Tag Archives: ulama

Tuan Faqih Jalaluddin, dan Misteri Silsilah Wali Songo ?

Pada periode pemerintahan Sultan Abdurrahman (1659-1706), di Kesultanan Palembang Darussalam dikenal seorang ulama yang bernama Kiai Haji Agus Khotib Komad, sementara di era Sultan Muhammad Mansur (1706-1718), tokoh ulama terkemuka pada masa itu adalah Tuan Faqih Jalaluddin yang mengajarkan ilmu Al-Qur’an dan Ilmu Ushuluddin.

Tuan Faqih Jalaluddin, dikenal juga sebagai penyebar Islam di daerah Komering Ilir dan Komering Ulu, beliau masih menjalankan dakwahnya hingga masa pemerintahan Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno (1718-1724) dan juga pada masa Sultan Mahmud Badaruddin Joyo Wikromo (1724-1757) sampai akhir hayatnya pada tahun 1748 (sumber : Peran Ulama di Kesultanan Palembang, Penyebar Islam di Nusantara, Kesultanan Palembang, dan tulisan Djohan Hanafiah, “Perang Palembang Melawan VOC”, link).

Pada abad ke-18 Masehi, para santri yang dibesarkan di Kesultanan Palembang, banyak yang berguru kepada Tuan Faqih Jalaluddin, salah satunya adalah Syekh Abdussomad al Palembani (kelahiran Palembang, tahun 1736, sumber : syekh abdussomad al palembani).

Kelak Syekh Abdussomad al Palembani dikenal sebagai ulama terkemuka di tingkat Internasional, sebagaimana penyelusuran Azyumardi Azra, dalam bukunya “ Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVII Melacak Akar-Akar Pembaruan Islam di Indonesia”.

ziarahpalembang
Misteri Silsilah Walisongo

Selain ulama dan penyebar Islam, Tuan Guru Faqih Jalaluddin dipercaya sebagai orang yang ahli dibidang genealogy. Melalui tulisan peninggalannya, ahli nasab Habib Ali bin Ja’far Assegaf (1889-1982), menemukan nama Sayyid Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath, yang merupakan leluhur walisongo (sumber : Madawis, Habib Ali Assegaf).

Keberadaan silsilah wali songo tersebut, menarik minat sejarawan Dr. Gobbe dari Voor Inlandsche Zaken, ia berniat untuk mengambilnya, akan tetapi Habib Ali bin Ja’far Assegaf mengelak dan mengatakan bahwa silsilah tersebut tidak ada.

Sebelum wafat, Habib Ali Assegaf berpesan agar apapun yang berkenaan dengan silsilah dan hasil sensus Alawiyin yang telah dilaksanakannya agar dijaga dengan baik (sumber : benmashoor).

Dokumen asli catatan silsilah peninggalan Tuan Faqih Jalaluddin ini, masih tersimpan di perpustakaan milik almarhum Syed Alwi bin Thahir al Haddad, beliau semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Mufti Kesultanan Johor (sumber : zuriat kesultanan palembang dalam catatan tarsilah brunei). 

Catatan Penambahan :

1. Berdasarkan tulisan di harian Sripo “3 Juli 2013” halaman 14, Tuan Guru Faqih Jalaluddin diinformasikan berasal dari Surabaya, beliau hijrah ke Palembang bersama ayahnya Raden Kamaluddin.

2.  Di masa Kesultanan Palembang Darussalam, disekitar Masjid Agung terdapat pemukiman bagi keluarga alim ulama yang dikenal sebagai “Guguk Pengulon”. Salah satu keluarga besar yang tinggal di wilayah itu adalah keluarga Tuan Faqih Jalaluddin, melalui keturunan anak beliau : Kiagus Haji Imron dan Kiagus Syamsuddin (Sumber : Guguk Pengulon, tulisan Kms. Andi Syarifuddin, Harian Sriwijaya Pos, 3 April 1999).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Hikayat Perang Palembang – Banten, di tahun 1596 M ?
2. Armada Laksamana Cheng Ho dan Sejarah Pempek Palembang ?
3. Rivalitas, VOC – Mataram, dalam kemelut Negeri Palembang tahun 1636 M?
4. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Kesultanan Palembang Darussalam ?

Silsilah KHR As’ad Syamsul Arifin (Pahlawan Nasional), Keturunan Sunan Kudus, Sunan Ampel dan Sunan Giri ?

Pada 3 November 2016, berdasarkan Kepres Nomor 90, Bangsa Indonesia memiliki seorang Pahlawan Nasional yakni : KHR As’ad Syamsul Arifin.

Sosok Kyai As’ad dikenal dengan perjuangannya dalam melawan penjajah. Tidak segan, Kiai As’ad mengeluarkan biaya besar dalam mengkonsolidasi pasukan Hizbullah-Sabilillah disaat menumpas penjajah (sumber : nu.or.id).

silsilah-situbondo2
Silsilah KHR As’ad Syamsul Arifin

Kyai As’ad adalah putra pertama dari KH Syamsul Arifin (Raden Ibrahim) yang menikah dengan Siti Maimunah. Kiai As’ad lahir pada tahun 1897 di perkampungan Syi’ib Ali Makkah dekat dengan Masjidil Haram.

Garis kerurunannya berasal dari Sunan Kudus, Sunan Ampel dan Sunan Giri. Berikut jalur silsilah beliau (sumber : Bani Abdullah Zakaria) :

silsilah-situbondo
Sejak tahun 1938, Kyai  As’ad mulai fokus di dunia pendidikan. Lembaga pendidikan itupun dikembangkan dengan SD, SMP, SMA, Madrasah Qur’an dan Ma’had Aly dengan nama Al-Ibrahimy.

Peran Kiai As’ad dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sangat nampak sekali. Ia merupakan santri kesayangan KH Kholil Bangkalan, yang diutus untuk menemui KH Hasyim Asy’ari memberi “tanda restu” pendirian NU.

Di usianya ke 93, Kiai As’ad. KH As’ad Syamsul Arifin wafat pada 4 Agustus 1990 dan dimakamkan di komplek Ponpes Salafiyyah Syafi’iyyah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. Misteri 9 Sahabat Rasulullah, yang berdakwah di NUSANTARA?
3. Silsilah Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dengan Keluarga Pesantren Gontor Ponorogo
4. [Misteri] H.O.S. Tjokroaminoto (Guru Presiden Soekarno), yang pernah dikunjungi Rasulullah?

Penampakan Awan “Lafaz ALLAH”, pada Pemakaman Ulama Karismatik Malaysia Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat?

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat yang dikenal sebagai seorang ulama karismatik, serta pernah menjabat Gubernur (Menteri Besar) Kelantan selama 23 tahun, telah berpulang ke hadiratan ALLAH, pada tanggal 12 Februari 2015, jam 21.40 malam waktu Malaysia.

Silsilah Haji Nik Abdul Aziz :

Tuan Guru Dato’ Bentara Setia Haji Nik Abdul Aziz bin Haji Nik Mat bin Raja Banjar bin Raja Abdullah bin Raja Mamat merupakan keturunan Raja Jembal *)…

*) Raja Sakti I (menurunkan Raja-Raja di Kelantan-Utara (Jembal)) bin Sultan ‘Abdu’l Kadir (Kelantan) bin Sultan Samir ud-din (Kelantan) bin Nik Jamal ud-din bin Wan Abul Muzaffar Waliu’llah bin Sultan Maulana Sharif Abu Abdu’llah Mahmud Umdat ud-din bin Sayyid ‘Ali Nur ul-Alam bin Sayyid Husain Jamadi al-Kubra…
(sumber : royalark.net)

Inilah Foto-Foto Saat Pemakaman beliau…

kelantanulama1kelantanulama2kelantanulamasumber picture

kelantanulama3sumber picture

 Artikel Menarik…
1. Misteri Astronomi di Langit Makkah, 1436 tahun yang silam ?
2. Misteri Koin Majapahit, berukiran Kalimat Tauhid “Syahadat”?
3. Alhamdulillah… Makam Tokoh Betawi, PITUNG ditemukan di Palembang !!!
4. Misteri Pedang Sayyidina Ali, dari Negeri Panjalu (Tanah Pasundan) ?

Jalan Dakwah Habib Ahmad Masyhur, yang berhasil mengislamkan ratusan ribu penduduk Afrika

habib1
Al-Habib Ahmad Masyhur al-Haddad dilahirkan di kota Qaidun yang terletak di Wadi Dau’an, Hadhramaut Yaman sekitar tahun 1325 H (1907 M), oleh ibunya, Hababah Shofiyyah binti Thohir al-Haddad. Ayahanda beliau, Habib Thoha bin ‘Ali al-Haddad adalah seorang ulama, yang menghabiskan sebahagian besar usianya di Indonesia.

Pendidikan

Al-Habib Ahmad Masyhur mendapat pendidikan di Ribath Qaidun dari dua ulama besar dari keluarga al-Haddad yang merupakan pendiri rubath tersebut yaitu Habib ‘Abdullah bin Thohir al-Haddad (wafat 1367 H) dan saudaranya Habib ‘Alwi bin Thohir al-Haddad (wafat 1382 H).

Di bawah dua ulama ini, Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad mendalami lagi pengetahuan agamanya dalam bidang fiqh, tauhid, tasawwuf, tafsir dan hadits. Dalam usia muda, beliau telah hafal al-Quran dan menguasai berbagai disiplin ilmu agama sehingga diberi kepercayaan untuk mengajar pula di rubath tersebut.

Habib Ahmad yang tidak pernah jemu menuntut ilmu turut menangguk ilmu di Rubath Tarim dengan para ulama yang mengajar di sana, diantaranya al-‘Allamah al-Habib ‘Abdullah bin Umar asy-Syathiri (wafat 1361 H), al-‘Allamah al-Habib ‘Abd al-Baari bin Syeikh al-Aidarus dan lainnya.

Tatkala usia Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad menginjak 20, beliau telah dibawa oleh gurunya Habib ‘Alwi bin Thohir al-Haddad ke Indonesia. Di Indonesia selain berdakwah, beliau bertemu dan meneruskan pengajian dari kalangan Saadah ‘Alawiyyin di sana.

Kemudian beliau pergi ke Mukalla (Ibu kota Provinsi Hadhramaut sekarang) untuk belajar kepada al-‘Arifbillah al-Habib Ahmad bin Muhsin al-Haddar. Beliau adalah salah satu guru yang banyak memberi kesan dari sudut rohani kepada al-Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad.

kenya1

Berdakwah ke Afrika

Pertama kali al-Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad mengembara ke Afrika Timur untuk berdakwah ialah pada tahun 1347H. Beliau memasuki walayah Zanzibar dan disambut dengan penuh penghormatan. Ketika itu di Zanzibar terdapat seorang ulama bernama al-Habib ‘Umar bin Ahmad bin Sumaith. Pada bulan Ramadhan, al-Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad tinggal di Masjid Jami’ dan mengajar tafsir al-Quran.

Pada tahun 1375H (1955), beliau berhijrah ke Kampala, Uganda dan menetap di situ sekitar 13 tahun. Selama berdakwah Habib Ahmad dengan sungguh-sungguh dan gigih memanfaatkan waktu dan tenaga beliau, untuk menyeru umat kepada agama yang diridhai Allah.

Beliau menembus hutan dan melintasi gurun untuk sampai ke perkampungan-perkampungan di Afrika seperti kawasan daerah Aqzam, sebuah kawasan pedalaman yang terpencil di Conggo. Dan hasil dari kegigihan dan kesungguhan beliau berdakwah, sepanjang berada di bumi Afrika, ratusan ribu yang memeluk Islam ditangan beliau.

Di samping itu beliau turut mengorbankan harta bendanya untuk agama dengan membangun sejumlah masjid dan madrasah dalam rangka dakwahnya di sana. Untuk memudahkan usaha dakwahnya, beliau mempelajari bahasa Swahili yaitu bahasa yang digunakan oleh penduduk Timur Afrika. Dalam pergaulan sehari-hari, beliau mengunakan bahasa Swahili untuk berkomunikasi.

Wafat

Pada penghujung hayatnya, beliau sering bolak balik dari Afrika ke Makkah dan Madinah. Tatkala usia beliau semakin lanjut, beliau memilih untuk menetap di Jeddah bersama ahli keluarga beliau. Pada hari Rabu, 14 Rajab 1416 H / 6 Disember 1995 M, di Jeddah dalam usia hampir 90 tahun, beliau kembali kerahmatullah. Jenazah beliau disholatkan di Jeddad, kemudian dibawa ke Makkah dan disholati lagi di hadapan Ka’bah al-Musyarrafah sebelum dimakamkan di Hauthah Saadah al-‘Alawiyyin di Jannatul Ma’la.

Sumber :
indo.hadhramaut.info

Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?

Bermula dari Silsilah yang disusun oleh Kyai Sudja’, murid KHA Dahlan, yang bersumber dari dokumen Kitab Ahlul Bait. Diperoleh informasi Pendiri Muhammadiyah, Ki Haji Ahmad Dahlan merupakan keturunan Sunan Prapen (Sunan Giri ke-4), dengan rincian sebagai berikut :
Kyai Ahmad Dahlan bin Kyai Abu Bakar bin Kyai Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadha bin Kyai Ilyas bin Demang Jurang Juru Kapindo bin Demang Jurang Juru Sapisan bin Ki Ageng Gribig Jatinom (Maulana Sulaiman) bin Sunan Prapen (Sunan Giri IV).

Dengan semakin berkembangnya ilmu nasab, beberapa pihak mencoba meneliti kembali Nasab tersebut, dan hasilnya terdapat kejanggalan yakni jarak antara Sunan Prapen (semasa dengan kehidupan Sultan Hadiwijaya Pajang), dengan Ki Ageng Gribig (semasa dengan kehidupan Sultan Agung Mataram), terdapat jarak sekitar 2 generasi. Untuk mencari 2 generasi yang hilang itu, penyelusurannya dicoba dicari dengan meneliti beberapa silsilah yang beredar di masyarakat.

Kyai Dahlan, keturunan Sunan Giri dan Sunan Tembayat

Dari beberapa informasi yang di dapat, diketahui bahwa Ki Ageng Gribig terhitung sebagai keturunan Sunan Giri, melalui jalur ibunya yang bernama Raden Ayu Ledah atau RA. Seledah. Dan diduga ibu beliau ini, merupakan salah seorang anak dari Sunan Prapen. (Sumber : Makam Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten,  Simbah Kyahi Ageng Gribig Jatinom, Wisata Ziarah di Klaten (2)).

Setelah menemukan hubungan genealogy, antara KH. Ahmad Dahlan dengan Trah Sunan Giri (melalui jalur ibu), muncul pertanyaan bagaimana Silsilah KH. Ahmad Dahlan, melalui jalur ayah ?

Dari beberapa silsilah yang kami peroleh, Kyai Gribig memiliki nama Syekh Wasibagno Timur, merupakan putra dari Syekh Wasibagno III atau Raden Mas Guntur atau Bandara Putih atau Prabu Wasi Jaladara (Sumber : Kabupaten Klaten, Tradhisi Ya Qawiyyu, Simbah Kyahi Ageng Gribig Jatinom).

Dari sang ayahanda Ki Wasibagno III, hampir semua silsilah menyatakan sampai kepada Brawijaya. Banyak orang menduga Brawijaya yang dimaksud adalah Prabu Brawijaya V, yang merupakan Raja terakhir Majapahit.

Akan tetapi yang membingungkan dari semua Silsilah itu menulis Ki Ageng Gribig adalah keturunan ke-3 dari Brawijaya. Padahal jika kita menggunakan timeline, setidaknya beliau adalah keturunan ke-5 dari Prabu Brawijaya V.

Berdasarkan buku berjudul Benturan budaya Islam: puritan & sinkretis, Oleh Sutiyono, Ahmad Dzulfikar, Sutiyono. Di dalamnya diceritakan Ki Ageng Gribig, adalah keturunan ke-5 Brawijaya, dengan puteri Sunan Giri. Jika yang dimaksud Brawijaya disini adalah Raja terakhir Majapahit, jelas sangat keliru. Karena masanya cukup jauh diatas masa Sunan Giri, apalagi generasi anaknya.

Di dalam buku itu juga ditulis tentang Brawijaya yang masuk Islam dan meyebar Islam di daerah Bayat. Jadi jelas yang dimaksud Brawijaya disini adalah Sunan Bayat atau Sunan Tembayat, yang hidup sekitar 2 generasi setelah Prabu Brawijaya V, dan terhitung sebagai cucu menantunya (salah seorang istri Sunan Tembayat adalah Nyi Ageng Kaliwungu binti Sunan Katong bin Prabu Brawijaya V)

Bisa dibaca disini : budaya Islam: puritan & sinkretisKORELASI TATA RUANG RUMAH KUNO DI KRAJAN KULON TERHADAP TATA RUANG KOTA KALIWUNGU

Dengan berpedoman kepada catatan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi, pada tahun 1979. Sunan Tembayat adalah putera Sayyid Abdul Qadir bin Maulana Ishaq. Ayahnya diangkat menjadi Bupati Semarang Pertama, atas arahan Sunan Giri, dan bergelar Sunan Pandan Arang.

Sementara ibu Sunan Tembayat adalah Syarifah Pasai, yang merupakan adik Pati Unus (Sultan Demak yang ke-2) (Sumber : SEJARAH & NASAB SUNAN BAYAT & SUNAN PANDANARAN).

Dengan berdasarkan kepada sumber-sumber silsilah yang ada, diperoleh Silsilah KH. Ahmad Dahlan (melalui jalur Sunan Tembayat), sebagai berikut :

Keterangan :

1. Silsilah Sunan Tembayat sampai kepada Rasulullah

01. Sunan Tembayat @ Sunan Bayat @ Sunan Pandanaran II, menikah dengan Nyi Ageng Kaliwungu binti Sunan Katong bin Prabu Brawijaya V

02. Maulana Islam @Ki Ageng Pandanaran @Sunan Pandanaran I @Sayyid Abdul Qadir @Sunan Semarang, menikah dengan adik Pati Unus (Maulana Abdul Qadir) yang bernama Syarifah Pasai bin Raden Muhammad Yunus bin Syekh Abdul Khaliq al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi bin Imam Muhammad Al Faqih Al Muqaddam bin Ali Ba Alawi bin Muhammad Shohib Mirbath

03. Maulana Ishaq
04. Syeikh Ibrahim Asmoro
05. Jamaluddin Akbar
06. Ahmad Syah Jalal
07. Abdullah
08. Abdul Malik
09. Alwi Ammi Al-Faqih
10. Muhammad Shohib Mirbath
11. ‘Ali Khali Qasam
12. ‘Alwi Shohib Baiti Jubair
13. Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah
14. ‘Alwi al-Mubtakir
15. ‘Ubaidillah
16. Ahmad Al-Muhajir
17. ‘Isa An-Naqib
18. Muhammad An-Naqib
19. ‘Ali Al-’Uraidhi
20. Ja’far Ash-Shadiq
21. Muhammad al-Baqir
22. ‘Ali Zainal ‘Abidin
23. Imam Husain Asy-Syahid
24. Fathimah Az-Zahra
25. Nabi Muhammad Rasulullah

2. Berdasarkan Silsilah yang dibuat Kyai Sudja’, Ki Ageng Gribig adalah keturunan Sunan Giri, melalui jalur laki-laki.

Hal tersebut masih sangat mungkin terjadi, apabila Ki Ageng Gribig (II) yang dalam cerita di masyarakat, disebut manantu Sunan Giri IV/Sunan Prapen, sejatinya adalah anak dari Sunan Giri  IV/Sunan Prapen.

3. Kisah seputar Ki Ageng Gribig yang beredar di masyarakat

01. Tentang Ki Ageng Gribig  sebagai putra Brawijaya. Berdasarkan buku Benturan budaya Islam: Puritan & Sinkretis, yang dimaksud Brawijaya adalah Sunan Tembayat.

Sunan Tembayat memiliki putra bernama Wasibagno yang bergelar Ki Ageng Gribig I.

02. Tentang ibu Ki Ageng Gribig yang berasal dari trah Sunan Giri. Berdasarkan timeline, orang yang dimaksud adalah Raden Ayu Ledah binti Sunan Giri IV (Sunan Prapen) bin Sunan Giri II (Sunan Dalem Wetan) bin Sunan Giri (Maulana Ainul Yaqin), yang merupakan istri dari Ki Ageng Gribig II.

03. Tentang Ki Ageng Gribig, yang menjadi pelopor acara “Yaqowiyu”,  yang dimulai pada sekitar tahun 1589 Masehi atau 1511 Saka. Orang yang dimaksud adalah Ki Ageng Gribig III, yang sekaligus juga guru Sultan Agung Mataram.

04. Tentang Ki Ageng Gribig, yang menikah dengan Raden Ayu Emas Winongan (adik Sultan Agung Mataram). Orang yang dimaksud adalah Ki Ageng Gribig IV, sekaligus juga orang yang berjasa dalam memadamkan gejolak politik di Palembang (tahun 1636 Masehi).

05. Tentang Ki Ageng Gribig, yang menjadi ayah dari Demang Juru Sapisan (terdapat di dalam silsilah yang dibuat Kyai Sudja’). Orang yang dimaksud adalah Ki Ageng Gribig IV.

4. Kisah dan Fakta, tentang Ki Ageng Gribig (III) pelopor acara “Yaqowiyu” di Jatinom Klaten :

1. Ki Ageng Gribig (III) pertama kali melaksanakan acara “Yaqowiyu”, sepulang dari ibadah haji, tepatnya tanggal 15 Sapar 1511 H (tahun 1589M).

2. Ki Ageng Gribig (III) diceritakan sebagai keturunan ke-5 dari Prabu Brawijaya V (raja terakhir Majapahit)

Urutan Silsilah….

= 00. Prabu Brawijaya V

= 01. Sunan Katong/Raden Jaka Pitutur/Raden Arakkali (adipati Ponorogo)

= 02. Nyi Ageng Kaliwungu (istri Sunan Tembayat/Brawijaya Wekasa)

= 03. Raden Jaka Dholog/Ki Ageng Jatinom/Resi Bagna/Wasibagno/Ki Ageng Gribig (I)

= 04. Pangeran Rangkaknyawa/Pangeran Watijiwa/Ki Ageng Pangkaknyana/Wasijiwa/Ki Ageng Gribig (II)
(Di dalam silsilah yang lain disebut Syekh Wasibagno III/Raden Mas Guntur/Bandara Putih/Prabu Wasi Jaladara, dan diceritakan memiliki istri bernama Raden Ayu Ledah/Raden Ayu Seledah keturunan Sunan Giri)

= 05. Kyai Getayu/Ki Ageng Gribig (III)
(Di dalam silsilah yang lain disebut Syekh Wasibagno Timur/Syekh Wasihatno)

3. Ki Ageng Gribig (III) adalah Guru Sultan Agung Mataram. Dan anaknya Ki Ageng Gribig (IV), membantu Sultan Agung dalam mengatasi gejolak politik di Palembang (tahun 1636M), serta menjadi adik ipar Sultan Agung Mataram.

Catatan Tambahan

(*) Berdasarkan kitab Al-Mausuu’ah Li Ansaab Itrati Al-Imam Al-Husaini, Jakarta: Penerbit Madawis, Cetakan 1, 2011…

Al-Imam Maulana Husain Jamaluddin Jumadil Kubro, dilahirkan pada tahun 1270 M di negeri Nasarabad, dan wafat di Wajo tahun 1453 M. Jadi usianya 183 tahun.

Melalui istrinya yang bernama Puteri Syahirah atau Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) binti Sultan Baki Shah ibni al-Marhum Sultan Mahmud, Raja of Chermin dari Kelantan Malaysia (menikah tahun 1390M), beliau dikarunia-i 2 anak, yaitu :
– Sayyid ‘Ali Nurul Alam (lahir tahun 1402M)
– Sayyid Muhammad Kebungsuan (lahir tahun 1410M)
(Sumber : Al-Imam Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan)

(*) Melalui penyelusuran yang dilakukan salah seorang keluarga KH. Ahmad Dahlan (sdr. Diah Purnamasari Zuhair), berkesimpulan bahwa Batara Katong, Sunan Geseng, dan Ki Ageng Gribig I, memiliki hubungan kekerabatan, namun mereka adalah orang yang BERBEDA.

Dengan alasan sebagai berikut :

1. Makam Batara Katong terletak di Jenangan-Ponorogo-Jawa Timur. Beliau memang tinggal di Jenangan. Makam tersebut terletak tidak jauh dari rumah adik ipar saya.

2. Sunan Geseng berasal dari Bagelen-Purworejo-Jawa Tengah. Makam Sunan Geseng terletak di daerah Gunung Kidul, yang biasa disebut Makam Jolosutro. Kalau membaca sejarah Sunan Geseng (Cokrojoyo I), maka beliau dikenal sebagai Ki Ageng Gribig III karena tinggal di Jatinom (dalam sejarah ditulis bahwa Ki Ageng Gribig III tinggal di Jatinom-Klaten-Jawa Tengah). Beliau juga yang menurunkan bupati-bupati Bagelen, dari putranya yang bernama Raden Joko Bumi, juga menurunkan Patih Cokrojoyo III (Adipati Danureja).

3. Makam Ki Ageng Gribig I terletak di Malang-Jawa Timur, yang jarak tempuhnya sekitar 2-3 jam dari Ponorogo.

Dari letak makam yang berbeda saja sudah bisa dipastikan bahwa Batara Katong bukan Ki Ageng Gribig I juga bukan Sunan Geseng. (Sumber : Diskusi Facebook).

Silsilah KH. Ahmad Dahlan (Berdasarkan revisi sdr. Diah Purnamasari Zuhair)…
silsilahdahlan21a
(*) Pendapat jalur nasab KH. Ahmad Dahlan, melalui Sayyid Muhammad Kebungsuan, juga memiliki beberapa kelemahan.

Mengidentifikasi Sayyid Muhammad Kebungsuan, adalah sosok yang sama dengan Adipati Andayaningrat (ayah Kebo Kanigoro/Batara Katong), sepertinya masih perlu diteliti lagi, dengan alasan…

(1). Kedua tokoh memiliki riwayat kehidupan dan masa periode kehidupan yang berbeda.

(2). Adipati Andayaningrat adalah putera dari Pangeran Bajul Segara, sejak kecil tidak bertemu dengan ayahnya. Sementara Sayyid Muhammad Kebungsuan, ketika kecil telah dibimbing ilmu keislaman langsung dari ayahnya Sayyid Husein Jamaluddin Akbar.

(3). Sayyid Muhammad Kebungsuan berdakwah ke berbagai tempat menyebarkan Islam, sementara Adipati Andayaningrat adalah seorang birokrat Kerajaan Majapahit

4). Berdasarkan Serat Kanda, Adipati Andayaningrat membela Majapahit saat berperang melawan Demak. Sementara Sayyid Muhammad Kebungsuan, tentu akan lebih berpihak kepada Demak, yang didukung oleh keluarganya (Sunan Ampel).

(*) Ada versi yang mengatakan Sayyid Muhammad Kebungsuan, ada 3 orang, yakni :

(1). Sayyid Muhammad Kebungsuan Malaka
(2). Sayyid Muhammad Kebungsuan Mindanau
(3) Sayyid Muhammad Kebungsuan Jawa

Adapun Silsilah Sayyid Muhammad Kebungsuan Jawa, adalah sebagai berikut :

1. Syekh Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra, menikah dengan Puteri Nizamul Muluk (Delhi India, menikah tahun 1309 M), memiliki putera bernama Maulana Muhammad Jumadil Kubra (lahir di Nasarabad India, tahun 1311 M).

Syekh Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubro, wafat tahun 1453, di usia 183 tahun dan dimakamkan di Wajo Sulawesi.

2. Maulana Muhammad Jumadil Kubro, berdasarkan catatan KRT.Hamaminatadipura, adalah orang yang membuka Hutan Mentaok, menjadi sebuah pemukiman, yang dikemudian hari dikenal sebagai Mataram.

Maulana Muhammad Jumadil Kubra, sendiri kemudian dikenal dengan gelar Ki Ageng Mataram I. Makam beliau berada di Gunung Plawangan Turga Kaliurang Yogyakarta.

Salah seorang putera Maulana Muhammad Jumadil Kubro, bernama Maulana Ahmad Jumadil Kubro, yang dikenal sebagai Wali Songo Generasi I.

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, berdasarkan catatan Ki Ageng Walisuci, dalam Babad Mataram Islam, beliau adalah ayah biologis dari Abdurrahman Jumadil Kubra, dan setelah dewasa lebih dikenal sebagai Raden Lembu Peteng atau Ki Bondan Kejawan.

Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubro, lokasi makamnya berada di Troloyo Mojokerto. Berdasarkan catatan silsilah Roro Tenggok (Roro Sekar Rinonce) binti Ki Kebo Kanigoro, Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubro merupakan ayah dari Pangeran Handayaningrat (Jaka Sengara) atau dikenal juga sebagai Sayyid Muhammad Kebungsuan (Jawa).

4. Pangeran Handayaningrat (Jaka Senggara/Sayyid Muhammad Kebungsuan (Jawa)), merupakan suami dari Raden Ayu Retno Pambayun

Dari pernikahan ini, beliau memiliki putera bernama Ki Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging, ayahanda Jaka Tingkir) dan Ki Kebo Kanigoro (Kyai Ageng Purwoto Sidik Banyubiru).

5. Ki Kebo Kanigoro (Kyai Ageng Purwoto Sidik Banyubiru, Sukoharjo Jawa Tengah), dalam salah satu versi merupakan Leluhur dari KH. Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah.

(*) Berdasarkan Tedhak Dermayudan, di daerah Gribik (Sengguruh Jawa Timur) bermukim seorang putra Sunan Giri bernama Pangeran Kedhanyang. Dikisahkan Pangeran Kedhanyang berhasil menahan serangan Adipati Sengguruh (Malang) di tahun 1535, sehingga daerah Jaha, Wendit, Kipanjen, Dinaya dan Palawijen masuk Islam.

Peristiwa peperangan antara Giri Kedaton dan Sengguruh (Malang) terjadi pada masa Sunan Giri II (Sunan Dalem), jadi kemungkinan  Pangeran Kedhanyang adalah putera dari Sunan Giri II (Sunan Dalem) bin Sunan Giri I.

Apakah Pangeran Kedhanyang, kelak akan bergelar Ki Ageng Gribig I, yang kemudian menjadi leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan ? (sumber : ngalam.id). Selengkapnya pembahasan versi ini, bisa kunjungi : Misteri Ki Ageng Gribig, Leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) ?

sililahad1

(*) Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan, dengan Keluarga Pondok Pesantren Gontor Ponorogo (Sumber : Silsilah Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dengan Keluarga Pesantren Gontor Ponorogo).

silsilahulama

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi Tambahan :

Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Sunan Giri, Pendidik yang Ahli Fiqih

MUHAMMADIYAH, terancam GAGAL?

Mengapa NEDERLAND disebut BELANDA?

Jika kita bertanya…

Mengapa masyarakat di Nusantara, menyebut Nederland sebagai Belanda? Mungkin orang Nederland sendiri akan bingung menjawabnya…

Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, mari kita kembali membuka lembaran sejarah, 360 tahun yang silam…

Mudzakarah Ulama se-rumpun Melayu

Tidak jauh dari kota Palembang, tepatnya di sekitar daerah Pagar Alam, pada tahun 1650 M (1072 H), pernah berkumpul sekitar 50 alim ulama dari berbagai daerah, seperti dari Kerajaan Mataram Islam, Pagaruyung, Malaka dan sebagainya.

Tokoh utama pertemuan itu, adalah Syech Nurqodim al Baharudin (Puyang Awak), salah seorang keturunan dari Sunan Gunung Jati. Trahnya adalah melalui puterinya Panembahan Ratu, yang menikah dengan Danuresia (Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang).

Hasil dari Mudzakarah Ulama abad ke-17, yang dipelopori oleh Syech Baharudin, antara lain:

1. Memunculkan perluasan dakwah Islam. Dengan demikian, paham animisme yang masih berkembang di masyarakat semakin berkurang dan terkikis.

2. Munculnya kader-kader mujahid, yang mengadakan perlawanan terhadap penjajah Eropa.

Sumber : “Sejarah Mudzakarah Ulama abad ke-17”, yang dimuat di http://al-ulama.net


Dari peristiwa Mudzakarah inilah, munculnya istilah Belanda sebagai sebutan bagi bangsa Netherland, yang dianggap berniat menguasai Nusantara ketika itu. Adapun makna kata Belanda, berasal dari kata belahnde (belah = memecah, nde = keluarga).

Dan dengan menyebarnya, istilah Belanda ke seluruh pelosok Nusantara, menjadikan bukti bahwa hasil Mudzakarah tahun 1650M telah menjadi satu “Konsensus Nasional“.

Sementara disekitar tempat terjadinya peristiwa Mudzakarah, dinamai semende, yang bermakna satu keluarga (seme = same = sama = satu; nde = keluarga), yang merupakan lawan dari kata Belanda.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Kesimpulan Sementara…

1. Pada awalnya istilah Belanda, kemungkinan bermula dari kata Holland atau Hollander, sebagaimana yang sering diucapkan oleh para pendatang yang berasal dari Nederland.

2. Kemudian kata Hollander berubah menjadi Hollanda, yang merupakan bentuk penyesuaian dari pengucapan penduduk pribumi Nusantara.

3. Pada perkembangan berikutnya, kata Hollanda berubah menjadi Belanda, yang awalnya adalah akronim sindiran yang diperuntukkan bagi kaum yang berniat memonopoli perekonomian, dengan cara-cara yang kurang terpuji.

4. Akronim sindiran itu sendiri muncul pada peristiwa Mudzakarah tahun 1650, yakni dari kata belahnde (belah = memecah, nde = keluarga).

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. Misteri 9 Sahabat Rasulullah, yang berdakwah di NUSANTARA?
3. Syeikh Siti Jenar Menggugat, kultur “Kawula Gusti” dalam Budaya Nusantara?
4. [Misteri] H.O.S. Tjokroaminoto (Guru Presiden Soekarno), yang pernah dikunjungi Rasulullah?