Tag Archives: wanita

Bukti Arkeologis, Budaya HIJAB telah ada Ribuan Tahun dalam Peradaban Kuno Dunia ?

Kaum Muslimin percaya bahwa Islam adalah ajaran yang telah ada sejak masa kehidupan leluhur umat manusia, Nabi Adam beserta keluarganya.

Demikian halnya perintah Hijab (berpakaian tertutup) bagi para wanita, sudah tentu telah disampaikan oleh nabi-nabi terdahulu, sebelum masa kenabian Muhammad Rasulullah.

Berikut adalah benda-benda arkeologis, yang menunjukkan budaya Hijab telah berlangsung ribuan tahun, dari berbagai Peradaban Kuno di Dunia…

hijabarkeologi
Hijab dalam Al Qur’an…

QS. Al-Ahzab (33) ayat 59 :
Wahai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak di ganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Hijab dalam Perjanjian Baru…

Korintus 11:5 Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.

Korintus 11:6 Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.

Hijab dalam Perjanjian Lama…

Kejadian (Genesis) 24 : 63
Menjelang senja Ishak sedang keluar untuk berjalan-jalan di padang. Ia melayangkan pandangnya, maka dilihatnyalah ada unta-unta datang.

Kejadian (Genesis) 24 : 64
Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya.

Kejadian (Genesis) 24 : 65
Katanya kepada hamba itu: “Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita?” Jawab hamba itu: “Dialah tuanku itu.” Lalu Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia.

Sumber :
pinterest.com

Iklan

Shalat Dzuhur bagi Wanita di Hari Jum’at, Haruskah Menunggu Sampai Selesai Shalat Jum’at ?

shalatmuslimah
Berkembang keyakinan di masyarakat, wanita tidak boleh shalat Dzuhur di hari Jum’at sehingga kegiatan shalat Jum’at di Masjid selesai. Sehingga mereka mengakhirkan pelaksanaannya sehingga para bapak dan laki-laki pulang dari shalat Jum’at. Apakah ini dibenarkan?

Waktu shalat Dzuhur bagi wanita di hari Jum’at seperti waktu Dzuhur di hari-hari selainnya. Yaitu saat matahari sudah sedikit tergelincir ke barat atau bayangan benda sedikit condong ke timur. Dan habisnya, bayangan suatu benda sebanding dengan benda tersebut. dan saat itu sudah masuk Ashar.

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ

“Waktu Dzuhur dimulai apabila matahari sudah tergelincir sehingga bayangan seseorang sama dengan tingginya selama belum masuk waktu ‘Ashar.” (HR. Muslim)

Jika seorang wanita sudah yakin telah masuk waktu Dzuhur ia boleh shalat Dzuhur di rumahnya walau kaum muslimin belum selesai dari shalat Jum’at. Dan kebiasaan masyarakat kita, adzan shalat Jum’at dikumandangkan setelah masuk waktu Dzuhur, khususnya adzan kedua di masjid yang mengamalkan dua adzan Jum’at. Jika demikian, dibolehkan wanita shalat Dzuhur setelah mendengar adzan kedua tersebut. Wallahu A’lam.

Fatwa Syaikh Abdul Rahman Al-Suhaim

Apabila wanita shalat di rumahnya shalat Dzuhur pada hari Jum’at maka dia tidak shalat hanya karena telah mendengar adzan shalat Jum’at semata, karena sebagian khatib ada yang memulai khutbah sebelum masuk waktu Dzuhur (waktu shalat Dzuhur boleh dimajukan sebelum masuk waktu Dzuhur).

Tapi apabila wanita di rumahnya mengetahui waktu Dzuhur, dan telah memastikan masuknya waktu dzuhur melalui jam, kalender atau bayangan bagi yang mengetahuinya maka dia boleh shalat Dzuhur pada hari Jum’at tersebut sebanyak empat rakaat, meskipun kaum pria belum selesai shalat Jum’at, kecuali apabila wanita dalam keadaan safar maka dia boleh shalat dua rakaat dengan niat qashar.

Apabila wanita ikut shalat Jum’at (dan itu dibolehkan) di masjid berjamaah maka gugur kewajiban shalat dzuhurnya, karena wanita sejajar dengan laki-laki dalam hal ini.

Fatwa Syaikh Ibnu Bazz Rahimahullah

Dalam situs resmi Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz Rahimahullah, disebutkan satu fatwa beliau berjudul “Hukum Wanita Mengakhirkan shalat Dzuhur di Hari Jum’at”. Beliau menilai keyakinan sebagian wanita mengakhirkan shalat Dzuhur di hari Jum’at sampai selesai shalat Jum’at dengan waktu yang cukup lama sebagai keyakinan yang tidak memiliki dasar (dalil).

“Itu bentuk kejahilan mereka. Apabila muadzin mengumandangkan adzan atau matahari telah condong (ke barat,-pent), maka pada waktu ini ia shalat Dzuhur di rumahnya empat rakaat. Dirinya tidak punya kaitan dengan shalat Jum’at,” tutur beliau.

تصلي في بيتها أربع ركعات بعد الزوال ولو صاحب الجمعة تأخر، ليس عليها أن تنتظر الجمعة، تصلي في بيتها الظهر أربعاً يوم الجمعة، وليس لها شأن في الجمعة
“Ia shalat di rumahnya empat rakaat setelah zawal (matahari tergelincir ke barat,-pent) walau jamaah shalat jum’at belum selesai. Ia tidak harus menunggu Jum’atan selesai. Ia shalat Dzuhur empat rakaat di rumahnya di hari Jum’at. Dirinya tidak punya urusan dengan jum’atan,” (sebagian teks fatwa)

Beliau melanjutkan, “Tetapi kalau ia ikut shalat Jum’at di masjid bersama manusia maka itu dibolehkan. Ia shalat dua rakaat bersama mereka dan tidak lagi shalat Dzuhur. Kalau ia menghadiri Jum’atan dan shalat Jum’at bersama orang-orang, itu mencukupkannya dari shalat Dzuhur. Tetapi jika ia shalat di rumahnya, ia shalat empat raaat baik ia laksanakan bebarengan dengan shalat jum’at imam atau sesudahnya atau sebelumnya apabila dimulainya sesudah zawal. Harus setelah zawal. Karena Dzuhur, waktunya, setelah zawal. Maka apabila ia shalat setelah zawal, maka shalatnya sah, baik bebarengan dengan shalat jum’atnya imam atau sesudahnya atau sebelumnya.”

Kesimpulan

Untuk shalat Dzuhur di Hari Jum’at, kaum muslimah yang ada di rumahnya tidak harus menunggu sampai jamaah shalat jum’at bubar atau selesai. Ia shalat Dzuhur empat rakaat di rumahnya setelah dipastikan masuk waktu Dzuhur, matahari sudah condong ke barat. Dan tidak ada perbedaan shalat Dzuhur wanita di hari Jum’at dengan hari-hari selainnya.

Wallahu A’lam.

Sumber :
voa-islam.com 

Ratu Sinuhun, Feminis Nusantara dari abad ke-17M

Palembang merupakan daerah yang untuk pertama kalinya diterapkan undang-undang tertulis yang berlandaskan syariat Islam di Nusantara. Hal tersebut sebagaimana tercantum di dalam kitab Simbur Cahaya, yang disusun oleh Ratu Sinuhun, cendikiawan wanita asal Palembang

Ratu Sinuhun, sumber: tribunnews.com

Ratu Sinuhun, Sang Cendikia

Tidak banyak tulisan yang membahas riwayat hidup Ratu Sinuhun, orang mengenalnya sebagai  isteri Penguasa PalembangPangeran Sido Ing Kenayan (1636—1642 M), dan salah seorang saudara dari Pangeran Muhammad Ali Seda ing Pasarean, Penguasa Palembang (1642-1643M) (sumber : Palembang dari nama Cina, menjadi negeri Darussalam).

Ratu Sinuhun diperkirakan lahir di Palembang pada sekitar akhir abad ke-16, dan wafat pada tahun 1642M. Ayahnya bernama Maulana Fadlallah, yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Manconegara Caribon.

Di dalam catatan sejarah, Pangeran Manconegara merupakan cikal bakal lahirnya Dinasti Cirebon di Kesultanan Palembang. Sebagaimana diketahui Kesultanan Palembang Darussalam di dirikan oleh Sultan Abdurrahman (Ki Mas Hindi) bin Pangeran Muhammad Ali Seda ing Pasarean bin Pangeran Manconegara Caribon (sumber : Ratu Sinuhun (wikipedia)).

Berdasarkan penyelusuran genealogy, Silsilah Ratu Sinuhun adalah sebagai berikut :

[Ratu Sinuhun] binti [Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara Caribon] bin [Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara] bin [Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo] bin [Sunan Giri atau Maulana Muhammad Ainul Yaqin] bin [Maulana Ishaq] bin [Syaikh Ibrahim Zain al Akbar] bin  [Syaikh Jamaluddin Husain Akbar] bin [Syaikh Ahmadsyah Jalal] bin [Syaikh Abdullah Azmatkhan] bin [Syaikh Abdul Malik al Muhajir] bin [Syaikh Alawi Ammil Faqih] bin [Syaikh Muhammad Shohib Mirbath] bin [Syaikh Ali Khali’ Qasam] bin [Syaikh ‘Alwi Shohib Baiti Jubair] bin [Syaikh Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah] bin [Syaikh ‘Alwi al-Mubtakir] bin [Syaikh ‘Ubaidillah] bin [Imam Ahmad Al-Muhajir] bin [Syaikh ‘Isa An-Naqib] bin [Syaikh Muhammad An-Naqib] bin [Imam ‘Ali Al-’Uraidhi] bin [Imam Ja’far Ash-Shadiq] bin [Imam Muhammad al-Baqir] bin [Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin] bin [Imam Husain Asy-Syahid] bin [Fathimah Az-Zahra] binti [Muhammad Rasulullah]

Sementara dari pihak Ibu, Ratu Sinuhun adalah putri dari Nyai Gede Pembayun binti Ki Gede ing Suro Mudo. Beliau terhitung masih sepupu suaminya (Pangeran Sido ing Kenayan), yang merupakan putra dari Ki Mas Adipati Angsoko bin Ki Gede ing Suro Mudo/Ki Mas Anom Adipati Jamaluddin (sumber : Sejarah Kesultanan Palembang)

Pelopor Feminisme

Kitab Simbur Cahaya, yang disusun Ratu Sinuhun, adalah kitab undang-undang hukum adat, yang merupakan perpaduan antara hukum adat yang berkembang secara lisan di pedalaman Sumatera Selatan, dengan ajaran Islam.

Kitab Simbur Cahaya, terdiri atas 5 bab, yang membentuk pranata hukum dan kelembagaan adat di  Sumatera Selatan, khususnya terkait persamaan gender perempuan dan laki-laki. Dan adalah wajar jika dikatakan, Kitab Simbur Cahaya, adalah tonggak awal Gerakan Feminisme di Nusantara, yang sejalan dengan pemahaman ad-dinul Islam.

Pada perkembangan selanjutnya, ketika Palembang berhasil dikuasai Kolonial Belanda. Sistem kelembagaan adat masih dilaksanakan seperti sediakala, yaitu dengan mengacu kepada Undang UndangSimbur Cahaya, dengan beberapa penghapusan dan penambahan aturan yang dibuat resident.

Berdasarkan informasi dari penerbit “Typ. Industreele Mlj. Palembang, 1922”, Undang Undang Simbur Cahaya terdiri dari 5 bagian, yaitu :

1. Adat Bujang Gadis dan Kawin (Verloving, Huwelijh, Echtscheiding)
2. Adat Perhukuman (Strafwetten)
3. Adat Marga (Marga Verordeningen)
4. Aturan Kaum (Gaestelijke Verordeningen)
5. Aturan Dusun dan Berladang (Doesoen en Landbow Verordeningen)

Salah satu contoh Undang-Undang Simbur Cahaya :
Bab I (Adat Bujang Gadis dan Kawin), Pasal 32 berbunyi…

“Jika bujang gadis berjalan, maka bujang rebut kembang dari kepala gadis lang menarap buih namanya, bujang itu kena denda 2 ringgit” (selengkapnya : Simbur Cahaya (wikipedia))

Kepeloporan Ratu Sinuhun dalam membela hak-hak perempuan, telah mendorong beberapa aktivis untuk mengusulkannya sebagai salah seorang Pahlawan Nasional.

Bahkan pemikiran Ratu Sinuhun masih banyak diyakini masyarakat melayu, seperti adanya denda atau hukuman yang berat, bagi lelaki yang menggangu perempuan (sumber : Ratu Sinuhun, diminta jadi Pahlawan Nasional).

(Kehidupan Perempuan Islam) Kesetaraan Gender dan Sumbangan bagi Peradaban

Mereka yang tidak paham dengan Islam, sering kali seenaknya menuduh, “Islam adalah ajaran yang merendahkan martabat kaum perempuan.” Kalau dengan bahasa kerennya sering disebut ‘bias gender’.

Benarkah Islam merendahkan martabat kaum perempuan?

Tuduhan ini, pada kenyataannya berbanding terbalik. Sama sekali tidak benar. Di dalam Islam, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sangat dijaga dan dihormati. Ini bukan hanya aturan asal-asalan, tapi dilandasi oleh firman Allah SWT di dalam Al Qur’an. Dengan tegas dalam QS Al Isra’ ayat 70 dijelaskan kemuliaan seluruh anak cucu Adam, tanpa dibedakan faktor suku bangsa dan jenis kelamin.

Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

Bagi yang masih memusuhi Islam pun bisa menyanggahnya, “Itu kan teori, tapi kenyataannya…? Mana buktinya?”

Tentu saja perkataan mereka itu sebenarnya tidak ada dasarnya. Kesetaraan gender, persamaan hak antara lelaki dan perempuan telah menjadi keseharian yang nyata sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Banyak fakta yang bisa dipaparkan, antara lain sebagai berikut.

Nama-nama Nusaibah binti Ka’b, Ummu Athiyyah al Anshariyyah, dan Rabi’ binti al Muawwadz adalah para sahabat Rasulullah SAW dari kalangan muslimah. Mereka ini turut berjuang di medan perang, melawan penindasan dan ketidakadilan.

Selain itu, Rasulullah SAW juga punya banyak kader ilmuwan muslimah, termasuk ahli pidato seperti ‘Aisyah, Fatimah, Zainab, Sukainah, Zarqo (Zarga) dan Darimiyah.

Selanjutnya di masa Imam Syafi’i, beliau bertemu di Majelis Pengadilan Mesir yang dipimpin oleh Guru Besar Perempuan bernama Nafisah binti Abu Muhammad. Pada masa itu sudah banyak juga guru besar dalam berbagai disiplin ilmu, seperti Muknisa binti Al Malikul Adil, Samiyah binti Hafidz, Zainab binti Abdul Latif, Syahdah Al Katibah binti Ubari dan Mariyam binti Abu Ya’qub.

Di bidang Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), muncul muslimah-muslimah yang ahli ilmu perbintangan (astronomi), seperti Lubanna dari Spanyol, Asma Ibrat dari Turki, Halimah dari Konstantinopel.

Di bidang ilmu kedokteran juga dikenali sosok Ukhte Zahroh, dan masih banyak lagi lainnya.

Jadi, dari uraian singkat itu dapat disimpulkan bahwa kesetaraan gender dalam Islam sudah lama adanya. Bahkan dengan adanya kesetaraan inilah, yang membuat sekelompok perempuan mendatangi Rasullah SAW untuk menyatakan dukungan (bai’at).

Peristiwa itulah yang jadi sebab turunnya QS As Saff ayat 12, “Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan bai’at (janji setia), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Jelas bahwa Islam sangat memuliakan perempuan. Islam tidak pernah menghalangi perempuan untuk berkiprah dan berperan serta secara aktif, demi kemajuan bangsa dan agamanya. Bahkan Islam sangat menghormati perempuan dengan memberinya kesempatan berkarier, tentu saja tidak melepaskan diri dari kodratnya sebagai perempuan.

Yang sering salah kaprah di masyarakat kita, banyaknya perempuan yang menuntut kesetaraan gender yang sama persis dengan laki-laki. Bahkan mereka tidak ‘malu’ menolak kodratnya sebagai perempuan, tidak mau mengurus rumah tangga, tidak mau menikah demi alasan karier, kurang menghormati suami dan tidak menyadari hakikatnya sebagai istri.

Tentunya hal-hal yang seperti itu jelas-jelas salah. Karena Allah SWT menciptakan manusia berpasang-pasangan, dengan kodrat dan fitrahnya masing-masing untuk saling melengkapi dan bekerja sama.