanah wakaf, demikian juga pada wilayah sosial, Muhammadiyah mengelola lebih dari 400 buah panti asuhan, rumah singgah dan sejenisnya (sumber : republika.co.id, dan stiead.ac.id).

TV Nasional Muhammadiyah

Amal Usaha yang sedang coba dikembangkan Muhammadiyah saat ini adalah mewujudkan TV Muhammadiyah (TV MU) menjadi TV nasional. TV MU sendiri pertama kali diluncurkan Muhammadiyah bertepatan dengan Milad ke-101 Muhammadiyah, pada November 2013 (sumber : republika.co.id).

Dengan dana yang cukup besar, cita-cita Muhammadiyah untuk memiliki Televisi Nasional bukanlah sesuatu yang mustahil. Bahkan Muhammadiyah  memiliki modal keuangan yang cukup untuk merambah bidang usaha yang lain, seperti Jasa Operator Seluler, Agroindustri dan Industri Maritim.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Silat Nusantara, dari abad ke-9 Masehi ?
2. Alhamdulillah… Makam Tokoh Betawi, PITUNG ditemukan di Palembang !!!
3. [Misteri] Bacaan Kyai Subkhi “Bambu Runcing”, di masa Revolusi Kemerdekaan?
4. [Misteri] H.O.S. Tjokroaminoto (Guru Presiden Soekarno), yang pernah dikunjungi Rasulullah?

 

Silsilah Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dengan Keluarga Pesantren Gontor Ponorogo

Cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18, saat Kyai Ageng Muhammad Besari mendirikan Pondok Tegalsari di Desa Jetis Ponorogo Jawa Timur

Pondok Tegalsari sangat termasyhur pada masanya, sehingga didatangi ribuan santri dari berbagai daerah di nusantara.

Melalui penyelusuran genealogy, Keluarga Pondok Pesantren berasal dari keturunan Raden Fattah, Pendiri Kesultanan Demak Bintoro.

Berikut diagram silsilah, hubungan kekerabatan Keluarga Pondok Modern Gontor dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dan Dinasti Giri Kedaton.

silsilahulama
WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan :

1. Ki Ageng Gribig III, bertempat tingal di Jatinom (Klaten). Ia merupakan Guru Sultan Agung Mataram, serta menjadi pelopor acara “Yaqowiyu”, yang dimulai pada sekitar tahun 1589 Masehi.

Ki Ageng Gribig III merupakan putera dari Ki Ageng Gribig II yang tinggal di Gribig (sekitar wilayah Sengguruh – Malang).

Bersesuaian dengan catatan keluarga salah seorang saudara Ki Ageng Gribig III, yakni Ki Ageng Mirah I (Kyai Muslim). Di dalam catatan tersebut disebutkan, ayahanda dari Ki Ageng Mirah I, adalah Ki Ageng Gribig (II) yang bertempat tinggal di wilayah Malang.

2. Ki Ageng Gribig IV, adalah tokoh yang membantu Sultan Agung dalam mengatasi gejolak politik di Palembang (tahun 1636M), yamg kemudian menjadi adik ipar Sultan Agung Mataram.

3. Ayahanda Ki Ageng Gribig II, adalah Ki Ageng Gribig I atau dalam Tedhak Dermayudan bernama Pangeran Kedhanyang.

Ki Ageng Gribig I adalah putera Sunan Giri II (Sunan Dalem), ia dikisahkan tinggal di daerah Gribig, setelah berhasil menghalau penyerangan Adipati Sengguruh di tahun 1535M.

Sumber :
1. Pondok Modern Darussalam Gontor.
2. Kisah dan Silsilah Kyai Imam Musahaf
3. Panembahan Hanyakrawati (wikipedia)
4. Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?
5. Misteri Ki Ageng Gribig, Leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) ?
6. Hubungan Kekerabatan : Agus Harimurti Yudhoyono dengan Fatahillah, Pendiri Kota Jakarta ?

Kiai Haji Mas Mansur (Ketua Muhammadiyah 1937-1941), Keturunan Sunan Kudus ?

Kiai Haji Mas Mansoer, lahir di Surabaya, 25 Juni 1896 adalah seorang tokoh Islam dan pahlawan nasional Indonesia.

Ibunya bernama Raudhah, yang berasal dari keluarga Pesantren Sidoresmo Wonokromo Surabaya. Sedangkan Ayahnya bernama KH. Mas Achmad Marzoeqi, seorang ahli agama di Jawa Timur pada masanya (sumber : wikipedia.org).

MasMansur
Berdasarkan penyelusuran genealogy, Kiai Haji Mas Mansur masih terhitung sebagai keturunan Sunan Kudus, sebagaimana terlihat pada data berikut ini.

o1. KH. Mas Mansur bin
02. KH. Mas Ahmad Marzuki bin
03. KH. Mas Abdul Hamid bin
04. Kiai Mas Hasan bin
05. Kiai Mas Muhammad bin
06. Kiai Mas Abdullah Mansur bin
07. Kiai Mas Abdul Karim bin
08. Kiai Mas Khatib bin
09. Pangeran Ketandur (Sayyid Ahmad Baidhawi) bin
10. Panembahan Pakaos (Sayyid Shaleh) bin
11. Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shadiq)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Sumber :
1. Latar Belakang Kehidupan KH. Mas Mansur
2. Nasab Silsilah Kiai Muhammad Kholil Bangkalan
3. Silsilah Keluarga Pondok Pesantren Islam At-Tauhid

Catatan :

1. Pada beberapa catatan Silsilah, Panembahan Pakaos (Sayyid Shaleh) tercatat sebagai cucu Sunan Kudus bukan anak, yakni Panembahan Pakaos (Sayyid Shaleh) bin Sayyid Amir Hasan bin Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shadiq) (sumber : wikipedia.org).

Artikel Menarik :
1. Mengapa NEDERLAND disebut BELANDA?
2. Alhamdulillah… Makam Tokoh Betawi, PITUNG ditemukan di Kota Palembang !!!
3. [Misteri] H.O.S. Tjokroaminoto (Guru Presiden Soekarno), yang pernah dikunjungi Rasulullah?
4. Silsilah Sunan Kalijaga, dari berbagai jalur Leluhur Dinasti Tuban, Abbasiyah dan Azmatkhan

 

Misteri Ki Ageng Gribig, Leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) ?

Di dalam silsilah yang disusun oleh Kyai Sudja’, salah seorang murid KHA Dahlan, yang bersumber dari dokumen Kitab Ahlul Bait. Diperoleh informasi Pendiri Muhammadiyah, Ki Haji Ahmad Dahlan merupakan keturunan Sunan Giri melalui jalur Ki Ageng Gribig.

Berbagai macam versi muncul dari sosok Ki Ageng Gribig, beliau dikatakan sebagai keturunan Prabu Brawijaya, ada lagi termasuk trah Sunan Tembayat atau tergolong zuriatnya Sayyid Muhammad Kebungsuan (sumber : Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?).

Tulisan ini tidak akan membahas berbagai versi yang ada, melainkan mencoba untuk memfokuskan sosok Ki Ageng Gribig sebagai keluarga Giri Kedhaton, sebagaimana hasil penelitian Kyai Sudja’.

sultan2
Kisah Peperangan Giri dan Sengguruh (Malang)

Pada masa Sunan Giri II (Sunan Dalem), sekitar tahun 1535, Giri Kedhaton mendapat serangan dari Adipati Sengguruh.

Berdasarkan Tedhak Dermayudan, serangan ini berhasil ditahan oleh putra Sunan Giri, yang bernama Pangeran Kedhanyang. Bukan itu saja, kemenangan ini memberi peluang Islam menyebar di daerah Jaha, Wendit, Kipanjen, Dinaya dan Palawijen (sumber : ngalam.id).

Pangeran Kedhanyang di-informasikan bermukim daerah Gribig Jawa Timur. Dan kehadiran Sang Pangeran di daerah ini, bukan tidak mungkin menjadi cikal bakal penguasa Gribig, yang dikenal sebagai  Ki Ageng Gribig.

Makamkiagenggribig1
Sosok Ki Ageng Gribig yang kemudian dianggap sebagai leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan, bisa terlihat pada salah satu versi silsilah berikut :

01. Sunan Giri I (Prabu Satmata), salah seorang anggota wali songo, berputera

02. Sunan Giri II (Sunan Dalem), penguasa Giri Kedaton 1506-1546, berputera

03. Pangeran Kedhanyang (Ki Ageng Gribig I), makamnya berada di kota Malang. Penduduk setempat mengenalinya sebagai adik Sunan Giri (lebih tepatnya adik Sunan Giri IV/Sunan Prapen, link sumber), berputera

04. Ki Ageng Gribig  II, sosok inilah yang kemudian menjadi suami Raden Ayu Seledah, puteri Sunan Prapen (Sunan Giri IV), berputera

05. Ki Ageng Gribig III, yang merupakan Guru Sultan Agung Mataram, serta menjadi pelopor acara “Yaqowiyu”,  yang dimulai pada sekitar tahun 1589 Masehi.

Ki Ageng Gribig III dalam salah satu versi yang beredar, merupakan putera dari Ki Ageng Gribig yang tinggal di Gribig (link sumber). Makam Ki Ageng Gribig III, berada di Jatinom Klaten,  berputera

06. Ki Ageng Gribig IV, sosok yang membantu Sultan Agung dalam mengatasi gejolak politik di Palembang (tahun 1636M), serta menjadi adik ipar Sultan Agung Mataram, berputera

07. Demang Jurang Juru Sapisan, berputera

08. Demang Jurang Juru Kapindo, berputera

09. Kyai Ilyas, berputera

10. Kyai Murtadha, berputera

11. Kyai Muhammad Sulaiman, berputera

12. Kyai Abu Bakar, berputera

13. Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah

Catatan Penambahan :

1. Berdasarkan Buku : Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar, Volume 6, karangan Agus Sunyoto, Peng-Islaman daerah Gribig (Jawa Timur), dipelopori oleh Pangeran Arya Penatih (adik ibu angkat Sunan Giri, yang bernama Nyai Ageng Penatih).

Selain daerah Gribig, dakwah Pangeran Arya Penatih (Syaikh Manganti) juga mencakup daerah Sengguruh dan Lumajang. Dan nama “Kedhanyang”, menurut buku tersebut berada di selatan Puri Giri Kedhaton.

Gelar Pangeran Kedhanyang, sepertinya juga tidak satu, karena gelar ini juga disandang oleh putera Pangeran Arya Penatih.

2. Ada pendapat yang mengatakan Ki Ageng Gribig I (Malang Jawa Timur), menjadi seorang ulama tersohor pada tahun 1650, namun anehnya ia juga di-identifikasikan sebagai cicit Prabu Brawijaya, yang memerintah Majapahit 1466-1478.

Secara timeline, jarak kehidupan seseorang dengan cicitnya sekitar 100 tahun, jadi seharusnya Ki Ageng Gribig I (Malang Jawa Timur), telah menjadi ulama tersohor pada tahun 1550 bukan tahun 1650.

Ditambah lagi informasi yang mengatakan Ki Ageng Gribig I (Malang Jawa Timur) adalah murid Sunan Kalijaga, yang wafat pada usia 131 tahun,  di tahun 1586 M (sumber : suaramerdeka.com).

3. Kisah Ki Ageng Gribig I (Malang Jawa Timur), sebagai keturunan Panembahan Bromo, berasal dari ibu Sunan Giri, yang bernama Dewi Sekardadu binti Menak Sembuyu (Menak Werdati) bin  Panembahan Bromo (Lembu Niroto/Lembu Nisroyo/Lembu Mirudha) bin Singhawardhana.

Panembahan Bromo, merupakan Penguasa Pasaruan dan memiliki saudara diantaranya Wikrama Wardana (Raja Majapahit) dan Arya Lembu Sura (Penguasa Surabaya).

Salah seorang keponakan Panembahan Bromo, yakni putera Wikrama Wardhana yang bernama Kertawijaya, kelak akan menjadi Raja Majapahit dan dikenal sebagai Prabu Brawijaya I, kemudian Prabu Brawijaya I memiliki putera Prabu Brawijaya II (Raden Rajasawardhana), kemudian Prabu Brawijaya II memiliki putera Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabhumi), yang memerintah Majapahit sekitar tahun 1466-1478.

Dengan demikian hubungan Ki Ageng Gribig I (Malang Jawa Timur) dengan Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabhumi), bukan cicit langsung melainkan cucu saudara mindo dari Sunan Giri.

4. Pada salah satu situs web ranji sarkub, dikatakan Ki Ageng Gribig (Jatinom Klaten) adalah nama lain dari Ki Ageng Kanigoro putera Adipati Andayaningrat.

Dalam riwayat Ki Ageng Gribig (Jatinom Klaten), dikisahkan beliau hidup di masa Sultan Agung Mataram. Sementara Ki Ageng Kanigoro hidup di masa Ki Ageng Pengging, ayah Sultan Hadiwijaya Pajang, artinya jarak kehidupan kedua tokoh ini sangat jauh.

Selain itu Ki Ageng Kanioro, dimakamkan di Banyu Biru Sukoharjo (link sumber), sebagaimana gelarnya Ki Ageng Banyu Biru, sementara Ki Ageng Gribig Jatinom makamnya berada di Klaten.

Dengan demikian Ki Ageng Gribig (Jatinom Klaten) dan Ki Ageng Kanigoro adalah dua sosok yang berbeda.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah
2. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?
3. Mengapa Rasulullah memerintahkan Bilal, untuk mengumandangkan Adzan di atap Ka’bah?
4. Silsilah Sunan Kalijaga, dari berbagai jalur Leluhur Dinasti Tuban, Abbasiyah dan Azmatkhan

Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?

Bermula dari Silsilah yang disusun oleh Kyai Sudja’, murid KHA Dahlan, yang bersumber dari dokumen Kitab Ahlul Bait. Diperoleh informasi Pendiri Muhammadiyah, Ki Haji Ahmad Dahlan merupakan keturunan Sunan Prapen (Sunan Giri ke-4), dengan rincian sebagai berikut :
Kyai Ahmad Dahlan bin Kyai Abu Bakar bin Kyai Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadha bin Kyai Ilyas bin Demang Jurang Juru Kapindo bin Demang Jurang Juru Sapisan bin Ki Ageng Gribig Jatinom (Maulana Sulaiman) bin Sunan Prapen (Sunan Giri IV).

Dengan semakin berkembangnya ilmu nasab, beberapa pihak mencoba meneliti kembali Nasab tersebut, dan hasilnya terdapat kejanggalan yakni jarak antara Sunan Prapen (semasa dengan kehidupan Sultan Hadiwijaya Pajang), dengan Ki Ageng Gribig (semasa dengan kehidupan Sultan Agung Mataram), terdapat jarak sekitar 2 generasi. Untuk mencari 2 generasi yang hilang itu, penyelusurannya dicoba dicari dengan meneliti beberapa silsilah yang beredar di masyarakat.

Kyai Dahlan, keturunan Sunan Giri dan Sunan Tembayat

Dari beberapa informasi yang di dapat, diketahui bahwa Ki Ageng Gribig terhitung sebagai keturunan Sunan Giri, melalui jalur ibunya yang bernama Raden Ayu Ledah atau RA. Seledah. Dan diduga ibu beliau ini, merupakan salah seorang anak dari Sunan Prapen. (Sumber : Makam Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten,  Simbah Kyahi Ageng Gribig Jatinom, Wisata Ziarah di Klaten (2)).

Setelah menemukan hubungan genealogy, antara KH. Ahmad Dahlan dengan Trah Sunan Giri (melalui jalur ibu), muncul pertanyaan bagaimana Silsilah KH. Ahmad Dahlan, melalui jalur ayah ?

Dari beberapa silsilah yang kami peroleh, Kyai Gribig memiliki nama Syekh Wasibagno Timur, merupakan putra dari Syekh Wasibagno III atau Raden Mas Guntur atau Bandara Putih atau Prabu Wasi Jaladara (Sumber : Kabupaten Klaten, Tradhisi Ya Qawiyyu, Simbah Kyahi Ageng Gribig Jatinom).

Dari sang ayahanda Ki Wasibagno III, hampir semua silsilah menyatakan sampai kepada Brawijaya. Banyak orang menduga Brawijaya yang dimaksud adalah Prabu Brawijaya V, yang merupakan Raja terakhir Majapahit.

Akan tetapi yang membingungkan dari semua Silsilah itu menulis Ki Ageng Gribig adalah keturunan ke-3 dari Brawijaya. Padahal jika kita menggunakan timeline, setidaknya beliau adalah keturunan ke-5 dari Prabu Brawijaya V.

Berdasarkan buku berjudul Benturan budaya Islam: puritan & sinkretis, Oleh Sutiyono, Ahmad Dzulfikar, Sutiyono. Di dalamnya diceritakan Ki Ageng Gribig, adalah keturunan ke-5 Brawijaya, dengan puteri Sunan Giri. Jika yang dimaksud Brawijaya disini adalah Raja terakhir Majapahit, jelas sangat keliru. Karena masanya cukup jauh diatas masa Sunan Giri, apalagi generasi anaknya.

Di dalam buku itu juga ditulis tentang Brawijaya yang masuk Islam dan meyebar Islam di daerah Bayat. Jadi jelas yang dimaksud Brawijaya disini adalah Sunan Bayat atau Sunan Tembayat, yang hidup sekitar 2 generasi setelah Prabu Brawijaya V, dan terhitung sebagai cucu menantunya (salah seorang istri Sunan Tembayat adalah Nyi Ageng Kaliwungu binti Sunan Katong bin Prabu Brawijaya V)

Bisa dibaca disini : budaya Islam: puritan & sinkretisKORELASI TATA RUANG RUMAH KUNO DI KRAJAN KULON TERHADAP TATA RUANG KOTA KALIWUNGU

Dengan berpedoman kepada catatan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi, pada tahun 1979. Sunan Tembayat adalah putera Sayyid Abdul Qadir bin Maulana Ishaq. Ayahnya diangkat menjadi Bupati Semarang Pertama, atas arahan Sunan Giri, dan bergelar Sunan Pandan Arang.

Sementara ibu Sunan Tembayat adalah Syarifah Pasai, yang merupakan adik Pati Unus (Sultan Demak yang ke-2) (Sumber : SEJARAH & NASAB SUNAN BAYAT & SUNAN PANDANARAN).

Dengan berdasarkan kepada sumber-sumber silsilah yang ada, diperoleh Silsilah KH. Ahmad Dahlan (melalui jalur Sunan Tembayat), sebagai berikut :

Keterangan :

1. Silsilah Sunan Tembayat sampai kepada Rasulullah

01. Sunan Tembayat @ Sunan Bayat @ Sunan Pandanaran II, menikah dengan Nyi Ageng Kaliwungu binti Sunan Katong bin Prabu Brawijaya V

02. Maulana Islam @Ki Ageng Pandanaran @Sunan Pandanaran I @Sayyid Abdul Qadir @Sunan Semarang, menikah dengan adik Pati Unus (Maulana Abdul Qadir) yang bernama Syarifah Pasai bin Raden Muhammad Yunus bin Syekh Abdul Khaliq al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi bin Imam Muhammad Al Faqih Al Muqaddam bin Ali Ba Alawi bin Muhammad Shohib Mirbath

03. Maulana Ishaq
04. Syeikh Ibrahim Asmoro
05. Jamaluddin Akbar
06. Ahmad Syah Jalal
07. Abdullah
08. Abdul Malik
09. Alwi Ammi Al-Faqih
10. Muhammad Shohib Mirbath
11. ‘Ali Khali Qasam
12. ‘Alwi Shohib Baiti Jubair
13. Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah
14. ‘Alwi al-Mubtakir
15. ‘Ubaidillah
16. Ahmad Al-Muhajir
17. ‘Isa An-Naqib
18. Muhammad An-Naqib
19. ‘Ali Al-’Uraidhi
20. Ja’far Ash-Shadiq
21. Muhammad al-Baqir
22. ‘Ali Zainal ‘Abidin
23. Imam Husain Asy-Syahid
24. Fathimah Az-Zahra
25. Nabi Muhammad Rasulullah

2. Berdasarkan Silsilah yang dibuat Kyai Sudja’, Ki Ageng Gribig adalah keturunan Sunan Giri, melalui jalur laki-laki.

Hal tersebut masih sangat mungkin terjadi, apabila Ki Ageng Gribig (II) yang dalam cerita di masyarakat, disebut manantu Sunan Giri IV/Sunan Prapen, sejatinya adalah anak dari Sunan Giri  IV/Sunan Prapen.

3. Kisah seputar Ki Ageng Gribig yang beredar di masyarakat

01. Tentang Ki Ageng Gribig  sebagai putra Brawijaya. Berdasarkan buku Benturan budaya Islam: Puritan & Sinkretis, yang dimaksud Brawijaya adalah Sunan Tembayat.

Sunan Tembayat memiliki putra bernama Wasibagno yang bergelar Ki Ageng Gribig I.

02. Tentang ibu Ki Ageng Gribig yang berasal dari trah Sunan Giri. Berdasarkan timeline, orang yang dimaksud adalah Raden Ayu Ledah binti Sunan Giri IV (Sunan Prapen) bin Sunan Giri II (Sunan Dalem Wetan) bin Sunan Giri (Maulana Ainul Yaqin), yang merupakan istri dari Ki Ageng Gribig II.

03. Tentang Ki Ageng Gribig, yang menjadi pelopor acara “Yaqowiyu”,  yang dimulai pada sekitar tahun 1589 Masehi atau 1511 Saka. Orang yang dimaksud adalah Ki Ageng Gribig III, yang sekaligus juga guru Sultan Agung Mataram.

04. Tentang Ki Ageng Gribig, yang menikah dengan Raden Ayu Emas Winongan (adik Sultan Agung Mataram). Orang yang dimaksud adalah Ki Ageng Gribig IV, sekaligus juga orang yang berjasa dalam memadamkan gejolak politik di Palembang (tahun 1636 Masehi).

05. Tentang Ki Ageng Gribig, yang menjadi ayah dari Demang Juru Sapisan (terdapat di dalam silsilah yang dibuat Kyai Sudja’). Orang yang dimaksud adalah Ki Ageng Gribig IV.

4. Kisah dan Fakta, tentang Ki Ageng Gribig (III) pelopor acara “Yaqowiyu” di Jatinom Klaten :

1. Ki Ageng Gribig (III) pertama kali melaksanakan acara “Yaqowiyu”, sepulang dari ibadah haji, tepatnya tanggal 15 Sapar 1511 H (tahun 1589M).

2. Ki Ageng Gribig (III) diceritakan sebagai keturunan ke-5 dari Prabu Brawijaya V (raja terakhir Majapahit)

Urutan Silsilah….

= 00. Prabu Brawijaya V

= 01. Sunan Katong/Raden Jaka Pitutur/Raden Arakkali (adipati Ponorogo)

= 02. Nyi Ageng Kaliwungu (istri Sunan Tembayat/Brawijaya Wekasa)

= 03. Raden Jaka Dholog/Ki Ageng Jatinom/Resi Bagna/Wasibagno/Ki Ageng Gribig (I)

= 04. Pangeran Rangkaknyawa/Pangeran Watijiwa/Ki Ageng Pangkaknyana/Wasijiwa/Ki Ageng Gribig (II)
(Di dalam silsilah yang lain disebut Syekh Wasibagno III/Raden Mas Guntur/Bandara Putih/Prabu Wasi Jaladara, dan diceritakan memiliki istri bernama Raden Ayu Ledah/Raden Ayu Seledah keturunan Sunan Giri)

= 05. Kyai Getayu/Ki Ageng Gribig (III)
(Di dalam silsilah yang lain disebut Syekh Wasibagno Timur/Syekh Wasihatno)

3. Ki Ageng Gribig (III) adalah Guru Sultan Agung Mataram. Dan anaknya Ki Ageng Gribig (IV), membantu Sultan Agung dalam mengatasi gejolak politik di Palembang (tahun 1636M), serta menjadi adik ipar Sultan Agung Mataram.

Catatan Tambahan

(*) Berdasarkan kitab Al-Mausuu’ah Li Ansaab Itrati Al-Imam Al-Husaini, Jakarta: Penerbit Madawis, Cetakan 1, 2011…

Al-Imam Maulana Husain Jamaluddin Jumadil Kubro, dilahirkan pada tahun 1270 M di negeri Nasarabad, dan wafat di Wajo tahun 1453 M. Jadi usianya 183 tahun.

Melalui istrinya yang bernama Puteri Syahirah atau Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) binti Sultan Baki Shah ibni al-Marhum Sultan Mahmud, Raja of Chermin dari Kelantan Malaysia (menikah tahun 1390M), beliau dikarunia-i 2 anak, yaitu :
– Sayyid ‘Ali Nurul Alam (lahir tahun 1402M)
– Sayyid Muhammad Kebungsuan (lahir tahun 1410M)
(Sumber : Al-Imam Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan)

(*) Melalui penyelusuran yang dilakukan salah seorang keluarga KH. Ahmad Dahlan (sdr. Diah Purnamasari Zuhair), berkesimpulan bahwa Batara Katong, Sunan Geseng, dan Ki Ageng Gribig I, memiliki hubungan kekerabatan, namun mereka adalah orang yang BERBEDA.

Dengan alasan sebagai berikut :

1. Makam Batara Katong terletak di Jenangan-Ponorogo-Jawa Timur. Beliau memang tinggal di Jenangan. Makam tersebut terletak tidak jauh dari rumah adik ipar saya.

2. Sunan Geseng berasal dari Bagelen-Purworejo-Jawa Tengah. Makam Sunan Geseng terletak di daerah Gunung Kidul, yang biasa disebut Makam Jolosutro. Kalau membaca sejarah Sunan Geseng (Cokrojoyo I), maka beliau dikenal sebagai Ki Ageng Gribig III karena tinggal di Jatinom (dalam sejarah ditulis bahwa Ki Ageng Gribig III tinggal di Jatinom-Klaten-Jawa Tengah). Beliau juga yang menurunkan bupati-bupati Bagelen, dari putranya yang bernama Raden Joko Bumi, juga menurunkan Patih Cokrojoyo III (Adipati Danureja).

3. Makam Ki Ageng Gribig I terletak di Malang-Jawa Timur, yang jarak tempuhnya sekitar 2-3 jam dari Ponorogo.

Dari letak makam yang berbeda saja sudah bisa dipastikan bahwa Batara Katong bukan Ki Ageng Gribig I juga bukan Sunan Geseng. (Sumber : Diskusi Facebook).

Silsilah KH. Ahmad Dahlan (Berdasarkan revisi sdr. Diah Purnamasari Zuhair)…
silsilahdahlan21a
(*) Pendapat jalur nasab KH. Ahmad Dahlan, melalui Sayyid Muhammad Kebungsuan, juga memiliki beberapa kelemahan.

Mengidentifikasi Sayyid Muhammad Kebungsuan, adalah sosok yang sama dengan Adipati Andayaningrat (ayah Kebo Kanigoro/Batara Katong), sepertinya masih perlu diteliti lagi, dengan alasan…

(1). Kedua tokoh memiliki riwayat kehidupan dan masa periode kehidupan yang berbeda.

(2). Adipati Andayaningrat adalah putera dari Pangeran Bajul Segara, sejak kecil tidak bertemu dengan ayahnya. Sementara Sayyid Muhammad Kebungsuan, ketika kecil telah dibimbing ilmu keislaman langsung dari ayahnya Sayyid Husein Jamaluddin Akbar.

(3). Sayyid Muhammad Kebungsuan berdakwah ke berbagai tempat menyebarkan Islam, sementara Adipati Andayaningrat adalah seorang birokrat Kerajaan Majapahit

4). Berdasarkan Serat Kanda, Adipati Andayaningrat membela Majapahit saat berperang melawan Demak. Sementara Sayyid Muhammad Kebungsuan, tentu akan lebih berpihak kepada Demak, yang didukung oleh keluarganya (Sunan Ampel).

(*) Ada versi yang mengatakan Sayyid Muhammad Kebungsuan, ada 3 orang, yakni :

(1). Sayyid Muhammad Kebungsuan Malaka
(2). Sayyid Muhammad Kebungsuan Mindanau
(3) Sayyid Muhammad Kebungsuan Jawa

Adapun Silsilah Sayyid Muhammad Kebungsuan Jawa, adalah sebagai berikut :

1. Syekh Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra, menikah dengan Puteri Nizamul Muluk (Delhi India, menikah tahun 1309 M), memiliki putera bernama Maulana Muhammad Jumadil Kubra (lahir di Nasarabad India, tahun 1311 M).

Syekh Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubro, wafat tahun 1453, di usia 183 tahun dan dimakamkan di Wajo Sulawesi.

2. Maulana Muhammad Jumadil Kubro, berdasarkan catatan KRT.Hamaminatadipura, adalah orang yang membuka Hutan Mentaok, menjadi sebuah pemukiman, yang dikemudian hari dikenal sebagai Mataram.

Maulana Muhammad Jumadil Kubra, sendiri kemudian dikenal dengan gelar Ki Ageng Mataram I. Makam beliau berada di Gunung Plawangan Turga Kaliurang Yogyakarta.

Salah seorang putera Maulana Muhammad Jumadil Kubro, bernama Maulana Ahmad Jumadil Kubro, yang dikenal sebagai Wali Songo Generasi I.

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, berdasarkan catatan Ki Ageng Walisuci, dalam Babad Mataram Islam, beliau adalah ayah biologis dari Abdurrahman Jumadil Kubra, dan setelah dewasa lebih dikenal sebagai Raden Lembu Peteng atau Ki Bondan Kejawan.

Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubro, lokasi makamnya berada di Troloyo Mojokerto. Berdasarkan catatan silsilah Roro Tenggok (Roro Sekar Rinonce) binti Ki Kebo Kanigoro, Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubro merupakan ayah dari Pangeran Handayaningrat (Jaka Sengara) atau dikenal juga sebagai Sayyid Muhammad Kebungsuan (Jawa).

4. Pangeran Handayaningrat (Jaka Senggara/Sayyid Muhammad Kebungsuan (Jawa)), merupakan suami dari Raden Ayu Retno Pambayun

Dari pernikahan ini, beliau memiliki putera bernama Ki Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging, ayahanda Jaka Tingkir) dan Ki Kebo Kanigoro (Kyai Ageng Purwoto Sidik Banyubiru).

5. Ki Kebo Kanigoro (Kyai Ageng Purwoto Sidik Banyubiru, Sukoharjo Jawa Tengah), dalam salah satu versi merupakan Leluhur dari KH. Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah.

(*) Berdasarkan Tedhak Dermayudan, di daerah Gribik (Sengguruh Jawa Timur) bermukim seorang putra Sunan Giri bernama Pangeran Kedhanyang. Dikisahkan Pangeran Kedhanyang berhasil menahan serangan Adipati Sengguruh (Malang) di tahun 1535, sehingga daerah Jaha, Wendit, Kipanjen, Dinaya dan Palawijen masuk Islam.

Peristiwa peperangan antara Giri Kedaton dan Sengguruh (Malang) terjadi pada masa Sunan Giri II (Sunan Dalem), jadi kemungkinan  Pangeran Kedhanyang adalah putera dari Sunan Giri II (Sunan Dalem) bin Sunan Giri I.

Apakah Pangeran Kedhanyang, kelak akan bergelar Ki Ageng Gribig I, yang kemudian menjadi leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan ? (sumber : ngalam.id). Selengkapnya pembahasan versi ini, bisa kunjungi : Misteri Ki Ageng Gribig, Leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) ?

sililahad1

(*) Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan, dengan Keluarga Pondok Pesantren Gontor Ponorogo (Sumber : Silsilah Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dengan Keluarga Pesantren Gontor Ponorogo).

silsilahulama

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi Tambahan :

Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Sunan Giri, Pendidik yang Ahli Fiqih

MUHAMMADIYAH, terancam GAGAL?