Tag Archives: kuliner

Makna Simbolik, Sajian Menjelang Ramadhan

Sebelum ditemukannya layanan SMS (Short Message Service), ternyata masyarakat Jawa, telah memiliki teknologi tersendiri, untuk menyampaikan pesan…

Hal ini terlihat pada kebiasaan masyarakat di Jawa. Di saat menjelang bulan Ramadan, mereka biasanya saling mengirimkan makanan satu sama lainnya, di antara tetangga, kerabat, dan handai taulan.

Nah, biasanya yang dikirim itu menu makanan berbagai jenis sesuai dengan keumuman di lingkungan masing-masing.

Tapi, pasti ada tiga jenis menu makanan yang selalu ada dalam tradisi religi di Jawa, yaitu :

ketan (makanan dari beras ketan), kolak (makanan yang terdiri dari berbagai jenis isi; bisa pisang, ketela, dll yang dimasak dengan santan dan gula aren atau gula merah hingga manis), dan apem (kue yang berasal dari tepung beras, berwarna-warni, dan biasanya juga dalam berbagai bentuk; rasanya manis).

kolak1

Kalau tidak jeli, biasanya sebagian masyarakat menganggap tradisi ini adalah peninggalan nenek moyang atau leluhurnya orang Jawa. Padahal, sebenarnya ini tradisi religi yang memiliki makna sangat mendalam. Mau tahu apa maknanya?

Ketan sebenarnya bermakna khatam atau tamat alias penghabisan. Ini merupakan penggambaran terhadap umat terakhir, yaitu umatnya Nabi Muhammad. Kolak punya arti qala yang berarti berucap atau berkata. Apem sebenarnya punya arti afwan atau maaf atau kerennya minta ampun.

Jadi, kalau diruntutkan satu sama lain ada satu pesan yang mau disampaikan dalam tradisi religi menjelang Ramadan di lingkungan masyarakat Jawa. Pesannya secara lebih detail bisa digambarkan seperti

Wahai pengikut Nabi Terakhir, umat yang penghabisan…! Perbanyaklah berucap memohon ampunan kepada ALLAH. Lebih-lebih di bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah ini.

Benar-benar indah kan pesannya? Nah, tradisi ini sebenarnya dilandasi oleh firman ALLAH dalam QS An Nisa ayat 106,

Dan mohonkanlah ampunan kepada Allah. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Unsur Islam di dalam tradisi lokal itu sebenarnya bentuk kreativitas dari para pendakwah dan penyebar agama Islam di Tanah Jawa. Ada yang pro dan kontra dengan cara-cara seperti ini. Yang setuju menganggap ini adalah bentuk penghormatan pada tradisi lokal. Sedangkan yang tidak setuju menganggap unsur tradisi lokal bisa merusak kemurnian ajaran Islam. Lepas dari sikap pro dan kontra itu, kita mesti selalu ingat bahwa kita tidak boleh berlebih-lebihan dalam memandang tradisi dan budaya, hingga seolah-olah setara dengan ibadah yang diwajibkan oleh Allah. Aturan ini bisa kita lihat dalam QS Lukman ayat 21,

Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah!’ Mereka menjawab, ‘(Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti kebiasaan yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka (akan mengikuti nenek moyang mereka) walaupun sebenernya setan menyeru mereka ke dalam azab api yang menyala-nyala (neraka)?

Jadi, kita tetap boleh kok menghormati tradisi lokal. Yang penting semua itu tidak bertentangan dengan aturan-aturan di dalam Islam.

Warisan Kuliner Islam

Siapa yang tidak kenal dengan es krim?

Sepertinya semua golongan semua usia pasti kenal dengan jenis minuman yang enak dan lezat ini. Apalagi sekarang ini, sudah banyak sekali modifikasi es krim dengan berbagai rasa dan bentuk yang cantik memikat hati.

Es krim ini salah satu dari sekian banyak makanan warisan kuliner Islam. Jenis minuman yang di Italia disebut cassata dan di Arab disebut qashada ini, dianjurkan untuk tidak dikonsumsi secara berlebihan oleh dokter muslim, seperti Ibnu Sina dan Al Razi.

Minuman kopi, awalnya ditemukan masyarakat muslim di Yaman pada abad 10 M. Di masa itu, kopi dikenal dengan nama al qahwa. Ada lagi minuman mirip sirup, yang telah jadi minuman komunitas Islam di Turki dan Mesir. Awalnya minuman itu dikenal dengan nama sherbet.

Seorang penjelajah abad 11 M, Al Bakri, dalam catatan perjalanannya menceritakan kalau wanita-wanita muslim, sudah bisa membuat pasta untuk jamuan makan. Pasta itu dibuat dari tepung terigu.

Selain mewarisi beragam makanan, kaum muslimin juga mewarisi berbagai pengetahuan tentang makanan. Pengetahuan itu dikembangkan dalam upaya mematuhi perintah Allah SWT.

Perintah itu ada di dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 88, “Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

Kesadaran itu memunculkan adanya ahli-ahli tentang makanan yang dituliskan di dalam buku-buku. Mereka itu di antaranya, Mohammed al Baghdadi. Pada sekitar abad 13 M di Irak, ia menulis buku At Tabikh. Ada pula Dawad al Antaki di Suriah dengan kitabnya Tadhkira. Tokoh lainnya adalah Abu Marwan ibnu Zuhr (1092—1161 M) dengan bukunya yang membahas masalah nutrisi.

Kalau mau meneliti lebih jauh tentang warisan kuliner dan yang berkaitan dengan segala jenis makanan, sejak zaman Rasulullah SAW apa yang menjadi kesenangan Rasulullah SAW itu semuanya sesuai dengan anjuran kesehatan. Meskipun di masa itu belum ada penelitian dan ilmu kesehatan secanggih sekarang.

Misalnya saja, Rasulullah SAW sangat menyukai madu dan kurma. Ternyata di dalam dua jenis makanan itu terdapat kandungan gizi yang luar biasa. Tata cara makan dan minum Rasulullah SAW pun ternyata sangat baik bagi kesehatan; misalnya kenapa kalau minum harus pelan-pelan, kenapa kalau makan harus berhenti sebelum terlalu kenyang, dll.

Di masa Rasulullah SAW juga dikenal adanya pengobatan dan menikmati kuliner dengan buah zaitun. Tidak hanya buahnya yang bermanfaat, tapi zaitun punya banyak khasiat, dan itu baru diketahui setelah dilakukan penelitian yang modern.

Masih banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan kuliner di dalam dunia Islam. Semua itu kalau dikaji secara metodis dan ilmiah akan menghasilkan review yang luar biasa.

Sekarang tinggal kita, maukah menggali kekayaan dan warisan kuliner Islam itu untuk kemajuan? Atau hanya berpangku tangan dan membiarkan pihak lain menggali dan mengembangkannya, sementara kita tinggal menjadi konsumen yang harus membayar mahal untuk itu?!