Tag Archives: perempuan

Ratu Sinuhun, Feminis Nusantara dari abad ke-17M

Palembang merupakan daerah yang untuk pertama kalinya diterapkan undang-undang tertulis yang berlandaskan syariat Islam di Nusantara. Hal tersebut sebagaimana tercantum di dalam kitab Simbur Cahaya, yang disusun oleh Ratu Sinuhun, cendikiawan wanita asal Palembang

Ratu Sinuhun, sumber: tribunnews.com

Ratu Sinuhun, Sang Cendikia

Tidak banyak tulisan yang membahas riwayat hidup Ratu Sinuhun, orang mengenalnya sebagai  isteri Penguasa PalembangPangeran Sido Ing Kenayan (1636—1642 M), dan salah seorang saudara dari Pangeran Muhammad Ali Seda ing Pasarean, Penguasa Palembang (1642-1643M) (sumber : Palembang dari nama Cina, menjadi negeri Darussalam).

Ratu Sinuhun diperkirakan lahir di Palembang pada sekitar akhir abad ke-16, dan wafat pada tahun 1642M. Ayahnya bernama Maulana Fadlallah, yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Manconegara Caribon.

Di dalam catatan sejarah, Pangeran Manconegara merupakan cikal bakal lahirnya Dinasti Cirebon di Kesultanan Palembang. Sebagaimana diketahui Kesultanan Palembang Darussalam di dirikan oleh Sultan Abdurrahman (Ki Mas Hindi) bin Pangeran Muhammad Ali Seda ing Pasarean bin Pangeran Manconegara Caribon (sumber : Ratu Sinuhun (wikipedia)).

Berdasarkan penyelusuran genealogy, Silsilah Ratu Sinuhun adalah sebagai berikut :

[Ratu Sinuhun] binti [Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara Caribon] bin [Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara] bin [Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo] bin [Sunan Giri atau Maulana Muhammad Ainul Yaqin] bin [Maulana Ishaq] bin [Syaikh Ibrahim Zain al Akbar] bin  [Syaikh Jamaluddin Husain Akbar] bin [Syaikh Ahmadsyah Jalal] bin [Syaikh Abdullah Azmatkhan] bin [Syaikh Abdul Malik al Muhajir] bin [Syaikh Alawi Ammil Faqih] bin [Syaikh Muhammad Shohib Mirbath] bin [Syaikh Ali Khali’ Qasam] bin [Syaikh ‘Alwi Shohib Baiti Jubair] bin [Syaikh Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah] bin [Syaikh ‘Alwi al-Mubtakir] bin [Syaikh ‘Ubaidillah] bin [Imam Ahmad Al-Muhajir] bin [Syaikh ‘Isa An-Naqib] bin [Syaikh Muhammad An-Naqib] bin [Imam ‘Ali Al-’Uraidhi] bin [Imam Ja’far Ash-Shadiq] bin [Imam Muhammad al-Baqir] bin [Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin] bin [Imam Husain Asy-Syahid] bin [Fathimah Az-Zahra] binti [Muhammad Rasulullah]

Sementara dari pihak Ibu, Ratu Sinuhun adalah putri dari Nyai Gede Pembayun binti Ki Gede ing Suro Mudo. Beliau terhitung masih sepupu suaminya (Pangeran Sido ing Kenayan), yang merupakan putra dari Ki Mas Adipati Angsoko bin Ki Gede ing Suro Mudo/Ki Mas Anom Adipati Jamaluddin (sumber : Sejarah Kesultanan Palembang)

Pelopor Feminisme

Kitab Simbur Cahaya, yang disusun Ratu Sinuhun, adalah kitab undang-undang hukum adat, yang merupakan perpaduan antara hukum adat yang berkembang secara lisan di pedalaman Sumatera Selatan, dengan ajaran Islam.

Kitab Simbur Cahaya, terdiri atas 5 bab, yang membentuk pranata hukum dan kelembagaan adat di  Sumatera Selatan, khususnya terkait persamaan gender perempuan dan laki-laki. Dan adalah wajar jika dikatakan, Kitab Simbur Cahaya, adalah tonggak awal Gerakan Feminisme di Nusantara, yang sejalan dengan pemahaman ad-dinul Islam.

Pada perkembangan selanjutnya, ketika Palembang berhasil dikuasai Kolonial Belanda. Sistem kelembagaan adat masih dilaksanakan seperti sediakala, yaitu dengan mengacu kepada Undang UndangSimbur Cahaya, dengan beberapa penghapusan dan penambahan aturan yang dibuat resident.

Berdasarkan informasi dari penerbit “Typ. Industreele Mlj. Palembang, 1922”, Undang Undang Simbur Cahaya terdiri dari 5 bagian, yaitu :

1. Adat Bujang Gadis dan Kawin (Verloving, Huwelijh, Echtscheiding)
2. Adat Perhukuman (Strafwetten)
3. Adat Marga (Marga Verordeningen)
4. Aturan Kaum (Gaestelijke Verordeningen)
5. Aturan Dusun dan Berladang (Doesoen en Landbow Verordeningen)

Salah satu contoh Undang-Undang Simbur Cahaya :
Bab I (Adat Bujang Gadis dan Kawin), Pasal 32 berbunyi…

“Jika bujang gadis berjalan, maka bujang rebut kembang dari kepala gadis lang menarap buih namanya, bujang itu kena denda 2 ringgit” (selengkapnya : Simbur Cahaya (wikipedia))

Kepeloporan Ratu Sinuhun dalam membela hak-hak perempuan, telah mendorong beberapa aktivis untuk mengusulkannya sebagai salah seorang Pahlawan Nasional.

Bahkan pemikiran Ratu Sinuhun masih banyak diyakini masyarakat melayu, seperti adanya denda atau hukuman yang berat, bagi lelaki yang menggangu perempuan (sumber : Ratu Sinuhun, diminta jadi Pahlawan Nasional).

Iklan

(Kehidupan Perempuan Islam) Kesetaraan Gender dan Sumbangan bagi Peradaban

Mereka yang tidak paham dengan Islam, sering kali seenaknya menuduh, “Islam adalah ajaran yang merendahkan martabat kaum perempuan.” Kalau dengan bahasa kerennya sering disebut ‘bias gender’.

Benarkah Islam merendahkan martabat kaum perempuan?

Tuduhan ini, pada kenyataannya berbanding terbalik. Sama sekali tidak benar. Di dalam Islam, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sangat dijaga dan dihormati. Ini bukan hanya aturan asal-asalan, tapi dilandasi oleh firman Allah SWT di dalam Al Qur’an. Dengan tegas dalam QS Al Isra’ ayat 70 dijelaskan kemuliaan seluruh anak cucu Adam, tanpa dibedakan faktor suku bangsa dan jenis kelamin.

Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

Bagi yang masih memusuhi Islam pun bisa menyanggahnya, “Itu kan teori, tapi kenyataannya…? Mana buktinya?”

Tentu saja perkataan mereka itu sebenarnya tidak ada dasarnya. Kesetaraan gender, persamaan hak antara lelaki dan perempuan telah menjadi keseharian yang nyata sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Banyak fakta yang bisa dipaparkan, antara lain sebagai berikut.

Nama-nama Nusaibah binti Ka’b, Ummu Athiyyah al Anshariyyah, dan Rabi’ binti al Muawwadz adalah para sahabat Rasulullah SAW dari kalangan muslimah. Mereka ini turut berjuang di medan perang, melawan penindasan dan ketidakadilan.

Selain itu, Rasulullah SAW juga punya banyak kader ilmuwan muslimah, termasuk ahli pidato seperti ‘Aisyah, Fatimah, Zainab, Sukainah, Zarqo (Zarga) dan Darimiyah.

Selanjutnya di masa Imam Syafi’i, beliau bertemu di Majelis Pengadilan Mesir yang dipimpin oleh Guru Besar Perempuan bernama Nafisah binti Abu Muhammad. Pada masa itu sudah banyak juga guru besar dalam berbagai disiplin ilmu, seperti Muknisa binti Al Malikul Adil, Samiyah binti Hafidz, Zainab binti Abdul Latif, Syahdah Al Katibah binti Ubari dan Mariyam binti Abu Ya’qub.

Di bidang Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), muncul muslimah-muslimah yang ahli ilmu perbintangan (astronomi), seperti Lubanna dari Spanyol, Asma Ibrat dari Turki, Halimah dari Konstantinopel.

Di bidang ilmu kedokteran juga dikenali sosok Ukhte Zahroh, dan masih banyak lagi lainnya.

Jadi, dari uraian singkat itu dapat disimpulkan bahwa kesetaraan gender dalam Islam sudah lama adanya. Bahkan dengan adanya kesetaraan inilah, yang membuat sekelompok perempuan mendatangi Rasullah SAW untuk menyatakan dukungan (bai’at).

Peristiwa itulah yang jadi sebab turunnya QS As Saff ayat 12, “Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan bai’at (janji setia), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Jelas bahwa Islam sangat memuliakan perempuan. Islam tidak pernah menghalangi perempuan untuk berkiprah dan berperan serta secara aktif, demi kemajuan bangsa dan agamanya. Bahkan Islam sangat menghormati perempuan dengan memberinya kesempatan berkarier, tentu saja tidak melepaskan diri dari kodratnya sebagai perempuan.

Yang sering salah kaprah di masyarakat kita, banyaknya perempuan yang menuntut kesetaraan gender yang sama persis dengan laki-laki. Bahkan mereka tidak ‘malu’ menolak kodratnya sebagai perempuan, tidak mau mengurus rumah tangga, tidak mau menikah demi alasan karier, kurang menghormati suami dan tidak menyadari hakikatnya sebagai istri.

Tentunya hal-hal yang seperti itu jelas-jelas salah. Karena Allah SWT menciptakan manusia berpasang-pasangan, dengan kodrat dan fitrahnya masing-masing untuk saling melengkapi dan bekerja sama.