Tag Archives: sejarah islam

Rasulullah, tidak Berpolitik

Ada yang berpendapat, Nabi Muhammad adalah seorang ahli politik.
Dan dengan ilmu politik yang dimilikinya, beliau bisa menjadi seorang penguasa, yang menjadikan jalan baginya, dalam menyiarkan Islam.

Akan tetapi, setelah dikaji lebih mendalam, pendapat itu sangat keliru,
bahkan, di dalam sejarah hidupnya, beliau pernah menolak untuk berpolitik.
.
.
Sejarah Politik

Politik adalah berasal dari bahasa Yunani Kuno, pada sekitar tahun 400 SM. Politik berasal dari kata Polis, yang berarti negara. Akan tetapi yang dimaksud negara pada saat itu, masih berupa kota, dengan demikian yang dimaksud negara pada karya-karya pemikir Yunani saat itu, masih dalam ruang lingkup terbatas, yakni sebuah kota.

Di masa itu, pemikir-pemikir Yunani Kuno memunculkan karya-karya yang monumental diantaranya Socrates, Plato dan Aristoteles. Plato sebagai salah seorang murid utama Socrates, memunculkan karya politik yang berjudul Republik, yang merupakan pengungkapan gambaran suatu negara yang ideal.

Pemikiran-pemikiran kenegaraan dari Socrates, Plato dan Aristoteles pada kala itu, dimotivasi atas munculnya pemikiran kaum Sofist di masyarakat Yunani Kuno ketika itu. Kaum Sofist adalah suatu kaum yang lebih mementingkan diri sendiri daripada masyarakat banyak. Menurut mereka hukum itu adalah hak dari yang terkuat, yang dapat dipaksakan kepada orang lain demi kepentingan pribadi belaka. Dari hasil tukar pikiran dengan kaum Sofist, bermunculan karya-karya Plato, seperti Republik (Politea/Negara), Politikos (Negarawan) dan Nomoi (Undang-undang).

Pemikiran seorang Plato, yang didasarkan kepada ra’yu (logika) ternyata sudah lepas landas dari bimbingan Taurat. Membangun negara yang ideal menurut logika seorang Plato, tidak didasarkan kepada Petunjuk Ilahi, sehingga memiliki berbagai kelemahan dalam menata masyarakat manusia. Dan saat ini, ilmu Politik yang disumbangkan Plato, telah berkembang menjadi ilmu yang mempelajari kekuasaan dalam masyarakat.


Teladan Rasulullah

Ketika para pembesar Quraisy menawarkan kekuasaan pada Muhammad SAW, dengan syarat beliau mau menghentikan dakwahnya. Demi tugas menyebarkan risalah yang diembannya, Rasulullah SAW menolak tawaran itu.

Kalau saja, pada saat itu Rasulullah SAW mau sedikit ‘berpolitik’ dan memanfaatkan kekuasaan yang diperolehnya untuk menyiarkan dakwah Islam, bisa jadi perjuangannya tidak akan seperti yang sudah terukir dalam sejarah. Bisa jadi perjuangannya lebih mudah dan ringan.

Namun, Rasulullah SAW tidak mau ambil tindakan yang instant, lewat jalur politik atau kekuasaan. Beliau lebih mengutamakan jalur Siyasah, dengan memunculkan karya unggulan, yang kemudian jadi suri teladan bagi pengikutnya.

Kisah keteladanan Rasulullah SAW ini dapat dibaca dalam QS. Al Ahzab ayat 21,
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Rasulullah SAW lebih memilih jalan yang berliku dan terjal, jalan yang penuh tetesan darah dan air mata. Jalan yang diridai Allah SWT, bukan jalan yang semata bertujuan membangun kekuasaan, yang bersifat sesaat dan fana.

Terbukti langkah yang diambil Rasullah SAW ini berhasil. Kepeloporan Rasulullah SAW, yang kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, melahirkan masa kejayaan umat Islam selama 7 abad. Satu masa kejayaan yang tidak singkat dan itu hanya dapat terjadi karena langkah benar yang diambil oleh Rasulullah SAW.
.

Bagaimana dengan diri kita?

Apakah kita sudah memilih jalur yang lebih sulit tetapi benar dan lurus untuk mencapai tujuan kita?

Mungkin ada banyak jawaban dan pemikiran. Namun satu hal yang mesti kita ingat dan rasanya siapapun juga tahu pepatah ini. Segala sesuatu yang didapatkan dengan mudah, biasanya mudah pula hilangnya. Sebaliknya segala sesuatu yang diperoleh dengan susah payah, penuh perjuangan, biasanya akan bertahan lama, kokoh mengakar karena kuatnya perjuangan untuk mendapatkannya.

Rasanya tidak berlebihan kalau kita mengikuti pepatah tersebut, untuk apa saja yang kita lakukan dan kita inginkan. Mendapatkan sesuatu dengan cepat dan instanst boleh-boleh saja, tapi pastikan kita memperolehnya melalui jalan yang benar. Karena kalau tidak, biasanya akan menimbulkan penyesalan yang berkepanjangan.

Iklan

Khalifah dan Kekuasaan

Beberapa hari usai masa ta’ziyah atas wafatnya Khalifah Umar bin Khattab RA, para sahabat Rasulullah SAW mengadakan musyawarah untuk memilih pengganti khalifah. Lalu ditunjuklah enam orang, sahabat pilihan untuk menentukan kelangsungan kepemimpinan umat Islam.

Keenam orang tersebut adalah Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah dan Saad bin Abi Waqqash.

Saat bermusyawarah, kelima orang tersebut menunjuk Abdurrahman bin ‘Auf menjadi pengganti Umar bin Khattab. Namun, Aburrahman bin ‘Auf menolak, dan untuk memecahkan masalah kepemimpinan ini, Abdurrahman bin ‘Auf bertanya kepada Zubeir bin Awwam tentang siapa yang pantas menjadi khalifah.

Zubeir bin Awwam menunjuk Ali bin Abu Thalib. Ketika ditanya kepada Saad bin Abi Waqqash, ia pun memilih Ali bin Abu Thalib. Saat ditanya kepada Thalhah, Thalhah berkeras tetap memilih Abdurrahman bin ‘Auf.

Ketika ditanya kepada Ali bin Abu Thalib, Ali menunjuk Utsman bin Affan, dan ketika ditanya kepada Utsman bin Affan, Utsman menjawab ia lebih memilih Ali bin Abu Thalib.

Ternyata untuk dipilih jadi penguasa (amanah) orang pada masa itu lebih memilih tidak memangku amanah. Sepertinya berbeda sekali dengan masa sekarang. Orang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin dan penguasa. Mungkin mereka tidak sadar konsekuensi dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin.

Akhirnya setelah ditimbang dengan matang. Pertemuan berakhir dengan ditunjuknya Utsman bin Affan sebagai khalifah.

Kisah ini memberi gambaran kepada kita, tentang keteladanan para sahabat Rasulullah SAW. Keenam orang sahabat ini, saling ’berebut’ untuk menolak kekuasaan. Sangat berbeda dengan kaum politisi, yang saling berlomba untuk mendapatkan jabatan.


Larangan Rebutan Kekuasaan

Mencari-cari kekuasaan (jabatan), bahkan dengan saling memperebutkannya, bukanlah prilaku seorang muslim. Di dalam beberapa haditsnya, Rasulullah mengecam orang-orang seperti ini, diantaranya :

1. Dari Abu Sa’id ‘Abdurrahman bin Samurah ra. berkata : “Rasulullah saw. bersabda kepada saya : “Wahai ‘Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta suatu jabatan karena sesungguhnya bila kamu diberi suatu jabatan tanpa memintanya maka kamu akan mendapat pertolongan dalam menjabat jabatan itu, tetapi kalau kamu diberi suatu jabatan karena meminta, maka jabatan itu akan diserahkan (dibebankan) sepenuhnya kepadamu….”(Shahih Bukhari No.7146 dan Shahih Muslim No.1652).

2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: ”Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi untuk dapat memegang suatu jabatan, tetapi nanti pada hari kiamat jabatan itu merupakan suatu penyesalan” (Shahih Bukhari No.7148).

3. Dari Abu Musa Al Asy’ary ra. berkata : “Saya bersama dua orang saudara sepupu datang kepada Nabi saw., kemudian salah seorang di antara keduanya itu berkata : “Wahai Rasulullah, berilah kami suatu jabatan pada sebahagian apa yang telah Allah ‘azza wajalla kuasakan terhadap tuan”. Dan yang lain juga berkata seperti itu. Kemudian beliau bersabda :”Demi Allah, aku tidak akan mengangkat seorang dalam suatu jabatan yang mana ia memintanya, atau seseorang yang sangat ambisi pada jabatan itu”. (Shahih Bukhari No.7149 dan Shahih Muslim No.1733)

Mungkin ada baiknya juga sebelum menjadi penguasa, calon-calon pemimpin belajar dari sejarah kepemimpinan di masa sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Dengan begitu mereka menyadari harus seperti apa menjadi pemimpin itu. Mudah-mudahan di masa yang akan datang semakin banyak pemimpin yang amanah dan mengutamakan kepentingan rakyatnya.

Persaudaraan, awal dari Kemenangan

Ketika Rasulullah SAW telah sampai di Madinah, setelah hijrah dari Makkah, Rasulullah SAW berniat membangun ukhuwah islamiyah di antara umat beriman. Rasulullah SAW mempersaudarakan para pengikut setianya, antara satu dengan yang lainnya, yang umumnya antara kaum Anshar dan Muhajirin.

Banyak hal yang unik sekaligus mengharukan dari jalinan persaudara tersebut. Persaudaraan yang tidak mengenal kelas sosial. Misalnya saja, Hamzah bin Abdul Muthalib, seorang bangsawan Bani Hasyim dan sekaligus paman Rasulullah SAW dipersaudarakan dengan seorang mantan budak Zaid bin Haritsah. Satu hal yang tidak akan mungkin terjadi di zaman jahiliah.

Mush’ab bin Umair seorang mubaligh Islam pertama yang dikirim Rasulullah SAW ke Madinah, dipersaudarakan dengan Abu Ayyub al-Anshari, orang paling miskin di Madinah yang menyediakan rumahnya bagi Rasulullah SAW, sebelum Rasulullah SAW memiliki rumah sendiri, ketika baru sampai di Madinah.


Abdurrahman bin ‘Auf yang tidak membawa apa-apa ketika berhijrah, dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, seorang hartawan dari kalangan Anshar. Lalu Ja’far bin Abu Thalib dengan Muaz bin Jabal, Abubakar dengan Kharijah bin Zuhair, Umar bin Khattab dengan Utbah bin Malik dan lain sebagainya. Ibnu Qoyyim menuturkan, mereka yang dipersaudarakan ada 90 orang.

Hubungan persaudaraan antara kaum Anshar (umat Islam di Madinah) dengan kaum Muhajirin (umat Islam di Makkah), merupakan langkah strategis yang dilakukan Rasulullah SAW demi meneguhkan semangat kebersamaan dan persaudaraan sebagai sesama muslim di kalangan sahabat.

Langkah Rasulullah SAW ini semakin menyatukan kaum beriman ke dalam satu barisan yang kokoh. Tujuannya untuk mencapai kesepakatan yang mengikuti pola dan panduan Allah SWT. Sesama manusia itu memiliki derajat yang sama. Hanya tingkat ketakwaannya semata yang membedakannya di mata Allah SWT.

Al Qur’an, Kitab Anti Kekerasan

Tahukah anda apa yang dilakukan Rasulullah SAW setelah berhasil membebaskan kota Makkah?

Nabi Muhammad SAW memberikan amnesti kepada seluruh penduduk. Kemenangan kaum muslimin tersebut berlangsung dengan cara damai. Peristiwa ini dikenal dengan nama ’Fatuh Makkah’.

Selama hidupnya, Rasulullah SAW telah membebaskan sebagian besar jazirah Arab dari kekufuran. Selama pembebasan tersebut, korban yang tewas ada 386 jiwa. Sejumlah itu, terdiri atas mereka yang mukmin dan mereka yang belum mukmin.

Jumlah korban tersebut, sangat minimal bila dibandingkan dengan wilayah yang berhasil dibebaskan. Mungkin bisa dikatakan ’paling sedikit’ dalam sejarah umat manusia.

Peristiwa seperti ini seolah-olah terulang kembali pada tahun 1187 M, saat Salahudin Al Ayubi membebaskan kota Jarusalem. Kemenangannya saat itu, berlangsung sangat damai. Tanpa penghancuran tempat-tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya.

Ironisnya, meskipun fakta sejarah berbicara demikian, sering kali Islam dituduh sebagai ajaran yang penuh kekerasan. Padahal Al Qur’an yang merupakan pedoman umat Islam telah menjelaskan bahwa tindak kekerasan berupa pembunuhan seseorang tanpa sebab syar’i, sama artinya membunuh manusia seluruhnya.

Aturan seperti itu ada di dalam QS. Al Maidah ayat 32,

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.

Selain ayat tersebut di atas, ada juga ayat yang lain ada larangan untuk menghancurkan tempat-tempat ibadah umat lain. Ini ada di dalam QS. Al Hajj ayat 40,

(yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, ’Tuhan kami ialah Allah.’ Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.

Jadi, secara fakta sejarah maupun hukum tertulis, Islam itu sangat cinta damai. Islam merupakan ajaran yang menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Coba kita baca surat Al Anbiya ayat 107,

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

Siti Aisyah RA, menikah di usia 19 tahun

Kita selama ini mendapatkan informasi bahwa Rasulullah SAW telah melamar Aisyah RA ketika berumur 6 tahun dan berumah tangga ketika berusia 9 tahun.

apa benar infomasi itu?


Aisyah RA menikah di usia 19 tahun

Nah, untuk menjawab pertanyaan benar atau tidak masalah ini, melalui studi kritis terhadap hadits, Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi menemukan informasi baru. Dalam bukunya Umur Aesyah, ternyata ada berita baru yang lebih masuk akal dan bisa diterima logika. Rasulullah SAW berumah tangga dengan Aisyah RA saat Aisyah RA berusia 19 tahun.

Jadi, bagaimana cerita runtutnya?!

Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi adalah seorang ahli hadits dari India. Ia lahir tahun 1924 M, putera ulama hadits terkenal Mufti Isyfaq Rahman. Ayahnya ini pernah jadi mufti besar Bhopal India.

Adapun yang menjadi dasar kesimpulan tersebut adalah riwayat yang menunjukkan beda usia Aisyah RA dengan kakaknya Asma, sekitar 10 tahun. Riwayat ini ada di kitab Siyar A’lamal Nubala karangan Al Zahabi. Sedangkan Asma meninggal di usia 100 tahun pada tahun 73 H (diriwayatkan Ibnu Kathir dan Ibnu Hajar). Artinya, Asma lahir tahun 27 Sebelum Hijrah dan Aisyah lahir tahun 17 Sebelum Hijrah.

Sementara itu, para ahli sejarah sepakat bahwa pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah RA, terjadi pada sekitar tahun 2 H. Berarti Aisyah RA berumah tangga dengan Rasulullah SAW pada usia 19 tahun.

Mudah-mudahan dengan berita ini, tidak ada lagi berita-berita miring yang dialamatkan kepada Rasulullah SAW atas pernikahannya dengan Siti Aisyah. Kalau umur 19 tahun di masa itu, sepertinya sudah layak dianggap dewasa. Secara emosional dan psikologis, umur 19 tahun juga sudah bukan umur anak-anak lagi.

Catatan : Sebagai tambahan dalil…

1. Siti Aisyah Ra. berkata :

“Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan (Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr)…

Untuk dipahami, gadis muda (jariah), adalah mereka yang telah berusia antara 6-13 tahun.

Jika Surat al Qamar, diturunkan pada tahun ke 8 (delapan) sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), berarti usia Aisyah ra. saat menikah antara 16-23 tahun

Syekh Muhammad Sayyid At-Thanthawy berpendapat, Surat al Qamar diturunkan pada tahun ke 5 (lima) sebelum hijriah.  Jikapun pendapat ini, kita jadikan patokan (dasar), maka akan diperoleh keterangan  usia Aisyah ra. saat beliau menikah, antara 13-20 tahun

2. Berdasarkan Sirah An-Nabawiyah (Ibnu Hisyam, 1/245-262.), dakwah secara siriyyahyang dilakukan Rasulullah sekitar kurang lebih 3 tahun dan sampai orang Islam berjumlah 40 orang.  Sejarah mencatat, Aisyah Ra. adalah orang ke-19 yang menerima Islam, ini berarti beliau masuk Islam pada masa dakwah disampaikan secara siriyyah (sembunyi-sembunyi).

Jika Aisyah Ra. pada tahun 2H saat ia menikah, baru berumur 9 tahun. Maka di masa dakwah secara siriyyah, berdasarkan perhitungan tahun, kemungkinan beliau belum lahir.

Bagaimana anak yang belum lahir, bisa bersyahadat ?

3. Mari kita pahami hadits berikut :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ لَمْ أَعْقِلْ أَبَوَيَّ قَطُّ إِلَّا وَهُمَا يَدِينَانِ الدِّينَ وَقَالَ أَبُو صَالِحٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمْ أَعْقِلْ أَبَوَيَّ قَطُّ إِلَّا وَهُمَا يَدِينَانِ الدِّينَ وَلَمْ يَمُرَّ عَلَيْنَا يَوْمٌ إِلَّا يَأْتِينَا فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَرَفَيْ النَّهَارِ بُكْرَةً وَعَشِيَّةً فَلَمَّا ابْتُلِيَ الْمُسْلِمُونَ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ مُهَاجِرًا قِبَلَ الْحَبَشَةِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَرْكَ الْغِمَادِ لَقِيَهُ ابْنُ الدَّغِنَةِ وَهُوَ سَيِّدُ الْقَارَةِ فَقَالَ أَيْنَ تُرِيدُ يَا أَبَا بَكْرٍ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَخْرَجَنِي قَوْمِي فَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أَسِيحَ فِي الْأَرْضِ فَأَعْبُدَ رَبِّي قَالَ ابْنُ الدَّغِنَةِ إِنَّ مِثْلَكَ لَا يَخْرُجُ وَلَا يُخْرَجُ فَإِنَّكَ تَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ وَأَنَا لَكَ جَارٌ فَارْجِعْ فَاعْبُدْ رَبَّكَ بِبِلَادِكَ فَارْتَحَلَ ابْنُ الدَّغِنَةِ فَرَجَعَ مَعَ أَبِي بَكْرٍ فَطَافَ فِي أَشْرَافِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ فَقَالَ لَهُمْ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ لَا يَخْرُجُ مِثْلُهُ وَلَا يُخْرَجُ أَتُخْرِجُونَ رَجُلًا يُكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَيَصِلُ الرَّحِمَ وَيَحْمِلُ الْكَلَّ وَيَقْرِي الضَّيْفَ وَيُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَأَنْفَذَتْ قُرَيْشٌ جِوَارَ ابْنِ الدَّغِنَةِ وَآمَنُوا أَبَا بَكْرٍ وَقَالُوا لِابْنِ الدَّغِنَةِ مُرْ أَبَا بَكْرٍ فَلْيَعْبُدْ رَبَّهُ فِي دَارِهِ فَلْيُصَلِّ وَلْيَقْرَأْ مَا شَاءَ وَلَا يُؤْذِينَا بِذَلِكَ وَلَا يَسْتَعْلِنْ بِهِ فَإِنَّا قَدْ خَشِينَا أَنْ يَفْتِنَ أَبْنَاءَنَا وَنِسَاءَنَا قَالَ ذَلِكَ ابْنُ الدَّغِنَةِ لِأَبِي بَكْرٍ فَطَفِقَ أَبُو بَكْرٍ يَعْبُدُ رَبَّهُ فِي دَارِهِ وَلَا يَسْتَعْلِنُ بِالصَّلَاةِ وَلَا الْقِرَاءَةِ فِي غَيْرِ دَارِهِ ثُمَّ بَدَا لِأَبِي بَكْرٍ فَابْتَنَى مَسْجِدًا بِفِنَاءِ دَارِهِ وَبَرَزَ فَكَانَ يُصَلِّي فِيهِ وَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَيَتَقَصَّفُ عَلَيْهِ نِسَاءُ الْمُشْرِكِينَ وَأَبْنَاؤُهُمْ يَعْجَبُونَ وَيَنْظُرُونَ إِلَيْهِ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَجُلًا بَكَّاءً لَا يَمْلِكُ دَمْعَهُ حِينَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَأَفْزَعَ ذَلِكَ أَشْرَافَ قُرَيْشٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَأَرْسَلُوا إِلَى ابْنِ الدَّغِنَةِ فَقَدِمَ عَلَيْهِمْ فَقَالُوا لَهُ إِنَّا كُنَّا أَجَرْنَا أَبَا بَكْرٍ عَلَى أَنْ يَعْبُدَ رَبَّهُ فِي دَارِهِ وَإِنَّهُ جَاوَزَ ذَلِكَ فَابْتَنَى مَسْجِدًا بِفِنَاءِ دَارِهِ وَأَعْلَنَ الصَّلَاةَ وَالْقِرَاءَةَ وَقَدْ خَشِينَا أَنْ يَفْتِنَ أَبْنَاءَنَا وَنِسَاءَنَا فَأْتِهِ فَإِنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى أَنْ يَعْبُدَ رَبَّهُ فِي دَارِهِ فَعَلَ وَإِنْ أَبَى إِلَّا أَنْ يُعْلِنَ ذَلِكَ فَسَلْهُ أَنْ يَرُدَّ إِلَيْكَ ذِمَّتَكَ فَإِنَّا كَرِهْنَا أَنْ نُخْفِرَكَ وَلَسْنَا مُقِرِّينَ لِأَبِي بَكْرٍ الِاسْتِعْلَانَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَأَتَى ابْنُ الدَّغِنَةِ أَبَا بَكْرٍ فَقَالَ قَدْ عَلِمْتَ الَّذِي عَقَدْتُ لَكَ عَلَيْهِ فَإِمَّا أَنْ تَقْتَصِرَ عَلَى ذَلِكَ وَإِمَّا أَنْ تَرُدَّ إِلَيَّ ذِمَّتِي فَإِنِّي لَا أُحِبُّ أَنْ تَسْمَعَ الْعَرَبُ أَنِّي أُخْفِرْتُ فِي رَجُلٍ عَقَدْتُ لَهُ قَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنِّي أَرُدُّ إِلَيْكَ جِوَارَكَ وَأَرْضَى بِجِوَارِ اللَّهِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ بِمَكَّةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُرِيتُ دَارَ هِجْرَتِكُمْ رَأَيْتُ سَبْخَةً ذَاتَ نَخْلٍ بَيْنَ لَابَتَيْنِ وَهُمَا الْحَرَّتَانِ فَهَاجَرَ مَنْ هَاجَرَ قِبَلَ الْمَدِينَةِ حِينَ ذَكَرَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجَعَ إِلَى الْمَدِينَةِ بَعْضُ مَنْ كَانَ هَاجَرَ إِلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ وَتَجَهَّزَ أَبُو بَكْرٍ مُهَاجِرًا فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكَ فَإِنِّي أَرْجُو أَنْ يُؤْذَنَ لِي قَالَ أَبُو بَكْرٍ هَلْ تَرْجُو ذَلِكَ بِأَبِي أَنْتَ قَالَ نَعَمْ فَحَبَسَ أَبُو بَكْرٍ نَفْسَهُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَصْحَبَهُ وَعَلَفَ رَاحِلَتَيْنِ كَانَتَا عِنْدَهُ وَرَقَ السَّمُرِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail berkata, Ibnu Syihab maka dia mengabarkan keada saya ‘Urwah bin Az Zubair bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam”. Dan berkata, Abu Shalih telah menceritakan kepada saya ‘Abdullah dari Yunus dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya ‘Urwah bin Az Zubair bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam dan tidak berlalu satu haripun melainkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang menemui kami di sepanjang hari baik pagi ataupun petang. Ketika Kaum Muslimin mendapat ujian, Abu Bakar keluar berhijrah menuju Habasyah (Ethiopia) hingga ketika sampai di Barkal Ghomad dia didatangi oleh Ibnu Ad-Daghinah seorang kepala suku seraya berkata; “Kamu hendak kemana, wahai Abu Bakar?” Maka Abu Bakar menjawab: “Kaumku telah mengusirku maka aku ingin keliling dunia agar aku bisa beribadah kepada Tuhanku”. Ibnu Ad-Daghinah berkata: “Seharusnya orang seperti anda tidak patut keluar dan tidap patut pula diusir karena anda termasuk orang yang bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran. Maka aku akan menjadi pelindung anda untuk itu kembalilah dan sembahlah Tuhanmudi negeri kelahiranmu. Maka Ibnu Ad-Daghinah bersiap-siap dan kembali bersama Abu Bakar lalu berjalan di hadapan Kafir Quraisy seraya berkata, kepada mereka: “Sesungguhnya orang sepeti Abu Bakar tidak patut keluar dan tidak patut pula diusir. Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?” Akhirnya orang-orang Quraisy menerima perlindungan Ibnu Ad-Daghinah dan mereka memberikan keamanan kepada Abu Bakar lalu berkata, kepada Ibnu Ad-Daghinah: “Perintahkanlah Abu Bakar agar beribadah menyembah Tuhannya di rumahnya saja dan shalat serta membaca Al Qur’an sesukanya dan dia jangan mengganggu kami dengan kegiatannya itu dan jangan mengeraskannya karena kami telah khawatir akan menimbulkan fitnah terhadap anak-anak dan isteri-isteri kami”. Maka Ibnu Ad-Daghinah menyampaikan hal ini kepada Abu Bakar. Maka Abu Bakar mulai beribadah di rumahnya dan tidak mengeraskan shalat bacaan Al Qur’an diluar rumahnya. Kemudian AbuBakar membangun tempat shalat di halaman rumahnya sedikit melebar keluar dimana dia shalat disana dan membaca Al Qur’an. Lalu istrei-isteri dan anak-anak Kaum Musyrikin berkumpul disana dengan penuh keheranan dan menanti selesainya Abu Bakar beribadah. Dan sebagaimana diketahui Abu Bakar adalah seorang yang suka menangis yang tidak sanggup menahan air matanya ketika membaca Al Qur’an. Maka kemudian kagetlah para pembesar Quraisy dari kalangan Musyrikin yang akhirnya mereka memanggil Ibnu Ad-Daghinah ke hadapan mereka dan berkata, kepadanya: “Sesungguhnya kami telah memberikan perlindungan kepada Abu Bakr agar dia mberibadah di rumahnya namun dia melanggar hal tersebut dengan membangun tempat shalat di halaman rumahnya serta mengeraskan shalat dan bacaan padahal kami khawatir hal itu akan dapat mempengaruhi isteri-isteri dan anak-anak kami dan ternyata benar-benar terjadi. Jika dia suka untuk tetap beribadah di rumahnya silakan namun jika dia menolak dan tetap menampakkan ibadahnya itu mintalah kepadanya agar dia mengembalikan perlindungan anda karena kami tidak suka bila kamu melanggar perjanjian dan kami tidak setuju bersepakat dengan Abu Bakar”. Berkata, ‘Aisyah radliallahu ‘anha: Maka Ibnu Ad-Daghinah menemui Abu Bakar dan berkata: “Kamu telah mengetahui perjanjian yang kamu buat, maka apakah kamu tetap memeliharanya atau mengembalikan perlindunganku kepadaku karena aku tidak suka bila orang-orang Arab mendengar bahwa aku telah melanggar perjanjian hanya karena seseorang yang telah aku berjanji kepadanya”. Maka Abu Bakar berkata: “Aku kembalikan jaminanmu kepadamu dan aku ridho hanya dengan perlindungan Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam. Kejadian ini adalah di Makkah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku telah ditampakkan negeri tempat hijrah kalian dan aku melihat negeri yang subur ditumbuhi dengan pepohonan kurma diantara dua bukit yang kokoh. Maka berhijrahlah orang yang berhijrah menuju Madinah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkanhal itu. Dan kembali pula berdatangan ke Madinah sebagian dari mereka yang pernah hijrah ke Habasyah sementara Abu Bakar telah bersiap-siap pula untuk berhijrah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepadanya: “Janganlah kamu tergesa-gesa karena aku berharap aku akan diizinkan (untuk berhijrah) “. Abu Bakar berkata: “Sungguh demi bapakku tanggungannya, apakah benar Tuan mengharapkan itu?” Beliau bersabda: “Ya benar”. Maka Abu Bakar berharap dalam dirinya bahwa dia benar-benar dapat mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berhijrah. Maka dia memberi makan dua hewan tunggangan yang dimilikinya dengan dedaunan Samur selama empat bulan.

Sumber : Hadits Bukhari No.2134
http://125.164.221.44/hadisonline/hadis9/cari_hadist.php?imam=bukhari&keyNo=2134&x=19&y=13

English Version : Bukhari, Book 37: Transferance of a Debt from One Person to Another (Al-Hawaala). Volume 3, Book 37, Number 494

1. http://www.sacred-texts.com/isl/bukhari/bh3/bh3_492.htm
2. http://www.searchtruth.com/book_display.php?book=37&translator=1

Perhatikan tulisan yang dicetak tebal, pada hadits di atas

‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam

Hal ini bermakna ketika Abu Bakar ra. masuk Islam, Aisyah ra. sudah lahir.

Berdasarkan catatan sejarah, Abu Bakar ra. masuk Islam pada tahun-1 Kenabian (tahun ke-10 Sebelum Hijriah). Dan jika pada saat itu Aisyah ra. telah berusia 7-8 tahun, maka saat beliau berumah tangga dengan Rasulullah, Aisyah ra. telah berusia 19-20 tahun.

Piagam Madinah, dalam Sejarah HAM Dunia

Ketika terjadi perang Shiffin, Ali bin Abi Thalib yang saat itu menjadi khalifah, kehilangan baju besinya. Beberapa saat kemudian, ia melihat seorang Nasrani memakai baju besinya. Khalifah Ali bin Abi Thalib segera membawa kasus tersebut ke pengadilan.

Qadhi Syuraih yang menjabat sebagai hakim, memperlakukan khalifah Ali bin Abi Thalib dengan laki-laki Nasrani itu dengan porsi yang sama. Bahkan, pada akhirnya sang Hakim memutuskan Ali bin Abi Thalib kalah. Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah kalah dalam perkara itu, karena dia tidak bisa menghadirkan bukti dan saksi.

Kisah di atas adalah salah satu contoh, bagaimana cara Islam memperlakukan warga masyarakat sama di hadapan hukum. Konsep ini dilandasi oleh QS. Al Maidah ayat 8 :

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.”

Konsep untuk memperlakukan masyarakat secara setara dan memiliki hak-hak yang sama ini, sekarang ini lebih dikenal dengan nama Hak Asasi Manusia (HAM). Istilah yang begitu keren dan populer, tapi ternyata sudah ada sejak ratusan tahun yang lampau di dunia Islam.

Kembali HAM di masa lalu, di zaman Rasulullah SAW ketika beliau masih hidup, kaum muslimin telah memiliki Piagam HAM tertulis, yaitu berupa kesepakatan yang dikenal dengan nama Piagam Madinah. Piagam Madinah (sekitar tahun 622 M) bisa jadi merupakan pelopor bagi perkembangan konsep HAM dunia.

Setelah Piagam Madinah, 600 tahun kemudian baru muncul lagi konsep HAM di Eropa. Konsep ini dikenal dengan nama Magna Charta 1215 M. Kemudian ada Bill of Rights di Inggris (1689 M), terus disusul The American Declaration of Indepence (1776 M), diikuti oleh The French Declaration (1789 M), dan yang terkenal kemudian The Universal Declaration of Human Rights yang disahkan PBB tahun 1948 M.

Jadi, sangat tidak benar kalau Islam itu ajaran yang otoriter. Islam tidak mengenal adanya penindasan penguasa terhadap rakyatnya atau penindasan kaum mayoritas terhadap kaum minoritas.

Bahkan dalam urusan dakwah sekalipun, sejarah mencatat Islam tidak pernah meluaskan daerah syiar Islam dengan kekerasan atau penindasan. Kalaupun Islam mengembangkan luas daerah pemerintahannya, tidak pernah mengganti para penguasa dan pemerintahan. Untuk orang-orang yang tidak menerima Islam, tapi tidak memusuhi Islam dan tidak membuat peperangan dengan Islam pun, Islam sangat terbuka untuk melindungi dan menghormati mereka.

Konsep Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, ada dalam setiap sendi ajaran Islam. Bahkan urusan spiritual sekalipun, selalu diikuti dengan urusan sosial. Misalnya ada perintah sholat (spiritual) yang dirangkaikan dengan perintah zakat (sosial). Urusan ibadah haji (spiritual) yang dibarengi dengan perintah berkorban (sosial). Masih banyak lagi contoh yang semuanya itu adalah konsep untuk memuliakan manusia, menghormati hak-hak sesama manusia.

Sungguh, hanya perilaku orang yang keji dan memusuhi Islam saja yang menyebarluaskan bahwa Islam adalah ajaran yang penuh kekerasan dan terorisme. Pembicaraan yang tanpa dasar, tapi dianggap benar. Ini karena kekuasaan dan ketakutan media yang telah banyak meracuni pemikiran orang-orang yang tidak mengenal Islam.

(Kebebasan Berpendapat) Teguran dari seorang Muslimah

Banyak yang percaya mitos, yang mengatakan kebebasan berbicara berasal dari barat.

Padahal bila kita menggali fakta sejarah, Islam telah memperkenalkan hak-hak keadilan dan kebebasan berekspresi jauh sebelum masyarakat barat mengenalnya.

Mau bukti…?

Ketika khalifah Umar bin Khatab, sedang membahas untuk menentukan besarnya mahar, tiba-tiba seorang muslimah menyanggah pendapat sang Khalifah. Menurutnya, mahar sudah ada ketentuannya, dan sang khalifah tidak berhak untuk menentukan jumlahnya.

Dalil yang dipakai oleh muslimah tersebut, ternyata lebih kuat dari dalil yang dimiliki Khalifah, dan dengan serta-merta sang Khalifah membenarkan pendapat muslimah itu.


Jaminan untuk berbeda pemikiran (pendapat), telah digariskan di dalam Al Qur’an (QS.38:29), seorang penguasa tidak bisa menangkap orang yang berbeda pemikiran dengannya, akan tetapi harus diperiksa dahulu dalil-dalilnya, bila dalilnya lebih kuat di ikuti sedangkan apabila lemah dijadikan sebagai usulan pembanding.

Islam adalah aturan yang bukan otoriter, kepemimpinan dalam Islam selalu diawasi oleh masyarakat, agar tidak menyimpang dari aturan Allah, sebagaimana aturan di dalam Shalat, bila Imam salah dalam bacaan, maka sang makmun berkenankan untuk mengoreksi.