Tag Archives: kisah

Patung Sphinx, Bukti Arkeologis Bencana Nuh 13.000 tahun yang silam

Banyak Arkeologi bingung, mengapa Sphinx di Mesir menghadap ke arah barat daya (Southwest).

Padahal sudah kita pahami bersama, berdasarkan penelitian catatan-catatan mengenai Mesir kuno, melalui gambar-gambar yang terdapat pada piramid dan sphinx, diketahui bahwa penguasa yang membangun benda-benda itu, mendewakan Matahari.

Oleh karenanya, apabila kita imaginasikan wajah Sphinx menghadap ke arah ufuk timur, tempat terbitnya matahari, secara mengejutkan diperoleh fakta bahwa Mekkah ternyata berada di wilayah kutub utara.

Apa makna semua ini ?

Seorang cendikiawan muslim, ustadz Nazwar Syamsu menduga, pergeseran posisi menghadap pada Sphinx erat kaitannya dengan bencana maha dahsyat ribuan tahun yang silam, yang kita kenal sebagai bencana banjir Nuh (Sumber : Yuwie.Com).

Hal ini juga didukung oleh informasi Al Qur’an, yang menceritakan posisi Bakkah (Mekkah), berada di wilayah Utara (QS. Nuh (71) ayat 14), sebelum peristiwa bencana Nuh (Sumber : Sains dan Dakwah).

Sphinx, adalah patung singa bermuka manusia yang juga merupakan obyek penting dalam penelitian ilmuwan, tingginya 20 meter, panjang keseluruhan 73 meter, dianggap didirikan oleh kerajaan Firaun ke-4 yaitu Khafre.

Namun, melalui bekas yang dimakan karat (erosi) pada permukaan badan Sphinx, ilmuwan memperkirakan bahwa masa pembuatannya mungkin lebih awal, paling tidak 10 ribu tahun silam sebelum Masehi.

Seorang sarjana John Washeth juga berpendapat: Bahwa Piramida raksasa dan tetangga dekatnya yaitu Sphinx, jika dibandingkan dengan bangunan masa kerajaan ke-4 lainnya, sama sekali berbeda, Sphinx diperkirakan dibangun di masa yang lebih purba.

Dalam bukunya “Ular Angkasa“, John Washeth mengemukakan: perkembangan budaya Mesir mungkin bukan berasal dari daerah aliran sungai Nil, melainkan berasal dari budaya yang lebih awal.

Ahli ilmu pasti Swalle Rubich dalam “Ilmu Pengetahuan Kudus” menunjukkan: pada tahun 11.000 SM, Mesir pasti telah mempunyai sebuah budaya yang hebat. Pada saat itu Sphinx telah ada, hal ini bisa terlihat, pada bagian badan Sphinx yang jelas sekali ada bekas erosi. Diperkirakan akibat dari banjir dahsyat di tahun 11.000 SM.

Perkiraan erosi lainnya pada Sphinx adalah air hujan dan angin.

Washeth mengesampingkan dari kemungkinan air hujan, sebab selama 9.000 tahun di masa lalu dataran tinggi Jazirah, air hujan selalu tidak mencukupi, dan harus melacak kembali hingga tahun 10.000 SM baru ada cuaca buruk yang demikian.

Washeth juga mengesampingkan kemungkinan tererosi oleh angin, karena bangunan batu kapur lainnya pada masa kerajaan ke-4 malah tidak mengalami erosi yang sama. Dan bisa terlihat, pada tulisan berbentuk gajah dan prasasti peninggalan kerajaan kuno, dimana tidak ada sepotong batu pun yang mengalami erosi, separah Sphinx.

Profesor Universitas Boston, dan ahli dari segi batuan erosi Robert S. juga setuju dengan pandangan Washeth sekaligus menujukkan: Bahwa erosi yang dialami Sphinx, ada beberapa bagian yang kedalamannya mencapai 2 meter lebih, dan jelas sekali merupakan bekas setelah mengalami tiupan dan terpaan angin yang hebat selama ribuan tahun.

Washeth dan Robert S. juga menunjukkan: Teknologi bangsa Mesir kuno tidak mungkin dapat mengukir skala yang sedemikian besar di atas sebuah batu raksasa, produk seni yang tekniknya rumit.

Jika diamati secara keseluruhan, kita bisa menyimpulkan secara logis, bahwa pada masa purbakala, di atas tanah Mesir, pernah ada sebuah budaya yang sangat maju, namun karena adanya pergeseran lempengan bumi, daratan batu tenggelam di lautan, dan budaya yang sangat purba pada waktu itu akhirnya disingkirkan, meninggalkan piramida dan Sphinx dengan menggunakan teknologi bangunan yang sempurna.

Dalam jangka waktu yang panjang di dasar lautan, piramida raksasa dan Sphinx mengalami rendaman air dan pengikisan dalam waktu yang panjang.

Temuan ahli arkeologi, berkenaan dengan Sphinx nampaknya sejalan dengan temuan Geologi, yang memperkirakan pada sekitar masa 11.000 SM, pernah terjadi banjir global yang melanda bumi. (Sumber : Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia ).

Peristiwa banjir global inilah, yang menurut Ustadz H.M. Nur Abdurrahman, sebagai banjir di era Nabi Nuh. Yang sangat luar biasa, dan memusnahkan seluruh peradaban ketika itu, dan yang tersisa adalah mereka yang meyakini Syariat Allah, melalui utusanNya Nabi Nuh As.

Artikel Terkait
01. REVISI Periode KENABIAN?
02. MISTERI ARKEOLOGIS, di tengah PUING reruntuhan TEORI EVOLUSI
03. Misteri HURUF HIEROGLYPH, mengungkap Kisah NABI IDRIS, dalam Peradaban MESIR PURBA?

Iklan

Komunitas Muslim, dari Bani Israil

Kita sering salah kaprah, menganggap keturunan Nabi Yakub (Israil), hanyalah bangsa yang tinggal di daerah sekitar Palestina semata. Padahal melalui kajian sejarah dan genetika, diperoleh informasi bahwa Bani Israil, telah menyebar ke segala pelosok dunia. Dan sebagian dari mereka adalah pengikut ajaran Nabi Muhammad.

Sejarah Suku Israel sebelum kedatangan Nabi Isa

Bani Israil, adalah sebutan bagi keturunan Nabi Yakub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim. Nabi Yakub memiliki 12 orang putera, yang kemudian menurunkan suku-suku Israil, yakni :

Ruben, Simeon, Lewi, Isakhar, Zebulon, Dan, Yusuf, Naftali, Gad, Asyer…
Dikenal sebagai 10 suku dari Kerajaan Israil Utara, dengan raja pertamanya Jerobeam (922 SM – 901 SM), dan raja terakhirnya Hosea (732 SM – 724 SM).

Yehuda, Benjamin…
Dikenal sebagai 2 suku dari Kerajaan Israil Selatan (Yerusalem), dengan raja pertamanya Rehobeam (922 SM – 915 SM), dan raja terakhirnya Zedekia (597 SM – 587 SM).

Pada tahun 722 SM, Kerajaan Asyria yg saat itu dipimpin oleh Raja Shalmanesar V menyerbu dan menaklukan kerajaan Israil Utara yg saat itu di pimpin oleh Raja Hosea (Raja terakhir Israil Utara). Oleh Raja Assyiria, ke-10 suku Israil (merupakan keturunan Nabi Yakub bin Nabi Ishaq), di tawan dan di bawa keluar tanah air mereka menuju Assyiria. Diceritakan dalam Kitab Nabi Edras bahwa 10 suku Israil ini melarikan diri dari syiria namun tidak menuju ke tanah air mereka namun bermigrasi ke timur jauh ke suatu negeri yg bernama Asareth (Nazara atau Azara).

Pada tahun 603 SM dominasi kekuatan Assyiria direbut oleh kerajaan Babylonia. Dan pada tahun 587 SM Yerusalem dihancurkan oleh raja Nebukadnezar. Dan seperti Raja Assyiria, Raja Nebukadnezar pun menawan dan membawa keluar 2 suku Israil yang ada di Yerusalem ke Babylonia, Media (Persia), dan Ghaur (kawasan pegunungan Afghanistan).

Dan pada periode 538 SM – 332 SM Kekuatan Babylonia direbut oleh Kerajaan Persia oleh Raja Cyrus dan pada era tersebut ke 2 suku Israil kembali menuju tanah air mereka di Yerusalem.

Dari fakta sejarah ini dapatlah kita ketahui bahwa hanya ada dua “domba” yang tinggal di kandang, sementara 10 “domba” Israil yg lain tersebar di negeri-negeri Timur sepanjang Syam (Syiria), Persia, Afghanistan, kasymir (Hindustan Utara), bahkan hingga Tibet (sumber : The Passion of Jesus as)

Beberapa bangsa di timur berpenduduk Muslim, yang terdapat jejak Bani Israil, antara lain :

1. Jejak Bani Israil di Asia Tengah

“The beginning of a Jewish settlement in the area around Bukhara may go back as far as the 7th century BCE when the Jews were exiled by the Assyrians(II Kings 17:6). It is to this date that the Bukharan Jews themselves trace their heritage…”

“Bukharan Jews have traditionally maintained that Bukhara is the Hador mentioned in the Bible (Second Kings 17:6) to which Assyria exiled the ten lost tribes of Israel during the seventh century B.C.E.”

“When Cyrus the Great, king of Persia, conquered the Babylonians in 538 B.C.E., he issued an edict allowing Jews in exile to go home to Jerusalem. Some did, but many elected to remain in Persia, a land which must have seemed more hospitable than the rocky, arid wasteland of Judaea.”

“The Book of Esdras (Apocypha) recount that a large number of Persian Jews migrated east around this time to a place called Asareth. Biblical scholars may not concur on the exact location of Asareth, but they do agree that the book of Edras was written between 150 and 50 B.C.E., about the same time as the book of Daniel.”

Jelas bahwa 10 suku Bani Israil setelah pengusiran dari tanah air mereka telah mengembara hingga Asia Tengah (Samarkand & Bukhara). Dan juga meneruskan perjalanan ke Timur menuju Persia, Afghanistan, bahkan sampai ke India dan Tibet. Meski kini mayoritas penduduk Samarkand dan Bukhara memeluk Islam, namun masih ada sekelompok minoritas penduduknya yang tetap memeluk agama Yahudi.

2. Jejak Bani Israil di Afghan

Beberapa fakta dari Kitab-kitab sejarah, arkeologi, dan anthropologi telah membuktikan dengan terang benderang bahwa bangsa-bangsa yg menempati kawasan negeri Afghanistan adalah berasal dari bani Israil, bahkan orang Afghan sendiri mengakui bahwa mereka ada Bene (Bani) Israil.

Dalam Kitab Tabqat e Nasri yg mencantumkan penaklukan Afghanistan oleh Jengis Khan, di dalamnya tertulis bahwa pada zaman Dinasti Syabnisi, di sana tinggal suatu kaum yg disebut Bani Israil, sebagian dari mereka adalah Saudagar. Orang-orang ini pada tahun 622 M (pada zaman Rasulullah saw) menetap di kawasan Herat. Sahabat Khalid ibn Walid r.a. datang menemui mereka dan menyeru mereka kepada Islam. Lima atau enam kepala suku mereka ikut serta dengan Khalid menemui Rasulullah saw, diantar kepala suku tersebut adalah Qes (Kish/Kisy). Orang-orang ini akhirnya menerima Islam dan ikut bertempur bersama Rasulullah saw. Rasulullah memberi nama baru kepada Qes yaitu Abdul Rasyid dan memberikan nama julukan dengan nama dari Ibrani yaitu Pathan.

Dalam Kitab Majma’ul Ansab, Mullah Khuda Dad menulis, Bahwa Putra sulung Yakub adalah Yehuda, putra Yehuda adalah Usrak, putra Usrak adalah Aknur, Puta Aknur adalah Ma’alib, putra Ma’alib adalah Farlai, putra Farlai adalah Qes, putra Qes adalah Thalut, putra Thalut adalah Armea, dan putra Armea adalah Afghan dan anak keturunannya adalah bangsa Afghan. Afghan hidup sezaman dengan Nebukadnezar. Generasi ketururunan ke 34 dari Afghan barulah lahir Qes yg hidup sezaman dengan Rasulullah saw yg kemudian memeluk Islam. (Termuat dalam buku A Nature of a Visit to Ghazni, Kabul, and Afghanistan, by G.T. Vigne – 1840).

Dalam buku Histrory of Afganistan oleh L.P. Ferrier yg diterjemahkan oleh Capt. W.M. Jasse, terbitan London 1858. Tertulis sebuah riwayat bahwa tatkala Nadir Syah tiba di Peshawar untuk menaklukan Hindustan, maka para tokoh suku Yusuf Zai mempersembahkan kepadanya sebuah Bibel yg bertuliskan bahasa Ibrani dan juga beberapa barang perabotan dari suku mereka yg dipergunakan untuk menjalankan ritual agama kuno mereka. Ikut dalam perkemahan Nadir Syah beberapa orang Yahudi, manakala Nadir Syah memperlihatkan barang-barang tersebut kepada orang Yahudi maka seketika itu pula mereka mengenali barang-barang tersebut sebagai barang-barang orang Yahudi.

Suku – suku Bani Israil di Afghanistan saat ini telah memeluk agama Islam, namun mereka menganggap diri mereka sebagai bani Israil (keturunan Israil) dari anak keturunan Kish, keturunan Raja Saul.

Beberapa Tradisi Bangsa Pathan yg sama dengan tradisi Israil seperti menyunat anak usia 8 hari, berpakaian model Tizzit, menyalakan lilin pada jum’at malam, bangsa pria pasthun bertradisi menikahi janda kakak ipar yg belum memiliki anak (sama seperti Israil – ulangan 25: 5-6).

3. Jejak Bani Israil di Kasymir (India Utara)

Kashmir terletak di India Utara dan Barat Nepal. Meski demikian penampilan fisik mereka berbeda dengan orang India pada umumnya. Orang Kashmir pun mengnggap diri mereka sebagai Bene Israil (keturunan Israil). Daerah-daerah di Kashmir pun dinamakan sama dan mirip dengan daerah-daerah di tanah air mereka di Israil.

Dr. Bernier dalam bukunya Travel in The Moghul Empire menulis : “Yakni, tidak diragukan lagi bahwa orang-orang Kashmir adalah Bani Israil. Dan pakaian mereka, wajah mereka, serta beberapa tradisi mereka secara telak menyatakan bahwa mereka berasal dari rumpun keluarga Bani Israil.

Dalam buku Dictionary of Geography oleh A.K. Johnston, pada halaman 250, tentang kata Kashimiri tertulis : “Penduduknya berpostur tinggi, kekar, gagah. Dan kaum wanitanya manis, cantik, berhidung bengkok, rupa dan penampilan mereka betul-betul menyerupai orang-orang Yahudi (Tidak menyerupai bahwa Hindustan pada umumnya).

Orang Kashmir gemar sekali kepada nama-nama yg ada hubungannya dengan Palestina. Misalnya Musachail (Partai Musa), Tachte Sulaiman (Kerajaan Sulaiman), Yusuf Zei (kerabat Yusuf) dan lainnya.

Artikel Terkait
01. Misteri Silsilah Yesus (Nabi Isa)
02. Pengembaraan Yesus (Nabi Isa), dalam berbagai Versi
03. Wafatnya Nabi Isa, menurut Buya HAMKA

Wafatnya Nabi Isa, menurut Buya HAMKA

Ketika menafsirkan QS. Ali Imron (3) ayat 55, buya HAMKA didalam Tafsir Al Azhar, menulis :

إِذْ قالَ اللهُ يا عيسى‏ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَ رافِعُكَ إِلَيَّ وَ مُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذينَ كَفَرُوا


“(Ingatlah) tatkala Allah berkata: Wahai lsa,sesungguhnya Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu, dan membersihkan engkau dari orang-orang yang kafir ” (pangkal ayat 55).

Artinya yang tepat dari ayat ini ialah bahwa maksud orang-orang kafir itu hendak menjadikan Isa Almasih mati dihukum bunuh, seperti yang dikenal yaitu dipalangkan dengan kayu, tidaklah akan berhasil.

Tetapi Nabi Isa Almasih akan wafat dengan sewajarnya dan sesudah beliau wafat, beliau akan diangkat Tuhan ke tempat yang mulia di sisiNya, dan bersihlah diri beliau dari gangguan orang yang kafir-kafir itu.

Kata mutawwafika telah kita artikan menurut logatnya yang terpakai arti asal itu diambillah arti mematikan, sehingga wafat berarti mati, mewafatkan ialah mematikan. Apatah lagi bertambah kuat arti wafat ialah mati, mewafatkan ialah mematikan itu karena banyaknya bertemu dalam al-Qur’an ayat-ayat, yang disana disebutkan tawaffa, tawaffahumul-malaikatu, yang semuanya itu bukan menurut arti asal yaitu mengambil sempurna ambil, melainkan berati mati. Sehingga sampai kepada pemakaian bahasa yang umum jarang sekali diartikan wafat dengan ambil, tetapi pada umumnya diartikan mati juga.

Maka dari itu arti yang lebih dahulu dapat langsung difahamkan, apabila kita membaca ayat ini ialah: “Wahai Isa, Aku akan mematikan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu dan membersihkan engkau daripada tipudaya orang yang kafir.”


Pendapat Pendukung

A. Al-Alusi

Di dalam tafsirnya yang terkenal Ruhul Ma’ani, setelah memberikan keterangan beberapa pendapat tentang arti mutawwafika, akhirnya menyatakan pendapatnya sendiri bahwa artinya telah mematikan engkau, yaitu menyempurnakan ajal engkau (mustaufi ajalika) dan mematikan engkau menurut jalan biasa, tidak sampai dapat dikuasai oleh musuh yang hendak membunuh engkau.

Dan beliau menjelaskan lagi bahwa arti warafi’uka ilayya, dan mengangkat engkau kepadaKu , telah mengangkat derajat beliau , memuliakan beliau, mendudukkan beliau, di tempat yang tinggi, yaitu roh beliau sesudah mati. Bukan mengangkat badannya.

Lalu al-Alusi mengemukakan beberapa kata rafa’a yang berarti “angkat” itu terdapat pula dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an yang tiada lain artinya daripada mengangkat kemuliaan rohani sesudah meninggal.

B. Syaikh Muhammad Abduh

Beliau menerangkan tentang tafsir ayat ini demikian:
Ulama di dalam menafsirkan ayat ini menempuh dua jalan. Yang pertama dan yang masyhur ialah bahwa dia diangkat Allah dengan tubuhnya dalam keadaan hidup, dan nanti dia akan turun kembali di akhir zaman dan menghukum di antara manusia dengan syariat kita. Dan kata beliau seterusnya: ” …….Dan jalan penafsiran yang kedua ialah memahamkan ayat menurut asli yang tertulis, mengambil arti tawaffa dengan maknanya yang nyata, yaitu mati seperti biasa, dan rafa’a (angkat), ialah rohnya diangkat sesudah beliau mati.

Dan kata beliau pula: ” Golongan yang mengambil tafsir cara yang kedua ini terhadap hadits-hadits yang menyatakan Nabi Isa telah naik ke langit dan akan turun kembali, mereka mengeluarkan dua kesimpulan (takhrij).

Kesimpulan pertama: Hadits-hadits itu ialah hadits-hadits ahad yang bersangkut-paut dengan soal i’tikad (kepercayaan) sedang soal-soal yang bersangkutan dengan kepercayaan tidaklah dapat diambil kalau tidak qath’i (tegas). Padahal dalam perkara ini tidak ada sama sekali hadits yang mutawatir.”

Kemudian beliau terangkan pula takhrij golongan kedua ini tentang nuzul Isa (akan turun Nabi Isa di akhir zaman) itu. Menurut golongan ini kata beliau turunnya Isa bukanlah turun tubuhnya, tetapi akan datang masanya pengajaran Isa yang asli , bahwa intisari pelajaran beliau yang penuh rahmat, cinta dan damai dan mengambil maksud pokok dari syariat, bukan hanya semata-mata menang kulit, yang sangat beliau cela pada perbuatan kaum Yahudi seketika beliau datang dahulu, akan bangkit kembali.” Demikianlah keterangan Syaikh Muhammad Abduh. (Tafsiral-Manar, jilid III, 317, cet. ke 3.)

C. Sayyid Rasyid Ridha

Beliau pernah menjawab pertanyaan dari Tunisia. Bunyi pertanyaan: “Bagaimana keadaan Nabi Isa sekarang? Di mana tubuh dan nyawanya? Bagaimana pendapat tuan tentang ayat inni mutawwaffika wa rafi’uka ? Kalau memang dia sekarang masih hidup, seperti di dunia ini, dari mana dia mendapat makanan yang amat diperlukan bagi tubuh jasmani haiwani itu ? Sebagaimana yang telah menjadi Sunnatullah atas makhlukNya ? ”

Sayid Rasyid Ridha, sesudah menguraikan pendapat- pendapat ahli tafsir tentang ayat yang ditanyakan ini, mengambil kesimpulan: “Jumlah kata, tidaklah ada nash yang sharih (tegas) di dalam al-Qur’an bahwa Nabi Isa telah diangkat dengan tubuh dan nyawa ke langit dan hidup di sana seperti di dunia ini, sehingga perlu menurut sunnatullah tentang makan dan minum, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang makan beliau sehari-hari.

Dan tidak pula ada nash yang sharih menyatakan beliau akan turun dari langit. Itu hanyalah akidah dari kebanyakan orang Nasrani, sedang mereka itu telah berusaha sejak lahirnya Islam menyebarkan kepercayaan ini dalam kalangan kaum Muslimin.”
Lalu beliau teruskan lagi: “Masalah ini adalah masalah khilafiyah sampaipun tentang masih diangkat ke langit dengan roh dan badannya itu.”

D. Syaikh Mustafa al-Maraghi

Beliau adalah Syaikh Jami al-Azhar yang terkenal sebelum Perang Dunia ke-2, menjawab pertanyaan orang tentang ayat ini: “Tidak ada dalam al-Qur’an suatu nash yang sharih dan putus tentang Isa as. diangkat ke langit dengan tubuh dan nyawanya itu, dan bahwa dia sampai sekarang masih hidup, dengan tubuh nyawanya.

Adapun sabda Tuhan mengatakan: “Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu dan membersihkan engkau daripada orang-orang yang kafir itu!” Jelaslah bahwa Allah mewafatkannya dan mematikannya dan mengangkatnya, zahirlah (nyata) dengan diangkatnya sesudah wafat itu, yaitu diangkat derajatnya di sisi Allah, sebagaimana Idris as. dikatakan Tuhan: “dan Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi.” Dan inipun jelas pula, yang jadi pendapat setengah ulama-ulama Muslimin, bahwa beliau diwafatkan Allah, wafat yang biasa, kemudian diangkatkan derajatnya. Maka diapun hiduplah dalam kehidupan rohani, sebagaimana hidupnya orang-orang yang mati syahid dan kehidupan Nabi-nabi yang lain juga.

Tetapi jumhur Ulama menafsirkan bahwa beliau diangkat Allah dengan tubuh dan nyawanya, sehingga dia sekarang ini hidup dengan tubuh dan nyawa, karena berpegang kepada hadits yang memperkatakan ini, lalu mereka tafsirkan al-Qur’an disejalankan dengan maksud hadits-hadits itu.

Lalu kata beliau: “Tetapi hadits-hadits ini tidaklah sampai kepada derajat hadits-hadits yang mutawatir, yang wajib diterima sebagai akidah. Sebab akidah tidaklah wajib melainkan dengan nash al-Qur’an dan hadits-hadits yang mutawatir. Oleh karena itu maka tidaklah wajib seorang Muslim beri’tikad bahwa Isa Almasih hidup sekarang dengan tubuh dan nyawanya, dan orang yang menjalani akidah itu tidaklah kafir dari Syariat Islam.”

Sumber :
Tafsir Al Azhar Qs Ali Imron ayat 52-58

Artikel Terkait
01. Komunitas Muslim, dari Bani Israil
02. Pengembaraan Yesus (Nabi Isa), dalam berbagai Versi
03. Misteri Silsilah Yesus (Nabi Isa)

Menemukan Zul-Qarnain, dalam Sejarah ?

Di dalan Al Qur’an, Surah Al-Kahfi diceritakan tentang adanya seorang raja bernama Zul-Qarnain, yang memilki wilayah kekuasaan yang sangat luas.

Adapun ciri dari Zul-Qarnain adalah sebagai berikut :

A. Beliau seorang raja yang beriman dan beliau menerima wahyu

sebagaimana terdapat di dalam firman Allah :

“…dan kami berkata wahai Zulqarnain,kamu mampu menyiksa ataupun mampu berbuat kebaikan kepada mereka” (QS. Al-Kahfi (18) ayat 86).

Nampaknya orang yang paling sesuai adalah Cyrus the Great, ia juga disebut dalam kitab perjanjian lama sebagai raja Kurush, seperti terdapat di dalam kitab Isaiah, U’zair dan Chronicle… sebagai seorang raja yang beriman.

Zul-qarnain (Cyrus the Great), di dalam perjanjian lama, juga bisa dilihat pada kitab Daniel, yakni berkenaan dengan pengelihatan (vision), dari Danyal (Daniel) :

KJVR-Daniel 8:
3. Then I lifted up mine eyes, and saw, and, behold, there stood before the river a ram which had two horns: and the two horns were high; but one was higher than the other, and the higher came up last.
(Lalu kuangkat mukaku dan kulihat, tampak seekor domba jantan berdiri di depan sungai itu; tanduknya dua dan kedua tanduk itu tinggi, tetapi yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan yang tinggi itu tumbuh terakhir).

16. And I heard a man’s voice between the banks of Ulai, which called, and said, Gabriel, make this man to understand the vision
(Dan kudengar dari tengah sungai Ulai itu suara manusia yang berseru: “Jibril, buatlah orang ini memahami penglihatan itu!).

20. The ram which thou sawest having two horns are the kings of Media and Persia.
(Domba jantan yang kaulihat itu, dengan kedua tanduknya, ialah raja-raja orang Media dan Persia)

“Vision” dari Danyal (Daniel) tentang biri-biri jantan bertanduk dua, yang sebelah tanduknya lebih tinggi yang datang belakangan, mengisyaratkan tanduk yang lebih rendah yaitu Media dan tanduk yang lebih tinggi yaitu Parsi yang belakangan menjadi Imperium Parsi

Dalam sejarah tokoh yang mendirikan Kerajaan Media dan Parsi yang kemudian menjadi Imperium Parsi tersebut adalah Cyrus the Great (600 – 529) SM, mendirikan Imprium Parsi (550) SM, dan memerintah (550 – 529) SM. (Ustadz Muhammad Nur Abdurrahman, dalam tulisan seri ke-776, berjudul : Siapakah Dzulqarnain ?).

Dan jika diteliti, berdasarkan sejarah, Cyrus the Great menganut agama Zarathustra yang dibawa oleh Zahathustra. Pada awalnya agama ini tidak menyembah api dan merupakan empat agama wahyu ilahi. Namun lama kelamaan diselewengkan.

B. Zul-Qarnain juga dikisahkan, melakukan perjalanan ke arah barat

“Hingga apabila dia sampai ke tempat terbenamnya matahari,dia melihat matahari terbenam pada laut yang berlumpur hitam…..”(QS. Al Kahfi (18) ayat 86)

Laut berlumpur hitam itu jika kita anggapkan dengan perjalanan Cyrus the Great, bermula dari pusat karajaannya dari Iran ke barat, maka bertemulah kita dengan Laut Hitam!

Laut yang berlumpur hitam itu adalah Laut Hitam, karena jika kita mengambil gambar dari udara, semua lautan lain airnya berwarna kebiru-biruan dikarenakan dasarnya adalah pasir, kecuali hanya Laut Hitam yang berwarna hitam karena dasarnya berlumpur hitam.

C. Zul-Qarnain diceritakan melakukan perjalanan ke arah Timur

“Hingga ia sampai ke tempat terbitnya matahari(timur) dan mendapati suatu kaum yang tiada bagi mereka perlindungan” (QS. Al Kahfi (18) ayat 90).

Sekali lagi, yang memenuhi ciri ini adalah Cyrus the Great, dikarenakan beliau pernah bergerak ke Timur, yaitu menaklukkan Makran dan Sistani hingga ke Balkhan dan Afghanistan. (Sumber : Siapakah Yang Layak Di Gelar Zul-Qarnain dan Keturunan Zul-Qarnain Manakah Yang Telah Sampai Ke Bumi Melayu?).

Humor dalam Islam

Suatu hari ada seorang nenek yang bertanya sama Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, apa aku bisa masuk surga?

Nabi Muhammad SAW menjawab, “Di surga tidak ada orang tua.

Mendengar jawaban itu, si nenek tentu saja terpukul dan sangat sedih. Namun kekecewaannya tidak berlangsung lama. Rasulullah SAW kembali berkata, “Di surga yang tinggal hanya mereka yang muda. Orang yang sudah tua di dunia akan kembali jadi muda saat berada di surga.

Para ahli hadits, menilai humor Rasulullah SAW ini, selain melahirkan senyum, juga membawa kabar gembira. Terutama bagi kalangan lansia. Dimaksudkan agar para lansia terus meningkatkan keimanan dan amalnya kepada Allah SWT.

Di lain waktu, Rasulullah SAW juga bercanda dengan sahabatnya, Anas bin Malik. Beliau memanggil Anas dengan panggilan, “Wahai Pemilik Dua Telinga!

Tentu saja ini humor yang benar dan tidak keluar jalur. Anas bin Malik pasti memiliki dua telinga, bukan empat telinga.

Humor dan cara bercanda Rasulullah SAW tidak pernah lepas kontrol. Apa yang dilakukannya, tidak pernah melanggar kesopanan dan tidak ada mudaratnya.

Dalam literatur Islam masa lalu, cukup banyak tokoh-tokoh muslim yang telah menghasilkan karya-karya humor. Namun humor dan canda mereka selalu mengandung unsur akidah, muamalah dan akhlak. Di antaranya Nasruddin Hoja, Hani al Arabiy, dan Abu Nawas.

Para tokoh humor ini, digambarkan sebagai manusia-manusia unik. Dari ucapan dan perbuatan mereka, semuanya mengandung pengajaran dan dakwah.

humor1

 

Jadi, di dalam Islam sama sekali tidak ada larangan humor dan cara bercanda. Tentu saja selama masih berada dalam koridor yang benar. Kita tidak diperbolehkan bercanda yang berlebihan hingga akhirnya jatuh pada ghibah atau olok-olok.

Misalnya, memanggil nama seseorang dengan julukan cacat yang dimilikinya. Sebagai contoh, seorang yang kakinya mengalami kecacatan sejak lahir hingga jalannya agak terpincang-pincang, lalu kita panggil dengan Si Pincang.

Meskipun panggilan itu benar, tapi bisa jadi olok-olok yang menyakitkan hati pemiliknya. Padahal, pastilah tidak ada orang yang ingin lahir dalam kondisi cacat.

Al Qur’an juga telah melarang dengan tegas sikap olok-olok ini seperti yang tercantum dalam surat Al Hujurat ayat 11,

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan-perempuan lain, karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”

Napoleon, Islam dan Code Pinale

Kita pasti tidak asing dengan istilah asas praduga tak bersalah. Bagi pemerhati hukum, tentu istilah tersebut bukanlah hal yang sulit dipahami. Namun tidak banyak orang tahu, termasuk para ahli hukum, tentang asal muasal asas ini.

Di dalam bukunya Islam Sistem Nilai Terpadu, Dr. M. Imaduddin ‘Abdulrahim menuliskan:

Prinsip hukum praduga tak bersalah yang dikenal di negeri-negeri barat, pertama kali dimunculkan oleh Napoleon Bonaparte. Ide tentang hal tersebut, ia peroleh setelah berhasil menaklukkan Mesir (1797—1798 M).

Dari penaklukan tersebut, Bonaparte bersama pasukannya sempat membawa banyak buku hukum Islam dari perpustakaan Universitas Al-Azhar ke negerinya, Perancis.

Setelah buku-buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh ahli-ahli bahasa negerinya, dengan sungguh-sungguh Napoleon mempelajari buku-buku tersebut. Tidak lama setelah itu, muncullah kitab karangannya yang terkenal di bidang ilmu Hukum, yaitu Code Pinale.

Di dalam buku tersebut yang dibahas di dalamnya antara lain masalah prinsip hukum praduga tak bersalah. Hingga saat ini prinsip tersebut telah mengglobal ke seluruh dunia. Jadi, kalau dirunut-runut sejarahnya pastilah ilmu hukum Islam sebenarnya sejak awal sudah menemukan prinsip-prinsip tersebut.

Islam dan Napoleon

Napoleon Bonaparte, seorang Jenderal dan Kaisar Prancis yang tenar kelahiran Ajaccio, Corsica 1769 M. Sebagai seorang yang berkuasa dan berdaulat penuh terhadap negara Perancis sejak Agustus 1793 M, tidak membuatnya puas. Rupanya kemegahan dunia belum bisa memuaskan batinnya.

Setelah mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh, akhirnya pada tanggal 02 Juli 1798 M, 23 tahun sebelum kematiannya di tahun 1821 M, Napoleon Bonaparte menyatakan keislamannya (sumber : dakwatuna.com).

E. Dinet dalam buku berjudul, Cherfils: Bonaparte et l’Islam, mengutip sebuah surat dari Napoleon Bonaparte, tertanggal 28 Agustus 1798 M. Di dalam surat itu Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis menulis:

“Saya harap tidak lama lagi dapat dikumpulkan orang terpelajar di negeri ini untuk menetapkan aturan hukum berasaskan Al Qur’an yang jadi satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan manusia.” (sumber : azquotes.com)

napoleon1a
Source/Notes:
Letter to Sheikh El-Messiri, (28 August 1798); published in Correspondance Napoleon edited by Henri Plon (1861), Vol.4, No. 3148, p. 420, link

Dalam surat yang lain, Napoleon menyatakan:

“Sudah sering kali saya katakana terang-terangan dalam pidato-pidato saya, bahwa saya ini seorang muslim, muwahhid, takzim kepada Nabi Muhammad dan cinta kepada umat Islam.” (O. Hashem, Menaklukkan Dunia Islam hlm. 41)

Sepertinya tidak banyak yang menyinggung bahwa penguasa besar dari negeri Eropa ini seorang muslim. Mudah-mudahan ini menjadikan inspirasi bagi kita untuk terus belajar tentang Islam. Sesungguhnya Islam itu mudah dan memudahkan.

Bahkan untuk orang asing seperti Napoleon pun, belajar tentang Islam akhirnya menjadikannya seorang muslim yang mengakui keislamannya secara terang-terangan. Bersyukurlah kita yang sejak kecil telah menjadi seorang muslim

Catatan Penambahan : 

1. Informasi yang menyatakan Napoleon Bonaparte masih keturunan Makassar terbukti tidak benar, hal ini bisa terlihat pada diagram silsilah berikut :

World Record Menulis, di Abad ke-9 Masehi ?

Pentingnya menulis di dalam Islam, bisa kita lihat di dalam Al Qur’an. Allah SWT bersumpah dengan alat tulis dan tulisan. Ini bisa dilihat dalam QS. Al Qalam ayat 1,

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”

Wahyu pertama yang turun adalah perintah untuk membaca, Iqra’! (bacalah). Tentu ketika Allah SWT memerintahkan untuk membaca, secara tersirat juga ada perintah untuk menciptakan bahan bacaan atau karya tulis.

Didorong perintah Allah SWT ini, membuat para ulama seolah tidak pernah kehabisan energi dalam menulis. Salah satunya, Imam Ath-Thabari (224 H – 310 H, hidup sekitar abad ke-9 Masehi), yang menulis selama 40 tahun. Setiap harinya beliau menulis sebanyak 40 halaman.

Coba kita hitung:
40 tahun x 365 hari/tahun x 40 halaman/hari, maka akan didapat 584.000 halaman.

Menulis sebanyak itu, tentu sangat menakjubkan, mungkin masuk World Record pada masa itu. Apalagi saat itu, pena masih terbuat dari bulu ayam dan mesti diisi dengan tinta setiap kali habis. Masa itu bukan era digital yang serba canggih seperti sekarang ini.


Dakwah Bilqalam

Dakwah melalui tulisan telah dilakukan para utusan Allah SWT, sejak masa dahulu. Hal ini terlihat, ketika Nabi Sulaiman AS mengirimkan surat kepada Ratu Balqis, untuk mengajaknya kepada ajaran Tauhid. Ini tergambar dalam QS An Naml ayat 28—31.

”Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.” (28)

”Dia (Balqis) berkata, ’Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.’.” (29)

”Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, ’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.’.” (30)

”Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (31)

Demikian halnya, yang dilakukan di masa Rasulullah. Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat sebagai ajakan dakwah dan syiar Islam ke berbagai negeri.

Dakwah yang dilakukan melalui tulisan dikenal dengan nama dakwah bilqalam. Istilah itu didefinisikan sebagai bentuk ajakan kepada manusia lewat perantara pena (tulisan), untuk membawa ke jalan Allah SWT.

Dakwah melalui tulisan memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:

o Pesan yang disampaikan bisa dibaca berulang-ulang. Ini dapat menghindarkan kesalahpahaman.


o Mencakup masyarakat yang luas dalam kondisi apapun. Siapa saja yang bisa membaca, bisa memikirkan sendiri dakwah tersebut.

o Memiliki kesan mendalam bagi pembacanya, karena bisa diulang-ulang pembacaannya.

o Merupakan bentuk ilmu yang bermanfaat dan isinya bisa ditularkan kepada orang lain. Setelah selesai membaca sesuatu, bacaan itu bisa diberikan pada orang lain untuk membacanya sehingga memperoleh manfaat dan ilmu seperti yang didapatkan pembaca sebelumnya.

Jadi, di masa sekarang saat menulis begitu mudah. Tidak mesti harus dipublikasikan lewat penerbitan buku. Ada banyak sarana blog di internet yang bisa diperoleh dengan gratis. Dengan demikian, menulis jadi bisa dilakukan oleh siapa saja dan dibaca oleh masyarakat luas. Apalagi sarana internet bisa diakses dari seluruh penjuru dunia.