Tag Archives: ahlul bayt

[Misteri] Benarkah Masyarakat Nusantara adalah Zuriat Rasulullah ?

Berdasarkan penelitian sejarawan Sinung Janutama, ia berkesimpulan Nabi Muhammad merupakan leluhur dari Masyarakat Nusantara. Dan apabila tali menali silsilah Penduduk Jawi diselusuri, maka akan terhubung dengan zuriat Rasulullah.

Keberadaan zuriat Nabi Muhammad di Nusantara, berdasarkan catatan dari tanah Aceh dan Kedah telah ada sejak abad ke-2 hijriyah, yang ditandai dengan kedatangan cucunda Sayyidina Hassan, yang bernama Syarif Abdullah al-Kamil.

Misteri Dinasti Al Kamil

Awal mula zuriat Ahlul Bayt di Nusantara, dimulai pada sekitar tahun 750 Masehi, ketika Syarif Abdullah al-Kamil bin Syarif Hassan al-Muthanna bin Sayyidina Hassan radhiallahu ‘anhu, datang ke negeri Jeumpa Aceh. Syarif Abdullah dikisahkan menikah dengan putri setempat. Dari pernikahan ini melahirkan seorang putri yang dikenali sebagai putri Manyang Seuludong (Syarifah Mariam).

Pada sekitar tahun 800 Masehi, salah seorang cucu dari Syarif Abdullah al-Kamil datang ke tanah Aceh bersilaturahim dengan kerabatnya. Dalam kisah masyarakat melayu, ia dikenali sebagai Syarif Ali bin Muhammad Nafs Zakiyah (Nakhoda Khalifah) bin Abdullah al-Kamil.

Di tanah Aceh Syarif Ali Nakhoda Khalifah menikah dengan sepupunya Putri Makhdum Tansyuri ananda dari Syariansyah Salman al-Farisi (Merong Mahawangsa) dengan istrinya putri Manyang Seuludong.

Dari pernikahan ini, kelak melahirkan cikal bakal keluarga Kerajaan Perlak, yaitu Sultan Alaidin Maulana Abdul Aziz Syah (Sultan Perlak, 840-864) dan Dinasti Kedah Islam, yaitu Sultan Hussain Syah Alirah (Sultan Kedah, 840-881). Sementara dari saudara putri Makhdum Tansyuri, yang bernama Meurah Makhdum Syahri Nuri, menumbuhkan Dinasti Makhdum Perlak.

Kehadiran keluarga Ahlul Bayt Rasulullah sejak masa 750 Masehi di Nusantara, yang kemudian beranak pinak menyebar ke semua wilayah, telah menjadi salah satu hujjah tentang sosok Baginda Nabi Muhammad sebagai leluhur masyarakat Nusantara.

Referensi…
1. Mencari jejak Merong : Sheikh Abdul Qadir Shah Alirah, Sultan Siam-Kedah atau Sultan Perlak, kerajaan lama Aceh?
2. Mencari jejak Dinasti Al-Kamil di Muar : Abdullah Al-Kamil, Salman Al-Farisi dan Muhammad Al-Baghdadi di sebalik sejarah Alam Melayu
3. Dinasti al Kamil Kesultanan Perlak
4. Sultan Alirah Shah Kedah (wikipedia.org)
5. Empayar Kedah Tua : Merong Mahawangsa

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Sebagai pembanding. Berdasarkan penelitian DNA, di bumi pada saat ini, ada sekitar 16 juta pria yang merupakan keturunan Genghis Khan. Padahal jarak antara Genghis Khan dengan masa sekarang baru sekitar 850 tahun (sumber : The Genetic Legacy of the Mongols).

Sementara zuriat Nabi Muhammad di Nusantara sudah berusia sekitar 1250 tahun, bahkan lebih dahulu dari masa Sayyid Ahmad al Muhajir di Hadramaut Yaman. Dengan demikian, secara logis maupun science, keberadaan jutaan keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sangat bisa diterima…

2. Salah satu kerabat dekat dari ahlul bayt yang datang ke perlak dan kedah, adalah syarif abdullah shah al ghazi bin syarif muhammad al-nafs al-zakiyya. Beliau merupakan ahlul bayt awal yang mendatangi daerah sindh (India sebelah utara), makamnya saat ini berada di Karachi Pakistan (sumber : wikipedia).

3. Bukti Peninggalan Keluarga Ahlul Bayt Nusantara pada abad ke-9 Masehi, yaitu Makam Raja Perlak pertama :

Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah bin Syarif Ali bin Syarif Muhammad bin Syarif Abdullah al-Kamil bin Sayyidina Hassan al-Muthanna bin Sayyidina Hassan radhiallahu ‘anhu… (sumber : perlak).

4. Penisbatan Kesultanan Perlak sebagai bagian dari Gerakan Syi’ah mungkin kurang tepat. Mengingat susur galur Kesultanan Perlak berasal dari zuriat Sayyidina Hassan, sementara Gerakan Syi’ah merupakan pendukung dari keturunan Sayyidina Hussain.

Alasan lainnya, Kesultanan Perlak sebagaimana Kesultanan Islam di Nusantara tidak saja mencintai ahlul bayt, tetapi mereka juga sangat menghormati para sahabat Rasulullah lainnya, seperti : Sayyidina Abubakar, Sayyidina Umar dan Sayyidina Usman.

Sementara dalam tradisi Gerakan Syi’ah penghormatan yang mendalam kepada para sahabat Rasulullah diluar ahlul bayt, tidak ditemukan.

5. Keberadaan Kerajaan Perlak, tercatat dalam Manuskrip Kuno dalam Kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak, karangan Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy (sumber : atjehcyber.net).

6. Pendapat yang menyatakan keturunan itu harus melalui jalur laki-laki, mungkin perlu ditemukan sumber dalilnya, sebab apabila kita merujuk kepada Al Qur’an, keturunan tidak memandang apakah melalui jalur pria ataupun wanita, sebagaimana bunyi ayat berikut :

“… dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih.” (QS al-An’am [6]: 84-85).

Nabi Isa dikatakan sebagai keturunan Nabi Ibrahim, yakni melalui jalur ibunya Maryam binti Imran.

 

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3. Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola India ?
4. [Misteri] Kudeta Kekuasaan Wangsa Syailendra, dan bangkitnya Trah Keluarga Dapunta Hyang ?

Iklan

[Misteri] Versi Walisongo berasal dari Pasai Aceh, dalam Silsilah Ahlul Bayt Makhdum Perlak ?

Dalam versi Pasai Aceh, Syekh Husein Jumadil Kubro adalah putera dari Sultan Zainal Abdidin (memerintah Kerajaan Samudra Pasai, 1349-1406). Leluhur Syekh Husein berasal dari Dinasti Makhdum, yang mendirikan Kerajaan Perlak pada sekitar abad ke-9 Masehi.

Dari Perlak, Zuriat Dinasti Makhdum kemudian menyebar menjadi kerabat Kerajaan Sriwijaya, Pariangan (Minangkabau), Dharmasraya, Majapahit, Tumasik dan Malaka. Fenomena tersebarnya Zuriat Dinasti Makhdum ini, membuktikan Pengaruh Islam telah ada jauh sebelum era walisongo.

Berikut diagram silsilah kekerabatan Dinasti Makhdum Perlak dan Walisongo versi Samudra Pasai…

>> untuk pembesaran gambar bisa klik picture-nya atau klik disini

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Di kalangan pemerhati sejarah Aceh, tokoh Leluhur Dinasti Makhdum Perlak, yakni Syahriansyah Salman al-Farisi sebagian besar dianggap berasal dari keluarga Bangsawan Persia (Dinasti Sassanid), namun ada juga yang beranggapan Syariansyah Salman merupakan zuriat dari Ahlul Bayt Rasulullah.

2. Salah satu bukti yang menguatkan, bahwa keluarga Syekh Ibrahim Asmoro berasal dari keluarga Makhdum, bisa terlihat dari gelar yang disandang Sunan Bonang, yakni Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Dimana Sunan Bonang adalah anak dari Sunan Ampel bin Syekh Ibrahim Asmara.

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Kolerasi Peristiwa Karbala dengan munculnya Kedatuan Sriwijaya di Palembang ?

Dalil sebutan “Sayyidina” dan pemakaiannya di dalam bacaan Shalat ?

sayyid1
Kita seringkali mendengar kata “Sayyidina”, yang biasanya merupakan panggilan bagi kaum kerabat Rasulullah, baik keluarga maupun sahabat beliau. Berkenaan kata “Sayyid (Sayyidina) ini Syaikh Fuad Abd al-Baqi mendefinisikan, sebagai berikut:

قَالَ الْهَرَوِي السَّيِّدُ هُوَ الَّذِي يَفُوْقُ قَوْمَهُ فِي الْخَيْرِ (صحيح مسلم – ج 4 / ص 1782)
“al-Harawi berkata: Sayid adalah seseorang yang memiliki keunggulan dalam kaumnya dari segi kebaikan” (Catatan dalam Sahih Muslim 4/1782)

– Sayidah Fatimah al-Zahra’

قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَاطِمَةُ سَيِّدَةُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (رواه البخارى)
Rasulullah Saw bersabda: “Fatimah adalah pemuka wanita penduduk surga” (HR al-Bukhari)

– Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar

Rasulullah Saw bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ سَيِّدَا كُهُوْلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنَ الْأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ (رواه الترمذي)
“Abu Bakar dan Umar adalah pemuka orang tua penduduk surga, dari orang terdahulu dan yang akhir” (HR al-Turmudzi)

Terkait hadis ini, ulama Syaikh Albani menilainya sahih dan berkata:

روي عن جمع من الصحابة منهم علي بن أبي طالب و أنس بن مالك و أبو جحيفة و جابر بن عبد الله و أبو سعيد الخدري . (السلسلة الصحيحة – ج 2 / ص 323)
“Hadis ini diriwayatkan dari sekelompok sahabat, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, Abu Juhaifah, Jabir bin Abdillah dan Abu Said al-Khudri” (Silsilah Shahihah 2/323)

Bahkan Sayidina Umar pun menyebut ‘Sayid’ kepada Sayidina Abu Bakar:

قَالَ عُمَرُ بَلْ نُبَايِعُكَ أَنْتَ ، فَأَنْتَ سَيِّدُنَا وَخَيْرُنَا وَأَحَبُّنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – (رواه البخارى)
“Umar berkata: “Tetapi kami membaiatmu (sebagai pemimpin). Engkau (Abu Bakar) adalah pemuka kami, orang terbaik kami dan yang paling dicintai diantara kami oleh Rasulullah Saw” (HR al-Bukhari)

– Sayidina Hasan dan Sayidina Husain

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ – رضى الله عنه – أَخْرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ذَاتَ يَوْمٍ الْحَسَنَ فَصَعِدَ بِهِ عَلَى الْمِنْبَرِ ، فَقَالَ « ابْنِى هَذَا سَيِّدٌ ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ » (رواه البخارى)
Diriwayatkan dari Abu Bakrah, suatu ketika Nabi membawa Hasan dan naik ke atas mimbar. Nabi bersabda: “Anakku ini adalah sayid (pemuka). Semoga Allah menjadikan damai dua kelompok besar dari umat Islam dengan Hasan” (HR al-Bukhari)

Di hadis lain Rasulullah bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (رواه الترمذي)
“Hasan dan Husain adalah sayyid / pemuka pemuda penduduk surga” (HR al-Turmudzi)

Hadis ini dinilai sahih oleh ulama Wahabi, bahkan sudah mencapai derajat Mutawatir karena diriwayatkan dari 10 sahabat:

ورد من حديث أبي سعيد الخدري و حذيفة ابن اليمان و علي بن أبي طالب و عمر بن الخطاب و عبد الله بن مسعود و عبد الله بن عمر و البراء بن عازب و أبي هريرة و جابر بن عبد الله و قرة بن إياس . (السلسلة الصحيحة – ج 2 / ص 295)
“[1] Abu Said al-Khudri, [2] Hudzaifah, [3] Ali bin Abi Thalib, [4] Umar bin Khattab, [5] Abdullah bin Mas’ud, [6] Abdullah bin Umar, [7] al-Barra’ bin Azib, [8] Abu Hurairah, [9] Jabir bin Abdullah, dan [10] Qurrah bin Iyas” (Silsilah Sahihah 2/295)

– Sayidina Bilal bin Rabah

قَالَ (جابر) كَانَ عُمَرُ يَقُولُ أَبُو بَكْرٍ سَيِّدُنَا ، وَأَعْتَقَ سَيِّدَنَا . يَعْنِى بِلاَلاً (رواه البخارى)
“Kata Jabir, Umar berkata: “Abu Bakar adalah pemuka kami dan telah memerdekakan pemuka kami [yakni Bilal]” (HR al-Bukhari)

Di dalam artikel di situs muslimedianews.com, Ust. Muhammad Ma’ruf Khozin menulis :

Jika sudah terbukti nyata bahwa Nabi Muhammad Saw menyebut beberapa sahabat dan keluarganya sebagai ‘Sayid’ bahkan diantara para sahabat pun sudah mengucapkannya, lalu apakah bagaimana bila menyebut kalimat Sayidina kepada Rasulullah Saw? Masihkan disebut bid’ah? Sementara Rasulullah Saw sendiri mengakui bahwa beliau adalah ‘Sayid’:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ (رواه مسلم)
“Aku adalah pemuka anak Adam di hari kiamat, kuburku yang pertama kali terbuka, pertama kali memberi syafaat dan pertama kali yang diterima syafaatnya” (HR Muslim)

tahiyat1

Pemakaian kata Sayyidina, dalam bacaan Shalat

Shalawat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bacaan Tahiyat Shalat, hendaknya tidak dengan menambahkan kata “Sayyidina” di depan nama Rasulullah, sebagaimana pendapat para ulama berikut ini :

1. Al-Qodhi ‘Iyadh 

Ulama besar Madzhab Syafi’i ini membuat satu bab khusus tentang cara bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kitab beliau ‘As-Syifa’.

Beliau menukil beberapa hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para sahabat dan tabiin. Dan tidak ada satupun riwayat dari seorang-pun sahabat, maupun yang lainnya yang menyebutkan lafadz: ‘sayyidina’.

Andaikan tambahan ini dianjurkan, tentu tidak mungkin tidak diketahui oleh mereka semua, sehingga mereka melupakannya. Dan semua kebaikan ada pada sikap mengikuti.

2. Al-Hafidz Ibnu Hajar

Ketika ditanya tentang lafadz shalawat yang benar ketika shalat, beliau menjawab sebagai berikut :

Mengikuti lafadz shalawat yang ma’tsur (sesuai dalil) itu lebih didahulukan. Kita tidak boleh mengatakan: Bisa jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan demikian karena ketawadhuan beliau, sebagaimana beliau tidak membaca shalawat ketika nama beliau disebut, sementara umatnya dianjurkan membaca shalawat ketika nama beliau disebut.

Kami beralasan, andaikan memberikan tambahan ‘sayyidina’ itu dianjurkan, tentu akan dipraktekkan para sahabat, kemudian tabi’in. Namun belum pernah aku jumpai adanya riwayat dari sahabat maupun tabiin yang mengucapkan kalimat itu. Padahal sangat banyak lafadz shalawat dari mereka.

Lihatlah Imam As-Syafi’i –semoga Allah meninggikan derajatnya– beliau termasuk orang yang paling banyak mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau sampaikan dalam pengantar buku beliau, yang merupakan acuan pengikut madzhabnya:

اللهم صلِّ على محمد ، إلى آخر ما أدَّاه إليه اجتهاده وهو قوله : ” كلما ذكره الذاكرون ، وكلما غفل عن ذكره الغافلون

Allahumma shalli ‘ala muhammad, sampai pada ujung usaha perjuangan yang telah beliau tunaikan, yaitu ucapan beliau: ‘ketika orang mengingatnya atau ketika orang lalai melupakannya.’
(Sumber : konsultasisyariah.com)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Rekonstruksi, Silsilah Laksamana Cheng Ho ?

Di dalam perjalanan Sejarah Islam di Nusantara, ada satu tokoh muslim negeri Tiongkok yang sangat terkenal, yaitu Laksamana Cheng Ho.

Laksamana Cheng Ho, ternyata punya banyak nama, antara lain :Zheng He, The Ho, Sam Po (Sam Bao), Sam Po Kong (San Bao Gong), Sam Po Taijin (San Bab Da ren), Sam Po Toa Lang, dan Sam Po Tai Kam (San Bao Taijian). Adapun nama aslinya adalah Ma He.

Cheng Ho sendiri adalah sebuah nama yang diberikan oleh Ming Cheng Tzu atau yang lebih dikenal dengan Kaisar Yong Le (Kaisar Zhu Oi), kaisar ke-23 Dinasti Ming yang berkuasa di Tiongkok dari 1403 -1424.

Jalinan persahabatannya dengan sang kaisar menghantarkan kepadanya anugerah jabatan tinggi dan nama keluarga baru, Cheng. Maka disebutlah dengan nama Cheng Ho.

Menurut sejarah resmi Dinasti Ming (Mingsi), Cheng Ho dilahirkan tahun 1371 M di Distrik Kunyang, Provinsi Yunnan, wilayah yang sudah lama dihuni oleh pemeluk Islam. la dilahirkan dari keluarga miskin etnis Hui di Yunnan. Hui adalah komunitas muslim Cina berdasarkan campuran Mongol-Turki. Ayahnya bernama Ma Hazhi (Haji Ma). Ibunya bermarga Wen.

chengho1
Yang menarik, ahli sejarah bernama Prof Haji Lie Shishou, Cheng Ho disebut-sebut sebagai keturunan Nabi Muhammad saw. Dikatakan, nenek moyang Cheng Ho adalah utusan duta besar negeri Bukhara yang bernama Sayid Syafii (Sumber: Sabili No. 13 TH. XVI 15 Januari 2009 / 18 Muharram 1430, hal 114-121 [Edisi Khusus “The Great Muslim Traveler”])

Adapun silsilah Laksamana Cheng Ho, yang umumnya beredar adalah sebagai berikut :

Cheng Ho (Zheng He, Ma He, Ma Sanbao atau Haji Mahmud Shams 1371–1433) bin Mi-Li-Jin (Ma HaZhi ) bin Mi-Di-Na bin Bai-Yan bin Na-Su-La-Ding bin Sau-Dian-Chi (Sayid Syamsuddin atau Sayid Ajall) bin Ma-Ha-Mu-Ke-Ma-Nai-Ding bin Ka-Ma-Ding-Yu-Su-Pu bin Su-Sha-Lu-Gu-Chong-Yue bin Sai-Yan-Su-Lai-Chong-Na bin Sou-Fei-Er (Sayid Syafi’i) bin An-Du-Er-Yi bin Zhe-Ma-Nai-Ding bin Cha-Fa-Er bin Wu-Ma-Er bin Wu-Ma-Nai-Ding bin Gu-Bu-Ding bin Ha-San bin Yi-Si-Ma-Xin bin Mu-Ba-Er-Sha bin Lu-Er-Ding bin Ya-Xin bin Mu-Lu-Ye-Mi bin She-Li-Ma bin Li-Sha-Shi bin E-Ha-Mo-De bin Ye-Ha-Ya bin E-Le-Ho-Sai-Ni bin Xie-Xin bin Yi-Si-Ma-Ai-Le bin Yi-Bu-Lai-Xi-Mo bin Hou Sai-Ni bin Fatimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad… (sumber : Diskusi Facebook).

Banyak muncul analisa, diantaranya ada yang memaknai Yi-Bu-Lai-Xi-Mo sebagai Ali Zainal Abidin, putra dari Sayidina Husein, namun pendapat ini sangat lemah, karena nama Yi-Bu-Lai-Xi-Mo, jika di arabkan lebih dekat dengan nama Ibrahim.

Namun muncul persoalan, karena jika dicocok-kan dengan catatan para ahli nasab, Sayyidina Husein tidak memiliki putera yang bernama Ibrahim. Jadi siapakah yang dimaksud dengan Yi-Bu-Lai-Xi-Mo (Ibrahim) ini ? dan apa hubungannya dengan  Hou Sai-Ni (Sayidina Husein).

kapal1

Rekonstruksi Silsilah

Melalui tulisan di situs myalexanderwathern.blogspot.com, sang penulis artikel mencoba mencocokan, nama nama dalam Silsilah Laksmana Cheng Ho, ke dalam bahasa Arab, diperoleh :

01. Muhammad (Nabi Muhammad)
02. Fatimah (Fatimah Az Zahra)
03. Hou-Sai-Ni (Saiyidina Husain)
04. Yi-Bu-Lai-Xi-Mo (Ibrahim)
05. Yi-Si-Ma-Ai-Le (Ismail)
06. Xie-Xin
07. E-Le-Hou-Sai-Ni (Al-Husaini)
08. Ye-Ha-Ya (Yahya)
09. E-Ha-Mo-De (Ahmad)

Di dalam, catatan ahli nasab, nama Ibrahim merupakan cucu dari Sayyidina Husein, yaitu melalui puterinya yang bernama Syarifah Fatimah binti Husein ra. Dimana nama dari ayah Ibrahim, adalah Sayyid Hasan al-Muthanna bin Sayidinan Hasan bin Sayidina Ali ra. (suami Fatimah Az-Zahra binti Muhammad Rasulullah).

Jika analisa ini benar, artinya Laksamana Cheng Ho tergolong Ahlul Bayt (jalur Nasab) berasal dari Sayyidina Hasan (saudara kandung Sayyidina Husein).

Analisa ini semakin kuat, setelah diperoleh informasi Sayyid Ibrahim (Yi-Bu-Lai-Xi-Mo), memiliki anak bernama Ismail (Yi-Si-Ma-Ai-Le), bahkan salah satu keturunannya dikenal sebagai Keluarga Al Mahmood, yang saat ini banyak berada di Bahrain, Saudi Arabia, UEA dan Qatar…

Melalui penyelusuran lebih lanjut, kita bisa menemui di situs genealogy geni,com, terdapat nama : ahmad bin al-Hadi ila’l-Haqq Yahya bin Hussain ar-Rassi bin al Qasim bin Ibrahim bin Ismail bin Ibrahim al-jamr bin Hasan Muthanna bin Hasan bin Ali ra… (sumber : ahmad – geni.com).

Dengan menyelaraskan kepada nama-nama yang terdapat di dalam Silsilah Laksmana Cheng Ho, nampaknya Ahmad bin al-Hadi ila’l-Haqq Yahya, sangat mungkin  merupakan E-Ha-Mo-De (Ahmad) bin Ye-Ha-Ya (Yahya).

Sehingga diperoleh informasi Silsilah Laksamana Cheng Ho, setelah direkonstruksi adalah…

01. Muhammad (Nabi Muhammad), berputeri
02. Fatimah az Zahra, yang bersuamikan Ali (Saiyidina Ali ra.), berputera
03. Hou-Sai-Ni (Saiyidina Husain), berputeri

04. Fatimah binti Saiyidina Husain, yang bersuamikan Sayyidina Hasan al Muthanna bin Sayyidina Hasan bin Sayyidina Ali ra… , berputera

05. Yi-Bu-Lai-Xi-Mo (Ibrahim al Jamr), berputera
06. Yi-Si-Ma-Ai-Le (Ismail), berputera

07. Ibrahim, berputera

08. Xie-Xin (al Qasim), berputera
09. E-Le-Hou-Sai-Ni (Al-Husaini ar Rassi), berputera
10. Ye-Ha-Ya (al-Hadi ila’l-Haqq Yahya), berputera
11. E-Ha-Mo-De (Ahmad), … dan seterusnya sampai kepada Laksamana Cheng Ho…

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Nasab Laksamana Cheng Ho (setelah direkonstruksi)

01. Cheng Ho (Zheng He atau Haji Mahmud Shams 1371–1433) bin
02. Mi-Li-Jin (Ma HaZhi ) bin
03. Mi-Di-Na (Madina) bin
04. Bai-Yan bin
05. Na-Su-La-Ding (Nasruddin) bin
06. Sau-Dian-Chi (Sayyid Syamsuddin atau Sayyid Ajall) bin
07. Ma-Ha-Mu-Ke-Ma-Nai-Ding (Mahmud Kamaluddin) bin
08. Ka-Ma-Ding-Yu-Su-Pu (Kamaluddin Yusuf) bin

09. Su-Sha-Lu-Gu-Chong-Yue bin
10. Sai-Yan-Su-Lai-Chong-Na bin
11. Sou-Fei-Er (Sayyid Syafi’i) bin
12. An-Du-Er-Yi bin
13. Zhe-Ma-Nai-Ding (Zainal Abidin) bin
14. Cha-Fa-Er (Ja’far) bin
15. Wu-Ma-Er (Umar) bin
16. Wu-Ma-Nai-Ding (Aminuddin) bin

17. Hu-Fu-Ding bin
18. Mu-Xie (Musa) bin

19. Gu-Bu-Ding (Gulbuddin) bin
20. Ha-San (Hasan) bin
21. Yi-Si-Ma-Xin bin
22. Mu-Ba-Er-Sha (Muhammad Basya) bin
23. Lu-Er-Ding (Jamaluddin) bin
24. Ya-Xin (Yasin) bin

25. Mu-Lu-Ye-Mi bin
26. She-Li-Ma (Salim) bin
27. Li-Sha-Shi bin
28. E-Ha-Mo-De (Ahmad) bin
29. Ye-Ha-Ya (al-Hadi ila’l-Haqq Yahya) bin
30. E-Le-Ho-Sai-Ni (Al-Husaini ar Rassi) bin
31. Xie-Xin (Qasim) bin

32. Ibrahim bin

33. Yi-Si-Ma-Ai-Le (Ismail) bin
34. Yi-Bu-Lai-Xi-Mo (Ibrahim al Jamr) bin

35. Hasan al-Muthanna [menikah dengan Syarifah Fatimah binti Hou Sai-Ni (Husein bin Ali ra.)] bin

36. Hasan bin
37. Fatimah Az-Zahra (istri dari Ali ra.) binti
38. Nabi Muhammad

# Urutan Silsilah (terkecuali no.32,35 dan 36), bersumber dari :
Kong Yuanzhi, Cheng Ho – “Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara”, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011,ms. 37 (myalexanderwathern.blogspot,com)…

# Data silsilah berdasarkan buku “Ahlul Bait Rasulullah SAW & Kesultanan Melayu”, tidak terdapat urutan 17 dan 18. Jadi urutan 16 [Wu-Ma-Nai-Ding (Aminuddin)], adalah putera urutan 19 [Gu-Bu-Ding (Gulbuddin)]…

2. Leluhur Laksamana Cheng Ho, yang bernama Ye-Ha-Ya (al-Hadi ila’l-Haqq Yahya), kemungkinan identik dengan Muhammad al-Hadi Yahi bin Hussain bin al-Qassim al-Mursi bin Ibrahim Tabataba bin Ismail bin Ibrahim bin al-Hasan al-Muthana bin al-Hasan bin Ali ra., sebagaimana terdapat di dalam genealogy Keluarga Al Mahmood

3. Dengan berpedoman kepada silsilah diatas, antara.. (06) Sau-Dian-Chi (Sayyid Syamsuddin atau Sayyid Ajall) (1211–1279) sampai kepada (29) Ye-Ha-Ya (al-Hadi ila’l-Haqq Yahya)  (859 – August 19, 911), terdapat jarak sekitar 352 tahun. Dengan mengambil rata-rata antara generasi sekitar 20-30 tahun, maka Sayyid Ajall diperkirakan adalah generasi ke 12 sampai ke 17, dari Ye-Ha-Ya (Yahya).

Akan tetapi, berdasarkan data yang disusun oleh Kong Yuanzhi, Sayyid Ajall adalah generasi ke-23 dari Ye-Ha-Ya, artinya ada kemungkinan terdapat “generasi yang berlebih”, sekitar 6-11 generasi.

4. Jalur Nasab dari Ye-Ha-Ya sampai kepada Ali ra, bisa terlihat melalui perbandingan 3 Silsilah berikut :

Perhatikan persamaan nama-nama berikut :

1. Silsilah Laksamana Cheng Ho :

28. E-Ha-Mo-De (Ahmad) bin

29. Ye-Ha-Ya (Yahya) bin
30. E-Le-Ho-Sai-Ni (Al-Husaini) bin
31. Xie-Xin (Qasim) bin
32. ……..
33. Yi-Si-Ma-Ai-Le (Ismail) bin
34. Yi-Bu-Lai-Xi-Mo (Ibrahim) bin
35. …….
36. …….
37. Fatimah (isteri Ali ra)
(Sumber : Kong Yuanzhi, Cheng Ho – “Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara”, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011,ms. 37)

2. Silsilah dalam keluarga Al Mahmood :

28. ……..

29. Muhammad al-Hadi Yahi bin
30. Hussain bin
31. al-Qassim al-Mursi bin
32. Ibrahim Tabataba bin
33. Ismail bin
34. Ibrahim bin
35. al-Hasan al-Muthana bin
36. al-Hasan bin
37. Ali
(Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Al_Mahmood)

3. Silsilah Ahmad bin al-Hadi ila’l-Haqq Yahya :

28. Ahmad bin

29. al-Hadi ila’l-Haqq Yahya bin
30. Hussain ar-Rassi bin
31. al Qasim bin
32. Ibrahim bin
33. Ismail bin
34. Ibrahim al-jamr bin
35. Hasan Muthanna bin
36. Hasan bin
37. Ali ra
(Sumber : http://www.geni.com/people/Ahmad/4413238907970084634)

Bani Israel, Humanisme Islam dan Pernikahan Syarifah

Di masa lalu, pernikahan antara Bani Ismail (Arab) dengan Kaum Bani Israil adalah sesuatu hal yang biasa.

Bahkan salah seorang istri Rasulullah, Shafiyah binti Huyay ( صفية بنت حيي), berasal dari suku Bani Nadhir (salah satu suku Bani Israel yang bermukim disekitar Madinah).

Dan di kalangan Bani Israil, ada yang meyakini bahwa Imam Ali ra. (sepupu Nabi Muhammad), masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Pemimpin Bani Israel, Nabi Daud Alaihi Salam.

ManusiaTaqwa

Nabi Muhammad dan Humanisme Muslim

Diriwayatkan Ibnu Hisyam, Rasulullah berpesan dalam Haji Wada’:

“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, nenek moyang kalian satu, kalian semua berasal dari Adam, dan Adam itu dari tanah”

“yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian”

“tidaklah orang Arab atas non Arab dan tidak pula non Arab atas orang Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang yang berkulit putih, tidak pula orang yang berkulit putih atas orang yang berkulit merah itu ada kelebihan, kecuali dengan takwa.”

Di dalam catatan sejarah, Rasulullah dikenal sangat anti rasialis, beliau pernah melamar Zainab bint jahsy (seorang wanita keturunan Bangsawan Quraish), untuk anak angkatnya Zaid bin Haritsah (seorang bekas budak).

Di masa itu, juga terjadi pernikahan seorang bekas budak bernama Salim, dengan seorang wanita keturunan bangsawan Quraish bernama Hindun bint Al-Walid ibn Utbah ibn Rabi’ah.

Dan seorang mantan budak Bilal bin Rabbah, yang telah menikahi saudara perempuan Abdurrahman ibn Auf, yang berasal dari Keluarga Bangsawan Suku Quraish.

arab bani israil

Pernikahan Syarifah dalam Sejarah

Teladan dari Rasulullah sebagai seorang Humanisme Muslim Sejati, juga di-ikuti oleh para keturunannya, yaitu anak cucu beliau dari puterinya Fatimah az-Zahrah ra.

Sebagaimana kita pahami, Fatimah az-Zahrah ra. merupakan isteri dari Imam Ali ra, dari pernikahan ini melahirkan 4 orang anak, yaitu : Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kalsum.

Di dalam permasalahan perkawinan, mereka lebih mengutamakan kepada tingkat ketaqwaan, daripada garis keturunan.

Setidaknya tercatat 7 peristiwa pernikahan, antara Syarifah Ahlul Bayt dengan Muslim dari golongan Ahwal (bukan berasal dari keturunan Rasulullah), pada masa awal Perkembangan Islam, yaitu :

1. Sukainah binti Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Zaid bin Umar bin Utsman bin Affan.

2. Fathimah binti Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan.

3. Fathimah binti Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Al-Mundzir bin Zubair bin Al-Awam.

4. Idah binti Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Nuh bin Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah.

5. Fathimah binti Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Ayyub bin Maslamah Al-Makhzumi.

6. Ummul Qasim binti Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Marwan bin Aban bin Utsman bin Affan.

7.  Fathimah binti Abdullah bin Hassan bin Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Idris bin Abbas bin Uthman bin Syafie bin Saib bin Abu Yazid, dari pernikahan ini melahirkan  Imam Syafei (Muhammad bin Idris asy-Syafi`i)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Bahan Referensi :

1. Genealogy Adnan Oktar (Harun Yahya)
2. Komunitas Muslim dari Bani Israil
3. Kufu’ dalam Nikah, adalah Perkara dien