Tag Archives: siti jenar

[Misteri] Ketika Syaikh Siti Jenar menjadi 2 (dua) ?

Syaikh Siti Jenar, adalah salah seorang tokoh misteri di Nusantara, asal usulnya, ajarannya dan kematiannya penuh kontroversi serta memunculkan banyak versi.

Sejarawan KH. Agus Sunyoto, di dalam tulisannya “Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar”, mencoba untuk memecahkan misteri ini. Melalui karyanya tersebut, Agus Sunyoto membedakan 2 (dua) orang sosok Syekh Siti Jenar.

sitijenar1
1. Syaikh Siti Jenar I (Syaikh Datuk Abdul Jalil)

Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah putera dari Syaikh Datuk Sholeh. Ia dilahirkan di Cirebon (Caruban), dikarenakan sejak bayi sudah menjadi yatim piatu, ia diangkat anak oleh Ki Danusela (Kuwu Caruban).

Datuk Abdul Jalil merupakan mursyid Tarekat Syatariyyah, Kubrawiyyah dan Akmaliyyah, pengikutnya membangun komunitas dalam bentuk dukuh-dukuh, dengan nama Lemah Abang, Siti Jenar, Lemah Ireng, Lemah Putih, Tanah Merah, Batu Merah, Batu Putih, Kamuning dan Kajenar.

Ajaran yang disampaikan oleh Datuk Abdul Jalil, selain bersifat ruhani juga mengajarkan kesamaan derajat antara rakyat (kawula) dengan kaum bangsawan (gusti).

Ajaran kesetaraan kawula-gusti inilah yang membuat Syaikh Abdul Jalil bersama pengikutnya harus berhadapan dengan penguasa pada masa itu (sumber : Syeikh Siti Jenar, menggugat kultur “Kawula Gusti” dalam budaya Nusantara ? dan Syaikh Siti Jenar, Pelopor Sistem Demokrasi Masyarakat Ummah di Abad 15-16 Masehi ?).

Datuk Abdul Jalil tercatat memiliki 3 orang anak, dari isterinya bernama Fatimah binti Abdul Malik al-Baghdady, ia memiliki seorang puteri bernama Zainab (Ratu Arafah) yang kelak menjadi istri Sunan Kalijaga. Sementara dari istrinya bernama Shafa binti Adamji Muhammad, ia memiliki 2 orang putera yang bernama Datuk Bardud dan Datuk Fardun.

Berdasarkan riwayat para ulama yang terpercaya, mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar (Datuk Abdul Jalil) meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh (sumber : Rasionalisasi Kisah Syaikh Siti Jenar dan Makam Siti Jenar Cirebon).

2. Syaikh Siti Jenar II (San Ali Anshar)

San Ali Anshar at-Tabrizi dilahirkan di Persia, keluarganya dikenal sebagai pendukung perjuangan kaum Safawy. Ia merupakan pengikut setia Abdul Malik al-Baghdady (mertua Syaikh Datuk Abdul Jalil).

Ketika Datuk Abdul Jalil mulai mengurangi kegiatannya, San Ali Anshar mendirikan dukuh-dukuh yang ia namai dukuh-dukuh Lemah Abang, Siti Jenar, Kajenar, dan Kamuning tidak jauh dari dukuh-dukuh yang pernah didirikan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil.

Karena San Ali Anshar at-Tabrizi, secara sengaja telah menggunakan nama orang lain, yaitu Syaikh Siti Jenar (Datuk Abdul Jalil), serta dinilai terdapat penyimpangan dalam ajarannya dan telah tercampur aduk dengan ilmu mistik, kanuragan dan ketabiban, maka Ali Anshar mendapat hukuman dari Raden Sahid (Sunan Kalijaga).

Ali Anshar memiliki murid yang bernama Hasan Ali (Raden Anggaraksa), Sang Murid memperoleh hukuman dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Kisah dihukumnya Ali Anshar dan Hasan Ali inilah, yang kemudian berkembang menjadi kisah dihukumnya Syaikh Siti Jenar oleh Wali Songo.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. Mengapa Wali Songo memiliki nama Tionghoa (China) ?
3. Misteri 9 Sahabat Rasulullah, yang berdakwah di NUSANTARA?
4. [Misteri] H.O.S. Tjokroaminoto (Guru Presiden Soekarno), yang pernah dikunjungi Rasulullah?

Syeikh Siti Jenar, Menggugat Kultur Budaya “Kawula Gusti” ?

Dalam kultur Nusantara, istilah Abdi (Sunda), Kulo/Kawula (Jawa) dan Saya/Sahaya (Melayu), memiliki makna yang sama, yaitu Hamba.

Kultur penghambaan diri (Kawula), kepada penguasa (Gusti – Kaum Bangsawan Istana) inilah yang kemudian digugat Syeikh Siti Jenar. Karena baginya manusia hanya wajib menghambakan diri kepada ALLAH, dan bukan kepada sesama manusia.

relief1

Penyelawengan Makna Kawula-Gusti

Ketika Syeikh Siti Jenar, pulang dari belajar di negeri Baghdad, ia merasakan ada yang perlu ia perbaiki dalam kultur nusantara saat itu.

Selama di Baghdad yang merupakan negara berperadaban tinggi, Syeikh Siti Jenar menyaksikan seorang rakyat (Kawula) bisa dengan mudah bertemu dengan penguasa (Gusti). (Sumber : Wawancara dengan Prof. Agus Sunyoto, Youtube).

jenar1
Berbeda dengan kondisi di Nusantara, ada jurang pemisah antara seorang penguasa dengan rakyatnya. Sang Penguasa (Gusti) bagaikan tuan yang harus dilayani oleh rakyatnya (Kawula).

Sikap Humanisme yang dimiliki Syeikh Siti Jenar, sesungguhnya bersumber dari pesan Rasulullah, ketika malaksanakan Haji Wada’.

Di dalam riwayat Ibnu Hisyam, Rasulullah bersabda…

pesan1
Pendirian Syeikh Siti Jenar, tentu membuat kalangan bangsawan menjadi gerah. Apalagi ketika Syeikh Siti Jenar, mempelopori terbentuknya komunitas yang disebut “masyarakat”, dimana setiap orang memiliki kesetaraan, tanpa mengenal istilah pemisahan Kawula Gusti.

Namun sayang, Reformasi Syeikh Siti Jenar ini, pada akhirnya mengalami kegagalan, Syaikh Siti Jenar kemudian berhasil disingkirkan.

Sementara ajaran tentang “Kawula-Gusti”, yang sejatinya merupakan bentuk kesetaraan antara sesama manusia, dikemudian hari di salah-artikan, seakan-akan Sang Syeikh berkeinginan menyatukan dirinya, kepada Sang Maha Pencipta.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Syaikh Siti Jenar, merupakan salah seorang tokoh misteri di Nusantara. Sejarawan KH. Agus Sunyoto, di dalam tulisannya “Suluk Malang Sungsang”, mencoba untuk memecahkan misteri ini.

Melalui karyanya Agus Sunyoto membedakan 2 (dua) sosok Syekh Siti Jenar, yakni Syeikh Siti Jenar (Datuk Abdul Jalil) dan Syeikh Siti Jenar (San Ali Anshar) (sumber : ).

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. [Misteri] Jati diri Nabi Khidir, menurut Syekh Siti Jenar?
3. [Misteri] Bacaan Kyai Subkhi “Bambu Runcing”, di masa Revolusi Kemerdekaan?
4. [Misteri] H.O.S. Tjokroaminoto (Guru Presiden Soekarno), yang pernah dikunjungi Rasulullah?

Rasionalisasi, Kisah Syaikh Siti Jenar

Apabila kita membahas mengenai keberadaan, salah seorang wali di tanah Jawa, Syaikh Siti Jenar, seringkali kita menemukan berbagai cerita yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

Di dalam salah satu tulisannya, Ustadz Shohibul Faroji Al-Robbani mencatat, setidaknya ada 5 Kesalahan Sejarah tentang Syaikh Siti Jenar, yaitu :

1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing.

Sepertinya hanya orang-orang berpikiran irrasional, yang mempercayai ada seorang manusia, yang berasal dari seekor cacing. Syaikh Siti Jenar adalah manusia biasa, beliau dilahirkan di Persia pada tahun 1404M, dengan nama Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini.

Ayahnya bernama Sayyid Sholih, yang pernah menjadi Mufti Malaka di masa pemerintahan Sultan Muhammad Iskandar Syah.

Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas :
“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.”

[Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….

2. “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur.

Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.

Di dalam perjalanan hidupnya, pada tahun 1424M, terjadi perpindahan kekuasaan dari Sultan Muhammad Iskandar Syah, kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.

Maka pada sekitar akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.

Melalui Sayyid Kahfi, Siti Jenar memperlajari Kitab-Kitab seperti Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.

Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.

Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan.


3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb.

Sejak kecil Syaikh Siti Jenar berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an di usia 12 tahun.

Dan berdasarkan kesaksian tokoh yang mengenal Syaikh Siti Jenar, beliau diceritakan sebagai Pengamal Syari’at Islam Sejati.

4. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong.

Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron. Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa, di dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah.

5. Beberapa penulis telah menulis bahwa setelah kematiannya, mayat Syaikh Siti Jenar, berubah menjadi anjing.

Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, dimana seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih.

Berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.

Dan hal ini, tentu sangat bertentangan dengan teori Biologi Molekuler, dimana seseorang yang lahir dari manusia, maka akan wafat sebagai manusia.

Lintas Berita :
Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)