Tag Archives: melayu

[Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

Di dalam sejarah melayu, terbitan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, dikisahkan tentang pernikahan agung antara Sultan Mansyur Syah (Malaka), dengan Putri Majapahit Radin Galuh Chandra Kirana.

Pernikahan yang juga dihadiri oleh Maharaja Merlang (Indragiri), Raja Palembang, Raja Jambi, Raja Lingga serta Raja Tungkal ini, sayangnya tidak banyak diceritakan dalam naskah-naskah kuno di tanah Jawa.

Siapakah sesungguhnya Radin Galuh Chandra Kirana ? Benarkah ia adalah Pewaris Majapahit yang tersingkirkan ?


Misteri Radin Galuh Chandra Kirana 

Pada catatan silsilah Kesultanan Malaka, Radin Galuh Chandra (Cendera) Kirana tertulis sebagai anak dari Sang Aji Jaya ning-Rat, dengan isterinya Radin Galoh Devi Kesuma [Tuan Putri Wi Kusuma] (sumber : silsilah malaka)

Radin Galoh Devi Kesuma [Tuan Putri Wi Kusuma] sendiri dalam Sejarah Melayu di-informasikan sebagai Ratu Majapahit dan puteri dari penguasa Majapahit sebelumnya.

Apabila kita selaraskan dengan Sejarah Majapahit, sosok Radin Galoh Devi Kesuma (Ibunda dari Radin Galuh Chandra Kirana), sepertinya indentik dengan Prabu Stri Suhita (memerintah Majapahit, 1427-1447), sementara nama Sang Aji Jaya ning-Rat, indentik dengan Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja (sumber : Putri Suhita).


Dalam sejarah pemerintahan Majapahit, selepas masa Ratu Suhita yang menjadi pengganti bukan anaknya, melainkan saudaranya yang bernama Dyah Kertawijaya (memerintah Majapahit, 1447-1451). Pemerintahan Majapahit seterusnya, dipegang oleh anak-anak Dyah Kertawijaya, yaitu Rajasawardhana (1451-1453), Girisawardhana (1456-1466) dan  Dyah Suraprabhawa (1466—1478) (sumber : silsilah majapahit).

Dan apabila kita perhatikan, di dalam silsilah keluarga Majapahit, tidak ditemukan nama anak dari Ratu Suhita. Namun meskipun demikian, naskah-naskah masyarakat melayu masih mencatat nama puteri dari Sang Ratu, yang seharusnya mewarisi tahta Majapahit.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Sejarah Melayu mencatat, sebelum peristiwa pernikahan Sultan Malaka dengan Putri Majapahit, Para Raja Swarnabhumi pergi menuju negeri Majapahit…

2. Di dalam Sejarah Melayu, akan ditemui istilah Patih Aria Gajah Mada, yang sejatinya adalah nama jabatan dalam struktur keprajuritan Majapahit. Dengan demikian tokoh Patih Aria Gajah Mada dimasa Prabu Hayam Wuruk, tentu akan berbeda dengan Patih Aria Gajah Mada di era Ratu Suhita.

3. Radin Galuh Chandra Kirana, dalam Sejarah Melayu diceritakan putri dari seorang Batari Majapahit, yang bernama Radin Galoh Devi Kesuma [Tuan Putri Wi Kusuma].

Dalam Sejarah Majapahit, ditemukan setidaknya ada 3 Batari Majapahit, yaitu Sri Gitarja (Tribhuwana Wijayatunggadewi, 1328–1350), Kusumawardhani yang memerintah bersama suaminya Wikramawardhana (1389–1429), dan Ratu Suhita (1429–1447).

Berdasarkan timelina, dari ketiga Batari Majapahit ini, Ratu Suhita yang paling sesuai dengan masa kehidupan Radin Galoh Devi Kesuma [Tuan Putri Wi Kusuma], yang memiliki menantu Sultan Mansyur Syah (memerintah Kesultanan Malaka, 1458-1477).

Demikian juga dengan ayahanda dari Radin Galuh Chandra Kirana, yang bernama Sang Aji Jaya ning-Rat, yang dikisahkan dalam Sejarah Melayu bukan berasal dari lingkungan Kraton Majapahit. Sosok tokoh ini sesuai dengan sosok suami Ratu Suhita, yang bernama Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja.

Berbeda halnya dengan sosok suami dari Kusumawardhani, bernama Wikramawardhana, yang merupakan anak dari kerabat dekat Kraton Majapahit, yaitu Putri Iswari yang menjabat sebagai Bhre Pajang.

Artikel Sejarah Nusantara :
1. [Misteri] Panglima Arya Damar bukanlah Adipati Arya Dillah ?
2.
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. Misteri Pasukan “Lebah Emas”, dalam kemelut kekuasaan Kerajaan Majapahit ?

Iklan

Silsilah Dinasti Majapahit, menurut Sejarah Melayu ?

Dalam kitab Sejarah Melayu, berdasarkan tulisan Abdullah bin Abdulkadir al-Munsyi, terungkap Keluarga Kerajaan Majapahit, berasal dari anak keturunan Sang Suparba (Bitjitram Syah).

Sang Suparba (Sang Sapurba) diriwayatkan merupakan anak cucu Raja Iskandar Zulkarnain, nasabnya melalui Raja Nusirwan, yang juga ada kekerabatan dengan Raja Sulaiman ‘alaihi’s-salam.

Sebagaimana tertulis dalam bait 2.2 :

“… asal kami daripada anak cucu Raja Iskandar Zulqarnain, nisab kami daripada Raja Nusirwan raja masyrik dan maghrib, dan pancar kami daripada Raja Sulaiman ‘alaihi’s-salam… “

majapahit11
Dinasti Majapahit Keturunan Sang Suparba

Diceritakan, Sang Sapurba menikah dengan puteri Demang Lebar Daun, Bukit Siguntang Mahameru Palembang, yang bernama Wan Sendari,sebagaimana tertulis dalam bait 2.6 dan bait 2.11 :

“… dan akan raja Palembang yang bernama Demang Lebar Daun itu, ada beranak seorang perempuan terlalu baik parasnya, tiada berbanding parasnya pada zaman itu, Wan Sendari namanya (bait 2.6)”.

“… Telah berapa lamanya Sang Suparba duduk dengan Wan Sendari itu, maka bagindapun beranak empat orang, dua perempuan baik-baik parasnya, puteri Seri Dewi seorang namanya, seorang lagi puteri Cendera Dewi namanya; dua orang laki-laki, Sang Maniaka seorang namanya, seorang lagi Sang Nila Utama namanya (bait 2.11)”.

Pada kisah selanjutnya, diceritakan puteri Sang Suparba bernama Cendera Dewi menikah dengan Betara Majapahit, sebagaimana tertulis pada bait 2.18.

“… Adapun pada zaman itu ratu Majapahit itu raja besar, lagi amat bangsawan. Pada suatu cerita baginda itu daripada anak cucu Smara Ningrat. Setelah datang ke Tanjung Pura, maka sangat dipermulia oleh Sang Suparba, maka diambil baginda akan menantu, dikawinkan dengan tuan puteri Cendera Dewi…”.

Dari pernikahan antara Betara Majapahit dengan puteri Cendera Dewi, memiliki dua putera bernama Radin Inu Merta Wangsa dan Radin Mas Pamari.

“… Maka baginda beranak dengan anak raja Bukit Siguntang itu dua orang laki-laki, dan yang tua Radin Inu Merta Wangsa namanya, maka dirajakan baginda di Majapahit; dan yang muda Radin Mas Pamari namanya… (bait 5.1)”.

Sejarah Melayu mengisahkan Radin Inu Kerta Wangsa, pernah menyerang Singapura pada masa negeri itu dipimpin oleh Paduka Seri Pikrama Wira (Raja Kecil Besar), putera dari Sang Nila Utama anak dari Sang Suparba.

“… Maka betara Majapahitpun menitahkan hulubalangnya berlengkap perahu akan menyerang Singapura itu, seratus buah Jung; lain dari itu beberapa melangbing dan kelulus, jongkong, cerucuh, tongkang , tiada terhisabkan lagi banyaknya. Maka ditintahkan Betara Majapahit seorang hulubalang yang besar akan panglimanya, Demang Wiraja namanya (bait 5.4)”.

Siapakah Radin Inu Kerta Wangsa, yang disebut-sebut dalam Sejarah Melayu ?

Sejarah mencatat Kerajaan Singapura dibawah pemerintahan Paduka Seri Pikrama Wira (Wikrama Wira), pada periode 1347-1362. Pada masa pemerintahannya, terjadi penyerangan dari Kerajaan Majapahit tahun 1350, dimasa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) (sumber : Paduka Seri Wikrama Wira dan Prabu Hayam Wuruk).

Dengan demikian yang dimaksud Radin Inu Kerta Wangsa dalam Sejarah Melayu, tidak lain adalah Prabu Hayam Wuruk.

Kisah Sejarah Melayu ini berbeda dengan catatan Sejarawan yang mengatakan ibunda dari Prabu Hayam Wuruk adalah Tribhuwana Tunggadewi, puteri Raden Wijaya. Sementara berdasarkan Sejarah Melayu, ibunda dari Prabu Hayam Wuruk adalah Cendera Dewi (Chandra Dewi), puteri Sang Suparba.

majapahit1a

Referensi : 
1. Sri Wikramawardhana (Siwi Sang)
2. Silsilah Kesultanan Malaka (royalark.net)
3. Buku Sejarah Melayu, Edisi Abdullah bin Abdulkadir al-Munsyi tahun cetak 1952, Penerbit Jambatan

Catatan Penambahan : 

1. Berdasarkan Negarakretagama (ditulis tahun 1365 M), puteri Hayam Wuruk yang bernama Kusumawardhani sudah menikah dengan Bhre Mataram, Wikramawardhana (sumber : wikramawardhana). Hal ini berarti setidaknya Kusumawardani telah berumur 25 tahun, atau kelahiran sekitar tahun 1340 M.

Sementara dalam catatan kehidupan Hayam Wuruk ditulis, Prabu Hayam Wuruk lahir tahun 1334 M (sumber : Hayam Wuruk), secara normal bagaimana mungkin seseorang yang baru berusia 6 tahun, sudah menjadi seorang ayah.

Dengan demikian masa kelahiran Hayam Wuruk perlu diteliti kembali, sebab setidak beliau lahir sebelum tahun 1320 M. Dan data ini sekaligus memperkuat dugaan Hayam Wuruk bukan putera dari Tribhuwana Wijayatunggadewi, yang baru menikah dengan Kertawardhana, setelah Prabu Jayanegara wafat di tahun 1328 M.

2. Ada pendapat pernikahan Kusumawardhani adalah dijodohkan sejak kecil. Namun kita juga perlu tahu, di tahun 1365 M, Kusumawardhani telah menjadi Bhre Kabalan (sumber : wikramawardhana), yang tentunya bukan jabatan untuk seorang anak yang berusia dibawah 15 tahun.

[Misteri] Harimau Tengkes, Penjaga Ghaib dari Negeri Siak ?

Dalam Legenda Masyarakat Riau, Harimau Tengkes merupakan Harimau Siluman peliharaan Sultan Mahmud dari Kerajaan Gasib (Siak). Sang Raja dipercaya memiliki kesaktian kebal terhadap senjata tajam, apabila kakinya menginjak tanah.

Harimau Tengkes memiliki arti harimau yang pincang kaki kiri bagian belakangnya. Konon harimau ini pernah berbuat salah pada Sultan, sehingga Sultan menghukumnya dengan memukul kaki kirinya.

Harimau Tengkes dipercaya selalu terlihat secara supranatural, pada saat hari ulang tahun penobatan Sultan-Sultan yang meneruskan tampuk kerajaan (sumber : Kisah dari Pekan Baru Riau).

harimau1
Sultan Mahmud dalam Sejarah

Pemilik Harimau Tengkes, yaitu Sultan Mahmud berupakan putra Sultan Asif (Raja Ali al-Ajali, sumber : Kesultanan Perak), sementara ibunya adalah Putri Putih anak dari Penguasa Negeri Pahang, Sultan Mansur Shah II. Sultan Mahmud diperkirakan memerintah Kerajaan Gasib (Siak) pada sekitar awal tahun 1600an.

Sultan Mahmud, tercatat sebagai suami dari Tun Dharmapala Johara Tun Isap, dan memiliki 3 orang putera yang bernama : Sultan Muzaffar Shah II, Raja Sulong Raja Muhammad dan Raja Mansur.

Melalui penyelusuran di beberapa situs genealogy seperti : royalark.net dan geni.com, diperoleh diagram silsilah Sultan Mahmud sebagai berikut :

mahmudsiak
Sultan Mahmud adalah Raja Siak dari keturunan Megat Kudu (Sultan Ibrahim). Megat Kudu merupakan suami Raja Maha Dewi putri Sultan Mansyursyah dari Negeri Melaka (memerintah 1458-1477 M, sumber : Kerajaan Siak).

Keberadaan Harimau Tengkes, ternyata juga diyakini oleh masyarakat Johor Malaysia. Bahkan di negeri tersebut Sang Harimau menjadi simbol Kerajaan, dan dikenal dengan nama “Harimau Dengkes”.

Kisah Harimau Tengkes (Dengkes) bisa sampai ke tanah Semenanjung, kemungkinan berasal dari keturunan anak Sultan Mahmud, yang menjadi Sultan Kerajaan Perak ke-10, yakni Sultan Muzaffar Shah II (memerintah 1636-1654,sumber : geni.com, alamendah.org dan Kisah Negeri Johor).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Kisah keberadaan Harimau Tengkes juga ada di masyarakat Ulu Ogan Sumatera Selatan. Belum diketahui secara pasti, mengapa legenda ini bisa terdapat di daerah tersebut.

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. [Misteri] Ketika Syaikh Siti Jenar menjadi 2 (dua) ?
3. [Misteri] Silat Nusantara, dari abad ke-9 Masehi ?
4. Legenda Segentar Alam, Raja Muslim Sriwijaya dari Bukit Siguntang Palembang ?

[Misteri] Keberadaan Makam Laksamana Hang Tuah di Palembang ?

Penyelidikan dari Universiti Putra Malaysia (UPM), mengenai keberadaan Hang Tuah, menunjukkan jejak terakhir Pahlawan Melayu itu berada di Temasik (Singapura) pada tahun 1511 ketika berusia 80 tahun.

Setelah itu kemungkinan keluarga Hang Tuah berpindah ke Riau, dan menurut salah seorang zuriatnya, Hang Tuah mengakhiri hayatnya di Palembang (sumber : bharian.com.my).

makamhangtuah
Makam Hang Tuah di Palembang

Dalam situs kaskus.co.id,  makam Hang Tuah (menurut kuncen setempat), letaknya di kompleks Pemakaman Kerajaan Palembang Darussalam, jln. Candi Welan, tepatnya berada disisi kanan makam raja dan keluarga kerajaan.

Keberadaan Hang Tuah di Palembang, didukung pendapat dari Ismail Mohamed Yacob, yang mengaku sebagai generasi ke-12 keturunan Laksamana Hang Tuah (sumber : bananaclub07.blogspot.co.id).

Ismail yang menetap di Singapura, masih menyimpan bukti berupa dua gelang tangan peninggalan Hang Tuah serta manuskrip tulisan tangan Hikayat Hang Tuah yang ditulis oleh Tun Kulah (sepupu Hang Tuah).

Teori Kehadiran Hang Tuah di Palembang

Kehadiran Laksamana Hang Tuah di Palembang, diperkirakan terkait dengan persiapan Pasukan Palembang, untuk menyerang Portugis yang saat itu telah menguasai selat malaka.

Sejarah mencatat, setidaknya Armada Laut Palembang bersama-sama Kesultanan Demak, terlibat 2 (dua) kali pertempuran melawan Portugis, yakni pada tahun 1512 dan tahun 1521 (sumber : [Misteri] Pangeran Sida ing Lautan, dan awal berdirinya Kerajaan Palembang?).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan

1. Kata Hang yang melekat dalam nama “Hang Tuah”, mirip dengan bahasa Melayu Ugan/Pasemah yang berarti Orang (yaitu Ughang), yang saat disebutkan dengan menghilangkan (tidak terlalu terdengar) pada huruf “U”, sehingga terdengar seperti “Hang” saja. Maka, bila mengacu pada bahasa tersebut, Hang Tuah itu merupakan gelar yang bermakna Orang Yang Beruntung.

makamhangtuah1

Dikisahkan beberapa tahun sebelum kejatuhan Melaka di tangan Portugis pada tahun 1511, Hang Tuah hijrah ke Palembang dan menetap bersama saudaranya, Tun Alam sehingga dia meninggal dunia di Palembang (sumber : malaya.or.id).

Artikel Menarik :
1. Mengapa NEDERLAND disebut BELANDA ?
2. Armada Laksamana Cheng Ho dan Sejarah Pempek Palembang ?
3. Alhamdulillah… Makam Tokoh Betawi, PITUNG ditemukan di Palembang !!!
4. Penampakan Awan “Lafaz ALLAH”, pada Pemakaman Ulama Karismatik Malaysia Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat?

Tanah Punt, Sundaland, dalam Legenda Leluhur Bangsa Nusantara?

Selepas Bencana di masa Nabi Nuh, hampir semua peradaban besar di dunia hancur, yang tersisa tinggal Keluarga Nuh beserta para pengikutnya.

Penduduk Nusantara diperkirakan bermula dari 2 (dua) kafilah, yakni  keluarga Put bin Ham bin Nabi Nuh dan keluarga Shin bin Maghugh bin Yafit bin Nabi Nuh.

peta1
Legenda Tanah Punt

Keluarga Put bin Ham, bertempat tinggal di dataran tinggi sepanjang Bukit Barisan (Sumatera), sebagian lagi berada di Srilanka dan India.

Sementara Keluarga Shin bin Maghugh bin Yafit, sebagian besar bertempat tinggal di wilayah Sundaland, daerah dataran rendah di antara Sumatera, Semenanjung, Kalimantan dan Jawa.

Pada sekitar tahun 9.600 SM, pada masa berakhirnya zaman es, Jazirah Sundaland tenggelam.

Penduduk Sundaland berpencar ke seluruh penjuru bumi, sebagian besar hijrah ke arah utara, yang kelak menjadi leluhur bangsa-bangsa di Asia Timur, seperti ras Mongoloid dan Altai (Sumber : Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab Asal Usul Bangsa Melayu ?).

Sebagian lagi mencari daerah daratan tinggi, mereka menyelusuri hutan-hutan di Pulau Sumatera, dan sampailah di daerah kekuasaan keturunan Put bin Ham. Pada akhirnya kedua Bangsa ini berinteraksi, untuk kemudian memunculkan bangsa baru, yang dikenali sebagai Bangsa Australomelanesid.

mahabharata1
Pada perkembangannya, masyarakat Australomelanesid kemudian mendiami pulau-pulau di seluruh pelosok Nusantara hingga sampai Kepulauan Pasifik.

Disinyalir, Hiranyapura (Kota Emas) dalam Epos Mahabharata, merupakan tempat kediaman bangsa ini (Lihat : Misteri Arjuna dalam Kisah Mahabharata, yang singgah di Nusantara (Sumatera), pada sekitar 5.000 tahun yang silam?)

Wilayah Bangsa Australomelanesid, dikenal juga sebagai Tanah Punt, yang diambil dari nama leluhur mereka Put bin Ham bin Nabi Nuh.

Keberadaan Tanah Punt,  terdokumentasi pada Relief Kuil Mesir Purba, yang dibangun oleh  Ratu Hatshepsut (1479 SM – 1458 SM) (Lihat : [Misteri] Kuil Hatshesut (+/- 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?).

maritim1
Proto Melayu dan Deutero Melayu

Pada sekitar tahun 2500-1500 SM, sebagian keturunan Shin bin Maghugh bin Yafit pulang kampung ke Nusantara. Mereka berasal dari Provinsi Yunnan di selatan Cina, New Guinea atau Kepulauan Taiwan.

Kehadiran migrasi bangsa ini, terekam dalam Situs Goa Harimau Sumatera Selatan (Lihat : Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?).

Para Migran ini kemudian berinteraksi dengan Bangsa Australomelanesid, dan memunculkan bangsa baru yang dikenali sebagai Bangsa Proto Melayu.

adatmelayu1
Gelombang Migrasi kemudian datang dari Asia Tengah dan Selatan. Diperkirakan mereka mulai memasuki Nusantara, pada sekitar tahun 300 SM.

Bangsa Proto Melayu yang sebelumnya telah mendiami Nusantara, sebagian tetap mempertahankan eksistensinya, namun sebagian lagi melebur dengan bangsa pendatang ini, untuk kemudian membentuk bangsa baru, yang disebut Bangsa Deutero Melayu.

Penduduk Nusantara pada masa sekarang, sebagian besar meupakan bangsa Deutero Melayu dan Proto Melayu, yang terbentuk melalui proses yang sangat panjang selama ribuan tahun.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?

Peneliti Balai Arkeolog Palembang, dikagetkan oleh hasil yang didapat dari uji karbon, dari tiang kayu medang di Desa Banyubiru Dusun Belanti Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Hasil analisis karbon C-14 pada sampel tiang kayu Medang yang dilakukan di Laboratorium Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Batam Jakarta diperoleh pertanggalan CalBP 2760 +- 134 (CalBC 810 +- 34).

Temuan ini menunjukkan, tiang kayu tersebut berasal dari tahun 810 Sebelum Masehi (SM), atau umur kayu itu sekarang telah mencapai 2825 tahun (sumber : tribunnews.com).

rumahkuno1
Penemuan tiang kayu, yang diperkirakan merupakan penyanggah dari rumah panggung kuno, membuktikan bahwa ribuan tahun yang silam, masyarakat di Sumatera Selatan telah berbudaya.

Mereka bukan lagi manusia-manusia yang hidup di dalam gua atau hutan, melainkan sebuah kelompok masyarakat yang sangat berbudaya, dengan memiliki permukiman (perkampungan).

Pemukiman Awal Bangsa Melayu

Ada indikasi penemuan Pemukiman Kuno di Desa Banyubiru, merupakan kelanjutan dari komunitas manusia kuno yang hidup di Goa Harimau.

Dalam Penelitan arkeologi yang dilakukan di Goa Harimau, Sumatera Selatan, ditemukan ada dua jenis ras manusia Homo sapiens, yang pernah mendiami Goa Purba ini.

Kedua ras tersebut adalah Ras Australomelanesid dan Ras Mongoloid, dan kedua ras ini diduga pernah bertemu serta berinteraksi di goa tersebut.

Dari 78 kerangka Homo sapiens yang diekskavasi, Tim Penelitian Arkeologi Goa Harimau mendeteksi empat kerangka ras Australomelanesid. Sementara 74 kerangka individu lainnya merupakan ras Mongoloid.

guaharimau1 Foto : Republika.co.id

Homo sapiens ras Mongoloid ditemukan di lapisan tanah paling atas Goa Harimau. Sementara ras Australomelanesid berada di lapisan tanah ketiga, berupa tanah lempung coklat tua yang mengandung gamping.

Dari hasil penanggalan radiokarbon oleh Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional pada lapisan tanah teratas, umur kerangka Homo sapiens Mongoloid 3.464 tahun.

Sementara itu, penanggalan radiokarbon oleh Waikato Radiocarbon Dating Laboratory, Selandia Baru, untuk lapisan tanah ketiga (tempat penemuan kerangka Australomelanesid) menunjukkan usia 4.840 tahun (sumber : nationalgeographic.co.id).

Temuan di Goa Harimau membuktikan, bahwa jauh sebelum kedatangan kelompok Proto Melayu (ras Mongoloid), di pulau Sumatera telah ada komunitas kehidupan manusia dari ras Australomelanesid.

Ketika masyarakat Proto Melayu (ras Mongoloid) datang, kedua komunitas ini saling ber-interaksi satu dengan lainnya, dan hasil penyatuan kedua kebudayaan ini, menghasilkan satu masyarakat baru, yang dikenal sebagai Bangsa Jawi (Melayu).

Bentuk pemukiman awal dari masyarakat yang kelak menjadi leluhur Penduduk Nusantara ini, salah satunya berada di Desa Banyubiru, Ogan Kombering Ilir Sumatera Selatan.

Boleh jadi, rumah panggung yang merupakan salah satu ciri Bangsa Jawi (Melayu), bermula dari wilayah ini, untuk kemudian menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. Tanah Punt, Sundaland dalam Legenda Leluhur Bangsa Nusantara?
3. Gua Hunian Leluhur Nusantara, dari era Zaman Es, sekitar 14.825 tahun yang lalu?
4. [Misteri] Kuil Hatshesut (dari masa 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?).

Legenda Sang Sapurba, Bangsawan Muslim dari Negeri Persia ?

Di dalam Sejarah Melayu, ada sosok legenda yang bernama Sang Sapurba (Sri Nila Pahlawan). Beliau dikisahkan datang dari negeri yang jauh, yang kemudian diangkat menjadi pemimpin, setelah menikah dengan putri yang bernama Wan Sendari, anak penguasa Palembang Demang Lebar Daun.

Kelak dari istrinya Wan Sendari ini, Sang Sapurba memiliki putra yang bernama Sang Nila Utama atau Sri Maharaja Sang Utama Parameswara Batara Sri Tri Buana, yang mulai memimpin Singapura (Temasek) pada sekitar tahun 1320.

persia3

Sang Sapurba datang dari Tanah Persia

Jika kita perhatikan, nama Sapurba ada kemiripan dengan nama Shapur, yang biasa disandang oleh keturunan Persia. Namun bukan hanya itu, di dalam Sejarah Melayu, Sang Sapurba ini dikisahkan sebagai keturunan dari Raja Nusirwan ‘Adil bin Kibad Syahriar, yang oleh beberapa sejarawan sosok ini identik dengan King Anushirvan “The Just” of Persia (Khosrow I of Persia, 531-578), putra dari King Kavadh I of Persia.

“… asal kami daripada anak cucu Raja Iskandar Zulqarnain, nisab kami daripada Raja Nusirwan, Raja Masyrik dan Maghrib dan pancar kami daripada Sulaiman ‘alaihis salam… ” (Sejarah Melayu (SM), karangan Abdullah ibn Abdulkadir Munsyi, bait 2.2).

Dari bait di atas, terdapat nama Nabi Sulaiman, yang diyakini oleh 3 agama besar, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Agaknya Sang Sapurba menganut keyakinan pada salah satu dari 3 agama ini.

persia5

Sang Sapurba seorang Muslim

Apabila kita berpedoman dengan masa pemerintahan Sang Nila Utama di Singapura periode tahun 1320-1347, diperkirakan kedatangan Sang Sapurba ke Nusantara adalah pada sekitar masa 1285-1295.

Sejarah mencatat, pada sekitar tahun 1258, terjadi serangan besar-besaran bangsa Mongol, yang mengakibatkan runtuhnya kekhalifahan Islam, Bani Abbasiyah di Iraq/Iran.

Nampaknya kedatangan Sang Sapurba (Shapur) ini, erat kaitannya dengan peristiwa tersebut. Para Sejarawan memperkirakan, banyak penduduk di wilayah Kekhalifahan Bani Abbasiyah, yang harus mengungsi keluar negeri. Termasuk dari wilayah Persia, yang pada saat itu sebagian besar penduduknya telah beragama Islam.

Dengan memperhatikan keadaan dan situasi pada masa itu, tidak berlebihan kiranya jika kita mengatakan Sang Sapurba (Shapur) ini adalah seorang pemeluk agama Islam (Muslim), yang berasal dari keluarga Bangsawan Kerajaan Persia.

WaLlahu a’lamu bishshawab