Tag Archives: leluhur

Silsilah Sunan Kalijaga, dari berbagai jalur Leluhur Dinasti Tuban, Abbasiyah dan Azmatkhan

Telah sama dimaklumi, selama ini muncul berbagai versi silsilah Sunan Kalijaga. Di antara versi-versi yang beredar, ada yang menyambungkan beliau sebagai keturunan Jawa Asli, ada lagi menyebut beliau sebagai Keturunan Nabi Muhammad dan yang lain menyatakan beliau sebagai Keturunan Sayyidina Abbas.

Melalui penyelusuran genealogy, diperoleh data silsilah Sunan Kalijaga sebagai berikut :

sunan kalijaga
Sumber Data : ULASAN SILSILAH GENEALOGYS AKBAR KE BERBAGAI JALUR LELUHUR DARI SUNAN KALIJAGA & PARA PEMIMPIN AWAL TUBAN

wayang1
Keterangan Penambahan

1. Nasab Raden Dandang Wacana (Kyai Gede Papringan)

01. Prabu Banjaransari, berputera
02. Raden Arya Metahun, berputera
03. Raden Arya Randu Kuning (Bupati Lumajang Tengah), berputera
04. Raden Arya Bangah (Bupati Gumenggeng), berputera
05. Raden Arya Dandang Miring (Bupati Lumajang), berputera
06. Raden Dandang Wacana (Bupati Tuban ke-1)

2. Nasab Syekh Abdullah (Keluarga Abbasiyah)

01. Sayyidina Abbas [Paman dari Nabi Muhammad], berputera
02. Abdullah ibnu Abbas, berputera
03. Ali bin Abdullah, berputera
04. Abdullah “Al-Akbar”, berputera
05. Syekh Waqid Arumni, berputera
06. Syekh Mudzakir Arumni, berputera
07. Abdullah, berputera
08. Kharmis, berputera
09. Mubarak, berputera
10. Abdullah, berputera
11. Ma’ruf, berputera
12. Arifin, berputera
13. Hasanuddin, berputera
14. Jamal, berputera
15. Ahmad, berputera
16. Abdullah, berputera
17. Abbas, berputera
18. Syekh Kharamis, berputera
19. Syekh Abdullah

3. Nasab Sayyid Ali Khali’ Qasam

01. Nabi Muhammad Rasulullah, berputeri
02. Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra, berputera
03. Sayyidina Husain Asy-Syahid, berputera
04. Sayyidina Ali Zainal ‘Abidin, berputera
05. Sayyidina Muhammad al-Baqir, berputera
06. Sayyidina Ja’far Ash-Shadiq, berputera
07. Sayyid Ali Al-’Uraidhi, berputera
08. Sayyid Muhammad An-Naqib, berputera
09. Sayyid Isa Ar-Rumi, berputera
10. Sayyid Ahmad Al-Muhajir, berputera
11. Sayyid Ubaidillah, berputera
12. Sayyid Alwi al-Mubtakir, berputera
13. Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah, berputera
14. Sayyid Alwi Shohib Baiti Jubair, berputera
15. Sayyid Ali Khali’ Qasam

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah
2. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?
3. Mengapa Rasulullah memerintahkan Bilal, untuk mengumandangkan Adzan di atap Ka’bah?
4. Kisah Masa Kecil Rasulullah dan Tapak Rumah Ibunda Susuan Nabi Muhammad “Halimatus Sa’adiah”
.

Iklan

Tanah Punt, Sundaland, dalam Legenda Leluhur Bangsa Nusantara?

Selepas Bencana di masa Nabi Nuh, hampir semua peradaban besar di dunia hancur, yang tersisa tinggal Keluarga Nuh beserta para pengikutnya.

Penduduk Nusantara diperkirakan bermula dari 2 (dua) kafilah, yakni  keluarga Put bin Ham bin Nabi Nuh dan keluarga Shin bin Maghugh bin Yafit bin Nabi Nuh.

peta1
Legenda Tanah Punt

Keluarga Put bin Ham, bertempat tinggal di dataran tinggi sepanjang Bukit Barisan (Sumatera), sebagian lagi berada di Srilanka dan India.

Sementara Keluarga Shin bin Maghugh bin Yafit, sebagian besar bertempat tinggal di wilayah Sundaland, daerah dataran rendah di antara Sumatera, Semenanjung, Kalimantan dan Jawa.

Pada sekitar tahun 9.600 SM, pada masa berakhirnya zaman es, Jazirah Sundaland tenggelam.

Penduduk Sundaland berpencar ke seluruh penjuru bumi, sebagian besar hijrah ke arah utara, yang kelak menjadi leluhur bangsa-bangsa di Asia Timur, seperti ras Mongoloid dan Altai (Sumber : Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab Asal Usul Bangsa Melayu ?).

Sebagian lagi mencari daerah daratan tinggi, mereka menyelusuri hutan-hutan di Pulau Sumatera, dan sampailah di daerah kekuasaan keturunan Put bin Ham. Pada akhirnya kedua Bangsa ini berinteraksi, untuk kemudian memunculkan bangsa baru, yang dikenali sebagai Bangsa Australomelanesid.

mahabharata1
Pada perkembangannya, masyarakat Australomelanesid kemudian mendiami pulau-pulau di seluruh pelosok Nusantara hingga sampai Kepulauan Pasifik.

Disinyalir, Hiranyapura (Kota Emas) dalam Epos Mahabharata, merupakan tempat kediaman bangsa ini (Lihat : Misteri Arjuna dalam Kisah Mahabharata, yang singgah di Nusantara (Sumatera), pada sekitar 5.000 tahun yang silam?)

Wilayah Bangsa Australomelanesid, dikenal juga sebagai Tanah Punt, yang diambil dari nama leluhur mereka Put bin Ham bin Nabi Nuh.

Keberadaan Tanah Punt,  terdokumentasi pada Relief Kuil Mesir Purba, yang dibangun oleh  Ratu Hatshepsut (1479 SM – 1458 SM) (Lihat : [Misteri] Kuil Hatshesut (+/- 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?).

maritim1
Proto Melayu dan Deutero Melayu

Pada sekitar tahun 2500-1500 SM, sebagian keturunan Shin bin Maghugh bin Yafit pulang kampung ke Nusantara. Mereka berasal dari Provinsi Yunnan di selatan Cina, New Guinea atau Kepulauan Taiwan.

Kehadiran migrasi bangsa ini, terekam dalam Situs Goa Harimau Sumatera Selatan (Lihat : Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?).

Para Migran ini kemudian berinteraksi dengan Bangsa Australomelanesid, dan memunculkan bangsa baru yang dikenali sebagai Bangsa Proto Melayu.

adatmelayu1
Gelombang Migrasi kemudian datang dari Asia Tengah dan Selatan. Diperkirakan mereka mulai memasuki Nusantara, pada sekitar tahun 300 SM.

Bangsa Proto Melayu yang sebelumnya telah mendiami Nusantara, sebagian tetap mempertahankan eksistensinya, namun sebagian lagi melebur dengan bangsa pendatang ini, untuk kemudian membentuk bangsa baru, yang disebut Bangsa Deutero Melayu.

Penduduk Nusantara pada masa sekarang, sebagian besar meupakan bangsa Deutero Melayu dan Proto Melayu, yang terbentuk melalui proses yang sangat panjang selama ribuan tahun.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Peradaban Sundaland dan Misteri Leluhur Nusantara ?

Berdasarkan penelitian Oppenheimer, pada periode 14.000 – 7.000 tahun yang lalu, terjadi kenaikan permukaan laut setinggi 500 meter. Hal inilah yang menjadi sebab, tenggelamnya daratan Sundaland, yang merupakan penghubung Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Semenanjung.

sundaland4

Diperkirakan pada masa itu, Sundaland telah berdiam komunitas umat manusia, yang telah memiliki peradaban yang cukup tinggi.

Sebagian masyarakat Sundaland, ada yang mengungsi ke utara, Mereka kemudian menjadi leluhur bangsa-bangsa di Asia Timur, seperti ras Mongoloid dan Altai.

Berdasarkan penyelusuran DNA yang dilakukan Richards et al. (2008), penduduk Taiwan berasal dari masyarakat Sundaland, yang bermigrasi akibat Banjir Besar, diperkirakan komponen ini mencapai daratan Taiwan, pada sekitar 8.000 tahun yang lalu.

sundaland2

Sementara sebagian Masyarakat Sundaland lainnya, masih tetap bertahan di Nusantara, mereka tinggal di daerah dataran tinggi. Mereka ini kemudian dikenali sebagai Bangsa Gunung atau Bangsa Mala.

Bangsa Mala inilah yang menguasai Gunung Ophir (Gunung Talamau) di Sumatera Barat. Negeri Ophir tercatat dalam Kitab Perjanjian Lama, sebagai pusat penghasil emas di masa Nabi Sulaiman.

Pada sekitar 4.500 tahun yang lalu, disekitar Gunung Dempo Sumatera Selatan, telah ada komunitas Bangsa Mala yang telah memiliki kebudayaan yang tinggi. Hal ini terlihat dari peninggalan arkeologis, yang berhasil ditemukan.

sundaland3

Pada sekitar 3.500 tahun yang lalu, sebagian keturunan masyarakat Sundaland yang tinggal di daratan Taiwan, pulang kampung ke Nusantara. Mereka kemudian bergabung dengan Bangsa Mala, di kalangan ilmuwan, penggabungan kedua kelompok bangsa ini, dikenal sebagai masyarakat Proto Melayu.

Masyarakat Proto Melayu inilah, yang kemudian menjadi cikal bakal leluhur berbagai suku bangsa di Asia Tenggara.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Sumber :
Misteri Leluhur Masyarakat Nusantara, menurut Teori Out of Sundaland ? (Mencari Penghuni Langit – Group Facebook)

Catatan Penambahan :

1. Peradaban Sundaland, diperkirakan bermula dari komunitas Bani Adam yang selamat dari Bencana Nuh (pada sekitar 13.000 tahun yang lalu). komunitas ini dipimpin oleh keluarga Yafet bin Nuh.

2. Menurut Profesor Aryso Santos, melalui bukunya “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization (2005)”, Sundaland adalah benua Atlantis, yang disebut-sebut Plato di dalam tulisannya Timeus dan Critias.

Misteri Bukit Barisan dan Ajaran Monotheisme Nabi Ibrahim

Di daerah sekitar Pagar Alam, Sumatera Selatan, ditemukan sebuah arca menhir yang diperkirakan berasal dari masa 2.000 tahun Sebelum Masehi (SM). Uniknya arca tersebut terlihat seperti orang sedang duduk tahiyat, kebetulan arahnya juga ke kiblat.

Muncul berbagai spekulasi sejarah, tentang keberadaan arca yang mirip orang melakukan gerakan shalat ini.

Arca Sedang Shalat

Mungkinkah ini adalah bukti bahwa, dakwah Nabi Ibrahim dari masa ribuan tahun yang lalu, telah sampai ke Nusantara ?

Apakah ini, bisa dimaknai bahwa telah ada jalinan komunikasi antara Nusantara dengan Timur Tengah, ribuan tahun yang silam?

Benarkah salah satu istri Nabi Ibrahim, yang bernama Qatura/Keturah adalah keturunan Nusantara ?

Prasasti Talang Tuwo

Bangsa Pegunungan Bukit Barisan

Terlepas dari semua spekulasi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa di sepanjang pegunungan bukit barisan (dari Gunung Dempo Pagar Alam, sampai ke utara sekitar daerah Gunung Merapi), ribuan tahun yang silam, telah di-diami oleh bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi.

Bangsa Pegunungan Bukit Barisan ini dikenali sebagai Bangsa Gunung atau Bangsa Malayu. Bangsa Malayu inilah, konon merupakan asal bangsa daripada Qaturah (istri Nabi Ibrahim), kelak melalui anaknya Midian (Madian) bin Nabi Ibrahim, melahirkan Bangsa Media (Madyan).

Salah satu tokoh Bangsa Media (Madyan) yang terkenal adalah Nabi Syu’aib, yang merupakan salah satu dari 25 Nabi yang namanya terdapat di dalam Al Qur’an. Dan Nabi Syu’aib dikenal juga, sebagai mertua dari Nabi Musa (silahkan baca (Connection) Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim?).

Tambo Alam Minangkabau mencatat, sekelompok orang dari Tanah Basa, telah datang ke Gunung Merapi. Kelompok ini dipimpin oleh Daputa Hyang, yang  kemungkinan berasal dari Bangsa Media (Madyan), dimana sebelumnya telah mendiami Lembah Indus India.

Daputa Hyang bukanlah pemeluk Syiwabudhis seperti dugaan orang. Beliau kemungkinan menganut ajaran Braham (ajaran monotheime peninggalan Nabi Ibrahim, silahkan baca Asal Muasal Shalat disebut Sembahyang). Kelak dari keturunan Daputa Hyang ini, akan muncul Sri Jayanaga, pendiri kerajaan terbesar Bangsa Malayu, yang dikenal dengan nama Kerajaan Sriwijaya.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :

1. antaranews.com
2. Tambo Alam Minangkabau
3. Misteri Batu Megalitik Orang Shalat

Nabi Sulaiman Leluhur Bangsa Melayu, dalam Genealogy, King Khosrow I of Persia (531-578)

Inilah Susur Galur Bitjitram Syah (Sang Sapurba), keturunan Iskandar Zulqarnain yang turun dari Bukit Siguntang Mahameru (Palembang)

“… asal kami daripada anak cucu Raja Iskandar Zulqarnain, nisab kami daripada Raja Nusirwan, Raja Masyrik dan Maghrib dan pancar kami daripada Sulaiman ‘alaihis salam… ” (Sejarah Melayu (SM), karangan Abdullah ibn Abdulkadir Munsyi, bait 2.2).

Bitjitram Syah (Sang Sapurba), diceritakan menikah dengan Wan Sendari anak Demang Lebar Daun, Penguasa Palembang (anak cucu Raja Sulan, keturunan Raja Nusirwan ‘Adil bin Kibad Syahriar), kelak keturunannya menjadi cikal bakal raja-raja di Negeri Melayu.

Bitjitram Syah (Sang Sapurba), di dalam sejarah dikenali sebagai Raja dalam Keratuan Bukit Siguntang pada abad ke-13/14 Masehi, yang bernama Sri Tri Buwana, yang mendirikan Kerajaan Keritang (Indragiri) dan Kerajaan Kandis di Kuantan. Salah seorang putera Sang Sapurba, bernama Sang Nila Utama, membangun Kerajaan Tumasik, yang saat ini dikenal dengan nama Singapura.

Silsilah Bangsa Melayu

Ibn Abd Al Rabbih di dalam karyanya Al Iqd al Farid, yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII” menyebutkan adanya korespodensi antara raja Sriwijaya (Sri Indravarman) dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pada sekitar tahun 100 H (abad ke-8M) (Kunjungi : Sriwijaya Pintu Masuk Islam Ke Nusantara), Raja Sriwijaya berkirim surat yang isi surat tersebut adalah sebagai berikut :

”Dari Raja di Raja (Malik al Amlak) yang adalah keturunan seribu raja; yang isterinya juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya

(?) Benarkah raja Sriwijaya, adalah keturunan seribu raja ?

(?) Benarkah raja Sriwijaya, adalah keturunan Iskandar Zulqarnain dan Nabi Sulaiman?

(?) Siapa yang dimaksud dengan Raja Nusirwan ‘Adil, Raja Masyrik (Timur) dan Maghrib (Barat), seperti terdapat dalam Sejarah Melayu?

Berpedoman kepada Sejarah Melayu, sebagaimana diuraikan sebelumnya, diperoleh informasi Salasilah Demang Lebar Daun dan Sang Sapurba bertemu pada Raja Nusirwan ‘Adil.

Di kalangan ahli sejarah, memperkirakan Raja Nusirwan ‘Adil indentik dengan King Anushirvan “The Just” of Persia (memerintah pada tahun 531-578 M, di Kerajaan Persia Dinasti Sassanid), beliau adalah putera Kavadh I of Persia atau dalam sejarah melayu disebut Raja Kibad Syahriar.

Melalui penyelusuran Genealogy, diperoleh Silsilah King Anushirvan (Khosrow I of Persia), dengan perincian sebagai berikut :

1. Susur Galur dari Cyrus II “The Great” of Persia (Zulqarnain)

Maharaja Nusirwan ‘Adil (Anushirvan/King Khosrow I “The Just” of Persia) bin Maharaja Kibad Syahriar (Kavadh I of Persia) bin Firuz II of Persia bin Yazdagird II of Persia bin Bahram V of Persia bin Yazdagird I of Persia bin Shapur III of Persia bin Shapur II “The Great” of Persia bin Ifra Hormuz binti Vasudeva of Kabul bin Vasudeva IV of Kandahar bin Vasudeva III of Kushans bin Vasudeva II of Kushans bin Kaniska III of Kushans bin Vasudeva I of Kushans bin Huvishka I of Kushans bin Kaniska of Kushanastan bin Wema Kadphises II of Kunhanas bin Princess of Bactria binti Calliope of Bactria binti Hippostratus of Bactria bin Strato I of Bactria bin Agathokleia of Bactriai binti Agathokles I of Bactriai bin Pantaleon of Bactria bin Sundari Maurya of Magadha (menikah dengan Demetrios I of Bactriai*), keturunan Raja Iskandar (Alexander III “The Great” of Macedonia)) binti Princess of Avanti (menikah dengan Brihadratna Maurya of Magadha**), keturunan King Ashoka) binti Abhisara IV of Avanti bin Abhisara III of Pancanada bin Abhisara II of Taxila bin Abhisara I of Taxila bin Rodogune Achaemenid of Persia binti Artaxerxes II of Persia bin Darius II of Persia bin Artaxerxes I of Persia bin Xerxes I “The Great” of Persia bin Atossa of Persia (menikah dengan Darius I of Pesia***), keturunan Bani Israil) binti Cyrus II “The Great” of Persia

Sumber : Khosrow I `the Just’ (Anushirvan) (Shah) of PERSIA dan  Menemukan Zul-Qarnain, dalam Sejarah

2. Susur Galur dari Alexander III of Macedonia (Raja Iskandar Zulqarnain)

*) Demetrios I of Bactriai bin Berenike of Bactria binti Princess of Syria binti Laodice I of Syria bin Aesopia the Perdiccid of Macedonia binti Alexander III ”The Great” of Macedonia

3. Susur Galur dari King Ashoka

**) Brihadratna Maurya of Magadha bin Dasaratha of Magadha bin Kunala of Taxila bin King Ashoka (Asoka) Vardhana

4. Susur Galur dari Nabi Sulaiman

***) Darius I of Persia bin Meshar binti Salathial bin Tamar binti Johanan bin Josias bin Amon bin Manasses bin Ezechias bin Achaz bin Joatham bin Uzziah bin Amaziah bin Joash bin Ozias bin Jehoram bin Jehoshapat bin Asa bin Abia bin Roboam bin Nabi Sulaiman

Apa yang diakui raja Sriwijaya (Sri Indravarman), sebagai keturunan seribu raja, ternyata bukanlah isapan jempol melainkan sebuah fakta, melalui Susur Galur leluhurnya, Maharaja Nusirwan ‘Adil, telah membuktikannya.

Dan melalui penyelusuran Genealogy juga, kita dapat saksikan bahwa Raja Iskandar Zulqarnain (Alexander III of Macedonia), Zulqarnain (Cyrus II of Persia) dan Nabi Sulaiman sebagai Leluhur Bangsa Melayu, adalah sebuah kenyataan dan bukan sekadar angan-angan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Diperkirakan Sang Suparba, memerintah Keratuan Bukit Siguntang pada sekitar tahun 1287-1308.  Keratuan Bukit Siguntang, adalah pecahan dari Kedatuan Sriwijaya yang mengalami keruntuhan pada sekitar abad ke-11 Masehi.

2. Dalam Sejarah Melayu diceritakan Leluhur Sang Suparba, bernama Raja Dermanus, ber-ayah Raja Ardisir Bikan sedangkan ibunya puteri dari Maharaja Nusirwan ‘Adil.

Artikel Lainnya…
01. (Connection) Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim?
02. Sejarah Melayu, Teori Sundaland dan Naskah Wangsakerta
03. Legenda AJISAKA, mengungkap zuriat NABI ISHAQ di NUSANTARA
04. Jejak Nabi Nuh, dalam Gen Leluhur Nusantara (Haplogroup O1aM119)

Teori Iwak Belido dan Sejarah tenggelam-nya Sundaland…

Sekitar 1,8 juta tahun yang lalu, bumi memasuki zaman Pleistocene. Pleistocene adalah zaman es dengan permukaan air laut di bawah 100m sampai 150m, jika dibandingkan keadaan saat ini.

Ketika itu… Selat Malaka, Selat Karimata, Selat Sunda dan Laut Jawa, masih berupa daratan, yang menyatukan Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan dan Semenanjung Malaya. Daratan yang luas ini, sebagian ahli geologi menyebutnya sebagai Sundaland.
…..

Teori Iwak Belido

Keberadaan Sundaland ini, bisa dibuktikan dengan ditemukannya, ikan spesifik yang bernama Ikan Belido, pada dua pulau yang berbeda, yakni Sumatera (Sungai Musi) dan Kalimantan (Sungai Kapuas)

Di Palembang, yang berada dipinggiran Sungai Musi, Ikan Belido (Ikan Belida) lebih dikenal dengan nama Iwak Belido, yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan mpek-mpek.

Yang menjadi pertanyaan…

Bagaimana mungkin, ada satu jenis ikan sungai… bisa berada di dua sungai, yang dipisahkan oleh samudra lautan yang sangat luas… ?

Para ahli memperkirakan, dahulu di zaman Pleistocene, kedua sungai tersebut, merupakan anak-anak sungai, dari sebuah aliran sungai yang sangat besar, yang saat ini berada di dasar laut Selat Malaka dan Selat Karimata.

Peristiwa terpisahnya Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera, diperkirakan disebabkan oleh mencairnya lapisan es, dan semakin dipercepat dengan meletusnya gunung Krakatau Purba.

Terjadinya letusan gunung ini, tercatat di dalam teks Jawa kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa :

Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula….

Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera…


Sundaland menurut catatan Plato

Beberapa ilmuwan, diantaranya Profesor Aryso Santos dari Brasil, menduga Sundaland merupakan benua Atlantis, seperti disebut-sebut Plato di dalam bukunya Timeus dan Critias

Sumber catatan Plato adalah berasal dari percakapan antara Socrates (guru Plato), Hermocrates, Timeaus dan Critias. Socrates menjelaskan tentang masyarakat ideal versinya, sementara Timeaus dan Critias bercerita tentang kisah yang bukan fiksi. Kisah ini merupakan kisah konflik antara bangsa Athena dan bangsa Atlantis

Di dalam catatan Critias, peristiwa tenggelamnya Sundaland (Atlantis), digambarkan sebagai berikut :

Karena hanya dalam semalam, hujan yang luar biasa lebat menyapu bumi dan pada saat yang bersamaan terjadi gempa bumi. Lalu muncul air bah yang menggenang seluruh wilayah…

sementara di dalam Timaeus :

Namun sesudah itu, muncul gempa bumi dan banjir yang dashyat. Dan dalam satu hari satu malam, semua penduduknya tenggelam ke dalam perut bumi dan pulau Atlantis lenyap ke dalam samudera luas. Dan karena alasan inilah, bagian samudera disana menjadi tidak dapat dilewati dan dijelajahi karena ada tumpukan lumpur yang diakibatkan oleh kehancuran pulau tesebut

Critias dan Timeus mencatat peristiwa tengelamnya Sundaland (Atlantis) terjadi pada sekitar tahun 9.600SM atau 11.600 tahun yang lalu.

Bencana Nuh

Pada sekitar 13.000 tahun yang lalu, berdasarkan temuan geologi, pernah terjadi banjir besar di seluruh permukaan bumi.

Hal ini dikarenakan terjadinya kenaikan permukaan laut, yang menandai berakhirnya zaman es. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode 14.000-7.000 tahun yang lalu.

Berdasarkan temuan geologi inilah, Ustadz H.M. Nur Abdurrahman berpendapat bahwa bencana Nuh, terjadi pada sekitar tahun 11.000 SM (sumber : Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia), dan menjadi sebab tenggelamnya Keping Sunda (Sundaland).

Peristiwa Bencana Nuh, juga meninggalkan Jejak Arkeologis, yaitu berupa Patung Sphinx di Mesir (sumber : Patung Sphinx, Bukti Arkeologis Bencana Nuh 13.000 tahun yang silam).

Di dalam Al Qur’an, ada disebut-sebut peristiwa banjir besar yang melanda dunia. Kisah tersebut, erat kaitannya dengan keberadaan Nabi Nuh bersama umatnya.

Kehebatan banjir besar di masa Nabi Nuh, tergambar dengan tingginya permukaan air, hingga mencapai puncak-puncak gunung…

Sebagaimana dikisahkan di dalam QS. Hud (11) ayat 43...

Dia (anaknya) menjawab : ”Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, ”Tidak ada yang melindungi dari siksaaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan.

Keberadaan Sundaland, yang keberadaannya dibuktikan melalui teori Iwak Belido, masih meninggalkan pertanyaan pada kita, yakni apa penyebab tenggelamnya Keping Sunda itu…

Apakah dikarenakan banjir menurut catatan Plato (9.600SM)?
Ataukah oleh peristiwa bencana Nuh (11.000SM)?

Melalui penelitian ilmiah, semua misteri ini akan segera terungkap… tinggal menunggu waktu…

Artikel Terkait
01. Komunitas Muslim, dari Bani Israil
02. Misteri Leluhur Bangsa Jawa
03. Sejarah Melayu, Teori Sundaland dan Naskah Wangsakerta

Maulana Husain, Pelopor Dakwah Nusantara

Maulana Husain Jumadil Kubro (1310-1453M) dikenal sebagai seorang muballigh terkemuka, dimana sebagian besar penyebar Islam di Nusantara (Wali Songo), berasal dari keturunannya.

Beliau dilahirkan pada tahun 1310 M di negeri Malabar, yakni sebuah negeri dalam wilayah Kesultanan Delhi. Ayahnya adalah seorang Gubernur (Amir) negeri Malabar, yang bernama Amir Ahmad Syah Jalaluddin.

Nasab lengkap beliau adalah Maulana Husin Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin bin ’Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik Al-Muhajir bin ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin ‘Ali Khali Qasam bin ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah bin ‘Alwi al-Mubtakir bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa An-Naqib bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al-‘Uraidhi bin Imam Ja’far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Versi lain mengatakan, Al-Imam Maulana Husain Jamaluddin Jumadil Kubro, dilahirkan pada tahun 1270 M di negeri Nasarabad, dan wafat di Wajo tahun 1453 M. Jadi usianya 183 tahun (Sumber : Al-Imam Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan).

Maulana Husin, memiliki banyak saudara di antaranya :
Maulana Isa, Qamaruddin, Majiduddin, Syeikh Tsanauddin (Thanauddeen/Datuk Adi Putera), Sultan Sulaiman Al-Baghdadi, Ali Nuruddin Syah, Husain Khalifatullah Syah, Syaikh Muhammad Ariffin Syah (Datuk Kelumpang Al Jarimi Al Fatani) , Muhyiddin Syah, Ali Syahabuddin Umar Khan, Abdullah Syah (Aludeen Abdullah),  Alwi Quthbuddin (Alwee Khutub Khan), Jalaluddin Abdullah, Hasanuddin, Aliyyuddin, Qadir Binaksah, Syarifah Alawiyyah, Qoimuddin

Maulana Husain memiliki beberapa nama panggilan, diantaranya Sayyid Husain Jamaluddin, Syekh Maulana Al-Akbar atau Syekh Jamaluddin Akbar Gujarat, beliau tercatat memiliki isteri 6 orang, yaitu :

1. Lalla Fathimah binti Hasan bin Abdullah Al-Maghribi Al-Hasani (Morocco)
Memperoleh seorang anak, yang kemudian dikenal dengan nama Maulana Muhammad Al-Maghribi.

2. Puteri Nizam Al Mulk dari Delhi
Memperoleh 4 anak yaitu: Maulana Muhammad Jumadil Kubra, Maulana Muhammad ‘Ali Akbar, Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subaqir), Syaikh Maulana Wali Islam

3. Puteri Linang Cahaya
Memperoleh 3 anak, yaitu: Pangeran Pebahar, Fadhal (Sunan Lembayung), Sunan Kramasari (Sayyid Sembahan Dewa Agung), Syekh Yusuf Shiddiq

4. Puteri Ramawati (Puteri Jeumpa/Pasai)
Memperoleh seorang anak yang bernama Maulana Ibrahim Al Hadrami.

5.Puteri Syahirah dari Kelantan
Memperoleh 3 anak. yaitu ‘Abdul Malik, ‘Ali Nurul ‘Alam dan Siti ‘Aisyah (Putri Ratna Kusuma)

6.Puteri Jauhar (Diraja Johor)
Memperoleh anak bernama Muhammad Berkat Nurul Alam dan Muhammad Kebungsuan

Sumber :
Al-Imam Husain Jamaluddin Kubro

(Note : Ke-empat isterinya yang terakhir, beliau nikahi selepas tiap-tiap seorang daripadanya meninggal dunia, sumber : karimon.wordpress.com)

Pada tahun 1349 M besama adiknya Syeikh Thanauddeen (Datuk Adi Putera) , tiba di Kelantan dalam menjalankan misi dakwahnya. Dari Kelantan beliau menuju Samudra Pasai, dan beliau kemudian bergerak ke arah Tanah Jawa.

Di Jawa beliau menyerahkan tugas dakwah ke anakanda tertuanya Maulana Muhammad Al-Maghribi. Beliau sendiri bergerak ke arah Sulawesi dan mengislamkan Raja Lamdu Salat pada tahun 1380 M.

Pada awal abad ke-15, Maulana Husin mengantar puteranya Maulana Ibrahim Al Hadrami ke tanah Jawa, tujuannya dalam upaya menyambung usaha-usaha dakwah anak tertuanya, Maulana Muhammad Al-Maghribi yang meninggal dunia pada tahun 1419 M.

Pada akhirnya beliau memutuskan untuk bermukim di Sulawesi, hal ini dikarenakan, sebagian besar orang Bugis ketika itu belum masuk Islam. Pada tahun 1453 M, Maulana Husin di panggil menghadap ILLAHI, dan dimakamkan di Wajo Sulawesi.


Silsilah Keturunan Maulana Hussein Jamadil Kubra Kita tentu pernah mendengar nama-nama Raden Fatah, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, Pati Unus, Fathahillah dan Sultan Agung.

Namun, tidak banyak yang mengetahui, bahwa sesungguhnya mereka berasal dari satu leluhur yang sama, yakni seorang ulama, yang bernama Syaikh Maulana Husain Akbar

1. Maulana Muhammad al Maghribi (Maulana Malik Ibrahim)
1.1. Maulana Moqfaroh
1.2. Syarifah Sarah # Maulana Ali Murtardho (3.3)
1.2.1. Sunan Ngudung # Puteri Syarifat / Raden Ageng Maloka (3.1.2)
1.2.1.1. Sunan Kudus
1.2.1.1.1. Panembahan Pakaos

2. Siti Aisyah # Syaikh Abdul Khaliq Al Idrus
2.1. Syaikh Muhammad Yunus
2.1.1. Maulana Abdul Qadir (Pati Unus)
2.1.2. Syarifah Pasai

3. Ibrahim Al Hadrami / Ibrahim Asmaro / Ibrahim Zain al Akbar
3.1. Maulana Rahmatullah (Sunan Ampel)
3.1.1. Sunan Bonang
3.1.2. Raden Ageng Maloka
3.1.3. Sunan Drajat |
3.1.4. Raden Siti Mutasiah
3.1.5. Raden Siti Murtasimah
3.1.6. Raden Siti Mutmainah
3.1.7. Sunan Lamongan
3.1.8. Sunan Demak
3.1.9. Raden Siti Syafiah

3.2. Maulana Ishaq
3.2.1. Sunan Giri # Raden Siti Mutasiah (3.1.4)
3.2.1.1. Sunan Dalem Wetan / Zainal Abidin
3.2.1.1.1. Sunan Sedo Ing Margi / Pangeran Wiro Kesumo Cirebon
3.2.1.1.1.1. Pangeran Adipati Sumedang
3.2.1.1.1.1.1. Tumenggung Manco Negoro # Nyai Gede Pembayun (3.4.2.3.2.1.1)
3.2.1.1.1.1.1.1. Pangeran Sedo Ing Pasarean
3.2.1.1.1.1.1.1.1. Pangeran Mangkurat Sedo Ing Rejek
3.2.1.1.1.1.1.1.2. Sultan Abdurrahman Palembang / Kyai Mas Hindi
3.2.1.1.1.1.1.1.3. Kyai Mas Tumenggung Yudapati

3.2.1.1.2. Sunan Prapen (Maulana Muhammad)
3.2.1.1.2.1. Raden Ayu Ledah # Ki Ageng Gribig II (3.2.7.1.1.1)
3.2.1.1.2.1.1. Ki Ageng Gribig III (Maulana Sulaiman)
3.2.1.1.2.1.1.1. Demang Jurang Juru Sapisan
3.2.1.1.2.1.1.1.1. Demang Jurang Juru Kapindo
3.2.1.1.2.1.1.1.1.1. Kyai Ilyas
3.2.1.1.2.1.1.1.1.1.1. Kyai Murtadha
3.2.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Muhammad Sulaiman
3.2.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abu Bakar
3.2.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Ahmad Dahlan

3.2.1.1.3. Nyai Made Pandan
3.2.1.1.3. 1. Ki Ageng Saba
3.2.1.1.3.1.1.  Nyai Sabinah # Ki Ageng Pemanahan
3.2.1.1.3.1.1.1.  Panembahan Senapati
3.2.1.1.3.1.1.1.1.  Panembahan Hanyakrawati # Ratu Mas Hadi (3.4.1.1.2.1.1.1.)
3.2.1.1.3.1.1.1.1.1.  Sultan Agung

3.2.2. Syarifah Siti Sarah # Sunan Kalijaga
3.2.2.1. Sunan Muria
3.2.2.1.1. Sunan Ngadilangu

3.2.3. Syarifah Siti Musallimah # Mahdar Ibrahim (5.1.1)
3.2.3.1. Maulana Sayyid Fathahillah # Ratu Wulung Ayu (4.1.1.2)
3.2.3.1.1. Ratu Nawati Rarasa # Pangeran Dipati Cirebon (4.1.1.3.1)
3.2.3.1.1.1. Panembahan Ratu

3.2.3.1.2. Ratu Ayu Pembayun # Tubagus Angke
3.2.3.1.2.1. Pangeran Jayakarta (Sungerasa)
3.2.3.1.2.1.1. Pangeran Ahmad Jakerta
3.2.3.1.2.1.2. Ratu Mertakusuma # Sultan Abul Muali Ahmad (4.1.1.1.1.1.1.1)
3.2.3.1.2.1.2.1. Sultan Ageng Tirtayasa

3.2.4. Saiyid Mohamad Qassim
3.2.5. Syarifah Siti Khatijah
3.2.6. Syarifah Siti Maimunah # Syeikh Sultan Ariffin Sayyid Ismail

3.2.6.1. Ahmad Tajudin / Datuk Paduko Berhalo / Tok Putih
3.2.6.1.1. Ahmad Khamil / Tok Kayo Hitam
3.2.6.1.1.1. Zaharuddin / Panglima Lidah Hitam

3.2.6.2. Syarifah Siti Zubaidah # Pati Unus / Raden Abdul Qodir (2.1.1)
3.2.6.2.1. Raden Abdullah
3.2.6.2.1.1. Raden Arya Wangsa

3.2.7. Maulana Islam (Ki Pandanaran I) # Syarifah Pasai (2.1.2)
3.2.7.1. Sunan Tembayat (Ki Pandanaran II/Brawijaya Wekasa)
3.2.7.1.1. Ki Ageng Gribig I/Raden Jaka Dholog/Ki Ageng Jatinom/Wasibagno
3.2.7.1.1.1. Ki Ageng Gribig II/Ki Ageng Pangkaknyana/Pangeran Wasijiwa

3.3. Maulana ali Murtardho # Syarifah Sarah (1.2)
3.3.1. Sunan Ngudung # Puteri Syarifat / Raden Ageng Maloka (3.1.2)
3.3.1.1. Sunan Kudus
3.3.1.1.1. Panembahan Palembang (Ki Mas Syahid)

3.3.1.1.2. Panembahan Pakaos
3.3.1.1.2.1. Pangeran Ketandar Bangkal
3.3.1.1.2.1.1. Kyai Khatib
3.3.1.1.2.1.1.1. Kyai Abdur Rahman
3.3.1.1.2.1.1.1.1. Kyai Badrul Budur
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1. Kyai Martalaksana
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1. Kyai Sulasi
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abdul Azhim
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Muharram
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abdul Karim
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Hamim
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abdul Lathif
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Kholil Bangkalan

3.4. Syarifah Siti Zainab # Prabu Brawijaya V
3.4.1. Raden Fatah # Raden Siti Murtasimah (3.1.5)
3.4.1.1. Raden Trenggono
3.4.1.1.1. Pangeran Prawoto
3.4.1.1.2. Ratu Mas Cempaka # Sultan Hadiwijaya / Joko Tingkir
3.4.1.1.2.1. Pangeran Hadipati Benowo
3.4.1.1.2.1.1. Pangeran Hadipati Benowo II
3.4.1.1.2.1.1.1. Ratu Mas Hadi # Panembahan Hanyakrawati (3.2.1.1.3.1.1.1.1)
3.4.1.1.2.1.1.1.1. Sultan Agung

3.4.1.1.2.1.1.1.1.1. Sultan Amangkurat I
3.4.1.1.2.1.1.1.1.1.1. Sultan Pakubuwono I
3.4.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Amangkurat IV
3.4.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono I
3.4.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono II
3.4.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono III
3.4.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Pangeran Diponegoro

3.4.1.1.2. Ratu Ayu Kirana # Maulana Hasanuddin (4.1.1.1)
3.4.1.1.2.1. Ratu Winahon
3.4.1.1.2.2. Pangeran Arya Jepara

3.4. Syarifah Siti Zainab # Adipati Aryo Dillah / Sultan Abdullah
3.4.2. Raden Husin
3.4.2.3. Raden Mohamad Yunus (Kiai Gede Ing Lautan)
3.4.2.3.1. Kyai Gede Ing Suro
3.4.2.3.2. Kiai Gede Ing Ilir
3.4.2.3.2.1. Ki Gede Ing Suro Mudo
3.4.2.3.2.1.1. Kyai Mas Adipati
3.4.2.3.2.1.1.1. Nyai Gede Pembayun

4. Ali Nurul Alam
4.1. Wan Abdullah (Sultan Umdatuddin)
4.1.1. Sunan Gunung Jati
4.1.1.1. Maulana Hasanuddin
4.1.1.1.1. Maulana Yusuf
4.1.1.1.1.1. Maulana Muhammad
4.1.1.1.1.1.1. Sultan Abumufakhir
4.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Abul Muali Ahmad

4.1.1.1.2. Syarifah Khadijah # Sayyid Abdurrahman Basyaiban
4.1.1.1.2.1. Kyai Maulana Sayyid (Mas) Sulaiman

4.1.1.1. Maulana Hasanuddin # Ratu Ayu Kirana (3.4.1.1.2)
4.1.1.1.3. Ratu Winahon
4.1.1.1.4. Pangeran Arya Jepara

4.1.1.2. Ratu Wulung Ayu
4.1.1.3. Panembahan Pasarean
4.1.1.3.1. Pangeran Dipati Cirebon

4.1.2. Sultan Muzaffar Syah
4.1.2.1. Abdul Hamid Syah
4.1.2.1.1. Faqih Ali Al Malabari

5. Muhammad Berkat Nurul Alam / Zainal Alam Barakat
5.1. Abdul Ghafur
5.1.1. Mahdar Ibrahim

5.2. Ahmad Zainal Alam
5.2.1. Abdurrahman Rumi

5.3. Sunan Gresik (Sunan Tandhes) # Syarifah Jamilah binti Syeikh Ibrahim Al Hadrami
5.3.1. Sayyid Abbas
5.3.2. Sayyid Yusof # Syarifah Siti Mariam binti Maulana Sayyid Subakir
5.3.3. Sayyid Abdullah
5.3.4. Sayyid Ibrahim
5.3.5. Sayyid Abdul Ghaffar
5.3.6. Sayyid Ahmad # Syarifah Siti Fatimah binti Maulana Sayyid Ali Nurul Alam
5.3.7. Sayyid Mohamad Faroq
5.3.8. Syarifah Siti Sarah.

6. Muhammad Kebungsuan (Handayaningrat)
6.1. Shihabudin (Ki Ageng Pengging)
6.1.1. Abdurrahman (Jaka Tingkir)
6.1.1.1. Abdul Halim (Pangeran Benawa)

Catatan :

1. Berdasarkan catatan dari keluarga azmatkhan, ayah dari Raden Fatah bukan Prabu Brawijaya V, melainkan  Wan Abdullah (Sultan Umdatuddin) bin Ali Nurul Alam bin Maulana Husain Jumadil Kubro.

Lintas Berita :
Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Artikel Terkait
01. Sunan Kalijaga, Ulama Seniman
02. Sunan Giri, Pendidik yang Ahli Fiqih
03. Rasionalisasi, Kisah Syaikh Siti Jenar
04. Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?