Tag Archives: motivasi

Para Milyuner di sekitar Nabi Muhammad ?

Ketika Abu Bakar ra. berkeinginan membebaskan Bilal ra. dari perbudakan, Umaiyah bin Khalaf mematok harga 9 uqiyah emas. Dan dengan segera Abu Bakar ra. langsung menebusnya.

Untuk diketahui 1 uqiyah emas senilai 31,7475 gr gram emas, atau setara dengan 7,4 dinar emas. Jika harga 1 dinar emas sekarang adalah sebesar Rp. 2.370.000, berarti dana yang dikeluarkan Abu Bakar ra. adalah sebesar  (9 x 7,4 x Rp. 2.370.000 ) atau Rp. 157.842.000,-

Para Milyuner di sekitar Rasulullah

Beberapa Sahabat Rasulullah, berdasarkan catatan sejarah yang di-indikasikan sebagai Konglomerat, antara lain :

1. Abu Bakar ra.

Ibnu Umar ra mengatakan diawal keislaman Abu Bakar menghabiskan dana sekitar 40.000 Dirham untuk memerdekakan budak. Jika harga 1 Dirham Perak saat ini adalah Rp. 67.500, itu artinya yang dibayar oleh beliau setara dengan Rp 2,7 Miliar.

2. Umar bin Khaththab ra.

Di dalam Kitab Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih, karangan Ibnu Abdil Barr, menerangkan bahwa Umar ra. telah mewasiatkan 1/3 hartanya yang nilainya melebihi nilai 40.000 (dinar atau dirham), atau totalnya melebihi nilai 120.000 (dinar atau dirham). Jika dengan nilai sekarang, setara dengan Rp. 284,4 Milyar (dinar) atau Rp. 8,1 Milyar (dirham).

3. Utsman bin Affan ra.

Saat Perang Tabuk, beliau menyumbang 300 ekor unta, setara dengan nilai Rp. 3 Milyar, serta dana sebesar 1.000 Dinar Emas, yang setara dengan Rp. 2,37 Milyar.

Ubaidullah bin Utbah memberitakan, ketika terbunuh, Utsman ra. masih mempunyai harta yang disimpan penjaga gudangnya, yaitu: 30.500.000 dirham (setara dengan Rp. 2,05875 Trilyun) dan 100.000 dinar (setara dengan Rp. 237 Milyar).

4. Abdurrahman bin Auf  ra.

Ketika menjelang Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf mempelopori dengan menyumbang dana sebesar 200 Uqiyah Emas atau setara dengan Rp. 3,5 Milyar.

Menjelang wafatnya, beliau mewasiatkan 50.000 dinar untuk infaq fi Sabilillah, atau setara dengan nilai Rp. 118,5 Milyar.

Dari Ayyub (As-Sakhtiyani) dari Muhammad (bin Sirin), memberitakan ketika Abdurrahman bin Auf ra. wafat, beliau meninggalkan 4 istri. Seorang istri mendapatkan warisan sebesar 30.000 dinar emas. Hal ini berarti keseluruhan istri-nya memperoleh 120.000 dinar emas, yang merupakan 1/8 dari seluruh warisan.

Dengan demikian total warisan yang ditinggalkan oleh Abdurrahman bin Auf ra, adalah sebesar 960.000 dinar emas, atau jika di-nilai dengan nilai sekarang setara dengan Rp. 2,2752 Trilyun.

5. Abdullah ibnu Mas’ud ra.

Menurut Zurr bin Hubaisy Al-Kufi, Ibnu Mas’ud ra. ketika meninggal dunia mewariskan harta senilai 70.000 dirham, atau saat ini senilai Rp. 4,725 milyar.

6. Hakim bin Hizam ra.

Urwah bin Az-Zubair berkata bahwa Hakim bin Hizam telah mensedekahkan 100 unta, atau saat ini senilai dengan Rp. 1 Milyar.

7. Thalhah bin Ubaidillah ra.

Menurut Musa bin Thalhah, Thalhah bin Ubaidillah ketika meninggal mewariskan harta berupa 200.000 dinar emas, atau saat ini senilai Rp. 474 Milyar.

8. Sa’ad bin Abi Waqqash ra.

Menurut Aisyah binti Sa’ad, ketika Sa’ad bin Abi Waqqash ra. meninggal dunia, beliau mewariskan 250.000 dirham, atau pada saat ini senilai Rp. 16,875 Milyar.

9. Ibnu Umar ra.

Ibnu Umar pernah menjual tanahnya seharga 200 ekor unta. Lalu, separuhnya dia gunakan untuk membekali pasukan mujahid. Jika satu ekor unta saat ini senilai 4.000 riyal dan 1 riyal = Rp. 2.500, maka jumlah yang telah di-sumbangkan Ibnu Umar adalah sebesar Rp. 1 Milyar (50% x 200 x 4000 x Rp. 2500).

Seorang muslim diperbolehkan bercita-cita menjadi orang kaya dengan niat untuk memperkuat agamanya.

Rasulullah bersabda:

لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنْ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنْ اتَّقَى خَيْرٌ مِنْ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنْ النَّعِيمِ

“Tidak ada masalah dengan kekayaan bagi orang yang bertaqwa. Kesehatan itu lebih baik daripada kekayaan bagi orang yang bertaqwa. Dan jiwa yang bagus merupakan kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah: 2132, Ahmad: 22076 dari Ubaid bin Mu’adz t, di-shahih-kan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak: 2131 (2/3) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 174).

Dan Rasulullah berpesan kepada umatnya, agar menghindari dari kefaqiran, dan untuk hal itu beliau mengajarkan doa, sebagaimana bunyi hadits berikut :

Dari Abu Hurairah ra. :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْفَقْرِ وَالْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ

“Bahwa Nabi berdo’a: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefaqiran, sedikit harta benda, dan kehinaan, dan aku berlindung kepada-Mu daripada menzhalimi orang lain atau dizhalimi.” (HR. Abu Dawud: 1320, An-Nasa’i: 5365, Ahmad: 7708 dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 1287).

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. bahwa Rasulullah berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah (menjaga diri dari perkara haram), dan kekayaan.” (HR. Muslim: 4898, At-Tirmidzi: 3411 dan Ibnu Majah: 3822).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Mukjizat HIJRAH, dari 1,500 menuju 1,57 Milyar

Ketika Rasulullah SAW hijrah ke kota Madinah, umat Islam diperkirakan sekitar 1.500 jiwa. Jumlah ini sangat sedikit, jika dibandingkan penduduk Madinah waktu itu, yang berjumlah sekitar 10.000 jiwa.

Tahukah anda, berapa jumlah Umat Muslim sekarang ?

Berdasarkan laporan berjudul “Mapping the Global Muslim Population“, yang dilakukan Pew Forum on Religion & Public Life, saat ini ada sekitar 1,57 miliar orang Muslim di dunia. Jumlah itu merupakan 23 persen dari total penduduk dunia yang mencapai 6,8 miliar.

Data ini tentu sangat menakjubkan, karena sebelumnya diperkiraan populasi Muslim global berkisar antara 1 milliar sampai 1.8 miliar, sebagaimana diungkapkan Pew Forum on Religion & Public Life,  setelah  mengalianalisa lebih dari 1.500 sumber, termasuk laporan sensus, penelitian demografis dan survei populasi umum (Sumber : sabili.co.id).

The Pew Forum on Religion and Public Life dalam laporannya, juga menyodorkan data tentang jumlah Muslim dunia melonjak hampir 100 persen dalam beberapa tahun ini. “Rata-rata di tiap negara bertambah dari semula 1 juta menjadi 1,8 juta penganut”.

Tim Pew Forum menghabiskan waktu hampir tiga tahun untuk menganalisis data terbaik yang tersedia dari 232 negara dan wilayah. Penelitian itu bermaksud untuk mendapat gambaran komprehensif terbaik tentang populasi Muslim dunia pada waktu tertentu. Mereka mengambil data yang mereka gabungkan dari sensus dan survei nasional dan memproyeksikannya berdasarkan pada apa yang mereka tahu tentang pertambahan penduduk di setiap negara.


Hasil Penelitian yang Mengagetkan

Indonesia disebut-sebut dalam laporan itu merupakan negara dengan populusi muslim terbesar di seluruh dunia , lebih kurang 203 juta atau 13 persen dari seluruh penduduk Muslim dunia. Sebanyak 60 persen jumlah Muslim dunia tinggal di kawasan Asia, bukan di Timur Tengah, tempat asal ajaran agama ini.

Eropa disebut sebagai negara yang pertumbuhan jumlah penduduk Muslimnya sangat cepat. Kini benua itu menjadi rumah bagi 38 juta Muslim, atau lima persen dari seluruh populasi. Jumlah penduduk Muslim di Jerman lebih kurang 4 juta orang, hampir sama dengan jumlah gabungan Muslim di Amerika Utara dan Selatan. Tahun 2050 jumlah penduduk muslim di Eropa kemungkinan mencapai 30 %.

Di Benua Amerika, sebanyak 4,6 juta Muslim tinggal di sana dan hampir separuh dari jumlah itu ada di Amerika Serikat. Sedang di Kanada jumlah Muslimnya mencapai 700 ribu jiwa, atau 2 persen dari seluruh populasi (Sumber : hizbut-tahrir.co.id).

The Pew Forum on Religion and Public Life juga menyodorkan data yang cukup mencengangkan. Misalnya saja, jumlah penduduk Muslim di German ternyata lebih banyak dari Lebanon, Muslim di Cina lebih banyak dari Suriah, dan Muslim di Russia lebih banyak dari gabungan jumlah Muslim di Yordania dan Libya.

Peneliti Pew sendiri kaget terhadap data yang mereka dapat. Brian Grim, peneliti senior di proyek Pew Forum, sangat terkejut dengan perkembangan jumlah Muslim ini—ia mengatakannya langsung kepada CNN. “Jumlahnya melebihi apa yang saya perkirakan,” ujarnya. “Ada negara yang kami perkirakan tak ada umat Muslimnya, ternyata jumlahnya sangat besar,” ujar Alan Cooperman, associate director Pew Forum, seraya menyebutkan India, Russia, dan China.

Menurut Cooperman, sementara orang berpikir bahwa populasi Muslim di Eropa lebih banyak imigran, itu hanya terjadi di Eropa bagian barat saja. “Sisanya di Russia, Albania, Kosovo, dan yang lainnya, adalah penduduk Asli. Lebih dari separuh Muslim di Eropa adalah penduduk asli.”Cooperman juga mengatakan terkejut mendapatkan populasi Muslim di Afrika bagian gurun Sahara. Ada 240 juta Muslim di sana—dan itu artinya 15% dari jumlah keseluruhan Muslim di dunia.

Tentu fenomena ini sangat menakjubkan. Padahal Islam saat ini telah mengalami banyak fitnahan dari berbagai segi kehidupan. Islam dengan segala cara telah diperburuk citranya sedemikian rupa oleh pihak-pihak yang anti Islam. Namun anehnya, Islam justru mengalami pertambahan yang luar biasa.

Setiap hari selalu saja bertambah orang yang menyatakan diri mengikuti ajaran Muhammad SAW dengan mengucapkan syahadat, mengakui keesaan Allah SWT dan membenarkan Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT, nabi terakhir untuk seluruh umat manusia (Kunjungi : Peristiwa Hijrah, Siyasah Rasul dalam mempersatukan umat dan mengapa keKHALIFAHan memudar ???).

Dengan adanya fakta jumlah umat Islam yang sangat besar, hendaknya tidak menjadikan kaum muslimin takabur. Kenyataan ini harus terus membuat umat Islam mawas diri dan terus memperbaiki dirinya. Dengan begitu, akan dihasilkan karya unggulan sebagai umat yang terbaik.

Sebagaimana FirmanNYA :
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka dalah orang-orang fasik” (QS. Ali Imran (3) ayat 110).

Artikel Terkait
01. Khilafah bukan hal tabu
02. Sejarah Kelam, Perpecahan Umat Islam
03. Peristiwa Hijrah, Siyasah Rasul dalam mempersatukan Ummat

Bekerja itu Mulia

Suatu hari Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Sa’d bin Mu’adz Al-Anshari, dilihatnya tangan sahabatnya itu melepuh. Nabi SAW bertanya, apa yang menyebabkannya.

Dengan jujur Sa’d menyatakan akibat kerja keras untuk menghidupi keluarganya. Mendengar jawaban Sa’d itu, dengan spontan Nabi Muhammad SAW meraih tangan sahabatnya lalu diciumnya.

Itu adalah tindakan yang menunjukkan pada kita bahwa kerja keras itu mulia. Terlebih bila kerja kita digunakan untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya. Allah SWT sudah melimpahkan rezeki-Nya di muka bumi untuk seluruh makhluk-Nya.

Nah, kitalah sebagai makhluk-Nya yang bertugas untuk bekerja mencari karunia-Nya. Kita tidak boleh berpangku tangan, soalnya tidak ada riwayatnya emas langsung diturunkan dari langit.

Di dalam QS. Al Munafiquun ayat 10 disebutkan :

Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.

Bekerja mencari nafkah buat keluarga, hendaknya dipandang sebagai salah satu bentuk ibadah dan sekaligus rasa syukur kepada Allah. Ini diterangkan dalam QS. Saba’ ayat 13 :

Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur kepada Allah! Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.

Kerja itu mulia. Islam juga menekankan tangan yang di atas selalu lebih baik daripada di bawah. Islam juga mengajarkan untuk hidup hemat atau tidak berlebih-lebihan, serta selalu bekerja keras, agar terhindar dari kemiskinan. Kemiskinan itu sangat dekat dengan kekufuran.

Dengan tuntunan seperti ini, rasanya sangat menyedihkan kalau kita melihat kenyataan yang ada di sekitar kita, terutama di kota-kota besar. Betapa banyak orang-orang muda, yang masih sehat, kokoh kuat, tapi menjadi pengemis atau peminta-minta. Mereka hanya menadahkan tangan untuk menghidupi kehidupan mereka.

Betapa mengerikan. Malu tidak lagi menjadi perhiasan mereka.

Usaha untuk membina mereka agar mendapatkan keterampilan dan bisa bekerja, ternyata tak berhasil dengan baik. Dirazia, dijaring, dihukum, tak lama sudah akan kembali berkeliaran di jalanan. Meskipun mereka sudah mendapatkan binaan dan bimbingan keterampilan, toh tak membuat mereka mau bekerja.

Ingin tahu apa alasan mereka?

Bekerja itu capek dan hasilnya tak seberapa. Sementara meminta-minta di jalanan, tidak capek dan hasilnya jauh lebih besar. MasyaAllah! Mau jadi apa umat Islam kalau sebagian generasi penerusnya bermental seperti itu?

Ada kisah di zaman Khalifah Umar, beliau sampai menarik dan menyeret keluar pemuda-pemuda yang selalu sholat dan sibuk dzikir di masjid tanpa mau bekerja. Mereka menganggap yang paling penting adalah ibadah.

Mereka hidup dari pemberian orang lain. Mereka lupa bahwa bekerja pun termasuk ibadah. Sungguh, Umar sangat keras terhadap namanya kemalasan. Lebih-lebih di lingkungan generasi muda. Khalifah Umar memaksa mereka bekerja karena begitu mulianya orang yang bekerja.

World Record Menulis, di Abad ke-9 Masehi ?

Pentingnya menulis di dalam Islam, bisa kita lihat di dalam Al Qur’an. Allah SWT bersumpah dengan alat tulis dan tulisan. Ini bisa dilihat dalam QS. Al Qalam ayat 1,

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”

Wahyu pertama yang turun adalah perintah untuk membaca, Iqra’! (bacalah). Tentu ketika Allah SWT memerintahkan untuk membaca, secara tersirat juga ada perintah untuk menciptakan bahan bacaan atau karya tulis.

Didorong perintah Allah SWT ini, membuat para ulama seolah tidak pernah kehabisan energi dalam menulis. Salah satunya, Imam Ath-Thabari (224 H – 310 H, hidup sekitar abad ke-9 Masehi), yang menulis selama 40 tahun. Setiap harinya beliau menulis sebanyak 40 halaman.

Coba kita hitung:
40 tahun x 365 hari/tahun x 40 halaman/hari, maka akan didapat 584.000 halaman.

Menulis sebanyak itu, tentu sangat menakjubkan, mungkin masuk World Record pada masa itu. Apalagi saat itu, pena masih terbuat dari bulu ayam dan mesti diisi dengan tinta setiap kali habis. Masa itu bukan era digital yang serba canggih seperti sekarang ini.


Dakwah Bilqalam

Dakwah melalui tulisan telah dilakukan para utusan Allah SWT, sejak masa dahulu. Hal ini terlihat, ketika Nabi Sulaiman AS mengirimkan surat kepada Ratu Balqis, untuk mengajaknya kepada ajaran Tauhid. Ini tergambar dalam QS An Naml ayat 28—31.

”Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.” (28)

”Dia (Balqis) berkata, ’Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.’.” (29)

”Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, ’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.’.” (30)

”Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (31)

Demikian halnya, yang dilakukan di masa Rasulullah. Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat sebagai ajakan dakwah dan syiar Islam ke berbagai negeri.

Dakwah yang dilakukan melalui tulisan dikenal dengan nama dakwah bilqalam. Istilah itu didefinisikan sebagai bentuk ajakan kepada manusia lewat perantara pena (tulisan), untuk membawa ke jalan Allah SWT.

Dakwah melalui tulisan memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:

o Pesan yang disampaikan bisa dibaca berulang-ulang. Ini dapat menghindarkan kesalahpahaman.


o Mencakup masyarakat yang luas dalam kondisi apapun. Siapa saja yang bisa membaca, bisa memikirkan sendiri dakwah tersebut.

o Memiliki kesan mendalam bagi pembacanya, karena bisa diulang-ulang pembacaannya.

o Merupakan bentuk ilmu yang bermanfaat dan isinya bisa ditularkan kepada orang lain. Setelah selesai membaca sesuatu, bacaan itu bisa diberikan pada orang lain untuk membacanya sehingga memperoleh manfaat dan ilmu seperti yang didapatkan pembaca sebelumnya.

Jadi, di masa sekarang saat menulis begitu mudah. Tidak mesti harus dipublikasikan lewat penerbitan buku. Ada banyak sarana blog di internet yang bisa diperoleh dengan gratis. Dengan demikian, menulis jadi bisa dilakukan oleh siapa saja dan dibaca oleh masyarakat luas. Apalagi sarana internet bisa diakses dari seluruh penjuru dunia.

Khilafah bukan hal tabu

Peristiwa yang paling menyakitkan bagi umat Islam di seluruh dunia, yaitu runtuhnya Khilafah, tanggal 28 Rajab 1342 H, bertepatan dengan 3 Maret 1924. Telah banyak upaya yang dilakukan umat Islam, untuk memunculkan kembali khilafah Islamiyah. Sayangnya, usaha itu sepertinya selalu gagal di tengah jalan.

Apa sebabnya? Dan mungkinkah Khilafah Islamiyah, akan muncul kembali?

Sebagai kaum beriman, umat Islam wajib untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ini sesuai dengan yang dinyatakan dalam QS Yusuf ayat 87,

Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”

Cita-cita akan kebangkitan khilafah Islamiyah hendaknya juga dibarengi kemauan dan usaha yang sungguh-sungguh. Tidak mungkin memunculkan kembali kejayaan Islam yang penuh damai dan menjadi rahmat atas sekalian alam tanpa perjuangan dan semangat membara.

Sebagaimana firman Allah, di dalam QS. Al Anbiya ayat 107,
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.


Kejayaan Umat Muslim

Keyakinan atas kembalinya kejayaan Islam, bukan tanpa alasan. Bukankah Allah SWT sudah berjanji akan menjadikan kaum beriman sebagai pewaris di bumi, seperti yang tersurat dalam QS. Al Anbiya ayat 105 :

Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) dalam Az Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.

Selain itu, juga tergambar di dalam beberapa hadits Rasulullah SAW semuanya mengilustrasikan tentang kejayaan kaum muslimin, di antaranya sebagai berikut.

Sabda Nabi Muhammad SAW,
Sesungguhnya Allah telah melipatkan bumi ini bagiku, lalu aku dapat melihat yang paling timur dan barat. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai kepada apa yang telah dilipatkan untukku itu.” (HR. Muslim 8/171, Abu Dawud 4252, Tirmidzi 2/27, Ibnu Majah 2952, Ahmad 5/278 dan 284 dari Hadits Tsauban dan Syadad bin Aus)

Hadist lainnya,
Sungguh perkara Islam ini akan sampai ke bumi yang dilalui oleh malam dan siang. Allah tidak akan melewatkan seluruh kota dan pelosok desa, kecuali memasukkan Ad-Din ini ke daerah itu, dengan memuliakan yang mulia dan menghinakan yang hina, yakni memuliakannya dengan Islam dan merendahkannya dengan kekufuran.” (HR. Imam Ibnu Hibban dalam Kitab Shahihnya, Imam Abu ‘Arubah di dalam Kitab Al Muntaqa minath Thabaqat, Hadits ini juga diriwayatkan para ulama Ahlu Hadits yang terkenal. Kedudukan Hadits tersebut berderajat shahih).

Khilafah Islamiyah bukanlah hal yang tabu dan aneh bagi masyarakat dunia. Bukankah saat ini, umat Katolik memiliki jaringan yang mengglobal dengan sistem kepausannya?

Mengapa umat Islam harus ragu dengan sistem khilafahnya? Bukankah kaum muslimin pada setiap tahunnya, melaksanakan wukuf di Arafah? Bukankah itu merupakan bukti lambang persatuan umat Islam sedunia? Pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh lintasan waktu.

Ratu Adil, menunggu kita siap…

Siapakah gerangan Ratu Adil itu?!

Tidak sedikit yang meyakini, bahwa kelak akan muncul seorang imam atau pemimpin, yang akan mengembalikan kejayaan Islam, di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Dari keyakinan tersebut melahirkan berbagai dugaan serta prediksi siapa-siapa yang akan menduduki posisi sebagai pemimpin tersebut.

Dari kalangan Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah beranggapan, imam yang dimaksud adalah Al Mahdi Al Muntazhar. Sosok yang telah mengalami ghaibah kubra (kegaiban besar) di tahun 329 H.

Sementara itu dari kalangan Ahmadiyah beranggapan imam tersebut tidak lain adalah pemimpin mereka Mirza Ghulam Ahmad. Selain itu, banyak sosok lain yang dianggap akan menduduki posisi tersebut.

Di Indonesia, kepercayaan tersebut memunculkan adanya Mahdi-isme yang dikenal dengan istilah ‘Ratu Adil’. Beberapa peristiwa yang berkaitan dengan hal ini adalah sebagai berikut.

Pada tahun 1924 M, saat muncul gerakan Ratu Adil yang dipimpin Ranajemika.

Pada tahun 1935 M muncul lagi di Wanagiri dipimpin oleh Kyai Wirasanjaya.

Pada awal abad ke-21 ini, gerakan ini muncul lagi melalui Jama’ah Salamullah, yang dipimpin oleh Lia Aminuddin.

Keberadaan Mahdi-isme ini, oleh mereka yang percaya dilandasi pada beberapa isyarat yang disampaikan Rasulullah. Isyarat tersebut mengabarkan akan munculnya seorang pemimpin yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kebenaran.

Namun sayangnya, sering kali dalil-dalil yang dikemukakan, ditafsirkan sedemikian rupa sehingga memunculkan sosok-sosok secara personal. Masing-masing kelompok berusaha memberikan penafsiran ‘Sang Pemimpin’ itu adalah seseorang dari kalangan kelompok mereka. Dengan banyaknya kelompok yang berkembang di lingkungan masyarakat, jadi makin simpang siurlah makna ‘Sang Pemimpin’ itu.

Demikian simpang siurnya berita dan penokohan sosok-sosok secara personal, sampai-sampai Ibnu Khaldun angkat bicara. Beliau berpendapat bahwa hadits-hadits berkenaan dengan Imam Mahdi, semuanya tidak dapat dijadikan pegangan.

Hendaknya dalam mencari seorang Ratu Adil, kita menteladani penyelenggaraan sholat berjama’ah di suatu masjid. Di saat orang-orang berdatangan menuju ke masjid, mereka tidak memikirkan siapa yang bakal menjadi imam atau pemimpin sholat. Begitu waktu sholat tiba, dengan sendirinya dari jama’ah yang hadir, pasti akan muncul seorang imam yang akan memimpin sholat.

Ini berlaku pula dalam hal kepemimpinan umat secara lebih luas. Yang terpenting bukan persoalan imamnya. Imam bisa muncul dengan analogi seperti di atas. Untuk itu, ‘mau atau tidak’ umat Islam untuk berjamaah dalam satu kepemimpinan, untuk secara bersama-sama menuju cita-cita yang didamba, mewujudkan kejayaan umat Islam di seluruh dunia.

Gambaran ini telah ada di dalam QS. At Taubah ayat 33,

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”

Di saat umat Islam telah bersepakat untuk menyatukan potensi, dengan selalu berpedoman kepada Kitabullah Al Qur’an dan Sunah Rasulullah di dalam setiap langkahnya, ‘Sang Imam’ dalam kepemimpinan ‘Ratu Adil’, tanpa harus dicari dan ditunggu, akan muncul dengan sendirinya.

Artikel Terkait
01. Sejarah Melayu, Teori Sundaland dan Naskah Wangsakerta
02. Misteri Leluhur Bangsa Jawa
03. Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Berdasarkan Genetika, Semua Manusia Berpotensi Menjadi Jenius

Dari hasil penelitian, otak manusia mempunyai 1 triliun sel, dengan 100 milyar sel aktif. Setiap sel itu mampu membuat jaringan sampai 20.000 sambungan tiap detik.

Dengan kondisi yang seperti itu, seorang master trainer dari Brains Power Indonesia, Irwan Widiatmoko mengatakan, “Apabila seluruh informasi alam semesta ini dimasukkan ke dalam otak kita, otak kita tidak akan penuh.” Begitu yang dikutip dari http://www.kompas.com tanggal 25 Agustus 2008.

Adakah manusia super jenius di dunia ini?

Jawabnya adalah Nabi Adam AS, yang merupakan leluhur seluruh umat manusia…

Kok bisa?

Soalnya beliau adalah satu-satunya makhluk, yang berhasil mempresentasikan keadaan seluruh alam semesta ini di hadapan Allah SWT. Kenyataan inilah yang membuat para para malaikat terkagum-kagum, dan mereka pun sujud kepada Adam AS dan mengagungkan kebesaran Allah SWT.

Kisah ini termuat dengan jelas dalam QS Al Baqarah ayat 33—34.

(33) “Dia (Allah) berfirman, ‘Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!’ Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia (Allah) berfirman, ‘Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu sembunyikan?’.”

(34) “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.”

Jadi kalau ada yang bilang, kecerdasan adalah faktor bibit atau keturunan, hal itu berarti semua manusia (termasuk kita ini) punya potensi jadi manusia super jenius.

Sebenarnya struktur otak Nabi Adam AS, relatif sama dengan struktur otak manusia kebanyakan, termasuk kita. Bedanya, Sang Nabi pertama itu sudah secara optimal memakai semua potensi otaknya.

Bagaimana dengan kita?

Berpikir saja biasanya malas. Kita lebih suka melihat orang lain yang jadi lebih jenius. Dan dari penelitian pula, kita ini kebanyakan hanya memakai daya otak kita sebesar 10%…

Jadi… apa yang mesti kita lakukan?

Yach, pilihan ada di tangan masing-masing. Yang jelas, orang-orang di Jepang itu memaksimalkan potensi otaknya dan mereka jadi bangsa yang besar.


Sejarah mencatat Jepang yang pernah dibom atom pada masa Perang Dunia II di Hirosima dan Nagasaki. Peristiwa itu menyebabkan kerugian dan kerusakan parah serta nyaris melumpuhkan perekonomian Jepang secara keseluruhan.

Namun tidak butuh lebih dari dua dekade, usaha yang keras dan kegigihan bangsa Jepang telah membuatnya kembali menancapkan giginya sebagai bangsa yang besar. Bahkan sampai saat ini Jepang dianggap sebagai salah satu ikon bangsa yang maju dan berbudaya di Asia.

Jadi, semuanya terserah kita. Apakah kita mau memaksimalkan kemampuan otak kita dan menjadi orang yang sukses atau hanya orang yang biasa-biasa saja.

Artikel Terkait
01. MISTERI ARKEOLOGIS, di tengah PUING reruntuhan TEORI EVOLUSI
02. Sun Go Kong, itu Ilmiah ?
03. Teori Darwin, Nabi Adam dan Piramid Giza