Tag Archives: demak

Misteri Kekerabatan Sultan Trenggono Demak dengan Keluarga Pendiri Kerajaan Palembang?

Berdasarkan tulisan sejarawan Purwadi dalam bukunya Sejarah Raja Raja Jawa, Sultan Trenggono memiliki dua permaisuri yakni putri dari Nyai Ageng Malaka dan putri dari Sunan Kalijaga.

Dari referensi yang lain, Sultan Trenggono berdasarkan pendapat sejarawan Kartodirjo dalam bukunya Sejarah Nasional Indonesia, memiliki gelar Ki Mas Palembang dan merupakan menantu dari Penguasa Palembang Arya Damar.

Berdasarkan penyelusuran genealogy, dari kedua permaisuri ini Sultan Tranggana memiliki beberapa anak yakni:

Dari Putri Arya Damar/Nyai Ageng Maloko, menurunkan :
1. Ratu Pembayun
2. Sunan Prawoto
3. Ratu Mas Pemancingan menikah dengan Panembahan Jogorogo ing Pemancingan
4. Retno Kencana (Ratu Kalinyamat) menikah dengan Pangeran Hadiri (Penguasa Jepara)
5. Ratu Mas Ayu menikah dengan Pangeran Orang Ayu putra Pangeran Wonokromo
6. Ratu Mas Kumambang

Dari Kanjeng Ratu Pembayun (Putri Sunan Kalijaga), menurunkan :
7. Pangeran Timur, Panembahan Madiun, Bupati I Kadipaten Madiun
8. Ratu Mas Cempaka, menjadi Permaisuri Sultan Hadiwijaya Pajang bergelar Ratu Mas Pajang.

Dari beberapa fakta diatas, nampaknya yang dimaksud dengan putri dari Nyai Ageng Maloko adalah indentik dengan sosok putri dari Arya Damar Bupati Palembang.

Seperti pernah dibahas dalam artikel 5 sosok Arya Damar, ternyata Arya Damar tidak hanya satu orang saja, tapi ada beberapa tokoh. Dengan melihat timeline yang ada kemungkinan yang dimaksud Arya Damar disini adalah Adipati Karang Widara (Penguasa Palembang sekitar 1488-1500) atau Pangeran Sido ing Lautan (Penguasa Palembang sekitar 1500-1512), lihat sumber: Misteri Penguasa Palembang….

1) Adipati Karang Widara (Penguasa Palembang sekitar 1488-1500) 

Di dalam buku Dwitri Waluyo yang berjudul “
Indonesia The Land of 1000 Kings” disebutkan Ratu Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggono dari istrinya yang merupakan anak perempuan Arya Damar, Adipati Palembang.

Ada kemungkinan yang dimaksud “Arya Damar” disini adalah Adipati Karang Widara yang oleh sebagian sejarawan menganggap indentik dengan cucu Arya Damar bernama Pangeran Surodirejo bin Raden Kusen bin Arya Damar.

Namun jika kita urut kronologis sejarah dari masa kehidupan Raden Kusen (perkiraan lahir tahun 1450), kemudian Raden Surodirejo (perkiraan lahir tahun 1470), maka putri tertua Raden Surodirejo masih terhitung satu generasi dengan Ratu Kalinyamat dan Sunan Prawoto.

Dengan demikian, sosok Raden Surodirejo hampir mustahil merupakan mertua dari Sultan Trenggono atau dengan kata lain Raden Surodirejo bukan Adipati Karang Widara.

Dalam bagan silsilah diatas Pangeran Sido ing Lautan adalah indentik dengan Pangeran Sabrang Lor putra sulung Raden Fattah. Dalam versi ini Pangeran Sido ing Lautan wafat pada tahun 1521.

2) Pangeran Sido ing Lautan (Penguasa Palembang sekitar 1500-1512)

Dalam versi ini Pangeran Sido ing Lautan merupakan Panglima Perang semasa Raden Fattah ayahanda Sultan Trenggono. Dia adalah pengikut setia Raden Fattah dan sangat logis jika keduanya mengikat tali kekeluargaan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan:

1. Di dalam silsilah Palembang sendiri tertulis nama istri dari Pangeran Sido ing Lautan sebagai putri dari Kiai Geding Maluku. Dalam abjad arab melayu “Maluku” bisa dibaca “Malaka” atau “Maloko” atau “moloko“.

Dalam catatan tersebut, Pangeran Sido ing Lautan memiliki anak:
a). Nyai Gedih Pinatih
b). Kiai Geding Suro Tuo
c). Sangaji Kidul
d). Nyai Gedih Karang Tengah
e). Kiai Arya Kebon Jadi
f). Nyai Gedih Ilir yang bersuami Kiai Geding Ilir (Ki Mas Ilir)

Melalui putrinya bernama “Nyai Gedih Ilir”, Pangeran Sido ing Lautan memiliki seorang cucu bernama Kiai Gede ing Suro Mudo yang dikemudian hari menjadi penerus Penguasa Kerajaan Palembang.

2. Berdasarkan hasil penyelusuran ada kemungkinan yang maksud dengan Kiai Geding Maluku terkait dengan salah seorang menantu Sunan Ampel yang bernama Kiai Usman yang menikah dengan Siti Syari’ah binti Sunan Ampel. Pasangan suami istri ini dikabarkan sempat tinggal di Kailolo Pulau Haruku Maluku Tengah.

Setelah suaminya wafat, Siti Syari’ah pulang ke Jawa dan dikenal dengan nama Nyai Gede Moloko. Berdasarkan Sejarah Lasem, sekitar tahun 1475 Nyai Gede Moloko  menikah dengan Pangeran Bodro Negoro.

Dari pernikahan dengan Pangeran Bodro Negoro ini, Nyai Gede Maloko memiliki putri yang bernama Solikhah dan menikah dengan seorang penguasa dari Demak.

Ada yang menganggap penguasa Demak tersebut Raden Fattah, namun agak janggal karena Raden Fattah juga menikah dengan putri Sunan Ampel yang bernama Dewi Murtasimah. Dan dalam ajaran Islam ada larangan menghimpun menikahi seorang wanita dan keponakannya.

3. Keberadaan jalur keturunan Sunan Ampel di Kerajaan Palembang juga diungkap Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad, dalam bukunya Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh. Sayid Alwi menulis:”… tetapi yang disebut keturunannya adalah dari Zainal Akbar yang berketurunan raja-raja Palembang, pangeran-pangeran dan raden-raden di Palembang, juga sunan Giri dan Sunan Ampel”.

Dari berbagai sumber literatur, diperoleh diagram hubungan kekerabatan antara Keluarga Ampel Denta dengan Kerajaan Palembang.

Catatan: Data Silsilah ini masih perlu dikaji lebih mendalam

4. Berdasarkan buku “Sekilas Tentang Terung Sebagai Sebuah Peradaban Sejarah Dan Raden Ayu Putri Ontjat Thanda Wurung“, Raden Kusen memiliki empat istri, yakni:

a) Nyai Wilis (cucu Sunan Ampel), memiliki anak bernama:
– Raden Surodirejo yang kemudian menjadi Adipati Palembang bergelar Adipati Widarakandang
– Arya Terung yang menjadi Adipati Sengguruh
– Arya Blitar (Adipati Blitar)

b) Mas Ayu Cendana binti Bhre Pakembangan, memiliki anak bernama:
– Mas Ayu Kriyan (Ratu Pradabinabar) yang dinikahi oleh Sunan Kudus
– Mas Ayu Winong dinikahi oleh Pangeran Kanduruwan bin Raden Patah yang menjadi Adipati Sumenep
– Mas Ayu Sedeng Kaputren yang disebut masyarakat dengan nama Raden Ayu Putri Ontjat Tandha.

c) Nyai Wonokromo, memiliki anak bernama:
– Pangeran Tundhung Musuh (Adipati Surabaya)
– Pangeran Arya Lena (Adipati Surabaya)
– Pangeran Jabug (Adipati Surabaya)

d) Nyai  Mertasari, memiliki anak bernama:
– Raden Santri (Adipati Sumedang)

5. Salah satu tokoh penting di dalam silsilah keluarga Kraton Mataram adalah Ratu Mas Cempaka. Ratu Mas Cempaka merupakan salah seorang putri Sultan Demak Pangeran Hadipati Trenggono (Raden Tranggana).

Melalui pernikahan Ratu Mas Cempaka dan Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya Pajang) melahirkan Pangeran Benawa yang merupakan ayahanda dari Dyah Banowati permaisuri Sultan Mataram kedua yakni Panembahan Hadi Prabu Hanyorowati.

Dyah Banowati merupakan ibu dari Sultan Agung, yang kemudian menurunkan keluarga Kraton Mataram yang saat ini terpecah menjadi Kraton Surakarta, Kraton Pakualam, Kraton Mangkunegaraan dan Kraton Ngayagyakarta Hadiningrat.

Misteri Raden Fattah, dalam pusaran konflik menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit ?

Dalam upaya meningkatkan hubungan baik dengan kelompok Islam, Maharaja Majapahit Sri Adi-Suraprabhawa (1466-1468), mengangkat Raden Fattah sebagai Pecat Tandha di Bintara, yakni pejabat bawahan adipati Demak.

Tidak lama diangkat sebagai Pejabat Kerajaan Majapahit, Raden Fattah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung di Bintara Demak. Pendirian Masjid ini, ditandai candra sengkala, “Naga Mulat Salira Wani”, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 Masehi.


Konflik Keluarga Majapahit 

Pada tahun 1468 M, terjadi huru hara di Ibu Kota Majapahit. Sri Adi Suraprabhawa tidak kuasa melakukan perlawanan. Dengan tubuh penuh luka, ia mengungsi menuju Daha, namun ia mangkat di perjalanan.

Pengganti Sri Adi Suraprabhawa adalah keponakannya bernama Bhre Kretabhumi. Pengangkatan Bhre Kretabhumi, ternyata mendapat banyak penolakan. Mereka yang menolak diantaranya Ario Damar (Ario Dillah), Adipati Palembang dan Dyah Ranawijaya, putera Sri Adi-Suraprabhawa.

Konflik semakin meruncing, ketika tahun 1470 M, Bergota (Semarang) yang merupakan sekutu Palembang, mendapat serangan dari Matahun yang didukung Mataram dan Demak. Akibat serangan ini, Bhatara Katwang Yang Dipertuan Samarang, gugur dan digulingkan dari kekuasaannya.

Penyerangan ini, kemudian dibalas oleh Adipati Palembang Ario Dillah, dengan mengirimkan sekitar 10.000 balatentara, dibantu Raden Patah yang membawa pasukan dari Bintara (Glagah Arum), serta Raden Kusen bersama prajurit dari Terung dan Surabaya, dalam waktu singkat, Bergota (Semarang) berhasil dikuasai.

Kemenangan gemilang ini, menjadi alasan bagi Ario Dillah, untuk mengangkat Raden Fattah sebagai Adipati Demak, untuk menggantikan pejabat lama yang gugur dalam peperangan.

Perebutan Takhta Majapahit 

Kekalahan sekutu Bhre Kretabhumi di Semarang, membuat wibawa Maharaja Majapahit semakin merosot. Bhre Kretabhumi kemudian melakukan siasat merangkul lawan dengan mengakui Raden Fattah sebagai adipati Demak, selain itu Raden Fattah dinyatakan sebagai putera angkatnya dan dianugerahi gelar Arya Sumangsang.

Di daerah pedalaman diam-diam sedang terjadi penyusunan kekuatan besar-besaran yang dilakukan oleh Dyah Ranawijaya. Dyah Ranawijaya tidak sekadar berambisi menuntut hak sebagai pewaris takhta Majapahit, tetapi ia juga menganggap Bhre Kretabhumi bertanggung jawab atas kematian ayahandanya, Sri Adi Suraprabhawa.

Pada tahun 1478 M, yang dikenal sebagai “Sirna Hilang Kertaning Bhumi”, Dyah Ranawijaya membawa ratusan ribu tentara dari Daha, melakukan serangan besar-besaran terhadap ibukota Majapahit.

Selama tiga hari tiga malam ibu kota Majapahit dimangsa keganasan perang. Menjelang hari keempat, sejauh mata memandang hanya ada tumpukan abu hitam dan asap tipis yang mengepul di antara mayat manusia.

Dengan binasanya Bhre Kretabhumi serta luluh lantaknya ibu kota Majapahit, Dyah Ranawijaya mengangkat diri menjadi maharaja Majapahit, dan menggunakan gelar kebesaran Sri Prabu Natha Girindrawarddhana.

Peristiwa serangan Dyah Ranawijaya ke ibukota Majapahit ini, sering kali di salah artikan sebagai serangan yang dilakukan Demak dibawah pimpinan Raden Fattah.  Padahal putra angkat Bhre Kretabhumi ini sama sekali tidak terlibat dalam peperangan.

Referensi :
1. Majapahit
2. Masjid Agung Demak
3. Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar, tulisan Agus Sunyoto
4. Misteri Pasukan “Lebah Emas”, dalam kemelut kekuasaan Kerajaan Majapahit ?
5. 

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Berdasarkan manaqib (sejarah), Raden Fattah lahir pada tahun 1448 M bertepatan dengan 1570 Saka. Ibunya dikenal sebagai Dwarawati Putri Campa. Sementara itu, di dalam buku Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara tulisan Slamet Muljana, diperkirakan Putri Champa wafat pada 1448 M. Hal ini bermakna, tidak lama Raden Fattah dilahirkan, ibundanya wafat (sumber : Manaqib Sultan Fatah, Runtuhnya kerajaan Hindu Jawa).

2. Berdasarkan tahun kelahiran Raden Fattah, diperkirakan ayahanda Raden Fattah adalah Prabu Kertawijaya. Prabu Kertajaya lahir sekitar tahun 1390 dan memerintah Majapahit dalam periode 1447-1451.

Raden Fattah diungsikan ke Palembang, kemungkinan dikarenakan faktor keamanan dan pengasuhan, dimana Raden Fattah sejak bayi sudah ditinggal oleh ibu kandungnya. Ketika hijrah ke Palembang, Raden Fattah dibawa oleh Ratna Subanci (yang sering disalah pahami oleh sebagian orang sebagai ibu kandungnya).

Ratna Subanci adalah salah seorang selir Kertawijaya, yang setelah diceraikan Kertawijaya kemudian diperistri oleh Adipati Ario Dillah (memerintah Palembang, 1445-1486). Kelak dari perkawinan ini melahirkan Raden Kusen Adipati Terung.

3. Dalam versi yang lain, ayahanda Raden Fattah adalah Penguasa Negeri Champa, dimana akibat kemelut yang terjadi di negeri Champa, istrinya bernama diungsikan ke Majapahit dalam keadaan mengandung.

Berdasarkan catatan Al-Habib Hadi bin Abdullah Al-Haddar dan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi, ibunda Raden Fattah bernama Nyai Condrowati binti Raja Brawijaya. Kemungkinan Raja Brawijaya yang dimaksud adalah Kertawijaya, atau dapat juga dikatakan Raden Fattah adalah cucu dari Kertawijaya (sumber : majeliswalisongo).

Kemungkinan lainnya adalah ayahanda Raden Fattah adalah pejabat tinggi Majapahit yang berasal dari Champa dan diangkat menantu oleh Prabu Kertawijaya (sumber : Kekerabatan Majapahit, Champa dan Sunan Ampel).

Dalam naskah Mertasinga, Ratna Subanci (Banyowi) menikah dengan tokoh kepercayaan Ario Dillah bernama San Po Talang (Arya Palembang). Di kemudian hari, San Po Talang juga menikah dengan putri Raden Ario Dillah (sumber : diskusi facebook).

Kisah San Po Talang, yang datang ke Nusantara mencari Sunan Gunung Jati kemungkinan terjadi kekeliruan dan terkontaminasi dengan cerita Pai Lian Bang, yang baru datang ke Palembang, sekitar 30 tahun kemudian.

4. Nama kecil Raden Fatah adalah Raden Hasan, sejak kecil telah mendapat bimbingan dari ayah angkatnya Ario Dillah. Pada saat usia 14 tahun (tahun 1462), Raden Fattah berkelana merantau ke Pulau Jawa dan berguru kepada Kanjeng Sunan Ampel di Surabaya.

Artikel Sejarah Nusantara :
1. [Misteri] Panglima Arya Damar bukanlah Adipati Arya Dillah ?
2.
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

Misteri Pasukan “Lebah Emas”, dalam kemelut kekuasaan Kerajaan Majapahit ?

Lambang “Lebah Emas” merupakan ciri dari panji-panji bendera Pasukan Adipati Palembang Ario Dillah. Pasukan Panji “Lebah Emas” ini, turut serta mendukung Balatentara Demak  dan Caruban (Cirebon) pada sekitar abad 15-16 Masehi.

Pasukan “Lebah Emas” ini selain terlatih, juga diperkuat Para Jawara asal Sumatera bagian Selatan. Mereka juga memiliki persenjataan yang canggih, seperti senapang (senapan atau pemuras) dan gurnita (sejenis bedil ukuran besar). Dan wilayah Palembang di masa Adipati Ario Dillah, juga terdapat Pabrik Mesiu yang besar.

demakmajapahit
Kekuatan Pasukan “Lebah Emas”

Ketika Kadipaten Demak dipimpin oleh Adipati Lembusora. Ia mendapat perintah Maharaja Majapahit Bhre Kertabhumi, untuk menyerang Kadipaten Semarang yang dicurigai melakukan makar. Akibat serangan tersebut, Penguasa Semarang Adipati Bhattara Katwang,  tewas dalam pertempuran.

Peristiwa penyerbuan Lembusora ke Samarang, telah menyulut amarah putera-puteri keturunan Sri Prabu Kertawijaya. Adipati Ario Dillah, yang merupakan sesepuh keluarga ini, membawa armada besar Pasukan “Lebah Emas” dari Palembang.

Anak tiri Ario Dillah, Raden Patah memimpin orang-orang Bintara dan Glagah Arum, sementara puteranya Raden Kusen membawa pasukan dari Terung dan Surabaya. Demikian juga Adipati Andayaningrat yang mengirim pasukan Pengging untuk ikut menghukum Lembusora.

Diserbu dari berbagai penjuru, Lembusora tak mampu untuk melawan. Lembusora sendiri terbunuh di dalam Balai Kadipaten Demak.

Setelah berhasil menguasai Kadipaten Demak, Ario Dillah kemudian menetapkan Raden Patah menjadi adipati Demak. Sementara itu, karena Bhattara Katwang yang memiliki seorang puteri, yaitu Nyai Sekar Kedaton, dinikahkan dengan puteranya, Raden Sahun, kemudian Raden Sahun menggantikan kedudukan mertuanya, menjadi adipati Semarang.

Sementara Maharaja Kertabhumi tidak dapat berbuat banyak, ia sadar sulit baginya menghadapi jaringan “Lebah Emas” pimpinan Adipati Palembang Ario Dillah. Oleh karenanya, ia mengakui Raden Patah sebagai adipati Demak dan  menyatakan Raden Patah sebagai putera angkatnya serta dianugerahi gelar Arya Sumangsang.

Sumber :
Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar, tulisan Agus Sunyoto

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara :

1. [Misteri] Panglima Arya Damar bukanlah Adipati Arya Dillah ?
2. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?

Sayyid Muhammad Kebungsuan, Ulama Malaya yang menjadi Leluhur Raja Jawa?

Di dalam Silsilah Kerajaan Kelantan, nama Sayyid Muhammad Kebungsuan disebut-sebut sebagai leluhur Para Penguasa Kerajaan Demak, Pajang dan Mataram Islam.

Dikalangan ahli sejarah, ada yang telah mencoba menyelusuri kehidupan tokoh ini. Namun dikarenakan minimnya data, keberadaannya masih diselimuti misteri.

silsilah3Silsilah Kerajaan Kelantan (royalark.net)

Sayyid Muhammad Kebungsuan, Ulama dari Negeri Malaya

Sayyid Muhammad Kebungsuan merupakan anak dari Sayyid Husein, sedangkan ibunya bernama Putri Selindung Bulan dari Negeri Chermin.

Ia dilahirkan pada tahun 1410 M (madawis.blogspot.com), dan memiliki saudara kandung bernama Sayyid Ali Nurul Alam.

Sejak kecil, Sayyid Kebungsuan mendapat didikan Keislaman dari ayahnya (trezabmelayu.blogspot.com), dan ketika meranjak remaja, ia mengikuti jejak ayahnya sebagai penyebar dakwah Islam di Nusantara.

Pengetahuannya yang luas tentang Islam, membuatnya menjadi rujukan dikalangan masyarakat muslim. Dan sebagai Ulama, ia banyak memiliki santri, salah satunya Sayyid Ahmad bin Abdullah.

Kelak Sayyid Ahmad ini memberi nama anaknya, persis dengan nama gurunya (assyarif.com), dan dikemudian hari sang anak dikenal sebagai Pendiri Kerajaan Mindanao Filipina.

pajang1
Kerajaan Pajang dan Sayyid Ali

Sekitar akhir abad ke-15, tanah Jawa kedatangan salah seorang keturunan Sayyid Muhammad Kebungsuan, yang bernama Sayyid Ali. Tujuan Sayyid Ali adalah untuk membantu membangun Kerajaan Demak, yang baru saja berdiri.

Selama mengabdi di Demak, Sayyid Ali ditunjuk sebagai Adipati di daerah Pengging, sehingga ia dikenal dengan nama Ki Ageng Pengging.

Pada tahun 1499 M, Sayyid Ali mendapat karunia seorang putra, yang ia beri nama Sayyid Abdurrahman.

Sedari kecil, Sayyid Abdurahman mendapat pendidikan agama, dan juga didikan keprajuritan dari Ki Ageng Tingkir. Sehingga ia dikenal juga dengan nama Jaka Tingkir.

Kelak setelah dewasa, dikarenakan kecakapannya Jaka Tingkir diangkat menantu oleh Penguasa Demak, Sultan Trenggana (wikipedia). Dan dikemudian hari, yaitu tahun 1549 M, Jaka Tingkir mendirikan Kerajaan Pajang, sebagai pengganti Kerajaan Demak yang runtuh akibat konflik internal.

Melalui Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) inilah, keturunan Sayyid Muhammad Kebungsuan berkembang, dan banyak menurunkan para ulama, serta umaro di Nusantara.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Keberadaan Sayyid Ali (Ki Ageng Pengging), sebagai cikal bakal kehadiran keturunan Sayyid Muhammad Kebungsuan di Tanah Jawa, berdasarkan penyelusuran yang dilakukan oleh ahli Nasab, Sayyid Alwi bin Thohir Al-Haddad, Mufti Negeri Johor Malaysia (Sumber : Forum Assyarif).

2. Nasab lengkap Sayyid Muhammad Kebungsuan (Malaya) adalah :

Sayyid Muhammad Kebungsuan (Malaya) bin Husein Jamalludin bin Ahmad Syah Jalal bin Abdulloh Azmatkhan bin Abdul Malik bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shahib Marbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin ‘Alwi Ba’alawi bin Muhammad Baitu Jubair bin ‘Alwi Al-Mubtakir bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al-‘Uraidhi bin Ja’far Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Al-Husain bin Fathimah Az-Zahra binti Muhammad Rasulullah.

3. Kerajaan Mindanao, banyak yang menulis didirikan oleh Sayyid Muhammad Kebungsuan (Sharif Kabungsuwan) bin Ali Zainal Abidin (Makkah – lihat : Sultan of Maguindanao), namun berdasarkan penelitian, sosok yang dimaksud adalah :

Sayyid Muhammad Kebungsuan (Mindanao) bin Ahmad bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin ‘Abdullah bin ‘Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shahib Marbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin ‘Alwi Ba’alawi bin Muhammad Baitu Jubair bin ‘Alwi Al-Mubtakir bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al-‘Uraidhi bin Ja’far Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Al-Husain bin Fathimah Az-Zahra binti Muhammad Rasulullah.

4. Ada pendapat yang mengatakan Sayyid Muhammad Kebungsuan, adalah sosok yang sama dengan Adipati Andayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh).

Namun bila dicermati, kedua tokoh ini terdapat banyak perbedaan dalam riwayat kehidupannya, diantaranya…

(a). Adipati Andayaningrat adalah putera dari Pangeran Bajul Segara, sejak kecil tidak bertemu dengan ayahnya. Sementara Sayyid Muhammad Kebungsuan, ketika kecil telah dibimbing ilmu keislaman langsung dari ayahnya Sayyid Husein Jamaluddin Akbar.

(b). Sayyid Muhammad Kebungsuan berdakwah ke berbagai tempat menyebarkan Islam, sementara Adipati Andayaningrat adalah seorang birokrat Kerajaan Majapahit

(c). Berdasarkan Serat Kanda, Adipati Andayaningrat membela Majapahit saat berperang melawan Demak. Sementara Sayyid Muhammad Kebungsuan, tentu akan lebih berpihak kepada Demak, yang didukung oleh keluarganya (Sunan Ampel).

(d). Sayyid Muhammad Kebungsuan, tidak pernah diriwayatkan tewas dibunuh, sementara Adipati Andayaningrat meninggal saat peperangan, ada versi beliau wafat di tangan Sunan Ngudung.

(e). Dalam beberapa literatur Adipati Andayaningrat, adalah salah seorang murid Syekh Siti Jenar, sementara Sayyid Muhammad Kebungsuan adalah ulama di Malaya, dan bukan murid dari Syekh Siti Jenar

Dari beberapa alasan ini, bisa disimpulkan Sayyid Muhammad Kebungsuan bukan Adipati Andayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh).

5. Sekitar tahun 1445 M, Kerajaan Kelantan diserang oleh  Ayyutthia (Siam). Akibat serangan ini Kerajaan Kelantan mengalami kehancuran, Keluarga besar Sayyid Husein, berpencar ke berbagai tempat.

Sayyid Husein bersama beberapa anggota keluarga pergi menuju tanah Jawa, setelah menetap beberapa lama, Sayyid Husein Jamaluddin Akbar didampingi putranya Sayyid Muhammad Kebungsuan berangkat ke Sulawesi.  (khazanahbendaharaserimaharaja.com, sejarahkelantan.wordpress.com).