Tag Archives: renungan

mengapa keKHALIFAHan memudar ???

Umat Islam pernah mengecap masa kejayaan Islam selama 700 tahun lebih (dari abad ke-8 M hingga 14 M). Masa keemasan tersebut, telah membuat kalangan kaum Muslimin ’mabuk kejayaan’. Mereka lengah dan tidak waspada. Sampai akhirnya masa kejayaan tersebut, berangsur-angsur memudar.

Meredupnya kejayaan Islam, disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya: 

a. Akibat dari kelalaian umat Islam dalam memahami kaidah akidah Islam, sehingga terjadilah berbagai perselisihan yang sangat memprihatinkan.

b. Paham kemurnian Islam menjadi terabaikan, bahkan nilai kebenaran Islam sudah dianggap sebagai  sesuatu yang asing atau al ghuroba.

c. Walaupun umat Islam mengalami masa keemasan di bidang ilmu pengetahuan, tapi juga  mengalami kemunduran di bidang kenegaraan. Salah satu penyebabnya adalah masuknya pemikiran ‘politik’ yang berasal dari Peradaban Yunani Kuno ke dalam pemerintahan kaum Muslimin. Kemunduran di bidang kenegaraan ini, terus mengerogoti kekhalifahan Islam, yang pada akhirnya memunculkan perpecahan di kalangan umat Islam. Tentu saja karena saling berebut kekuasaan, yang merupakan tujuan kehidupan berpolitik.

d. Di dunia Eropa sekitar abad ke 15—16 M, lahirlah masa Renaissance. Adapun sebab utama lahirnya Renaissance adalah ketidaksiapan orang-orang Eropa menyaksikan ambruknya Imperium Romawi Timur oleh kaum Muslimin. Terutama dengan peristiwa jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 M. Peradaban Islam yang dibawa ke Benua Eropa sesudah terjadinya Perang Salib, sangatlah besar pengaruhnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan Eropa, yang saat itu telah memasuki masa Renaissance.

Sayangnya, sering kali melalui berbagai media massa, dunia barat (Eropa dan Amerika), sepertinya mencoba untuk menutup-nutupi hal ini. Mereka berusaha merekayasa seolah-olah dunia Islam tidak pernah memberikan sumbangan apa-pun bagi peradaban dunia.

Bahkan, gambaran yang diberikan terhadap Islam dibuat sedemikian rupa dengan kondisi yang bertolak belakang. Sebagai ajaran agama yang rahmatan lil ‘alamin, Islam telah dikacau-balaukan dengan rekayasa keji oleh mereka yang anti dengan Islam. Tidak heran kalau sebagian besar masyarakat dunia, selalu melihat Islam sebagai ajaran yang terbelakang, kolot dan penuh kekerasan.

Diperlukan upaya yang sungguh-sungguh, terutama dari generasi muda Islam seperti kita untuk memberikan gambaran yang benar tentang Islam. Konsep Islam begitu universal dan sangat manusiawi sesuai fitrahnya. Namun sayangnya, sering kali yang terjadi orang Islam sendiri bahkan merasa asing dengan ajaran-ajaran Islam.

Jadi, sangatlah pantas dan menjadi kewajiban kita untuk belajar Islam lebih banyak. Sebelum pihak-pihak yang anti Islam semakin menghunjamkan panah-panah informasi yang tidak benar tentang Islam. 

Iklan

Rasulullah, tidak Berpolitik

Ada yang berpendapat, Nabi Muhammad adalah seorang ahli politik.
Dan dengan ilmu politik yang dimilikinya, beliau bisa menjadi seorang penguasa, yang menjadikan jalan baginya, dalam menyiarkan Islam.

Akan tetapi, setelah dikaji lebih mendalam, pendapat itu sangat keliru,
bahkan, di dalam sejarah hidupnya, beliau pernah menolak untuk berpolitik.
.
.
Sejarah Politik

Politik adalah berasal dari bahasa Yunani Kuno, pada sekitar tahun 400 SM. Politik berasal dari kata Polis, yang berarti negara. Akan tetapi yang dimaksud negara pada saat itu, masih berupa kota, dengan demikian yang dimaksud negara pada karya-karya pemikir Yunani saat itu, masih dalam ruang lingkup terbatas, yakni sebuah kota.

Di masa itu, pemikir-pemikir Yunani Kuno memunculkan karya-karya yang monumental diantaranya Socrates, Plato dan Aristoteles. Plato sebagai salah seorang murid utama Socrates, memunculkan karya politik yang berjudul Republik, yang merupakan pengungkapan gambaran suatu negara yang ideal.

Pemikiran-pemikiran kenegaraan dari Socrates, Plato dan Aristoteles pada kala itu, dimotivasi atas munculnya pemikiran kaum Sofist di masyarakat Yunani Kuno ketika itu. Kaum Sofist adalah suatu kaum yang lebih mementingkan diri sendiri daripada masyarakat banyak. Menurut mereka hukum itu adalah hak dari yang terkuat, yang dapat dipaksakan kepada orang lain demi kepentingan pribadi belaka. Dari hasil tukar pikiran dengan kaum Sofist, bermunculan karya-karya Plato, seperti Republik (Politea/Negara), Politikos (Negarawan) dan Nomoi (Undang-undang).

Pemikiran seorang Plato, yang didasarkan kepada ra’yu (logika) ternyata sudah lepas landas dari bimbingan Taurat. Membangun negara yang ideal menurut logika seorang Plato, tidak didasarkan kepada Petunjuk Ilahi, sehingga memiliki berbagai kelemahan dalam menata masyarakat manusia. Dan saat ini, ilmu Politik yang disumbangkan Plato, telah berkembang menjadi ilmu yang mempelajari kekuasaan dalam masyarakat.


Teladan Rasulullah

Ketika para pembesar Quraisy menawarkan kekuasaan pada Muhammad SAW, dengan syarat beliau mau menghentikan dakwahnya. Demi tugas menyebarkan risalah yang diembannya, Rasulullah SAW menolak tawaran itu.

Kalau saja, pada saat itu Rasulullah SAW mau sedikit ‘berpolitik’ dan memanfaatkan kekuasaan yang diperolehnya untuk menyiarkan dakwah Islam, bisa jadi perjuangannya tidak akan seperti yang sudah terukir dalam sejarah. Bisa jadi perjuangannya lebih mudah dan ringan.

Namun, Rasulullah SAW tidak mau ambil tindakan yang instant, lewat jalur politik atau kekuasaan. Beliau lebih mengutamakan jalur Siyasah, dengan memunculkan karya unggulan, yang kemudian jadi suri teladan bagi pengikutnya.

Kisah keteladanan Rasulullah SAW ini dapat dibaca dalam QS. Al Ahzab ayat 21,
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Rasulullah SAW lebih memilih jalan yang berliku dan terjal, jalan yang penuh tetesan darah dan air mata. Jalan yang diridai Allah SWT, bukan jalan yang semata bertujuan membangun kekuasaan, yang bersifat sesaat dan fana.

Terbukti langkah yang diambil Rasullah SAW ini berhasil. Kepeloporan Rasulullah SAW, yang kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, melahirkan masa kejayaan umat Islam selama 7 abad. Satu masa kejayaan yang tidak singkat dan itu hanya dapat terjadi karena langkah benar yang diambil oleh Rasulullah SAW.
.

Bagaimana dengan diri kita?

Apakah kita sudah memilih jalur yang lebih sulit tetapi benar dan lurus untuk mencapai tujuan kita?

Mungkin ada banyak jawaban dan pemikiran. Namun satu hal yang mesti kita ingat dan rasanya siapapun juga tahu pepatah ini. Segala sesuatu yang didapatkan dengan mudah, biasanya mudah pula hilangnya. Sebaliknya segala sesuatu yang diperoleh dengan susah payah, penuh perjuangan, biasanya akan bertahan lama, kokoh mengakar karena kuatnya perjuangan untuk mendapatkannya.

Rasanya tidak berlebihan kalau kita mengikuti pepatah tersebut, untuk apa saja yang kita lakukan dan kita inginkan. Mendapatkan sesuatu dengan cepat dan instanst boleh-boleh saja, tapi pastikan kita memperolehnya melalui jalan yang benar. Karena kalau tidak, biasanya akan menimbulkan penyesalan yang berkepanjangan.

Khalifah dan Kekuasaan

Beberapa hari usai masa ta’ziyah atas wafatnya Khalifah Umar bin Khattab RA, para sahabat Rasulullah SAW mengadakan musyawarah untuk memilih pengganti khalifah. Lalu ditunjuklah enam orang, sahabat pilihan untuk menentukan kelangsungan kepemimpinan umat Islam.

Keenam orang tersebut adalah Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah dan Saad bin Abi Waqqash.

Saat bermusyawarah, kelima orang tersebut menunjuk Abdurrahman bin ‘Auf menjadi pengganti Umar bin Khattab. Namun, Aburrahman bin ‘Auf menolak, dan untuk memecahkan masalah kepemimpinan ini, Abdurrahman bin ‘Auf bertanya kepada Zubeir bin Awwam tentang siapa yang pantas menjadi khalifah.

Zubeir bin Awwam menunjuk Ali bin Abu Thalib. Ketika ditanya kepada Saad bin Abi Waqqash, ia pun memilih Ali bin Abu Thalib. Saat ditanya kepada Thalhah, Thalhah berkeras tetap memilih Abdurrahman bin ‘Auf.

Ketika ditanya kepada Ali bin Abu Thalib, Ali menunjuk Utsman bin Affan, dan ketika ditanya kepada Utsman bin Affan, Utsman menjawab ia lebih memilih Ali bin Abu Thalib.

Ternyata untuk dipilih jadi penguasa (amanah) orang pada masa itu lebih memilih tidak memangku amanah. Sepertinya berbeda sekali dengan masa sekarang. Orang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin dan penguasa. Mungkin mereka tidak sadar konsekuensi dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin.

Akhirnya setelah ditimbang dengan matang. Pertemuan berakhir dengan ditunjuknya Utsman bin Affan sebagai khalifah.

Kisah ini memberi gambaran kepada kita, tentang keteladanan para sahabat Rasulullah SAW. Keenam orang sahabat ini, saling ’berebut’ untuk menolak kekuasaan. Sangat berbeda dengan kaum politisi, yang saling berlomba untuk mendapatkan jabatan.


Larangan Rebutan Kekuasaan

Mencari-cari kekuasaan (jabatan), bahkan dengan saling memperebutkannya, bukanlah prilaku seorang muslim. Di dalam beberapa haditsnya, Rasulullah mengecam orang-orang seperti ini, diantaranya :

1. Dari Abu Sa’id ‘Abdurrahman bin Samurah ra. berkata : “Rasulullah saw. bersabda kepada saya : “Wahai ‘Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta suatu jabatan karena sesungguhnya bila kamu diberi suatu jabatan tanpa memintanya maka kamu akan mendapat pertolongan dalam menjabat jabatan itu, tetapi kalau kamu diberi suatu jabatan karena meminta, maka jabatan itu akan diserahkan (dibebankan) sepenuhnya kepadamu….”(Shahih Bukhari No.7146 dan Shahih Muslim No.1652).

2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: ”Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi untuk dapat memegang suatu jabatan, tetapi nanti pada hari kiamat jabatan itu merupakan suatu penyesalan” (Shahih Bukhari No.7148).

3. Dari Abu Musa Al Asy’ary ra. berkata : “Saya bersama dua orang saudara sepupu datang kepada Nabi saw., kemudian salah seorang di antara keduanya itu berkata : “Wahai Rasulullah, berilah kami suatu jabatan pada sebahagian apa yang telah Allah ‘azza wajalla kuasakan terhadap tuan”. Dan yang lain juga berkata seperti itu. Kemudian beliau bersabda :”Demi Allah, aku tidak akan mengangkat seorang dalam suatu jabatan yang mana ia memintanya, atau seseorang yang sangat ambisi pada jabatan itu”. (Shahih Bukhari No.7149 dan Shahih Muslim No.1733)

Mungkin ada baiknya juga sebelum menjadi penguasa, calon-calon pemimpin belajar dari sejarah kepemimpinan di masa sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Dengan begitu mereka menyadari harus seperti apa menjadi pemimpin itu. Mudah-mudahan di masa yang akan datang semakin banyak pemimpin yang amanah dan mengutamakan kepentingan rakyatnya.

Persaudaraan, awal dari Kemenangan

Ketika Rasulullah SAW telah sampai di Madinah, setelah hijrah dari Makkah, Rasulullah SAW berniat membangun ukhuwah islamiyah di antara umat beriman. Rasulullah SAW mempersaudarakan para pengikut setianya, antara satu dengan yang lainnya, yang umumnya antara kaum Anshar dan Muhajirin.

Banyak hal yang unik sekaligus mengharukan dari jalinan persaudara tersebut. Persaudaraan yang tidak mengenal kelas sosial. Misalnya saja, Hamzah bin Abdul Muthalib, seorang bangsawan Bani Hasyim dan sekaligus paman Rasulullah SAW dipersaudarakan dengan seorang mantan budak Zaid bin Haritsah. Satu hal yang tidak akan mungkin terjadi di zaman jahiliah.

Mush’ab bin Umair seorang mubaligh Islam pertama yang dikirim Rasulullah SAW ke Madinah, dipersaudarakan dengan Abu Ayyub al-Anshari, orang paling miskin di Madinah yang menyediakan rumahnya bagi Rasulullah SAW, sebelum Rasulullah SAW memiliki rumah sendiri, ketika baru sampai di Madinah.


Abdurrahman bin ‘Auf yang tidak membawa apa-apa ketika berhijrah, dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, seorang hartawan dari kalangan Anshar. Lalu Ja’far bin Abu Thalib dengan Muaz bin Jabal, Abubakar dengan Kharijah bin Zuhair, Umar bin Khattab dengan Utbah bin Malik dan lain sebagainya. Ibnu Qoyyim menuturkan, mereka yang dipersaudarakan ada 90 orang.

Hubungan persaudaraan antara kaum Anshar (umat Islam di Madinah) dengan kaum Muhajirin (umat Islam di Makkah), merupakan langkah strategis yang dilakukan Rasulullah SAW demi meneguhkan semangat kebersamaan dan persaudaraan sebagai sesama muslim di kalangan sahabat.

Langkah Rasulullah SAW ini semakin menyatukan kaum beriman ke dalam satu barisan yang kokoh. Tujuannya untuk mencapai kesepakatan yang mengikuti pola dan panduan Allah SWT. Sesama manusia itu memiliki derajat yang sama. Hanya tingkat ketakwaannya semata yang membedakannya di mata Allah SWT.

Al Qur’an, Kitab Anti Kekerasan

Tahukah anda apa yang dilakukan Rasulullah SAW setelah berhasil membebaskan kota Makkah?

Nabi Muhammad SAW memberikan amnesti kepada seluruh penduduk. Kemenangan kaum muslimin tersebut berlangsung dengan cara damai. Peristiwa ini dikenal dengan nama ’Fatuh Makkah’.

Selama hidupnya, Rasulullah SAW telah membebaskan sebagian besar jazirah Arab dari kekufuran. Selama pembebasan tersebut, korban yang tewas ada 386 jiwa. Sejumlah itu, terdiri atas mereka yang mukmin dan mereka yang belum mukmin.

Jumlah korban tersebut, sangat minimal bila dibandingkan dengan wilayah yang berhasil dibebaskan. Mungkin bisa dikatakan ’paling sedikit’ dalam sejarah umat manusia.

Peristiwa seperti ini seolah-olah terulang kembali pada tahun 1187 M, saat Salahudin Al Ayubi membebaskan kota Jarusalem. Kemenangannya saat itu, berlangsung sangat damai. Tanpa penghancuran tempat-tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya.

Ironisnya, meskipun fakta sejarah berbicara demikian, sering kali Islam dituduh sebagai ajaran yang penuh kekerasan. Padahal Al Qur’an yang merupakan pedoman umat Islam telah menjelaskan bahwa tindak kekerasan berupa pembunuhan seseorang tanpa sebab syar’i, sama artinya membunuh manusia seluruhnya.

Aturan seperti itu ada di dalam QS. Al Maidah ayat 32,

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.

Selain ayat tersebut di atas, ada juga ayat yang lain ada larangan untuk menghancurkan tempat-tempat ibadah umat lain. Ini ada di dalam QS. Al Hajj ayat 40,

(yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, ’Tuhan kami ialah Allah.’ Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.

Jadi, secara fakta sejarah maupun hukum tertulis, Islam itu sangat cinta damai. Islam merupakan ajaran yang menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Coba kita baca surat Al Anbiya ayat 107,

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

Berdasarkan Genetika, Semua Manusia Berpotensi Menjadi Jenius

Dari hasil penelitian, otak manusia mempunyai 1 triliun sel, dengan 100 milyar sel aktif. Setiap sel itu mampu membuat jaringan sampai 20.000 sambungan tiap detik.

Dengan kondisi yang seperti itu, seorang master trainer dari Brains Power Indonesia, Irwan Widiatmoko mengatakan, “Apabila seluruh informasi alam semesta ini dimasukkan ke dalam otak kita, otak kita tidak akan penuh.” Begitu yang dikutip dari http://www.kompas.com tanggal 25 Agustus 2008.

Adakah manusia super jenius di dunia ini?

Jawabnya adalah Nabi Adam AS, yang merupakan leluhur seluruh umat manusia…

Kok bisa?

Soalnya beliau adalah satu-satunya makhluk, yang berhasil mempresentasikan keadaan seluruh alam semesta ini di hadapan Allah SWT. Kenyataan inilah yang membuat para para malaikat terkagum-kagum, dan mereka pun sujud kepada Adam AS dan mengagungkan kebesaran Allah SWT.

Kisah ini termuat dengan jelas dalam QS Al Baqarah ayat 33—34.

(33) “Dia (Allah) berfirman, ‘Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!’ Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia (Allah) berfirman, ‘Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu sembunyikan?’.”

(34) “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.”

Jadi kalau ada yang bilang, kecerdasan adalah faktor bibit atau keturunan, hal itu berarti semua manusia (termasuk kita ini) punya potensi jadi manusia super jenius.

Sebenarnya struktur otak Nabi Adam AS, relatif sama dengan struktur otak manusia kebanyakan, termasuk kita. Bedanya, Sang Nabi pertama itu sudah secara optimal memakai semua potensi otaknya.

Bagaimana dengan kita?

Berpikir saja biasanya malas. Kita lebih suka melihat orang lain yang jadi lebih jenius. Dan dari penelitian pula, kita ini kebanyakan hanya memakai daya otak kita sebesar 10%…

Jadi… apa yang mesti kita lakukan?

Yach, pilihan ada di tangan masing-masing. Yang jelas, orang-orang di Jepang itu memaksimalkan potensi otaknya dan mereka jadi bangsa yang besar.


Sejarah mencatat Jepang yang pernah dibom atom pada masa Perang Dunia II di Hirosima dan Nagasaki. Peristiwa itu menyebabkan kerugian dan kerusakan parah serta nyaris melumpuhkan perekonomian Jepang secara keseluruhan.

Namun tidak butuh lebih dari dua dekade, usaha yang keras dan kegigihan bangsa Jepang telah membuatnya kembali menancapkan giginya sebagai bangsa yang besar. Bahkan sampai saat ini Jepang dianggap sebagai salah satu ikon bangsa yang maju dan berbudaya di Asia.

Jadi, semuanya terserah kita. Apakah kita mau memaksimalkan kemampuan otak kita dan menjadi orang yang sukses atau hanya orang yang biasa-biasa saja.

Artikel Terkait
01. MISTERI ARKEOLOGIS, di tengah PUING reruntuhan TEORI EVOLUSI
02. Sun Go Kong, itu Ilmiah ?
03. Teori Darwin, Nabi Adam dan Piramid Giza

KISAH NYATA, GAJI PEMIMPIN di era PARA SAHABAT

Pemimpin itu adalah Pengemban Amanah, yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi Kepentingan Masyarakat, jadi sangat keliru jika bertujuan, untuk mencari Penghasilan, Popularitas atau Kekuasaan.

Dalam persoalan Kepemimpinan, sudah sewajarnya apabila kita menteladani Para Sahabat Rasululah, sebagaimana Kisah berikut ini :


Amir Yang Faqir

Khalifah Umar bin Khattab, memerintahkan utusan dari kota Homs Suriah, untuk menuliskan nama-nama faqir miskin yang ada di kota tersebut.

Setelah daftar faqir miskin itu selesai, terkejutlah sang Khalifah. Hal ini dikarenakan terdapat nama Said bin Amir yang merupakan Amir (Pemimpin) di daerah itu.

Amir kalian seorang yang faqir ?” Tanya Umar tidak percaya.

“ Ya, Amirul Mukminin…”, jawab utusan itu.

Mendengar itu, dengan terharu diberinya uang sebesar seribu dinar kepada utusan itu. Kemudian Khalifah Umar berkata : “Serahkan harta ini kepada Amir kalian, agar Ia bisa hidup mencukupi.”

Ketika utusan itu datang menemui Said bin Amir. Said bin Amir, yang merupakan salah seorang Sahabat Rasulullah, langsung berujar : “innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun,” teriaknya seolah mendapat musibah.

Segera setelah itu, ia bersama isterinya membagi-bagikan seluruh harta yang ia dapatkan, kepada faqir miskin yang ada di kota Homs.


Generasi Anti Korupsi

Pemimpin yang dipandu dan dipilih berdasarkan kacamata syari’ah, telah terbukti memunculkan “clean government” di tengah-tengah masyarakat yang dipimpinnya.

Sejarah mencatat Abu Bakar ash-Shiddiq ra., saat menjadi Khalifah, selama dua tahun tiga bulan masa pemerintahannya, dengan wilayah terbentang dari Mesir hingga Persia, hanya menghabiskan 8.000 dirham dari Baitul Maal.

Bahkan, Umar bin Khattab ketika menjadi Khalifah, sering melakukan pinjaman kepada Baitul Maal, tatkala gajinya tidak cukup untuk memenuhi keperluan kehidupan sehari-hari.

Hal ini sangat berbeda dengan pemimpin masa sekarang, yang telah memiliki penghasilan yang “sangat besar”, akan tetapi demi memenuhi kehidupannya yang mewah, masih berusaha mencari celah untuk “korupsi dan berkolusi”.